Buku Bahasa Indonesia Guyton And Hall Textbook of Medical Physiology 75-
BAB 78 
Hormon Adrenokortikal
Dua kelenjar adrenal, yang masing-masing berbobot sekitar 4 gram, terletak pada kutub superior kedua ginjal. Seperti diperlihatkan pada Gambar 78-1, setiap kelenjar terdiri atas dua bagian utama, yaitu medula adrenal dan korteks adrenal. Medula adrenal, yang merupakan sekitar 20% bagian sentral kelenjar, secara fungsional berhubungan dengan sistem saraf simpatis. Medula adrenal menyekresikan hormon epinefrin dan norepinefrin sebagai respons terhadap rangsangan simpatis. Hormon-hormon ini kemudian menimbulkan efek yang hampir sama dengan stimulasi langsung saraf simpatis di seluruh bagian tubuh. Hormon-hormon tersebut beserta efeknya dibahas secara rinci pada Bab 61 dalam kaitannya dengan sistem saraf simpatis.
Korteks adrenal menyekresikan kelompok hormon yang sama sekali berbeda, yang disebut kortikosteroid. Semua hormon ini disintesis dari steroid kolesterol dan memiliki rumus kimia yang serupa. Namun, perbedaan kecil pada struktur molekulnya menghasilkan berbagai fungsi yang berbeda tetapi sangat penting.
KORTIKOSTEROID: MINERALOKORTIKOID, GLUKOKORTIKOID, DAN ANDROGEN
Dua jenis utama hormon adrenokortikal, yaitu mineralokortikoid dan glukokortikoid, disekresikan oleh korteks adrenal. Selain hormon-hormon tersebut, sejumlah kecil hormon seks juga disekresikan, terutama hormon androgenik, yang memberikan efek pada tubuh hampir sama dengan hormon seks pria testosteron. Dalam keadaan normal, hormon-hormon ini hanya memiliki arti fisiologis yang kecil. Namun, pada kelainan tertentu pada korteks adrenal, hormon tersebut dapat disekresikan dalam jumlah yang sangat besar, sebagaimana akan dibahas kemudian dalam bab ini, sehingga menimbulkan efek maskulinisasi.
Mineralokortikoid memperoleh namanya karena terutama memengaruhi elektrolit ("mineral") dalam cairan ekstraseluler, khususnya natrium dan kalium.
Glukokortikoid memperoleh namanya karena memiliki efek penting dalam meningkatkan konsentrasi glukosa darah. Selain itu, glukokortikoid juga memiliki efek terhadap metabolisme protein dan lemak yang sama pentingnya bagi fungsi tubuh seperti efeknya terhadap metabolisme karbohidrat.
Lebih dari 30 jenis steroid telah berhasil diisolasi dari korteks adrenal, tetapi dua di antaranya mempunyai arti yang sangat penting bagi fungsi endokrin normal tubuh manusia, yaitu aldosteron sebagai mineralokortikoid utama dan kortisol sebagai glukokortikoid utama.
SINTESIS DAN SEKRESI HORMON ADRENOKORTIKAL
Korteks Adrenal Memiliki Tiga Lapisan yang Berbeda
Gambar 78-1 menunjukkan bahwa korteks adrenal tersusun atas tiga lapisan yang relatif berbeda.
- Zona glomerulosa, merupakan lapisan sel tipis yang terletak tepat di bawah kapsul dan mencakup sekitar 15% dari korteks adrenal. Sel-sel pada lapisan ini merupakan satu-satunya sel di kelenjar adrenal yang mampu menyekresikan aldosteron dalam jumlah bermakna karena mengandung enzim aldosterone synthase, yang diperlukan untuk sintesis aldosteron. Sekresi sel-sel ini terutama dikendalikan oleh konsentrasi angiotensin II dan kalium dalam cairan ekstraseluler, yang keduanya merangsang sekresi aldosteron.
- Zona fasciculata, merupakan lapisan tengah sekaligus lapisan terluas, mencakup sekitar 75% dari korteks adrenal dan menyekresikan glukokortikoid kortisol serta kortikosteron, bersama sejumlah kecil androgen dan estrogen adrenal. Sekresi sel-sel pada lapisan ini sebagian besar dikendalikan oleh aksis hipotalamus-hipofisis melalui hormon adrenokortikotropik (adrenocorticotropic hormone, ACTH).
- Zona reticularis, merupakan lapisan terdalam korteks adrenal, menyekresikan androgen adrenal dehidroepiandrosteron dan androstenedion, serta sejumlah kecil estrogen dan beberapa glukokortikoid. ACTH juga mengatur sekresi sel-sel pada lapisan ini, meskipun faktor lain, seperti hormon perangsang androgen korteks yang dilepaskan oleh hipofisis, mungkin juga berperan. Namun demikian, mekanisme pengendalian produksi androgen adrenal masih jauh lebih sedikit dipahami dibandingkan mekanisme pengendalian glukokortikoid dan mineralokortikoid.
Sekresi aldosteron dan kortisol diatur melalui mekanisme yang berbeda. Faktor-faktor seperti angiotensin II, yang secara spesifik meningkatkan produksi aldosteron dan menyebabkan hipertrofi zona glomerulosa, tidak berpengaruh terhadap dua lapisan lainnya. Sebaliknya, faktor-faktor seperti ACTH, yang meningkatkan sekresi kortisol dan androgen adrenal serta menyebabkan hipertrofi zona fasciculata dan zona reticularis, hanya memberikan sedikit pengaruh terhadap zona glomerulosa.
Hormon Adrenokortikal Merupakan Steroid yang Berasal dari Kolesterol
Semua hormon steroid pada manusia, termasuk yang diproduksi oleh korteks adrenal, disintesis dari kolesterol. Walaupun sel-sel korteks adrenal mampu mensintesis sejumlah kecil kolesterol de novo dari asetat, sekitar 80% kolesterol yang digunakan untuk sintesis steroid berasal dari lipoprotein densitas rendah (low-density lipoproteins, LDL) dalam plasma sirkulasi. LDL, yang mengandung kolesterol dalam konsentrasi tinggi, berdifusi dari plasma ke dalam cairan interstisial dan berikatan dengan reseptor spesifik yang terdapat pada struktur yang disebut coated pits di membran sel adrenokortikal. Coated pits tersebut kemudian mengalami internalisasi melalui endositosis sehingga membentuk vesikel yang akhirnya berfusi dengan lisosom sel dan melepaskan kolesterol yang kemudian digunakan untuk sintesis hormon steroid adrenal.
Transport kolesterol ke dalam sel adrenal diatur oleh mekanisme umpan balik yang dapat mengubah secara nyata jumlah kolesterol yang tersedia untuk sintesis steroid. Sebagai contoh, ACTH, yang merangsang sintesis steroid adrenal, meningkatkan jumlah reseptor LDL pada sel adrenokortikal sekaligus meningkatkan aktivitas enzim yang melepaskan kolesterol dari LDL.
Setelah kolesterol memasuki sel, kolesterol akan dibawa ke mitokondria, tempat kolesterol dipecah oleh enzim kolesterol desmolase membentuk pregnenolon. Tahap ini merupakan langkah pembatas laju (rate-limiting step) dalam pembentukan steroid adrenal (Gambar 78-2).
Pada ketiga lapisan korteks adrenal, tahap awal sintesis steroid ini dirangsang oleh berbagai faktor yang mengendalikan sekresi produk hormon utamanya, yaitu aldosteron dan kortisol. Sebagai contoh, baik ACTH yang merangsang sekresi kortisol maupun angiotensin II yang merangsang sekresi aldosteron sama-sama meningkatkan konversi kolesterol menjadi pregnenolon.
Jalur Sintesis Steroid Adrenal
Gambar 78-2 memperlihatkan tahapan utama pembentukan produk steroid penting dari korteks adrenal, yaitu aldosteron, kortisol, dan androgen. Hampir seluruh tahapan ini berlangsung di dalam dua organel sel, yaitu mitokondria dan retikulum endoplasma, dengan beberapa tahap berlangsung di salah satu organel dan tahap lainnya berlangsung di organel yang lain. Setiap tahap dikatalisis oleh sistem enzim yang spesifik. Perubahan pada satu saja enzim dalam jalur ini dapat menyebabkan terbentuknya jenis hormon yang sangat berbeda beserta proporsi relatifnya. Sebagai contoh, aktivitas yang berubah pada hanya satu enzim dalam jalur ini dapat menyebabkan terbentuknya hormon seks yang bersifat maskulinisasi dalam jumlah sangat besar atau senyawa steroid lain yang secara normal tidak terdapat di dalam darah.
Rumus kimia aldosteron dan kortisol, yang masing-masing merupakan hormon mineralokortikoid dan glukokortikoid utama, ditunjukkan pada Gambar 78-2. Kortisol memiliki gugus keto oksigen pada atom karbon nomor 3 serta gugus hidroksil pada atom karbon nomor 11 dan 21. Mineralokortikoid aldosteron memiliki atom oksigen yang terikat pada atom karbon nomor 18.
Selain aldosteron dan kortisol, steroid lain yang memiliki aktivitas glukokortikoid, mineralokortikoid, atau keduanya, juga secara normal disekresikan dalam jumlah kecil oleh korteks adrenal. Selain itu, beberapa hormon steroid poten lain yang secara normal tidak dibentuk di kelenjar adrenal telah berhasil disintesis dan digunakan dalam berbagai bentuk terapi. Beberapa hormon kortikosteroid yang lebih penting, termasuk yang bersifat sintetis, adalah sebagai berikut sebagaimana diringkas dalam Tabel 78-1.
Mineralokortikoid
- Aldosteron (sangat poten; menyumbang sekitar 90% dari seluruh aktivitas mineralokortikoid)
- Deoksikortikosteron (potensinya sekitar 1/30 dibandingkan aldosteron, tetapi hanya disekresikan dalam jumlah yang sangat kecil)
- Kortikosteron (memiliki sedikit aktivitas mineralokortikoid)
- 9α-Fluorokortisol (sintetis; sedikit lebih poten daripada aldosteron)
- Kortisol (memiliki sedikit aktivitas mineralokortikoid, tetapi disekresikan dalam jumlah besar)
- Kortison (memiliki sedikit aktivitas mineralokortikoid)
Glukokortikoid
- Kortisol (sangat poten; menyumbang sekitar 95% dari seluruh aktivitas glukokortikoid)
- Kortikosteron (menyumbang sekitar 4% dari total aktivitas glukokortikoid, tetapi potensinya jauh lebih rendah dibandingkan kortisol)
- Kortison (hampir sama potennya dengan kortisol)
- Prednison (sintetis; empat kali lebih poten daripada kortisol)
- Metilprednison (sintetis; lima kali lebih poten daripada kortisol)
- Deksametason (sintetis; tiga puluh kali lebih poten daripada kortisol)
Dari daftar tersebut terlihat bahwa beberapa hormon dan steroid sintetis memiliki aktivitas glukokortikoid sekaligus mineralokortikoid. Hal yang sangat penting adalah bahwa kortisol secara normal juga memiliki aktivitas mineralokortikoid. Oleh karena itu, beberapa sindrom yang ditandai oleh sekresi kortisol berlebihan dapat menimbulkan efek mineralokortikoid yang bermakna, di samping efek glukokortikoidnya yang jauh lebih kuat.
Aktivitas glukokortikoid yang sangat kuat dari hormon sintetis deksametason, yang hampir tidak memiliki aktivitas mineralokortikoid, menjadikannya obat yang sangat penting untuk menghasilkan efek glukokortikoid yang spesifik.







Comments (0)