Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan

Para penulis biografi awal Muhammad sering menggambarkan ketakjuban dan keterkejutan yang dialami orang-orang Arab ketika mereka pertama kali mendengarkan Al-Guran. Banyak yang berpindah agama seketika itu juga, karena percaya bahwa hanya Tuhanlah yang bisa menyusun langgam bahasa dengan keindahan yang menakjubkan itu. Sering pula seorang penganut baru menggambarkan pengalaman itu sebagai rasukan ilahi yang mengalirkan kerinduan terpendam dan membebaskan desakandesakan perasaan. Demikianlah pengakuan pemuda Quraisy, seperti Umar ibn Khattab yang pernah menjadi musuh paling berbahaya bagi Muhammad, dia dahulunya penyembah setia dewa-dewa paganisme kuno dan siap untuk membunuh Nabi. Akan tetapi, tokoh Muslim yang bisa diibaratkan sebagai Saulus dari Tarsus ini beralih agama bukan karena melihat Yesus sang Firman, melainkan karena Al-Quran.

Ada dua versi tentang kisah konversi Umar, keduanya berharga untuk dicatat. Versi pertama mengisahkan Umar mendapati saudara perempuannya, yang telah masuk Islam secara diam-diam, tengah menyimak pembacaan sebuah surah baru. “Omong kosong apa itu?” dia membentak dengan keras sembari menyerbu masuk ke dalam rumah, dan mengempaskan Fatimah yang malang ke tanah. Namun, ketika dia melihat saudara perempuannya berdarah, Umar mungkin merasa bersalah, raut wajahnya berubah. Dia memungut naskah yang tak sengaja terjatuh karena takut dari tangan pembaca AlQuran yang didatangkan Fatimah ke rumah itu. Karena Umar termasuk di antara sedikit orang Quraisy yang bisa bacatulis, dia pun mulai membacanya. Umar diakui memiliki autoritas dalam soal syair lisan bahasa Arab dan sering dimintai pendapat oleh para penyair tentang makna yang tepat dari bahasa itu, namun Umar belum pernah menjumpai sesuatu yang serupa dengan Al-Quran. “Betapa agung dan indahnya kalimat ini!” dia berkata dengan penuh rasa takjub, dan pada saat itu juga dia berpindah menganut agama Allah. 18

Keindahan kata-kata Al-Quran telah menembus kebencian dan prasangka Umar ibn Khattab menuju pusat ketundukan yang belum pernah disadarinya. Kita semua telah memiliki pengalaman yang mirip, ketika sebuah puisi menyentuh rasa pengakuan yang berada pada tingkat yang lebih dalam daripada akal.

Dalam versi lain tentang masuk Islamnya Umar, dikisahkan bahwa pada suatu malam dia bertemu Muhammad di Ka'bah, yang tengah melantunkan Al-Quran dengan suara perlahan di depan tempat suci itu. Karena merasa ingin mendengarkan firman-firman itu, Umar menyelinap ke bawah tirai yang menutupi bangunan kubus besar itu dan berjalan menyelinap hingga akhirnya tiba persis di depan Nabi. Seperti yang dikatakannya, “Tak ada sesuatu pun di antara kami berdua kecuali tirai penutup Ka'bah”—tak ada yang melindungi dirinya kecuali satu itu. Kemudian kekuatan gaib dari bahasa Arab itu mulai berpengaruh: “Ketika aku mendengar AlQuran, hatiku menjadi lembut sehingga aku menangis dan kubiarkan Islam menyelinap memasuki jiwaku.”19 Al-Quran menjadikan Tuhan bukan sebuah realitas mahaperkasa yang berada "jauh di luar sana”. Al-Guran menghadirkan Tuhan di dalam pikiran, hati, dan wujud setiap orang yang beriman (mukmin).

Pengalaman Umar dan umat Muslim lainnya yang tergugah untuk menganut Islam karena Al-Quran mungkin bisa diperbandingkan dengan pengalaman seni seperti yang diketengahkan oleh George Steiner dalam bukunya Real Presences: Is There Anything in What We Say? Steiner berbicara tentang apa yang disebutnya “penjalaran seni, sastra, dan musik serius” yang “mempertanyakan privasi terjauh eksistensi kita”, invasi atau pewartaan yang menerobos ke dalam “relung kecil wujud kita” dan memerintahkan kita “ubahlah kehidupanmu!" Setelah panggilan itu, relung tersebut “tak lagi dapat dihuni dalam cara yang sama seperti sebelumnya”.20

Muslim seperti Umar tampaknya mendapat pengalaman guncangan perasaan yang serupa, desakan yang membangunkan dan mengusik, yang memampukan mereka menjalani keterputusan yang menyakitkan dengan tradisi masa lalu. Bahkan orang-orang Quraisy yang telah menolak Islam tak luput terguncang oleh Al-Quran dan menemukannya berada di luar semua kategori yang telah mereka kenal: tak ada sama sekali bagian Al-Quran yang mirip dengan inspirasi kahin atau penyair; juga sama sekali berbeda dari jampi tukang sihir. Beberapa kisah menunjukkan orang-orang kuat Quraisy yang tetap bersikukuh dalam sikap menentang tampak gemetar ketika mendengar pembacaan sebuah surah.

Muhammad seakan-akan telah menciptakan bentuk sastra baru yang belum siap diterima oleh sebagian orang namun mengguncangkan sebagian lainnya. Tanpa pengalaman tentang Al-Quran ini, hampir tidak mungkin bagi Islam untuk dapat mengakar. Kita telah menyaksikan bahwa orang Israel kuno membutuhkan waktu sekitar /00 tahun untuk memutuskan keterikatan dengan keyakinan lama mereka dan menerima monoteisme, tetapi Muhammad berhasil membantu orang Arab untuk melalui transisi yang sulit ini hanya dalam waktu dua puluh tiga tahun. Muhammad sebagai penyair dan nabi, dan Al-Quran sebagai naskah dan teofani, sungguh merupakan keadaan yang dengan sangat tepat mencontohkan konkurensi mendalam antara seni dan agama.

Dalam tahun-tahun pertama misi kenabiannya, Muhammad berhasil menarik banyak pengikut dari generasi yang lebih muda, yang telah dikecewakan oleh etos kapitalistik Makkah, serta dari kelompok-kelompok pinggiran dan tak beruntung, yang mencakup kaum wanita, para budak, dan anggota suku-suku yang lebih lemah. Pada suatu waktu, demikian sumber-sumber awal menyampaikan kepada kita, kelihatan seakan-akan seluruh Makkah bersedia menerima agama Allah yang baru diperkenalkan oleh Muhammad. Orang-orang kaya yang sudah mapan, yang lebih dari sekadar senang dengan keadaan status guo, sudah tentu bersikap tak peduli, namun tak ada perselisihan resmi dengan kaum Quraisy hingga ketika Muhammad melarang kaum Muslim untuk menyembah dewa-dewa pagan.

Selama tiga tahun pertama tampaknya Muhammad tidak menekankan kandungan monoteistik dari risalahnya, dan orang-orang mungkin membayangkan bahwa mereka dapat terus menyembah dewa Arab tradisional selain Allah, sebagaimana yang biasa mereka lakukan. Namun, tatkala kultus-kultus kuno ini mulai dicela sebagai pemberhalaan, Muhammad kehilangan banyak pengikutnya dan Islam kemudian menjadi keyakinan minoritas yang dianggap rendah dan dibenci.

Kita telah melihat bahwa kepercayaan kepada hanya satu Tuhan menuntut perubahan kesadaran yang menyakitkan. Seperti halnya orang-orang Kristen awal, kaum Muslim generasi pertama dituduh sebagai penganut “ateisme” yang membahayakan masyarakat. Di Makkah, di mana peradaban kota masih baru dan tentunya tampak sebagai keberhasilan yang rentan bagi kaum Quraisy yang amat bangga akan kecukupan dirinya, banyak yang merasakan ketakutan dan kegelisahan yang sama seperti dirasakan penduduk Roma yang pada awalnya menolak Kristen.

Kaum Quraisy tampaknya merasa keterputusan dengan dewa-dewa leluhur mereka sebagai ancaman besar, dan tak lama kemudian nyawa Muhammad sendiri pun terancam. Para sarjana Barat biasanya menghubungkan keterputusan yang dialami kaum Quraisy ini dengan peristiwa fiktif Ayat-Ayat Setan, yang menjadi terkenal sejak kasus tragis Salman Rushdie.

Ada tiga sesembahan Arab kuno yang secara khusus disenangi oleh orang-orang Arab hijaz, yaitu Allat (yang secara sederhana berarti “Dewi”) dan Al-Uzza (Yang Perkasa), masing-masing memiliki kuil suci di Thaif dan Nakhlah, sebelah tenggara Makkah, dan Manat (Sang Penentu), yang kuil sucinya bertempat di Qudaid, di pesisir Laut Merah. Sesembahan ini tidak sepenuhnya dipersonalisasikan seperti Juno atau Pallas Athene. Mereka sering disebut banat Allah, yang arti harfiahnya Anak Perempuan Allah, tetapi tidak merupakan sesembahan yang telah berkembang sepenuhnya.

Orang Arab menggunakan istilah kekeluargaan seperti itu untuk menyatakan suatu hubungan yang abstrak: dengan demikian, banat al-dahr (harfiahnya “putri-putri nasib”) sekadar bermakna ketidakberuntungan atau pasang surut kehidupan. Istilah banat Allah mungkin sekadar merujuk kepada “wujud-wujud suci”. Sesembahan ini tidak diwakili oleh patung yang realistik di dalam kuil-kuil, tetapi oleh batu-batu besar yang berdiri tegak, seperti yang terdapat di kalangan orang Kanaan kuno. Batu itu tidak disembah oleh orang-orang Arab secara langsung, tetapi hanya menjadi sebuah fokus keilahian.

Seperti Makkah dengan Ka?bahnya, kuil-kuil di Thaif, Nakhlah, dan Qudaid telah menjadi lambang spiritual yang penting di dalam hati orangorang Arab. Nenek moyang mereka telah beribadah di sana sejak zaman antah-berantah, dan ini mereka memberi rasa ketersambungan yang melegakan.

Kisah Ayat-Ayat Setan tidak disebutkan di dalam Al-Quran maupun sumber-sumber lisan dan tertulis yang terdahulu. Kisah ini juga tidak tercantum di dalam Sirah Ibn Ishaq, biografi Nabi yang paling autoritatif, tetapi hanya ditemukan di dalam karya sejarahwan abad kesepuluh, Abu Ja?far Al-Thabari (w. 923).

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Dia menceritakan kepada kita bahwa Muhammad mengkhawatirkan keretakan hubungan yang terjadi antara dirinya dengan sebagian besar anggota suku sejak dia melarang pemujaan terhadap dewidewi mereka. lalu, Muhammad mengucapkan beberapa bait janggal yang mengizinkan banat Allah diagungkan sebagai perantara, seperti halnya para malaikat. Dalam bait-bait yang disebut sebagai “Ayat-Ayat Setan” ini—karena konon diinspirasikan oleh “setan”— ketiga dewi itu tidak dipandang setara dengan Allah tetapi merupakan wujud spiritual lebih rendah yang bisa memohon kepada Allah, atas nama manusia.

Akan tetapi, AlThabari kemudian berkata bahwa Jibril memperingatkan kepada Muhammad bahwa bait-bait tersebut berasal dari setan dan harus dikeluarkan dari Al-Quran untuk digantikan oleh ayat-ayat berikut ini yang menyatakan bahwa banat Allah hanyalah proyeksi dan isapan jempol imajinasi:

Maka apakah patut kamu (hai orang-orang
musyrik) menganggap Al-Lata dan Al-Uzza, dan
Manah yang ketiga, yang paling terkemudian
(sebagai anak perempuan Allah)

Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu
dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah
tidak menurunkan satu keterangan pun untuk
(menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah
mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang
diingini oleh hawa nafsu mereka, dan
sesungguhnya telah datang petunjuk kepada
mereka dari Tuhan mereka.“

Ini adalah ayat-ayat yang paling radikal di antara semua ayat AlQuran yang mencela dewa-dewa pagan leluhur kaum Quraisy. Setelah ayat ini dicantumkan di dalam Al-Quran maka tak ada lagi kesempatan rekonsiliasi dengan kaum Quraisy. Mulai saat ini, Muhammad menjadi seorang monoteis yang keras, dan syirk (secara harfiah berarti menyekutukan Allah dengan sesuatu yang lain) menjadi dosa paling besar dalam pandangan Islam.

Muhammad tidak memberi konsesi apa pun terhadap politeisme dalam peristiwa Ayat-Ayat Setan—kalaupun peristiwa ini memang pernah terjadi. Juga tidak tepat untuk membayangkan bahwa keterlibatan “setan” itu membuat Al-Quran untuk sesaat telah dinodai oleh kejahatan: di dalam Islam, setan merupakan karakter yang lebih dapat dikendalikan dibandingkan dengan di dalam Kristen. Al-Quran menyatakan kepada kita bahwa setan-setan itu akan diampuni di Hari Akhir, dan orang Arab sering menggunakan kata “syaithan” untuk menyebut penggoda manusia atau godaan yang alamiah.”

Peristiwa itu bisa memberi indikasi tentang kesulitan yang tentu dialami oleh Muhammad ketika dia berusaha menurunkan taraf pesan suci yang tak terlukiskan ke dalam bahasa manusia: peristiwa itu dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Quran kanonikal yang menyatakan bahwa sebagian besar nabi-nabi lain juga pernah melakukan kekeliruan ucap yang serupa ketika menyampaikan pesan ilahi, namun Tuhan selalu meluruskan kesalahan mereka dan menurunkan wahyu yang baru dan lebih unggul sebagai penggantinya.

Cara pandang alternatif dan lebih sekular terhadap hal ini adalah dengan melihat bahwa Muhammad merevisi karyanya di bawah bimbingan wawasan baru tak ubahnya seperti seorang pekerja kreatif seni. Sumber-sumber itu menunjukkan bahwa Muhammad secara mutlak menolak berkompromi dengan kaum Quraisy dalam soal keberhalaan. Dia adalah seorang yang pragmatis dan siap membuat konsesi dalam hal-hal yang dianggapnya tidak esensial.

Akan tetapi, setiap kali kaum Quraisy memintanya untuk mengadopsi solusi yang memadukan tauhid dengan pemberhalaan, membiarkan mereka menyembah dewadewa leluhur mereka, sementara dia dan kaum Muslim menyembah Allah saja, Muhammad dengan keras menolak usulan itu. Seperti yang difirmankan di dalam Al-Guran: Aku tak akan menyembah apa yang kalian sembah, dan kalian tak akan menyembah apa yang aku sembah ... bagimu agamamu dan bagiku agamaku! 2 Kaum Muslim hanya akan tunduk kepada Allah saja dan tidak akan menyerah kepada objek-objek ibadat yang keliru—apakah itu dewa-dewa maupun nilai-nilai—seperti dianjurkan oleh orang-orang Quraisy.

Persepsi tentang keunikan Tuhan merupakan basis moralitas AIQuran. Menyembah benda-benda material atau meletakkan kepercayaan pada wujud yang lebih rendah adalah syirk (keberhalaan). Al-Guran menumpahkan celaan terhadap dewadewa pagan dalam cara yang sangat mirip dengan kitab suci Yahudi: dewa-dewa itu sama sekali tak bisa berbuat apa-apa. Dewa-dewa itu tak mampu memberikan makanan atau rezeki: tidak ada gunanya meletakkan mereka sebagai pusat dalam kehidupan seseorang karena mereka tidaklah berdaya.

Sebaliknya, seorang Muslim juga harus yakin bahwa Allah adalah Realitas Tertinggi dan Unik:

Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya
segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada
pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatu pun
yang setara dengan Dia

Penganut Kristen seperti Athanasius juga berkeyakinan bahwa hanya Sang Pencipta, sumber segala wujud, yang memiliki kekuatan penebusan. Mereka telah mengungkapkan pandangan ini dalam doktrin Trinitas dan Inkarnasi. Al-Quran kembali kepada gagasan Semitik tentang ketunggalan ilahi dan menolak membayangkan bahwa Tuhan dapat “memperanakkan” seorang putra. Tak ada Tuhan kecuali Allah, Pencipta langit dan bumi. Hanya Allah yang dapat menyelamatkan manusia dan menganugerahkan rezeki fisik maupun spiritual yang dibutuhkan manusia.

Hanya dengan mengakuinya sebagai Al-Shamad, “Penyebab yang Tidak Disebabkan atas segala sesuatu”, kaum Muslim dapat mencapai sebuah dimensi realitas yang melampaui waktu dan sejarah, yang akan menghindarkan mereka dari perselisihan kesukuan yang memecah-belah masyarakat. Muhammad mengetahui bahwa monoteisme bertentangan dengan tribalisme: satu Tuhan yang menjadi fokus semua peribadatan akan mempersatukan masyarakat maupun individu.

Namun, tak ada pandangan tentang Tuhan yang simplistik. Tuhan yang tunggal ini bukanlah suatu wujud seperti diri kita sendiri yang dapat kita ketahui dan pahami. Frasa “Allahu Akbar (Tuhan Mahabesar!),” yang menyeru kaum Muslim untuk melaksanakan shalat, menekankan perbedaan Tuhan dengan semua realitas lain, juga antara Tuhan dalam dirinya sendiri (Al-Dzat) dengan apa pun yang bisa kita katakan tentang dia.

Sungguhpun demikian, Tuhan yang tidak bisa dipahami dan dijangkau ini telah berkehendak untuk membuat dirinya diketahui. Di dalam sebuah hadis qudsi, Tuhan berfirman kepada Muhammad:

“Aku adalah perbendaharaan yang tersembunyi; Aku ingin dikenal. Kemudian Aku ciptakan alam agar Aku bisa dikenal.”

Dengan merenungkan tanda-tanda (ayat) alam dan ayat-ayat Al-Quran, kaum Muslim dapat memperoleh kilasan aspek keilahian yang telah dituangkan di alam semesta, yang oleh Al-Quran disebut sebagai Wajah Allah (wajh Allah).

Seperti kedua agama yang lebih tua, Islam menekankan bahwa kita hanya bisa melihat Tuhan melalui aktivitasnya, yang menyesuaikan wujudnya yang tak terlukiskan itu dengan pemahaman kita yang terbatas. Al-Quran memerintahkan kaum Muslim untuk menanamkan kesadaran yang tak terputus tentang Wajah atau Zat Tuhan yang melingkupi mereka dari semua sisi:

Ke mana pun engkau berpaling, maka di sana akan ada Wajah Allah.

Al-Quran memandang Tuhan sebagai yang Mutlak, pemilik eksistensi sejati:

Semua yang ada di bumi itu akan binasa.
Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.

Di dalam Al-Quran disebutkan sembilan puluh sembilan nama atau sifat Tuhan. Ini menekankan bahwa dia “lebih besar”, sumber dari semua kualitas positif yang kita jumpai di alam semesta. Dengan demikian, dunia menjadi ada hanya karena dia adalah Al-Ghani (kaya dan tak terbatas), memberi kehidupan (Al-Muhyi), mengetahui segala sesuatu (Al-'Alim), dan berbicara (Al-Kalim). Tanpa dia, karenanya, takkan ada kehidupan, pengetahuan, atau kata-kata. Ini merupakan penegasan bahwa hanya Allah yang memiliki eksistensi yang sejati dan nilai positif.

Sungguhpun demikian, tak jarang sifat-sifat itu kelihatannya seperti bertentangan satu sama lain. Misalnya, Tuhan adalah Al-Wahhar, yang mendominasi dan mematahkan tulang musuh-musuhnya, dan Al-Halim, yang sangat melindungi. Dia adalah Al-Qabid, yang menyempitkan, dan Al-Basit, yang melapangkan. Dia adalah Al-Khafidh, yang merendahkan, dan Al-Rafi', yang mengagungkan.

Nama-nama Tuhan memainkan peran sentral dalam peribadatan Muslim. Nama-nama itu dibaca, dihitung pada bulir-bulir tasbih, dan diucapkan seperti mantra. Semua ini mengingatkan kaum Muslim bahwa Tuhan yang mereka sembah tidak bisa dicakup oleh kategori-kategori manusia dan mengelak dari definisi yang sederhana.

Rukun Islam yang pertama adalah syahadat, pengakuan keimanan seorang Muslim:

“Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah.”

Ini bukan sekadar penegasan atas eksistensi Tuhan, tetapi sebuah pengakuan bahwa Allah merupakan satu-satunya realitas sejati, satu-satunya bentuk eksistensi sejati. Dia adalah satu-satunya realitas, keindahan, atau kesempurnaan sejati. Semua wujud yang terlihat ada dan memiliki sifat-sifat seperti ini hanya meminjam keberadaan dan sifat tersebut dari wujud esensial ini.

Mengucapkan penegasan ini menuntut kaum Muslim untuk mengintegrasikan kehidupan mereka dengan menjadikan Allah sebagai fokus dan prioritas tunggal mereka. Penegasan tentang keesaan Allah bukan sekadar penyangkalan atas kelayakan dewa-dewa, seperti banat Allah, untuk disembah.

Mengatakan bahwa Allah itu satu bukan sekadar sebuah definisi numerik, melainkan seruan untuk menjadikan keesaan itu sebagai faktor pengendali kehidupan individu dan masyarakat. Keesaan Tuhan dapat terpantul dalam diri yang benar-benar terintegrasi.

Akan tetapi, keesaan ilahi juga menuntut kaum Muslim untuk menghargai aspirasi keagamaan lain. Karena hanya ada satu Tuhan, maka semua agama wahyu pasti berasal darinya. Kepercayaan pada realitas tunggal dan tertinggi bisa dikondisikan secara kultural dan diungkapkan oleh masyarakat yang berbeda dengan cara-cara yang berbeda, tetapi fokus semua peribadatan sejati harus diinspirasikan oleh, dan diarahkan kepada, wujud yang oleh orang-orang Arab selalu disebut Allah.

Salah satu nama Tuhan yang disebutkan di dalam Al-Quran adalah Al-Nur, cahaya. Dalam ayat-ayat yang terkenal ini, Tuhan adalah sumber semua pengetahuan dan sarana yang melaluinya manusia dapat menangkap kilasan tentang yang transenden:

Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti [ka], sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar.
Pelita itu di dalam kaca, dan kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah baratnya, yang minyaknya hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api.
Cahaya di atas cahaya.

Sisipan ka merupakan pengingat akan watak simbolik yang mendasar dalam setiap pembicaraan Al-Quran tentang Tuhan. Al-Nur, oleh karena itu, bukanlah Tuhan itu sendiri, tetapi merujuk kepada pencerahan yang dikaruniakannya pada suatu wahyu khusus (pelita) yang bersinar di hati seseorang (lubang). Cahaya itu sendiri tidak bisa disamakan sepenuhnya dengan salah seorang pembawanya, tetapi berlaku sama untuk semua.

Sebagaimana ditafsirkan oleh para mufasir Muslim sejak hari-hari awal Islam, cahaya merupakan simbol yang sangat baik bagi realitas ilahi, yang mentransendensi ruang dan waktu. Citra pohon zaitun di dalam ayat ini telah ditafsirkan sebagai perumpamaan bagi kesinambungan wahyu, yang tumbuh dari satu “akar” dan bercabang menjadi berbagai pengalaman keagamaan yang tidak bisa diidentifikasi atau dibatasi pada satu tradisi atau lokasi tertentu: ia tidak berasal dari Timur maupun dari Barat.

Ketika Waragah ibn Naufal yang beragama Kristen itu telah menyatakan bahwa Muhammad adalah seorang nabi sejati, baik dirinya sendiri maupun Muhammad tidak berharap agar dia masuk Islam. Muhammad tak pernah meminta orang Yahudi atau Kristen untuk menganut agama Allah, kecuali jika mereka sendiri yang betul-betul menginginkannya, karena mereka telah memiliki kitab suci tersendiri yang juga autentik.

Al-Quran tidak memandang pewahyuan sebagai pembatalan pesan-pesan dan pandangan-pandangan dari nabi terdahulu, tetapi justru menekankan kesinambungan pengalaman keagamaan umat manusia. Hal ini perlu ditegaskan karena toleransi bukanlah suatu kebajikan yang oleh banyak orang Barat masa kini dirasakan pantas untuk dinisbahkan kepada Islam.

Namun sejak awal, cara pandang kaum Muslim terhadap wahyu tidaklah seeksklusif pandangan orang Yahudi atau Kristen. Sikap tidak toleran dalam Islam yang banyak dicela orang pada masa kini tidak tumbuh dari visi yang bersaing tentang Tuhan, tetapi dari sumber yang lain. Kaum Muslim tidak toleran terhadap ketidakadilan, apakah itu dilakukan oleh pemimpin mereka sendiri—seperti Syah Muhammad Reza Pahlavi dari Iran—atau oleh negara-negara kuat di Barat.

Al-Quran tidak mencela tradisi keagamaan lain sebagai hal yang keliru atau tidak lengkap, tetapi menunjukkan bahwa setiap nabi baru selalu meneguhkan dan melanjutkan pandangan para pendahulunya. Al-Quran mengajarkan bahwa Tuhan telah mengirim para utusan kepada setiap umat manusia di muka bumi. Sebuah hadis menyebutkan adanya 124.000 nabi seperti itu, sebuah angka simbolik yang menunjukkan ketakterbatasan.

Al-Quran berulang-ulang menyatakan bahwa yang disampaikannya bukanlah suatu risalah yang sama sekali baru dan bahwa kaum Muslim harus menekankan keserumpunan mereka dengan agama-agama yang lebih tua:

Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara mereka, dan katakanlah:
“Kami beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhanmu adalah satu, dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.”

Secara alamiah, Al-Quran memilih nabi-nabi yang terkenal di kalangan orang Arab—seperti Ibrahim, Nuh, Musa, dan Isa—yang juga merupakan nabi-nabi Yahudi dan Kristen. Dalam kitab ini juga disebutkan Nabi Hud dan Saleh, yang telah diutus kepada orang-orang Arab kuno Madian dan Tsamud.

Kaum Muslim zaman sekarang meyakini bahwa andaikan Muhammad telah mengenal orang Hindu dan Buddha, tentu beliau akan memasukkan pula guru-guru religius mereka. Setelah Nabi wafat, mereka akan diberi kebebasan beragama sepenuhnya di dalam imperium Islam, sebagaimana yang berlaku bagi orang Yahudi dan Kristen.

Berdasarkan prinsip yang sama, kaum Muslim berpendapat, Al-Quran juga akan menghormati para saman dan orang suci Indian Amerika atau orang Aborigin Australia.

Keyakinan Muhammad akan kesinambungan pengalaman keagamaan segera mendapat ujian. Setelah perpecahan dengan kaum Quraisy, kehidupan menjadi sulit bagi umat Muslim di Makkah. Para budak dan orang-orang merdeka yang tidak memiliki perlindungan kesukuan harus menjalani siksaan berat sehingga sebagiannya menemui ajal di bawah perlakuan itu.

Klan Hasyim diboikot dari ketersediaan pangan dalam upaya untuk membuat mereka tunduk. Dalam masa pengucilan inilah Khadijah, istri tercinta Muhammad, meninggal dunia. Akhirnya, nyawa Muhammad sendiri juga terancam.

Kaum pagan Arab di pemukiman utara Yatsrib mengundang kaum Muslim untuk meninggalkan klan mereka dan beremigrasi ke sana. Ini benar-benar merupakan langkah yang belum pernah diambil oleh seorang Arab: suku telah menjadi nilai yang suci bagi orang Arab, dan penyeberangan semacam itu dipandang melanggar prinsip yang mendasar.

Yatsrib sendiri telah tercabik-cabik oleh perang yang terus berkecamuk di antara berbagai kelompok suku, dan banyak kaum pagan yang siap menerima Islam sebagai solusi spiritual dan politik bagi persoalan yang mereka hadapi. Tiga suku Yahudi yang besar di pemukiman itu telah mempersiapkan pikiran kaum pagan untuk menerima monoteisme. Ini berarti mereka tidak akan setersinggung kaum Quraisy ketika dewa-dewa mereka direndahkan.

Maka, pada musim panas tahun 622, sekitar tujuh puluh orang Muslim dan keluarga mereka berangkat menuju Yatsrib.

Setahun sebelum hijrah ke Yatsrib (atau Madinah, “kota”, sebagaimana disebut oleh umat Muslim), Muhammad telah mengadaptasikan agamanya agar menjadi lebih dekat kepada Yudaisme sebagaimana yang dipahaminya. Setelah bertahun-tahun bekerja sendirian, dia tentunya menanti kesempatan untuk hidup berdampingan dengan para penganut tradisi yang lebih tua dan mapan.

Kemudian, kaum Muslim diperintahkan untuk berpuasa pada hari Penebusan Dosa bagi umat Yahudi. Orang Muslim dapat menikah dengan wanita Yahudi dan harus mematuhi beberapa aturan tentang makanan. Di atas semua itu, kaum Muslim kini shalat menghadap ke Yerusalem sebagaimana kaum Yahudi dan Kristen.

Orang Yahudi Madinah adalah yang pertama bersedia memberikan kesempatan kepada Muhammad. Kehidupan di oase itu telah menjadi sangat berat, dan seperti kebanyakan kaum pagan Madinah, mereka siap memberi peluang baginya, terutama karena beliau bersikap sangat positif terhadap keyakinan mereka.

Namun akhirnya mereka beralih menentang Muhammad dan bergabung dengan kaum pagan yang memusuhi para pendatang baru dari Makkah itu. Kaum Yahudi memiliki alasan keagamaan dalam penolakan mereka: mereka berkeyakinan bahwa era kenabian telah berakhir. Mereka memang menanti seorang Mesias, namun tidak seorang pun dari kalangan Yahudi maupun Kristen pada tahap itu yang menduga bahwa sang Mesias adalah seorang nabi.

Selain itu, mereka juga dimotivasi oleh pertimbangan-pertimbangan politik. Di masa lalu mereka telah memegang kekuasaan di oase itu dengan cara berpihak kepada salah satu suku Arab yang tengah bertikai. Namun Muhammad telah menggabungkan suku-suku ini dengan kaum Quraisy untuk membentuk ummah Muslim yang baru, sejenis “suku-super” yang di dalamnya orang Yahudi ikut menjadi anggota.

Begitu melihat posisi mereka mengalami kemunduran di Madinah, orang-orang Yahudi mengambil sikap bermusuhan. Mereka biasa berkumpul di masjid “untuk mendengarkan kisah-kisah kaum Muslim sambil tertawa dan mengejek mereka”.

Sangat mudah bagi mereka, dengan tingkat pengetahuan yang lebih tinggi tentang kitab suci, untuk menemukan celah-celah dalam kisah-kisah Al-Quran—yang beberapa di antaranya sangat berbeda dari versi biblikal. Mereka juga mencemooh kenabian Muhammad, mengatakan bahwa sangatlah aneh jika seorang manusia yang mengaku nabi tidak mampu menemukan untanya yang hilang.

Penolakan Yahudi terhadap Muhammad mungkin merupakan kekecewaan terbesar dalam hidupnya, dan menempatkan seluruh posisi keagamaannya dalam tanda tanya. Akan tetapi, sebagian Yahudi bersikap bersahabat dan bergabung dengan umat Muslim secara terhormat.

Mereka mendiskusikan Alkitab dengan Muhammad dan menunjukkan kepadanya bagaimana cara menangkis kritik orang-orang Yahudi lainnya. Pengetahuan baru tentang kitab suci ini juga membantu Muhammad mengembangkan pandangan-pandangannya sendiri.

Untuk pertama kalinya, Muhammad mempelajari kronologi pasti para nabi, yang sebelumnya masih samar baginya. Kini, dia dapat melihat pentingnya Ibrahim hidup sebelum era Musa atau Isa. Sebelumnya Muhammad mungkin berpikir bahwa orang Yahudi dan Kristen itu menganut satu agama yang sama, tetapi kini dia telah belajar bahwa di antara mereka terdapat perbedaan pandangan yang serius.

Bagi pengamat luar seperti orang-orang Arab, tampaknya tak banyak pilihan di antara kedua posisi itu, dan tampak masuk akal pula untuk membayangkan bahwa pengikut Taurat dan Injil telah memasukkan unsur-unsur yang tidak autentik ke dalam hanifiyyah—agama murni Ibrahim—seperti hukum lisan yang dikembangkan oleh para rabi dan doktrin Trinitas yang tak bisa diterima itu.

Muhammad juga belajar bahwa di dalam kitab suci mereka sendiri, bangsa Yahudi disebut sebagai kaum yang tidak beriman, yang telah beralih kepada keberhalaan dengan menyembah patung lembu emas. Polemik tentang bangsa Yahudi di dalam Al-Guran cukup panjang lebar dan memperlihatkan betapa kaum Muslim telah merasa terancam akibat penolakan Yahudi ini, meskipun Al-Quran tetap mengajarkan bahwa tidak semua “kaum yang menerima wahyu terdahulu”?2 telah terjerumus ke dalam kesesatan dan bahwa pada dasarnya semua agama itu satu.

Dari orang-orang Yahudi Madinah yang bersikap bersahabat, Muhammad juga belajar tentang kisah Ismail, putra sulung Ibrahim. Di dalam Alkitab, Ibrahim mempunyai anak laki-laki dari selirnya Hajar.

Ketika Sarah telah melahirkan Ishak, dia menjadi sangat cemburu dan menuntut agar Ibrahim mengusir Hajar dan Ismail. Untuk menghibur Ibrahim, Tuhan berjanji bahwa Ismail juga akan menjadi bapak sebuah bangsa yang besar.

Orang Yahudi Arab telah menambahkan legenda-legenda lokal mereka sendiri kepada kisah itu dengan menyatakan bahwa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Ismail di lembah Makkah, dan Tuhan memberi perlindungan kepada mereka di sana dengan cara memancarkan mata air suci Zamzam ketika anak kecil itu nyaris mati kehausan.

Kemudian, Ibrahim mengunjungi Ismail dan mereka berdua mendirikan Ka'bah, bangunan suci pertama bagi Tuhan Yang Esa. Ismail telah menjadi bapak bangsa Arab, dan, seperti halnya orang-orang Yahudi, mereka juga keturunan Ibrahim.

Ini tentu merupakan sesuatu yang menyenangkan untuk didengar oleh Muhammad: setelah mempersembahkan kepada orang Arab kitab suci dalam bahasa mereka sendiri, sekarang dia pun telah menemukan akar keimanan mereka dalam keyakinan para leluhur.

Pada Januari 624, ketika semakin jelas bahwa permusuhan orang Yahudi Madinah bersifat permanen, agama baru ini menegaskan kemandiriannya. Kaum Muslim diperintahkan untuk melaksanakan shalat dengan berkiblat ke Ka'bah, bukan lagi ke Yerusalem.

Perubahan arah kiblat shalat ini telah disebut sebagai langkah keagamaan Muhammad yang paling kreatif. Dengan menghadapkan diri ke arah Ka'bah, yang bebas dari pengaruh kedua wahyu terdahulu, kaum Muslim secara tegas menyatakan bahwa mereka tidak beraliansi dengan agama mana pun yang sudah ada sebelumnya, tetapi menyerahkan diri mereka hanya kepada Allah semata.

Mereka justru kembali ke agama primordial Ibrahim, muslim pertama yang menyerahkan diri kepada Allah dan mendirikan rumah sucinya:

Dan mereka berkata, “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk.” Katakanlah, “Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik.”

Katakanlah (hai orang-orang mukmin), “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub, dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabinabi dari Tuhannya. Kami tidak membedabedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya."

Sungguh adalah perbuatan syirk jika orang lebih memilih tafsiran tentang kebenaran yang semata berasal dari manusia daripada Tuhan itu sendiri.

Kaum Muslim menghitung awal kalender mereka tidak dari tahun kelahiran Muhammad atau dari tahun turunnya wahyu pertama—karena memang tak ada sesuatu yang baru dalam hal-hal ini—melainkan dari tahun terjadinya peristiwa hijrah (migrasi ke Madinah) ketika kaum Muslim mulai menjalankan rencana Ilahi dalam sejarah dengan menjadikan Islam sebuah realitas politik.

Kita telah menyaksikan bahwa Al-Guran mengajarkan bahwa semua umat beragama mengemban tugas menegakkan masyarakat yang adil dan merata, dan kaum Muslim berupaya menjalankan panggilan politis ini dengan sangat serius.

Sejak awal, Muhammad tidak pernah bermaksud menjadi seorang pemimpin politik, tetapi kejadian-kejadian yang tak pernah terduga sebelumnya telah mendorongnya masuk ke dalam solusi politik yang sepenuhnya baru bagi orang Arab.

Selama sepuluh tahun antara hijrah hingga wafatnya pada tahun 632, Muhammad dan kaum Muslim generasi pertama terlibat dalam pertempuran tragis untuk bertahan melawan musuh-musuh di Madinah dan kaum Quraisy di Makkah, yang semuanya begitu bernafsu untuk menghancurkan ummah.

Di Barat, Muhammad sering ditampilkan sebagai panglima perang, yang mendesakkan Islam kepada dunia yang enggan menerimanya dengan kekuatan militer.

Namun, kenyataannya sungguh berbeda. Muhammad berperang untuk mempertahankan nyawanya, sambil mengembangkan sebuah teologi peperangan demi keadilan menurut Al-Quran yang tentunya bisa disepakati kebanyakan orang Kristen, dan tidak pernah memaksa siapa pun untuk berpindah ke agamanya.

Al-Guran pun dengan tegas menyatakan bahwa “tak ada paksaan dalam beragama”. Di dalam Al-Quran, perang dipandang sebagai sesuatu yang mesti dijauhi: satu-satunya perang yang diizinkan adalah perang untuk mempertahankan diri.

Kadang kala perang diperlukan untuk menegakkan nilai-nilai yang pantas, sebagaimana orang Kristen meyakini tentang perlunya perang melawan hitler.

Muhammad memiliki bakat politik tingkat tinggi. Di akhir hayatnya, mayoritas suku-suku Arab telah bergabung ke dalam ummah, meskipun, seperti yang diketahui persis oleh Muhammad, islam mereka kebanyakan masih bersifat nominal atau di permukaan saja.

Pada tahun 630, Makkah membuka pintu gerbangnya kepada Muhammad yang berhasil mengambil alih kota itu tanpa pertumpahan darah.

Pada tahun 632, beberapa saat sebelum wafat, Muhammad melaksanakan apa yang disebutnya Hujjatul Wada' (haji Perpisahan). Dalam kesempatan itu, beliau melakukan Islamisasi atas ritus hajj kaum pagan Arab kuno dan menjadikan ziarah yang sangat disenangi orang-orang Arab ini sebagai rukun Islam yang kelima.

Setiap Muslim berkewajiban melaksanakan ibadah haji setidaktidaknya satu kali dalam seumur hidup jika mampu.

Secara alamiah para jamaah haji akan mengenang Muhammad, tetapi ritus-ritus itu telah ditafsirkan untuk mengingatkan mereka kembali kepada Ibrahim, Hajar, dan Ismail daripada Nabi mereka sendiri.

Meski kelihatan ganjil bagi orang luar—seperti halnya ritus religius dan sosial asing lainnya—ritus ini mampu membangkitkan pengalaman keagamaan yang kuat dan dengan sempurna mengekspresikan aspek-aspek komunal dan personal dari spiritualitas Islam.

Pada masa sekarang, banyak di antara jamaah haji yang berkumpul pada waktu tertentu di Makkah bukanlah orang Arab, melainkan mereka telah mampu mengubah upacara Arab kuno itu menjadi tradisi mereka sendiri.

Ketika berkumpul di Ka'bah, mengenakan pakaian ihram yang menghilangkan semua perbedaan ras atau kelas sosial, mereka merasa terbebas dari jerat egoistik kehidupan sehari-hari dan menyatu di dalam sebuah komunitas yang memiliki satu fokus dan orientasi.

Mereka bersama-sama menggemakan: “Aku memenuhi panggilan-Mu, ya Allah,” sebelum berthawaf mengelilingi bangunan suci itu.

Makna esensial dari ritus ini dipaparkan dengan baik oleh Ali Syari'ati, filosof Iran kontemporer:

Tatkala berthawaf dan bergerak mendekati Ka'bah, engkau akan merasa bagaikan anak sungai yang bergabung dengan sebuah sungai besar.

Dihanyutkan ombak, kau tak bisa menyentuh tanah. Engkau tiba-tiba mengambang, terbawa oleh arus LEU Ketika semakin mendekat ke pusat, tekanan dari keramaian orang mendesak begitu kuat sehingga engkau seakan-akan diberi sebuah kehidupan baru.

Kinla engkau menjadi bagian dari Orang Banyak; kini engkau adalah seorang Manusia, hidup dan abadi ... Ka'bah adalah mentari dunia yang wajahnya menarik engkau masuk ke dalam orbitnya.

Engkau telah menjadi bagian dari sistem universal ini. Dengan berthawaf mengelilingi Allah, engkau akan segera terlupa pada diri sendiri ...

Engkau telah berubah menjadi partikel yang perlahan-lahan lebur dan sirna. Ini adalah puncak cinta absolut .?'

Orang Yahudi dan Kristen juga telah menekankan spiritualitas komunitas. Ibadah haji menawarkan kepada setiap individu Muslim pengalaman integrasi personal dalam konteks ummah, dengan Tuhan sebagai porosnya.

Seperti dalam kebanyakan agama, perdamaian dan keselarasan merupakan tema-tema ziarah yang penting, dan ketika jamaah haji memasuki tempat suci itu, kekerasan dalam berbagai bentuknya dilarang.

Jamaah haji bahkan tidak diperbolehkan membunuh serangga atau mengucapkan kata yang kasar.

Oleh sebab itu, seluruh Dunia Islam merasa terkejut ketika pada musim haji tahun 1987, jamaah dari Iran menyulut kerusuhan sehingga 402 orang terbunuh dan 649 orang luka-luka.

Muhammad wafat secara tiba-tiba setelah menderita sakit yang tidak lama pada tahun 632.

Setelah wafatnya, beberapa orang Badui berusaha melepaskan diri dari ummah, tetapi kesatuan politik di Arabia tetap terjaga.

Akhirnya, suku-suku yang keras kepala pun menerima agama Tuhan yang satu: keberhasilan Muhammad yang menakjubkan itu telah menunjukkan kepada orang-orang Arab bahwa paganisme yang telah melayani mereka dengan baik selama berabad-abad sudah tidak sesuai lagi untuk dunia modern.

Agama Allah memperkenalkan etos kasih sayang yang merupakan ciri agama yang lebih maju: persaudaraan dan keadilan sosial merupakan kebajikan yang diutamakannya.

Egalitarianisme yang kuat akan senantiasa mencirikan cita-cita Islam.

Dalam masa kehidupan Muhammad, cita-cita ini juga mencakup persamaan gender.

Pada zaman sekarang telah menjadi kecenderungan umum di Barat untuk menggambarkan Islam sebagai agama yang secara inheren bersifat misoginis, tetapi, sebagaimana Kristen, agama Allah pada dasarnya berpandangan positif terhadap perempuan.

Pada masa jahiliah, periode pralslam, bangsa Arab telah melestarikan sikap terhadap perempuan yang telah berlaku sejak sebelum Zaman Kapak.

Poligami, misalnya, menjadi kelaziman, dan istri-istri tetap tinggal di rumah bapaknya.

Kaum wanita elit memiliki kekuasaan dan prestise yang besar—istri pertama Muhammad, Khadijah, misalnya, adalah pedagang yang berhasil—tetapi mayoritas memiliki kedudukan yang setara dengan budak, mereka tak memiliki hak politik maupun hak asasi, dan pembunuhan bayi perempuan berlaku di mana-mana.

Kaum wanita termasuk di antara para pengikut awal Muhammad, dan emansipasi mereka menjadi proyek yang diprioritaskannya.

AlQuran secara tegas melarang pembunuhan anak-anak perempuan dan mencela orang-orang Arab yang bersedih jika mendapat anak perempuan.

Al-Quran juga memberikan perempuan hak-hak hukum dalam soal warisan dan perceraian: kebanyakan wanita Barat tak memiliki sesuatu yang setara dengan ini hingga abad kesembilan belas.

Muhammad mendorong wanita untuk berperan aktif dalam urusanurusan ummah.

Mereka berani mengungkapkan pendapat karena yakin bahwa suara mereka akan diperhatikan.

Dalam suatu kesempatan, misalnya, kaum wanita Madinah pernah mengeluh kepada Nabi bahwa kaum pria melebihi mereka dalam mempelajari Al-Quran dan meminta beliau untuk membantu mereka mengejar ketertinggalan itu.

Ini dipenuhi oleh Muhammad.

Salah satu pertanyaan mereka yang paling penting adalah mengapa Al-Quran hanya menyapa kaum pria, padahal wanita juga taat kepada Tuhan.

Hasilnya adalah turunnya wahyu yang menyapa kaum wanita seperti halnya kaum pria dan menekankan persamaan moral dan spiritual kedua jenis itu.“ Sejak itu, AlQuran cukup sering menyapa kaum wanita secara eksplisit, sesuatu yang jarang terjadi di dalam kitab suci Yahudi maupun Nasrani.

Sayangnya, sebagaimana yang terjadi pada Kristen, agama kemudian dibajak oleh kaum pria yang menafsirkan teks-teks itu dengan cara yang berpandangan negatif terhadap kaum wanita. Al-Guran tidak menetapkan hijab, kecuali atas istri Muhammad, sebagai penanda atas status mereka. Akan tetapi, begitu Islam menempati posisinya di dalam dunia berperadaban, kaum Muslim mengadopsi adat Oikumene yang menempatkan kaum wanita pada status warga kelas dua. Mereka mengadopsi kebiasaan Persia dan Kristen Byzantium untuk menutup wajah kaum wanita dan mengurung mereka di dalam harem. Dengan cara ini, kaum wanita menjadi terpinggirkan. Pada masa kekhalifahan Abbasiyah (750-1258), kedudukan kaum wanita Muslim menjadi sama jeleknya dengan rekan-rekan mereka di kalangan masyarakat Yahudi dan Kristen. Pada masa sekarang, para feminis Muslim menuntut kaum pria untuk kembali kepada semangat asli AlQuran.

Ini mengingatkan kita bahwa, seperti agama-agama lain, Islam dapat ditafsirkan ke dalam sejumlah cara yang berbeda; akibatnya berkembanglah berbagai sekte dan aliran. Yang pertama di antaranya—yakni antara Sunnah dan Syiah—terbentuk dalam persaingan memperebutkan kepemimpinan politik setelah mangkatnya Muhammad yang terjadi secara tiba-tiba itu. Abu Bakar, sahabat dekat Muhammad, mendapat dukungan mayoritas, namun sebagian orang yakin bahwa sebenarnya Nabi sendiri telah menghendaki Ali ibn Abi Thalib, saudara sepupu dan menantunya, untuk menjadi penggantinya (khalifah). Ali sendiri menerima kepemimpinan Abu Bakar, tetapi selama beberapa tahun kemudian dia tampaknya telah menjadi fokus kesetiaan orangorang yang tidak menyetujui kebijakan tiga khalifah pertama: Abu Bakar, Umar ibn Khattab, dan Usman ibn Affan. Akhirnya, Ali menjadi khalifah keempat pada tahun 656: orang Syiah menyebutnya Imam atau Pemimpin pertama ummah.

Karena menyangkut soal kepemimpinan, perpecahan Sunni dan Syli lebih bersifat politik ketimbang doktrinal, dan ini menandai makna penting politik di dalam Islam, termasuk konsepsinya tentang Tuhan. Syiah Ali (para pengikut Ali) tetap menjadi minoritas dan mengembangkan keteguhan menentang, ditipologikan oleh figur tragis Husain ibn Ali, cucu Muhammad, yang menolak mengakui Bani Umayah (yang merebut tampuk kekhalifahan setelah wafatnya Ali ibn Abi Thalib). Husain dibunuh bersama dengan sejumlah kecil pendukungnya oleh khalifah Yazid pada tahun 680 di Padang Karbala, dekat Kufah di wilayah Irak modern. Semua umat Muslim menganggap pembunuhan tak bermoral atas Husain ini sebagai horor yang menakutkan. Husain menjadi pahlawan di kalangan Syiah dan pengingat akan perlunya menentang tirani sekalipun hingga mengurbankan nyawa.

Pada masa itu, kaum Muslim telah mulai mendirikan imperium mereka. Empat khalifah pertama telah memusatkan perhatian pada penyebaran Islam ke imperium Persia dan Byzantium yang kala itu tengah mengalami kemunduran. Baru kemudian di bawah pemerintahan Umayah, ekspansi berlanjut hingga mencapai kawasan Asia dan Afrika Utara. ekspansi itu kini tidak saja diilhami oleh agama, tetapi juga oleh semangat imperialisme Arab.

Tak seorang pun di dalam imperium baru itu dipaksa menganut Islam: bahkan, selama satu abad setelah wafatnya Muhammad, perpindahan agama tidak terlalu diupayakan dan, sekitar tahun 100, justru dilarang secara hukum: kaum Muslim pada saat itu berkeyakinan bahwa Islam diturunkan hanya untuk orang Arab, seperti halnya Yudaisme hanya untuk anak-anak Yakub. Sebagai Ahli Kitab, orang Yahudi dan Kristen diberi kebebasan beragama sebagai dzimmi, kelompok minoritas yang dilindungi. Ketika khalifah Abbasiyah mulai mengupayakan perpindahan agama, banyak orang Semit dan Aria yang hidup di dalam imperium bersemangat menerima agama baru itu. Keberhasilan ini bagi Islam sama formatifnya dengan penyaliban Yesus di dalam Kristen.

Politik bukanlah sesuatu yang berada di luar kehidupan keagamaan pribadi seorang Muslim, seperti dalam Kristen yang menaruh curiga terhadap kesuksesan duniawi. Kaum Muslim memandang diri mereka berkewajiban untuk mewujudkan masyarakat yang adil sesuai dengan kehendak Tuhan. Ummah memiliki makna sakramental sebagai “tanda” bahwa Tuhan telah merahmati upaya membebaskan manusia dari penindasan dan ketidakadilan: kesehatan politik ummah dalam spiritualitas kaum Muslim menempati posisi yang hampir sama dengan suatu pilihan teologis (Katolik, Protestan, Metodis, Baptis) dalam kehidupan seorang Kristen. Jika orang Kristen merasa aneh dengan pandangan politik Muslim, mereka mesti sadar bahwa kegemaran mereka untuk terlibat dalam perdebatan teologis yang musykil kelihatan sama anehnya menurut pandangan orang Yahudi dan Muslim.

Oleh karena itu, pada tahun-tahun awal sejarah Islam, spekulasi tentang kodrat Tuhan sering lahir dari perbincangan politik tentang kekhalifahan dan kekuasaan. Perdebatan intelektual tentang siapa dan bagaimana seseorang harus memimpin ummah merupakan perdebatan penting dalam Islam yang dapat disetarakan dengan perdebatan soal Yesus sang manusia dan hakikatnya di dalam Kristen.

Setelah periode empat khalifah pertama, kaum Muslim menyadari bahwa kini mereka hidup di dunia yang sangat berbeda dari masyarakat Madinah yang kecil dan terus-terusan berperang itu. Kini, mereka adalah penguasa di sebuah imperium yang terus berkembang, dan pemimpin-pemimpin mereka tampak termotivasi oleh keduniaan dan ketamakan. Para aristokrat dan penghuni istana hidup dalam kemewahan dan korupsi, sangat berbeda dari kehidupan sederhana yang dijalani Nabi dan para Sahabatnya. Kaum Muslim yang paling saleh menentang pihak penguasa dengan pesan sosialis Al-Guran dan berupaya menjadikan Islam tetap relevan dengan kondisi baru itu. Berbagai paham dan sekte-sekte yang berbeda bermunculan.

Solusi yang paling populer ditawarkan oleh para fugaha dan ahli hadis yang berupaya untuk kembali kepada idealisme Muhammad dan khulafa' al-rasyidun. Ini mengakibatkan pembentukan hukum syariat, undang-undang serupa Taurat yang didasarkan pada AlQuran serta kehidupan dan ucapan Nabi.

Pada saat itu telah beredar sejumlah besar tradisi lisan tentang ucapan (hadis) dan perbuatan (Sunnah) Muhammad dan para Sahabatnya. Tradisi-tradisi ini telah dikumpulkan selama abad kedelapan dan kesembilan oleh sejumlah editor. Yang paling terkemuka di antara mereka adalah Ismail Al-Bukhari dan Muslim ibn Al-hijjaj AlQusyairi.

Karena Muhammad diyakini telah berserah diri secara sempurna kepada Allah, dia menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari kaum Muslim. Meneladani cara Muhammad berbicara, mencintai, makan, membersihkan diri, dan beribadah, dapat membantu kaum Muslim untuk menjalani kehidupan yang peka terhadap keilahian. Dengan menjalani hidup seperti Nabi, mereka berharap untuk mencapai ketundukan batin Nabi kepada Allah.

Maka, ketika seorang Muslim mengikuti sunnah dengan saling mengucapkan, “Assalamu'alaikum” (semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu) sebagaimana yang biasa dilakukan Nabi, ketika mereka bersikap baik terhadap binatang, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, berbuat baik dan jujur dalam pergaulan mereka dengan orang lain sebagai tindakan yang meneladani Nabi, mereka menjadi ingat kepada Allah. Tindakan lahiriah ini tidak dipandang sebagai tujuan akhir, tetapi hanya sebagai sarana untuk mencapai takwa, “kesadaran akan Allah” yang diterangkan dalam Al-Guran dan dijalani oleh Nabi, berupa ingatan yang tak henti-hentinya kepada Tuhan (zikir).

Banyak perdebatan di sekitar kesahihan Sunnah dan hadis: sebagian di antaranya dianggap lebih autentik daripada yang lain. Akan tetapi, sesungguhnya persoalan keabsahan historis dapat dikesampingkan jika dihadapkan dengan fakta betapa efektifnya tradisi-tradisi itu, yang telah terbukti mampu menghadirkan rasa sakramental tentang yang ilahi dalam kehidupan jutaan umat Muslim selama berabadabad.

Hadis atau kumpulan ajaran Nabi selain berkenaan dengan persoalan sehari-hari, juga menyangkut persoalan metafisika, kosmologi, dan teologi. Sebagian dari ajaran ini diyakini merupakan firman Tuhan sendiri kepada Muhammad (hadis qudsi). Hadis qudsi menekankan kedekatan dan kehadiran Tuhan di dalam diri seorang yang beriman.

Salah satu hadis terkenal, misalnya, menguraikan tahapan-tahapan pemahaman seorang Muslim tentang kehadiran ilahi yang seolah hampir berinkarnasi dalam dirinya: dimulai dengan menaati perintah-perintah Al-Quran dan syariat, lalu meningkat ke arah amal baik yang dilakukan secara sukarela:

Tidaklah seorang hambaKu mendekatkan diri
kepada-Ku dengan (mengamalkan) apa yang
paling Aku sukai dari yang Kuwajibkan
kepadanya. Dan tidaklah seorang hamba-Ku
selalu mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan
(mengamalkan) perbuatan-perbuatan yang
dianjurkan terkecuali Aku akan mencintainya.
Maka jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi
telinganya (yang dipergunakannya) untuk
mendengar, matanya untuk melihat, tangannya
untuk memegang, dan kakinya untuk berjalan.“

Sebagaimana dalam Yudaisme dan Kristen, Tuhan yang transenden juga merupakan kehadiran imanen yang dapat ditemukan di dunia. Seorang Muslim dapat menanamkan rasa kehadiran ilahi ini melalui cara-cara yang sangat mirip dengan yang ditemukan oleh kedua agama yang lebih tua itu.

Sayangnya, sebagaimana yang terjadi pada Kristen, agama kemudian dibajak oleh kaum pria yang menafsirkan teks-teks itu dengan cara yang berpandangan negatif terhadap kaum wanita. Al-Guran tidak menetapkan hijab, kecuali atas istri Muhammad, sebagai penanda atas status mereka. Akan tetapi, begitu Islam menempati posisinya di dalam dunia berperadaban, kaum Muslim mengadopsi adat Oikumene yang menempatkan kaum wanita pada status warga kelas dua. Mereka mengadopsi kebiasaan Persia dan Kristen Byzantium untuk menutup wajah kaum wanita dan mengurung mereka di dalam harem. Dengan cara ini, kaum wanita menjadi terpinggirkan.

Pada masa kekhalifahan Abbasiyah (750-1258), kedudukan kaum wanita Muslim menjadi sama jeleknya dengan rekan-rekan mereka di kalangan masyarakat Yahudi dan Kristen. Pada masa sekarang, para feminis Muslim menuntut kaum pria untuk kembali kepada semangat asli AlQuran. Ini mengingatkan kita bahwa, seperti agama-agama lain, Islam dapat ditafsirkan ke dalam sejumlah cara yang berbeda; akibatnya berkembanglah berbagai sekte dan aliran. Yang pertama di antaranya—yakni antara Sunnah dan Syiah—terbentuk dalam persaingan memperebutkan kepemimpinan politik setelah mangkatnya Muhammad yang terjadi secara tiba-tiba itu.

Abu Bakar, sahabat dekat Muhammad, mendapat dukungan mayoritas, namun sebagian orang yakin bahwa sebenarnya Nabi sendiri telah menghendaki Ali ibn Abi Thalib, saudara sepupu dan menantunya, untuk menjadi penggantinya (khalifah). Ali sendiri menerima kepemimpinan Abu Bakar, tetapi selama beberapa tahun kemudian dia tampaknya telah menjadi fokus kesetiaan orangorang yang tidak menyetujui kebijakan tiga khalifah pertama: Abu Bakar, Umar ibn Khattab, dan Usman ibn Affan. Akhirnya, Ali menjadi khalifah keempat pada tahun 656: orang Syiah menyebutnya Imam atau Pemimpin pertama ummah.

Karena menyangkut soal kepemimpinan, perpecahan Sunni dan Syli lebih bersifat politik ketimbang doktrinal, dan ini menandai makna penting politik di dalam Islam, termasuk konsepsinya tentang Tuhan. Syiah Ali (para pengikut Ali) tetap menjadi minoritas dan mengembangkan keteguhan menentang, ditipologikan oleh figur tragis Husain ibn Ali, cucu Muhammad, yang menolak mengakui Bani Umayah (yang merebut tampuk kekhalifahan setelah wafatnya Ali ibn Abi Thalib). Husain dibunuh bersama dengan sejumlah kecil pendukungnya oleh khalifah Yazid pada tahun 680 di Padang Karbala, dekat Kufah di wilayah Irak modern.

Semua umat Muslim menganggap pembunuhan tak bermoral atas Husain ini sebagai horor yang menakutkan. Husain menjadi pahlawan di kalangan Syiah dan pengingat akan perlunya menentang tirani sekalipun hingga mengurbankan nyawa. Pada masa itu, kaum Muslim telah mulai mendirikan imperium mereka. Empat khalifah pertama telah memusatkan perhatian pada penyebaran Islam ke imperium Persia dan Byzantium yang kala itu tengah mengalami kemunduran. Baru kemudian di bawah pemerintahan Umayah, ekspansi berlanjut hingga mencapai kawasan Asia dan Afrika Utara. ekspansi itu kini tidak saja diilhami oleh agama, tetapi juga oleh semangat imperialisme Arab.

Tak seorang pun di dalam imperium baru itu dipaksa menganut Islam: bahkan, selama satu abad setelah wafatnya Muhammad, perpindahan agama tidak terlalu diupayakan dan, sekitar tahun 100, justru dilarang secara hukum: kaum Muslim pada saat itu berkeyakinan bahwa Islam diturunkan hanya untuk orang Arab, seperti halnya Yudaisme hanya untuk anak-anak Yakub. Sebagai Ahli Kitab, orang Yahudi dan Kristen diberi kebebasan beragama sebagai dzimmi, kelompok minoritas yang dilindungi. Ketika khalifah Abbasiyah mulai mengupayakan perpindahan agama, banyak orang Semit dan Aria yang hidup di dalam imperium bersemangat menerima agama baru itu. Keberhasilan ini bagi Islam sama formatifnya dengan penyaliban Yesus di dalam Kristen.

Politik bukanlah sesuatu yang berada di luar kehidupan keagamaan pribadi seorang Muslim, seperti dalam Kristen yang menaruh curiga terhadap kesuksesan duniawi. Kaum Muslim memandang diri mereka berkewajiban untuk mewujudkan masyarakat yang adil sesuai dengan kehendak Tuhan. Ummah memiliki makna sakramental sebagai “tanda” bahwa Tuhan telah merahmati upaya membebaskan manusia dari penindasan dan ketidakadilan: kesehatan politik ummah dalam spiritualitas kaum Muslim menempati posisi yang hampir sama dengan suatu pilihan teologis (Katolik, Protestan, Metodis, Baptis) dalam kehidupan seorang Kristen.

Jika orang Kristen merasa aneh dengan pandangan politik Muslim, mereka mesti sadar bahwa kegemaran mereka untuk terlibat dalam perdebatan teologis yang musykil kelihatan sama anehnya menurut pandangan orang Yahudi dan Muslim. Oleh karena itu, pada tahun-tahun awal sejarah Islam, spekulasi tentang kodrat Tuhan sering lahir dari perbincangan politik tentang kekhalifahan dan kekuasaan.

Perdebatan intelektual tentang siapa dan bagaimana seseorang harus memimpin ummah merupakan perdebatan penting dalam Islam yang dapat disetarakan dengan perdebatan soal Yesus sang manusia dan hakikatnya di dalam Kristen. Setelah periode empat khalifah pertama, kaum Muslim menyadari bahwa kini mereka hidup di dunia yang sangat berbeda dari masyarakat Madinah yang kecil dan terus-terusan berperang itu. Kini, mereka adalah penguasa di sebuah imperium yang terus berkembang, dan pemimpin-pemimpin mereka tampak termotivasi oleh keduniaan dan ketamakan.

Para aristokrat dan penghuni istana hidup dalam kemewahan dan korupsi, sangat berbeda dari kehidupan sederhana yang dijalani Nabi dan para Sahabatnya. Kaum Muslim yang paling saleh menentang pihak penguasa dengan pesan sosialis Al-Guran dan berupaya menjadikan Islam tetap relevan dengan kondisi baru itu. Berbagai paham dan sekte-sekte yang berbeda bermunculan.

Solusi yang paling populer ditawarkan oleh para fugaha dan ahli hadis yang berupaya untuk kembali kepada idealisme Muhammad dan khulafa' al-rasyidun. Ini mengakibatkan pembentukan hukum syariat, undang-undang serupa Taurat yang didasarkan pada AlQuran serta kehidupan dan ucapan Nabi. Pada saat itu telah beredar sejumlah besar tradisi lisan tentang ucapan (hadis) dan perbuatan (Sunnah) Muhammad dan para Sahabatnya.

Tradisi-tradisi ini telah dikumpulkan selama abad kedelapan dan kesembilan oleh sejumlah editor. Yang paling terkemuka di antara mereka adalah Ismail Al-Bukhari dan Muslim ibn Al-hijjaj AlQusyairi. Karena Muhammad diyakini telah berserah diri secara sempurna kepada Allah, dia menjadi teladan dalam kehidupan sehari-hari kaum Muslim.

Meneladani cara Muhammad berbicara, mencintai, makan, membersihkan diri, dan beribadah, dapat membantu kaum Muslim untuk menjalani kehidupan yang peka terhadap keilahian. Dengan menjalani hidup seperti Nabi, mereka berharap untuk mencapai ketundukan batin Nabi kepada Allah. Maka, ketika seorang Muslim mengikuti sunnah dengan saling mengucapkan, “Assalamu'alaikum” (semoga keselamatan dilimpahkan kepadamu) sebagaimana yang biasa dilakukan Nabi, ketika mereka bersikap baik terhadap binatang, menyantuni anak yatim dan fakir miskin, berbuat baik dan jujur dalam pergaulan mereka dengan orang lain sebagai tindakan yang meneladani Nabi, mereka menjadi ingat kepada Allah.

Tindakan lahiriah ini tidak dipandang sebagai tujuan akhir, tetapi hanya sebagai sarana untuk mencapai takwa, “kesadaran akan Allah” yang diterangkan dalam Al-Guran dan dijalani oleh Nabi, berupa ingatan yang tak henti-hentinya kepada Tuhan (zikir). Banyak perdebatan di sekitar kesahihan Sunnah dan hadis: sebagian di antaranya dianggap lebih autentik daripada yang lain. Akan tetapi, sesungguhnya persoalan keabsahan historis dapat dikesampingkan jika dihadapkan dengan fakta betapa efektifnya tradisi-tradisi itu, yang telah terbukti mampu menghadirkan rasa sakramental tentang yang ilahi dalam kehidupan jutaan umat Muslim selama berabadabad.

Hadis atau kumpulan ajaran Nabi selain berkenaan dengan persoalan sehari-hari, juga menyangkut persoalan metafisika, kosmologi, dan teologi. Sebagian dari ajaran ini diyakini merupakan firman Tuhan sendiri kepada Muhammad (hadis qudsi). Hadis qudsi menekankan kedekatan dan kehadiran Tuhan di dalam diri seorang yang beriman. Salah satu hadis terkenal, misalnya, menguraikan tahapan-tahapan pemahaman seorang Muslim tentang kehadiran ilahi yang seolah hampir berinkarnasi dalam dirinya: dimulai dengan menaati perintah-perintah Al-Quran dan syariat, lalu meningkat ke arah amal baik yang dilakukan secara sukarela:

Tidaklah seorang hambaKu mendekatkan diri
kepada-Ku dengan (mengamalkan) apa yang
paling Aku sukai dari yang Kuwajibkan
kepadanya. Dan tidaklah seorang hamba-Ku
selalu mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan
(mengamalkan) perbuatan-perbuatan yang
dianjurkan terkecuali Aku akan mencintainya.
Maka jika Aku mencintainya, Aku akan menjadi
telinganya (yang dipergunakannya) untuk
mendengar, matanya untuk melihat, tangannya
untuk memegang, dan kakinya untuk berjalan.“

Sebagaimana dalam Yudaisme dan Kristen, Tuhan yang transenden juga merupakan kehadiran imanen yang dapat ditemukan di dunia. Seorang Muslim dapat menanamkan rasa kehadiran ilahi ini melalui cara-cara yang sangat mirip dengan yang ditemukan oleh kedua agama yang lebih tua itu.

Seorang Muslim yang menegakkan kesalehan berdasarkan teladan Muhammad secara umum disebut sebagai ahl al-hadits, kaum tradisionis. Mereka menarik bagi orang awam karena etika mereka yang sangat egalitarian. Mereka menentang kemewahan pemerintahan Dinasti Umayah dan Abbasiyah, tetapi bukan dalam bentuk taktik-taktik revolusioner Syiah. Mereka tidak percaya bahwa khalifah haruslah seorang yang memiliki kualitas spiritual yang luar biasa: khalifah hanyalah seorang administrator pemerintahan.

Sungguhpun demikian, dengan menekankan kesucian Al-Quran dan Sunnah, setiap Muslim memiliki sarana untuk berhubungan langsung dengan Tuhan dan berpotensi untuk menjadi sangat kritis terhadap kekuatan absolut. Tak dibutuhkan kasta pendeta untuk bertindak sebagai perantara. Setiap Muslim bertanggung jawab di hadapan Tuhan atas nasib dan peruntungannya sendiri.

Di atas segalanya, kaum tradisionis mengajarkan bahwa Al-Quran adalah sebuah realitas abadi, seperti halnya Taurat atau logos, yang dalam beberapa hal menyangkut Tuhan itu sendiri, realitas itu telah bersemayam di dalam pikirannya jauh sebelum waktu berawal. Doktrin mereka tentang ketakterciptaan Al-Quran mengandung pengertian bahwa ketika kitab itu dibaca, umat Muslim bisa secara langsung mendengar Tuhan Yang Mahagaib. Al-Guran mewakili kehadiran Tuhan di tengah-tengah mereka.

Firmannya berada di bibir mereka pada saat mereka membaca kata-kata suci di dalam kitab itu, dan ketika mereka memegang mushaf Al-Guran, mereka seakan-akan menyentuh kesucian itu sendiri. Orang Kristen terdahulu memiliki gagasan tentang Yesus sang manusia dalam cara yang sama:

Apa yang telah ada sejak semula,
yang telah kami dengar,
yang telah kami lihat dengan mata kami,
yang telah kami saksikan
dan yang telah kami raba dengan tangan kami
tentang Firman hidup—
itulah yang kami tuliskan kepada kamu. ?’

Pembahasan tentang status pasti Yesus, sang Firman, telah sangat menyibukkan orang Kristen. Kini, kaum Muslim pun mulai memperdebatkan sifat Al-Quran: dalam pengertian yang bagaimana naskah berbahasa Arab itu menjadi Firman Tuhan? Sebagian Muslim memandang pengagungan Al-Guran sebagai sesuatu yang berlebihan seperti halnya kelompok Kristen yang tidak bisa menerima gagasan bahwa Yesus adalah inkarnasi logos.

Akan tetapi, Syiah secara perlahan-lahan mengembangkan gagasan yang lebih dekat kepada konsep Inkarnasi Kristen. Setelah kematian Husain yang tragis, orang Syiah semakin yakin bahwa hanya keturunan ayah Husain, yakni Ali ibn Abi Thalib, yang mesti memimpin ummah, dan mereka menjadi sekte yang semakin terlihat jelas di dalam Islam.

Sebagai sepupu dan menantunya, Ali memiliki hubungan darah ganda dengan Muhammad. Karena tidak seorang pun dari putra Muhammad yang bertahan hidup, Ali menjadi kerabat laki-laki utamanya. Di dalam Al-Quran, Nabi sering memohonkan rahmat bagi keturunannya. Orang Syiah memperluas pengertian tentang rahmat suci ini dan berkeyakinan bahwa hanya anggota keluarga Nabi melalui garis keluarga Ali yang memiliki pengetahuan ('ilm) sejati tentang Tuhan. Hanya mereka yang mampu memberikan bimbingan suci kepada ummah.

Jika seorang keturunan Ali berkuasa, kaum Muslim dapat berharap akan menapaki zaman keemasan bagi keadilan dan ummah akan dibimbing sesuai dengan kehendak Tuhan. Antusiasme terhadap pribadi Ali berkembang dalam cara yang mengejutkan. Beberapa kelompok Syiah radikal meninggikan Ali dan keturunannya ke tingkat yang bahkan lebih tinggi daripada Muhammad sendiri dan memberi mereka status semi-ilahiah.

Mereka mengambil tradisi Persia kuno mengenai keluarga pilihan keturunan-dewa yang akan mewarisi kemuliaan suci dari satu generasi ke generasi. Menjelang akhir periode Umayah, sebagian orang Syiah mulai berkeyakinan bahwa 'ilm yang autoritatif hanya dapat ditemukan dalam satu garis keturunan Ali tertentu. Kaum Muslim hanya mungkin mendapati pribadi yang dipilih oleh Tuhan sebagai imam (pemimpin) sejati bagi ummah di dalam keluarga ini.

Apakah pribadi itu berkuasa secara politis atau tidak, bimbingannya tetap dibutuhkan secara mutlak sehingga setiap Muslim berkewajiban untuk mencarinya dan menerima kepemimpinannya. Karena imam-imam ini dipandang sebagai sumber perpecahan, para khalifah menganggap mereka musuh negara: menurut kaum Syiah, sebagian dari imam itu diracuni dan sebagian lainnya terpaksa menyembunyikan diri.

Ketika seorang imam wafat, dia akan memilih satu di antara keturunannya untuk menerima warisan ‘iim. Lambat laun, para imam itu dipuja sebagai avatar ilahi: masing-masing mereka menjadi “bukti” (hujah) kehadiran Tuhan di bumi dan, dalam pengertian yang misterius, membuat yang ilahi berinkarnasi di dalam diri manusia. Kata-katanya, keputusan dan perintah-perintahnya berasal dari Tuhan.

Sebagaimana orang Kristen memandang Yesus sebagai Jalan, Kebenaran, dan Cahaya yang bisa membimbing manusia menuju Tuhan, orang Syiah memuja imam-imam mereka sebagai gerbang (bab) menuju Tuhan, Jalan (sabi?, dan Pembimbing setiap generasi.

Berbagai aliran Syiah mengurai silsilah suci itu secara berbeda-beda. Syiah Dua Belas Imam, misalnya, memuliakan dua belas keturunan Ali lewat garis Husain, hingga pada tahun 939, imam terakhir bersembunyi dan menghilang dari masyarakat; tak ada lagi keturunan setelah dia, sehingga garis itu pun terputus.

Syiah Ismailiyah, yang dikenal pula sebagai Syiah Tujuh, meyakini bahwa imam ketujuh dalam garis inilah yang merupakan imam terakhir. Paham tentang Al-Mahdi muncul di kalangan Syiah Dua Belas yang meyakini bahwa imam kedua belas atau imam yang gaib itu akan kembali untuk menahbiskan zaman kegemilangan. Ini merupakan gagasan yang berbahaya.

Bukan hanya subversif secara politis, melainkan gagasan ini cenderung untuk ditafsirkan secara kasar dan gampangan. Oleh karena itu, kalangan Syiah yang lebih ekstrem mengembangkan tradisi esoterik berdasarkan penafsiran simbolik terhadap Al-Quran, seperti yang akan kita saksikan pada bab mendatang. Keyakinan mereka terlalu musykil bagi mayoritas Muslim, yang tidak dapat menerima gagasan tentang inkarnasi, sehingga Syiah biasanya terdapat di kalangan kelas yang lebih aristokratis dan intelektual.

Sejak Revolusi Iran, orang Barat cenderung melihat Syiah sebagai sekte Islam yang secara inheren bersifat fundamentalis. Ini penilaian yang tidak akurat. Syiah telah berkembang menjadi tradisi yang canggih. Sesungguhnya, Syiah memiliki banyak kesamaan dengan kaum Muslim yang secara sistematik berupaya mengaplikasikan argumen-argumen rasional terhadap Al-Guran.

Kaum rasionalis ini, yang dikenal sebagai Mu'ttazilah, membentuk kelompok tersendiri: mereka juga memiliki komitmen politik yang teguh: seperti kaum Syiah, orang-orang Mu'tazilah sangat kritis terhadap gaya hidup mewah para penguasa dan sering aktif secara politis menentang kemapanan.

Persoalan politik mengilhami perdebatan teologis tentang pengaturan Tuhan atas urusan-urusan manusia. Para pendukung Dinasti Umayah secara tidak jujur mengklaim bahwa perilaku tidak Islami mereka bukan merupakan kesalahan mereka, melainkan karena Tuhan telah menakdirkan mereka untuk menjadi jenis manusia yang demikian.

Al-Quran memiliki konsepsi yang sangat kukuh tentang kemahakuasaan Tuhan, dan banyak teks yang bisa dipakai untuk mendukung pandangan predestinasi ini. Namun, AlQuran secara seimbang menekankan tentang tanggung jawab manusia: Sesungguhnya, Tuhan tidak akan mengubah keadaan mereka, kecuali mereka mengubahnya sendiri.

Oleh karena itu, para pengkritik kelompok penguasa menekankan kehendak bebas dan tanggung jawab moral. Penganut Mu'tazilah mengambil jalan tengah dan melepaskan diri ('tazala) dari posisi ekstrem. Mereka membela kehendak bebas dengan tujuan memelihara watak etis manusia.

Seorang Muslim yang meyakini bahwa Tuhan berada di atas pandangan manusia tentang benar dan salah berarti tidak mempercayai keadilannya. Tuhan yang melanggar semua prinsip yang masuk akal hanya karena dia adalah Tuhan justru lebih parah daripada seorang khalifah tiran.

Sebagaimana kaum Syiah, Mu'tazilah juga menyatakan bahwa keadilan adalah esensi Tuhan: dia tidak dapat menzalimi seseorang: dia tidak dapat melakukan sesuatu yang bertentangan dengan akal.

Di sini, mereka memasuki perbedaan pendapat dengan kaum tradisionis yang berpandangan bahwa dengan menjadikan manusia sebagai penentu dan pencipta perbuatannya sendiri, maka orang-orang Mu'tazilah telah merendahkan kekuasaan Tuhan. Mereka menuduh kaum Muttazilah telah menjadikan Tuhan terlalu rasional dan sangat mirip dengan seorang manusia.

Kelompok tradisionis menganut doktrin predestinasi dengan maksud menekankan kodrat Tuhan yang secara esensial tidak bisa dipahami: kalau kita mengklaim dapat memahaminya, tentu itu bukanlah Tuhan melainkan sekadar proyeksi pikiran manusia.

Tuhan melampaui segala pandangan manusia tentang kebaikan maupun kejahatan dan tidak terikat pada standar-standar dan harapan kita: suatu tindakan dikatakan jahat atau tidak adil karena Tuhan telah memutuskannya demikian, bukan karena nilai-nilai manusia memiliki dimensi transenden yang juga berlaku pada Tuhan.

Kaum Mutazilah keliru menyatakan bahwa keadilan, yang sepenuhnya merupakan idealisme manusia, merupakan esensi Tuhan.

Persoalan predestinasi dan kehendak bebas, yang juga menjadi
perdebatan di kalangan Kristen, memperlihatkan kesulitan utama
dalam gagasan tentang Tuhan yang personal. Tuhan yang
impersonal, semacam Brahman, dapat lebih mudah dikatakan
berada di atas kategori “baik” atau “buruk”, yang dipandang
sebagai cadar bagi keilahian yang tak terpahamkan. Namun,
konsepsi tentang Tuhan yang secara misterius merupakan pribadi
yang terlibat dalam sejarah manusia membuat dirinya terbuka
untuk dikritik.

Terlalu mudah untuk menjadikan “Tuhan” ini sebagai
tiran atau hakim atas seluruh kehidupan dan membuat “dia”
memenuhi harapan-harapan kita. Kita bisa mengubah “Tuhan”
menjadi pendukung Partai Republik, sosialis, rasis, atau
revolusioner, sesuai dengan pandangan pribadi kita. Bahaya
semacam ini telah membuat sebagian orang memandang Tuhan
personal sebagai ide yang tidak agamis, karena hanya akan
membenamkan kita dalam prasangka dan pemutlakan ide-ide
manusia.

Untuk menghindarkan bahaya ini, kaum tradisionis berpegang
pada pembedaan yang telah lama dikenal, yang juga pernah
dipakai oleh orang Yahudi maupun Kristen, antara esensi dan
aktivitas Tuhan. Mereka mengklaim bahwa sebagian dari sifat-sifat
yang membuat Tuhan yang transenden berhubungan dengan
dunia—seperti berkuasa, mengetahui, berkehendak, mendengar,
melihat, berkata-kata, yang semuanya diatributkan kepada Allah di
dalam Al-Quran—sudah ada bersamanya sejak semula dalam
cara yang sama, seperti Al-Guran yang bukan makhluk itu.

Atributatribut itu berbeda dari esensi Tuhan yang tidak bisa diketahui,
yang akan selalu luput dari pemahaman kita. Persis seperti yang
dibayangkan oleh orang Yahudi bahwa hikmat Tuhan atau Taurat
telah ada bersama Tuhan sejak sebelum awal waktu, kaum
Muslim kini mengembangkan gagasan yang mirip untuk
mengajarkan personalitas Tuhan dan untuk mengingatkan kaum
Muslim bahwa Tuhan tidak mungkin seutuhnya tercakup oleh akal
manusia.

Sekiranya khalifah Al-Ma'mun (813-832) tidak berpihak kepada
kaum Mu'ttazilah dan berusaha menjadikan gagasan mereka
sebagai doktrin resmi umat Muslim, argumen yang musykil ini
mungkin hanya akan berpengaruh terhadap sedikit orang. Akan
tetapi, ketika khalifah itu mulai menyiksa kelompok tradisionis
untuk memaksakan teologi Mu'ttazilah, orang awam dibuat
ketakutan oleh sikap tidak Islami ini.

Ahmad ibn Hanbal (780-855),
seorang tradisionis terkemuka yang berhasil menyelamatkan diri
dari inkuisisi Al-Ma'mun, menjadi tokoh yang populer. Kesalehan
dan karismanya—dia pernah berdoa untuk para penyiksanya—
menimbulkan tantangan terhadap kekhalifahan, dan keyakinannya
bahwa Al-Quran bukan makhluk telah menjadi slogan bagi
pemberontakan massal menentang rasionalisme Mu'tazilah.

Ibn hanbal tidak menyetujui diskusi rasional mengenai Tuhan.
Maka ketika tokoh Mu'tazilah moderat, Al-Huayan Al-Karabisi (w.
859), mengajukan sebuah solusi damai—bahwa Al-Quran sebagai
firman Tuhan memang bukan makhluk, namun ketika dibaca oleh
manusia maka ia menjadi makhluk—lbn Hanbal mencela doktrin
itu.

Al-Karabisi siap untuk mengubah pandangannya, dan
menyatakan bahwa Al-Guran berbahasa Arab yang tertulis dan
diucapkan adalah bukan makhluk hanya sejauh ia menjadi bagian
dari ucapan Allah yang abadi. Akan tetapi, Ibn Hanbal menyatakan
bahwa ini juga tidak sah karena tidak berfaedah dan sangat riskan
untuk berspekulasi mengenai watak Al-Quran dalam cara
rasionalistik seperti itu.

Akal bukanlah alat yang memadai untuk
menyingkapkan rahasia Tuhan. Dia menuduh Mutazilah telah
menanggalkan misteri Tuhan dan menjadikannya sekadar
rumusan abstrak yang tak memiliki nilai religius. Ketika Al-Quran
menggunakan istilah yang antropomorfis untuk menjelaskan
aktivitas Tuhan di dunia atau ketika dikatakan bahwa Tuhan
“berbicara”, “melihat”, dan “duduk di atas singgasananya”, Ibn
Hanbal berpendapat bahwa hal itu harus diinterpretasikan secara
harfiah tetapi “tanpa bertanya bagaimana” (bila kayfa).

Ibn Hanbal
mungkin bisa diperbandingkan dengan orang Kristen radikal
semacam Athanasius, yang bersikeras dengan interpretasi
ekstrem atas doktrin Inkarnasi menentang pemikiran yang lebih
rasional. Ibn Hanbal selalu menekankan ketaktercerapan kodrat
ilahi, yang memang berada di luar jangkauan semua analisis logis
dan konseptual.

Sungguhpun demikian, Al-Quran senantiasa menekankan
pentingnya akal dan penalaran, dan posisi Ibn Hanbal terlihat agak
terlalu lugu. Banyak umat Muslim memandang posisi itu sebagai
penyimpangan dan obskurantis. Jalan kompromi ditemukan oleh
Abu Al-Hasan ibn Ismail Al-Asy'ari (878-941).

Sebelumnya, dia
adalah penganut Mu'tazilah, tetapi beralih kepada tradisionisme
berdasarkan mimpi bertemu Nabi yang memerintahkannya untuk
mempelajari hadis. Al-Asy'ari lalu melangkah ke titik ekstrem
lainnya, menjadi pengikut tradisionis yang antusias, menentang
Mu'tazilah dan menganggapnya sebagai bahaya laten bagi Islam.

Kemudian, dia bermimpi lagi melihat Nabi Muhammad bersikap
agak marah dan berkata, “Aku tidak memerintahkanmu
meninggalkan argumen rasional, tetapi supaya menggunakannya
untuk mendukung hadis shahih?

Setelah itu, Al-Asy'ari memakai teknik-teknik rasionalis Mu'tazilah
untuk mendukung Ibn Hanbal. Pada saat orang Muttazilah
mengklaim bahwa wahyu Tuhan tak mungkin tidak bisa dinalar, AlAsy'ari menggunakan nalar dan logika untuk membuktikan bahwa
Tuhan berada di luar jangkauan penalaran kita.

Orang Mu'tazilah
bisa terjerumus mereduksi Tuhan ke dalam konsep yang koheren
tetapi kering: Al-Asy'ari ingin kembali kepada konsepsi ketuhanan
yang utuh di dalam Al-Guran meskipun tidak konsisten.

Bahkan,
sebagaimana Denys Aeropagite, dia percaya bahwa paradoks
justru akan meningkatkan apresiasi kita terhadap Tuhan. Dia
menolak mereduksi Tuhan ke dalam konsep yang dapat
didiskusikan dan dianalisis sebagaimana gagasan manusia yang
lain.

Sifat-sifat Tuhan, seperti mengetahui, berkuasa, hidup, dan
sebagainya, adalah real: sifat-sifat itu telah ada pada Tuhan sejak
semula. Namun, sifat-sifat itu berbeda dari hakikat Tuhan karena
Tuhan pada esensinya adalah satu, sederhana, dan unik.

Dia tidak
bisa dipandang sebagai suatu wujud yang kompleks karena dia
merupakan simplisitas itu sendiri: kita tidak bisa menganalisisnya
dengan cara mendefinisikan berbagai sifatnya atau
menguraikannya ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil.

AlAsy'ari menolak setiap usaha untuk memecahkan paradoks itu:
oleh karena itu, dia bersikeras bahwa ketika Al-Guran menyatakan
Tuhan “duduk di atas singgasananya”, kita harus menerima itu
sebagai sebuah fakta meskipun berada di luar pemahaman kita
untuk mengonsepsikan bagaimana Tuhan itu “duduk”.

Al-Asy'ari mencoba menemukan jalan tengah antara
obskurantisme yang ceroboh dan rasionalisme yang ekstrem.
Beberapa kaum literalis mengatakan bahwa jika orang-orang yang
diridai akan melihat Tuhan di surga, seperti dinyatakan oleh AlQuran, maka tentulah Tuhan memiliki penampakan fisikal.

Hisyam
Ibn Hakim melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa:
Allah mempunyai tubuh, dimensi-dimensi yang
setara, tertentu, luas, tinggi dan panjang,
memancarkan cahaya, berukuran luas dalam tiga
dimensinya, di suatu tempat di luar tempat,
seperti sebatang emas murni, bersinar dari
segala sisinya seperti mutiara bulat,
memiliki warna, rasa, aroma, dan sentuhan.*??

Sebagian kalangan Syiah menerima pandangan semacam itu
karena kepercayaan mereka bahwa para imam merupakan
inkarnasi ilahi. Kaum Mu'tazilah berpendirian bahwa ketika AlQuran berbicara tentang tangan Tuhan, misalnya, maka ini harus
ditafsirkan secara kiasan sebagai merujuk kepada kebaikan dan
kemurahannya.

Al-Asy'ari menentang kaum literalis dengan
membuktikan bahwa Al-Quran mengatakan kita hanya dapat
berbicara tentang Tuhan dalam bahasa simbolik.

Akan tetapi, dia
juga menentang penolakan mentah-mentah kaum tradisionis
terhadap akal. Dia berpendapat bahwa Muhammad tak pernah
menghadapi persoalan semacam ini, kalau tidak tentu dia akan
memberikan petunjuk kepada umat Muslim: oleh karena itu,
semua Muslim berkewajiban menggunakan perangkat penafsiran
seperti analogi (giyas) untuk memperoleh konsep ketuhanan yang
betul-betul religius.

Al-Asy'ari senantiasa mengupayakan posisi kompromistik, maka
dia pun berpendapat bahwa Al-Quran itu qadim dan merupakan
Firman Allah yang bukan makhluk, melainkan tinta, kertas, dan
kata-kata berbahasa Arab dari naskah itu adalah makhluk.

Dia
mencela doktrin kehendak bebas dari Mu'tazilah, karena hanya
Tuhanlah “pencipta” perbuatan-perbuatan manusia, tetapi dia juga
menentang pandangan aliran tradisionis yang menyatakan bahwa
manusia sama sekali tidak bisa berkontribusi terhadap
keselamatan diri mereka.

Solusi Al-Asy'ari agak berbelit-belit:
Tuhan menciptakan perbuatan manusia, tetapi mengizinkan
manusia untuk mendapat pujian atau kecaman atas perbuatan itu.

Namun, tidak seperti Ibn Hanbal, Al-Asy'ari telah bersiap untuk
mengajukan pertanyaan dan menggali persoalan-persoalan
metafisika, walaupun pada akhirnya dia menyimpulkan bahwa
adalah keliru untuk berusaha memasukkan realitas misterius dan
tak terlukiskan yang kita sebut Tuhan itu ke dalam suatu sistem
koheren dan rasionalistik.

Al-Asy'ari telah membangun tradisi kalam (secara harfiah berarti
“kata” atau “pembahasar”), yang biasanya diterjemahkan sebagai
“teologi”. Murid-muridnya pada abad kesepuluh dan kesebelas
memperbaiki metodologi kalam dan mengembangkan gagasangagasannya lebih lanjut.

Para pengikut Al-Asy'ari generasi awal
ingin merancang bingkai metafisika bagi suatu diskusi yang sahih
tentang kekuasaan Tuhan.

Teolog terkemuka pertama dari aliran
Asy'ariah adalah Abu Bakr Al-Bagillani (w. 1013). Dalam
risalahnya Al-Tauhid, dia sependapat dengan Mu'tazilah bahwa
manusia dapat membuktikan eksistensi Tuhan secara logis melalui
argumen-argumen rasional: bahkan Al-Guran sendiri
memperlihatkan bagaimana Ibrahim menemukan Pencipta yang
abadi melalui perenungan sistematik tentang alam.

Akan tetapi, AlBagillani menolak kemungkinan bahwa kita dapat membedakan
antara kebaikan dan kejahatan tanpa wahyu, karena halhal
semacam itu bukanlah kategori-kategori alamiah melainkan telah
diputuskan oleh Tuhan: Allah tidak bisa dibatasi oleh pandangan
kemanusiaan tentang baik dan buruk.

Al-Bagillani mengembangkan sebuah teori yang dikenal sebagai
“atomisme” atau “okasionalisme” yang berupaya menemukan
alasan metafisikal bagi pengakuan keimanan seorang Muslim:
bahwa tak ada tuhan, tak ada realitas atau kepastian selain Allah.

Dia mengklaim bahwa segala yang ada di dunia secara mutlak
bergantung kepada perhatian langsung dari Tuhan. Seluruh alam
direduksi kepada atom-atom individual yang tak terbilang
jumlahnya: waktu dan ruang bersifat diskontinu dan tak ada yang
memiliki identitas spesifik bagi dirinya.

Alam fenomenal oleh
Bagillani direduksi menjadi ketiadaan dengan cara yang sama
radikalnya dengan yang ditempuh oleh Athanasius.

Hanya Tuhan
yang memiliki realitas, dan hanya dia yang dapat membebaskan
kita dari ketiadaan. Dialah yang menjaga keberlangsungan alam
semesta dan menganugerahkan eksistensi kepada makhluk-Nya
di setiap saat.

Tak ada hukum alam yang menjelaskan
keberlangsungan kosmos.

Walaupun kaum Muslim lainnya
membuat kemajuan besar dalam bidang sains, aliran Asy'ariah
secara fundamental justru bertentangan dengan ilmu alam, namun
tetap memiliki relevansi keagamaan.

Asy'ariah merupakan upaya
metafisikal untuk menjelaskan kehadiran Tuhan dalam setiap
perincian kehidupan sehari-hari dan menjadi pengingat bahwa
keimanan tidak bergantung pada logika biasa.

Jika digunakan
sebagai sebuah disiplin, bukannya pandangan faktual tentang
realitas, penjelasan itu dapat membantu kaum Muslim untuk
mengembangkan kesadaran berketuhanan seperti yang telah
dijelaskan Al-@uran.

Kelemahannya terletak pada penolakannya
atas bukti ilmiah dan interpretasinya yang terlalu harfiah terhadap
sikap religius yang pada dasarnya tak bisa dijelaskan.

Paham ini
bisa mengakibatkan ketidakseimbangan antara cara pandang
seorang Muslim tentang Tuhan dengan caranya melihat
persoalan-persoalan lain.

Baik kaum Mu'tazilah maupun Asy'ariah
telah berupaya, dalam cara yang berbeda, untuk mengaitkan
pengalaman keagamaan tentang Tuhan dengan penalaran
rasional biasa.

Hal ini memang penting. Kaum Muslim mencoba
menemukan apakah mungkin berbicara tentang Tuhan seperti kita
mendiskusikan persoalan-persoalan lain.

Telah kita saksikan
bahwa orang Yunani telah tiba pada keputusan bahwa
jawabannya adalah tidak dan bahwa diam merupakan satusatunya bentuk teologi yang memadai.

Pada akhirnya,
kebanyakan umat Muslim tiba pada kesimpulan yang sama.

Muhammad dan para Sahabatnya hidup dalam masyarakat yang
lebih primitif dibandingkan dengan masyarakat pada masa AlBagillani.

Imperium Islam telah tersebar ke dunia berperadaban,
sehingga kaum Muslim harus berhadapan dengan cara pandang
tentang Tuhan dan dunia yang secara intelektual memang lebih
canggih.

Muhammad secara instingtif telah mengalami kembali
perjumpaan orang Ibrani kuno dengan yang ilahi, sedangkan
generasi berikutnya harus menjalani sebagian persoalan yang
telah dijumpai oleh gereja-gereja Kristen.

Beberapa di antara
mereka bahkan berpaling kepada teologi Inkarnasi, sekalipun AlDuran telah mencela sikap orang-orang Kristen menuhankan
Yesus.

Perjalanan Islam telah memperlihatkan bahwa gagasan
tentang Tuhan yang transenden, namun personal cenderung
memunculkan jenis persoalan yang sama dan mengarah pada
bentuk pemecahan yang sama pula.

Eksperimen kalam telah membuktikan bahwa meskipun mungkin
untuk menggunakan metode-metode rasional untuk
memperlihatkan bahwa secara rasional “Tuhan” memang tidak
bisa dijangkau oleh akal, kenyataan ini tetap sulit diterima oleh
sebagian Muslim.

Kalam tak pernah menjadi sepenting teologi di
kalangan Kristen Barat.

Khalifah-khalifah Abbasiyah yang
mendukung Mu'tazilah menemukan bahwa mereka tidak mungkin
memaksakan doktrin-doktrinnya kepada kaum beriman.

Rasionalisme terus mempengaruhi pemikir-pemikir selanjutnya
selama Abad Pertengahan, tetapi tetap merupakan kelompok
minoritas, dan kebanyakan Muslim tidak menaruh kepercayaan
pada usaha semacam itu.

Sebagaimana Kristen dan Yahudi, Islam
lahir dari pengalaman Semitik, tetapi bertemu dengan rasionalisme
Yunani di pusat-pusat kebudayaan Helenis Timur Tengah.

Sebagian Muslim yang lain mengupayakan proses Helenisasi
yang bahkan lebih radikal terhadap konsepsi ketuhanan Islam dan
memperkenalkan unsur filosofis baru ke dalam ketiga agama
monoteistik.

Yudaisme, Kristen, dan Islam akhirnya tiba pada
kesimpulan yang berbeda, tetapi sangat signifikan tentang
keabsahan filsafat dan relevansinya dengan misteri Tuhan

Like

1

Love

2

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment