Bahasa Indonesia Guyton And Hall Textbook of Medical Physiology 75-85 End
Pengaruh Latihan Atletik terhadap Otot dan Performa Otot
Latihan Tahanan Maksimal Meningkatkan Kekuatan Otot
Gambar 85-6 Perkiraan pengaruh latihan tahanan yang optimal terhadap peningkatan kekuatan otot selama periode latihan 10 minggu.
Salah satu prinsip utama perkembangan otot selama latihan atletik adalah sebagai berikut. Otot yang bekerja tanpa beban, meskipun dilatih selama berjam-jam, hanya mengalami sedikit peningkatan kekuatan. Sebaliknya, otot yang berkontraksi dengan gaya lebih dari 50% dari kekuatan kontraksi maksimal akan mengalami peningkatan kekuatan secara cepat, meskipun kontraksi tersebut hanya dilakukan beberapa kali setiap hari.
Berdasarkan prinsip ini, berbagai penelitian mengenai pembentukan otot menunjukkan bahwa enam kontraksi otot yang mendekati maksimal, dilakukan dalam tiga set sebanyak tiga kali seminggu, menghasilkan peningkatan kekuatan otot yang hampir optimal tanpa menimbulkan kelelahan otot kronis.
Kurva bagian atas pada Gambar 85-6 menunjukkan perkiraan persentase peningkatan kekuatan yang dapat dicapai oleh individu muda yang sebelumnya tidak terlatih melalui program latihan tahanan tersebut. Terlihat bahwa kekuatan otot meningkat sekitar 30% selama 6 hingga 8 minggu pertama, kemudian peningkatannya hampir mencapai keadaan mendatar (plateau). Peningkatan kekuatan ini disertai peningkatan massa otot dalam persentase yang hampir sama, yang disebut hipertrofi otot.
Pada usia lanjut, banyak orang menjadi sangat kurang aktif sehingga otot mengalami atrofi yang berat. Namun, pada kondisi tersebut, latihan otot dapat meningkatkan kekuatan otot lebih dari 100%.
Hipertrofi Otot
Ukuran rata-rata otot seseorang sangat ditentukan oleh faktor keturunan dan kadar sekresi testosteron, yang pada laki-laki menyebabkan massa otot jauh lebih besar dibandingkan perempuan. Namun, melalui latihan, otot masih dapat mengalami hipertrofi tambahan sekitar 30% hingga 60%.
Sebagian besar hipertrofi ini terjadi akibat bertambahnya diameter serabut otot, bukan karena bertambahnya jumlah serabut. Akan tetapi, diduga sejumlah kecil serabut otot yang mengalami pembesaran ekstrem dapat membelah sepanjang sumbu memanjangnya menjadi dua serabut baru sehingga jumlah serabut otot sedikit bertambah.
Perubahan yang terjadi di dalam serabut otot yang mengalami hipertrofi meliputi:
- Peningkatan jumlah miofibril sebanding dengan derajat hipertrofi.
- Peningkatan enzim mitokondria hingga 120%.
- Peningkatan komponen sistem metabolisme fosfagen, termasuk ATP dan fosfokreatin, hingga 60% sampai 80%.
- Peningkatan cadangan glikogen hingga 50%.
- Peningkatan cadangan trigliserida (lemak) hingga 75% sampai 100%.
Akibat seluruh perubahan tersebut, kemampuan sistem metabolisme anaerob maupun aerob meningkat. Peningkatan yang paling menonjol terjadi pada laju oksidasi maksimum dan efisiensi sistem metabolisme oksidatif, yang dapat meningkat hingga 45%.
Serabut Otot Fast-Twitch dan Slow-Twitch
Pada manusia, semua otot memiliki proporsi serabut otot fast-twitch dan slow-twitch yang berbeda-beda. Sebagai contoh, otot gastrocnemius memiliki proporsi serabut fast-twitch yang lebih tinggi sehingga mampu menghasilkan kontraksi yang kuat dan cepat, seperti yang dibutuhkan saat melompat. Sebaliknya, otot soleus memiliki proporsi serabut slow-twitch yang lebih tinggi sehingga lebih banyak digunakan untuk aktivitas otot tungkai bawah yang berlangsung lama.
Perbedaan utama antara serabut otot fast-twitch dan slow-twitch adalah sebagai berikut.
- Serabut fast-twitch memiliki diameter sekitar dua kali lebih besar dibandingkan serabut slow-twitch.
- Enzim yang mempercepat pelepasan energi dari sistem fosfagen dan sistem glikogen-asam laktat memiliki aktivitas dua hingga tiga kali lebih tinggi pada serabut fast-twitch dibandingkan pada serabut slow-twitch. Oleh karena itu, daya maksimal yang dapat dihasilkan serabut fast-twitch selama waktu yang sangat singkat sekitar dua kali lebih besar dibandingkan serabut slow-twitch.
- Serabut slow-twitch terutama dirancang untuk aktivitas ketahanan, khususnya dalam menghasilkan energi melalui metabolisme aerob. Serabut ini memiliki jumlah mitokondria yang jauh lebih banyak dibandingkan serabut fast-twitch. Selain itu, serabut slow-twitch mengandung mioglobin dalam jumlah yang jauh lebih tinggi. Mioglobin merupakan protein yang menyerupai hemoglobin dan berikatan dengan oksigen di dalam serabut otot. Kandungan mioglobin yang lebih tinggi meningkatkan kecepatan difusi oksigen di seluruh serabut otot dengan memindahkan oksigen dari satu molekul mioglobin ke molekul mioglobin berikutnya. Di samping itu, enzim-enzim sistem metabolisme aerob memiliki aktivitas yang jauh lebih tinggi pada serabut slow-twitch dibandingkan pada serabut fast-twitch.
- Jumlah kapiler di sekitar serabut slow-twitch lebih banyak dibandingkan di sekitar serabut fast-twitch.
Sebagai ringkasan, serabut fast-twitch mampu menghasilkan daya yang sangat besar selama beberapa detik hingga sekitar satu menit. Sebaliknya, serabut slow-twitch memberikan daya tahan dengan mempertahankan kekuatan kontraksi dalam waktu yang lama, mulai dari beberapa menit hingga berjam-jam.
Perbedaan Genetik Serabut Otot Fast-Twitch dan Slow-Twitch pada Atlet
Sebagian orang memiliki proporsi serabut fast-twitch yang jauh lebih banyak dibandingkan serabut slow-twitch, sedangkan sebagian lainnya memiliki proporsi serabut slow-twitch yang lebih tinggi. Faktor ini dapat menentukan kemampuan atletik seseorang sampai tingkat tertentu.
Latihan atletik dapat mengubah proporsi relatif serabut fast-twitch dan slow-twitch hingga sekitar 10%. Namun, proporsi kedua jenis serabut tersebut tampaknya sebagian besar ditentukan oleh faktor genetik. Faktor genetik ini turut menentukan cabang olahraga yang paling sesuai bagi setiap individu. Ada orang yang secara alami lebih cocok menjadi pelari maraton, sedangkan yang lain lebih berbakat menjadi pelari cepat atau atlet lompat.
Sebagai contoh, berikut adalah persentase serabut fast-twitch dan slow-twitch pada otot quadriceps dari berbagai jenis atlet:
| Jenis Atlet | Serabut Fast-Twitch (%) | Serabut Slow-Twitch (%) |
|---|---|---|
| Pelari maraton | 18 | 82 |
| Perenang | 26 | 74 |
| Laki-laki rata-rata | 55 | 45 |
| Atlet angkat besi | 55 | 45 |
| Pelari cepat | 63 | 37 |
| Atlet lompat | 63 | 37 |
Respirasi Selama Berolahraga
Meskipun kemampuan sistem pernapasan relatif tidak terlalu berpengaruh terhadap performa pada cabang olahraga yang mengandalkan sprint, kemampuan ini sangat penting untuk mencapai performa maksimal pada olahraga ketahanan.
Konsumsi Oksigen dan Ventilasi Paru Selama Berolahraga
Gambar 85-7 Pengaruh latihan terhadap konsumsi oksigen dan laju ventilasi paru. (Dimodifikasi dari Gray JS: Pulmonary Ventilation and Its Physiological Regulation. Springfield, IL: Charles C Thomas, 1950.)
Konsumsi oksigen normal pada seorang laki-laki muda saat istirahat adalah sekitar 250 mL/menit. Namun, pada kondisi maksimal, konsumsi oksigen dapat meningkat hingga rata-rata sebagai berikut:
| Kondisi | mL/menit |
|---|---|
| Laki-laki rata-rata yang tidak terlatih | 3600 |
| Laki-laki rata-rata yang terlatih secara atletik | 4000 |
| Pelari maraton laki-laki | 5100 |
Gambar 85-7 memperlihatkan hubungan antara konsumsi oksigen dan ventilasi paru total pada berbagai tingkat intensitas latihan. Sesuai dengan yang diperkirakan, hubungan keduanya bersifat linear. Baik konsumsi oksigen maupun ventilasi paru total meningkat sekitar 20 kali lipat dari keadaan istirahat hingga intensitas latihan maksimal pada atlet yang terlatih dengan baik.
Batas Kemampuan Ventilasi Paru
Seberapa besar sistem pernapasan mengalami beban selama berolahraga? Pertanyaan ini dapat dijawab melalui perbandingan berikut pada seorang laki-laki muda yang sehat:
| Parameter | L/menit |
|---|---|
| Ventilasi paru saat latihan maksimal | 100 hingga 110 |
| Kapasitas napas maksimal | 150 hingga 170 |
Dengan demikian, kapasitas napas maksimal sekitar 50% lebih besar dibandingkan ventilasi paru yang benar-benar digunakan selama latihan maksimal. Perbedaan ini memberikan cadangan keamanan bagi atlet, sehingga tersedia kapasitas ventilasi tambahan yang dapat dimanfaatkan pada kondisi seperti:
- Berolahraga di dataran tinggi.
- Berolahraga pada lingkungan yang sangat panas.
- Adanya kelainan pada sistem pernapasan.
Hal penting yang perlu dipahami adalah bahwa sistem pernapasan umumnya bukan faktor utama yang membatasi penghantaran oksigen ke otot selama metabolisme aerob maksimal. Sebagaimana akan dibahas selanjutnya, kemampuan jantung memompa darah ke otot biasanya merupakan faktor pembatas yang lebih besar.
Pengaruh Latihan terhadap V?O?max
Gambar 85-8 Peningkatan V?O?max selama periode latihan atletik 7 hingga 13 minggu. (Dimodifikasi dari Fox EL: Sports Physiology. Philadelphia: Saunders College Publishing, 1979.)
Singkatan V?O?max digunakan untuk menyatakan laju konsumsi oksigen (L/menit) selama metabolisme aerob maksimal.
Gambar 85-8 memperlihatkan peningkatan bertahap V?O?max pada sekelompok subjek yang awalnya tidak menjalani latihan, kemudian mengikuti program latihan selama 7 hingga 13 minggu. Menariknya, pada penelitian tersebut V?O?max hanya meningkat sekitar 10%. Selain itu, frekuensi latihan, baik dua kali maupun lima kali setiap minggu, hanya memberikan sedikit pengaruh terhadap peningkatan V?O?max.
Namun, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, V?O?max seorang pelari maraton sekitar 45% lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak terlatih. Sebagian dari tingginya V?O?max pada pelari maraton mungkin ditentukan secara genetik. Artinya, individu yang memiliki ukuran rongga dada lebih besar dibandingkan ukuran tubuhnya serta otot-otot pernapasan yang lebih kuat mungkin secara alami lebih cenderung menjadi pelari maraton.
Di sisi lain, sangat mungkin bahwa latihan yang dilakukan selama bertahun-tahun mampu meningkatkan V?O?max seorang pelari maraton jauh lebih besar daripada peningkatan sekitar 10% yang diperoleh pada penelitian jangka pendek seperti yang ditunjukkan pada Gambar 85-8.







Comments (0)