Bahasa Indonesia Guyton And Hall Textbook of Medical Physiology 75-85 End

Pengaruh Latihan Atletik terhadap Otot dan Performa Otot

Latihan Tahanan Maksimal Meningkatkan Kekuatan Otot

Gambar 85-6 Perkiraan pengaruh latihan tahanan yang optimal terhadap peningkatan kekuatan otot selama periode latihan 10 minggu.

Salah satu prinsip utama perkembangan otot selama latihan atletik adalah sebagai berikut. Otot yang bekerja tanpa beban, meskipun dilatih selama berjam-jam, hanya mengalami sedikit peningkatan kekuatan. Sebaliknya, otot yang berkontraksi dengan gaya lebih dari 50% dari kekuatan kontraksi maksimal akan mengalami peningkatan kekuatan secara cepat, meskipun kontraksi tersebut hanya dilakukan beberapa kali setiap hari.

Berdasarkan prinsip ini, berbagai penelitian mengenai pembentukan otot menunjukkan bahwa enam kontraksi otot yang mendekati maksimal, dilakukan dalam tiga set sebanyak tiga kali seminggu, menghasilkan peningkatan kekuatan otot yang hampir optimal tanpa menimbulkan kelelahan otot kronis.

Kurva bagian atas pada Gambar 85-6 menunjukkan perkiraan persentase peningkatan kekuatan yang dapat dicapai oleh individu muda yang sebelumnya tidak terlatih melalui program latihan tahanan tersebut. Terlihat bahwa kekuatan otot meningkat sekitar 30% selama 6 hingga 8 minggu pertama, kemudian peningkatannya hampir mencapai keadaan mendatar (plateau). Peningkatan kekuatan ini disertai peningkatan massa otot dalam persentase yang hampir sama, yang disebut hipertrofi otot.

Pada usia lanjut, banyak orang menjadi sangat kurang aktif sehingga otot mengalami atrofi yang berat. Namun, pada kondisi tersebut, latihan otot dapat meningkatkan kekuatan otot lebih dari 100%.

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Hipertrofi Otot

Ukuran rata-rata otot seseorang sangat ditentukan oleh faktor keturunan dan kadar sekresi testosteron, yang pada laki-laki menyebabkan massa otot jauh lebih besar dibandingkan perempuan. Namun, melalui latihan, otot masih dapat mengalami hipertrofi tambahan sekitar 30% hingga 60%.

Sebagian besar hipertrofi ini terjadi akibat bertambahnya diameter serabut otot, bukan karena bertambahnya jumlah serabut. Akan tetapi, diduga sejumlah kecil serabut otot yang mengalami pembesaran ekstrem dapat membelah sepanjang sumbu memanjangnya menjadi dua serabut baru sehingga jumlah serabut otot sedikit bertambah.

Perubahan yang terjadi di dalam serabut otot yang mengalami hipertrofi meliputi:

  1. Peningkatan jumlah miofibril sebanding dengan derajat hipertrofi.
  2. Peningkatan enzim mitokondria hingga 120%.
  3. Peningkatan komponen sistem metabolisme fosfagen, termasuk ATP dan fosfokreatin, hingga 60% sampai 80%.
  4. Peningkatan cadangan glikogen hingga 50%.
  5. Peningkatan cadangan trigliserida (lemak) hingga 75% sampai 100%.

Akibat seluruh perubahan tersebut, kemampuan sistem metabolisme anaerob maupun aerob meningkat. Peningkatan yang paling menonjol terjadi pada laju oksidasi maksimum dan efisiensi sistem metabolisme oksidatif, yang dapat meningkat hingga 45%.

Serabut Otot Fast-Twitch dan Slow-Twitch

Pada manusia, semua otot memiliki proporsi serabut otot fast-twitch dan slow-twitch yang berbeda-beda. Sebagai contoh, otot gastrocnemius memiliki proporsi serabut fast-twitch yang lebih tinggi sehingga mampu menghasilkan kontraksi yang kuat dan cepat, seperti yang dibutuhkan saat melompat. Sebaliknya, otot soleus memiliki proporsi serabut slow-twitch yang lebih tinggi sehingga lebih banyak digunakan untuk aktivitas otot tungkai bawah yang berlangsung lama.

Perbedaan utama antara serabut otot fast-twitch dan slow-twitch adalah sebagai berikut.

  1. Serabut fast-twitch memiliki diameter sekitar dua kali lebih besar dibandingkan serabut slow-twitch.
  2. Enzim yang mempercepat pelepasan energi dari sistem fosfagen dan sistem glikogen-asam laktat memiliki aktivitas dua hingga tiga kali lebih tinggi pada serabut fast-twitch dibandingkan pada serabut slow-twitch. Oleh karena itu, daya maksimal yang dapat dihasilkan serabut fast-twitch selama waktu yang sangat singkat sekitar dua kali lebih besar dibandingkan serabut slow-twitch.
  3. Serabut slow-twitch terutama dirancang untuk aktivitas ketahanan, khususnya dalam menghasilkan energi melalui metabolisme aerob. Serabut ini memiliki jumlah mitokondria yang jauh lebih banyak dibandingkan serabut fast-twitch. Selain itu, serabut slow-twitch mengandung mioglobin dalam jumlah yang jauh lebih tinggi. Mioglobin merupakan protein yang menyerupai hemoglobin dan berikatan dengan oksigen di dalam serabut otot. Kandungan mioglobin yang lebih tinggi meningkatkan kecepatan difusi oksigen di seluruh serabut otot dengan memindahkan oksigen dari satu molekul mioglobin ke molekul mioglobin berikutnya. Di samping itu, enzim-enzim sistem metabolisme aerob memiliki aktivitas yang jauh lebih tinggi pada serabut slow-twitch dibandingkan pada serabut fast-twitch.
  4. Jumlah kapiler di sekitar serabut slow-twitch lebih banyak dibandingkan di sekitar serabut fast-twitch.

Sebagai ringkasan, serabut fast-twitch mampu menghasilkan daya yang sangat besar selama beberapa detik hingga sekitar satu menit. Sebaliknya, serabut slow-twitch memberikan daya tahan dengan mempertahankan kekuatan kontraksi dalam waktu yang lama, mulai dari beberapa menit hingga berjam-jam.

Perbedaan Genetik Serabut Otot Fast-Twitch dan Slow-Twitch pada Atlet

Sebagian orang memiliki proporsi serabut fast-twitch yang jauh lebih banyak dibandingkan serabut slow-twitch, sedangkan sebagian lainnya memiliki proporsi serabut slow-twitch yang lebih tinggi. Faktor ini dapat menentukan kemampuan atletik seseorang sampai tingkat tertentu.

Latihan atletik dapat mengubah proporsi relatif serabut fast-twitch dan slow-twitch hingga sekitar 10%. Namun, proporsi kedua jenis serabut tersebut tampaknya sebagian besar ditentukan oleh faktor genetik. Faktor genetik ini turut menentukan cabang olahraga yang paling sesuai bagi setiap individu. Ada orang yang secara alami lebih cocok menjadi pelari maraton, sedangkan yang lain lebih berbakat menjadi pelari cepat atau atlet lompat.

Sebagai contoh, berikut adalah persentase serabut fast-twitch dan slow-twitch pada otot quadriceps dari berbagai jenis atlet:

Jenis Atlet Serabut Fast-Twitch (%) Serabut Slow-Twitch (%)
Pelari maraton 18 82
Perenang 26 74
Laki-laki rata-rata 55 45
Atlet angkat besi 55 45
Pelari cepat 63 37
Atlet lompat 63 37

Respirasi Selama Berolahraga

Meskipun kemampuan sistem pernapasan relatif tidak terlalu berpengaruh terhadap performa pada cabang olahraga yang mengandalkan sprint, kemampuan ini sangat penting untuk mencapai performa maksimal pada olahraga ketahanan.

Konsumsi Oksigen dan Ventilasi Paru Selama Berolahraga

Gambar 85-7 Pengaruh latihan terhadap konsumsi oksigen dan laju ventilasi paru. (Dimodifikasi dari Gray JS: Pulmonary Ventilation and Its Physiological Regulation. Springfield, IL: Charles C Thomas, 1950.)

Konsumsi oksigen normal pada seorang laki-laki muda saat istirahat adalah sekitar 250 mL/menit. Namun, pada kondisi maksimal, konsumsi oksigen dapat meningkat hingga rata-rata sebagai berikut:

Kondisi mL/menit
Laki-laki rata-rata yang tidak terlatih 3600
Laki-laki rata-rata yang terlatih secara atletik 4000
Pelari maraton laki-laki 5100

Gambar 85-7 memperlihatkan hubungan antara konsumsi oksigen dan ventilasi paru total pada berbagai tingkat intensitas latihan. Sesuai dengan yang diperkirakan, hubungan keduanya bersifat linear. Baik konsumsi oksigen maupun ventilasi paru total meningkat sekitar 20 kali lipat dari keadaan istirahat hingga intensitas latihan maksimal pada atlet yang terlatih dengan baik.

Batas Kemampuan Ventilasi Paru

Seberapa besar sistem pernapasan mengalami beban selama berolahraga? Pertanyaan ini dapat dijawab melalui perbandingan berikut pada seorang laki-laki muda yang sehat:

Parameter L/menit
Ventilasi paru saat latihan maksimal 100 hingga 110
Kapasitas napas maksimal 150 hingga 170

Dengan demikian, kapasitas napas maksimal sekitar 50% lebih besar dibandingkan ventilasi paru yang benar-benar digunakan selama latihan maksimal. Perbedaan ini memberikan cadangan keamanan bagi atlet, sehingga tersedia kapasitas ventilasi tambahan yang dapat dimanfaatkan pada kondisi seperti:

  1. Berolahraga di dataran tinggi.
  2. Berolahraga pada lingkungan yang sangat panas.
  3. Adanya kelainan pada sistem pernapasan.

Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa sistem pernapasan umumnya bukan faktor utama yang membatasi penghantaran oksigen ke otot selama metabolisme aerob maksimal. Sebagaimana akan dibahas selanjutnya, kemampuan jantung memompa darah ke otot biasanya merupakan faktor pembatas yang lebih besar.

Pengaruh Latihan terhadap V?O?max

Gambar 85-8 Peningkatan V?O?max selama periode latihan atletik 7 hingga 13 minggu. (Dimodifikasi dari Fox EL: Sports Physiology. Philadelphia: Saunders College Publishing, 1979.)

Singkatan V?O?max digunakan untuk menyatakan laju konsumsi oksigen (L/menit) selama metabolisme aerob maksimal.

Gambar 85-8 memperlihatkan peningkatan bertahap V?O?max pada sekelompok subjek yang awalnya tidak menjalani latihan, kemudian mengikuti program latihan selama 7 hingga 13 minggu. Menariknya, pada penelitian tersebut V?O?max hanya meningkat sekitar 10%. Selain itu, frekuensi latihan, baik dua kali maupun lima kali setiap minggu, hanya memberikan sedikit pengaruh terhadap peningkatan V?O?max.

Namun, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, V?O?max seorang pelari maraton sekitar 45% lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak terlatih. Sebagian dari tingginya V?O?max pada pelari maraton mungkin ditentukan secara genetik. Artinya, individu yang memiliki ukuran rongga dada lebih besar dibandingkan ukuran tubuhnya serta otot-otot pernapasan yang lebih kuat mungkin secara alami lebih cenderung menjadi pelari maraton.

Di sisi lain, sangat mungkin bahwa latihan yang dilakukan selama bertahun-tahun mampu meningkatkan V?O?max seorang pelari maraton jauh lebih besar daripada peningkatan sekitar 10% yang diperoleh pada penelitian jangka pendek seperti yang ditunjukkan pada Gambar 85-8.

Kapasitas Difusi Oksigen pada Atlet. Kapasitas difusi oksigen merupakan ukuran laju difusi oksigen dari alveolus paru ke dalam darah. Kapasitas ini dinyatakan dalam mililiter oksigen yang dapat berdifusi setiap menit untuk setiap perbedaan tekanan parsial oksigen sebesar 1 mmHg antara alveolus dan darah pulmonal. Artinya, jika tekanan parsial oksigen di alveolus adalah 91 mmHg dan tekanan oksigen dalam darah adalah 90 mmHg, maka jumlah oksigen yang berdifusi melalui membran respirasi setiap menit sama dengan kapasitas difusi. Berikut adalah nilai kapasitas difusi yang telah diukur:

ml/menit

Bukan atlet saat istirahat ............................................. 23

Bukan atlet saat latihan maksimal ............................... 48

Atlet seluncur cepat saat latihan maksimal ................. 64

Perenang saat latihan maksimal ................................... 71

Pendayung saat latihan maksimal ................................. 80

Fakta yang paling mencolok dari hasil ini adalah peningkatan kapasitas difusi hingga beberapa kali lipat dari keadaan istirahat ke keadaan latihan maksimal. Temuan ini terutama disebabkan oleh aliran darah melalui banyak kapiler paru yang lambat atau bahkan hampir tidak aktif saat istirahat, sedangkan pada latihan maksimal, peningkatan aliran darah melalui paru menyebabkan seluruh kapiler paru terperfusi pada laju maksimal. Dengan demikian, tersedia luas permukaan yang jauh lebih besar untuk difusi oksigen ke dalam darah kapiler paru.

Data tersebut juga menunjukkan bahwa atlet yang membutuhkan oksigen dalam jumlah lebih besar setiap menit memiliki kapasitas difusi yang lebih tinggi. Apakah hal ini terjadi karena orang yang secara alami memiliki kapasitas difusi lebih besar cenderung memilih cabang olahraga tersebut, atau karena metode latihan tertentu meningkatkan kapasitas difusi? Jawabannya masih belum pasti, tetapi sangat mungkin bahwa latihan, terutama latihan daya tahan, memang berperan penting.

Gas Darah Selama Latihan. Mengingat penggunaan oksigen oleh otot meningkat sangat besar selama latihan, mungkin diperkirakan bahwa tekanan oksigen dalam darah arteri akan menurun tajam selama aktivitas fisik berat dan tekanan karbon dioksida dalam darah vena akan meningkat jauh di atas normal. Namun, pada keadaan normal hal tersebut tidak terjadi. Kedua nilai tersebut tetap mendekati normal, yang menunjukkan kemampuan luar biasa sistem respirasi dalam mempertahankan oksigenasi darah yang memadai, bahkan selama latihan berat.

Hal ini juga menunjukkan satu hal penting lainnya, yaitu gas darah tidak harus menjadi abnormal agar respirasi terangsang selama latihan. Sebaliknya, respirasi terutama dirangsang oleh mekanisme neurogenik selama latihan, sebagaimana dibahas pada Bab 42. Sebagian rangsangan ini berasal dari stimulasi langsung pusat respirasi oleh sinyal saraf yang sama yang dikirim dari otak ke otot untuk memicu gerakan. Sebagian lainnya diduga berasal dari sinyal sensorik yang dikirim dari otot yang berkontraksi dan sendi yang bergerak menuju pusat respirasi. Seluruh rangsangan saraf tambahan ini umumnya cukup untuk menghasilkan peningkatan ventilasi paru yang diperlukan sehingga kadar oksigen dan karbon dioksida darah tetap mendekati normal.

Pengaruh Merokok terhadap Ventilasi Paru Selama Latihan. Telah diketahui secara luas bahwa merokok dapat menurunkan kemampuan bernapas seorang atlet. Hal ini terjadi karena beberapa alasan berikut.

  1. Salah satu efek nikotin adalah penyempitan bronkiolus terminal paru, sehingga meningkatkan resistensi terhadap aliran udara yang masuk dan keluar dari paru.
  2. Efek iritasi asap rokok menyebabkan peningkatan sekresi cairan ke dalam percabangan bronkus, disertai pembengkakan pada lapisan epitel.
  3. Nikotin melumpuhkan silia pada permukaan sel epitel respirasi yang normalnya berdenyut terus-menerus untuk membersihkan kelebihan cairan dan partikel asing dari saluran napas. Akibatnya, banyak debris menumpuk di saluran napas sehingga semakin menyulitkan proses pernapasan.

Akumulasi seluruh faktor tersebut menyebabkan bahkan perokok ringan sering merasakan sesak napas saat melakukan latihan maksimal, sehingga tingkat performanya dapat menurun.

Dampak merokok kronis jauh lebih berat. Sangat sedikit perokok kronis yang tidak mengalami derajat tertentu emfisema. Pada penyakit ini terjadi: (1) bronkitis kronis, (2) obstruksi pada banyak bronkiolus terminal, dan (3) destruksi banyak dinding alveolus. Pada penderita emfisema berat, hingga empat perlima membran respirasi dapat mengalami kerusakan. Dalam keadaan demikian, aktivitas fisik yang sangat ringan sekalipun dapat menimbulkan gangguan pernapasan. Bahkan banyak pasien tidak mampu berjalan melintasi satu ruangan tanpa terengah-engah.

Sistem Kardiovaskular Selama Latihan

Gambar 85-9 Pengaruh latihan otot terhadap aliran darah pada otot betis selama kontraksi ritmis yang kuat. Aliran darah jauh lebih rendah selama kontraksi dibandingkan di antara periode kontraksi. (Dimodifikasi dari Barcroft J, Dornhorst AC: The blood flow through the human calf during rhythmic exercise, J Physiol 109:402, 1949.)

Aliran Darah ke Otot. Salah satu kebutuhan utama fungsi kardiovaskular selama latihan adalah mengantarkan oksigen dan zat gizi lain ke otot yang sedang bekerja. Untuk tujuan ini, aliran darah ke otot meningkat secara drastis selama latihan.

Gambar 85-9 memperlihatkan rekaman aliran darah pada otot betis seseorang selama periode 6 menit ketika melakukan kontraksi intermiten dengan intensitas sedang hingga kuat. Perhatikan tidak hanya peningkatan aliran darah yang sangat besar, sekitar 13 kali lipat, tetapi juga penurunan aliran darah setiap kali otot berkontraksi. Dua hal dapat disimpulkan dari penelitian ini.

  1. Proses kontraksi itu sendiri untuk sementara menurunkan aliran darah ke otot karena kontraksi otot rangka menekan pembuluh darah intramuskular. Oleh karena itu, kontraksi tonik yang kuat dapat menyebabkan kelelahan otot dengan cepat akibat kurangnya suplai oksigen dan zat gizi selama kontraksi berlangsung terus-menerus.
  2. Aliran darah ke otot selama latihan meningkat sangat nyata. Perbandingan berikut menunjukkan peningkatan maksimal aliran darah yang dapat terjadi pada atlet yang terlatih dengan baik.

ml/100 g otot/menit

Aliran darah saat istirahat ........................................... 3,6

Aliran darah saat latihan maksimal ............................... 90

Dengan demikian, aliran darah ke otot dapat meningkat hingga sekitar 25 kali lipat selama latihan yang paling berat. Hampir setengah dari peningkatan ini disebabkan oleh vasodilatasi intramuskular akibat efek langsung peningkatan metabolisme otot, sebagaimana dijelaskan pada Bab 21. Sisanya merupakan hasil dari berbagai faktor, yang paling penting kemungkinan adalah peningkatan sedang tekanan darah arteri selama latihan, yang umumnya sekitar 30%.

Peningkatan tekanan ini tidak hanya mendorong lebih banyak darah melewati pembuluh darah, tetapi juga meregangkan dinding arteriola sehingga semakin menurunkan resistensi vaskular. Oleh karena itu, kenaikan tekanan darah sebesar 30% sering kali dapat meningkatkan aliran darah lebih dari dua kali lipat, sehingga menggandakan lagi peningkatan aliran yang telah terjadi akibat vasodilatasi metabolik.

Hubungan antara Beban Kerja, Konsumsi Oksigen, dan Curah Jantung Selama Latihan.

Gambar 85-10 Hubungan antara curah jantung dan beban kerja (garis utuh), serta antara konsumsi oksigen dan beban kerja (garis putus-putus) pada berbagai tingkat latihan. Titik dan kotak dengan warna yang berbeda menunjukkan data yang diperoleh dari berbagai penelitian pada manusia. (Dimodifikasi dari Guyton AC, Jones CE, Coleman TB: Circulatory Physiology: Cardiac Output and Its Regulation. Philadelphia: WB Saunders, 1973.)

Gambar 85-10 memperlihatkan hubungan antara beban kerja, konsumsi oksigen, dan curah jantung selama latihan. Ketiga faktor ini berhubungan secara langsung, sebagaimana ditunjukkan oleh hubungan linear, karena peningkatan kerja otot meningkatkan konsumsi oksigen. Selanjutnya, peningkatan konsumsi oksigen menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah otot, sehingga meningkatkan aliran balik vena dan curah jantung.

Curah jantung yang khas pada beberapa tingkat latihan adalah sebagai berikut.

L/menit

Curah jantung pria muda saat istirahat .......................... 5,5

Curah jantung maksimal selama latihan pada pria muda yang tidak terlatih ............................................................... 23

Curah jantung maksimal selama latihan pada pelari maraton pria rata-rata ....................................................... 30

Dengan demikian, orang normal yang tidak terlatih dapat meningkatkan curah jantung lebih dari empat kali lipat, sedangkan atlet yang terlatih dapat meningkatkannya sekitar enam kali lipat. Pada beberapa pelari maraton, curah jantung sebesar 35 hingga 40 L/menit, atau tujuh hingga delapan kali nilai saat istirahat, pernah diukur.

Pengaruh Latihan terhadap Hipertrofi Jantung dan Curah Jantung. Berdasarkan data tersebut, jelas bahwa pelari maraton dapat mencapai curah jantung maksimal sekitar 40% lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak terlatih. Hal ini terutama disebabkan oleh pembesaran ruang jantung sekitar 40%, yang disertai peningkatan massa jantung sebesar 40% atau lebih. Dengan demikian, bukan hanya otot rangka yang mengalami hipertrofi akibat latihan atletik, tetapi juga jantung. Namun, pembesaran jantung dan peningkatan kemampuan memompa terutama terjadi pada latihan daya tahan, bukan latihan sprint.

Meskipun jantung pelari maraton jauh lebih besar daripada jantung orang normal, curah jantung saat istirahat hampir sama. Curah jantung normal tersebut dicapai melalui volume sekuncup yang lebih besar disertai frekuensi denyut jantung yang lebih rendah. Tabel 85-2 membandingkan volume sekuncup dan frekuensi denyut jantung antara orang yang tidak terlatih dan pelari maraton.

Tabel 85-2 Perbandingan Fungsi Jantung antara Pelari Maraton dan Bukan Atlet

Jenis Individu Volume Sekuncup (Stroke Volume ) (ml) Frekuensi Denyut Jantung ( Heart Rate ) (kali/menit)
Saat Istirahat    
Bukan atlet 75 75
Pelari maraton 105 50
Kondisi Maksimal    
Bukan atlet 110 195
Pelari maraton 162 185

Dengan demikian, efektivitas pemompaan setiap denyut jantung pada atlet yang sangat terlatih sekitar 40% hingga 50% lebih besar dibandingkan orang yang tidak terlatih, tetapi diimbangi oleh penurunan frekuensi denyut jantung saat istirahat.

Peran Volume Sekuncup dan Frekuensi Denyut Jantung dalam Meningkatkan Curah Jantung.

Gambar 85-11 Perkiraan volume sekuncup dan frekuensi denyut jantung pada berbagai tingkat curah jantung pada seorang atlet pelari maraton.

Gambar 85-11 menunjukkan perubahan perkiraan volume sekuncup dan frekuensi denyut jantung ketika curah jantung meningkat dari sekitar 5,5 L/menit saat istirahat menjadi 30 L/menit pada pelari maraton. Volume sekuncup meningkat dari 105 ml menjadi 162 ml, atau sekitar 50%, sedangkan frekuensi denyut jantung meningkat dari 50 menjadi 185 kali per menit, atau sekitar 270%.

Dengan demikian, peningkatan frekuensi denyut jantung memberikan kontribusi yang jauh lebih besar terhadap peningkatan curah jantung dibandingkan peningkatan volume sekuncup selama latihan berat yang berlangsung terus-menerus. Volume sekuncup umumnya telah mencapai nilai maksimal ketika curah jantung baru meningkat sekitar setengah dari nilai maksimumnya. Setelah itu, setiap peningkatan curah jantung lebih lanjut hanya dapat dicapai melalui peningkatan frekuensi denyut jantung.

Hubungan antara Kinerja Kardiovaskular dan V?O?maks. Selama latihan maksimal, frekuensi denyut jantung dan volume sekuncup meningkat hingga sekitar 95% dari nilai maksimalnya. Karena curah jantung merupakan hasil perkalian volume sekuncup dengan frekuensi denyut jantung, curah jantung mencapai sekitar 90% dari kemampuan maksimal seseorang. Sebaliknya, ventilasi paru hanya mencapai sekitar 65% dari kapasitas maksimalnya.

Oleh karena itu, jelas bahwa sistem kardiovaskular umumnya menjadi faktor pembatas utama terhadap V?O?maks dibandingkan sistem respirasi, karena pemanfaatan oksigen oleh tubuh tidak pernah dapat melebihi kemampuan sistem kardiovaskular mengangkut oksigen ke jaringan.

Atas alasan ini, sering dikatakan bahwa tingkat performa atletik yang dapat dicapai pelari maraton terutama bergantung pada kemampuan jantungnya, karena jantung merupakan mata rantai yang paling membatasi dalam penghantaran oksigen yang memadai ke otot yang sedang bekerja. Dengan demikian, kemampuan pelari maraton mencapai curah jantung sekitar 40% lebih tinggi dibandingkan pria rata-rata yang tidak terlatih kemungkinan merupakan manfaat fisiologis paling penting dari program latihan maraton.

Pengaruh Penyakit Jantung dan Usia Lanjut terhadap Performa Atletik. Mengingat sistem kardiovaskular merupakan faktor pembatas utama performa maksimal dalam olahraga daya tahan, dapat dipahami bahwa segala jenis penyakit jantung yang menurunkan curah jantung maksimal akan menyebabkan penurunan kemampuan menghasilkan tenaga otot tubuh secara keseluruhan dalam derajat yang hampir sebanding.

Karena itu, penderita gagal jantung kongestif sering kali mengalami kesulitan bahkan untuk menghasilkan tenaga otot yang diperlukan sekadar bangun dari tempat tidur, apalagi berjalan melintasi ruangan.

Curah jantung maksimal pada orang lanjut usia juga menurun secara bermakna. Penurunan ini dapat mencapai sekitar 50% antara usia 18 hingga 80 tahun. Selain itu, kapasitas bernapas maksimal mengalami penurunan yang bahkan lebih besar. Oleh sebab itu, bersama dengan berkurangnya massa otot rangka, kemampuan maksimal menghasilkan tenaga otot menurun secara nyata pada usia lanjut.

Panas Tubuh Selama Latihan

Hampir seluruh energi yang dilepaskan dari metabolisme zat gizi pada akhirnya diubah menjadi panas tubuh. Hal ini juga berlaku untuk energi yang digunakan dalam kontraksi otot karena dua alasan. Pertama, efisiensi maksimum konversi energi zat gizi menjadi kerja otot, bahkan dalam kondisi terbaik, hanya sekitar 20% hingga 25%, sedangkan sisanya berubah menjadi panas selama berlangsungnya reaksi kimia intraseluler. Kedua, hampir seluruh energi yang benar-benar digunakan untuk menghasilkan kerja otot pada akhirnya juga menjadi panas tubuh karena hampir seluruh energi tersebut dipakai untuk: (1) mengatasi hambatan viskositas terhadap gerakan otot dan sendi, (2) mengatasi gesekan darah yang mengalir melalui pembuluh darah, dan (3) berbagai proses serupa lainnya, yang semuanya mengubah energi kontraksi otot menjadi panas.

Apabila diingat bahwa konsumsi oksigen tubuh dapat meningkat hingga 20 kali lipat pada atlet yang terlatih dengan baik, serta jumlah panas yang dihasilkan tubuh hampir berbanding lurus dengan konsumsi oksigen sebagaimana dibahas pada Bab 73, maka dapat dipahami bahwa sejumlah besar panas dilepaskan ke jaringan tubuh bagian dalam selama olahraga daya tahan. Apabila kondisi cuaca sangat panas dan lembap sehingga mekanisme berkeringat tidak mampu membuang panas tersebut, atlet dapat mengalami keadaan yang sangat berbahaya bahkan mematikan yang disebut heatstroke.

Heatstroke. Selama olahraga daya tahan, bahkan dalam kondisi lingkungan normal, suhu tubuh sering meningkat dari sekitar 37°C menjadi 39°C hingga 40°C. Pada kondisi yang sangat panas dan lembap atau ketika mengenakan pakaian yang berlebihan, suhu tubuh dapat meningkat hingga 41°C sampai 42°C. Pada tingkat ini, suhu yang tinggi mulai merusak sel-sel jaringan, terutama sel-sel otak.

Ketika keadaan ini terjadi, berbagai gejala mulai muncul, antara lain kelemahan yang sangat berat, kelelahan, sakit kepala, pusing, mual, berkeringat berlebihan, kebingungan, gaya berjalan sempoyongan, kolaps, dan penurunan kesadaran.

Keseluruhan kumpulan gejala ini disebut heatstroke, dan apabila tidak segera ditangani dapat menyebabkan kematian. Bahkan setelah seseorang berhenti berolahraga, suhu tubuh tidak mudah turun. Hal ini sebagian disebabkan oleh kegagalan mekanisme pengaturan suhu tubuh pada suhu yang sangat tinggi sebagaimana dijelaskan pada Bab 74. Penyebab lainnya adalah bahwa pada heatstroke, suhu tubuh yang sangat tinggi hampir menggandakan laju seluruh reaksi kimia intraseluler sehingga menghasilkan panas yang lebih banyak lagi.

Penatalaksanaan heatstroke adalah menurunkan suhu tubuh secepat mungkin. Cara yang paling praktis adalah melepaskan seluruh pakaian, menyemprotkan air dingin ke seluruh permukaan tubuh atau menyeka tubuh secara terus-menerus dengan spons basah, kemudian mengalirkan udara menggunakan kipas. Penelitian menunjukkan bahwa cara ini dapat menurunkan suhu tubuh secepat, atau hampir secepat, metode lainnya, meskipun sebagian dokter lebih memilih merendam seluruh tubuh ke dalam air yang berisi campuran es yang dihancurkan, apabila tersedia.

Cairan Tubuh dan Garam dalam Olahraga

Penurunan berat badan hingga 5 sampai 10 pon telah tercatat pada atlet dalam waktu 1 jam selama cabang olahraga ketahanan yang dilakukan pada kondisi panas dan lembap. Hampir seluruh penurunan berat badan tersebut disebabkan oleh hilangnya keringat. Kehilangan keringat yang cukup hingga menurunkan berat badan sebesar 3% saja dapat secara bermakna menurunkan performa seseorang, dan penurunan berat badan yang cepat sebesar 5% hingga 10% sering kali dapat menjadi kondisi serius yang menyebabkan kram otot, mual, dan berbagai efek merugikan lainnya. Oleh karena itu, cairan yang hilang harus segera diganti.

Penggantian Natrium Klorida dan Kalium

Karena keringat mengandung natrium klorida dalam jumlah yang cukup besar, sejak lama dianjurkan bahwa semua atlet sebaiknya mengonsumsi tablet garam (natrium klorida) saat berolahraga pada hari yang panas dan lembap. Namun, penggunaan tablet garam secara berlebihan sering kali justru lebih banyak menimbulkan kerugian daripada manfaat. Selain itu, apabila seorang atlet beradaptasi terhadap panas melalui peningkatan paparan latihan secara bertahap selama 1 sampai 2 minggu, alih-alih langsung melakukan aktivitas olahraga maksimal pada hari pertama, kelenjar keringat juga akan mengalami aklimatisasi. Akibatnya, jumlah garam yang hilang melalui keringat hanya menjadi sebagian kecil dibandingkan sebelum proses aklimatisasi.

Aklimatisasi kelenjar keringat ini terutama terjadi akibat peningkatan sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Selanjutnya, aldosteron bekerja secara langsung pada kelenjar keringat dengan meningkatkan reabsorpsi natrium klorida dari keringat sebelum keringat keluar dari tubulus kelenjar keringat menuju permukaan kulit. Setelah atlet mengalami aklimatisasi, suplementasi garam selama kegiatan olahraga hanya jarang diperlukan.

Hiponatremia yang berhubungan dengan olahraga (exercise-associated hyponatremia), yaitu rendahnya konsentrasi natrium plasma, kadang-kadang dapat terjadi setelah aktivitas fisik yang berlangsung lama. Bahkan, hiponatremia berat dapat menjadi penyebab penting kematian pada atlet olahraga ketahanan. Sebagaimana dijelaskan pada Bab 25, hiponatremia berat dapat menyebabkan edema jaringan, terutama pada otak, yang dapat berakibat fatal. Pada individu yang mengalami hiponatremia yang mengancam jiwa setelah aktivitas fisik berat, penyebab utamanya bukan sekadar kehilangan natrium melalui keringat. Sebaliknya, hiponatremia sering kali disebabkan oleh konsumsi cairan hipotonik secara berlebihan, baik berupa air maupun minuman olahraga yang umumnya memiliki konsentrasi natrium kurang dari 18 mmol/L, melebihi jumlah cairan yang hilang melalui keringat, urine, dan kehilangan cairan tak kasatmata (insensible losses), terutama melalui pernapasan. Konsumsi cairan yang berlebihan ini dapat dipicu oleh rasa haus, tetapi juga dapat disebabkan oleh kebiasaan yang terbentuk berdasarkan anjuran untuk minum selama berolahraga guna mencegah dehidrasi. Selain itu, persediaan air dalam jumlah melimpah umumnya tersedia pada maraton, triatlon, dan berbagai ajang olahraga ketahanan lainnya.

Pengalaman pada satuan militer yang menjalani latihan fisik berat di daerah gurun menunjukkan adanya masalah elektrolit lain, yaitu kehilangan kalium. Kehilangan kalium sebagian disebabkan oleh peningkatan sekresi aldosteron selama proses aklimatisasi terhadap panas, yang meningkatkan ekskresi kalium melalui urine maupun keringat. Berdasarkan temuan tersebut, beberapa cairan suplemen untuk olahraga mengandung kalium dalam proporsi yang sesuai bersama natrium, biasanya dalam bentuk sari buah.

Obat-obatan dan Atlet

Tanpa membahas masalah ini secara panjang lebar, berikut beberapa efek penggunaan obat-obatan dalam olahraga.

Pertama, sebagian orang meyakini bahwa kafein dapat meningkatkan performa atletik. Dalam suatu penelitian pada pelari maraton, waktu tempuh maraton membaik sebesar 7% melalui penggunaan kafein secara tepat dalam jumlah yang setara dengan kandungan kafein pada satu hingga tiga cangkir kopi. Namun, penelitian lain gagal membuktikan manfaat tersebut, sehingga efektivitas kafein dalam meningkatkan performa atletik masih belum dapat dipastikan.

Kedua, penggunaan hormon seks pria (androgen) atau steroid anabolik lainnya untuk meningkatkan kekuatan otot memang dapat meningkatkan performa atletik pada kondisi tertentu, terutama pada wanita dan juga pada pria. Akan tetapi, steroid anabolik juga secara nyata meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular karena sering menyebabkan hipertensi, penurunan kadar lipoprotein densitas tinggi (high-density lipoprotein atau HDL), serta peningkatan kadar lipoprotein densitas rendah (low-density lipoprotein atau LDL), yang semuanya meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke.

Pada pria, semua jenis sediaan hormon seks pria juga menyebabkan penurunan fungsi testis, termasuk berkurangnya pembentukan sperma dan menurunnya sekresi testosteron alami tubuh. Efek sisa kondisi ini terkadang dapat bertahan selama berbulan-bulan, bahkan mungkin menetap tanpa batas waktu. Pada wanita, efek yang lebih nyata dapat terjadi, seperti tumbuhnya rambut pada wajah, suara menjadi berat, kulit kemerahan, dan berhentinya menstruasi, karena tubuh wanita secara normal tidak beradaptasi terhadap hormon seks pria.

Obat-obatan lain, seperti amfetamin dan kokain, juga pernah dilaporkan dapat meningkatkan performa atletik. Namun, penggunaan berlebihan obat-obatan tersebut justru dapat menurunkan performa. Selain itu, berbagai penelitian belum berhasil membuktikan manfaat obat-obatan tersebut selain sebagai stimulan psikis. Beberapa atlet diketahui meninggal saat mengikuti pertandingan olahraga akibat interaksi antara obat-obatan tersebut dengan norepinefrin dan epinefrin yang dilepaskan oleh sistem saraf simpatis selama berolahraga. Salah satu kemungkinan penyebab kematian pada kondisi tersebut adalah peningkatan eksitabilitas jantung yang berlebihan sehingga memicu fibrilasi ventrikel, suatu kondisi yang dapat berakibat fatal dalam hitungan detik.

Kebugaran Jasmani Memperpanjang Harapan Hidup

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa orang yang mempertahankan kebugaran jasmani melalui program olahraga yang tepat dan pengendalian berat badan memperoleh manfaat tambahan berupa usia harapan hidup yang lebih panjang. Terutama pada usia 50 hingga 70 tahun, angka kematian pada individu yang paling bugar terbukti tiga kali lebih rendah dibandingkan mereka yang tingkat kebugarannya paling rendah.

Mengapa kebugaran jasmani dapat memperpanjang harapan hidup? Berikut adalah beberapa alasan yang paling penting.

Kebugaran jasmani dan pengendalian berat badan secara nyata menurunkan risiko penyakit kardiovaskular. Hal ini terjadi melalui (1) pemeliharaan tekanan darah yang tetap sedikit lebih rendah dan (2) penurunan kadar kolesterol darah serta lipoprotein densitas rendah (low-density lipoprotein atau LDL), disertai peningkatan kadar lipoprotein densitas tinggi (high-density lipoprotein atau HDL). Seperti telah dijelaskan sebelumnya, seluruh perubahan tersebut bekerja secara sinergis untuk menurunkan kejadian serangan jantung, stroke, dan penyakit ginjal.

Individu yang memiliki kebugaran atletik juga mempunyai cadangan fungsi tubuh yang lebih besar ketika mengalami sakit. Sebagai contoh, seseorang berusia 80 tahun yang tidak bugar mungkin memiliki sistem pernapasan yang hanya mampu menghantarkan oksigen ke jaringan dengan laju maksimal sekitar 1 L/menit, sehingga cadangan respiratoriknya hanya sekitar tiga hingga empat kali kebutuhan saat istirahat. Sebaliknya, lansia yang memiliki kebugaran atletik dapat memiliki cadangan hingga dua kali lebih besar. Cadangan tambahan ini sangat penting dalam mempertahankan kehidupan ketika seseorang mengalami kondisi seperti pneumonia yang dengan cepat memerlukan seluruh cadangan respiratorik yang tersedia. Selain itu, kemampuan untuk meningkatkan curah jantung saat dibutuhkan, yang disebut sebagai cardiac reserve, sering kali sekitar 50% lebih besar pada lansia yang bugar dibandingkan pada lansia yang tidak bugar.

Olahraga dan kebugaran jasmani secara keseluruhan juga menurunkan risiko berbagai gangguan metabolik kronis yang berkaitan dengan obesitas, seperti resistensi insulin dan diabetes melitus tipe 2. Olahraga intensitas sedang, bahkan tanpa disertai penurunan berat badan yang bermakna, telah terbukti meningkatkan sensitivitas insulin serta mengurangi, atau pada beberapa kasus bahkan menghilangkan, kebutuhan terapi insulin pada pasien dengan diabetes melitus tipe 2.

Peningkatan kebugaran jasmani juga menurunkan risiko beberapa jenis kanker, termasuk kanker payudara, kanker prostat, dan kanker kolon. Sebagian besar manfaat olahraga kemungkinan berkaitan dengan penurunan obesitas. Namun, penelitian pada hewan percobaan maupun manusia juga menunjukkan bahwa olahraga teratur menurunkan risiko berbagai penyakit kronis melalui mekanisme yang, setidaknya sampai tingkat tertentu, tidak bergantung pada penurunan berat badan maupun berkurangnya adipositas.

DAFTAR PUSTAKA

Blaauw B, Schiaffino S, Reggiani C: Mechanisms modulating skeletal muscle phenotype. Compr Physiol 3:1645, 2013.

Booth FW, Roberts CK, Thyfault JP, et al: Role of inactivity in chronic diseases: evolutionary insight and pathophysiological mechanisms. Physiol Rev 97:1351, 2017.

Del Buono MG, Arena R, Borlaug BA, et al: Exercise intolerance in patients with heart failure: J Am Coll Cardiol state-of-the-art review. J Am Coll Cardiol 73:2209, 2019.

Diaz-Canestro C, Montero D: Sex dimorphism of VO?max trainability: a systematic review and meta-analysis. Sports Med 49:1949, 2019.

Grgic J, McIlvenna LC, Fyfe JJ, et al: Does aerobic training promote the same skeletal muscle hypertrophy as resistance training? A systematic review and meta-analysis. Sports Med 49:233, 2019.

Handelsman DJ, Hirschberg AL, Bermon S: Circulating testosterone as the hormonal basis of sex differences in athletic performance. Endocr Rev 39:803, 2018.

Jones AM, Burnley M, Black MI, et al: The maximal metabolic steady state: redefining the ‘gold standard’. Physiol Rep 2019 May;7(10):e14098. doi: 10.14814/phy2.14098.

Joyner MJ, Casey DP: Regulation of increased blood flow (hyperemia) to muscles during exercise: a hierarchy of competing physiological needs. Physiol Rev 95:549, 2015.

Joyner MJ, Lundby C: Concepts about V?O?max and trainability are context dependent. Exerc Sport Sci Rev 46:138, 2018.

Joyner MJ: Physiological limits to endurance exercise performance: influence of sex. J Physiol 595:2949, 2017.

Kent-Braun JA, Fitts RH, Christie A: Skeletal muscle fatigue. Compr Physiol 2:997, 2012.

Montero D, Lundby C: Regulation of red blood cell volume with exercise training. Compr Physiol 9:149, 2018.

Powers SK, Jackson MJ: Exercise-induced oxidative stress: cellular mechanisms and impact on muscle force production. Physiol Rev 88:1243, 2008.

Rosner MH: Exercise-associated hyponatremia. Semin Nephrol 29:271, 2009.

Schiaffino S: Muscle fiber type diversity revealed by anti-myosin heavy chain antibodies. FEBS J 285:3688, 2018.

Seals DR, Edward F: Adolph Distinguished Lecture: the remarkable anti-aging effects of aerobic exercise on systemic arteries. J Appl Physiol 117:425, 2014.

Trangmar SJ, González-Alonso J: Heat, hydration and the human brain, heart and skeletal muscles. Sports Med 49(Suppl 1):69, 2019.

Nilai Normal untuk Beberapa Pemeriksaan Laboratorium yang Umum

Zat Rata-rata (Nilai "Normal") Rentang Keterangan/Satuan Ukur
Elektrolit      
Natrium (Na?) 142 mmol/L 135-145 mmol/L mmol/L = milimol per liter
Kalium (K?) 4,2 mmol/L 3,5-5,3 mmol/L  
Klorida (Cl?) 106 mmol/L 98-108 mmol/L  
Celah anion (anion gap) 12 mEq/L 7-16 mEq/L mEq/L = miliekuivalen per liter. Celah anion = Na? − Cl? − HCO??
Bikarbonat (HCO??) 24 mmol/L 22-29 mmol/L  
Ion hidrogen (H?) 40 nmol/L 30-50 nmol/L nmol/L = nanomol per liter
pH arteri 7,4 7,25-7,45  
pH vena 7,37 7,32-7,42  
Ion kalsium (Ca²?) 5,0 mg/dL 4,65-5,28 mg/dL mg/dL = miligram per desiliter. Nilai normal rata-rata juga dapat dinyatakan sebagai sekitar 1,2 mmol/L atau 2,4 mEq/L.
Kalsium total 10,0 mg/dL 8,5-10,5 mg/dL  
Ion magnesium (Mg²?) 0,8 mEq/L 0,6-1,1 mEq/L  
Magnesium total 1,8 mEq/L 1,3-2,4 mEq/L  
Fosfat total 3,5 mg/dL 2,5-4,5 mg/dL Dalam plasma, HPO?²? sekitar 1,05 mmol/L dan H?PO?? sebesar 0,26 mmol/L.

Kimia Darah Non-Elektrolit

Zat Rata-rata (Nilai "Normal") Rentang Keterangan/Satuan Ukur
Albumin 4,5 g/dL 3,5-5,5 g/dL g/dL = gram per desiliter
Fosfatase alkali L: 38-126 U/L
P: 70-230 U/L
  U/L = unit per liter
Bilirubin total   0,2-1,0 mg/dL  
Bilirubin terkonjugasi   0-0,2 mg/dL  
Nitrogen urea darah (blood urea nitrogen, BUN) 14 mg/dL 10-26 mg/dL  
Kreatinin 1,0 mg/dL 0,6-1,3 mg/dL Bervariasi bergantung pada massa otot, usia, dan jenis kelamin.
Glukosa 90 mg/dL 70-115 mg/dL  
Osmolaritas 282 mOsm/L 275-300 mOsm/L mOsm/L = miliosmole per liter. Osmolalitas dinyatakan sebagai mOsm/kg air.
Protein total 7,0 g/dL 6,0-8,0 g/dL  
Asam urat L: 3,0-7,4 mg/dL
P: 2,1-6,3 mg/dL
   

Gas Darah

Pemeriksaan Rata-rata (Nilai "Normal") Rentang Keterangan/Satuan Ukur
Saturasi O? arteri 98% 95%-99% Persentase molekul hemoglobin yang tersaturasi oleh oksigen.
PO? arteri 90 mmHg 80-100 mmHg PO? = tekanan parsial oksigen dalam milimeter raksa.
PO? vena 40 mmHg 25-40 mmHg  
PCO? arteri 40 mmHg 35-45 mmHg PCO? = tekanan parsial karbon dioksida dalam milimeter raksa.
PCO? vena 45 mmHg 41-51 mmHg  

Hematologi

Pemeriksaan Rata-rata (Nilai "Normal") Rentang Keterangan/Satuan Ukur
Hematokrit (Hct) L: 42%
P: 38%
L: 39%-49%
P: 35%-45%
 
Hemoglobin (Hgb) L: 15 g/dL
P: 14 g/dL
L: 13,5-17,5 g/dL
P: 12-16 g/dL
 
Sel darah merah (red blood cells, RBC) L: 5,5 × 10?/µL
P: 4,7 × 10?/µL
L: 4,3-5,7 × 10?/µL
P: 4,3-5,7 × 10?/µL
Jumlah sel per mikroliter darah.
Volume korpuskular rata-rata (MCV) 90 fL 80-100 fL fL = femtoliter
Waktu protrombin (PT)   10-14 detik Waktu yang diperlukan plasma untuk membeku pada pemeriksaan khusus.
Trombosit   150-450 × 10³/µL  
Jumlah leukosit total   4,5-11,0 × 10³/µL  
Neutrofil   57%-67%  
Limfosit   23%-33%  
Monosit   3%-7%  
Eosinofil   1%-3%  
Basofil   0%-1%  

Lipid

Pemeriksaan Nilai Normal
Kolesterol total <200 mg/dL
Lipoprotein densitas rendah (LDL) <130 mg/dL
Lipoprotein densitas tinggi (HDL) L: >29 mg/dL
P: >35 mg/dL
Trigliserida L: 40-160 mg/dL
P: 35-135 mg/dL

Tabel ini bukan merupakan daftar lengkap nilai pemeriksaan laboratorium yang umum. Sebagian besar nilai tersebut merupakan nilai rujukan perkiraan yang digunakan oleh Laboratorium Klinis University of Mississippi Medical Center; rentang normal dapat bervariasi di antara berbagai laboratorium klinis. Nilai rata-rata "normal" dan satuan ukur juga dapat sedikit berbeda dari yang tercantum dalam Guyton and Hall Textbook of Medical Physiology, edisi ke-14.

P = perempuan; L = laki-laki.

Like

0

Love

0

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait
The midday swim

covid-19 tidak seseram yg diberitakan!!!

GOLONGAN DARAH

Obat herbal untuk demam tinggi terampuh

[Buku Bahasa Indonesia] Essentials of Nerve Conduction

[Buku Bahasa Indonesia]Guyton And Hall Textbook of Medical Physiology 1-11

Comments (0)

Leave a comment