[Buku Bahasa Indonesia] The Lean Startup - Eric Ries
Bagian 2 : Pengarahan
Bagaimana Visi Mengarah pada Pengarahan
Pada dasarnya, sebuah startup adalah katalis yang mengubah gagasan menjadi produk. Ketika pelanggan berinteraksi dengan produk tersebut, mereka menghasilkan umpan balik dan data. Umpan balik ini bersifat kualitatif—misalnya apa yang mereka sukai dan tidak sukai—serta kuantitatif, seperti berapa banyak orang yang menggunakannya dan menganggapnya bernilai.
Seperti yang telah kita lihat pada Bagian Satu, produk yang dibangun oleh startup pada dasarnya adalah eksperimen. Pembelajaran tentang bagaimana membangun bisnis yang berkelanjutan merupakan hasil dari eksperimen-eksperimen tersebut. Bagi startup, informasi ini jauh lebih penting daripada uang, penghargaan, atau liputan media, karena informasi tersebut dapat memengaruhi dan membentuk kembali rangkaian gagasan berikutnya.
Proses tiga langkah ini dapat kita bayangkan melalui diagram sederhana berikut.
Siklus umpan balik Build–Measure–Learn merupakan inti dari model Lean Startup. Pada Bagian Dua, kita akan mengkajinya secara lebih mendalam. Banyak orang memiliki pelatihan profesional yang menekankan salah satu unsur dari siklus umpan balik ini.
Bagi para insinyur, fokusnya adalah mempelajari cara membangun sesuatu seefisien mungkin. Sebagian manajer ahli dalam merumuskan strategi dan pembelajaran di papan tulis. Banyak pula wirausahawan yang memusatkan energi pada kata bendanya: memiliki ide produk terbaik, desain produk awal terbaik, atau terobsesi pada data dan metrik.
Kenyataannya, tidak satu pun dari aktivitas tersebut yang dengan sendirinya paling menentukan. Yang perlu kita lakukan justru memusatkan energi pada upaya meminimalkan total waktu yang diperlukan untuk melalui siklus umpan balik ini. Inilah hakikat dari mengemudikan sebuah startup (steering) dan menjadi pokok bahasan Bagian Dua. Kita akan menelusuri satu putaran lengkap siklus Build–Measure–Learn, membahas setiap komponennya secara rinci.
Tujuan Bagian Satu adalah menegaskan pentingnya pembelajaran sebagai ukuran kemajuan startup. Dengan memusatkan perhatian pada validated learning, kita dapat menghindari banyak pemborosan yang sering menimpa startup. Seperti dalam lean manufacturing, mengetahui di mana dan kapan harus menginvestasikan energi akan menghasilkan penghematan waktu dan biaya.
Asumsi Lompatan Iman
Untuk menerapkan metode ilmiah dalam sebuah startup, kita perlu menentukan hipotesis mana yang harus diuji. Unsur paling berisiko dalam rencana startup—bagian yang menjadi tumpuan segalanya—saya sebut leap-of-faith assumptions (asumsi lompatan iman).
Dua asumsi terpenting adalah:
- Value hypothesis – apakah produk benar-benar memberikan nilai bagi pelanggan.
- Growth hypothesis – bagaimana produk akan berkembang dan memperoleh pengguna baru.
Dari kedua hipotesis ini muncul variabel penyetelan yang mengendalikan mesin pertumbuhan startup. Setiap iterasi startup merupakan upaya memutar mesin tersebut untuk melihat apakah ia benar-benar berjalan. Jika sudah berjalan, proses akan berulang dengan kecepatan yang semakin tinggi.
Minimum Viable Product (MVP)
Setelah asumsi-asumsi lompatan iman tersebut jelas, langkah pertama adalah segera memasuki fase Build dengan minimum viable product (MVP).
MVP adalah versi produk yang memungkinkan satu putaran penuh siklus Build–Measure–Learn dengan upaya dan waktu pengembangan seminimal mungkin. MVP biasanya belum memiliki banyak fitur yang kelak mungkin terbukti penting.
Namun dalam beberapa hal, membuat MVP justru memerlukan usaha tambahan: kita harus mampu mengukur dampaknya. Tidak cukup hanya membuat prototipe yang dinilai secara internal oleh insinyur atau desainer. Produk tersebut harus dipertemukan dengan calon pelanggan untuk melihat reaksi mereka. Bahkan, dalam beberapa kasus, kita perlu mencoba menjual prototipe tersebut.
Tahap Measure: Mengukur Kemajuan Nyata
Ketika memasuki fase Measure, tantangan terbesar adalah menentukan apakah upaya pengembangan produk benar-benar menghasilkan kemajuan. Ingat: jika kita membangun sesuatu yang tidak diinginkan siapa pun, maka ketepatan waktu dan anggaran tidak lagi berarti.
Metode yang saya sarankan disebut innovation accounting—pendekatan kuantitatif yang memungkinkan kita menilai apakah upaya penyetelan mesin pertumbuhan benar-benar menghasilkan kemajuan. Pendekatan ini juga memungkinkan kita menetapkan learning milestones, yaitu tonggak pembelajaran yang menjadi alternatif dari tonggak bisnis atau produk tradisional.
Learning milestones membantu wirausahawan menilai kemajuan secara akurat dan objektif, sekaligus membantu manajer dan investor mempertanggungjawabkan kinerja para entrepreneur.
Namun tidak semua metrik memiliki nilai yang sama. Pada Bab 7 nanti, saya akan menjelaskan bahaya vanity metrics dibandingkan dengan actionable metrics yang benar-benar membantu memahami perilaku pelanggan dan mendukung innovation accounting.
Pivot atau Bertahan
Akhirnya—dan ini yang paling penting—kita sampai pada pivot. Setelah menyelesaikan satu putaran siklus Build–Measure–Learn, seorang wirausahawan menghadapi pertanyaan paling sulit:
Apakah kita harus mengubah strategi (pivot) atau tetap bertahan (persevere)?
Jika terbukti bahwa salah satu hipotesis utama kita keliru, maka saatnya melakukan perubahan strategi besar dengan hipotesis baru.
Metode Lean Startup membantu membangun perusahaan yang lebih efisien dalam penggunaan modal, karena memungkinkan startup menyadari lebih cepat kapan saatnya melakukan pivot, sehingga mengurangi pemborosan waktu dan uang.
Walaupun siklus ini ditulis sebagai Build–Measure–Learn karena aktivitasnya terjadi dalam urutan tersebut, proses perencanaannya justru bekerja dalam urutan terbalik:
- Menentukan apa yang perlu dipelajari.
- Menentukan apa yang harus diukur untuk memperoleh validated learning (melalui innovation accounting).
- Menentukan produk apa yang perlu dibangun untuk menjalankan eksperimen tersebut.
Semua teknik dalam Bagian Dua dirancang untuk meminimalkan waktu yang diperlukan dalam setiap putaran siklus Build–Measure–Learn.
Artikel Terkait
Toko Bebas Antre dari Amazon Siap Dibuka untuk Publik
January 12, 2019WA +62 838-4065-2485, Jasa EA Forex, Forex Trading, Robot Forex
January 12, 2019
Cara Menghasilkan Uang Banyak 5 Hari Dengan WFH
January 12, 2019
Strategi Perusahaan Bertahan Di Wabah Pandemi
January 12, 2019







Comments (0)