Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan
Kristen Barat akan menjadi sebuah agama sangat riuh berbicara dan memusatkan diri pada kerygma: ini akan menjadi salah satu masalah terbesarnya dalam soal ketuhanan. Akan tetapi, dalam gereja Ortodoks Yunani, semua teologi yang baik akan mengambil sikap diam atau apofatik. Sebagaimana yang dikatakan oleh Gregory dari Nyssa, setiap konsep tentang Tuhan hanyalah sebuah simulakrum, kemiripan yang menyesatkan, sebuah berhala: ia tak bisa mengungkapkan Tuhan itu sendiri.!8 Orang Kristen harus menjadi seperti Abraham, yang, dalam sejarah hidupnya versi Gregory, menyingkirkan semua gagasan tentang Tuhan dan berpegang teguh pada sebuah keimanan yang “murni dan tidak bercampur dengan konsep apa pun”.!'
Dalam Life of Moses, Gregory menekankan bahwa “visi sejati dan pengetahuan tentang apa yang kita cari justru terdapat pada sikap tidak melihat, dalam kesadaran bahwa tujuan kita melampaui semua pengetahuan dan terpisah dari kita oleh kegelapan ketidaktahuan”.18 Kita tak dapat “melihat” Tuhan secara intelektual, namun seandainya kita membiarkan diri kita terbungkus dalam kabut yang pernah turun di gunung Sinai, kita akan merasakan kehadirannya. Basil menggunakan perbedaan yang telah dibuat oleh Philo antara esensi (ousia) dan aktivitas (energeiai) Tuhan di dunia: “Kita mengenal Tuhan kita hanya melalui perbuatannya (energeial), tetapi kita tak berdaya untuk mendekati esensinya.”1? Inilah kata kunci dari semua teologi masa depan di gereja Timur.
Kapadokian juga ingin sekali untuk mengembangkan ajaran tentang Roh Kudus, yang mereka rasakan tidak ditelaah secara sungguh-sungguh di Nicaea: “Dan kami beriman kepada Roh Kudus" kelihatannya hanya ditambahkan begitu saja kepada kredo Athanasius. Orang-orang kebingungan tentang Roh Kudus. Apakah ia bersinonim dengan Tuhan atau merupakan sesuatu yang lebih? "Ada yang memahami (Roh itu) sebagai sebuah aktivitas,” ujar Gregory dari Nazianzus, “ada pula sebagai makhluk, sebagai Tuhan, dan sebagian lagi tak yakin harus menyebutnya apa.”20
Paulus berbicara tentang Roh Kudus sebagai upaya pembaruan, penciptaan, dan penyucian, tetapi aktivitas-aktivitas ini hanya mungkin dikerjakan oleh Tuhan. Oleh karena itu, akibatnya, Roh Kudus, yang kehadirannya di dalam diri kita dipandang sebagai penyelamat kita, pastilah ilahiah dan bukan sekadar makhluk ciptaan. Kapadokian menggunakan rumusan yang pernah dipakai Athanasius dalam perselisihannya dengan Arius: Tuhan memiliki satu esensi (ousia) yang tak dapat kita pahami— tetapi tiga bentuk ekspresi (hypostases) yang membuat dia diketahui.
Alih-alih mengawali penjelasan mereka tentang Tuhan dengan ousia-nya yang tak dapat dikenali, Kapadokian memulai dengan pengalaman manusia tentang hypostases Tuhan. Karena ousia Tuhan itu tak terpahamkan, maka kita hanya dapat mengenalnya melalui manifestasi-manifestasi yang telah diwahyukan kepada kita sebagai Bapa, Putra, dan Roh. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa Kapadokian percaya kepada tiga wujud Ilahi, sebagaimana dibayangkan oleh para teolog Barat.
Kata hypostasis membingungkan bagi kebanyakan orang yang tidak mengenal bahasa Yunani, karena kata itu memiliki banyak makna: sebagian sarjana latin, seperti St. Jerome percaya bahwa kata hypostasis memiliki arti yang sama dengan ousia dan berpikir bahwa orang-orang Yunani mempercayai adanya tiga esensi Ilahi. Namun, Kapadokian menegaskan ada satu perbedaan penting antara ousia dengan hypostasis yang harus betul-betul diingat.
Ousia sebuah objek adalah yang menjadikan objek itu sebagaimana adanya, ousia biasanya diterapkan pada objek sebagaimana adanya di dalam dirinya sendiri. Sedangkan hypostasis dipakai untuk mengungkapkan suatu objek dilihat dari luar.
Kadang kala, Kapadokian suka menggunakan kata prosopon untuk menggantikan hypostasis. Prosopon pada dasarnya berarti “daya”, tetapi juga telah mendapatkan sejumlah arti sekunder sehingga ia juga dipakai untuk merujuk kepada ekspresi wajah seseorang yang mencerminkan keadaan pikirannya, juga untuk sebuah peran yang secara sadar diadopsinya atau karakter yang diniatkan untuk dijalaninya. Akibatnya, tidak berbeda dengan hypostasis, prosopon berarti ekspresi luar watak batin seorang individu sebagaimana tampak oleh orang lain.
Jadi, ketika Kapadokian berkata bahwa Tuhan adalah satu ousia dalam tiga hypostasis, sesungguhnya yang mereka maksudkan adalah Tuhan dalam dirinya sendiri itu Satu: hanya ada satu kesadaran diri ilahi. Akan tetapi, ketika dia membiarkan bagian dari dirinya diketahui oleh makhluknya, dia adalah tiga prosopoi.
Dengan demikian, hypostases Bapa, Putra, dan Roh tidak mesti disamakan dengan Tuhan itu sendiri, karena, seperti dijelaskan oleh Gregory dari Nyssa, “hakikat ilahi (ousia) tak dapat dinamai dan dibicarakan”, “Bapa”, “Putra”, dan “Roh” hanyalah “istilahistilah yang kita pakai” untuk membicarakan energeiai yang melaluinya Tuhan menjadikan dirinya diketahui.2'
Sungguhpun demikian, istilah-istilah ini memiliki nilai simbolik karena mereka menerjemahkan realitas yang tak terucap itu ke dalam citra-citra yang dapat kita mengerti. Manusia telah mengalami Tuhan sebagai yang transenden (Bapa, tersembunyi di dalam cahaya yang tak tertembus), dan sebagai yang kreatif (logos), dan sebagai yang imanen (Roh Kudus). Namun, ketiga hypostases ini hanyalah kilasan parsial dan tak lengkap dari hakikat ilahi itu sendiri, yang berada jauh di atas penggambaran dan konseptualisasi seperti ini.22
Dengan demikian, Trinitas tidak boleh dilihat sebagai fakta harfiah, tetapi sebagai suatu paradigma yang bersesuaian dengan fakta-fakta real yang tersembunyi dalam Tuhan.
Dalam suratnya To Alabius: That There Are Not Three Gods, Gregory dari Nyssa menguraikan garis besar doktrin pentingnya tentang ketakterpisahan atau koinherensi ketiga oknum ilahiah atau hypostases. Orang tak mesti mengira bahwa Tuhan membelah dirinya ke dalam tiga bagian: itu adalah gagasan yang berlebihan dan menghujat.
Tuhan mengungkapkan dirinya secara penuh dan utuh dalam masing-masing dari ketiga manifestasi ini ketika dia ingin mewahyukan dirinya kepada dunia. Dengan demikian, Trinitas memberi kita petunjuk tentang pola “setiap perbuatan yang berasal dari Tuhan menuju ke tatanan makhluk: seperti yang ditunjukkan oleh kitab suci, segalanya berawal dari Bapa, berproses melalui bantuan Putra, dan menjadi efektif di dunia karena adanya Roh yang imanen.
Akan tetapi, Tuhan tetap hadir dalam setiap fase perbuatan. Dalam pengalaman kita sendiri, kita dapat melihat kesalingtergantungan antara ketiga hypostases: kita takkan pernah mengenal Bapa sekiranya tak ada wahyu kepada Putra, demikian pula kita takkan pernah mengenal Putra jika tak ada Roh yang membuat kita mengenalnya.
Roh mendampingi Firman suci Bapa, tak bedanya dengan napas (dalam bahasa Yunani pneuma; bahasa latin spiritus) mendampingi kata-kata yang diucapkan seorang manusia. Ketiga oknum ini tidak berada secara terpisah di alam suci. Kita dapat membandingkan mereka dengan keberadaan berbagai bidang ilmu yang berbeda di dalam pikiran seseorang: filsafat boleh saja berbeda dari ilmu kedokteran, tetapi ia tidak mendiami sebuah kawasan kesadaran yang terpisah. Ilmu-ilmu yang berbeda saling melingkupi satu sama lain, mengisi seluruh pikiran namun tetap berbeda.2?
Akan tetapi, pada akhirnya, Trinitas hanya bisa dipahami sebagai sebuah pengalaman mistik atau spiritual: ia harus dialami, bukan dipikirkan, karena Tuhan berada jauh di luar jangkauan konsep manusia. la bukanlah sebuah rumusan logis atau intelektual, melainkan sebuah paradigma imajinatif yang membungkam akal.
Gregory dari Nazianzus membuat hal ini menjadi jelas ketika dia memaparkan bahwa kontemplasi tentang Tiga dalam Satu membangkitkan emosi yang hebat dan memukau yang membungkam pikiran dan kejernihan intelektual.
Begitu aku memikirkan tentang yang Satu, aku
dicerahkan oleh kesemarakan yang Tiga: begitu
aku membedakan yang Tiga maka aku segera
dibawa kembali kepada yang Satu. Ketika aku
memikirkan salah satu dari yang Tiga, aku
memikirkannya sebagai keseluruhan, dan mataku
penuh, dan bagian yang lebih besar dari apa
yang kupikirkan terluput dariku.”
Orang Kristen Ortodoks Yunani dan Rusia selalu menemukan bahwa kontemplasi tentang Trinitas merupakan sebuah pengalaman keagamaan yang penuh ilham. Akan tetapi, bagi kebanyakan kaum Kristen Barat, Trinitas justru membingungkan. Ini barangkali karena mereka hanya memperhatikan apa yang oleh Kapadokian disebut sebagai kualitas-kualitas kerygmatik, sementara bagi orang Yunani itu merupakan kebenaran dogmatik yang hanya bisa dicerap secara intuitif dan sebagai hasil pengalaman keagamaan.
Secara logis, tentu saja, itu sama sekali tidak bermakna. Dalam sebuah khotbahnya, Gregory dari Nazianzus pernah menjelaskan bahwa ketidakmungkinan memahami dogma Trinitas membawa kita berhadapan dengan misteri ketuhanan yang mutlak; ini mengingatkan bahwa kita tak mesti berharap untuk memahaminya.2 Ini juga mencegah kita dari menciptakan pernyataan-pernyataan sembarangan mengenai Tuhan yang, ketika dia mengungkapkan diri, hanya bisa tertuangkan dalam cara-cara yang tak terucapkan.
Basil juga memperingatkan kita untuk tidak membayangkan bahwa kita bisa mengetahui cara kerja Trinitas, katakanlah begitu: tak ada gunanya, misalnya, berusaha memecahkan teka-teki bagaimana ketiga hypostases Tuhan Tertinggi pada saat yang sama adalah identik dan berbeda. Ini berada di luar jangkauan katakata, konsep, dan daya analisis manusia.28
Dengan demikian, Trinitas tidak boleh diinterpretasikan secara harfiah: ia bukanlah sebuah “teori” yang musykil tetapi hasil dari theoria, kontemplasi.
Ketika orang Kristen di Barat menjadi gusar oleh dogma ini pada abad kedelapan dan mencoba untuk mencampakkannya, mereka berupaya agar Tuhan dapat dipahami secara rasional bagi Zaman Akal. Ini adalah salah satu faktor pemicu timbulnya teologi Kematian Tuhan pada abad kesembilan belas dan kedua puluh, seperti yang akan kita saksikan nanti.
Salah satu alasan mengapa Kapadokian mengembangkan paradigma imajinatif ini adalah untuk mencegah agar Tuhan tidak dikonsepsikan lewat cara yang sama rasionalnya dengan filsafat Yunani, sebagaimana dipahami oleh pembid'ah semacam Arius. Teologi Arius itu agak terlalu gamblang dan logis.
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
Trinitas mengingatkan orang-orang Kristen bahwa realitas yang kita sebut “Tuhan” tak dapat dipahami oleh akal manusia. Doktrin Inkarnasi, seperti diekspresikan di Nicaea, memang penting, namun dapat mengarah kepada keberhalaan yang simplistik. Orang mungkin mulai berpikir tentang Tuhan lewat cara yang terlalu manusiawi: bahkan mungkin pula membayangkan “dia” berpikir, berperilaku, dan berencana seperti kita.
Dari sana, hanya tersisa sebuah langkah kecil menuju ke arah penisbahan semua bentuk pendapat yang penuh prasangka kepada Tuhan dan kemudian memutlakkannya. Trinitas merupakan upaya untuk mengoreksi kecenderungan ini.
Alih-alih memandangnya sebagai pernyataan faktual tentang Tuhan, Trinitas mungkin harus dilihat sebagai sebuah puisi atau tarian teologis antara apa yang dipercayai dan diterima oleh manusia fana tentang “Tuhan” dengan kesadaran bahwa setiap pernyataan atau kerygma pasti bersifat sementara.
Perbedaan penggunaan kata “teori” di Yunani dan Barat dapat menjelaskan sesuatu. Bagi Kristen Timur, theoria selalu mengandung arti kontemplasi. Di Barat, “theory” diartikan sebagai hipotesis rasional yang harus dibuktikan secara logis. Mengembangkan sebuah “teori” tentang Tuhan menyiratkan arti bahwa “dia” bisa dimuat di dalam sistem pemikiran manusia.
Hanya ada tiga teolog latin di Nicaea. Kebanyakan orang Kristen Barat belum mencapai tingkatan diskusi semacam ini dan, karena mereka tidak memahami beberapa terminologi Yunani, banyak yang merasa tidak puas dengan doktrin Trinitas. Mungkin istilah itu tidak dapat sepenuhnya diterjemahkan ke dalam idiom lain. Setiap budaya memang mesti menciptakan gagasannya sendiri tentang Tuhan.
Jika Barat merasa asing dengan interpretasi Yunani tentang Trinitas, mereka harus menciptakan versi mereka sendiri.
Teolog latin yang mendefinisikan Trinitas bagi gereja latin adalah Agustinus. Dia juga merupakan seorang Platonis yang fanatik, setia kepada pandangan Plotinus dan, karena itu, cenderung lebih simpatik kepada doktrin Yunani daripada kepada beberapa kolega Baratnya. Seperti yang dijelaskannya, kesalahpahaman sering diakibatkan oleh terminologi semata:
Demi menjelaskan hal-hal tak terucapkan
sehingga kita mampu dengan cara tertentu
mengungkapkan apa yang tidak bisa kita
ungkapkan sepenuhnya dengan cara lain, kawankawan Yunani kita telah berbicara tentang
satu esensi dan tiga substansi, tetapi kawankawan Latin bicara tentang satu esensi atau
substansi dan tiga oknum (personae).''
Ketika orang Yunani mendekati Tuhan dengan cara mempertimbangkan ketiga hypostases, dan menolak untuk menganalisis esensinya yang satu, maka Agustinus dan orangorang Kristen Barat sesudahnya justru memulai dengan keesaan ilahi dan kemudian berlanjut dengan mendiskusikan tiga manifestasinya.
Orang Kristen Yunani menghormati Agustinus, memandangnya sebagai salah satu Patriark gereja terkemuka, tetapi mereka tidak mempercayai teologi Trinitariannya, yang mereka rasa telah menjadikan Tuhan terlalu rasional dan antropomorfis. Pendekatan Agustinus tidaklah bersifat metafisik, seperti halnya orang-orang Yunani, tetapi psikologis dan bahkan sangat personal.
Agustinus bisa disebut sebagai pendiri spiritualitas Barat. Tak ada teolog lain, kecuali Paulus, yang lebih berpengaruh di Barat. Kita mengenalnya dengan lebih baik dibandingkan dengan pemikir lain di akhir abad klasik, sebagian besar karena bukunya Confessions, sebuah paparan yang fasih dan hangat tentang usahanya menemukan Tuhan.
Sejak awal, Agustinus telah mencari sebuah agama yang bercorak teistik. Dia memandang Tuhan sangat esensial bagi kemanusiaan: “engkau telah menciptakan kami untuk dirimu sendiri,” demikian dia berkata tentang Tuhan pada pembukaan Confessions, “dan jiwa-jiwa kami gelisah hingga bertemu denganmu!”28
Ketika mengajar retorika di Kartage, dia pindah menganut Manicheisme, sebuah bentuk gnostisisme Mesopotamia, tetapi akhirnya dia meninggalkan paham itu karena teori kosmologinya yang tak memuaskan.
Dia merasa doktrin Inkarnasi merupakan penyimpangan, pelecehan ide tentang Tuhan, tetapi ketika berada di Italia, Uskup Ambrose dari Milan mampu meyakinkan dirinya bahwa Kristen bukannya tidak sejalan dengan Plato atau Plotinus.
Meskipun demikian, Agustinus masih berkeberatan untuk mengambil langkah akhir dan menerima baptisme. Dia merasakan bahwa baginya Kristen mengakibatkan wajibnya kehidupan membujang dan dia enggan menempuh jalan seperti itu: “Tuhan, berilah aku kesucian,” demikian dia pernah berdoa, “tetapi jangan dulu."
Konversinya yang terakhir merupakan sebuah peristiwa Sturm und Drang, penuh gejolak, ketercerabutan keras dari masa lalunya dan kelahiran kembali yang menyakitkan, seperti yang mencirikan pengalaman keagamaan Barat. Suatu hari, ketika tengah duduk bersama sahabatnya Alypius di kebun mereka di Milan, sebuah pertarungan berkecamuk di dalam pikiran:
Dari kedalaman introspeksi diri yang gelap telah bangkit tumpukan seluruh nestapaku dan menempatkannya “dalam penglihatan hatiku". Ia membangkitkan badai besar yang membawa banjir alr mata. Untuk menumpahkan semuanya diiringi desah kesedihan, aku bangkit dari sisi Alypius (menyendiri tampak lebih pantas untuk meneteskan air mata) .. lalu kusandarkan diri di bawah pohon ara dan membiarkan air mataku mengalir bebas. Sungai-sungai seakan menderas dari kedua mataku, sebuah pengurbanan yang mungkin dapat engkau terima, dan—meskipun bukan dalam kata-kata ini, tetapi setidaknya dalam pengertian ini—aku berulang-ulang berkata kepadamu, “Berapa lama, Tuhan, berapa lama lagi Engkau akan begitu murka?” (Mazmur 6: 4) 20
Tuhan tidak selalu datang dengan mudah kepada orang Barat. Konversi Agustinus tampak seperti sebuah reaksi psikologis, yang setelahnya si mualaf jatuh kelelahan di pangkuan Tuhan, semua hasrat telah sampai.
Ketika Agustinus bersimpuh menangis di tanah, tiba-tiba dia mendengar suara anak kecil dari rumah terdekat menyenandungkan bait “Tolle, lege: Bangkit dan bacalah, bangkit dan bacalah!” Menganggap ini sebagai sebuah nubuat, Agustinus berdiri dan bergegas kembali ke sahabatnya Alypius yang terkaget dan lama menanti, dan langsung mengambil Kitab Perjanjian Barunya.
Dia membukanya pada sabda Paulus kepada orang Romawi: “Jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati, tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata perang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.”
Baca Juga: Lighten PDF Converter OCR 6.1.1 Full Version
Pertarungan panjang itu telah usai: “Aku tak mengharap maupun perlu membaca lebih lanjut,” kenang Agustinus. “Segera, setelah kata-kata terakhir dari kalimat ini, seolah-olah cahaya pembasuh seluruh kecemasan membanjiri hatiku. Semua bayang-bayang keraguan menjadi sirna.”
Tuhan bisa juga menjadi sumber kebahagiaan: tetapi, tak lama berselang sejak konversinya, suatu malam Agustinus mengalami ekstasi bersama ibunya, Monica, di Ostia di dekat Sungai Tiber. Kita akan mendiskusikan ini secara lebih terperinci pada Bab 7.
Sebagai seorang Platonis, Agustinus menyadari bahwa Tuhan dapat ditemukan di dalam pikiran, dan di dalam Buku X dari Confessions, dia mendiskusikan fakultas yang disebutnya Memoria, memori. Ini jauh lebih kompleks daripada daya ingat dan lebih dekat kepada apa yang oleh para psikolog disebut alam bawah sadar.
Bagi Agustinus, memori mewakili keseluruhan pikiran, kesadaran, dan juga ketidaksadaran. Kompleksitas dan keragamannya memenuhi dirinya dengan kekaguman. Ini adalah “misteri yang mengilhami ketakjuban”, dunia imaji yang tak dapat dibayangkan, menghadirkan masa lalu dan tak terhitung dataran, relung, dan gua.?2
Melalui dunia batin yang ramai inilah, Agustinus turun untuk menemukan Tuhannya, yang secara paradoks berada di dalam dan di atas dirinya. Tak ada gunanya mencari bukti tuhan di dunia luar. Dia hanya bisa ditemukan di dalam alam pikiran yang real:
Terlambat aku mencintaimu, keindahan yang begitu lama namun begitu baru: terlambat aku mencintaimu. Dan lihat, engkau ada di dalam, aku berada di dunia luar dan mencarimu di sana, dan dalam keadaan tidak mencintaimu aku tenggelam dalam ciptaan indah yang telah engkau buat. Engkau bersamaku, dan aku tidak bersamamu. Segala yang indah telah menjauhkan aku darimu, padahal Jika mereka tidak memiliki eksistensinya di dalam engkau, mereka takkan pernah ada sama sekali.“
Oleh karena itu, Tuhan bukanlah sebuah realitas objektif, melainkan suatu kehadiran spiritual di kedalaman batin yang kompleks. Pandangan Agustinus ini tidak saja sama dengan Plato dan Plotinus, tetapi juga dengan para penganut Buddha, Hindu, dan Shaman dalam agama-agama non-teistik.
Sungguhpun demikian, Tuhan dalam pandangannya bukanlah Tuhan yang impersonal, melainkan Tuhan yang sangat personal dari tradisi Yahudi-Kristen. Tuhan telah berkenan memaklumi kelemahan manusia dan pergi mencarinya:
Engkau memanggil, berteriak keras, dan memecah kesunyianku. Engkau bersinar dan gemerlap, kau sirnakan kebutaanku. Engkau semerbak, kuhirup dalam napasku hingga memenuhi rongga dadaku. Kucicipi engkau dan aku makin merasa lapar dan haus akan engkau. Engkau sentuh aku, dan aku terbakar api untuk meraih kedamaian yang adalah milikmu.“
Para teolog Yunani pada umumnya tidak membawa pengalaman mereka sendiri ke dalam tulisan teologis mereka, namun teologi Agustinus justru berangkat dari kisahnya sendiri yang sangat individual.
Keterpesonaan Agustinus terhadap pikiran telah membawanya untuk mengembangkan Trinitarianisme psikologisnya sendiri dalam risalah De Trinitate, yang ditulisnya pada tahun-tahun pertama abad kelima. Karena Tuhan telah menciptakan kita di dalam citranya sendiri, maka kita harus mampu melihat trinitas di kedalaman pikiran kita.
Alih-alih mengawalinya dengan abstraksi metafisik dan pembedaan verbal yang disenangi orang Yunani, Agustinus memulai eksplorasi ini dengan pengalaman yang sebagian besar kita pernah dapatkan.
Ketika mendengar frasafrasa, seperti “Tuhan adalah cahaya” atau “Tuhan adalah kebenaran”, kita secara instingtif merasakan gejolak ketertarikan spiritual dan merasa bahwa “Tuhan” dapat memberi makna dan nilai bagi kehidupan kita.
Namun, setelah pencerahan sekejap ini, kita kembali jatuh ke dalam bingkai pikiran kita yang biasa, saat kita terobsesi tentang “hal-hal yang biasa dan membumi”.
Cobalah semampu kita, kita tak bisa meraih kembali momen kerinduan yang tak terucapkan itu. Proses pemikiran normal tak dapat membantu: sebaliknya, kita harus mendengar “apa yang dimaksud oleh hati” dengan frasa-frasa semacam “Dia adalah kebenaran”.
Akan tetapi, mungkinkah mencintai realitas yang tidak kita kenal?
Agustinus menjawab dengan membuktikan bahwa karena di dalam pikiran kita sendiri terdapat trinitas yang mencerminkan Tuhan, seperti citra Platonis mana pun, kita rindu pada Arketipe kita—pola dasar yang dengannya kita dibentuk.
Jika kita mengawali dengan mempertimbangkan pikiran yang mencintai dirinya sendiri, kita tidak menemukan trinitas melainkan dualitas, yakni cinta dan pikiran.
Namun, hanya jika pikiran itu sadar tentang dirinya sendiri, melalui apa yang kita sebut kesadaran diri, ia baru bisa mencintai dirinya sendiri.
Mendahului Descartes, Agustinus menyatakan bahwa pengetahuan tentang diri sendiri merupakan pijakan dasar dari semua kepastian yang lain.
Bahkan, pengalaman tentang keraguan pun membuat kita sadar akan diri sendiri.
Di dalam jiwa ada tiga macam isi, yaitu: ingatan, pengertian, dan kehendak yang bersesuaian dengan pengetahuan, pengenalan diri, dan cinta.
Seperti halnya tiga oknum ilahi, aktivitas-aktivitas mental ini secara esensial adalah satu karena mereka itu tidak membentuk tiga macam pikiran yang terpisah, tetapi masingmasing mengisi keseluruhan pikiran dan mencakup dua yang lain:
“Saya ingat bahwa saya mempunyai ingatan, pengertian, dan kehendak, saya mengerti bahwa saya mengerti, berkehendak, dan mengingat. Saya menghendaki kehendak, ingatan, dan pengertian saya sendiri.”38
Seperti Trinitas Ilahi yang digambarkan oleh Kapadokian, ketiga unsur itu, dengan demikian, “membentuk satu hidup, satu pikiran, satu esensi”.°9
Akan tetapi, pemahaman tentang cara kerja pikiran kita ini baru merupakan langkah pertama: trinitas yang kita temukan dalam diri kita bukanlah Tuhan itu sendiri, melainkan jejak dari Tuhan yang telah membuat kita.
Baik Athanasius maupun Gregory dari Nyssa telah membuat perumpamaan bayangan cermin untuk menjelaskan kehadiran Tuhan di dalam jiwa manusia, dan untuk memahami ini dengan benar kita mesti mengingat kembali bahwa orang Yunani percaya bahwa bayangan cermin itu nyata, terbentuk ketika cahaya mata seorang pengamat berpadu dengan cahaya yang dipantulkan dari objek dan dicerminkan di atas permukaan kaca.”9
Agustinus percaya bahwa trinitas dalam pikiran juga merupakan bayangan yang mencakup kehadiran Tuhan dan diarahkan kepadanya.”
Akan tetapi, bagaimana kita melampaui bayangan ini, yang terpantul seperti pada sebuah cermin gelap, kepada Tuhan sendiri?
Besarnya jarak yang membentang antara Tuhan dan manusia tidak bisa ditempuh oleh usaha manusia saja.
Hanya karena Tuhan telah mendatangi kita melalui manusia yang menubuhi Firman, maka kita bisa memulihkan citra Tuhan di dalam diri kita, yang telah dirusak dan cacat oleh dosa.
Kita membuka diri kepada aktivitas ilahi yang akan mentransformasi kita melalui tiga macam disiplin, yang oleh Agustinus disebut trinitas iman: retineo (memegang teguh kebenaran Inkarnasi dalam pikiran kita), contemplatio (melakukan kontemplasi atasnya), dan dilectio (menemukan kesenangan di dalamnya).
Secara bertahap, dengan menumbuhkan rasa kehadiran Tuhan secara terus-menerus di dalam pikiran kita melalui cara ini, Trinitas akan terungkap.42
Pengetahuan ini bukan sekadar perolehan informasi melalui otak, melainkan merupakan disiplin kreatif yang akan mengubah kita dari dalam dengan cara mengungkapkan dimensi ilahi di kedalaman diri kita sendiri.
Masa itu merupakan masa-masa gelap dan susah bagi Barat.
Suku-suku barbar menyerbu masuk Eropa dan meruntuhkan kekaisaran Romawi: jatuhnya peradaban Barat tak pelak lagi berpengaruh terhadap spiritualitas Kristen di sana.
Ambrose, mentor besar Agustinus, mengajarkan iman yang pada dasarnya bersifat defensif: integritas (keterpaduan) menjadi prinsipnya yang paling penting.
Gereja mesti berupaya agar doktrin-doktrinnya tetap utuh dan, seperti halnya tubuh perawan Maria, ia harus tetap tak tertembus oleh doktrin-doktrin sesat kaum barbar (banyak di antara mereka menganut Arianisme).
Kesedihan mendalam juga terbaca dalam karya terakhir Agustinus: kejatuhan Roma mempengaruhi doktrinnya tentang Dosa Asal, yang akan menjadi sentral bagi cara orang Barat memandang dunia.
Agustinus percaya bahwa Tuhan telah menjatuhkan kutukan abadi bagi manusia, hanya karena satu dosa Adam.
Dosa warisan ini diteruskan kepada seluruh anak keturunannya melalui tindakan seksual, yang dicemari oleh apa yang disebut Agustinus sebagai “berahi”.
Berahi adalah hasrat irasional untuk mencari kesenangan pada makhluk semata, bukannya pada Tuhan, ini dirasakan paling kuat dalam tindakan seksual, ketika rasionalitas kita sepenuhnya terbenam oleh gairah dan emosi, tatkala Tuhan terlupakan dan makhluk-makhluk saling cumbu tanpa malu terhadap satu sama lain.
Citra tentang akal yang diseret oleh kekacauan sensasi dan gairah liar ini sangat mirip dengan Romawi—sumber rasionalitas, hukum, dan keteraturan di Barat—yang dibawa kepada keruntuhan oleh suku-suku barbar.
Akibatnya, doktrin keras Agustinus menorehkan gambaran menakutkan tentang Tuhan yang tak terluluhkan:
Terusir [dari surga] setelah membuat dosa, Adam pun membelenggu anak cucunya dengan hukuman kematian dan kutukan, dengan dosa yang telah dibuatnya sendiri, seperti dalam sebuah akar; maka setiap keturunan yang dilahirkan (melalui berahi jasadi, yang karena itulah hukuman atas ketidakpatuhan dijatuhkan kepadanya) darinya dan pasangannya —yang menjadi penyebab perbuatan dosanya dan pendamping keterkutukannya—akan memikul sepanjang masa beban Dosa Asal, yang dengan sendirinya akan terbawa melalui berlipatlipat kesalahan dan penyesalan hingga siksaan akhir dan tanpa akhir bersama malaikatmalaikat pembangkang PE Demikianlah keadaannya; manusia yang terkutuk akan jatuh tersungkur, tidak, berguling-guling dalam dosa, melompat dari satu keburukan ke keburukan lain; dan bergabung dengan kelompok malaikat yang telah berbuat dosa, membayar hukuman paling baik dari pengkhianatannya yang tak terpuji
Baik Yahudi maupun Kristen Ortodoks Yunani tidak memandang kejatuhan Adam dalam cara yang demikian suram; kaum Muslim pun tidak mengadopsi teologi yang gelap ini tentang Dosa Asal.
Doktrin yang khas Barat ini membentuk potret keras tentang Tuhan yang terlebih dahulu pernah dikemukakan oleh Tertullian.
Agustinus meninggalkan bagi kita warisan yang sulit.
Sebuah agama yang mengajarkan kaum pria dan wanita untuk memandang kemanusiaan mereka sebagai sesuatu yang sangat lemah secara kronis, justru akan membuat mereka terasing dari diri sendiri.
Keterasingan ini paling nyata terlihat dalam kebencian terhadap seksualitas umumnya dan pada perendahan derajat kaum wanita khususnya.
Meskipun Kristen yang pada awalnya bersikap cukup positif terhadap perempuan, Barat telah mulai mengembangkan kecenderungan misoginistik sejak era Agustinus.
Surat-surat Jerome penuh dengan penghinaan terhadap perempuan yang kadang-kadang terasa mengganggu.
Tertullian telah mencela wanita sebagai iblis penggoda, sebuah bahaya abadi bagi umat manusia:
Apakah engkau tidak tahu bahwa masing-masing dirimu adalah seorang Hawa? Kalimat Tuhan tentang jenis ini tetap aktual pada masa sekarang: rasa bersalah itu pun harus tetap ada. Kalian adalah gerbang setan; kalian adalah pelanggar pohon terlarang itu: kalian adalah pembangkang pertama hukum tuhan; kalian adalah penggoda Adam, yang iblis pun tak cukup mampu untuk menaklukkannya. Kalian dengan sembrono telah menghancurkan manusia, citra Tuhan. Akibat pembangkangan-mu, bahkan Putra Tuhan pun harus mati."
Agustinus setuju: “Apa bedanya,” tulisnya kepada seorang rekan, “apakah dia ada dalam wujud seorang istri atau ibu, dia tetap saja hawa penggoda yang membuat kita mesti waspada terhadap setiap perempuan.”4S
Sebenarnya, Agustinus sangat heran mengapa Tuhan mesti menciptakan jenis wanita: bukankah, “seandainya yang dibutuhkan Adam adalah teman bercakapcakap yang baik, akan lebih baik jika yang dirancang adalah dua orang lelaki bersama-sama sebagai sahabat, bukan seorang lelaki dengan seorang perempuan.”
Satu-satunya fungsi wanita adalah untuk melahirkan anak yang akan menularkan dosa asal kepada generasi berikutnya, seperti wabah penyakit.
Sebuah agama yang bersikap curiga terhadap separo ras manusia dan yang memandang setiap gerak refleks pikiran, hati, dan tubuh sebagai gejala berahi yang fatal hanya akan membuat kaum pria dan wanita merasa asing dengan kondisi mereka.
Kristen Barat tidak pernah sepenuhnya sembuh dari misogini neurotik ini, sebagaimana masih terlihat dalam reaksi miring terhadap gagasan tentang kependetaan wanita.
Sementara kaum wanita Timur pun ikut memiliki beban inferioritas yang dipikul oleh semua wanita pada peradaban masa kini, saudara-saudara mereka di Barat menanggung stigma tambahan tentang seksualitas yang menjijikkan dan penuh dosa yang menyebabkan mereka tersisihkan dalam kebencian dan ketakutan.
Ini adalah ironi ganda, sebab gagasan bahwa Tuhan telah mendaging dan ikut dalam kemanusiaan kita mestinya mendorong orang Kristen untuk menghargai jasad.
Ada perdebatan lebih lanjut mengenai keyakinan yang sulit ini.
Selama abad keempat dan kelima, “pembid'ah” semacam Apollinarius, Nestorius, dan Eutyches mengajukan pertanyaan yang sangat pelik.
Bagaimana keilahian Kristus bisa berpadu dengan kemanusiaannya?
Bunda Maria tentu bukanlah ibu Tuhan, tetapi ibu dari manusia Yesus?
Bagaimana mungkin Tuhan merupakan bayi yang menangis tidak berdaya?
Tidakkah lebih akurat untuk menyatakan bahwa dia ada bersama Kristus dalam kedekatan yang istimewa, seperti di dalam kuil?
Meski dengan beberapa inkonsistensi yang nyata, kaum ortodoks tetap bersikukuh dengan senjata mereka.
Cyrill, Uskup Aleksandria, mengulangi keyakinan Athanasius: Tuhan benarbenar telah turun ke dunia kita yang cacat dan rusak, juga bahkan telah merasakan kematian dan kefanaan.
Tampaknya mustahil untuk mendamaikan ini dengan keyakinan yang sama kukuhnya bahwa Tuhan benar-benar perkasa, tidak dapat menderita atau berubah.
Tuhan Yunani yang jauh, yang dicirikan terutama oleh apatheia ilahi, kelihatan sangat berbeda dari Tuhan yang dianggap telah berinkarnasi di dalam Yesus Kristus.
Kaum ortodoks merasa bahwa “para pembid'ah”, yang memandang gagasan tentang Tuhan yang menderita dan tak berdaya sebagai penghujatan, ingin mengeringkan aspek misteri dan kedahsyatan dari yang ilahi.
Paradoks Inkarnasi tampaknya merupakan penangkal bagi Tuhan Helenik yang tidak melakukan apa-apa untuk membangkitkan kepuasan kita dan yang sepenuhnya dapat dinalar.
Pada tahun 529, Kaisar Justinian menutup sekolah filsafat kuno di Atena, benteng terakhir paganisme intelektual.
Guru besar terakhirnya adalah Proclus (412-485), murid Plotinus yang paling bersemangat.
Filsafat pagan menyurut dan tampak dikalahkan oleh agama baru itu, Kristen.
Akan tetapi, empat tahun kemudian muncul empat risalah mistik yang disebut-sebut ditulis oleh Denys dari Aeropagus, orang Atena pertama yang menjadi pengikut Paulus.
Sebenarnya, risalah-risalah itu ditulis oleh seorang Kristen Yunani abad keenam yang ingin mempertahankan anonimitasnya.
Namun, nama samaran itu memiliki kekuatan simbolik yang lebih penting daripada identitas pengarangnya sendiri: Denys-samaran ini berhasil membaptis pandangan-pandangan Neoplatonisme dan menyandingkan Tuhan Yunani dengan Tuhan Semitik Alkitab
Konversinya yang terakhir merupakan sebuah peristiwa Sturm und Drang, penuh gejolak, ketercerabutan keras dari masa lalunya dan kelahiran kembali yang menyakitkan, seperti yang mencirikan pengalaman keagamaan Barat. Suatu hari, ketika tengah duduk bersama sahabatnya Alypius di kebun mereka di Milan, sebuah pertarungan berkecamuk di dalam pikiran:
Dari kedalaman introspeksi diri yang gelap telah bangkit tumpukan seluruh nestapaku dan menempatkannya “dalam penglihatan hatiku". Ia membangkitkan badai besar yang membawa banjir alr mata. Untuk menumpahkan semuanya diiringi desah kesedihan, aku bangkit dari sisi Alypius (menyendiri tampak lebih pantas untuk meneteskan air mata) .. lalu kusandarkan diri di bawah pohon ara dan membiarkan air mataku mengalir bebas. Sungai-sungai seakan menderas dari kedua mataku, sebuah pengurbanan yang mungkin dapat engkau terima, dan—meskipun bukan dalam kata-kata ini, tetapi setidaknya dalam pengertian ini—aku berulang-ulang berkata kepadamu, “Berapa lama, Tuhan, berapa lama lagi Engkau akan begitu murka?” (Mazmur 6: 4) 20
Tuhan tidak selalu datang dengan mudah kepada orang Barat. Konversi Agustinus tampak seperti sebuah reaksi psikologis, yang setelahnya si mualaf jatuh kelelahan di pangkuan Tuhan, semua hasrat telah sampai. Ketika Agustinus bersimpuh menangis di tanah, tiba-tiba dia mendengar suara anak kecil dari rumah terdekat menyenandungkan bait “Tolle, lege: Bangkit dan bacalah, bangkit dan bacalah!” Menganggap ini sebagai sebuah nubuat, Agustinus berdiri dan bergegas kembali ke sahabatnya Alypius yang terkaget dan lama menanti, dan langsung mengambil Kitab Perjanjian Barunya.
Dia membukanya pada sabda Paulus kepada orang Romawi: “Jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati, tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata perang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” Pertarungan panjang itu telah usai: “Aku tak mengharap maupun perlu membaca lebih lanjut,” kenang Agustinus. “Segera, setelah kata-kata terakhir dari kalimat ini, seolah-olah cahaya pembasuh seluruh kecemasan membanjiri hatiku. Semua bayang-bayang keraguan menjadi sirna.”
Tuhan bisa juga menjadi sumber kebahagiaan: tetapi, tak lama berselang sejak konversinya, suatu malam Agustinus mengalami ekstasi bersama ibunya, Monica, di Ostia di dekat Sungai Tiber. Kita akan mendiskusikan ini secara lebih terperinci pada Bab 7.
Sebagai seorang Platonis, Agustinus menyadari bahwa Tuhan dapat ditemukan di dalam pikiran, dan di dalam Buku X dari Confessions, dia mendiskusikan fakultas yang disebutnya Memoria, memori. Ini jauh lebih kompleks daripada daya ingat dan lebih dekat kepada apa yang oleh para psikolog disebut alam bawah sadar. Bagi Agustinus, memori mewakili keseluruhan pikiran, kesadaran, dan juga ketidaksadaran.
Kompleksitas dan keragamannya memenuhi dirinya dengan kekaguman. Ini adalah “misteri yang mengilhami ketakjuban”, dunia imaji yang tak dapat dibayangkan, menghadirkan masa lalu dan tak terhitung dataran, relung, dan gua.?2 Melalui dunia batin yang ramai inilah, Agustinus turun untuk menemukan Tuhannya, yang secara paradoks berada di dalam dan di atas dirinya. Tak ada gunanya mencari bukti tuhan di dunia luar. Dia hanya bisa ditemukan di dalam alam pikiran yang real:
Terlambat aku mencintaimu, keindahan yang begitu lama namun begitu baru: terlambat aku mencintaimu. Dan lihat, engkau ada di dalam, aku berada di dunia luar dan mencarimu di sana, dan dalam keadaan tidak mencintaimu aku tenggelam dalam ciptaan indah yang telah engkau buat. Engkau bersamaku, dan aku tidak bersamamu. Segala yang indah telah menjauhkan aku darimu, padahal Jika mereka tidak memiliki eksistensinya di dalam engkau, mereka takkan pernah ada sama sekali.“
Oleh karena itu, Tuhan bukanlah sebuah realitas objektif, melainkan suatu kehadiran spiritual di kedalaman batin yang kompleks. Pandangan Agustinus ini tidak saja sama dengan Plato dan Plotinus, tetapi juga dengan para penganut Buddha, Hindu, dan Shaman dalam agama-agama non-teistik. Sungguhpun demikian, Tuhan dalam pandangannya bukanlah Tuhan yang impersonal, melainkan Tuhan yang sangat personal dari tradisi Yahudi-Kristen. Tuhan telah berkenan memaklumi kelemahan manusia dan pergi mencarinya:
Engkau memanggil, berteriak keras, dan memecah kesunyianku. Engkau bersinar dan gemerlap, kau sirnakan kebutaanku. Engkau semerbak, kuhirup dalam napasku hingga memenuhi rongga dadaku. Kucicipi engkau dan aku makin merasa lapar dan haus akan engkau. Engkau sentuh aku, dan aku terbakar api untuk meraih kedamaian yang adalah milikmu.“
Para teolog Yunani pada umumnya tidak membawa pengalaman mereka sendiri ke dalam tulisan teologis mereka, namun teologi Agustinus justru berangkat dari kisahnya sendiri yang sangat individual.
Baca Juga: Penemuan artefakUFO dan alien di Guanajuato
Keterpesonaan Agustinus terhadap pikiran telah membawanya untuk mengembangkan Trinitarianisme psikologisnya sendiri dalam risalah De Trinitate, yang ditulisnya pada tahun-tahun pertama abad kelima. Karena Tuhan telah menciptakan kita di dalam citranya sendiri, maka kita harus mampu melihat trinitas di kedalaman pikiran kita.
Alih-alih mengawalinya dengan abstraksi metafisik dan pembedaan verbal yang disenangi orang Yunani, Agustinus memulai eksplorasi ini dengan pengalaman yang sebagian besar kita pernah dapatkan. Ketika mendengar frasafrasa, seperti “Tuhan adalah cahaya” atau “Tuhan adalah kebenaran”, kita secara instingtif merasakan gejolak ketertarikan spiritual dan merasa bahwa “Tuhan” dapat memberi makna dan nilai bagi kehidupan kita.
Namun, setelah pencerahan sekejap ini, kita kembali jatuh ke dalam bingkai pikiran kita yang biasa, saat kita terobsesi tentang “hal-hal yang biasa dan membumi”. Cobalah semampu kita, kita tak bisa meraih kembali momen kerinduan yang tak terucapkan itu.
Proses pemikiran normal tak dapat membantu: sebaliknya, kita harus mendengar “apa yang dimaksud oleh hati” dengan frasa-frasa semacam “Dia adalah kebenaran”. Akan tetapi, mungkinkah mencintai realitas yang tidak kita kenal?
Agustinus menjawab dengan membuktikan bahwa karena di dalam pikiran kita sendiri terdapat trinitas yang mencerminkan Tuhan, seperti citra Platonis mana pun, kita rindu pada Arketipe kita—pola dasar yang dengannya kita dibentuk.
Jika kita mengawali dengan mempertimbangkan pikiran yang mencintai dirinya sendiri, kita tidak menemukan trinitas melainkan dualitas, yakni cinta dan pikiran. Namun, hanya jika pikiran itu sadar tentang dirinya sendiri, melalui apa yang kita sebut kesadaran diri, ia baru bisa mencintai dirinya sendiri.
Mendahului Descartes, Agustinus menyatakan bahwa pengetahuan tentang diri sendiri merupakan pijakan dasar dari semua kepastian yang lain. Bahkan, pengalaman tentang keraguan pun membuat kita sadar akan diri sendiri.
Di dalam jiwa ada tiga macam isi, yaitu: ingatan, pengertian, dan kehendak yang bersesuaian dengan pengetahuan, pengenalan diri, dan cinta. Seperti halnya tiga oknum ilahi, aktivitas-aktivitas mental ini secara esensial adalah satu karena mereka itu tidak membentuk tiga macam pikiran yang terpisah, tetapi masingmasing mengisi keseluruhan pikiran dan mencakup dua yang lain:
“Saya ingat bahwa saya mempunyai ingatan, pengertian, dan kehendak, saya mengerti bahwa saya mengerti, berkehendak, dan mengingat. Saya menghendaki kehendak, ingatan, dan pengertian saya sendiri.”38
Seperti Trinitas Ilahi yang digambarkan oleh Kapadokian, ketiga unsur itu, dengan demikian, “membentuk satu hidup, satu pikiran, satu esensi”.°9
Akan tetapi, pemahaman tentang cara kerja pikiran kita ini baru merupakan langkah pertama: trinitas yang kita temukan dalam diri kita bukanlah Tuhan itu sendiri, melainkan jejak dari Tuhan yang telah membuat kita.
Baik Athanasius maupun Gregory dari Nyssa telah membuat perumpamaan bayangan cermin untuk menjelaskan kehadiran Tuhan di dalam jiwa manusia, dan untuk memahami ini dengan benar kita mesti mengingat kembali bahwa orang Yunani percaya bahwa bayangan cermin itu nyata, terbentuk ketika cahaya mata seorang pengamat berpadu dengan cahaya yang dipantulkan dari objek dan dicerminkan di atas permukaan kaca.”9
Agustinus percaya bahwa trinitas dalam pikiran juga merupakan bayangan yang mencakup kehadiran Tuhan dan diarahkan kepadanya.” Akan tetapi, bagaimana kita melampaui bayangan ini, yang terpantul seperti pada sebuah cermin gelap, kepada Tuhan sendiri?
Besarnya jarak yang membentang antara Tuhan dan manusia tidak bisa ditempuh oleh usaha manusia saja. Hanya karena Tuhan telah mendatangi kita melalui manusia yang menubuhi Firman, maka kita bisa memulihkan citra Tuhan di dalam diri kita, yang telah dirusak dan cacat oleh dosa.
Kita membuka diri kepada aktivitas ilahi yang akan mentransformasi kita melalui tiga macam disiplin, yang oleh Agustinus disebut trinitas iman: retineo (memegang teguh kebenaran Inkarnasi dalam pikiran kita), contemplatio (melakukan kontemplasi atasnya), dan dilectio (menemukan kesenangan di dalamnya).
Secara bertahap, dengan menumbuhkan rasa kehadiran Tuhan secara terus-menerus di dalam pikiran kita melalui cara ini, Trinitas akan terungkap.42 Pengetahuan ini bukan sekadar perolehan informasi melalui otak, melainkan merupakan disiplin kreatif yang akan mengubah kita dari dalam dengan cara mengungkapkan dimensi ilahi di kedalaman diri kita sendiri.
Masa itu merupakan masa-masa gelap dan susah bagi Barat. Suku-suku barbar menyerbu masuk Eropa dan meruntuhkan kekaisaran Romawi: jatuhnya peradaban Barat tak pelak lagi berpengaruh terhadap spiritualitas Kristen di sana.
Ambrose, mentor besar Agustinus, mengajarkan iman yang pada dasarnya bersifat defensif: integritas (keterpaduan) menjadi prinsipnya yang paling penting. Gereja mesti berupaya agar doktrin-doktrinnya tetap utuh dan, seperti halnya tubuh perawan Maria, ia harus tetap tak tertembus oleh doktrin-doktrin sesat kaum barbar (banyak di antara mereka menganut Arianisme).
Kesedihan mendalam juga terbaca dalam karya terakhir Agustinus: kejatuhan Roma mempengaruhi doktrinnya tentang Dosa Asal, yang akan menjadi sentral bagi cara orang Barat memandang dunia.
Agustinus percaya bahwa Tuhan telah menjatuhkan kutukan abadi bagi manusia, hanya karena satu dosa Adam. Dosa warisan ini diteruskan kepada seluruh anak keturunannya melalui tindakan seksual, yang dicemari oleh apa yang disebut Agustinus sebagai “berahi”.
Berahi adalah hasrat irasional untuk mencari kesenangan pada makhluk semata, bukannya pada Tuhan, ini dirasakan paling kuat dalam tindakan seksual, ketika rasionalitas kita sepenuhnya terbenam oleh gairah dan emosi, tatkala Tuhan terlupakan dan makhluk-makhluk saling cumbu tanpa malu terhadap satu sama lain.
Citra tentang akal yang diseret oleh kekacauan sensasi dan gairah liar ini sangat mirip dengan Romawi—sumber rasionalitas, hukum, dan keteraturan di Barat—yang dibawa kepada keruntuhan oleh suku-suku barbar.
Akibatnya, doktrin keras Agustinus menorehkan gambaran menakutkan tentang Tuhan yang tak terluluhkan:
Terusir [dari surga] setelah membuat dosa, Adam pun membelenggu anak cucunya dengan hukuman kematian dan kutukan, dengan dosa yang telah dibuatnya sendiri, seperti dalam sebuah akar; maka setiap keturunan yang dilahirkan (melalui berahi jasadi, yang karena itulah hukuman atas ketidakpatuhan dijatuhkan kepadanya) darinya dan pasangannya —yang menjadi penyebab perbuatan dosanya dan pendamping keterkutukannya—akan memikul sepanjang masa beban Dosa Asal, yang dengan sendirinya akan terbawa melalui berlipatlipat kesalahan dan penyesalan hingga siksaan akhir dan tanpa akhir bersama malaikatmalaikat pembangkang PE Demikianlah keadaannya; manusia yang terkutuk akan jatuh tersungkur, tidak, berguling-guling dalam dosa, melompat dari satu keburukan ke keburukan lain; dan bergabung dengan kelompok malaikat yang telah berbuat dosa, membayar hukuman paling baik dari pengkhianatannya yang tak terpuji
Baik Yahudi maupun Kristen Ortodoks Yunani tidak memandang kejatuhan Adam dalam cara yang demikian suram; kaum Muslim pun tidak mengadopsi teologi yang gelap ini tentang Dosa Asal.
Doktrin yang khas Barat ini membentuk potret keras tentang Tuhan yang terlebih dahulu pernah dikemukakan oleh Tertullian.
Agustinus meninggalkan bagi kita warisan yang sulit. Sebuah agama yang mengajarkan kaum pria dan wanita untuk memandang kemanusiaan mereka sebagai sesuatu yang sangat lemah secara kronis, justru akan membuat mereka terasing dari diri sendiri.
Keterasingan ini paling nyata terlihat dalam kebencian terhadap seksualitas umumnya dan pada perendahan derajat kaum wanita khususnya.
Meskipun Kristen yang pada awalnya bersikap cukup positif terhadap perempuan, Barat telah mulai mengembangkan kecenderungan misoginistik sejak era Agustinus.
Surat-surat Jerome penuh dengan penghinaan terhadap perempuan yang kadang-kadang terasa mengganggu.
Tertullian telah mencela wanita sebagai iblis penggoda, sebuah bahaya abadi bagi umat manusia:
Apakah engkau tidak tahu bahwa masing-masing dirimu adalah seorang Hawa? Kalimat Tuhan tentang jenis ini tetap aktual pada masa sekarang: rasa bersalah itu pun harus tetap ada. Kalian adalah gerbang setan; kalian adalah pelanggar pohon terlarang itu: kalian adalah pembangkang pertama hukum tuhan; kalian adalah penggoda Adam, yang iblis pun tak cukup mampu untuk menaklukkannya. Kalian dengan sembrono telah menghancurkan manusia, citra Tuhan. Akibat pembangkangan-mu, bahkan Putra Tuhan pun harus mati."
Agustinus setuju: “Apa bedanya,” tulisnya kepada seorang rekan, “apakah dia ada dalam wujud seorang istri atau ibu, dia tetap saja hawa penggoda yang membuat kita mesti waspada terhadap setiap perempuan.”4S
Sebenarnya, Agustinus sangat heran mengapa Tuhan mesti menciptakan jenis wanita: bukankah, “seandainya yang dibutuhkan Adam adalah teman bercakapcakap yang baik, akan lebih baik jika yang dirancang adalah dua orang lelaki bersama-sama sebagai sahabat, bukan seorang lelaki dengan seorang perempuan.”
Satu-satunya fungsi wanita adalah untuk melahirkan anak yang akan menularkan dosa asal kepada generasi berikutnya, seperti wabah penyakit.
Sebuah agama yang bersikap curiga terhadap separo ras manusia dan yang memandang setiap gerak refleks pikiran, hati, dan tubuh sebagai gejala berahi yang fatal hanya akan membuat kaum pria dan wanita merasa asing dengan kondisi mereka.
Kristen Barat tidak pernah sepenuhnya sembuh dari misogini neurotik ini, sebagaimana masih terlihat dalam reaksi miring terhadap gagasan tentang kependetaan wanita.
Sementara kaum wanita Timur pun ikut memiliki beban inferioritas yang dipikul oleh semua wanita pada peradaban masa kini, saudara-saudara mereka di Barat menanggung stigma tambahan tentang seksualitas yang menjijikkan dan penuh dosa yang menyebabkan mereka tersisihkan dalam kebencian dan ketakutan.
Ini adalah ironi ganda, sebab gagasan bahwa Tuhan telah mendaging dan ikut dalam kemanusiaan kita mestinya mendorong orang Kristen untuk menghargai jasad.
Ada perdebatan lebih lanjut mengenai keyakinan yang sulit ini. Selama abad keempat dan kelima, “pembid'ah” semacam Apollinarius, Nestorius, dan Eutyches mengajukan pertanyaan yang sangat pelik.
Bagaimana keilahian Kristus bisa berpadu dengan kemanusiaannya?
Bunda Maria tentu bukanlah ibu Tuhan, tetapi ibu dari manusia Yesus?
Bagaimana mungkin Tuhan merupakan bayi yang menangis tidak berdaya?
Tidakkah lebih akurat untuk menyatakan bahwa dia ada bersama Kristus dalam kedekatan yang istimewa, seperti di dalam kuil?
Meski dengan beberapa inkonsistensi yang nyata, kaum ortodoks tetap bersikukuh dengan senjata mereka.
Cyrill, Uskup Aleksandria, mengulangi keyakinan Athanasius: Tuhan benarbenar telah turun ke dunia kita yang cacat dan rusak, juga bahkan telah merasakan kematian dan kefanaan.
Tampaknya mustahil untuk mendamaikan ini dengan keyakinan yang sama kukuhnya bahwa Tuhan benar-benar perkasa, tidak dapat menderita atau berubah.
Tuhan Yunani yang jauh, yang dicirikan terutama oleh apatheia ilahi, kelihatan sangat berbeda dari Tuhan yang dianggap telah berinkarnasi di dalam Yesus Kristus.
Kaum ortodoks merasa bahwa “para pembid'ah”, yang memandang gagasan tentang Tuhan yang menderita dan tak berdaya sebagai penghujatan, ingin mengeringkan aspek misteri dan kedahsyatan dari yang ilahi.
Paradoks Inkarnasi tampaknya merupakan penangkal bagi Tuhan Helenik yang tidak melakukan apa-apa untuk membangkitkan kepuasan kita dan yang sepenuhnya dapat dinalar.
Pada tahun 529, Kaisar Justinian menutup sekolah filsafat kuno di Atena, benteng terakhir paganisme intelektual.
Guru besar terakhirnya adalah Proclus (412-485), murid Plotinus yang paling bersemangat.
Filsafat pagan menyurut dan tampak dikalahkan oleh agama baru itu, Kristen.
Akan tetapi, empat tahun kemudian muncul empat risalah mistik yang disebut-sebut ditulis oleh Denys dari Aeropagus, orang Atena pertama yang menjadi pengikut Paulus.
Sebenarnya, risalah-risalah itu ditulis oleh seorang Kristen Yunani abad keenam yang ingin mempertahankan anonimitasnya.
Namun, nama samaran itu memiliki kekuatan simbolik yang lebih penting daripada identitas pengarangnya sendiri: Denys-samaran ini berhasil membaptis pandangan-pandangan Neoplatonisme dan menyandingkan Tuhan Yunani dengan Tuhan Semitik Alkitab.
Denys juga merupakan pewaris para patriark Kapadokia. Seperti halnya Basil, dia memandang serius pembedaan antara kerygma dengan dogma. Dalam salah satu suratnya, dia menegaskan bahwa ada dua tradisi teologis, keduanya berasal dari para nabi.
Injil kerygmatik sudah jelas dan diketahui: injil dogmatik bersifat tertutup dan mistik. Namun, keduanya saling tergantung dan esensial bagi keyakinan Kristen.
Yang satu merupakan “permulaan simbolik dan bersyarat”, yang lainnya “bersifat filosofis dan bisa dibuktikan—dan yang tak terucap terjalin dengan apa yang terucapkan”.4”'
Kerygma menarik perhatian karena kebenarannya yang nyata dan jelas, tetapi tradisi dogma yang diam atau tersembunyi merupakan misteri yang memerlukan inisiasi:
“la mempengaruhi dan memantapkan jiwa bersama Tuhan melalui inisiasi yang tidak mengajarkan apa-apa,”48 demikian Denys-menegaskan dengan kata-kata yang mengingatkan orang kembali kepada Aristoteles.
Ada kebenaran agama yang tidak dapat diungkapkan secara memadai oleh kata-kata, oleh wacana rasional atau logis.
Ia hanya bisa diungkapkan secara simbolik, melalui bahasa dan isyarat-isyarat liturgi, atau melalui doktrin yang merupakan 'tirai-tirai suci” yang menyembunyikan makna tak terlukiskan dari penglihatan, tetapi juga menyesuaikan Tuhan yang misterius dengan keterbatasan manusia dan mengungkapkan Realitas dalam istilah-istilah yang bisa dipahami secara imajinatif, jika tidak secara konseptual.*?
Makna tersembunyi atau esoterik bukan ditujukan bagi kalangan elit saja, tetapi untuk semua umat Kristen.
Denys tidak mengajukan sebuah disiplin musykil yang hanya cocok bagi para pendeta dan rahib saja.
Liturgi, yang dilaksanakan semua yang mengimaninya, merupakan jalan utama menuju Tuhan dan mendominasi teologinya.
Alasan mengapa kebenaran-kebenaran ini disembunyikan di belakang sebuah tabir pelindung bukanlah untuk menjauhkan manusia, melainkan untuk menaikkan seluruh orang Kristen dari persepsi indriawi dan konsep-konsep ke taraf realitas Tuhan yang tak terungkapkan itu sendiri.
Kerendahan hati yang telah mengilhami Kapadokian untuk mengklaim bahwa semua teologi pastilah mengandung kelemahan, bagi Denys justru menjadi sebuah cara pasti untuk naik menuju Tuhan.
Sebenarnya, Denys sama sekali tidak menyukai penggunaan istilah “Tuhan”—mungkin karena istilah itu telah memperoleh begitu banyak konotasi antropomorfis yang tak layak.
Dia lebih suka menggunakan istilah theurgy dari Proclus, yang pada dasarnya bersifat liturgis: theurgy di dalam dunia pagan merupakan penyerapan mana Ilahi melalui pengurbanan dan penyucian.
Denys menerapkan ini kepada ucapan Tuhan yang, bila dipahami dengan baik, juga dapat melepaskan energeiai ilahi yang melekat pada simbol-simbol yang diwahyukan.
Dia sependapat dengan Kapadokian bahwa semua kata dan konsep kita untuk Tuhan tidaklah memadai dan tidak boleh diambil sebagai deskripsi akurat tentang realitas yang sebenarnya berada di luar lingkup kita.
Bahkan kata “Tuhan” itu sendiri keliru, sebab Tuhan berada “di atas Tuhan”, sebuah “misteri yang melampaui wujud”.20
Orang Kristen harus menyadari bahwa Tuhan bukanlah Wujud Tertinggi, yang berada pada puncak hierarki di atas wujudwujud lain yang lebih rendah.
Benda-benda dan manusia tidak berseberangan dengan Tuhan sebagai realitas yang terpisah atau wujud alternatif, yang bisa menjadi objek pengetahuan.
Tuhan bukanlah satu dari sekian hal yang ada dan sama sekali tidak sama dengan segala sesuatu yang ada dalam pengalaman kita.
Sebenarnya, adalah lebih akurat untuk menyebut Tuhan sebagai “Tiada”: bahkan, tidak mesti menyebutnya suatu Trinitas sebab dia “bukanlah kesatuan maupun trinitas dalam pengertian yang kita ketahui”!
Dia berada di atas segala nama sebagaimana halnya dia berada di atas segala wujud.”
Sungguhpun demikian, kita dapat menggunakan ketidakmampuan kita untuk berbicara tentang Tuhan sebagai metode untuk mencapai kemanunggalan dengannya, yang tidak kurang dari “deifikasi” (theosis) hakikat kita sendiri.
Tuhan telah mewahyukan sebagian dari Namanya kepada kita di dalam kitab suci, seperti “Bapa”, “Putra”, dan “Roh”, namun tujuan dari hal ini bukanlah untuk menanamkan informasi tentang dia, melainkan untuk mengantarkan manusia kepadanya dan membuat mereka mampu untuk ikut memiliki sifatnya yang suci.
Pada setiap bab dalam risalahnya, The Divine Names, Denys mengawali dengan sebuah kebenaran kerygmatik yang diwahyukan oleh Tuhan: kebaikannya, kebijaksanaannya, perlindungannya, dan sebagainya.
Denys kemudian melanjutkan dengan memperlihatkan bahwa meskipun Tuhan telah mewahyukan sesuatu tentang dirinya dalam sifat-sifat semacam itu, apa yang diwahyukan itu bukanlah dirinya sendiri.
Jika kita benar-benar ingin memahami Tuhan, kita harus menyangkal sifat-sifat dan nama-nama itu.
Jadi, kita mesti mengatakan bahwa dia adalah “Tuhan” dan “bukan-Tuhan” sekaligus, “baik” kemudian segera mengatakan bahwa dia “bukan-baik”.
Kejutan paradoks ini, sebuah proses yang mencakup pengetahuan maupun ketidaktahuan, akan mengangkat kita dari dunia ide-ide yang fana menuju realitas yang tak dapat diungkapkan itu sendiri.
Dengan demikian, kita memulai dengan mengatakan bahwa:
ada pemahaman, nalar, pengetahuan, sentuhan, persepsi, imajinasi, nama, dan banyak hal lainnya mengenai dia. Akan tetapi, dia tidak bisa dipahami dan tak ada yang dapat diucapkan mengenai dirinya, dia tidak bisa dinamai. Dia bukanlah salah satu dari apa yang adas”
Oleh karena itu, membaca kitab suci bukanlah sebuah proses menemukan fakta-fakta tentang Tuhan, melainkan mesti menjadi sebuah disiplin paradoksikal yang mengubah kerygma menjadi dogma.
Metode ini adalah sebuah theurgy, penyerapan kekuatan ilahi yang memampukan kita naik menuju Tuhan itu sendiri dan, seperti yang selalu diajarkan oleh kaum Platonis, menjadikan diri kita sendiri ilahiah.
Ini merupakan metode yang membuat kita berhenti berpikir!
“Kita mesti meninggalkan semua konsepsi kita tentang yang ilahi. Kita memberhentikan seluruh aktivitas pikiran kita.”*
Kita bahkan mesti meninggalkan pengingkaran kita terhadap sifat-sifat Tuhan.
Baru kemudian kita akan mencapai kemanunggalan memabukkan dengan Tuhan.
Ketika Denys bercerita tentang kemabukan karena Tuhan, dia tidak merujuk pada keadaan pikiran tertentu atau bentuk kesadaran alternatif yang dicapai melalui latihan Yoga yang tak jelas.
Keadaan ini dapat diraih setiap orang Kristen melalui metode doa atau theoria yang paradoksikal, yang akan membuat kita berhenti berbicara dan membawa kita ke dalam keheningan:
“Ketika kita masuk ke dalam kegelapan yang berada di luar akal, kita bukan hanya akan kehilangan kata-kata, namun bahkan sama sekali bisu dan tidak mengetahui.”
Seperti Gregory dari Nyssa, Denys menemukan banyak pelajaran dari kisah naiknya Musa ke gunung Sinai.
Ketika Musa telah mendaki gunung itu, dia tidak melihat Tuhan di puncaknya, tetapi dibawa ke tempat di mana Tuhan berada.
Dia dikelilingi kabut tebal dan tak dapat melihat apa-apa: jadi segala yang bisa kita lihat atau pahami hanya merupakan simbol (kata yang digunakan oleh Denys adalah “paradigma”) yang menyingkapkan kehadiran sebuah realitas yang melampaui semua pemikiran.
Musa telah menembus ke dalam gelapnya ketidaktahuan itu dan kemudian mencapai kemanunggalan dengan sesuatu yang melampaui semua pemahaman: kita akan meraih kemabukan serupa yang akan “mengeluarkan kita dari diri kita sendiri” dan menyatukan kita dengan Tuhan.
Hal ini hanya mungkin karena Tuhan datang menemui kita, seperti yang terjadi di atas gunung itu. Di sini Denys berbeda dari Neoplatonisme, yang mempersepsikan Tuhan sebagai statis dan jauh, sama sekali tidak responsif terhadap upaya manusia. Tuhan para filosof Yunani tidak sadar akan para mistikus yang acap berusaha untuk mencapai kesatuan yang memabukkan dengannya, sedangkan Tuhan Alkitab peduli kepada manusia. Tuhan juga mengalami “ekstasi” yang membawanya keluar dari dirinya untuk tiba pada alam makhluk yang rentan:
Dan kita harus berani menegaskan (karena ini adalah kebenaran) bahwa Pencipta alam ini sendiri, dalam kerinduannya yang indah dan baik terhadap alam .. dibawa keluar dirinya karena kepeduliannya kepada segala sesuatu yang wujud ... dan dengan demikian keluar dari takhtanya yang transenden di atas segala sesuatu untuk berdiam di dalam hati segala sesuatu, melalui kekuatan ekstatik yang ada di atas wujud sambil tetap berada dalam dirinya sendiri.”
Emanasi telah menjadi pencurahan cinta yang hangat dan sukarela, bukan sebuah proses yang automatis. Negasi dan paradoks Denys bukanlah sesuatu yang kita lakukan, melainkan merupakan sesuatu yang terjadi pada diri kita.
Bagi Plotinus, ekstasi merupakan peristiwa keterpesonaan yang sangat jarang terjadi: dia hanya mengalaminya sebanyak dua atau tiga kali di sepanjang hidupnya. Denys melihat ekstasi sebagai keadaan konstan setiap orang Kristen. Ini merupakan pesan tersembunyi dan esoterik dari kitab suci dan liturgi, diungkap lewat isyarat terkecil. Maka ketika si pendeta meninggalkan altar pada awal misa untuk berjalan di tengah jamaah, memercikkan mereka dengan air suci sebelum kembali ke ruang altar, ini bukanlah sekadar purifikasi—meskipun memang demikian. Tindakan itu meniru ekstasi ilahi, seperti Tuhan yang meninggalkan kesendiriannya dan menggabungkan diri dengan makhluk.
Barangkali cara terbaik untuk memandang teologi Denys adalah dengan melihatnya sebagai tarian spiritual antara apa yang bisa kita tegaskan mengenai Tuhan dengan apresiasi bahwa apa pun yang bisa kita katakan tentang dia pastilah bersifat simbolik semata. Seperti dalam Yudaisme, Tuhan Denys memiliki dua aspek: yang satu menoleh kepada kita dan memanifestasikan dirinya di dunia, sedangkan yang lain berada dalam dirinya sendiri dan tetap tidak bisa dipahami. Dia “tetap berada dalam dirinya” dalam misteri abadi; pada saat yang sama dia memenuhi langit dan bumi. Dia bukanlah wujud lain yang ditambahkan pada dunia.
Metode Denys dianggap biasa dalam teologi Yunani. Akan tetapi, di Barat para teolog akan terus berbicara dan menjelaskan. Beberapa di antara mereka membayangkan bahwa ketika mereka mengatakan “Tuhan”, maka realitas ilahi sebenarnya bersatu dengan ide di dalam pikiran mereka. Sebagian lainnya menisbahkan pikiran dan gagasan mereka sendiri kepada Tuhan—mengatakan bahwa Tuhan menghendaki ini, melarang itu, atau telah merencanakan yang lain—dalam cara yang mengandung bahaya keberhalaan. Akan tetapi, Tuhan Yunani Ortodoks tetap misterius, dan Trinitas akan terus mengingatkan orang Kristen Timur pada sifat kesementaraan doktrin-doktrin mereka. Akhirnya, orang Yunani memutuskan bahwa sebuah teologi autentik harus memenuhi dua kriteria Denys: mesti hening dan paradoks.
Orang Yunani dan Latin secara signifikan juga mengembangkan pandangan yang berbeda tentang keilahian Kristus. Konsep Yunani tentang inkarnasi dirumuskan oleh Maximus the Confessor (kl. 580–662) yang dikenal sebagai Bapak Teologi Byzantium. Teologi ini kira-kira lebih dekat kepada cita-cita kaum Buddha dibandingkan kepada pandangan Barat. Maximus percaya bahwa manusia hanya dapat mencapai kesejatian diri jika mereka dapat bersatu dengan Tuhan, persis seperti yang diyakini oleh orang Buddha bahwa pencerahan merupakan tujuan kemanusiaan yang sejati. “Tuhan” dengan demikian bukanlah sebuah pilihan ekstra, sebuah realitas asing di luar diri yang ditambahkan pada kondisi kemanusiaan. Manusia mempunyai potensi untuk mencapai keilahian dan menjadi manusia yang utuh hanya jika hal ini tercapai.
Logos menjadi manusia bukan demi memperbaiki dosa Adam; bahkan Inkarnasi akan tetap terjadi seandainya pun Adam tidak membuat dosa. Manusia diciptakan dalam kemiripan dengan logos dan akan mencapai potensi mereka yang sepenuhnya hanya jika kemiripan ini telah disempurnakan.
Di gunung Tabor, kegemilangan kemanusiaan Yesus memperlihatkan kepada kita kondisi manusia yang menuhan, kondisi yang dapat diraih oleh kita semua. Firman telah dijadikan daging agar “seluruh manusia akan menjadi Tuhan, dituhankan melalui berkat Allah—manusia utuh, jiwa dan raga, secara alamiah dan Tuhan utuh, jiwa dan raga, karena berkat”. Seperti halnya pencerahan dan ke-Buddha-an tidak melibatkan campur tangan sebuah realitas adi-alami, tetapi merupakan peningkatan kekuatan-kekuatan yang alamiah bagi manusia, demikian pula Kristus yang menuhan memperlihatkan kepada kita keadaan yang dapat kita peroleh melalui berkat Allah. Orang Kristen memuliakan Yesus Manusia-Tuhan lewat cara yang kurang lebih sama dengan orang Buddha mengagungkan citra Gautama yang tercerahkan: dia menjadi contoh pertama kemanusiaan yang benar-benar penuh dan dimuliakan.
Kalau pandangan Yunani tentang Inkarnasi membawa Kristen menjadi lebih dekat kepada tradisi Timur, pandangan Barat tentang Yesus menempuh jalan yang lebih eksentrik. Teologi klasik dipaparkan oleh Uskup Anselm dari Canterbury (1033–1109), dalam risalahnya Why God Became Man. Menurutnya, dosa merupakan kesalahan yang amat besar sehingga pertobatan menjadi penting agar rencana-rencana Tuhan terhadap manusia tidak terhalangi. Firman telah dijadikan daging untuk melakukan perbaikan atas nama kita.
Keadilan Tuhan menuntut pelunasan utang oleh seseorang yang memiliki pribadi ketuhanan dan kemanusiaan sekaligus: akibat besarnya pelanggaran itu, maka hanya seorang Anak Tuhan saja yang bisa memberi penyelamatan bagi kita. Akan tetapi, karena yang bertanggung jawab adalah seorang manusia, sang penebus juga harus merupakan anggota ras manusia. Inilah skema legalistik dan rapi yang melukiskan pikiran Tuhan, memutuskan dan menimbang keadaan seakan-akan dia adalah manusia biasa. Skema ini juga memperkuat citra tentang Tuhan yang keras, yang hanya dapat dipuaskan melalui kematian diam-diam anaknya sendiri, yang ditawarkan sebagai sejenis pengurbanan manusia.
Doktrin Trinitas telah sering disalahpahami di dunia Barat. Orang-orang cenderung membayangkan adanya tiga figur suci atau sama sekali mengabaikan doktrin itu dan mengidentifikasikan “Allah” dengan Tuhan Bapa serta memandang Yesus sebagai pendamping ilahi—tidak lagi dalam peringkat yang setara. Umat Islam dan Yahudi menganggap doktrin itu membingungkan dan bahkan menghujat. Sungguhpun demikian, akan kita lihat nanti bahwa ternyata baik mistik Yudaisme maupun Islam telah mengembangkan konsepsi keilahian yang teramat mirip.
Gagasan tentang kenosis, ekstasi pengosongan diri, misalnya, akan menjadi krusial dalam Kabbalah maupun sufisme. Dalam Trinitas, Bapa menyalurkan segala yang ada pada dirinya kepada Putra, menyerahkan segala sesuatu—bahkan kemungkinan untuk mengungkapkan diri dalam Firman yang lain. Begitu Firman telah diucapkan, Tuhan Bapa menjadi hening: tak ada yang bisa kita katakan tentang dia sebab satu-satunya Tuhan yang bisa kita ketahui hanyalah logos atau Putra.
Karena itu, Bapa tidak memiliki identitas, tak ada “Aku” dalam pengertian biasa, dan membingungkan pengertian kita tentang kepribadian. Sumber asal Ada adalah Tiada yang telah diungkap tidak hanya oleh Denys, tetapi juga oleh Plotinus, Philo, dan bahkan Buddha. Karena Bapa biasanya ditampilkan sebagai pencarian Akhir dari Kristen, perjalanan Kristen menjadi gerakan maju yang tak bertujuan.
Gagasan tentang suatu Tuhan yang personal atau personalisasi Yang Mutlak telah menjadi bagian penting dari umat manusia: orang Hindu dan Buddha telah memberikan konsesi kepada peribadatan bhakti yang bersifat personalistik. Namun, paradigma atau simbol Trinitas menyarankan bahwa personalisme mesti ditransendensikan dan bahwa tidaklah cukup untuk membayangkan Tuhan sebagai manusia yang diperluas, berperilaku dan bereaksi dengan cara yang sama seperti kita.
Doktrin Inkarnasi dapat dipandang sebagai usaha lain untuk menetralkan bahaya keberhalaan. Begitu “Tuhan” dilihat sebagai realitas yang sama sekali lain “di luar sana”, dia dengan mudah akan menjadi sekadar berhala dan proyeksi, yang membuat manusia mengeksternalisasi dan menyembah praduga serta hasrat mereka sendiri. Tradisi-tradisi keagamaan yang lain telah berupaya mencegah hal ini dengan menekankan bahwa Yang Mutlak itu bagaimanapun terjalin dengan kondisi manusia, seperti dalam paradigma Brahman–Atman.
Arius—kemudian Nestorius dan Eutyches—kesemuanya ingin membuat Yesus entah manusia atau ilahi, dan mereka berkeras sebagiannya karena kecenderungan untuk tetap memisahkan kemanusiaan dan keilahian dalam tataran terpisah. Benar, jalan keluar yang mereka tempuh lebih bersifat rasional, namun dogma—sebagai lawan dari kerygma—tidak mesti terbatas pada apa-apa yang bisa diungkapkan sepenuhnya, seperti puisi atau musik.
Doktrin Inkarnasi—seperti yang secara serampangan dikemukakan oleh Athanasius dan Maximus—merupakan upaya mengartikulasikan pandangan universal bahwa “Tuhan” dan manusia haruslah tak terpisah. Di Barat, di mana Inkarnasi tidak diformulasikan dengan cara ini, terdapat kecenderungan untuk memandang Tuhan tetap bersifat eksternal terhadap manusia dan sebagai realitas alternatif bagi dunia yang kita kenal. Akibatnya, sangat mudah untuk menjadikan “Tuhan” ini sekadar sebagai sebuah proyeksi—yang belakangan malah sudah ditinggalkan.
Namun, dengan membuat Yesus sebagai satu-satunya avatar, kita telah menyaksikan bahwa orang Kristen telah mengambil pandangan eksklusif tentang kebenaran agama: Yesus adalah Firman Tuhan yang Pertama dan Terakhir bagi umat manusia, membuat wahyu-wahyu masa depan tak diperlukan lagi. Akibatnya, sebagaimana juga orang Yahudi, mereka guncang ketika pada abad ketujuh di Arabia muncul seorang nabi yang mengklaim telah menerima langsung wahyu dari Tuhan mereka dan membawa kitab suci baru bagi umatnya.
Sungguhpun demikian, versi baru monoteisme itu, yang akhirnya dikenal sebagai “Islam”, menyebar dengan kecepatan yang sangat mengagumkan ke seantero Timur Tengah dan Afrika Utara. Banyak dari pengikut barunya yang antusias di kawasan-kawasan ini dengan lega melepas Trinitarianisme Yunani, yang mengungkapkan misteri Tuhan dalam idiom yang asing bagi mereka, dan menganut pandangan yang lebih Semitik tentang realitas ilahi.







Comments (0)