[Buku Bahasa Indonesia] Thinking Fast and Slow - Daniel Kahneman

Bagian 1
Dua Sistem

Tokoh-Tokoh dalam Cerita

Untuk mengamati pikiran Anda dalam mode otomatis, sekilaslah melihat gambar di bawah ini.

Gambar 1

Pengalaman Anda ketika memandang wajah perempuan itu secara mulus memadukan apa yang biasanya kita sebut melihat dan berpikir intuitif. Secepat dan seyakinnya Anda menyadari bahwa rambut perempuan muda itu berwarna gelap, Anda juga tahu bahwa ia sedang marah.

Lebih jauh lagi, apa yang Anda lihat seakan meluas ke masa depan. Anda merasakan bahwa perempuan ini sebentar lagi akan melontarkan kata-kata yang sangat tidak menyenangkan, barangkali dengan suara keras dan tajam. Sebuah firasat tentang apa yang akan ia lakukan selanjutnya muncul dalam benak Anda secara otomatis dan tanpa upaya. Anda tidak berniat menilai suasana hatinya atau memprediksi apa yang mungkin ia lakukan, dan reaksi Anda terhadap gambar itu tidak terasa sebagai sesuatu yang Anda lakukan dengan sengaja. Semua itu begitu saja terjadi pada Anda. Itulah contoh berpikir cepat.

Sekarang perhatikan soal berikut:

17 × 24

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Anda segera tahu bahwa ini adalah soal perkalian, dan mungkin juga tahu bahwa Anda dapat menyelesaikannya dengan kertas dan pensil—jika tidak secara langsung di kepala. Anda juga memiliki gambaran intuitif yang samar tentang kisaran kemungkinan jawabannya. Anda akan dengan cepat menyadari bahwa baik 12.609 maupun 123 adalah hasil yang tidak masuk akal.

Namun tanpa meluangkan waktu untuk menghitungnya, Anda tidak akan yakin bahwa jawabannya bukan 568. Sebuah solusi yang tepat tidak langsung muncul di benak Anda, dan Anda merasakan bahwa Anda dapat memilih apakah akan melakukan perhitungan itu atau tidak. Jika Anda belum melakukannya, cobalah sekarang menyelesaikan soal perkalian tersebut, setidaknya sebagian.

Saat Anda melangkah melalui serangkaian tahap perhitungan, Anda mengalami apa yang disebut berpikir lambat. Mula-mula Anda mengambil dari ingatan program kognitif untuk melakukan perkalian yang pernah Anda pelajari di sekolah, lalu Anda menjalankannya. Melakukan perhitungan itu terasa membebani. Anda merasakan tekanan karena harus menahan banyak informasi dalam ingatan—melacak di mana posisi Anda dalam proses perhitungan dan ke mana langkah berikutnya, sambil tetap menyimpan hasil-hasil sementara.

Proses ini adalah kerja mental: disengaja, menuntut upaya, dan tertata—sebuah contoh khas dari berpikir lambat. Perhitungan itu bukan hanya peristiwa dalam pikiran Anda; tubuh Anda pun terlibat. Otot-otot Anda menegang, tekanan darah meningkat, dan detak jantung bertambah cepat. Seseorang yang mengamati mata Anda dengan saksama ketika Anda mengerjakan soal ini akan melihat pupil Anda melebar. Pupil itu kembali menyusut ke ukuran normal begitu Anda selesai bekerja—entah ketika Anda menemukan jawabannya (yang, sebagai catatan, adalah 408) atau ketika Anda menyerah.

Dua Sistem

Selama beberapa dekade, para psikolog sangat tertarik pada dua modus berpikir yang ditimbulkan oleh gambar perempuan marah dan oleh soal perkalian tadi, dan mereka memberi banyak sebutan berbeda untuk keduanya. Saya menggunakan istilah yang mula-mula diajukan oleh psikolog Keith Stanovich dan Richard West, dan akan menyebut dua sistem dalam pikiran: Sistem 1 dan Sistem 2.

Sistem 1 beroperasi secara otomatis dan cepat, dengan sedikit atau tanpa usaha serta tanpa rasa kendali sukarela.

Sistem 2 mengalokasikan perhatian pada aktivitas mental yang menuntut upaya, termasuk perhitungan yang kompleks. Operasi Sistem 2 sering kali berkaitan dengan pengalaman subjektif mengenai agen, pilihan, dan konsentrasi.

Label Sistem 1 dan Sistem 2 telah digunakan secara luas dalam psikologi, tetapi dalam buku ini saya melangkah lebih jauh daripada kebanyakan penulis lain. Anda dapat membacanya sebagai semacam psikodrama dengan dua tokoh.

Ketika kita memikirkan diri kita sendiri, kita cenderung mengidentifikasi diri dengan Sistem 2—diri yang sadar dan bernalar, yang memiliki keyakinan, membuat pilihan, serta memutuskan apa yang akan dipikirkan dan dilakukan. Namun, meskipun Sistem 2 percaya bahwa di sanalah pusat tindakan berlangsung, justru Sistem 1 yang otomatislah yang menjadi tokoh utama buku ini. Saya menggambarkan Sistem 1 sebagai sumber yang tanpa upaya melahirkan kesan dan perasaan—yang kemudian menjadi sumber utama keyakinan eksplisit dan pilihan yang disengaja dari Sistem 2.

Operasi otomatis Sistem 1 menghasilkan pola gagasan yang sangat kompleks secara mengejutkan, tetapi hanya Sistem 2 yang lebih lambat yang mampu membangun pemikiran dalam rangkaian langkah yang tertata. Saya juga menggambarkan keadaan-keadaan ketika Sistem 2 mengambil alih, membatalkan dorongan dan asosiasi bebas dari Sistem 1. Anda akan diajak membayangkan kedua sistem ini sebagai agen dengan kemampuan, keterbatasan, dan fungsi masing-masing.

Berikut beberapa contoh aktivitas otomatis yang dikaitkan dengan Sistem 1, disusun kira-kira dari yang paling sederhana hingga yang lebih kompleks:

  • Mengetahui bahwa suatu benda lebih jauh daripada benda lain.
  • Mengalihkan perhatian ke arah sumber suara yang tiba-tiba.
  • Melengkapi frasa “roti dan …”.
  • Membuat ekspresi wajah jijik ketika melihat gambar yang menjijikkan.
  • Mendeteksi permusuhan dalam nada suara.
  • Menjawab pertanyaan 2 + 2 = ?
  • Membaca kata-kata pada papan reklame besar.
  • Mengemudi di jalan kosong.
  • Menemukan langkah kuat dalam catur (jika Anda seorang master catur).
  • Memahami kalimat sederhana.
  • Menyadari bahwa gambaran “seseorang yang lembut, rapi, dan terobsesi pada detail” menyerupai stereotip suatu profesi.

Semua peristiwa mental ini serupa dengan pengalaman melihat perempuan marah tadi—mereka terjadi secara otomatis dan hampir tanpa upaya. Kemampuan Sistem 1 mencakup keterampilan bawaan yang juga dimiliki oleh hewan lain. Kita dilahirkan dengan kesiapan untuk memersepsi dunia di sekitar kita, mengenali objek, mengarahkan perhatian, menghindari kerugian, dan takut pada laba-laba.

Aktivitas mental lain menjadi cepat dan otomatis melalui latihan yang panjang. Sistem 1 mempelajari asosiasi antara gagasan (misalnya: ibu kota Prancis?) dan juga mempelajari keterampilan seperti membaca serta memahami nuansa situasi sosial.

Beberapa keterampilan, seperti menemukan langkah kuat dalam catur, hanya diperoleh oleh para ahli melalui latihan khusus. Yang lain dimiliki secara luas. Mengenali kemiripan antara deskripsi kepribadian dan stereotip suatu pekerjaan memerlukan pengetahuan luas tentang bahasa dan budaya—sesuatu yang dimiliki kebanyakan dari kita. Pengetahuan itu tersimpan dalam ingatan dan diakses tanpa niat serta tanpa usaha.

Beberapa tindakan mental dalam daftar tadi sepenuhnya bersifat tidak sukarela. Anda tidak dapat menahan diri untuk tidak memahami kalimat sederhana dalam bahasa Anda sendiri, atau untuk tidak menoleh pada suara keras yang tiba-tiba. Anda juga tidak dapat mencegah diri Anda mengetahui bahwa 2 + 2 = 4 atau membayangkan Paris ketika disebutkan “ibu kota Prancis”.

Aktivitas lain, seperti mengunyah, berada di bawah kendali sukarela, tetapi biasanya berjalan secara otomatis. Pengendalian perhatian dibagi antara kedua sistem. Mengalihkan perhatian ke suara keras biasanya merupakan operasi tak sukarela dari Sistem 1, yang segera memobilisasi perhatian sukarela Sistem 2.

Anda mungkin mampu menahan diri untuk tidak menoleh ke arah sumber komentar keras dan ofensif di sebuah pesta yang ramai. Namun meskipun kepala Anda tidak bergerak, perhatian Anda pada awalnya tetap tertuju ke sana—setidaknya untuk sesaat. Meskipun demikian, perhatian dapat dialihkan dari fokus yang tidak diinginkan, terutama dengan memusatkan perhatian secara intens pada sasaran lain.

Ragam operasi Sistem 2 yang sangat beraneka itu memiliki satu kesamaan: semuanya menuntut perhatian dan akan terganggu ketika perhatian teralihkan. Berikut beberapa contohnya:

  • Bersiap menyambut letusan pistol start dalam sebuah lomba.
  • Memusatkan perhatian pada para badut di sirkus.
  • Memfokuskan diri pada suara seseorang tertentu di dalam ruangan yang ramai dan bising.
  • Mencari seorang perempuan berambut putih.
  • Menelusuri ingatan untuk mengenali bunyi yang mengejutkan.
  • Mempertahankan kecepatan berjalan yang lebih cepat daripada langkah alami Anda.
  • Memantau apakah perilaku Anda pantas dalam suatu situasi sosial.
  • Menghitung jumlah kemunculan huruf a pada satu halaman teks.
  • Menyebutkan nomor telepon Anda kepada seseorang.
  • Memarkir mobil di ruang yang sempit (bagi kebanyakan orang, kecuali petugas parkir profesional).
  • Membandingkan dua mesin cuci dari segi nilai keseluruhannya.
  • Mengisi formulir pajak.
  • Memeriksa keabsahan sebuah argumen logis yang rumit.

Dalam semua situasi ini Anda harus memberi perhatian, dan kinerja Anda akan menurun—atau bahkan gagal sama sekali—jika Anda tidak siap atau jika perhatian Anda terarah secara keliru. Sistem 2 memiliki kemampuan tertentu untuk mengubah cara kerja Sistem 1, dengan memprogram fungsi perhatian dan ingatan yang biasanya berlangsung secara otomatis.

Misalnya, ketika menunggu seorang kerabat di stasiun kereta yang ramai, Anda dapat secara sengaja mengatur diri untuk mencari seorang perempuan berambut putih atau seorang pria berjanggut, sehingga peluang Anda mengenali kerabat itu dari kejauhan menjadi lebih besar. Anda juga dapat “mengatur” ingatan untuk menelusuri ibu kota negara yang diawali huruf N, atau novel eksistensialis Prancis. Dan ketika Anda menyewa mobil di Bandara Heathrow, London, petugas kemungkinan akan mengingatkan Anda bahwa “di sini kami berkendara di sisi kiri jalan.” Dalam semua contoh ini, Anda diminta melakukan sesuatu yang tidak datang secara alami, dan Anda akan mendapati bahwa mempertahankan pengaturan tersebut secara konsisten menuntut setidaknya sejumlah upaya yang terus-menerus.

Ungkapan yang sering digunakan, “memberi perhatian,” memang tepat: Anda memiliki semacam anggaran perhatian yang terbatas, yang dapat Anda alokasikan pada berbagai kegiatan; jika Anda mencoba melampaui anggaran itu, Anda akan gagal. Ciri khas kegiatan yang memerlukan upaya adalah bahwa kegiatan-kegiatan itu saling mengganggu satu sama lain—itulah sebabnya sulit, bahkan mustahil, melaksanakan beberapa di antaranya sekaligus. Anda tidak mungkin menghitung hasil perkalian 17 × 24 sambil berbelok ke kiri di tengah lalu lintas padat—dan tentu saja Anda tidak seharusnya mencobanya. Anda dapat melakukan beberapa hal sekaligus, tetapi hanya jika hal-hal itu mudah dan tidak menuntut banyak perhatian. Anda barangkali masih aman berbincang dengan penumpang ketika mengemudi di jalan tol yang lengang, dan banyak orang tua mendapati—barangkali dengan sedikit rasa bersalah—bahwa mereka dapat membacakan cerita kepada anak sambil memikirkan hal lain.

Setiap orang memiliki kesadaran tertentu akan keterbatasan kapasitas perhatian, dan perilaku sosial kita pun menyesuaikan diri dengan keterbatasan itu. Misalnya, ketika pengemudi mobil sedang menyalip sebuah truk di jalan yang sempit, para penumpang dewasa biasanya dengan bijak menghentikan percakapan. Mereka tahu bahwa mengalihkan perhatian pengemudi bukanlah ide yang baik, dan mereka juga menduga bahwa untuk sementara waktu pengemudi itu seakan-akan tuli dan tidak akan mendengar apa yang mereka katakan.

Pemusatan perhatian yang sangat intens pada suatu tugas dapat membuat seseorang secara efektif menjadi buta, bahkan terhadap rangsangan yang biasanya menarik perhatian. Demonstrasi paling dramatis mengenai hal ini disajikan oleh Christopher Chabris dan Daniel Simons dalam buku mereka The Invisible Gorilla. Mereka membuat sebuah film pendek yang menampilkan dua tim yang saling mengoper bola basket: satu tim mengenakan kaus putih, tim lainnya kaus hitam. Para penonton film itu diminta menghitung jumlah operan yang dilakukan tim berbaju putih sambil mengabaikan pemain berbaju hitam. Tugas ini sulit dan sepenuhnya menyerap perhatian.

Di tengah video, seorang perempuan mengenakan kostum gorila muncul, melintasi lapangan, memukul-mukul dadanya, lalu berjalan pergi. Gorila itu terlihat selama sembilan detik. Banyak ribu orang telah menonton video tersebut, dan sekitar setengah dari mereka tidak menyadari adanya sesuatu yang aneh. Tugas menghitung—terutama instruksi untuk mengabaikan salah satu tim—itulah yang menimbulkan kebutaan tersebut. Tidak seorang pun yang menonton video itu tanpa tugas tersebut akan melewatkan keberadaan gorila. Melihat dan mengarahkan perhatian merupakan fungsi otomatis Sistem 1, tetapi keduanya tetap bergantung pada adanya sebagian perhatian yang dialokasikan pada rangsangan yang relevan.

Para penulis itu mencatat bahwa pengamatan paling mencolok dari penelitian mereka adalah bahwa orang-orang merasa sangat terkejut dengan hasilnya. Bahkan, para penonton yang gagal melihat gorila pada awalnya yakin bahwa gorila itu memang tidak ada—mereka tidak dapat membayangkan bahwa mereka bisa melewatkan peristiwa yang begitu mencolok. Eksperimen gorila ini menggambarkan dua fakta penting tentang pikiran kita: kita bisa buta terhadap hal yang jelas terlihat, dan kita juga buta terhadap kebutaan kita sendiri.

Sinopsis Alur

Interaksi antara kedua sistem merupakan tema yang berulang dalam buku ini, sehingga sebuah ringkasan singkat alurnya patut diberikan. Dalam kisah yang akan saya ceritakan, Sistem 1 dan Sistem 2 sama-sama aktif setiap kali kita terjaga. Sistem 1 berjalan secara otomatis, sedangkan Sistem 2 biasanya berada dalam mode nyaman dengan usaha rendah, di mana hanya sebagian kecil kapasitasnya yang digunakan.

Sistem 1 terus-menerus menghasilkan usulan bagi Sistem 2: kesan, intuisi, niat, dan perasaan. Jika disetujui oleh Sistem 2, kesan dan intuisi itu berubah menjadi keyakinan, dan dorongan berubah menjadi tindakan yang disengaja. Ketika segala sesuatu berjalan lancar—yang memang terjadi sebagian besar waktu—Sistem 2 menerima usulan Sistem 1 dengan sedikit atau tanpa perubahan. Anda umumnya mempercayai kesan Anda dan bertindak mengikuti keinginan Anda, dan itu biasanya tidak menjadi masalah.

Namun ketika Sistem 1 menemui kesulitan, ia memanggil Sistem 2 untuk mendukung pemrosesan yang lebih rinci dan lebih spesifik guna menyelesaikan persoalan yang sedang dihadapi. Sistem 2 dimobilisasi ketika muncul pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh Sistem 1—seperti yang mungkin Anda alami ketika menghadapi soal perkalian 17 × 24. Anda juga dapat merasakan lonjakan perhatian sadar setiap kali Anda terkejut.

Sistem 2 diaktifkan ketika suatu peristiwa terdeteksi melanggar model dunia yang dipertahankan oleh Sistem 1. Dalam dunia itu, lampu tidak melompat, kucing tidak menggonggong, dan gorila tidak melintasi lapangan basket. Eksperimen gorila menunjukkan bahwa sejumlah perhatian diperlukan agar rangsangan yang mengejutkan itu dapat terdeteksi. Rasa terkejut kemudian mengaktifkan dan mengarahkan perhatian Anda: Anda akan menatap, dan Anda akan menelusuri ingatan untuk menemukan kisah yang dapat menjelaskan peristiwa yang mengejutkan itu.

Sistem 2 juga dianggap bertanggung jawab atas pemantauan terus-menerus terhadap perilaku Anda sendiri—pengendalian yang membuat Anda tetap sopan ketika marah, dan tetap waspada ketika mengemudi pada malam hari. Sistem 2 dimobilisasi untuk meningkatkan upaya ketika ia mendeteksi kesalahan yang hampir terjadi. Ingatlah saat Anda hampir saja melontarkan komentar yang menyinggung, dan perhatikan betapa kerasnya Anda berusaha memulihkan kendali.

Singkatnya, sebagian besar dari apa yang Anda—yakni Sistem 2 Anda—pikirkan dan lakukan berawal dari Sistem 1; tetapi Sistem 2 mengambil alih ketika keadaan menjadi sulit, dan biasanya dialah yang memberikan keputusan terakhir.

Pembagian kerja antara Sistem 1 dan Sistem 2 sangat efisien: ia meminimalkan upaya sekaligus mengoptimalkan kinerja. Susunan ini bekerja dengan baik dalam sebagian besar keadaan karena Sistem 1 umumnya sangat piawai dalam apa yang dilakukannya: modelnya tentang situasi yang sudah dikenal biasanya akurat, prediksi jangka pendeknya juga umumnya tepat, dan reaksi awalnya terhadap tantangan berlangsung cepat serta biasanya sesuai.

Namun, Sistem 1 memiliki bias—kesalahan sistematis yang cenderung muncul dalam keadaan tertentu. Seperti yang akan kita lihat, kadang-kadang ia menjawab pertanyaan yang lebih mudah daripada pertanyaan yang sebenarnya diajukan, dan pemahamannya terhadap logika serta statistika sangat terbatas. Ada satu keterbatasan lain dari Sistem 1: ia tidak dapat dimatikan. Jika sebuah kata dalam bahasa yang Anda pahami ditampilkan di layar, Anda akan membacanya—kecuali jika perhatian Anda sepenuhnya terserap pada hal lain.

Konflik

Gambar 2 merupakan variasi dari sebuah eksperimen klasik yang menimbulkan konflik antara kedua sistem. Anda sebaiknya mencoba latihan itu sebelum melanjutkan membaca.

Anda hampir pasti berhasil mengucapkan kata yang benar dalam kedua tugas tersebut, dan Anda tentu menyadari bahwa beberapa bagian dari masing-masing tugas jauh lebih mudah daripada yang lain. Ketika Anda mengidentifikasi huruf besar dan huruf kecil, kolom di sebelah kiri terasa mudah, sedangkan kolom di sebelah kanan membuat Anda melambat—barangkali juga membuat Anda tergagap atau tersendat. Sebaliknya, ketika Anda menyebutkan posisi kata, kolom kiri terasa sulit, sementara kolom kanan jauh lebih mudah.

Tugas-tugas ini melibatkan Sistem 2, karena mengucapkan “atas/bawah” atau “kanan/kiri” bukanlah sesuatu yang lazim Anda lakukan ketika menelusuri sebuah kolom kata. Salah satu hal yang Anda lakukan untuk mempersiapkan diri menghadapi tugas ini adalah “memprogram” ingatan Anda sehingga kata-kata yang relevan—misalnya atas dan bawah untuk tugas pertama—seolah berada “di ujung lidah.” Prioritas yang diberikan pada kata-kata yang dipilih itu cukup efektif, dan godaan ringan untuk membaca kata lain relatif mudah Anda tahan ketika melalui kolom pertama. Namun kolom kedua berbeda, karena di dalamnya terdapat kata-kata yang justru telah Anda siapkan dalam ingatan, sehingga Anda tidak dapat begitu saja mengabaikannya. Anda sebagian besar tetap mampu memberikan jawaban yang benar, tetapi mengatasi respons yang bersaing itu memerlukan upaya, dan hal itu memperlambat Anda.

Anda mengalami konflik antara tugas yang secara sengaja ingin Anda lakukan dan respons otomatis yang mengganggunya. Konflik antara reaksi otomatis dan niat untuk mengendalikannya merupakan hal yang lazim dalam kehidupan kita. Kita semua akrab dengan pengalaman berusaha tidak menatap pasangan berpakaian aneh di meja sebelah di sebuah restoran. Kita juga tahu rasanya memaksa perhatian kita pada buku yang membosankan, ketika kita terus-menerus mendapati diri kembali ke titik di mana bacaan itu kehilangan maknanya.

Di daerah yang musim dinginnya keras, banyak pengemudi memiliki kenangan tentang mobil mereka yang tergelincir tak terkendali di atas es, dan tentang perjuangan mengikuti instruksi yang telah dilatih sebelumnya—instruksi yang justru bertentangan dengan apa yang secara naluriah ingin mereka lakukan: “Belokkan setir mengikuti arah selip, dan apa pun yang terjadi, jangan menyentuh rem!” Dan setiap manusia pernah mengalami momen ketika ia tidak mengatakan kepada seseorang agar “pergi ke neraka.” Salah satu tugas Sistem 2 adalah menahan dorongan Sistem 1. Dengan kata lain, Sistem 2 bertanggung jawab atas pengendalian diri.

Ilusi

Untuk memahami otonomi Sistem 1, sekaligus membedakan antara kesan dan keyakinan, perhatikan dengan saksama Gambar 3.

Gambar ini tampak biasa saja: dua garis horizontal dengan panjang berbeda, masing-masing diberi “sirip” di ujungnya yang mengarah ke arah berbeda. Garis yang di bawah tampak jelas lebih panjang daripada garis yang di atas. Itulah yang kita semua lihat, dan secara alami kita mempercayai apa yang kita lihat. Namun jika Anda pernah melihat gambar ini sebelumnya, Anda mungkin mengenalinya sebagai ilusi Müller-Lyer yang terkenal. Sebagaimana dapat dengan mudah Anda buktikan dengan mengukurnya menggunakan penggaris, kedua garis horizontal itu sebenarnya memiliki panjang yang sama persis.

Sekarang, setelah Anda mengukur garis-garis tersebut, Anda—Sistem 2 Anda, diri sadar yang Anda sebut “aku”—memiliki keyakinan baru: Anda mengetahui bahwa kedua garis itu sama panjang. Jika ditanya tentang panjangnya, Anda akan mengatakan apa yang Anda ketahui. Namun Anda tetap melihat garis bawah sebagai lebih panjang. Anda memilih untuk mempercayai hasil pengukuran, tetapi Anda tidak dapat mencegah Sistem 1 melakukan apa yang menjadi kebiasaannya; Anda tidak dapat memutuskan untuk melihat kedua garis itu sebagai sama panjang, meskipun Anda tahu kenyataannya demikian.

Untuk menahan pengaruh ilusi ini, hanya ada satu hal yang dapat Anda lakukan: Anda harus belajar tidak mempercayai kesan Anda mengenai panjang garis ketika garis tersebut diberi sirip di ujungnya. Untuk menerapkan aturan itu, Anda harus mampu mengenali pola ilusi tersebut dan mengingat apa yang Anda ketahui tentangnya. Jika Anda dapat melakukannya, Anda tidak akan pernah lagi tertipu oleh ilusi Müller-Lyer. Namun Anda tetap akan melihat salah satu garis tampak lebih panjang daripada yang lain.

Tidak semua ilusi bersifat visual. Ada pula ilusi dalam pikiran—yang kita sebut ilusi kognitif.

Ketika masih menjadi mahasiswa pascasarjana, saya mengikuti beberapa mata kuliah tentang seni dan ilmu psikoterapi. Dalam salah satu kuliah tersebut, dosen kami menyampaikan sepotong kebijaksanaan klinis. Inilah yang ia katakan kepada kami:

“Dari waktu ke waktu Anda akan bertemu dengan seorang pasien yang menceritakan kisah yang mengganggu tentang berbagai kegagalan dalam perawatan sebelumnya. Ia telah ditangani oleh beberapa klinisi, dan semuanya gagal membantunya. Pasien itu dapat menjelaskan dengan sangat jelas bagaimana para terapisnya salah memahami dirinya, tetapi ia segera menyadari bahwa Anda berbeda. Anda pun merasakan hal yang sama—Anda yakin memahami dirinya, dan Anda percaya dapat menolongnya.”

Pada titik ini, dosen saya meninggikan suaranya dan berkata, “Jangan sekali-kali berpikir untuk menerima pasien seperti ini! Usir dia dari ruang praktik Anda! Kemungkinan besar dia seorang psikopat dan Anda tidak akan mampu menolongnya.”

Bertahun-tahun kemudian saya mengetahui bahwa dosen itu sedang memperingatkan kami tentang pesona khas psikopat, dan otoritas terkemuka dalam studi psikopati kemudian menegaskan bahwa nasihat tersebut memang tepat. Analogi dengan ilusi Müller-Lyer sangat dekat. Yang diajarkan kepada kami bukanlah bagaimana seharusnya kami merasakan pasien itu. Dosen kami menganggap sebagai sesuatu yang wajar bahwa simpati yang kami rasakan terhadap pasien tersebut tidak berada di bawah kendali kami; simpati itu akan muncul dari Sistem 1.

Selain itu, kami juga tidak diajarkan untuk secara umum mencurigai perasaan kami terhadap pasien. Kami hanya diberi tahu bahwa ketertarikan kuat terhadap pasien yang memiliki riwayat panjang kegagalan terapi adalah tanda bahaya—seperti sirip pada garis-garis sejajar. Itu adalah sebuah ilusi—sebuah ilusi kognitif—dan saya (Sistem 2) diajarkan cara mengenalinya serta dianjurkan untuk tidak mempercayainya atau bertindak berdasarkan ilusi tersebut.

Pertanyaan yang paling sering diajukan mengenai ilusi kognitif adalah apakah ilusi itu dapat diatasi. Pesan dari contoh-contoh ini tidak terlalu menggembirakan. Karena Sistem 1 beroperasi secara otomatis dan tidak dapat dimatikan sesuka hati, kesalahan dalam pemikiran intuitif sering kali sulit dicegah. Bias tidak selalu dapat dihindari, karena Sistem 2 mungkin bahkan tidak menyadari adanya kesalahan.

Bahkan ketika tanda-tanda yang menunjukkan kemungkinan kesalahan tersedia, kesalahan hanya dapat dicegah melalui pemantauan yang lebih ketat dan aktivitas Sistem 2 yang menuntut usaha. Namun sebagai cara menjalani kehidupan, kewaspadaan terus-menerus bukanlah sesuatu yang baik, dan tentu saja tidak praktis. Terus-menerus mempertanyakan pemikiran kita sendiri akan sangat melelahkan, dan Sistem 2 terlalu lambat serta tidak efisien untuk menggantikan Sistem 1 dalam membuat keputusan sehari-hari.

Yang terbaik yang dapat kita lakukan adalah sebuah kompromi: belajar mengenali situasi di mana kesalahan kemungkinan besar terjadi, dan berusaha lebih keras untuk menghindari kesalahan besar ketika taruhannya tinggi. Premis buku ini adalah bahwa lebih mudah mengenali kesalahan orang lain daripada kesalahan kita sendiri.

FIKSI BERGUNA

Anda telah diajak berpikir mengenai dua sistem sebagai pelaku-pelaku dalam akal budi, dengan kepribadian, kemampuan, dan keterbatasan masing-masing. Saya akan sering menggunakan kalimat dengan sistem sebagai subjek, seperti “Sistem 2 menghitung jawaban soal matematika.”

Penggunaan bahasa seperti itu dianggap dosa di kalangan profesional yang saya libati, karena seolah-olah menjelaskan pemikiran dan tindakan seseorang dengan merujuk pada pemikiran dan tindakan orang-orang kecil dalam kepala seseorang tersebut.

Kalimat mengenai Sistem 2 tadi secara tata bahasa sama dengan “Si pelayan mencuri uang.” Para kolega saya bakal menunjukkan bahwa tindakan si pelayan benar-benar menjelaskan hilangnya uang, dan mereka layak mempertanyakan apakah kalimat mengenai Sistem 2 benar menjelaskan bagaimana jawaban soal matematika dihitung.

Jawaban saya adalah kalimat aktif singkat yang mengaitkan perhitungan dengan Sistem 2 dimaksudkan sebagai deskripsi, bukan penjelasan. Kalimat itu hanya bermakna sehubungan dengan apa yang sudah kita ketahui mengenai Sistem 2.

Kalimat itu adalah singkatan kalimat berikut: “Aritmetika mental adalah kegiatan disengaja yang butuh usaha, jangan dilakukan sambil membelokkan mobil, dan terkait pembesaran pupil serta peningkatan laju denyut jantung.”

Begitu juga, pernyataan bahwa “menyetir di jalan tol dalam kondisi biasa diserahkan ke Sistem 1” berarti bahwa menyetir mobil dalam kondisi biasa bersifat otomatis dan nyaris tanpa usaha. Artinya juga, seorang sopir berpengalaman bisa menyetir di jalan kosong sambil mengobrol.

Terakhir, “Sistem 2 mencegah James bertindak konyol menanggapi hinaan” berarti James bakal menanggapi dengan lebih agresif jika kemampuannya mengendalikan diri terganggu (misalnya kalau dia mabuk).

Sistem 1 dan Sistem 2 sangat penting bagi cerita buku ini sehingga saya harus benar-benar menegaskan bahwa keduanya adalah tokoh fiktif. Sistem 1 dan 2 bukan sistem dalam arti standar dengan aspek-aspek atau bagian-bagian yang saling berinteraksi. Dan dalam otak tidak ada tempat khusus yang menjadi kedudukan sistem-sistem itu.

Boleh saja Anda bertanya: Apa tujuan memperkenalkan tokoh-tokoh fiktif dengan nama-nama jelek dalam buku serius? Jawabannya adalah tokoh-tokoh itu berguna karena keunikan akal budi Anda dan saya.

Suatu kalimat lebih gampang dimengerti jika menjabarkan apa yang dilakukan suatu pelaku (Sistem 2) daripada jika menjabarkan sesuatu berikut sifatnya. Dengan kata lain, “Sistem 2” adalah subjek yang lebih bagus untuk kalimat daripada “aritmetika mental”.

Akal budi—khususnya Sistem 1—tampaknya punya kecakapan lebih untuk membangun dan menafsirkan cerita mengenai pelaku-pelaku aktif yang punya kepribadian, kebiasaan, dan kemampuan.

Dengan cepat Anda membentuk pendapat negatif terhadap si pelayan yang mencuri, Anda memperkirakan dia akan melakukan hal-hal buruk lainnya, dan Anda akan mengingatnya untuk sementara. Itu juga yang saya harapkan bagi istilah dua sistem.

Mengapa menyebut keduanya Sistem 1 dan Sistem 2, bukan “sistem otomatis” dan “sistem berusaha” yang lebih deskriptif? Alasannya sederhana: “Sistem otomatis” lebih panjang diucapkan daripada “Sistem 1” sehingga makan lebih banyak tempat dalam ingatan kerja Anda.

Itu penting, karena apa pun yang memenuhi ingatan kerja Anda mengurangi kemampuan Anda berpikir. Sebaiknya Anda memperlakukan “Sistem 1” dan “Sistem 2” sebagai julukan, seperti Bob dan Joe, untuk menunjuk tokoh-tokoh yang akan Anda kenal sepanjang buku ini.

Sistem-sistem fiksi mempermudah saya berpikir mengenai pertimbangan dan pilihan, serta mempermudah Anda memahami apa yang saya katakan.

BICARA TENTANG SISTEM 1 DAN SISTEM 2

“Dia mendapat kesan, tapi sebagian kesan itu ilusi.”

“Ini tanggapan murni Sistem 1. Dia bereaksi terhadap ancaman sebelum sadar bahwa itu ancaman.”

“Ini Sistem 1 Anda yang berbicara. Perlambat dan biarkan Sistem 2 Anda mengambil alih.”

Perhatian dan Upaya

Dalam kemungkinan yang kecil bahwa buku ini dijadikan film, Sistem 2 akan tampil sebagai tokoh pendukung yang meyakini dirinya sebagai pahlawan. Ciri yang menentukan dari Sistem 2, dalam kisah ini, adalah bahwa operasinya menuntut upaya; dan salah satu sifat utamanya adalah kemalasan—keengganan untuk mencurahkan usaha lebih dari yang benar-benar diperlukan. Akibatnya, pikiran dan tindakan yang diyakini Sistem 2 sebagai pilihannya sendiri sering kali sebenarnya dibimbing oleh tokoh utama dalam cerita ini, yakni Sistem 1. Namun ada sejumlah tugas penting yang hanya dapat dilakukan oleh Sistem 2, karena tugas-tugas itu menuntut upaya dan pengendalian diri—keadaan ketika intuisi dan dorongan Sistem 1 harus ditaklukkan.

Upaya Mental

Jika Anda ingin merasakan Sistem 2 bekerja dengan kemampuan penuh, latihan berikut dapat melakukannya; latihan ini kemungkinan akan membawa Anda ke batas kemampuan kognitif Anda dalam waktu lima detik. Untuk memulai, buatlah beberapa rangkaian yang masing-masing terdiri dari empat digit berbeda, lalu tuliskan setiap rangkaian pada sebuah kartu indeks. Letakkan satu kartu kosong di bagian atas tumpukan tersebut. Tugas yang akan Anda lakukan disebut Tambah-1. Berikut caranya:

Mulailah mengetuk irama yang tetap (atau lebih baik lagi, atur metronom pada 1 detik per ketukan).
Ambil kartu kosong itu dan bacakan empat digit yang tertulis.
Tunggu dua ketukan, lalu sebutkan rangkaian baru di mana setiap digit asli ditambah satu. Jika digit pada kartu adalah 5294, jawaban yang benar adalah 6305. Menjaga irama tetap sangat penting.

Hanya sedikit orang yang mampu menangani lebih dari empat digit dalam tugas Tambah-1, tetapi jika Anda menginginkan tantangan yang lebih berat, cobalah Tambah-3.

Jika Anda ingin mengetahui apa yang dilakukan tubuh Anda ketika pikiran bekerja keras, siapkan dua tumpukan buku di atas meja yang kokoh. Letakkan kamera video di atas salah satu tumpukan dan sandarkan dagu Anda pada tumpukan yang lain. Nyalakan kamera, lalu tatap lensa kamera ketika Anda mengerjakan latihan Tambah-1 atau Tambah-3. Setelah itu, Anda akan menemukan pada perubahan ukuran pupil mata Anda sebuah catatan yang sangat akurat tentang seberapa keras Anda bekerja.

Saya memiliki sejarah pribadi yang panjang dengan tugas Tambah-1. Pada awal karier saya, saya menghabiskan satu tahun di Universitas Michigan sebagai tamu di sebuah laboratorium yang meneliti hipnosis. Ketika mencari topik penelitian yang berguna, saya menemukan sebuah artikel dalam Scientific American di mana psikolog Eckhard Hess menggambarkan pupil mata sebagai jendela menuju jiwa. Baru-baru ini saya membacanya kembali dan sekali lagi merasa terinspirasi. Artikel itu dimulai dengan laporan Hess bahwa istrinya memperhatikan pupil matanya membesar ketika ia memandang foto-foto alam yang indah, dan berakhir dengan dua foto mencolok dari perempuan yang sama dan menarik—yang entah bagaimana tampak jauh lebih menawan pada salah satu foto dibandingkan pada foto lainnya. Hanya ada satu perbedaan: pada foto yang tampak lebih menarik, pupil matanya melebar; pada foto lainnya, pupil itu menyempit.

Hess juga menulis tentang belladonna, zat yang melebarkan pupil dan dahulu digunakan sebagai kosmetik, serta tentang para pembeli di pasar yang mengenakan kacamata hitam untuk menyembunyikan tingkat ketertarikan mereka dari para pedagang.

Salah satu temuan Hess secara khusus menarik perhatian saya. Ia mengamati bahwa pupil merupakan indikator yang sangat peka terhadap upaya mental—pupil akan melebar secara nyata ketika seseorang mengalikan bilangan dua digit, dan pelebarannya lebih besar jika soalnya sulit dibandingkan jika mudah. Pengamatannya menunjukkan bahwa respons terhadap upaya mental berbeda dari rangsangan emosional.

Penelitian Hess tidak banyak berkaitan dengan hipnosis, tetapi saya menyimpulkan bahwa gagasan tentang indikator yang terlihat bagi upaya mental memiliki potensi besar sebagai topik penelitian. Seorang mahasiswa pascasarjana di laboratorium itu, Jackson Beatty, berbagi antusiasme saya, dan kami pun mulai bekerja.

Beatty dan saya merancang suatu pengaturan yang mirip ruang pemeriksaan optik. Peserta eksperimen menyandarkan kepala pada penopang dagu dan dahi, lalu menatap kamera sambil mendengarkan informasi yang telah direkam sebelumnya dan menjawab pertanyaan mengikuti ketukan metronom yang juga direkam. Setiap ketukan memicu kilatan inframerah setiap detik, yang sekaligus mengambil foto. Pada akhir setiap sesi eksperimen, kami segera berlari untuk mencuci film, memproyeksikan gambar pupil ke layar, lalu mulai mengukurnya dengan penggaris. Metode ini sangat cocok bagi peneliti muda yang tidak sabar: kami hampir segera mengetahui hasilnya, dan hasil itu selalu menyampaikan cerita yang jelas.

Beatty dan saya memusatkan perhatian pada tugas-tugas berirama seperti Tambah-1, di mana kami mengetahui dengan tepat apa yang sedang dipikirkan peserta setiap saat. Kami merekam rangkaian digit mengikuti ketukan metronom dan menginstruksikan peserta untuk mengulangi atau mengubah digit-digit tersebut satu per satu, sambil mempertahankan irama yang sama.

Kami segera menemukan bahwa ukuran pupil berubah dari detik ke detik, mencerminkan tuntutan tugas yang berubah-ubah. Pola responsnya berbentuk huruf V terbalik. Seperti yang mungkin Anda rasakan ketika mencoba Tambah-1 atau Tambah-3, upaya mental meningkat setiap kali Anda mendengar digit tambahan, mencapai puncak yang hampir tak tertahankan ketika Anda bergegas menghasilkan rangkaian yang telah diubah selama dan segera setelah jeda, lalu perlahan mereda ketika Anda “mengosongkan” ingatan jangka pendek Anda.

Data pupil itu sangat sesuai dengan pengalaman subjektif: rangkaian yang lebih panjang secara konsisten menyebabkan pelebaran yang lebih besar; tugas transformasi menambah beban upaya; dan puncak ukuran pupil bertepatan dengan puncak usaha mental. Tugas Tambah-1 dengan empat digit menghasilkan pelebaran pupil yang lebih besar daripada tugas menahan tujuh digit untuk diingat seketika. Tambah-3—yang jauh lebih sulit—merupakan tugas paling menuntut yang pernah saya amati. Dalam lima detik pertama, pupil melebar hingga sekitar 50 persen dari luas aslinya dan denyut jantung meningkat sekitar tujuh kali per menit. Inilah batas kerja keras manusia—mereka akan menyerah jika dituntut lebih jauh.

Ketika kami memperlihatkan kepada peserta lebih banyak digit daripada yang dapat mereka ingat, pupil mereka berhenti melebar atau bahkan menyusut.

Selama beberapa bulan kami bekerja di ruang bawah tanah yang luas, di mana kami memasang sistem sirkuit tertutup yang memproyeksikan gambar pupil peserta ke layar di koridor; kami juga dapat mendengar apa yang terjadi di dalam laboratorium. Diameter pupil yang diproyeksikan sekitar satu kaki; menyaksikannya membesar dan menyempit ketika peserta bekerja merupakan pemandangan yang memikat, sekaligus menjadi daya tarik bagi para pengunjung laboratorium kami.

Kami sering bersenang-senang sekaligus membuat para tamu terkesan dengan kemampuan kami menebak kapan peserta menyerah terhadap suatu tugas. Dalam perkalian mental, pupil biasanya membesar dengan cepat dalam beberapa detik dan tetap besar selama orang itu terus mengerjakan soal; pupil segera menyusut ketika ia menemukan jawaban atau menyerah. Ketika mengamati dari koridor, kami kadang mengejutkan baik pemilik pupil maupun para tamu dengan bertanya, “Mengapa Anda berhenti bekerja barusan?” Jawaban dari dalam laboratorium sering kali, “Bagaimana Anda tahu?” dan kami akan menjawab, “Kami memiliki jendela menuju jiwa Anda.”

Pengamatan santai yang kami lakukan dari koridor kadang sama informatifnya dengan eksperimen formal. Saya membuat penemuan penting ketika secara iseng mengamati pupil seorang perempuan pada sela waktu antara dua tugas. Ia tetap berada pada posisi dengan dagu bertumpu, sehingga saya masih dapat melihat gambar matanya ketika ia terlibat percakapan biasa dengan peneliti. Saya terkejut melihat bahwa pupilnya tetap kecil dan tidak melebar secara nyata ketika ia berbicara dan mendengarkan. Tidak seperti tugas-tugas yang kami teliti, percakapan sehari-hari tampaknya hampir tidak menuntut usaha—tidak lebih berat daripada menahan dua atau tiga digit dalam ingatan.

Itu merupakan momen eureka: saya menyadari bahwa tugas-tugas yang kami pilih untuk diteliti ternyata sangat menuntut upaya. Sebuah gambaran muncul dalam benak saya: kehidupan mental—hari ini saya akan menyebutnya kehidupan Sistem 2—biasanya berlangsung pada kecepatan berjalan santai, sesekali diselingi episode berlari kecil, dan pada kesempatan yang jarang berubah menjadi lari cepat yang panik. Latihan Tambah-1 dan Tambah-3 adalah lari cepat; percakapan santai adalah jalan-jalan.

Kami menemukan bahwa orang yang sedang terlibat dalam “lari cepat mental” dapat menjadi secara efektif buta. Para penulis The Invisible Gorilla membuat gorila itu “tak terlihat” dengan membuat para pengamat sangat sibuk menghitung operan. Kami melaporkan contoh kebutaan yang lebih sederhana selama tugas Tambah-1. Peserta kami diperlihatkan serangkaian huruf yang berkedip sangat cepat ketika mereka bekerja. Mereka diberi tahu untuk memprioritaskan tugas digit sepenuhnya, tetapi juga diminta melaporkan pada akhir tugas digit apakah huruf K pernah muncul selama percobaan.

Temuan utamanya adalah bahwa kemampuan mendeteksi dan melaporkan huruf sasaran berubah sepanjang sepuluh detik latihan tersebut. Para pengamat hampir tidak pernah melewatkan huruf K yang muncul pada awal atau menjelang akhir tugas Tambah-1, tetapi mereka gagal melihatnya hampir setengah dari waktu ketika upaya mental berada pada puncaknya—meskipun kami memiliki foto mata mereka yang terbuka lebar menatap tepat ke arahnya.

Kegagalan deteksi itu mengikuti pola V terbalik yang sama dengan pelebaran pupil. Kesamaan ini menenteramkan: pupil merupakan ukuran yang baik bagi rangsangan fisik yang menyertai upaya mental, sehingga kami dapat terus menggunakannya untuk memahami bagaimana pikiran bekerja.

Seperti meteran listrik di luar rumah atau apartemen Anda, pupil memberikan indeks tentang laju penggunaan energi mental saat ini. Analogi ini cukup mendalam. Penggunaan listrik Anda bergantung pada apa yang Anda pilih untuk lakukan—apakah menyalakan lampu atau memanggang roti. Ketika Anda menyalakan lampu atau pemanggang roti, alat itu menarik energi yang diperlukan, tetapi tidak lebih dari itu. Demikian pula, kita memutuskan apa yang akan dilakukan, tetapi kita memiliki kendali yang terbatas atas seberapa besar upaya yang dibutuhkan untuk melakukannya.

Bayangkan Anda diperlihatkan empat digit, misalnya 9462, dan diberi tahu bahwa hidup Anda bergantung pada kemampuan Anda mempertahankan digit tersebut dalam ingatan selama sepuluh detik. Betapapun Anda ingin tetap hidup, Anda tidak akan mampu mengerahkan upaya sebesar yang diperlukan untuk melakukan transformasi Tambah-3 pada digit yang sama.

Sistem 2 dan rangkaian listrik di rumah Anda sama-sama memiliki kapasitas terbatas, tetapi keduanya merespons beban berlebih dengan cara yang berbeda. Sekering listrik akan putus ketika permintaan arus terlalu besar, menyebabkan semua perangkat pada rangkaian itu kehilangan daya sekaligus. Sebaliknya, respons terhadap kelebihan beban mental bersifat selektif dan tepat: Sistem 2 melindungi aktivitas yang paling penting sehingga aktivitas itu memperoleh perhatian yang dibutuhkannya; kapasitas yang tersisa dialokasikan dari detik ke detik kepada tugas lain.

Dalam versi kami dari eksperimen gorila, kami menginstruksikan peserta untuk memprioritaskan tugas digit. Kami tahu mereka mengikuti instruksi itu, karena waktu kemunculan target visual tidak memengaruhi tugas utama. Jika huruf penting muncul pada saat tuntutan mental sedang tinggi, peserta sama sekali tidak melihatnya. Ketika tugas transformasi kurang menuntut, kemampuan mendeteksi huruf menjadi lebih baik.

Pengalokasian perhatian yang canggih ini telah diasah oleh sejarah evolusi yang panjang. Kemampuan untuk segera mengarahkan perhatian dan merespons ancaman paling serius atau peluang paling menjanjikan meningkatkan peluang bertahan hidup, dan kemampuan ini tentu tidak terbatas pada manusia. Bahkan pada manusia modern, Sistem 1 mengambil alih dalam keadaan darurat dan memberikan prioritas penuh pada tindakan yang melindungi diri.

Bayangkan Anda berada di balik kemudi mobil yang tiba-tiba tergelincir di atas genangan oli yang luas. Anda akan mendapati bahwa Anda telah merespons ancaman itu bahkan sebelum sepenuhnya menyadarinya.

Beatty dan saya bekerja bersama hanya selama satu tahun, tetapi kolaborasi kami memberi pengaruh besar terhadap perjalanan karier kami selanjutnya. Ia pada akhirnya menjadi otoritas terkemuka dalam bidang “pupilometri kognitif,” dan saya menulis sebuah buku berjudul Attention and Effort, yang sebagian besar didasarkan pada apa yang kami pelajari bersama serta pada penelitian lanjutan yang saya lakukan di Harvard pada tahun berikutnya.

Kami mempelajari banyak hal tentang pikiran yang bekerja—yang kini saya bayangkan sebagai Sistem 2—dengan mengukur pupil dalam berbagai macam tugas. Ketika Anda menjadi semakin terampil dalam suatu tugas, tuntutan energinya akan berkurang. Penelitian tentang otak menunjukkan bahwa pola aktivitas yang berkaitan dengan suatu tindakan berubah seiring meningkatnya keterampilan, dengan semakin sedikit wilayah otak yang terlibat.

Bakat memiliki efek serupa. Individu yang sangat cerdas memerlukan usaha yang lebih kecil untuk memecahkan masalah yang sama, sebagaimana ditunjukkan oleh ukuran pupil maupun aktivitas otak mereka.

Sebuah “hukum usaha minimum” yang umum berlaku pada pengerahan kognitif maupun fisik. Hukum ini menyatakan bahwa jika terdapat beberapa cara untuk mencapai tujuan yang sama, orang pada akhirnya akan cenderung memilih jalur tindakan yang paling sedikit menuntut usaha. Dalam ekonomi tindakan, usaha adalah biaya, dan perolehan keterampilan digerakkan oleh keseimbangan antara manfaat dan biaya. Kemalasan tertanam sangat dalam dalam sifat dasar kita.

Tugas-tugas yang kami pelajari menunjukkan variasi yang cukup besar dalam pengaruhnya terhadap pupil. Pada keadaan dasar, para peserta kami berada dalam kondisi terjaga, sadar, dan siap mengerjakan tugas—barangkali pada tingkat kesiagaan dan kesiapan kognitif yang lebih tinggi daripada biasanya. Menahan satu atau dua digit dalam ingatan, atau mempelajari asosiasi antara sebuah kata dan digit (misalnya 3 = pintu), menghasilkan efek yang konsisten terhadap rangsangan sesaat di atas garis dasar tersebut, tetapi efeknya sangat kecil—hanya sekitar 5 persen dari peningkatan diameter pupil yang muncul pada tugas Tambah-3.

Tugas yang menuntut pembedaan tinggi nada antara dua bunyi menghasilkan pelebaran pupil yang jauh lebih besar. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa menahan dorongan untuk membaca kata-kata yang mengganggu (seperti pada Gambar 2 di bab sebelumnya) juga menimbulkan usaha yang sedang. Tes ingatan jangka pendek untuk enam atau tujuh digit lebih menuntut lagi.

Seperti yang dapat Anda rasakan sendiri, permintaan untuk mengingat dan menyebutkan nomor telepon Anda atau tanggal lahir pasangan Anda juga memerlukan usaha yang singkat tetapi berarti, karena seluruh rangkaian angka harus dipertahankan dalam ingatan sementara Anda mengatur respons. Perkalian mental bilangan dua digit dan tugas Tambah-3 berada mendekati batas kemampuan yang dapat dicapai oleh kebanyakan orang.

Apa yang membuat beberapa operasi kognitif lebih menuntut dan lebih memerlukan usaha daripada yang lain? Hasil apa yang harus “dibayar” dengan mata uang perhatian? Apa yang dapat dilakukan Sistem 2 yang tidak dapat dilakukan Sistem 1? Kini kita memiliki jawaban sementara terhadap pertanyaan-pertanyaan ini.

Usaha diperlukan untuk mempertahankan secara bersamaan beberapa gagasan dalam ingatan—gagasan yang memerlukan tindakan terpisah, atau yang harus digabungkan menurut suatu aturan. Misalnya: mengulang daftar belanja Anda ketika memasuki supermarket; memilih antara hidangan ikan dan daging sapi muda di restoran; atau menggabungkan hasil survei yang mengejutkan dengan informasi bahwa sampelnya kecil.

Hanya Sistem 2 yang mampu mengikuti aturan, membandingkan objek berdasarkan beberapa atribut sekaligus, dan membuat pilihan yang disengaja di antara berbagai opsi. Sistem 1 yang otomatis tidak memiliki kemampuan tersebut. Sistem 1 mampu mendeteksi hubungan sederhana (“mereka semua sama,” “anak laki-laki itu jauh lebih tinggi daripada ayahnya”) dan sangat mahir mengintegrasikan informasi tentang satu hal, tetapi ia tidak dapat menangani beberapa topik yang berbeda secara bersamaan, juga tidak terampil menggunakan informasi yang murni bersifat statistik.

Sistem 1 akan segera menyadari bahwa seseorang yang digambarkan sebagai “pribadi yang lembut dan rapi, membutuhkan keteraturan dan struktur, serta memiliki kegemaran pada detail” menyerupai karikatur seorang pustakawan. Namun menggabungkan intuisi tersebut dengan pengetahuan tentang kecilnya jumlah pustakawan dalam populasi adalah tugas yang hanya dapat dilakukan oleh Sistem 2—jika Sistem 2 mengetahui cara melakukannya, yang sebenarnya hanya dimiliki oleh sedikit orang.

Salah satu kemampuan penting Sistem 2 adalah mengadopsi apa yang disebut “pengaturan tugas” (task sets): ia dapat memprogram ingatan untuk mematuhi suatu instruksi yang mengesampingkan respons kebiasaan.

Perhatikan contoh berikut: hitunglah semua kemunculan huruf f pada halaman ini. Ini bukan tugas yang pernah Anda lakukan sebelumnya dan tidak akan muncul secara alami, tetapi Sistem 2 Anda mampu melaksanakannya. Menyiapkan diri untuk latihan ini memerlukan usaha, dan melaksanakannya pun memerlukan usaha—meskipun Anda hampir pasti akan menjadi lebih mahir dengan latihan.

Para psikolog menggunakan istilah “kendali eksekutif” untuk menggambarkan proses mengadopsi dan mengakhiri pengaturan tugas, dan para ahli saraf telah mengidentifikasi wilayah utama otak yang menjalankan fungsi eksekutif tersebut. Salah satu wilayah itu terlibat setiap kali suatu konflik harus diselesaikan. Wilayah lainnya adalah area prefrontal otak—bagian yang jauh lebih berkembang pada manusia dibandingkan pada primata lain—yang berperan dalam operasi yang kita kaitkan dengan kecerdasan.

Sekarang bayangkan bahwa di akhir halaman Anda menerima instruksi lain: hitunglah semua tanda koma pada halaman berikutnya. Tugas ini akan lebih sulit, karena Anda harus menahan kecenderungan yang baru saja terbentuk untuk memusatkan perhatian pada huruf f. Salah satu penemuan penting psikologi kognitif dalam beberapa dekade terakhir adalah bahwa berpindah dari satu tugas ke tugas lain memerlukan usaha, terutama di bawah tekanan waktu.

Kebutuhan untuk berpindah dengan cepat merupakan salah satu alasan mengapa tugas Tambah-3 dan perkalian mental begitu sulit. Untuk melaksanakan tugas Tambah-3, Anda harus menahan beberapa digit sekaligus dalam memori kerja Anda, sambil mengaitkan masing-masing dengan operasi tertentu: beberapa digit berada dalam antrean untuk diubah, satu digit sedang dalam proses perubahan, dan digit lain—yang sudah diubah—ditahan untuk dilaporkan.

Tes memori kerja modern menuntut seseorang untuk berulang kali berpindah antara dua tugas yang menuntut, mempertahankan hasil dari satu operasi sambil melakukan operasi lainnya. Orang yang berkinerja baik dalam tes ini cenderung juga berkinerja baik dalam tes kecerdasan umum. Namun kemampuan mengendalikan perhatian bukan sekadar ukuran kecerdasan; ukuran efisiensi dalam pengendalian perhatian dapat memprediksi kinerja pengendali lalu lintas udara maupun pilot Angkatan Udara Israel, melampaui pengaruh kecerdasan itu sendiri.

Tekanan waktu merupakan pendorong lain bagi usaha mental. Ketika Anda melakukan latihan Tambah-3, rasa terburu-buru sebagian dipaksakan oleh metronom dan sebagian lagi oleh beban ingatan. Seperti seorang pemain sulap yang menjaga beberapa bola tetap melayang di udara, Anda tidak dapat memperlambat gerakan; laju peluruhan informasi dalam ingatan memaksa tempo kerja Anda, mendorong Anda untuk menyegarkan dan mengulang informasi sebelum ia hilang.

Setiap tugas yang menuntut Anda mempertahankan beberapa gagasan sekaligus memiliki sifat tergesa-gesa yang sama. Kecuali Anda memiliki keberuntungan berupa memori kerja yang sangat luas, Anda mungkin terpaksa bekerja dengan keras dan tidak nyaman.

Bentuk-bentuk berpikir lambat yang paling menuntut justru adalah yang mengharuskan Anda berpikir cepat.

Anda mungkin menyadari ketika mengerjakan Tambah-3 betapa tidak lazimnya pikiran Anda bekerja sekeras itu. Bahkan jika Anda mencari nafkah dengan berpikir, sangat sedikit tugas mental yang Anda lakukan sepanjang hari kerja yang menuntut usaha sebesar Tambah-3—atau bahkan sebesar menahan enam digit untuk diingat segera.

Biasanya kita menghindari kelebihan beban mental dengan membagi tugas menjadi beberapa langkah yang mudah, menyimpan hasil sementara dalam ingatan jangka panjang atau di atas kertas, alih-alih membebani memori kerja yang mudah kewalahan. Kita menempuh jarak jauh dengan berjalan perlahan, dan menjalani kehidupan mental kita mengikuti hukum usaha minimum.

Berbicara tentang Attention and Effort

“Saya tidak akan mencoba menyelesaikan ini sambil mengemudi. Ini tugas yang membuat pupil melebar. Tugas ini membutuhkan usaha mental!”

“Hukum usaha minimum sedang bekerja di sini. Dia akan berpikir sesedikit mungkin.”

“Dia tidak melupakan rapat itu. Saat rapat dijadwalkan, dia sedang benar-benar terfokus pada hal lain dan sama sekali tidak mendengar Anda.”

“Apa yang langsung muncul di benak saya adalah intuisi dari Sistem 1. Saya harus memulai lagi dan menelusuri ingatan saya secara sengaja.”

Like

0

Love

0

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment