BAGIAN SATU
Pengalaman di
Sebuah Kamp Konsentrasi
Buku ini tidak bermaksud menjadi catatan tentang fakta dan peristiwa, melainkan tentang pengalaman pribadi—pengalaman yang telah berulang kali dialami oleh jutaan tahanan. Inilah kisah dari dalam sebuah kamp konsentrasi, diceritakan oleh salah seorang yang berhasil bertahan hidup. Kisah ini tidak menaruh perhatian pada kengerian besar yang telah cukup sering digambarkan (meskipun tidak selalu dipercaya), melainkan pada sekian banyak siksaan kecil yang tak terhitung. Dengan kata lain, tulisan ini berusaha menjawab pertanyaan berikut: Bagaimanakah kehidupan sehari-hari di sebuah kamp konsentrasi tercermin dalam pikiran seorang tahanan biasa?
Sebagian besar peristiwa yang digambarkan di sini tidak terjadi di kamp-kamp besar dan terkenal, melainkan di kamp-kamp kecil—tempat sebagian besar pemusnahan sesungguhnya berlangsung. Kisah ini bukan tentang penderitaan dan kematian para pahlawan besar atau para martir, juga bukan tentang para Capo terkemuka—tahanan yang bertindak sebagai pengawas dan memperoleh berbagai hak istimewa—atau para tahanan yang dikenal luas. Karena itu, kisah ini tidak begitu menyoroti penderitaan mereka yang berkuasa, melainkan pengorbanan, penyaliban, dan kematian dari bala tentara besar para korban yang tak dikenal dan tak tercatat.
Justru para tahanan biasa inilah—yang tidak mengenakan tanda pembeda pada lengan baju mereka—yang benar-benar dibenci oleh para Capo. Sementara para tahanan biasa hampir tidak memiliki apa pun untuk dimakan, para Capo tidak pernah kelaparan; bahkan banyak di antara mereka hidup lebih baik di kamp daripada sepanjang hidup mereka sebelumnya. Sering kali mereka lebih keras terhadap para tahanan dibandingkan para penjaga, dan memukul mereka dengan kekejaman yang bahkan melebihi para anggota SS. Para Capo ini, tentu saja, dipilih hanya dari kalangan tahanan yang karakternya dianggap cocok untuk menjalankan tugas semacam itu, dan jika mereka tidak memenuhi harapan yang dituntut dari mereka, mereka segera diturunkan dari jabatannya. Tak lama kemudian mereka menjadi sangat mirip dengan para anggota SS dan para pengawas kamp, sehingga dapat dinilai berdasarkan landasan psikologis yang serupa.
Bagi orang luar, sangat mudah untuk memiliki gambaran yang keliru tentang kehidupan di kamp—sebuah gambaran yang bercampur dengan sentimen dan rasa kasihan. Mereka hampir tidak mengetahui betapa kerasnya perjuangan untuk bertahan hidup yang berkecamuk di antara para tahanan. Itu adalah pergulatan tanpa henti demi sepotong roti setiap hari dan demi kehidupan itu sendiri—baik demi diri sendiri maupun demi seorang sahabat yang baik.
Ambillah contoh sebuah rombongan tahanan yang secara resmi diumumkan akan dipindahkan ke kamp lain; namun hampir dapat dipastikan bahwa tujuan akhirnya adalah kamar gas. Sejumlah tahanan yang sakit atau lemah dan tidak mampu bekerja akan dipilih untuk dikirim ke salah satu kamp pusat besar yang dilengkapi dengan kamar gas dan krematorium. Proses seleksi ini menjadi isyarat bagi perkelahian bebas di antara para tahanan, atau antara satu kelompok melawan kelompok lain. Yang terpenting hanyalah agar nama sendiri dan nama seorang sahabat dicoret dari daftar korban—meskipun semua orang mengetahui bahwa untuk setiap orang yang terselamatkan harus ditemukan korban lain sebagai penggantinya.
Sejumlah tahanan tertentu harus ikut dalam setiap pengiriman. Tidaklah terlalu penting siapa yang dipilih, sebab masing-masing dari mereka tidak lebih dari sekadar sebuah nomor. Ketika mereka pertama kali masuk ke kamp (setidaknya demikianlah yang terjadi di Auschwitz), semua dokumen mereka dirampas bersama dengan seluruh barang milik mereka. Karena itu setiap tahanan memiliki kesempatan untuk menyebutkan nama atau profesi palsu; dan karena berbagai alasan banyak yang melakukannya. Pihak berwenang hanya tertarik pada nomor para tawanan. Nomor-nomor itu sering kali ditato pada kulit mereka, dan juga harus dijahit pada bagian tertentu di celana, jaket, atau mantel mereka. Setiap penjaga yang hendak menuduh seorang tahanan cukup melirik nomor tersebut (dan betapa kami gentar terhadap lirikan seperti itu!); ia tidak pernah menanyakan nama mereka.
Kembali pada rombongan yang hendak diberangkatkan. Tidak ada waktu, juga tidak ada keinginan, untuk mempertimbangkan persoalan moral atau etika. Setiap orang hanya dikuasai oleh satu pikiran: mempertahankan hidupnya sendiri demi keluarga yang menunggunya di rumah, dan menyelamatkan sahabat-sahabatnya. Karena itu, tanpa ragu, ia akan mengatur agar seorang tahanan lain—sebuah “nomor” lain—menggantikan tempatnya dalam rombongan tersebut.
Seperti telah saya sebutkan sebelumnya, proses pemilihan Capo pada dasarnya bersifat negatif; hanya para tahanan yang paling brutal yang dipilih untuk tugas itu (meskipun terdapat beberapa pengecualian yang menggembirakan). Namun selain pemilihan Capo yang dilakukan oleh pihak SS, terdapat pula semacam proses seleksi diri yang berlangsung terus-menerus di antara semua tahanan. Pada umumnya, hanya para tahanan yang mampu bertahan hidup yang, setelah bertahun-tahun berpindah dari satu kamp ke kamp lain, telah kehilangan segala keraguan hati dalam perjuangan mereka untuk bertahan hidup; mereka siap menggunakan segala cara—jujur ataupun tidak—bahkan kekerasan yang brutal, pencurian, dan pengkhianatan terhadap sahabat sendiri, demi menyelamatkan diri mereka. Kami yang berhasil kembali—berkat banyak kebetulan yang mujur atau mukjizat, apa pun sebutannya—kami mengetahui satu hal: yang terbaik di antara kami tidak kembali.
Banyak catatan faktual tentang kamp konsentrasi telah tersedia. Dalam tulisan ini, fakta-fakta hanya akan berarti sejauh menjadi bagian dari pengalaman seorang manusia. Hakikat pengalaman-pengalaman inilah yang hendak digambarkan oleh esai berikut. Bagi mereka yang pernah menjadi penghuni kamp, tulisan ini berusaha menjelaskan pengalaman mereka dalam terang pengetahuan masa kini. Dan bagi mereka yang tidak pernah berada di dalamnya, mungkin tulisan ini dapat membantu mereka untuk memahami—dan terutama mengerti—pengalaman dari persentase kecil para tahanan yang berhasil bertahan hidup dan yang kini mendapati kehidupan terasa sangat sulit. Para mantan tahanan ini sering berkata, “Kami tidak suka berbicara tentang pengalaman kami. Bagi mereka yang pernah berada di dalamnya, tidak diperlukan penjelasan apa pun; sedangkan yang lain tidak akan pernah benar-benar memahami bagaimana perasaan kami saat itu maupun bagaimana perasaan kami sekarang.”
Menyajikan pokok persoalan ini secara metodis merupakan hal yang sangat sulit, karena psikologi menuntut suatu jarak ilmiah tertentu. Namun apakah seseorang yang melakukan pengamatan sementara ia sendiri adalah seorang tahanan memiliki jarak yang diperlukan itu? Jarak semacam itu justru dimiliki oleh orang luar, tetapi ia terlalu jauh dari kenyataan untuk dapat membuat pernyataan yang benar-benar bernilai. Hanya orang yang berada di dalamnya yang mengetahui. Penilaiannya mungkin tidak sepenuhnya objektif; evaluasinya bisa saja tidak seimbang. Hal itu tidak terelakkan. Usaha harus dilakukan untuk menghindari segala bentuk prasangka pribadi, dan di situlah letak kesulitan sejati dari sebuah buku semacam ini. Kadang-kadang diperlukan keberanian untuk menceritakan pengalaman yang sangat pribadi. Saya semula bermaksud menulis buku ini secara anonim, hanya menggunakan nomor tahanan saya. Namun ketika naskahnya selesai, saya menyadari bahwa jika diterbitkan secara anonim nilainya akan berkurang setengahnya, dan bahwa saya harus memiliki keberanian untuk menyatakan keyakinan saya secara terbuka. Karena itu saya menahan diri untuk tidak menghapus bagian-bagian apa pun, meskipun saya memiliki keengganan yang kuat terhadap sikap pamer diri.
Saya akan menyerahkan kepada orang lain tugas menyarikan isi buku ini menjadi teori-teori yang kering. Teori-teori itu mungkin dapat menjadi sumbangan bagi psikologi kehidupan penjara, yang pernah diteliti setelah Perang Dunia Pertama dan yang memperkenalkan kita pada sindrom yang dikenal sebagai “penyakit kawat berduri”. Kita berutang kepada Perang Dunia Kedua atas diperkayanya pengetahuan kita tentang “psikopatologi massa” (jika saya boleh mengutip variasi dari ungkapan terkenal sekaligus judul buku karya LeBon), karena perang itu melahirkan perang saraf dan juga kamp konsentrasi.
Karena kisah ini adalah tentang pengalaman saya sebagai seorang tahanan biasa, penting bagi saya untuk menyebutkan—bukan tanpa rasa bangga—bahwa saya tidak dipekerjakan sebagai psikiater di kamp, bahkan bukan pula sebagai dokter, kecuali selama beberapa minggu terakhir. Beberapa rekan saya cukup beruntung ditempatkan di pos pertolongan pertama yang hampir tidak dipanaskan, di mana mereka membalut luka dengan perban yang dibuat dari potongan-potongan kertas bekas. Tetapi saya adalah Nomor 119.104, dan sebagian besar waktu saya dihabiskan untuk menggali tanah serta memasang rel bagi jalur kereta api. Pada suatu waktu, pekerjaan saya adalah menggali sebuah terowongan, seorang diri tanpa bantuan, untuk pipa air di bawah sebuah jalan. Prestasi ini tidak berlalu tanpa ganjaran; tepat sebelum Natal 1944, saya diberi hadiah berupa apa yang disebut “kupon premi.” Kupon-kupon ini dikeluarkan oleh perusahaan konstruksi tempat kami pada dasarnya dijual sebagai budak: perusahaan itu membayar kepada pihak kamp sejumlah harga tetap per hari untuk setiap tahanan. Kupon tersebut berharga lima puluh pfennig per lembar bagi perusahaan dan dapat ditukarkan dengan enam batang rokok, sering kali beberapa minggu kemudian, meskipun kadang-kadang kupon itu juga kehilangan masa berlakunya. Saya menjadi pemilik yang bangga atas sebuah tanda bernilai dua belas batang rokok. Namun yang lebih penting lagi, rokok itu dapat ditukarkan dengan dua belas mangkuk sup, dan dua belas mangkuk sup sering kali merupakan penangguhan nyata dari kelaparan.
Hak istimewa untuk benar-benar merokok rokok biasanya hanya dimiliki oleh para Capo, yang memiliki jatah kupon mingguan yang terjamin; atau mungkin oleh seorang tahanan yang bekerja sebagai mandor di gudang atau bengkel dan menerima beberapa batang rokok sebagai imbalan karena melakukan pekerjaan berbahaya. Satu-satunya pengecualian adalah mereka yang telah kehilangan kehendak untuk hidup dan ingin “menikmati” hari-hari terakhir mereka. Karena itu, ketika kami melihat seorang kawan mengisap rokok miliknya sendiri, kami tahu bahwa ia telah kehilangan keyakinan pada kekuatannya untuk terus bertahan, dan sekali kehendak untuk hidup itu lenyap, jarang sekali ia kembali.
Jika seseorang menelaah sejumlah besar bahan yang telah terkumpul dari pengamatan dan pengalaman banyak tahanan, tampak jelas tiga fase dalam reaksi mental seorang penghuni terhadap kehidupan di kamp: periode setelah ia pertama kali masuk; periode ketika ia telah sepenuhnya tenggelam dalam rutinitas kamp; dan periode setelah pembebasan serta kebebasannya.
Gejala yang menandai fase pertama adalah keterkejutan. Dalam keadaan tertentu, keterkejutan bahkan dapat mendahului penerimaan resmi seorang tahanan ke dalam kamp. Saya akan memberikan contoh dari keadaan ketika saya sendiri pertama kali masuk.
Seribu lima ratus orang telah melakukan perjalanan dengan kereta api selama beberapa hari dan malam: di setiap gerbong terdapat delapan puluh orang. Semua orang harus berbaring di atas barang bawaan mereka, sisa-sisa terakhir dari milik pribadi mereka. Gerbong-gerbong itu begitu penuh sehingga hanya bagian atas jendelanya saja yang masih terbuka untuk membiarkan cahaya kelabu fajar masuk. Semua orang mengira kereta itu menuju suatu pabrik amunisi, tempat kami akan dipekerjakan sebagai tenaga kerja paksa. Kami tidak tahu apakah kami masih berada di Silesia atau sudah berada di Polandia. Peluit lokomotif itu terdengar ganjil, seperti jeritan minta tolong yang dikirimkan sebagai ungkapan belas kasihan terhadap muatan malang yang harus dibawanya menuju kebinasaan. Kemudian kereta itu berpindah jalur, jelas sedang mendekati sebuah stasiun utama. Tiba-tiba terdengar seruan dari barisan penumpang yang gelisah, “Ada papan nama, Auschwitz!” Pada saat itu setiap jantung seakan berhenti berdetak. Auschwitz—nama itu sendiri sudah melambangkan segala sesuatu yang mengerikan: kamar gas, krematorium, pembantaian. Perlahan-lahan, hampir dengan ragu-ragu, kereta itu bergerak maju seolah-olah ingin menunda selama mungkin kesadaran mengerikan para penumpangnya: Auschwitz!
Dengan bertambahnya cahaya fajar, garis-garis sebuah kamp yang sangat luas mulai terlihat: bentangan panjang pagar kawat berduri berlapis-lapis; menara pengawas; lampu sorot; dan barisan panjang sosok manusia berpakaian compang-camping, kelabu dalam kelabu fajar, berjalan di sepanjang jalan lurus yang sunyi menuju tujuan yang tidak kami ketahui. Terdengar teriakan-teriakan terpisah dan peluit-peluit perintah. Kami tidak memahami artinya. Imajinasi saya membayangkan tiang gantungan dengan orang-orang tergantung di atasnya. Saya diliputi ketakutan, tetapi hal itu justru baik, karena sedikit demi sedikit kami harus membiasakan diri pada kengerian yang dahsyat dan mengerikan.
Akhirnya kami tiba di stasiun. Keheningan awal itu dipecahkan oleh teriakan-teriakan perintah. Nada-nada kasar dan melengking itu akan terus kami dengar sejak saat itu, berulang-ulang di semua kamp. Suaranya hampir seperti jeritan terakhir seorang korban, namun tetap ada perbedaan. Ia memiliki serak yang kasar, seolah-olah keluar dari tenggorokan seorang yang harus terus berteriak seperti itu, seorang yang seakan-akan dibunuh berulang kali.
Pintu-pintu gerbong dibuka dengan kasar, dan sekelompok kecil tahanan menyerbu masuk. Mereka mengenakan seragam bergaris-garis, kepala mereka dicukur gundul, tetapi mereka tampak cukup makan. Mereka berbicara dalam berbagai bahasa Eropa, dan semuanya dengan semacam selera humor yang terdengar aneh di tengah keadaan itu. Seperti orang tenggelam yang meraih sebatang jerami, optimisme bawaan saya—yang sering mengendalikan perasaan saya bahkan dalam situasi paling putus asa—berpegang pada satu pikiran: para tahanan ini tampak cukup baik, mereka tampak bersemangat dan bahkan tertawa. Siapa tahu? Mungkin saya juga dapat memperoleh posisi yang menguntungkan seperti mereka.
Dalam psikiatri terdapat suatu keadaan yang dikenal sebagai “khayalan penangguhan hukuman.” Seorang terhukum mati, tepat sebelum eksekusinya, mendapat ilusi bahwa ia mungkin akan diampuni pada saat terakhir. Kami pun berpegang pada sisa-sisa harapan dan sampai detik terakhir percaya bahwa keadaan tidak akan seburuk itu. Hanya dengan melihat pipi yang merah dan wajah-wajah yang bulat dari para tahanan itu saja sudah menjadi dorongan besar bagi kami. Kami tidak mengetahui saat itu bahwa mereka merupakan suatu kelompok elite yang dipilih secara khusus, yang selama bertahun-tahun bertugas sebagai regu penerima bagi setiap rombongan tahanan baru yang tiba di stasiun dari hari ke hari. Mereka menangani para pendatang baru beserta barang bawaan mereka, termasuk barang-barang langka dan perhiasan yang diselundupkan. Auschwitz pasti merupakan tempat yang aneh di Eropa pada tahun-tahun terakhir perang. Pasti terdapat harta yang luar biasa berupa emas dan perak, platinum dan berlian, bukan hanya di gudang-gudang besar tetapi juga di tangan para anggota SS.
Seribu lima ratus tawanan dikurung dalam sebuah gudang yang mungkin hanya dibangun untuk menampung paling banyak dua ratus orang. Kami kedinginan dan kelaparan, dan tidak ada cukup ruang bagi semua orang untuk berjongkok di tanah yang telanjang, apalagi untuk berbaring. Sepotong roti seberat lima ons merupakan satu-satunya makanan kami selama empat hari. Namun saya mendengar para tahanan senior yang bertanggung jawab atas gudang itu sedang menawar dengan salah seorang anggota regu penerima mengenai sebuah peniti dasi dari platinum dan berlian. Sebagian besar keuntungan itu pada akhirnya akan ditukar dengan minuman keras—schnapps. Saya tidak lagi ingat berapa ribu mark yang diperlukan untuk membeli jumlah schnapps yang cukup bagi sebuah “malam yang meriah,” tetapi saya tahu bahwa para tahanan lama itu membutuhkan schnapps. Dalam keadaan seperti itu, siapa yang dapat menyalahkan mereka karena berusaha membius diri mereka? Ada kelompok tahanan lain yang memperoleh minuman keras dalam jumlah hampir tak terbatas dari pihak SS: mereka adalah orang-orang yang bekerja di kamar gas dan krematorium, dan yang mengetahui dengan sangat baik bahwa suatu hari mereka akan digantikan oleh kelompok baru, dan bahwa mereka harus meninggalkan peran paksa mereka sebagai pelaksana eksekusi untuk kemudian menjadi korban itu sendiri.
Hampir setiap orang dalam rombongan transport kami hidup di bawah ilusi bahwa ia akan mendapat penangguhan hukuman, bahwa pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja. Kami tidak menyadari makna dari adegan yang segera akan terjadi. Kami diperintahkan meninggalkan barang-barang kami di dalam kereta dan berbaris dalam dua barisan—perempuan di satu sisi, laki-laki di sisi lain—untuk berjalan melewati seorang perwira senior SS.
Secara mengejutkan, aku memiliki keberanian untuk menyembunyikan tas ranselku di bawah mantel. Barisanku bergerak maju melewati perwira itu, satu demi satu. Aku menyadari bahwa akan sangat berbahaya jika perwira itu melihat tasku. Setidaknya ia akan menjatuhkanku dengan pukulan; aku tahu itu dari pengalaman sebelumnya. Secara naluriah aku menegakkan tubuh ketika mendekati perwira tersebut, agar ia tidak memperhatikan beban berat yang kubawa.
Lalu aku berhadapan langsung dengannya. Ia seorang pria tinggi yang tampak ramping dan bugar dalam seragamnya yang bersih tanpa noda. Betapa kontrasnya dengan kami, yang berantakan dan kotor setelah perjalanan panjang! Ia berdiri dengan sikap santai yang seolah tanpa beban, menopang siku kanannya dengan tangan kiri. Tangan kanannya terangkat, dan dengan jari telunjuk tangan itu ia menunjuk dengan sangat santai ke kanan atau ke kiri.
Tak seorang pun di antara kami memiliki sedikit pun gambaran tentang makna jahat di balik gerakan kecil jari seorang manusia itu, yang kini menunjuk ke kanan dan kini ke kiri—namun jauh lebih sering ke kiri.
Tibalah giliranku. Seseorang berbisik kepadaku bahwa dikirim ke sisi kanan berarti kerja, sedangkan jalan ke kiri diperuntukkan bagi mereka yang sakit dan tidak mampu bekerja, yang akan dikirim ke kamp khusus. Aku hanya menunggu apa pun yang akan terjadi—yang pertama dari sekian banyak saat seperti itu yang akan datang.
Tas ranselku sedikit menarik tubuhku ke kiri, tetapi aku berusaha berjalan tegak. Orang SS itu mengamatiku, tampak ragu sejenak, lalu meletakkan kedua tangannya di bahuku. Aku berusaha sekuat tenaga untuk tampak tegap; ia perlahan memutar bahuku hingga aku menghadap ke kanan, dan aku pun bergerak ke sisi itu.
Makna dari permainan jari itu dijelaskan kepada kami pada malam harinya. Itulah seleksi pertama, vonis pertama atas keberadaan atau ketiadaan kami. Bagi sebagian besar rombongan kami—sekitar sembilan puluh persen—itu berarti kematian. Hukuman mereka dilaksanakan dalam beberapa jam berikutnya.
Mereka yang dikirim ke kiri digiring dari stasiun langsung menuju krematorium. Bangunan itu, sebagaimana diceritakan kepadaku oleh seseorang yang bekerja di sana, memiliki kata “pemandian” tertulis di atas pintunya dalam beberapa bahasa Eropa. Ketika masuk, setiap tahanan diberi sepotong sabun, lalu… tetapi untunglah aku tidak perlu menggambarkan peristiwa yang terjadi selanjutnya. Banyak catatan telah ditulis mengenai kengerian itu.
Kami yang selamat—minoritas dari rombongan kami—mengetahui kebenarannya pada malam hari. Aku menanyakan kepada para tahanan yang telah lebih lama berada di sana ke mana kolega dan sahabatku, P----, dikirim.
“Apakah dia dikirim ke sisi kiri?”
“Ya,” jawabku.
“Kalau begitu kau bisa melihatnya di sana,” kata mereka.
“Di mana?”
Sebuah tangan menunjuk ke cerobong beberapa ratus meter jauhnya, yang memuntahkan lidah api ke langit Polandia yang kelabu. Api itu larut menjadi awan asap yang suram.
“Di situlah temanmu berada, melayang naik ke Surga,” jawab mereka.
Namun aku masih tidak mengerti sampai kebenaran itu dijelaskan kepadaku dengan kata-kata yang gamblang.
Tetapi aku menceritakan peristiwa-peristiwa ini tidak menurut urutannya. Dari sudut pandang psikologis, masih ada jalan yang sangat panjang di hadapan kami sejak fajar itu di stasiun hingga malam pertama kami beristirahat di kamp.
Dikawal oleh penjaga SS dengan senapan terisi peluru, kami dipaksa berlari dari stasiun, melewati kawat berduri beraliran listrik, melintasi kamp menuju stasiun pembersihan; bagi kami yang telah lolos dari seleksi pertama, ini benar-benar sebuah pemandian. Sekali lagi ilusi tentang penangguhan hukuman kami seakan mendapat pembenaran. Para lelaki SS tampak hampir ramah.
Segera kami mengetahui alasannya. Mereka bersikap baik selama mereka melihat jam tangan di pergelangan kami dan dapat membujuk kami, dengan nada seolah penuh niat baik, untuk menyerahkannya. Bukankah kami pada akhirnya harus menyerahkan semua milik kami juga, dan mengapa tidak memberikan jam itu kepada orang yang relatif baik itu? Mungkin suatu hari ia akan menolong kita.
Kami menunggu di sebuah gudang yang tampaknya merupakan ruang depan menuju kamar desinfeksi. Para lelaki SS muncul dan membentangkan selimut, ke dalamnya kami harus melemparkan semua milik kami—semua jam tangan dan perhiasan kami.
Masih ada tahanan yang naif di antara kami yang, sambil membuat para tahanan lama yang menjadi pembantu tertawa geli, bertanya apakah mereka tidak boleh menyimpan cincin kawin, sebuah medali, atau benda pembawa keberuntungan. Belum seorang pun benar-benar memahami kenyataan bahwa semuanya akan dirampas.
Aku mencoba berbicara secara rahasia kepada salah seorang tahanan lama. Dengan hati-hati aku mendekatinya, menunjuk ke gulungan kertas di saku dalam mantelku dan berkata:
“Lihat, ini naskah sebuah buku ilmiah. Aku tahu apa yang akan kau katakan: bahwa aku seharusnya bersyukur dapat lolos dengan nyawaku, bahwa itu saja sudah cukup yang dapat kuharapkan dari nasib. Tetapi aku tidak bisa menahannya. Aku harus mempertahankan naskah ini dengan segala cara; di dalamnya terdapat karya hidupku. Apakah kau mengerti?”
Ya, ia mulai mengerti. Senyum perlahan muncul di wajahnya—mula-mula penuh iba, lalu semakin bernada geli, mengejek, menghina—hingga akhirnya ia meraung menjawab pertanyaanku dengan satu kata yang selalu hadir dalam kosakata para penghuni kamp:
“Tai!”
Pada saat itulah aku melihat kebenaran yang telanjang dan melakukan sesuatu yang menandai titik puncak dari fase pertama reaksiku secara psikologis: aku mencoret seluruh kehidupanku yang dahulu.
Tiba-tiba terjadi kegaduhan di antara sesama pelancongku yang sebelumnya berdiri dengan wajah pucat dan ketakutan, berdebat tanpa daya. Kami kembali mendengar perintah yang diteriakkan dengan suara serak. Kami didorong dengan pukulan menuju ruang depan pemandian.
Di sana kami berkumpul mengelilingi seorang SS yang menunggu sampai kami semua tiba. Lalu ia berkata:
“Aku memberi kalian dua menit, dan aku akan menghitungnya dengan jam tanganku. Dalam dua menit itu kalian harus sepenuhnya menanggalkan pakaian dan menjatuhkan semuanya ke lantai di tempat kalian berdiri. Kalian tidak boleh membawa apa pun kecuali sepatu, ikat pinggang atau suspender, dan mungkin penyangga hernia. Aku mulai menghitung—sekarang!”
Dengan tergesa-gesa yang tak terbayangkan, orang-orang merobek pakaian mereka. Ketika waktu semakin sedikit, mereka semakin gugup dan menarik dengan canggung pakaian dalam, ikat pinggang, dan tali sepatu mereka. Lalu kami mendengar suara pertama cambukan—tali kulit menghantam tubuh-tubuh telanjang.
Setelah itu kami digiring ke ruangan lain untuk dicukur: bukan hanya kepala kami yang dicukur, tetapi tidak sehelai rambut pun dibiarkan di seluruh tubuh kami. Lalu kami menuju kamar mandi, di mana kami kembali berbaris. Kami hampir tidak saling mengenali; tetapi dengan kelegaan besar beberapa orang menyadari bahwa air sungguhan menetes dari pancuran.
Sementara menunggu giliran mandi, ketelanjangan kami menjadi begitu nyata: kini kami benar-benar tidak memiliki apa-apa selain tubuh telanjang kami—bahkan tanpa rambut; segala yang kami miliki, secara harfiah, hanyalah keberadaan kami yang telanjang.
Apa lagi yang tersisa sebagai penghubung material dengan kehidupan kami yang dahulu? Bagiku, hanya kacamata dan ikat pinggangku; yang terakhir itu kemudian harus kutukar dengan sepotong roti.
Ada sedikit kegembiraan tambahan bagi para pemilik penyangga hernia. Pada malam harinya, tahanan senior yang bertanggung jawab atas barak kami menyambut kami dengan pidato, di mana ia memberi kata kehormatannya bahwa ia sendiri akan menggantung—“di balok itu,” katanya sambil menunjuk—siapa pun yang menjahit uang atau batu permata di dalam penyangga hernianya. Dengan bangga ia menjelaskan bahwa sebagai penghuni senior, hukum kamp memberinya hak untuk melakukan hal itu.
Mengenai sepatu kami, keadaannya tidak sesederhana itu. Walaupun seharusnya kami boleh mempertahankannya, mereka yang memiliki sepatu yang cukup baik tetap harus menyerahkannya dan sebagai gantinya menerima sepatu yang tidak pas.
Kesulitan yang sebenarnya menimpa para tahanan yang telah mengikuti nasihat yang tampaknya penuh niat baik (yang diberikan di ruang depan) dari para tahanan senior: mereka memendekkan sepatu bot tinggi mereka dengan memotong bagian atasnya, lalu mengoleskan sabun pada bagian potongannya untuk menyembunyikan sabotase itu.
Para lelaki SS tampaknya memang menunggu hal itu. Semua yang dicurigai melakukan “kejahatan” tersebut harus masuk ke sebuah ruangan kecil di samping. Setelah beberapa waktu kami kembali mendengar bunyi cambukan tali, serta jeritan orang-orang yang disiksa. Kali ini berlangsung cukup lama.
Dengan demikian, ilusi yang masih dipegang oleh sebagian dari kami hancur satu demi satu, dan kemudian, secara tak terduga, sebagian besar dari kami justru diliputi oleh semacam humor yang pahit. Kami tahu bahwa kami tidak lagi memiliki apa pun untuk kehilangan selain hidup kami yang telanjang dan begitu konyol itu. Ketika pancuran mulai mengalir, kami semua berusaha keras untuk bercanda—baik tentang diri kami sendiri maupun tentang satu sama lain. Bagaimanapun juga, air sungguhan memang mengalir dari pancuran itu!
Selain jenis humor yang aneh itu, suatu perasaan lain juga menguasai kami: rasa ingin tahu. Aku pernah mengalami rasa ingin tahu semacam ini sebelumnya, sebagai reaksi mendasar terhadap keadaan-keadaan yang aneh. Ketika suatu kali hidupku terancam oleh kecelakaan saat mendaki gunung, pada saat yang paling kritis aku hanya merasakan satu hal: rasa ingin tahu—rasa ingin tahu apakah aku akan keluar dari situasi itu hidup-hidup atau dengan tengkorak retak atau luka-luka lainnya.
Rasa ingin tahu yang dingin juga mendominasi di Auschwitz, entah bagaimana memisahkan pikiran dari lingkungan sekitarnya, yang kemudian dipandang dengan semacam sikap objektif. Pada saat itu keadaan mental seperti ini dipelihara sebagai sarana perlindungan. Kami ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya; dan apa akibatnya, misalnya, dari berdiri di udara terbuka, dalam dingin akhir musim gugur, telanjang bulat, dan masih basah oleh air pancuran. Dalam beberapa hari berikutnya, rasa ingin tahu itu berubah menjadi keheranan—keheranan karena kami ternyata tidak terserang flu.
Masih banyak kejutan serupa yang menanti para pendatang baru. Para dokter di antara kami belajar pertama-tama satu hal: “Buku-buku pelajaran berbohong!” Di suatu tempat dikatakan bahwa manusia tidak dapat hidup tanpa tidur lebih dari sejumlah jam tertentu. Sama sekali tidak benar! Dahulu aku yakin bahwa ada hal-hal tertentu yang sama sekali tidak dapat kulakukan: aku tidak bisa tidur tanpa ini atau tidak bisa hidup tanpa itu atau yang lain.
Pada malam pertama di Auschwitz kami tidur di ranjang bertingkat. Pada setiap tingkat (yang panjangnya sekitar dua hingga dua setengah meter) tidur sembilan orang, langsung di atas papan kayu. Dua selimut dipakai bersama oleh sembilan orang itu. Tentu saja kami hanya bisa berbaring miring, berhimpitan dan saling menekan satu sama lain, yang sebenarnya ada juga keuntungannya karena dingin yang begitu menusuk.
Meskipun dilarang membawa sepatu ke atas ranjang, beberapa orang tetap melakukannya secara diam-diam dan menjadikannya bantal, walaupun sepatu itu dipenuhi lumpur. Jika tidak, kepala harus bertumpu pada lekukan lengan yang hampir terkilir. Namun demikian, tidur tetap datang dan membawa ketidaksadaran serta kelegaan dari rasa sakit selama beberapa jam.
Aku ingin menyebutkan beberapa kejutan lain yang menunjukkan betapa banyak hal yang dapat kami tanggung: kami tidak mampu membersihkan gigi, namun walaupun demikian—dan walaupun mengalami kekurangan vitamin yang parah—gusi kami justru lebih sehat daripada sebelumnya.
Kami harus mengenakan kemeja yang sama selama setengah tahun, sampai pakaian itu hampir tidak lagi tampak seperti kemeja. Selama berhari-hari kami tidak dapat mencuci diri, bahkan sebagian pun tidak, karena pipa air membeku. Namun luka dan goresan di tangan yang kotor akibat bekerja di tanah tidak bernanah (kecuali jika terkena radang beku).
Atau misalnya seseorang yang tidurnya ringan—yang biasanya terganggu oleh suara sekecil apa pun dari kamar sebelah—kini mendapati dirinya berbaring berhimpitan dengan seorang kawan yang mendengkur keras hanya beberapa sentimeter dari telinganya, namun tetap tertidur nyenyak tanpa terganggu.
Jika seseorang saat itu menanyakan kepada kami kebenaran pernyataan Dostoyevsky yang secara tegas mendefinisikan manusia sebagai makhluk yang dapat membiasakan diri dengan apa saja, kami akan menjawab:
“Ya, manusia dapat membiasakan diri dengan apa saja—tetapi jangan tanyakan kepada kami bagaimana caranya.”
Namun penyelidikan psikologis kami belum sampai sejauh itu; demikian pula kami para tahanan belum mencapai tahap tersebut. Kami masih berada dalam fase pertama dari reaksi psikologis kami.
Pikiran tentang bunuh diri terlintas di benak hampir setiap orang, meskipun hanya sesaat. Pikiran itu lahir dari keputusasaan situasi yang dihadapi, dari bahaya kematian yang terus mengancam setiap hari dan setiap jam, serta dari kedekatan dengan kematian yang dialami begitu banyak orang lain.
Berdasarkan keyakinan pribadiku—yang akan kusebutkan kemudian—pada malam pertama di kamp aku membuat janji tegas kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan “berlari ke kawat.”
Itulah ungkapan yang digunakan di kamp untuk menggambarkan metode bunuh diri yang paling umum: menyentuh pagar kawat berduri yang dialiri listrik.
Tidak terlalu sulit bagiku untuk mengambil keputusan ini. Bunuh diri tidak banyak gunanya, sebab bagi seorang tahanan biasa, harapan hidup—jika dihitung secara objektif dan memperhitungkan semua kemungkinan—sangatlah kecil. Ia hampir tidak dapat berharap dengan pasti untuk termasuk dalam persentase kecil orang yang berhasil selamat dari semua seleksi.
Bagi seorang tahanan Auschwitz, dalam fase pertama guncangan, kematian bahkan tidak lagi menakutkan. Setelah beberapa hari pertama, kamar gas pun kehilangan kengerian bagi dirinya—lagipula kamar itu membebaskannya dari tindakan bunuh diri.
Teman-teman yang kemudian kutemui mengatakan bahwa aku bukanlah orang yang sangat tertekan oleh guncangan saat pertama kali masuk. Aku bahkan tersenyum—dan sungguh-sungguh—ketika peristiwa berikut terjadi pada pagi hari setelah malam pertama kami di Auschwitz.
Meskipun ada perintah keras untuk tidak meninggalkan “blok” kami, seorang rekan yang telah tiba di Auschwitz beberapa minggu sebelumnya menyelundup masuk ke barak kami. Ia ingin menenangkan dan menghibur kami serta memberi beberapa informasi. Ia telah menjadi begitu kurus sehingga pada awalnya kami hampir tidak mengenalinya.
Dengan sikap penuh humor dan keberanian yang seolah tak peduli apa pun, ia memberi kami beberapa nasihat cepat:
“Jangan takut! Jangan takut pada seleksi! Dr. M---- (kepala dokter SS) punya kelemahan terhadap para dokter.”
(Nasihat ini ternyata salah; kata-kata baik temanku itu menyesatkan. Seorang tahanan lain—dokter kepala sebuah blok barak yang berusia sekitar enam puluh tahun—pernah menceritakan kepadaku bagaimana ia memohon kepada Dr. M---- agar membebaskan putranya yang telah ditentukan untuk masuk kamar gas. Dr. M---- menolaknya dengan dingin.)
“Tetapi ada satu hal yang kumohon kepada kalian,” lanjutnya, “bercukur setiap hari, jika memungkinkan—bahkan jika kalian harus menggunakan pecahan kaca untuk melakukannya… bahkan jika kalian harus menukarnya dengan potongan roti terakhir kalian. Dengan begitu kalian akan tampak lebih muda dan goresan cukur akan membuat pipi kalian tampak lebih kemerahan.
Jika kalian ingin tetap hidup, hanya ada satu cara: terlihat layak untuk bekerja. Jika kalian bahkan hanya pincang—misalnya karena lepuh kecil di tumit—dan seorang SS melihatnya, ia akan menyingkirkan kalian, dan keesokan harinya kalian pasti akan masuk kamar gas.
Apakah kalian tahu apa yang kami maksud dengan ‘Muselmann’? Seorang yang tampak menyedihkan, putus asa, sakit, dan kurus kering, yang tidak lagi mampu melakukan kerja fisik berat… itulah ‘Muselmann.’ Cepat atau lambat—biasanya lebih cepat—setiap ‘Muselmann’ akan pergi ke kamar gas. Jadi ingatlah: bercukurlah, berdirilah tegak, dan berjalanlah dengan mantap; dengan begitu kalian tidak perlu takut pada gas.
Kalian semua yang berdiri di sini—meskipun baru dua puluh empat jam berada di sini—tidak perlu takut pada gas… kecuali mungkin kamu.”
Lalu ia menunjuk kepadaku dan berkata, “Aku harap kau tidak tersinggung karena aku mengatakannya dengan terus terang.”
Kepada yang lain ia mengulangi, “Dari kalian semua, dialah satu-satunya yang harus takut pada seleksi berikutnya. Jadi jangan khawatir!”
Dan aku tersenyum. Kini aku yakin bahwa siapa pun yang berada di posisiku pada hari itu akan melakukan hal yang sama.
Aku pikir Lessing pernah berkata, “Ada hal-hal yang harus membuatmu kehilangan akal sehatmu—atau jika tidak, berarti kau memang tidak memiliki akal untuk hilang.”
Reaksi yang tidak normal terhadap situasi yang tidak normal adalah perilaku yang normal. Bahkan kami para psikiater pun mengharapkan bahwa reaksi seseorang terhadap situasi yang tidak normal—misalnya ketika dimasukkan ke rumah sakit jiwa—akan menjadi tidak normal sebanding dengan tingkat kenormalannya.
January 12, 2019
January 12, 2019
January 12, 2019
January 12, 2019
January 12, 2019
January 12, 2019
Comments (0)