Buku Bahasa Indonesia Guyton And Hall Textbook of Medical Physiology 46-52

TRANSMISI INTENSITAS SINYAL PADA TRAKTUS SARAF: SUMASI SPASIAL DAN TEMPORAL

Salah satu karakteristik setiap sinyal yang selalu harus disampaikan adalah intensitas sinyal, misalnya intensitas nyeri. Berbagai gradasi intensitas dapat ditransmisikan baik dengan menggunakan jumlah serabut paralel yang semakin banyak maupun dengan mengirimkan lebih banyak potensial aksi melalui satu serabut tunggal. Kedua mekanisme ini masing-masing disebut sumasi spasial dan sumasi temporal.

Sumasi Spasial. Gambar 47-7 menunjukkan fenomena sumasi spasial, di mana peningkatan kekuatan sinyal ditransmisikan dengan menggunakan jumlah serabut yang semakin banyak. Gambar ini menunjukkan suatu bagian kulit yang dipersarafi oleh sejumlah besar serabut nyeri paralel. Masing-masing serabut ini bercabang menjadi ratusan ujung saraf bebas kecil yang berfungsi sebagai reseptor nyeri. Seluruh kumpulan serabut dari satu serabut nyeri sering kali mencakup area kulit dengan diameter sebesar 5 sentimeter. Area ini disebut medan reseptor dari serabut tersebut. Jumlah ujung saraf sangat banyak di pusat medan dan berkurang ke arah perifer. Dari gambar tersebut juga dapat dilihat bahwa fibril yang bercabang saling tumpang tindih dengan fibril dari serabut nyeri lainnya. Oleh karena itu, tusukan jarum pada kulit biasanya merangsang ujung saraf dari banyak serabut nyeri yang berbeda secara simultan. Ketika tusukan berada di pusat medan reseptif suatu serabut nyeri tertentu, derajat stimulasi serabut tersebut jauh lebih besar dibandingkan jika tusukan berada di perifer medan karena jumlah ujung saraf bebas yang lebih banyak di bagian tengah medan.

Dengan demikian, bagian bawah Gambar 47-7 menunjukkan tiga tampilan potongan melintang bundel saraf yang berasal dari area kulit tersebut. Di sebelah kiri tampak efek stimulus lemah, dengan hanya satu serabut saraf di tengah bundel yang terstimulasi kuat (digambarkan sebagai serabut berwarna merah), sedangkan beberapa serabut di sekitarnya terstimulasi lemah (serabut setengah merah). Dua tampilan lainnya dari potongan melintang saraf menunjukkan efek stimulus sedang dan stimulus kuat, dengan semakin banyak serabut yang terstimulasi. Dengan demikian, sinyal yang lebih kuat menyebar ke semakin banyak serabut, suatu fenomena yang disebut sumasi spasial.

Sumasi Temporal. Cara kedua untuk mentransmisikan sinyal dengan kekuatan yang meningkat adalah dengan meningkatkan frekuensi impuls saraf pada setiap serabut, yang disebut sumasi temporal. Gambar 47-8 memperlihatkan fenomena ini, dengan perubahan kekuatan sinyal pada bagian atas dan impuls aktual yang ditransmisikan oleh serabut saraf pada bagian bawah.

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

TRANSMISI DAN PEMROSESAN SINYAL PADA POOL NEURON

Sistem saraf pusat tersusun atas ribuan hingga jutaan pool neuron; beberapa pool hanya mengandung sedikit neuron, sedangkan yang lain mengandung jumlah yang sangat besar. Sebagai contoh, seluruh korteks serebri dapat dianggap sebagai satu pool neuron besar tunggal. Pool neuron lainnya meliputi berbagai ganglia basalis dan nukleus spesifik pada talamus, serebelum, mesensefalon, pons, dan medula. Selain itu, seluruh substansia grisea dorsal medula spinalis juga dapat dianggap sebagai satu pool neuron panjang.

Setiap pool neuron memiliki organisasi khusus yang menyebabkan pool tersebut memproses sinyal dengan cara yang unik, sehingga keseluruhan kumpulan pool dapat menjalankan berbagai fungsi sistem saraf. Namun, meskipun memiliki perbedaan fungsi, pool-pool tersebut juga memiliki banyak prinsip fungsi yang serupa, sebagaimana dijelaskan pada bagian berikut.

PENERUSAN SINYAL MELALUI POOL NEURON

Organisasi Neuron untuk Meneruskan Sinyal. Gambar 47-9 merupakan diagram skematik beberapa neuron dalam suatu pool neuron, yang menunjukkan serabut input di sebelah kiri dan serabut “output” di sebelah kanan. Setiap serabut input bercabang ratusan hingga ribuan kali, menghasilkan seribu atau lebih fibril terminal yang menyebar pada area luas dalam pool untuk bersinaps dengan dendrit atau badan sel neuron di dalam pool tersebut. Dendrit biasanya juga bercabang dan menyebar sejauh ratusan hingga ribuan mikrometer di dalam pool.

Area neuron yang distimulasi oleh setiap serabut saraf masuk disebut medan stimulasi. Perhatikan bahwa sejumlah besar terminal dari setiap serabut input berada pada neuron terdekat dalam “medannya,” tetapi jumlah terminal semakin sedikit pada neuron yang lebih jauh.

Stimulus Ambang dan Subambang: Eksitasi atau Fasilitasi. Seperti dibahas pada Bab 46, pelepasan satu terminal presinaptik eksitatorik hampir tidak pernah menimbulkan potensial aksi pada neuron postsinaptik. Sebaliknya, sejumlah besar terminal input harus melepaskan impuls pada neuron yang sama baik secara simultan maupun dalam urutan cepat untuk menimbulkan eksitasi. Sebagai contoh, pada Gambar 47-9, misalkan enam terminal harus melepaskan impuls hampir bersamaan untuk mengeksitasi satu neuron. Perhatikan bahwa serabut input 1 memiliki lebih dari cukup terminal untuk menyebabkan neuron a melepaskan impuls. Stimulus dari serabut input 1 terhadap neuron ini disebut stimulus eksitatorik; stimulus ini juga disebut stimulus suprambang karena berada di atas ambang yang diperlukan untuk eksitasi.

Serabut input 1 juga memberikan terminal pada neuron b dan c, tetapi tidak cukup untuk menimbulkan eksitasi. Namun demikian, pelepasan impuls dari terminal-terminal ini membuat kedua neuron tersebut lebih mudah tereksitasi oleh sinyal yang datang melalui serabut saraf masuk lainnya. Oleh karena itu, stimulus terhadap neuron-neuron ini disebut subambang, dan neuron-neuron tersebut dikatakan mengalami fasilitasi.

Demikian pula, untuk serabut input 2, stimulus terhadap neuron d merupakan stimulus suprambang, sedangkan stimulus terhadap neuron b dan c merupakan stimulus subambang tetapi bersifat memfasilitasi.

Gambar 47-9 menggambarkan versi yang sangat disederhanakan dari suatu pool neuron karena setiap serabut saraf input biasanya memberikan sejumlah besar terminal bercabang kepada ratusan atau ribuan neuron dalam “medan” distribusinya, seperti ditunjukkan pada Gambar 47-10. Pada bagian pusat medan pada gambar ini, yang ditandai dengan area melingkar, semua neuron distimulasi oleh serabut masuk. Oleh karena itu, area ini disebut zona pelepasan dari serabut masuk, juga disebut zona eksitasi atau zona liminal. Di kedua sisi area tersebut, neuron mengalami fasilitasi tetapi tidak tereksitasi; area-area ini disebut zona fasilitasi, juga disebut zona subambang atau zona subliminal.

Inhibisi pada Pool Neuron. Beberapa serabut masuk menghambat neuron, bukan mengeksitasinya. Mekanisme ini merupakan kebalikan dari fasilitasi, dan seluruh medan cabang inhibitorik disebut zona inhibisi. Derajat inhibisi di pusat zona ini besar karena banyaknya ujung saraf di pusat dan berkurang secara progresif ke arah tepi.

Divergensi Sinyal yang Melalui Pool Neuron

Sering kali penting bagi sinyal lemah yang memasuki suatu pool neuron untuk mengeksitasi jumlah serabut saraf keluar yang jauh lebih besar. Fenomena ini disebut divergensi. Terdapat dua jenis utama divergensi yang memiliki tujuan yang sangat berbeda.

Jenis divergensi amplifikasi ditunjukkan pada Gambar 47-11A. Divergensi amplifikasi berarti bahwa sinyal input menyebar ke jumlah neuron yang semakin banyak saat melewati urutan neuron berikutnya dalam jalurnya. Jenis divergensi ini merupakan karakteristik jalur kortikospinal dalam mengontrol otot rangka, di mana satu sel piramidal besar di korteks motorik, dalam kondisi sangat terfasilitasi, mampu mengeksitasi hingga 10.000 serabut otot.

Jenis divergensi kedua, yang ditunjukkan pada Gambar 47-11B, adalah divergensi ke beberapa traktus. Dalam hal ini, sinyal ditransmisikan ke dua arah dari pool. Sebagai contoh, informasi yang ditransmisikan melalui kolumna dorsalis medula spinalis mengambil dua jalur pada bagian bawah otak: (1) menuju serebelum; dan (2) melalui bagian bawah otak menuju talamus dan korteks serebri. Demikian pula, di talamus, hampir semua informasi sensorik diteruskan ke struktur talamus yang lebih dalam dan pada saat yang sama ke area spesifik korteks serebri.

Konvergensi Sinyal

Konvergensi berarti sinyal dari berbagai input bergabung untuk mengeksitasi satu neuron. Gambar 47-12A menunjukkan konvergensi dari satu sumber, yaitu beberapa terminal dari satu traktus serabut masuk berakhir pada neuron yang sama. Pentingnya jenis konvergensi ini adalah bahwa neuron hampir tidak pernah tereksitasi oleh potensial aksi dari satu terminal input tunggal. Namun, potensial aksi yang berkonvergensi pada neuron dari banyak terminal memberikan sumasi spasial yang cukup untuk membawa neuron mencapai ambang yang diperlukan untuk pelepasan impuls.

Konvergensi juga dapat berasal dari sinyal input (eksitatorik atau inhibitorik) dari berbagai sumber, seperti ditunjukkan pada Gambar 47-12B. Sebagai contoh, interneuron medula spinalis menerima sinyal yang berkonvergensi dari: (1) serabut saraf perifer yang memasuki medula spinalis; (2) serabut propriospinal yang berjalan dari satu segmen medula spinalis ke segmen lainnya; (3) serabut kortikospinal dari korteks serebri; dan (4) beberapa jalur panjang lain yang turun dari otak ke medula spinalis. Selanjutnya, sinyal dari interneuron berkonvergensi pada neuron motorik anterior untuk mengontrol fungsi otot.

Konvergensi semacam ini memungkinkan terjadinya penjumlahan informasi dari berbagai sumber, dan respons yang dihasilkan merupakan efek gabungan dari seluruh jenis informasi tersebut. Konvergensi merupakan salah satu cara penting sistem saraf pusat dalam mengorelasikan, menjumlahkan, dan memilah berbagai jenis informasi.

Sirkuit Neuron dengan Sinyal Output Eksitatorik dan Inhibitorik

Kadang-kadang suatu sinyal masuk ke pool neuron menghasilkan sinyal output eksitatorik yang menuju satu arah dan pada saat yang sama menghasilkan sinyal inhibitorik yang menuju tempat lain. Sebagai contoh, pada saat sinyal eksitatorik ditransmisikan melalui satu kelompok neuron di medula spinalis untuk menyebabkan gerakan tungkai ke depan, sinyal inhibitorik ditransmisikan melalui kelompok neuron lain untuk menghambat otot di bagian belakang tungkai sehingga tidak menghambat gerakan ke depan tersebut. Jenis sirkuit ini merupakan karakteristik pengendalian semua pasangan otot antagonis dan disebut sirkuit inhibisi resiprokal.

Gambar 47-13 menunjukkan mekanisme terjadinya inhibisi. Serabut input secara langsung mengeksitasi jalur output eksitatorik, tetapi juga merangsang suatu neuron inhibitorik perantara (neuron 2), yang mensekresikan jenis zat neurotransmiter berbeda untuk menghambat jalur output kedua dari pool. Jenis sirkuit ini juga penting dalam mencegah aktivitas berlebihan pada banyak bagian otak.

DAFTAR PUSTAKA

Anvarian Z, Mykytyn K, Mukhopadhyay S, et al: Cellular signalling by primary cilia in development, organ function and disease. Nat Rev Nephrol 15:199, 2019.

Bennett DL, Clark AJ, Huang J, et al: The role of voltage-gated sodium channels in pain signaling. Physiol Rev 99:1079, 2019.

Bokiniec P, Zampieri N, Lewin GR, Poulet JF: The neural circuits of thermal perception. Curr Opin Neurobiol 2:98, 2018.

Chiu CQ, Barberis A, Higley MJ: Preserving the balance: diverse forms of long-term GABAergic synaptic plasticity. Nat Rev Neurosci 20:272, 2019.

Fettiplace R, Kim KX: The physiology of mechanoelectrical transduction channels in hearing. Physiol Rev 94:951, 2014.

Gallivan JP, Chapman CS, Wolpert DM, Flanagan JR: Decision-making in sensorimotor control. Nat Rev Neurosci 19:519, 2018.

Maßberg D, Hatt H: Human olfactory receptors: novel cellular functions outside of the nose. Physiol Rev 98:1739, 2018.

Murata Y, Colonnese MT: Thalamic inhibitory circuits and network activity development. Brain Res 1706:13, 2019.

Pangrsic T, Singer JH, Koschak A: Voltage-gated calcium channels: key players in sensory coding in the retina and the inner ear. Physiol Rev 98:2063, 2018.

Proske U, Gandevia SC: Kinesthetic senses. Compr Physiol 8:1157, 2018.

Robertson CE, Baron-Cohen S: Sensory perception in autism. Nat Rev Neurosci 18:671, 2017.

Roelfsema PR, Holtmaat A: Control of synaptic plasticity in deep cortical networks. Nat Rev Neurosci 19:166, 2018.

Roper SD, Chaudhari N: Taste buds: cells, signals and synapses. Nat Rev Neurosci 18:485, 2017.

Singh A: Oscillatory activity in the cortico-basal ganglia-thalamic neural circuits in Parkinson’s disease. Eur J Neurosci 48:2869, 2018.

Sjöström PJ, Rancz EA, Roth A, Häusser M: Dendritic excitability and synaptic plasticity. Physiol Rev 88:769, 2008.

Solinski HJ, Hoon MA: Cells and circuits for thermosensation in mammals. Neurosci Lett 690:167, 2019.

Stein BE, Stanford TR, Rowland BA: Development of multisensory integration from the perspective of the individual neuron. Nat Rev Neurosci 15:520, 2014.

Like

0

Love

0

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment