[Buku Bahasa Indonesia] Thinking Fast and Slow - Daniel Kahneman

Mesin untuk Melompat ke Kesimpulan

Komedian tersohor Danny Kaye punya sebaris lawakan yang saya ingat terus sejak saya remaja. Kaye bicara mengenai seorang perempuan yang tak dia sukai, sebagai berikut:

"Posisi favoritnya adalah di sebelah dirinya sendiri, dan olahraga favoritnya adalah melompat ke kesimpulan."

Saya ingat lawakan itu muncul dalam percakapan pertama dengan Amos Tversky mengenai rasionalitas intuisi statistik, dan sekarang saya percaya kalimat Kaye menawarkan penjabaran yang pas untuk cara Sistem 1 berfungsi.

Melompat ke kesimpulan itu efisien kalau kesimpulan-kesimpulannya kemungkinan besar benar dan kerugian akibat kesalahan masih bisa ditanggung, serta jika lompatan bisa menghemat waktu dan usaha. Melompat ke kesimpulan itu berisiko kalau situasinya tak familier, taruhannya tinggi, dan tidak ada waktu untuk mengumpulkan lebih banyak informasi. Itulah keadaan ketika kesalahan intuitif mungkin terjadi, yang bisa dicegah oleh campur tangan sengaja Sistem 2.

Pengabaian Ambiguitas dan Peredaman Keraguan

Apa kesamaan tiga kotak di Gambar 6? Jawabannya semuanya ambigu.
Hampir pasti Anda membaca isi kotak kiri sebagai A B C dan isi kotak kanan sebagai 12 13 14, tapi unsur tengah di kedua kotak itu persis sama. Anda dapat saja membaca keduanya sebagai A 13 C atau 12 B 14, tapi Anda tidak melakukannya. Mengapa tidak? Bentuk yang sama dibaca sebagai huruf dalam konteks barisan huruf dan sebagai angka dalam konteks barisan angka. Keseluruhan konteks membantu menentukan penafsiran tiap unsur. Bentuknya ambigu, tapi Anda melompat ke kesimpulan mengenai identitasnya dan tidak menjadi sadar akan ambiguitas yang dituntaskan.

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Dalam kasus Ann, barangkali Anda membayangkan seorang perempuan yang memikirkan uang, berjalan menuju bangunan yang ada kasir dan lemari besinya. Tapi tafsiran yang masuk akal itu bukan satu-satunya yang mungkin; kalimatnya ambigu. Jika ada kalimat seperti ini sebelumnya "They were floating gently down the river", Anda bakal membayangkan adegan yang sangat berbeda. Kalau Anda baru memikirkan sungai, kata bank (dalam bahasa Inggris) tidak dihubungkan dengan uang. Tanpa konteks yang tersurat, Sistem 1 memberikan satu kemungkinan konteks. Kita tahu itu Sistem 1 karena Anda tidak sadar ada pilihan atau kemungkinan penafsiran lain.

Kecuali kalau Anda baru-baru ini bermain perahu di sungai, barangkali Anda lebih sering pergi ke bank daripada mengapung di sungai, dan Anda tuntaskan ambiguitas dengan cara demikian. Kalau sedang tak yakin, Sistem 1 bertaruh pada satu jawaban, dan taruhannya dibimbing pengalaman. Aturan bertaruhnya cerdas: peristiwa terbaru dan konteks terkini paling dipertimbangkan ketika memilih tafsiran.

Ketika tidak ada peristiwa terbaru yang teringat, ingatan yang lebih jauh berpengaruh. Salah satu pengalaman Anda yang pertama dan paling teringat adalah membaca ABC; dulu Anda tidak membaca A13C.

Aspek terpenting kedua contoh itu adalah bahwa ada pilihan pasti yang dibuat, tapi Anda tidak mengetahuinya. Hanya satu tafsir yang muncul, dan Anda tidak pernah sadar mengenai adanya ambiguitas. Sistem 1 tidak mengingat pilihan-pilihan yang ditolaknya, bahkan fakta bahwa ada pilihan. Keraguan sadar tidak berada dalam daftar kemampuan Sistem 1; keraguan sadar membutuhkan pertimbangan banyak tafsiran yang saling bertentangan dalam akal budi pada waktu yang sama, dan itu menuntut usaha mental. Ketidakpastian dan keraguan adalah wilayah Sistem 2.

BIAS UNTUK PERCAYA DAN MEMBENARKAN
Psikolog Daniel Gilbert, penulis buku Stumbling to Happiness, pernah menulis esai "How Mental Systems Believe". Di dalamnya dia mengembangkan teori percaya dan tak percaya sampai ke filsuf abad ke-17 Baruch Spinoza. Gilbert mengusulkan pemahaman atau satu pernyataan mesti dimulai dengan usaha memercayai pernyataan itu: pertama-tama Anda harus tahu makna gagasan itu kalau gagasan itu memang benar. Barulah Anda bisa memutuskan untuk tak memercayainya. Usaha awal untuk percaya adalah operasi otomatis Sistem 1, yang melibatkan pembangunan tafsir terbaik yang mungkin atas situasi.

Menurut Gilbert, pernyataan yang tidak masuk akal pun akan memancing kepercayaan pada awalnya. Coba lihat contohnya: "ikan makan permen". Barangkali Anda sadar mengenai kesan samar ikan dan permen sebagai proses otomatis ingatan asosiatif yang dibuka untuk mencari kaitan antara dua gagasan yang membuat pernyataan tidak masuk akal bisa dimengerti.

Gilbert memandang ketidakpercayaan sebagai operasi Sistem 2, dan menyampaikan percobaan elegan. Peserta diperlihatkan pernyataan-pernyataan tak masuk akal, seperti "dinca adalah api", yang beberapa detik kemudian diikuti satu kata, "benar" atau "salah". Ingatan mereka kemudian dites, pernyataan mana saja yang diberi label "benar". Dalam satu kondisi percobaan, peserta diharuskan mengingat angka sambil menjalani tugas.

Gangguan terhadap Sistem 2 punya efek selektif: orang jadi susah "tidak percaya" kalimat-kalimat yang salah. Dalam tes ingatan lanjutan, peserta yang terkuras menganggap banyak kalimat yang salah sebagai benar. Hikmahnya: ketika Sistem 2 sibuk, kita akan percaya hampir segala hal. Sistem 1 bisa ditipu dan cenderung ingin percaya; Sistem 2 bertanggung jawab atas keraguan dan ketidakpercayaan, tapi Sistem 2 kadang sibuk dan sering malas. Memang ada bukti bahwa orang lebih mudah dipengaruhi pesan-pesan kosong persuasif, seperti iklan, ketika capek dan terkuras.

Operasi ingatan asosiatif mendukung bias konfirmasi umum. Waktu ditanya "Apakah Sam ramah?" contoh perilaku Sam yang teringat berbeda jika ditanya "Apakah Sam tidak ramah?" Suatu pencarian bukti pendukung yang sengaja, dikenal sebagai strategi tes positif, juga merupakan cara Sistem 2 menguji hipotesis. Berkebalikan dengan aturan filsuf sains, yang menyarankan menguji hipotesis dengan mencoba menyangkalnya, orang (sering termasuk ilmuwan) mencari data yang cocok dengan kepercayaan yang mereka pegang. Bias konfirmasi Sistem 1 lebih suka menerima saran tidak kritis dan membesar-besarkan peluang peristiwa ekstrem serta berkemungkinan kecil. Jika ditanya peluang tsunami menerpa California dalam tiga puluh tahun ke depan, yang Anda bayangkan kemungkinan besar adalah tsunami, sebagaimana yang dikatakan Gilbert mengenai pernyataan tidak masuk akal seperti "ikan makan permen". Anda akan rawan melebih-lebihkan peluang bencana.

KOHERENSI EMOSIONAL BERLEBIHAN (EFEK HALO)
Jika suka sikap politik presiden, barangkali Anda suka suara dan penampilan sang presiden juga. Kecenderungan suka (atau tidak suka) segalanya mengenai seseorang—termasuk hal-hal yang tidak Anda amati—dikenal sebagai efek halo. Istilah itu sudah digunakan dalam psikologi selama satu abad, tapi belum banyak dipakai dalam bahasa sehari-hari. Itu patut disayangkan, karena efek halo adalah nama bagus untuk bias umum yang berperan besar membentuk pandangan kita terhadap orang dan situasi. Efek halo adalah salah satu penyebab cara penggambaran dunia buatan Sistem 1 lebih sederhana dan koheren daripada kenyataannya.

Anda bertemu perempuan bernama Joan di pesta lalu mendapati dia menyenangkan dan enak diajak bicara. Sekarang nama Joan muncul sebagai seseorang yang dapat diminta menyumbang untuk derma. Apa yang Anda ketahui mengenai sifat murah hati Joan? Jawaban yang benar: Anda tak tahu apa-apa, karena tidak ada alasan percaya orang yang menyenangkan dalam situasi sosial juga biasa banyak menyumbang. Tapi Anda suka Joan dan akan ingat perasaan menyukai dia ketika memikirkan dia. Anda juga suka kemurahhatian dan orang yang murah hati. Dengan asosiasi, Anda cenderung percaya Joan bersifat murah hati.

Dan sesudah percaya dia murah hati, mungkin Anda jadi lebih menyukainya dibanding sebelumnya, karena sudah menambahkan sifat murah hati pada kumpulan sifat baik Joan. Bukti nyata sifat murah hati tak ada dalam cerita Joan, dan kekosongan itu diisi dugaan yang cocok dengan tanggapan emosional terhadap Joan. Dalam situasi lain, bukti mengumpul berangsur-angsur dan tafsiran dibentuk oleh emosi yang terkait kesan pertama.

Dalam satu kasus klasik psikologi, Solomon Asch menyajikan deskripsi dua orang dan meminta komentar mengenai kepribadian mereka. Apa pendapat Anda mengenai Alan dan Ben?

Alan: cerdas-rajin-impulsif-kritis-keras kepala-suka iri
Ben: suka iri-keras kepala-kritis-impulsif-rajin-cerdas

Jika mirip kebanyakan kita, pendapat Anda terhadap Alan akan lebih baik daripada Ben. Sifat-sifat pertama di urutan mengubah makna sifat-sifat yang muncul belakangan. Sifat keras kepala pada orang yang cerdas dipandang bisa dibenarkan dan malah mendatangkan rasa hormat, tapi kecerdasan pada orang yang suka iri dan keras kepala membuat dia lebih berbahaya. Efek halo juga contoh ambiguitas yang diredam: seperti kata bank, kata sifat keras kepala ambigu dan ditafsirkan sehingga koheren dengan konteks.

Sudah ada banyak variasi atas tema penelitian itu. Peserta di satu penelitian pertama-tama memikirkan tiga kata sifat pertama yang menjabarkan Alan; lalu melihat tiga kata sifat terakhir yang katanya milik orang lain. Ketika sudah membayangkan dua individu, peserta ditanya apakah mungkin keenam kata sifat itu menjabarkan orang yang sama, dan kebanyakan menganggapnya mustahil.

Urutan pengamatan kita terhadap sifat seseorang sering ditentukan secara kebetulan. Tapi urutan itu penting, karena efek halo meningkatkan bobot kesan pertama, kadang sampai semua informasi sesudahnya terabaikan.

Pada awal karier saya sebagai profesor, saya menilai ujian esai mahasiswa dengan cara biasa. Saya memeriksa lembar ujian satu demi satu dan membaca semua esai dari satu mahasiswa secara berurutan sambil menilai. Lalu saya menghitung total nilai mahasiswa itu dan melanjutkan ke mahasiswa berikutnya. Akhirnya saya melihat bahwa nilai yang saya berikan untuk semua esai di satu lembar ujian cenderung seragam. Saya mulai curiga bahwa penilaian saya menunjukkan efek halo, dan pertanyaan pertama yang saya nilai berpengaruh berlebihan pada keseluruhan nilai.

Mekanismenya sederhana: kalau saya memberi nilai tinggi ke esai pertama, saya cenderung berprasangka baik kalau sesudahnya saya menemukan jawaban yang tidak jelas atau ambigu. Tampaknya itu masuk akal. Tentunya mahasiswa yang menjawab baik di esai pertama tidak bakal membuat kesalahan konyol di esai kedua! Tapi ada masalah serius dengan cara saya. Kalau satu mahasiswa menulis dua esai, satu bagus dan satu jelek, saya bakal memberi nilai akhir berbeda tergantung esai mana yang saya baca lebih dulu. Saya memberitahu mahasiswa bahwa bobot nilai kedua esai sama, tapi itu tidak benar: esai pertama berpengaruh lebih besar ke nilai akhir. Itu tidak bisa diterima.

Saya memakai prosedur baru. Bukannya membaca satu demi satu lembar ujian, saya membaca dan menilai jawaban pertanyaan pertama dari semua mahasiswa, lalu melanjutkan pertanyaan kedua. Saya tulis semua nilai di balik lembar ujian supaya saya tidak terpengaruh (bahkan secara tidak sadar) waktu membaca esai kedua. Tak lama sesudah menggunakan cara baru, saya menyadari sesuatu yang meresahkan: keyakinan saya terhadap penilaian jadi lebih rendah dibanding sebelumnya. Alasannya, saya sering merasakan ketidaknyamanan yang baru saya rasa. Ketika saya kecewa dengan esai kedua seorang mahasiswa dan membalik lembar ujian untuk menulis nilai jelek, kadang saya temukan saya memberi nilai bagus untuk esai pertama mahasiswa itu. Saya juga perhatikan bahwa saya tergoda mengurangi kesenjangan nilai dengan mengubah nilai yang akan saya tulis, dan saya sulit mengikuti aturan untuk tidak menyerah pada godaan itu. Nilai yang saya berikan untuk esai-esai satu mahasiswa sering sangat jauh berbeda. Ketiadaan koherensi membuat saya tidak yakin dan frustrasi.

Saya jadi kurang puas dan kurang yakin dengan penilaian dibanding dulu, tapi saya tahu itu pertanda baik; artinya prosedur baru lebih ampuh. Konsistensi yang tadinya saya nikmati sebenarnya kosong: konsistensi itu menghasilkan perasaan kemudahan kognitif, dan Sistem 2 saya malas menerima nilai akhirnya. Dengan membiarkan diri saya sangat dipengaruhi pertanyaan pertama ketika menilai pertanyaan-pertanyaan selanjutnya, saya menghindar dari kesenjangan yang muncul ketika mahasiswa menjawab bagus di beberapa pertanyaan dan jelek di pertanyaan lain. Ketidakkonsistenan tak nyaman yang terungkap waktu saya mengganti cara itu nyata, karena menunjukkan tidak memadainya satu pertanyaan untuk menilai semua yang diketahui mahasiswa dan tidak bisa diandalkannya penilaian saya.

Prosedur yang saya pakai untuk menjinakkan efek halo sesuai satu prinsip umum: lepaskan kaitan dari kesalahan. Untuk mengerti prinsip itu, bayangkan banyak pengamat melihat satu stoples penuh uang logam, lalu diminta menebak jumlah uang logam. Sebagaimana dijelaskan James Surowiecki dalam The Wisdom of Crowds, individu mengerjakannya buruk, tapi kumpulan individu mengerjakan baik. Beberapa orang menebak terlalu tinggi, lainnya terlalu rendah, tapi kalau banyak tebakan dihitung rata-ratanya, rata-rata cenderung tepat. Mekanismenya jelas: semua orang melihat stoples yang sama, dan tebakan punya dasar sama. Kesalahan satu orang tidak terkait kesalahan orang lain, dan (tanpa bias sistematik) rata-rata semua kesalahan adalah nol. Ajaibnya, penghilangan kesalahan hanya terjadi kalau pengamatan terjadi independen dan kesalahan tidak saling terkait. Kalau pengamat memiliki bias sama, perhitungan rata-rata tidak menghilangkan kesalahan. Kalau pengamat saling memengaruhi, ukuran sampel mengecil, dan ketepatan tebakan kelompok berkurang.

Untuk mendapat informasi paling berguna dari banyak sumber bukti, Anda harus membuat sumber-sumber itu tidak saling berhubungan. Aturan itu termasuk prosedur kerja polisi. Kalau ada banyak saksi suatu peristiwa, mereka tidak diperbolehkan membicarakannya sebelum memberikan kesaksian. Tujuannya bukan hanya mencegah saksi saling bersekongkol, tapi juga mencegah saksi terpengaruh saksi lain. Saksi yang membicarakan pengalaman mereka cenderung membuat kesalahan sama dalam kesaksian, sehingga mengurangi nilai informasi. Mengurangi berlebihan dari sumber informasi selalu baik.

Prinsip pertimbangan independen (dan kesalahan tak berkaitan) bisa diterapkan dalam rapat, kegiatan yang sering dilakukan eksekutif di organisasi. Satu aturan sederhana bisa membantu: sebelum satu masalah dibahas, semua yang hadir dalam rapat sebaiknya menulis singkat pendapat mereka. Prosedur ini menampung berbagai pengetahuan dan pendapat di antara yang hadir. Kebiasaan diskusi terbuka memberi terlalu banyak porsi kepada mereka yang bicara lebih dulu dan tegas, sehingga orang lain ikut mereka.

APA YANG ANDA LIHAT, ITULAH YANG ADA
Salah satu kenangan favorit saya dari tahun-tahun pertama bekerja bersama Amos adalah satu lawakan yang dia suka lakukan. Meniru profesor yang mengajarinya filsafat, Amos menggerutu dalam bahasa Ibrani berlogat Jerman: "Kamu tidak boleh lupa Primat of the Is." Arti kalimat yang dikatakan profesornya tidak jelas buat saya (juga Amos, saya kira), tapi lawakan Amos selalu ada intinya. Dia teringat kalimat itu (dan kemudian saya juga) kapan saja kami menemukan ketidakseimbangan antara cara pikiran memperlakukan informasi tersedia langsung dan informasi belum kami punyai.

Satu ciri penting mesin asosiatif adalah hanya mewakili gagasan aktif. Informasi yang tidak diambil dari ingatan (bahkan secara tak sadar) sama saja dengan tidak ada. Sistem 1 hebat membangun cerita terbaik dari gagasan-gagasan aktif, tapi tidak (tidak bisa) melibatkan informasi yang tidak dipunyainya.

Ukuran keberhasilan Sistem 1 adalah koherensi cerita yang dibuatnya. Jumlah dan mutu data yang menjadi dasar cerita itu tidak penting. Kalau informasi sedikit, dan ini sering terjadi, Sistem 1 beroperasi sebagai mesin untuk melompat ke kesimpulan. Perhatikan: "Apakah Mindik akan menjadi pemimpin yang baik? Dia cerdas dan kuat...." Satu jawaban langsung datang di kepala Anda, dan jawabannya ya. Anda memilih jawaban terbaik berdasarkan sedikit informasi tersedia, tapi terburu-buru. Bagaimana kalau dua kata sifat berikutnya itu korup dan kejam?

Catat apa yang tidak Anda lakukan sewaktu berpikir mengenai Mindik sebagai pemimpin. Anda tidak memulai dengan bertanya, "Apa yang perlu saya ketahui sebelum membentuk pendapat mengenai kualitas kepemimpinan seseorang?" Sistem 1 bekerja sendiri sejak kata sifat pertama: cerdas itu baik, cerdas dan kuat itu baik sekali. Itulah cerita terbaik dari dua kata sifat, dan Sistem 1 menyampaikannya dengan kemudahan kognitif. Cerita itu akan diperbaiki kalau informasi baru datang (misalnya kalau Mindik korup), tapi tidak ada menunggu dan tidak ada ketidaknyamanan subjektif. Dan tetap ada bias yang menyukai kesan pertama.

Kombinasi Sistem 1 yang mencari koherensi dan Sistem 2 yang malas berarti Sistem 2 akan menyetujui banyak kepercayaan intuitif, yang mendekati kesan yang dihasilkan Sistem 1. Tentu saja Sistem 2 bisa melakukan pendekatan lebih sistematis dan hati-hati terhadap bukti, serta memeriksa banyak hal sebelum membuat keputusan—misalnya membeli rumah, Anda akan sengaja mencari informasi yang belum dimiliki. Tapi Sistem 1 memengaruhi juga keputusan hati-hati. Masukan Sistem 1 tidak pernah berhenti.

Melompat ke kesimpulan berdasarkan bukti terbatas penting bagi pemahaman pemikiran intuitif, dan sering muncul dalam buku ini sehingga saya gunakan singkatan panjang untuknya: WYSIATI, kepanjangannya what you see is all there is (apa yang Anda lihat, itulah yang ada). Sistem 1 sangat tidak peka terhadap kualitas serta kuantitas informasi yang menghasilkan kesan dan intuisi.

Amos, bersama dua mahasiswa pascasarjananya di Stanford, melaporkan penelitian yang langsung menyentuh WYSIATI, mengamati reaksi orang yang diberi bukti sepihak dan mengetahuinya. Peserta percobaan disodori skenario hukum sebagai berikut:

Pada 3 September, penggugat David Thornton, wakil serikat buruh berumur 43 tahun, hadir di Thrifty Drug Store #168 untuk kunjungan rutin. Sepuluh menit sesudah dia datang, seorang manajer toko menemuinya dan berkata dia tidak bisa bicara lagi dengan karyawan anggota serikat buruh di dalam toko. Dia harus menemui mereka di luar ketika istirahat. Aturan itu diperbolehkan dalam kontrak serikat buruh dengan Thrifty Drug tapi sebelumnya tidak pernah diterapkan.

Waktu Mr. Thornton menolak, dia diberitahu bahwa dia harus ikut aturan, atau pergi, atau ditangkap. Mr. Thornton berkata kepada manajer bahwa selama ini dia diperbolehkan berbicara dengan karyawan di dalam toko sampai sepuluh menit, selama tidak mengganggu urusan pekerjaan, dan dia lebih suka ditangkap daripada mengubah prosedur kunjungan rutin. Manajer memanggil polisi yang kemudian memborgol Mr. Thornton karena masuk tanpa izin. Sesudah dia diproses dan ditahan sebentar, tuduhan terhadapnya dicabut. Mr. Thornton lalu menggugat Thrifty Drug untuk penahanan tanpa izin.

Selain latar belakang itu, yang dibaca semua peserta, kelompok-kelompok peserta membaca presentasi pengacara kedua pihak. Pengacara serikat buruh menjabarkan penahanan itu sebagai upaya intimidasi, sementara pengacara toko menyatakan pembicaraan serikat buruh di toko merupakan gangguan dan manajer bertindak sesuai aturan. Beberapa peserta mendengar argumen kedua pihak, seperti juri. Para pengacara tidak menambah informasi berguna yang tak dapat disimpulkan dari cerita latar belakang.

Para peserta tahu keadaannya, dan mereka yang hanya mendengar satu pihak bisa membayangkan argumen pihak lawannya. Namun, penyajian bukti sepihak punya efek sangat menonjol bagi pertimbangan. Para peserta yang melihat bukti sepihak lebih yakin dengan keputusan mereka daripada yang melihat bukti kedua pihak. Itulah yang bisa diperkirakan jika keyakinan orang ditentukan oleh koherensi cerita yang mereka buat dari informasi tersedia. Yang penting bagi cerita bagus adalah konsistensi informasi, bukan kelengkapan. Anda akan sering mendapati bahwa kalau kita tahu sedikit, kita lebih mudah mencocokkan semua yang kita tahu ke dalam pola koheren.

WYSIATI memudahkan tercapainya koherensi dan kemudahan kognitif yang menyebabkan kita menganggap benar suatu pernyataan. WYSIATI menjelaskan mengapa kita bisa berpikir cepat, dan bagaimana kita mengerti informasi tak lengkap dalam dunia rumit. Cerita koheren yang kita buat sering cukup dekat dengan realitas untuk mendukung tindakan masuk akal. Tapi saya akan menunjuk WYSIATI juga untuk menjelaskan daftar panjang bias pertimbangan dan pilihan, yang mencakup hal-hal berikut:

Terlalu percaya diri: Seperti disiratkan dalam aturan WYSIATI, kuantitas dan kualitas bukti tidak banyak dianggap dalam kepercayaan diri subjektif. Keyakinan orang terhadap kepercayaannya sebagian besar bergantung pada kualitas cerita yang bisa mereka sampaikan mengenai apa yang mereka lihat, biarpun mereka hanya melihat sedikit. Sering kali kita gagal memikirkan kemungkinan bahwa bukti yang seharusnya penting belum ada—apa yang kita lihat, itulah yang ada. Selanjutnya, sistem asosiatif kita cenderung mendekati pola aktivasi koheren serta meredam keraguan dan ambiguitas.

Efek pembingkaian: Berbagai cara menyajikan informasi yang sama sering menimbulkan emosi berbeda. Pernyataan "peluang bertahan hidup satu bulan sesudah operasi adalah 90%" lebih menenteramkan hati daripada pernyataan setara, "peluang kematian satu bulan sesudah operasi adalah 10%". Dengan cara sama, daging olahan yang disebut "90% bebas lemak" lebih menarik daripada "10% lemak". Kesetaraan kedua kalimat jelas, tapi orang biasanya hanya melihat satu versi, dan hanya yang dilihat itulah dianggap ada.

Pengabaian nilai dasar: Ingat kembali Steve, orang berjiwa lembut dan rapi yang sering dianggap pustakawan. Penjabaran kepribadiannya menonjol dan jelas, dan walau pasti tahu ada lebih banyak petani daripada pustakawan, fakta statistik itu hampir pasti tak terpikir ketika pertama kali memikirkan pertanyaannya. Apa yang Anda lihat, itulah yang ada.

BICARA TENTANG MELOMPAT KE KESIMPULAN
"Dia tak tahu apa-apa tentang keahlian manajemen orang ini. Dia cuma mengandalkan efek halo dari presentasi yang bagus."
"Mari lepaskan kaitan kesalahan dengan mengumpulkan pertimbangan terhadap masalah ini secara terpisah sebelum memulai diskusi. Kita akan mendapat lebih banyak informasi dari penilaian independen."
"Mereka membuat keputusan besar itu berdasarkan satu laporan bagus dari satu konsultan. WYSIATI—apa yang dilihat, itulah yang ada. Sepertinya mereka tidak tahu bahwa mereka cuma tahu sedikit."
"Mereka tidak mau tambahan informasi yang bisa merusak cerita. WYSIATI."

Like

0

Love

0

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment