Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan
Di Kekaisaran Romawi, Kristen pada mulanya dianggap sebagai cabang dari Yudaisme. Namun, ketika orang Kristen memperjelas bahwa mereka bukan lagi anggota sinagoga, mereka dipandang dengan kebencian sebagai religio kaum fanatik yang telah melakukan dosa besar dengan meninggalkan kepercayaan leluhur.
Etos Romawi sangat konservatif. Mereka memberikan penghargaan tinggi kepada otoritas pemimpin keluarga dan adat-istiadat nenek moyang. Yang dianggap sebagai “kemajuan” adalah langkah kembali ke zaman keemasan yang telah lampau, bukan menyiapkan masa depan yang cerah. Keterputusan dari masa lalu tidak dianggap sebagai tindakan yang berpotensi kreatif, seperti dalam masyarakat kita sekarang yang memungkinkan perubahan. Pembaruan dipandang berbahaya dan subversif.
Orang Romawi sangat curiga terhadap gerakan massa yang dapat mencampakkan batas-batas tradisi, dan mereka waspada untuk melindungi warga negara dari “pemalsuan” agama. Akan tetapi, dalam kekaisaran itu telah muncul sejumput kegelisahan dan kecemasan. Pengalaman hidup dalam sebuah imperium internasional yang besar telah membuat dewa-dewa lama tampak kecil dan tidak memadai. Orang-orang menjadi sadar akan kebudayaan asing yang mengganggu, dan mereka mulai mencari solusi spiritual baru.
Kultus-kultus Timur masuk ke kawasan Eropa. Dewa-dewa seperti Isis dan Semele disembah di samping dewa-dewa tradisional Roma yang menjadi pelindung negeri. Selama abad pertama M, agama-agama misteri baru menawarkan jalan keselamatan mereka serta apa yang disebut-sebut sebagai pengetahuan mendalam tentang dunia yang akan datang.
Akan tetapi, tak satu pun dari antusiasme agama-agama baru ini yang mengancam tatanan lama. Dewa-dewa Timur tidak menuntut pemutusan radikal dari agama lama dan tidak pula menolak ritus-ritus yang telah dikenal. Sebaliknya, seperti orang suci baru, mereka memberikan pandangan segar dan pemahaman tentang dunia yang lebih luas.
Seseorang dapat bergabung dengan berbagai kultus misteri sebanyak yang diinginkan. Selama kultus-kultus itu tidak berupaya menghancurkan dewa-dewa lama dan tetap bersikap rendah hati, agama-agama misteri tersebut akan ditoleransi dan diserap ke dalam tatanan yang sudah mapan.
Tak seorang pun mengharapkan agama menjadi tantangan intelektual atau memberikan jawaban tentang makna kehidupan. Orang beralih kepada filsafat untuk mencari pencerahan semacam itu. Di Kekaisaran Romawi kuno, orang menyembah dewa-dewa untuk memohon pertolongan pada masa krisis, menjaga agar perlindungan ilahi tetap dicurahkan atas negeri, dan memperoleh rasa keterhubungan dengan masa lalu.
Agama lebih merupakan persoalan kultus dan ritual daripada gagasan-gagasan. Agama didasarkan pada perasaan, bukan pada ideologi atau teori yang dipilih secara sadar.
Sikap ini tidak asing bagi masyarakat masa kini. Banyak orang yang menghadiri layanan keagamaan dalam masyarakat modern tidak tertarik pada teologi, tidak menginginkan sesuatu yang terlalu eksotik, dan tidak menyukai perubahan. Mereka menemukan bahwa ritual-ritual yang telah mapan memberi mereka rasa keterkaitan dengan tradisi serta rasa aman.
Mereka tidak mengharapkan gagasan-gagasan brilian dalam khotbah, bahkan sering merasa terganggu oleh perubahan dalam liturgi. Dengan cara yang sama, banyak kaum pagan pada zaman kuno senang menyembah dewa-dewa leluhur, sebagaimana telah dilakukan oleh generasi-generasi sebelum mereka. Ritual-ritual lama memberi mereka rasa identitas, merayakan tradisi-tradisi lokal, dan tampak menjamin bahwa segala sesuatu akan tetap sebagaimana adanya.
Peradaban tampaknya merupakan pencapaian yang rapuh dan tidak boleh terancam oleh pengabaian sembrono terhadap dewa-dewa pelindung yang menjamin keberlangsungan peradaban itu. Mereka akan merasa terancam jika suatu kultus baru muncul untuk mengalahkan kepercayaan nenek moyang mereka.
Oleh karena itu, Kristen tidak mempunyai posisi yang menguntungkan di kedua dunia itu. Ia tidak memiliki masa silam Yudaisme yang dihormati dan juga tidak mempunyai ritual paganisme yang menarik yang dapat dilihat dan diapresiasi semua orang.
Kristen juga berpotensi dianggap mengancam, sebab orang Kristen mengajarkan bahwa Tuhan mereka adalah satu-satunya Tuhan dan bahwa semua dewa lain hanyalah khayalan. Bagi penulis biografi Romawi Gaius Suetonius (70–160), Kristen tampak sebagai gerakan yang tidak rasional dan eksentrik, sebuah superstitio nova et prava—takhayul baru yang jahat—yang “buruk” justru karena “baru”.
Kaum pagan yang berpendidikan lebih memilih filsafat daripada agama untuk memperoleh pencerahan. Orang-orang yang mereka anggap suci dan tercerahkan adalah para filosof kuno seperti Plato, Pythagoras, dan Epictetus. Mereka bahkan menganggap para filosof itu sebagai “anak-anak dewa”. Plato, misalnya, diyakini sebagai anak Apollo.
Para filosof menghormati agama, tetapi memandangnya berbeda secara esensial dari apa yang mereka kerjakan. Mereka bukan akademisi kering di menara gading, melainkan orang-orang yang memiliki misi: bertekad menyelamatkan jiwa orang-orang sezaman dengan menarik mereka menjadi pengikut mazhab-mazhab filsafat mereka.
Baik Sokrates maupun Plato memiliki sikap yang sangat religius terhadap filsafat mereka. Mereka merasakan bahwa kajian ilmiah dan metafisis telah mengilhami mereka dengan penglihatan tentang keagungan alam semesta.
Karena itu, pada abad pertama M, orang-orang yang cerdas dan berwawasan beralih kepada para filosof untuk mendapatkan penjelasan tentang makna hidup, ideologi yang mengilhami, dan motivasi etis.
Kristen, sebaliknya, tampak seperti kredo barbar. Tuhan Kristen tampak sebagai ilah yang pemarah dan primitif, yang terus-menerus ikut campur secara tak rasional dalam urusan manusia. Ia tidak memiliki kesamaan dengan Tuhan para filosof yang jauh dan tak berubah, seperti Tuhan dalam konsepsi Aristoteles.
Meskipun demikian, mengatakan bahwa tokoh-tokoh seperti Plato atau Aleksander Agung adalah anak dewa tidak sama dengan mengatakan hal serupa tentang seorang Yahudi yang mati mengenaskan di sudut kekaisaran Romawi.
Platonisme adalah salah satu aliran filsafat paling populer pada akhir zaman kuno. Para Platonis baru pada abad pertama dan kedua tidak tertarik pada Plato sebagai pemikir etika dan politik, melainkan pada Plato sebagai mistikus. Ajarannya membantu seorang filosof menyadari kesejatian dirinya dengan membebaskan jiwa dari penjara tubuh dan memungkinkannya naik ke alam suci.
Mistisisme Plato merupakan sistem tinggi yang menggunakan kosmologi sebagai citra kesinambungan dan harmoni. Yang Esa berada dalam kontemplasi jernih tentang dirinya sendiri, melampaui pengaruh waktu dan perubahan di puncak rantai wujud.
Segala sesuatu berasal dari Yang Esa sebagai konsekuensi pasti dari wujudnya yang murni. Bentuk-bentuk abadi memancar dari Yang Esa dan pada gilirannya menggerakkan matahari, bintang, dan bulan dalam lintasan masing-masing. Akhirnya, dewa-dewa—yang kini dipandang sebagai malaikat bagi Yang Esa—memancarkan pengaruh suci ke dunia sublunar manusia.
Bagi kaum Platonis, tidak diperlukan kisah barbar tentang seorang dewa yang tiba-tiba memutuskan menciptakan dunia atau yang mengabaikan hierarki kosmis untuk berkomunikasi langsung dengan sekelompok kecil manusia. Mereka juga tidak memerlukan penyelamatan dramatis melalui seorang Mesias yang disalibkan.
Karena manusia berasal dari Tuhan yang memberi hidup kepada segala sesuatu, seorang filosof dapat naik ke alam suci melalui usahanya sendiri dengan cara yang rasional dan tertata.
Akan tetapi, seorang teolog Afrika Utara, Tertullian (160-220), mengemukakan bahwa Tuhan yang “baik” menurut konsepsi Marcion lebih mirip dengan Tuhan filsafat Yunani daripada Tuhan Alkitab. Tuhan yang tenang ini, yang tak ada kaitannya dengan dunia yang cacat ini, lebih dekat dengan konsep Penggerak yang Tak Digerakkan dari Aristoteles daripada Tuhan Yahudi dari Yesus Kristus.
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
Memang, banyak orang di dunia Yunani-Romawi berpandangan bahwa Tuhan biblikal adalah tuhan yang keras dan banyak kekeliruan, yang tidak layak untuk disembah. Sekitar tahun 178, filosof Celsus yang pagan menuduh orang Kristen telah mengadopsi pandangan yang picik dan terbatas tentang Tuhan. Dia merasa heran bahwa orang Kristen bahkan mengklaim pewahyuan khusus bagi mereka: Tuhan tersedia bagi semua umat manusia, tetapi orang Kristen bersatu dalam sebuah kelompok kecil sembari menegaskan: “Tuhan bahkan telah mencampakkan seluruh bumi dan langit untuk memberi perhatian hanya kepada kami.40
Ketika orang Kristen diburu oleh penguasa Romawi, mereka dituduh “ateis” karena konsepsi mereka tentang ketuhanan benar-benar bertentangan dengan etos Romawi. Karena tidak bisa memenuhi hak-hak para dewa tradisional, orang-orang merasa takut bahwa kaum Kristiani akan membahayakan negara dan menghancurkan tatanan yang rentan. Kristen dipandang sebagai sebuah kredo barbar yang mengabaikan capaian-capaian peradaban.
Akan tetapi, pada akhir abad kedua, beberapa orang pagan yang betul-betul mempelajarinya mulai beralih ke agama Kristen dan mampu mengadaptasikan Tuhan Semitik Alkitab dengan ideal Yunani-Romawi. Salah seorang di antara mereka adalah Clement dari Aleksandria (kl. 150-215), yang mungkin sekali telah mempelajari filsafat di Atena sebelum kepindahan agamanya.
Clement tidak ragu-ragu bahwa Yahweh dan Tuhan filsafat Yunani adalah satu dan sama: dia menjuluki Plato sebagai Musa Atena. Sungguhpun demikian, baik Yesus maupun Paulus pasti akan dibuat kaget oleh teologinya.
Sebagaimana Tuhan Plato dan Aristoteles, Tuhan Clement dicirikan oleh apatheia-nya: dia sama sekali kebal, tidak mampu menderita atau berubah. Orang Kristen dapat berpartisipasi diri dalam kehidupan yang suci ini dengan cara meniru ketenangan dan kesentosaan Tuhan sendiri. Clement menyusun aturan kehidupan yang sangat mirip dengan aturan perilaku terperinci yang disusun oleh para rabi, terkecuali bahwa ia lebih banyak memiliki kesamaan dengan cita-cita kaum Stoa.
Seorang Kristen wajib meniru ketenangan Tuhan di dalam setiap bagian terkecil kehidupannya: dia mesti duduk dengan benar, berbicara perlahan, menahan diri dari kekerasan dan tertawa terbahak-bahak, bahkan harus bersendawa dengan halus. Melalui latihan ketenangan ini, seorang Kristen akan menjadi sadar akan Ketenangan luas di dalam diri, yang merupakan citra Tuhan yang terpahat dalam wujud mereka sendiri. Tak ada jurang pemisah antara Tuhan dan manusia.
Begitu orang Kristen berhasil menyesuaikan diri dengan cita-cita ilahi, niscaya mereka akan menemukan bahwa mereka memiliki seorang Sahabat Ilahi “yang tinggal bersama di rumah kita, duduk bersama, dan ikut dalam seluruh upaya moral hidup kita”.41
Namun, Clement juga percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, “Tuhan Mahahidup yang menderita dan disembah”.42 Dialah yang telah “mencuci kaki mereka, membungkus dengan handuk”, dialah “Tuhan yang tidak sombong dan Penguasa Semesta”.
Jika orang Kristen meneladani Kristus, mereka juga akan menjadi seperti tuhan: suci, tak bisa rusak, dan tak berubah. Sesungguhnya, Kristus adalah /ogos suci yang telah menjadi manusia “agar kalian bisa belajar dari seorang manusia bagaimana cara menjadi Tuhan”.44
Di Barat, Irenaeus, Uskup Iyons (130-200), telah mengajarkan doktrin yang serupa. Yesus adalah inkarnasi logos, akal ilahi. Ketika menjadi manusia, dia telah menyucikan setiap derajat perkembangan manusia dan menjadi model bagi orang Kristen. Mereka harus meniru dia dengan cara yang kurang lebih sama seperti seorang aktor diyakini menjadi satu dengan karakter yang dia perankan, dan dengan demikian, memenuhi potensi kemanusiaan mereka.4
Clement maupun Irenaeus mengadaptasi Tuhan Yahudi ke dalam gagasan yang khas bagi zaman dan budaya mereka. Meskipun konsepsi itu tak banyak kesamaannya dengan Tuhan para nabi, yang terutama dicirikan oleh rasa iba dan kepeduliannya, doktrin aphatheia Clement akan menjadi fundamental bagi konsepsi Kristen tentang Tuhan.
Di dalam dunia Yunani, orang-orang rindu untuk bangkit dari kekacauan emosi dan perubahan, rindu untuk meraih keheningan supramanusiawi. Cita-cita ini tetap ada, meski dengan segala paradoks yang melekat dalam dirinya.
Teologi Clement menyisakan beberapa pertanyaan krusial yang tak terjawab. Bagaimana mungkin seorang manusia biasa bisa menjadi logos atau akal ilahi? Apa sebenarnya makna ucapan bahwa Yesus itu suci? Apakah logos sama dengan “Anak Tuhan”, dan apa makna gelar Yahudi ini di dunia Helenik?
Bagaimana mungkin Tuhan yang kebal bisa menderita di dalam Yesus? Bagaimana mungkin orang Kristen bisa percaya bahwa Yesus adalah wujud ilahi sementara, pada saat yang sama, mereka menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan?
Orang Kristen jadi semakin sadar akan persoalan ini selama abad ketiga. Pada tahun-tahun pertama abad itu di Roma, seorang Sabellius, figur yang agak samar-samar, mengatakan bahwa istilah-istilah biblikal, seperti “Bapa”, “Anak”, dan “Ruh” dapat dibandingkan dengan topeng (personae) yang dipakai oleh aktor-aktor untuk memainkan suatu peran dramatik dan untuk membuat suara mereka dapat didengar oleh hadirin.
Tuhan Yang Esa dengan demikian telah menggunakan personae yang berbeda ketika berurusan dengan dunia. Sabellius berhasil menarik sejumlah pengikut, tetapi kebanyakan orang Kristen keberatan atas teorinya: teori itu menyarankan bahwa Tuhan yang apofatik itu ternyata dalam pengertian tertentu telah menderita ketika memainkan peranan Anak, gagasan yang mereka rasa agak sulit untuk dapat diterima.
Sungguhpun demikian, ketika Paulus dari Samosata, Uskup Antiokhia dari tahun 260 hingga 272, telah menyatakan bahwa sebenarnya Yesus adalah seorang manusia biasa, yang di dalam dirinya Firman dan hikmat Tuhan bersemayam sebagaimana dalam sebuah kuil. Pandangan ini juga dianggap tidak ortodoks.
Teologi Paulus dikutuk dalam sebuah sinode di Antiokhia pada tahun 264, meskipun dia berhasil mempertahankan keuskupannya atas sokongan dari Ratu Zenobea di Palmira. Sungguh menjadi sangat rumit untuk menemukan cara mengakomodasi keyakinan Kristen bahwa Yesus itu tuhan dengan kepercayaan yang sama kuatnya bahwa Tuhan itu Satu.
Ketika Clement meninggalkan Aleksandria pada tahun 202 untuk menjadi pendeta di bawah keuskupan Yerusalem, kedudukannya di sekolah kateketik diambil alih oleh murid mudanya yang brilian, Origen, yang pada saat itu berusia dua puluh tahun.
Sebagai seorang pemuda, Origen telah memiliki keyakinan kuat bahwa mati sebagai martir merupakan jalan menuju surga. Ayahnya, Leonides, mati di arena empat tahun silam dan Origen berusaha untuk mengikuti jejaknya. Akan tetapi, ibunya menyelamatkannya dengan menyembunyikan pakaiannya.
Baca Juga: Lighten PDF Converter OCR 6.1.1 Full Version
Origen pada awalnya berkeyakinan bahwa hidup sebagai seorang Kristen berarti harus berpaling dari dunia, tetapi kemudian dia meninggalkan pandangan ini dan mengembangkan sebentuk Platonisme Kristen.
Alih-alih melihat ada jurang lebar antara Tuhan dan dunia, yang hanya mungkin dijembatani oleh dislokasi radikal melalui pengurbanan nyawa, Origen mengembangkan sebuah teologi yang menekankan kontinuitas antara Tuhan dan dunia. Teologinya merupakan spiritualitas yang terang, bercahaya, optimis, dan gembira.
Selangkah demi selangkah, seorang Kristen dapat mendaki mata rantai itu hingga dia mencapai Tuhan, unsur alamiah dan kampung halamannya.
Sebagai seorang Platonis, Origen yakin akan keserumpunan Tuhan dan jiwa: pengetahuan tentang yang ilahi adalah alamiah bagi manusia. Pengetahuan itu dapat “diingat kembali” dan dibangkitkan melalui latihan-latihan khusus.
Untuk menyesuaikan pandangan filsafat Platoniknya dengan kitab suci Semitik, Origen mengembangkan sebuah metode simbolik untuk membaca Alkitab. Dengan demikian, kelahiran Kristus dari rahim perawan Maria pada dasarnya tidak untuk dipahami sebagai suatu kejadian harfiah, tetapi harus dilihat sebagai kelahiran hikmat ilahi di dalam jiwa.
Dia juga mengambil beberapa gagasan kaum Gnostik. Pada mulanya, semua wujud di dalam dunia spiritual berkontemplasi tentang Tuhan yang telah mengungkapkan sendiri di dalam logos, Firman, dan hikmat suci. Akan tetapi, mereka menjadi bosan dengan aktivitas kontemplasi sempurna ini dan jatuh ke dalam dunia materi yang segera memerangkap mereka.
Akan tetapi, tidak semuanya gagal. Jiwa berhasil mencapai Tuhan melalui perjalanan panjang yang akan terus berlangsung setelah kematian. Lambat laun jiwa akan meninggalkan tubuh dan naik menjadi ruh murni.
Melalui kontemplasi (theoria), jiwa akan mendapat pengetahuan (gnosis) mengenai Tuhan, yang akan mentransformasinya hingga, seperti yang diajarkan Plato, ia akan menjadi suci. Tuhan sangatlah misterius dan tak ada ucapan atau konsep kita sebagai manusia yang mampu mengungkapkannya, tetapi jiwa mempunyai kapasitas untuk mengenal Tuhan karena ia ikut memiliki watak keilahiannya.
Kontemplasi tentang logos merupakan sesuatu yang alamiah bagi kita, sebab semua makhluk spiritual (logikoi) pada dasarnya setara satu sama lain. Ketika semua telah gagal, hanya jiwa manusia Yesus Kristus yang tetap bisa bertahan di alam suci seraya berkontemplasi tentang Firman Tuhan, dan jiwa kita sendiri setara dengan jiwanya.
Kepercayaan pada kesucian manusia Yesus hanya merupakan sebuah fase: ia akan membantu perjalanan kita, tetapi pada akhirnya akan lepas ketika kita telah bertemu muka langsung dengan Tuhan.
Pada abad kesembilan, gereja mencela beberapa gagasan Origen sebagai bid'ah. Baik Origen maupun Clement tidak percaya bahwa Tuhan telah menciptakan alam dari ketiadaan (ex nihilo), yang dalam perkembangan selanjutnya akan menjadi doktrin Kristen ortodoks.
Pandangan Origen tentang keilahian Yesus dan penyelamatan umat manusia jelas tidak sejalan dengan ajaran resmi Kristen: dia tidak percaya bahwa kita telah “diselamatkan” oleh kematian Kristus, tetapi meyakini bahwa kita dapat naik menuju Tuhan atas usaha kita sendiri.
Persoalannya adalah, tatkala Origen dan Clement menulis dan mengajarkan Platonisme Kristen mereka, belum ada doktrin resmi. Tak seorang pun betulbetul mengetahui apakah Tuhan telah menciptakan alam atau apakah seorang manusia bisa menjadi tuhan.
Peristiwa-peristiwa yang bergejolak pada abad keempat dan kelima membawa pada sebuah definisi tentang kepercayaan ortodoks hanya setelah melewati suatu pertarungan yang mengenaskan.
Mungkin Origen paling dikenal karena tindakannya mengebiri diri sendiri. Di dalam Injil, Yesus mengatakan bahwa beberapa orang telah mengebiri diri mereka sendiri demi Kerajaan Langit, dan Origen menelan firman itu mentah-mentah.
Pengebirian adalah perilaku yang umum di akhir zaman kuno, Origen tidak langsung menyerang dirinya dengan sebilah pisau, keputusannya pun tidak diilhami oleh sejenis kebencian neurotik terhadap seksualitas sebagaimana yang telah menjadi karakter sebagian teolog Barat semacam Santo Jerome (342-420).
Sarjana Inggris Peter Brown memperkirakan bahwa tindakan itu diambil sebagai upaya untuk mendemonstrasikan doktrinnya mengenai ketidakpastian kondisi manusia, yang pasti akan ditinggalkan oleh jiwa. Rupanya faktor-faktor yang tak dapat diubah seperti gender akan ditinggalkan dalam proses panjang penyucian diri, karena di sisi Tuhan tak akan ada lelaki atau perempuan.
Pada zaman ketika filosof ditandai oleh jenggotnya yang panjang (simbol kebijaksanaan), pipi Origen yang halus dan nada suaranya yang tinggi merupakan pemandangan yang mengherankan.
Plotinus (205-270) telah belajar di Aleksandria di bawah bimbingan guru senior Origen, Ammonius Saccus, dan kemudian bergabung dengan tentara Romawi. Dia berharap akan dikirim ke India, tempat yang sangat ingin dipelajarinya. Sayangnya ekspedisi itu gagal dan Plotinus pindah ke Antiokia.
Belakangan dia mendirikan sebuah sekolah filsafat yang prestisius di Roma. Kita tidak begitu mengenalnya karena dia adalah seorang laki-laki yang sangat pendiam dan tidak pernah bercerita tentang dirinya sendiri, bahkan juga tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya sendiri.
Seperti Celsus, Plotinus memandang Kristen sebagai sebuah kredo yang sama sekali tidak bisa diterima, namun demikian dia berpengaruh terhadap generasi-generasi monoteis masa depan dalam ketiga agama Allah. Oleh karena itulah, dirasakan penting untuk mengetengahkan uraian terperinci mengenai pandangannya tentang Tuhan.
Plotinus digambarkan sebagai garis batas yang penting: dia telah menyerap aliran-aliran pemikiran utama dari 800 tahun pemikiran spekulatif Yunani dan mentransmisikannya dalam sebuah bentuk yang mempengaruhi tokoh-tokoh terkemuka pada abad kita, seperti T.S. Eliot dan Henri Bergson.
Berpijak pada gagasan-gagasan Plato, Plotinus mengembangkan suatu sistem yang dirancang untuk mencapai pemahaman tentang diri. Dia sama sekali tidak tertarik untuk menemukan penjelasan ilmiah atas alam semesta atau berupaya menjelaskan asal usul fisik kehidupan: bukannya mencari penjelasan objektif dari dunia luar, Plotinus justru mengajak murid-muridnya untuk surut ke dalam diri mereka sendiri dan memulai eksplorasi mereka dari kedalaman jiwa.
Manusia sadar bahwa ada sesuatu yang tak beres dengan kondisi mereka, mereka merasakan kejanggalan dengan diri sendiri dan orang lain, tak terhubungkan dengan hakikat batin mereka dan kehilangan arah. Konflik dan hilangnya kesederhanaan tampak telah menjadi ciri eksistensi kita.
Meskipun demikian kita tak henti-hentinya berupaya untuk memadukan fenomena yang beragam itu dan mereduksinya menjadi semacam keutuhan yang tertata. Ketika secara sepintas kita melihat seseorang, kita tidak hanya melihat sebuah kaki, tangan, dan kepala, tetapi secara automatis kita mengorganisasikan unsur-unsur ini menjadi sesosok manusia utuh.
Dorongan ke arah keutuhan ini bersifat fundamental bagi cara bekerja akal kita dan diyakini Plotinus pasti juga mencerminkan esensi sesuatu secara umum. Untuk menemukan kebenaran mendasar realitas, jiwa mesti menata ulang dirinya, menjalani periode penyucian (katharsis) dan tenggelam dalam kontemplasi (theoria), seperti yang disarankan Plato.
Jiwa perlu melihat melampaui kosmos, melampaui dunia indriawi, dan bahkan melampaui keterbatasan akal untuk menyelami inti realitas. Namun demikian, ini bukanlah pendakian ke puncak realitas yang berada di luar diri kita, melainkan turun menyelam ke dalam lubuk hati. Pendek kata, sebuah pendakian ke dalam batin.
Realitas tertinggi merupakan sebuah kesatuan primal yang oleh Plotinus disebut sebagai Yang Esa. Segala sesuatu meminjam eksistensi mereka dari realitas potensial ini.
Karena Yang Esa merupakan kesederhanaan itu sendiri, tak ada yang bisa diceritakan mengenainya: tak ada padanya suatu kualitas yang berbeda dari esensinya, yang dapat memungkinkan deskripsi dalam cara biasa. Dia ada begitu saja.
Akibatnya, Yang Esa itu tidak bernama: “Jika kita berpikir positif tentang Yang Esa,” jelas Plotinus, “kebenaran akan lebih banyak terdapat dalam hening.”4$
Kita bahkan tak bisa mengatakan bahwa dia ada, karena sebagai Wujud itu sendiri, dia “bukanlah sesuatu, melainkan berbeda dari segala sesuatu.” Sesungguhnya, Plotinus menjelaskan, dia “adalah Segala Sesuatu dan Bukan Sesuatu; dia bukanlah salah satu dari apa yang ada, namun demikian dia adalah semuanya.”
Kita akan menyaksikan bahwa persepsi ini akan menjadi sebuah tema yang konstan dalam sejarah Tuhan.
Akan tetapi, hening bukanlah keseluruhan kebenaran, kata Plotinus, sebab kita mampu untuk tiba pada pengetahuan tertentu tentang yang ilahi. Adalah mustahil jika Yang Esa itu tetap terbungkus dalam rahasia yang tak bisa ditembus.
Yang Esa mesti telah melampaui dirinya sendiri, melampaui Kesederhanaannya dengan tujuan menjadikan dirinya bisa dipahami oleh wujud-wujud tak sempurna seperti kita.
Transendensi ilahi ini bisa digambarkan apa yang disebut “ekstasi”, karena merupakan peristiwa “keluar dari diri sendiri” dalam kebaikan murni: “Tak mencari apa-apa, tak mempunyai apa-apa, tak kehilangan apa-apa. Yang Esa itu sempurna dan, secara metaforis, telah melimpah, dan kelimpahannya telah menghasilkan yang baru.”49
Tak ada sesuatu yang bersifat personal di dalam semua ini: Plotinus memandang Yang Esa berada di atas semua kategori manusia, termasuk kategori personalitas.
Plotinus kembali ke mitos emanasi kuno untuk menjelaskan pemancaran semua yang wujud dari Sumber yang sangat sederhana ini, menggunakan sejumlah analogi untuk menggambarkan prosesnya: seperti pancaran sinar matahari atau panas yang memancar dari sebuah nyala api dan semakin Anda mendekat ke inti api itu, semakin panas terasa.
Salah satu kiasan yang paling disukai oleh Plotinus adalah perbandingan antara Yang Esa dengan titik pusat sebuah lingkaran, yang mengandung kemungkinan munculnya seluruh lingkaran lain yang berasal darinya. Ini mirip pula dengan efek gelombang yang ditimbulkan oleh jatuhnya sebuah batu ke dalam kolam.
Berbeda dengan pemancaran yang dijelaskan dalam mitos seperti Enuma Elish, di mana setiap pasangan dewa yang berevolusi dari pasangan lain menjadi lebih sempurna dan efektif, yang terdapat dalam skema Plotinus justru kebalikannya.
Akan tetapi, seorang teolog Afrika Utara, Tertullian (160-220), mengemukakan bahwa Tuhan yang “baik” menurut konsepsi Marcion lebih mirip dengan Tuhan filsafat Yunani daripada Tuhan Alkitab. Tuhan yang tenang ini, yang tak ada kaitannya dengan dunia yang cacat ini, lebih dekat dengan konsep Penggerak yang Tak Digerakkan dari Aristoteles daripada Tuhan Yahudi dari Yesus Kristus.
Memang, banyak orang di dunia Yunani-Romawi berpandangan bahwa Tuhan biblikal adalah tuhan yang keras dan banyak kekeliruan, yang tidak layak untuk disembah. Sekitar tahun 178, filosof Celsus yang pagan menuduh orang Kristen telah mengadopsi pandangan yang picik dan terbatas tentang Tuhan. Dia merasa heran bahwa orang Kristen bahkan mengklaim pewahyuan khusus bagi mereka: Tuhan tersedia bagi semua umat manusia, tetapi orang Kristen bersatu dalam sebuah kelompok kecil sembari menegaskan: “Tuhan bahkan telah mencampakkan seluruh bumi dan langit untuk memberi perhatian hanya kepada kami.40
Ketika orang Kristen diburu oleh penguasa Romawi, mereka dituduh “ateis” karena konsepsi mereka tentang ketuhanan benar-benar bertentangan dengan etos Romawi. Karena tidak bisa memenuhi hak-hak para dewa tradisional, orang-orang merasa takut bahwa kaum Kristiani akan membahayakan negara dan menghancurkan tatanan yang rentan. Kristen dipandang sebagai sebuah kredo barbar yang mengabaikan capaian-capaian peradaban.
Akan tetapi, pada akhir abad kedua, beberapa orang pagan yang betul-betul mempelajarinya mulai beralih ke agama Kristen dan mampu mengadaptasikan Tuhan Semitik Alkitab dengan ideal Yunani-Romawi. Salah seorang di antara mereka adalah Clement dari Aleksandria (kl. 150-215), yang mungkin sekali telah mempelajari filsafat di Atena sebelum kepindahan agamanya.
Clement tidak ragu-ragu bahwa Yahweh dan Tuhan filsafat Yunani adalah satu dan sama: dia menjuluki Plato sebagai Musa Atena. Sungguhpun demikian, baik Yesus maupun Paulus pasti akan dibuat kaget oleh teologinya.
Sebagaimana Tuhan Plato dan Aristoteles, Tuhan Clement dicirikan oleh apatheia-nya: dia sama sekali kebal, tidak mampu menderita atau berubah. Orang Kristen dapat berpartisipasi diri dalam kehidupan yang suci ini dengan cara meniru ketenangan dan kesentosaan Tuhan sendiri. Clement menyusun aturan kehidupan yang sangat mirip dengan aturan perilaku terperinci yang disusun oleh para rabi, terkecuali bahwa ia lebih banyak memiliki kesamaan dengan cita-cita kaum Stoa.
Seorang Kristen wajib meniru ketenangan Tuhan di dalam setiap bagian terkecil kehidupannya: dia mesti duduk dengan benar, berbicara perlahan, menahan diri dari kekerasan dan tertawa terbahak-bahak, bahkan harus bersendawa dengan halus. Melalui latihan ketenangan ini, seorang Kristen akan menjadi sadar akan Ketenangan luas di dalam diri, yang merupakan citra Tuhan yang terpahat dalam wujud mereka sendiri. Tak ada jurang pemisah antara Tuhan dan manusia.
Begitu orang Kristen berhasil menyesuaikan diri dengan cita-cita ilahi, niscaya mereka akan menemukan bahwa mereka memiliki seorang Sahabat Ilahi “yang tinggal bersama di rumah kita, duduk bersama, dan ikut dalam seluruh upaya moral hidup kita”.41
Namun, Clement juga percaya bahwa Yesus adalah Tuhan, “Tuhan Mahahidup yang menderita dan disembah”.42 Dialah yang telah “mencuci kaki mereka, membungkus dengan handuk”, dialah “Tuhan yang tidak sombong dan Penguasa Semesta”.
Jika orang Kristen meneladani Kristus, mereka juga akan menjadi seperti tuhan: suci, tak bisa rusak, dan tak berubah. Sesungguhnya, Kristus adalah /ogos suci yang telah menjadi manusia “agar kalian bisa belajar dari seorang manusia bagaimana cara menjadi Tuhan”.44
Di Barat, Irenaeus, Uskup Iyons (130-200), telah mengajarkan doktrin yang serupa. Yesus adalah inkarnasi logos, akal ilahi. Ketika menjadi manusia, dia telah menyucikan setiap derajat perkembangan manusia dan menjadi model bagi orang Kristen. Mereka harus meniru dia dengan cara yang kurang lebih sama seperti seorang aktor diyakini menjadi satu dengan karakter yang dia perankan, dan dengan demikian, memenuhi potensi kemanusiaan mereka.4
Clement maupun Irenaeus mengadaptasi Tuhan Yahudi ke dalam gagasan yang khas bagi zaman dan budaya mereka. Meskipun konsepsi itu tak banyak kesamaannya dengan Tuhan para nabi, yang terutama dicirikan oleh rasa iba dan kepeduliannya, doktrin aphatheia Clement akan menjadi fundamental bagi konsepsi Kristen tentang Tuhan.
Di dalam dunia Yunani, orang-orang rindu untuk bangkit dari kekacauan emosi dan perubahan, rindu untuk meraih keheningan supramanusiawi. Cita-cita ini tetap ada, meski dengan segala paradoks yang melekat dalam dirinya.
Teologi Clement menyisakan beberapa pertanyaan krusial yang tak terjawab. Bagaimana mungkin seorang manusia biasa bisa menjadi logos atau akal ilahi? Apa sebenarnya makna ucapan bahwa Yesus itu suci? Apakah logos sama dengan “Anak Tuhan”, dan apa makna gelar Yahudi ini di dunia Helenik?
Bagaimana mungkin Tuhan yang kebal bisa menderita di dalam Yesus? Bagaimana mungkin orang Kristen bisa percaya bahwa Yesus adalah wujud ilahi sementara, pada saat yang sama, mereka menyatakan bahwa hanya ada satu Tuhan?
Orang Kristen jadi semakin sadar akan persoalan ini selama abad ketiga. Pada tahun-tahun pertama abad itu di Roma, seorang Sabellius, figur yang agak samar-samar, mengatakan bahwa istilah-istilah biblikal, seperti “Bapa”, “Anak”, dan “Ruh” dapat dibandingkan dengan topeng (personae) yang dipakai oleh aktor-aktor untuk memainkan suatu peran dramatik dan untuk membuat suara mereka dapat didengar oleh hadirin.
Tuhan Yang Esa dengan demikian telah menggunakan personae yang berbeda ketika berurusan dengan dunia. Sabellius berhasil menarik sejumlah pengikut, tetapi kebanyakan orang Kristen keberatan atas teorinya: teori itu menyarankan bahwa Tuhan yang apofatik itu ternyata dalam pengertian tertentu telah menderita ketika memainkan peranan Anak, gagasan yang mereka rasa agak sulit untuk dapat diterima.
Sungguhpun demikian, ketika Paulus dari Samosata, Uskup Antiokhia dari tahun 260 hingga 272, telah menyatakan bahwa sebenarnya Yesus adalah seorang manusia biasa, yang di dalam dirinya Firman dan hikmat Tuhan bersemayam sebagaimana dalam sebuah kuil. Pandangan ini juga dianggap tidak ortodoks.
Teologi Paulus dikutuk dalam sebuah sinode di Antiokhia pada tahun 264, meskipun dia berhasil mempertahankan keuskupannya atas sokongan dari Ratu Zenobea di Palmira. Sungguh menjadi sangat rumit untuk menemukan cara mengakomodasi keyakinan Kristen bahwa Yesus itu tuhan dengan kepercayaan yang sama kuatnya bahwa Tuhan itu Satu.
Ketika Clement meninggalkan Aleksandria pada tahun 202 untuk menjadi pendeta di bawah keuskupan Yerusalem, kedudukannya di sekolah kateketik diambil alih oleh murid mudanya yang brilian, Origen, yang pada saat itu berusia dua puluh tahun.
Sebagai seorang pemuda, Origen telah memiliki keyakinan kuat bahwa mati sebagai martir merupakan jalan menuju surga. Ayahnya, Leonides, mati di arena empat tahun silam dan Origen berusaha untuk mengikuti jejaknya. Akan tetapi, ibunya menyelamatkannya dengan menyembunyikan pakaiannya.
Origen pada awalnya berkeyakinan bahwa hidup sebagai seorang Kristen berarti harus berpaling dari dunia, tetapi kemudian dia meninggalkan pandangan ini dan mengembangkan sebentuk Platonisme Kristen.
Alih-alih melihat ada jurang lebar antara Tuhan dan dunia, yang hanya mungkin dijembatani oleh dislokasi radikal melalui pengurbanan nyawa, Origen mengembangkan sebuah teologi yang menekankan kontinuitas antara Tuhan dan dunia. Teologinya merupakan spiritualitas yang terang, bercahaya, optimis, dan gembira.
Selangkah demi selangkah, seorang Kristen dapat mendaki mata rantai itu hingga dia mencapai Tuhan, unsur alamiah dan kampung halamannya.
Sebagai seorang Platonis, Origen yakin akan keserumpunan Tuhan dan jiwa: pengetahuan tentang yang ilahi adalah alamiah bagi manusia. Pengetahuan itu dapat “diingat kembali” dan dibangkitkan melalui latihan-latihan khusus.
Untuk menyesuaikan pandangan filsafat Platoniknya dengan kitab suci Semitik, Origen mengembangkan sebuah metode simbolik untuk membaca Alkitab. Dengan demikian, kelahiran Kristus dari rahim perawan Maria pada dasarnya tidak untuk dipahami sebagai suatu kejadian harfiah, tetapi harus dilihat sebagai kelahiran hikmat ilahi di dalam jiwa.
Dia juga mengambil beberapa gagasan kaum Gnostik. Pada mulanya, semua wujud di dalam dunia spiritual berkontemplasi tentang Tuhan yang telah mengungkapkan sendiri di dalam logos, Firman, dan hikmat suci. Akan tetapi, mereka menjadi bosan dengan aktivitas kontemplasi sempurna ini dan jatuh ke dalam dunia materi yang segera memerangkap mereka.
Akan tetapi, tidak semuanya gagal. Jiwa berhasil mencapai Tuhan melalui perjalanan panjang yang akan terus berlangsung setelah kematian. Lambat laun jiwa akan meninggalkan tubuh dan naik menjadi ruh murni.
Melalui kontemplasi (theoria), jiwa akan mendapat pengetahuan (gnosis) mengenai Tuhan, yang akan mentransformasinya hingga, seperti yang diajarkan Plato, ia akan menjadi suci. Tuhan sangatlah misterius dan tak ada ucapan atau konsep kita sebagai manusia yang mampu mengungkapkannya, tetapi jiwa mempunyai kapasitas untuk mengenal Tuhan karena ia ikut memiliki watak keilahiannya.
Kontemplasi tentang logos merupakan sesuatu yang alamiah bagi kita, sebab semua makhluk spiritual (logikoi) pada dasarnya setara satu sama lain. Ketika semua telah gagal, hanya jiwa manusia Yesus Kristus yang tetap bisa bertahan di alam suci seraya berkontemplasi tentang Firman Tuhan, dan jiwa kita sendiri setara dengan jiwanya.
Kepercayaan pada kesucian manusia Yesus hanya merupakan sebuah fase: ia akan membantu perjalanan kita, tetapi pada akhirnya akan lepas ketika kita telah bertemu muka langsung dengan Tuhan.
Pada abad kesembilan, gereja mencela beberapa gagasan Origen sebagai bid'ah. Baik Origen maupun Clement tidak percaya bahwa Tuhan telah menciptakan alam dari ketiadaan (ex nihilo), yang dalam perkembangan selanjutnya akan menjadi doktrin Kristen ortodoks.
Pandangan Origen tentang keilahian Yesus dan penyelamatan umat manusia jelas tidak sejalan dengan ajaran resmi Kristen: dia tidak percaya bahwa kita telah “diselamatkan” oleh kematian Kristus, tetapi meyakini bahwa kita dapat naik menuju Tuhan atas usaha kita sendiri.
Persoalannya adalah, tatkala Origen dan Clement menulis dan mengajarkan Platonisme Kristen mereka, belum ada doktrin resmi. Tak seorang pun betulbetul mengetahui apakah Tuhan telah menciptakan alam atau apakah seorang manusia bisa menjadi tuhan.
Peristiwa-peristiwa yang bergejolak pada abad keempat dan kelima membawa pada sebuah definisi tentang kepercayaan ortodoks hanya setelah melewati suatu pertarungan yang mengenaskan.
Mungkin Origen paling dikenal karena tindakannya mengebiri diri sendiri. Di dalam Injil, Yesus mengatakan bahwa beberapa orang telah mengebiri diri mereka sendiri demi Kerajaan Langit, dan Origen menelan firman itu mentah-mentah.
Pengebirian adalah perilaku yang umum di akhir zaman kuno, Origen tidak langsung menyerang dirinya dengan sebilah pisau, keputusannya pun tidak diilhami oleh sejenis kebencian neurotik terhadap seksualitas sebagaimana yang telah menjadi karakter sebagian teolog Barat semacam Santo Jerome (342-420).
Sarjana Inggris Peter Brown memperkirakan bahwa tindakan itu diambil sebagai upaya untuk mendemonstrasikan doktrinnya mengenai ketidakpastian kondisi manusia, yang pasti akan ditinggalkan oleh jiwa. Rupanya faktor-faktor yang tak dapat diubah seperti gender akan ditinggalkan dalam proses panjang penyucian diri, karena di sisi Tuhan tak akan ada lelaki atau perempuan.
Pada zaman ketika filosof ditandai oleh jenggotnya yang panjang (simbol kebijaksanaan), pipi Origen yang halus dan nada suaranya yang tinggi merupakan pemandangan yang mengherankan.
Plotinus (205-270) telah belajar di Aleksandria di bawah bimbingan guru senior Origen, Ammonius Saccus, dan kemudian bergabung dengan tentara Romawi. Dia berharap akan dikirim ke India, tempat yang sangat ingin dipelajarinya. Sayangnya ekspedisi itu gagal dan Plotinus pindah ke Antiokia.
Belakangan dia mendirikan sebuah sekolah filsafat yang prestisius di Roma. Kita tidak begitu mengenalnya karena dia adalah seorang laki-laki yang sangat pendiam dan tidak pernah bercerita tentang dirinya sendiri, bahkan juga tidak pernah merayakan hari ulang tahunnya sendiri.
Seperti Celsus, Plotinus memandang Kristen sebagai sebuah kredo yang sama sekali tidak bisa diterima, namun demikian dia berpengaruh terhadap generasi-generasi monoteis masa depan dalam ketiga agama Allah. Oleh karena itulah, dirasakan penting untuk mengetengahkan uraian terperinci mengenai pandangannya tentang Tuhan.
Plotinus digambarkan sebagai garis batas yang penting: dia telah menyerap aliran-aliran pemikiran utama dari 800 tahun pemikiran spekulatif Yunani dan mentransmisikannya dalam sebuah bentuk yang mempengaruhi tokoh-tokoh terkemuka pada abad kita, seperti T.S. Eliot dan Henri Bergson.
Berpijak pada gagasan-gagasan Plato, Plotinus mengembangkan suatu sistem yang dirancang untuk mencapai pemahaman tentang diri. Dia sama sekali tidak tertarik untuk menemukan penjelasan ilmiah atas alam semesta atau berupaya menjelaskan asal usul fisik kehidupan: bukannya mencari penjelasan objektif dari dunia luar, Plotinus justru mengajak murid-muridnya untuk surut ke dalam diri mereka sendiri dan memulai eksplorasi mereka dari kedalaman jiwa.
Manusia sadar bahwa ada sesuatu yang tak beres dengan kondisi mereka, mereka merasakan kejanggalan dengan diri sendiri dan orang lain, tak terhubungkan dengan hakikat batin mereka dan kehilangan arah. Konflik dan hilangnya kesederhanaan tampak telah menjadi ciri eksistensi kita.
Meskipun demikian kita tak henti-hentinya berupaya untuk memadukan fenomena yang beragam itu dan mereduksinya menjadi semacam keutuhan yang tertata. Ketika secara sepintas kita melihat seseorang, kita tidak hanya melihat sebuah kaki, tangan, dan kepala, tetapi secara automatis kita mengorganisasikan unsur-unsur ini menjadi sesosok manusia utuh.
Dorongan ke arah keutuhan ini bersifat fundamental bagi cara bekerja akal kita dan diyakini Plotinus pasti juga mencerminkan esensi sesuatu secara umum. Untuk menemukan kebenaran mendasar realitas, jiwa mesti menata ulang dirinya, menjalani periode penyucian (katharsis) dan tenggelam dalam kontemplasi (theoria), seperti yang disarankan Plato.
Jiwa perlu melihat melampaui kosmos, melampaui dunia indriawi, dan bahkan melampaui keterbatasan akal untuk menyelami inti realitas. Namun demikian, ini bukanlah pendakian ke puncak realitas yang berada di luar diri kita, melainkan turun menyelam ke dalam lubuk hati. Pendek kata, sebuah pendakian ke dalam batin.
Realitas tertinggi merupakan sebuah kesatuan primal yang oleh Plotinus disebut sebagai Yang Esa. Segala sesuatu meminjam eksistensi mereka dari realitas potensial ini.
Karena Yang Esa merupakan kesederhanaan itu sendiri, tak ada yang bisa diceritakan mengenainya: tak ada padanya suatu kualitas yang berbeda dari esensinya, yang dapat memungkinkan deskripsi dalam cara biasa. Dia ada begitu saja.
Akibatnya, Yang Esa itu tidak bernama: “Jika kita berpikir positif tentang Yang Esa,” jelas Plotinus, “kebenaran akan lebih banyak terdapat dalam hening.”4$
Baca Juga: Penemuan artefakUFO dan alien di Guanajuato
Kita bahkan tak bisa mengatakan bahwa dia ada, karena sebagai Wujud itu sendiri, dia “bukanlah sesuatu, melainkan berbeda dari segala sesuatu.” Sesungguhnya, Plotinus menjelaskan, dia “adalah Segala Sesuatu dan Bukan Sesuatu; dia bukanlah salah satu dari apa yang ada, namun demikian dia adalah semuanya.”
Kita akan menyaksikan bahwa persepsi ini akan menjadi sebuah tema yang konstan dalam sejarah Tuhan.
Akan tetapi, hening bukanlah keseluruhan kebenaran, kata Plotinus, sebab kita mampu untuk tiba pada pengetahuan tertentu tentang yang ilahi. Adalah mustahil jika Yang Esa itu tetap terbungkus dalam rahasia yang tak bisa ditembus.
Yang Esa mesti telah melampaui dirinya sendiri, melampaui Kesederhanaannya dengan tujuan menjadikan dirinya bisa dipahami oleh wujud-wujud tak sempurna seperti kita.
Transendensi ilahi ini bisa digambarkan apa yang disebut “ekstasi”, karena merupakan peristiwa “keluar dari diri sendiri” dalam kebaikan murni: “Tak mencari apa-apa, tak mempunyai apa-apa, tak kehilangan apa-apa. Yang Esa itu sempurna dan, secara metaforis, telah melimpah, dan kelimpahannya telah menghasilkan yang baru.”49
Tak ada sesuatu yang bersifat personal di dalam semua ini: Plotinus memandang Yang Esa berada di atas semua kategori manusia, termasuk kategori personalitas.
Plotinus kembali ke mitos emanasi kuno untuk menjelaskan pemancaran semua yang wujud dari Sumber yang sangat sederhana ini, menggunakan sejumlah analogi untuk menggambarkan prosesnya: seperti pancaran sinar matahari atau panas yang memancar dari sebuah nyala api dan semakin Anda mendekat ke inti api itu, semakin panas terasa.
Salah satu kiasan yang paling disukai oleh Plotinus adalah perbandingan antara Yang Esa dengan titik pusat sebuah lingkaran, yang mengandung kemungkinan munculnya seluruh lingkaran lain yang berasal darinya. Ini mirip pula dengan efek gelombang yang ditimbulkan oleh jatuhnya sebuah batu ke dalam kolam.
Berbeda dengan pemancaran yang dijelaskan dalam mitos seperti Enuma Elish, di mana setiap pasangan dewa yang berevolusi dari pasangan lain menjadi lebih sempurna dan efektif, yang terdapat dalam skema Plotinus justru kebalikannya.
Sebagaimana dalam mitos-mitos Gnostik, semakin jauh suatu wujud dari Yang Esa,
Semakin jauh suatu wujud dari Yang Esa, semakin lemahlah ia. Plotinus memandang dua emanasi pertama yang memancar dari Yang Esa sebagai sesuatu yang ilahiah, sebab keduanya membuat kita mampu mengetahui dan terlibat dalam kehidupan Tuhan. Bersama dengan Yang Esa, keduanya membentuk sebuah Segi Tiga ilahiah yang dalam cara tertentu mirip dengan Trinitas dalam Kristen.
Pikiran (nous), emanasi pertama, dalam skema Plotinus bersesuaian dengan alam ide Plato: pikiran dapat membuat kesederhanaan Yang Esa menjadi terpahami, tetapi pengetahuan di sini bersifat intuitif dan langsung. Ia tidak dengan susah payah diperoleh melalui penelitian dan proses penalaran, melainkan diserap melalui cara yang sama seperti ketika indra kita menyerap objek-objek yang dipersepsikan.
Jiwa (psyche), yang beremanasi dari Pikiran dalam cara yang sama seperti emanasi Pikiran dari Yang Esa, merupakan sesuatu yang sedikit lebih jauh dari kesempurnaan. Pada tingkat ini, pengetahuan hanya dapat diperoleh secara diskursif sehingga ia tidak memiliki simplisitas dan koherensi absolut.
Jiwa bersesuaian dengan realitas yang biasa kita alami: seluruh sisa eksistensi fisik dan spiritual memancar dari Jiwa, yang memberikan kepada dunia kita semua kesatuan dan koherensi yang dimilikinya.
Lagi-lagi mesti ditekankan bahwa Plotinus tidak membayangkan tiga serangkai Yang Esa, Pikiran, dan Jiwa ini sebagai suatu tuhan “di luar sana”. Keilahian melingkupi seluruh eksistensi. Tuhan adalah semua di dalam semua, dan wujud-wujud yang lebih rendah hanya ada selama mereka menjadi bagian dalam wujud absolut Yang Esa.
Aliran emanasi ke arah luar diserap oleh gerakan kembali kepada Yang Esa. Sebagaimana kita tahu dari cara kerja pikiran kita sendiri—dan dari ketidakpuasan kita terhadap konflik serta kemajemukan—semua wujud merindukan kesatuan: mereka rindu untuk kembali kepada Yang Esa.
Sekali lagi, ini bukanlah pendakian menuju suatu realitas yang ada di luar diri, melainkan jalan menurun menuju kedalaman pikiran kita. Jiwa mesti mengingat kembali simplisitas yang telah dilupakannya dan kembali kepada kesejatian dirinya.
Karena semua jiwa dihidupkan oleh Realitas yang sama, kemanusiaan mungkin dapat diperbandingkan dengan sekelompok paduan suara yang berdiri mengelilingi seorang konduktor. Jika ada seseorang yang melantur, akan timbul ketidakpaduan dan ketidakselarasan. Namun, jika semua memperhatikan konduktor dan berkonsentrasi kepadanya, keseluruhan komunitas akan diuntungkan, sebab “mereka akan menyanyi sebagaimana mestinya, dan sungguh-sungguh berada bersamanya.”
Yang Esa sangat impersonal: tidak bergender dan sama sekali tidak menyadari kita. Demikian pula, Pikiran (nous) secara gramatikal adalah maskulin dan Jiwa (psyche) adalah feminin. Hal ini menunjukkan suatu keinginan dari Plotinus sendiri untuk mempertahankan visi kuno pagan tentang keseimbangan dan harmoni seksual.
Tidak seperti Tuhan biblikal, Yang Esa tidak datang untuk menemui kita dan membimbing kita pulang. Dia tidak merindukan kita, tidak mencintai kita, dan tidak mengungkapkan dirinya kepada kita. Dia bahkan tidak memiliki pengetahuan tentang sesuatu di luar dirinya.
Namun demikian, jiwa manusia kadang tergetar dalam pengenalan yang memabukkan tentang Yang Esa. Filsafat Plotinus bukanlah sebuah proses berlogika, melainkan sebuah pencarian spiritual:
“Kita di sini, demi tujuan kita, mesti mengesampingkan segala sesuatu yang lain dan menyediakan diri untuk Ini saja—menjadi Ini saja—meninggalkan semua beban. Kita mesti bersegera keluar dari sini, tak sabar akan ikatan duniawi kita, untuk merangkul Tuhan dengan segenap keberadaan kita sehingga tak ada bagian kita yang tidak tergantung kepada Tuhan.
Di sana, kita bisa melihat Tuhan dan diri kita sendiri terungkap: diri kita dalam kemegahan, dipenuhi cahaya Akal—atau tepatnya, cahaya itu sendiri—murni, mengapung, terbang, menjadi—pada kenyataannya, adalah—tuhan.”
Tuhan ini bukanlah suatu objek asing, melainkan diri kita yang terbaik. Ia timbul “bukan dengan cara mengetahui, bukan pula dengan pemikiran yang menemukan wujud-wujud Akal [di dalam Pikiran atau nous], tetapi melalui suatu kehadiran (parousia) yang melampaui semua pengetahuan”.
Kristen menemukan dirinya berada dalam sebuah dunia yang didominasi ide-ide Platonis. Semenjak itu, ketika para pemikir Kristen mencoba menjelaskan pengalaman religius mereka sendiri, secara alamiah mereka beralih kepada visi Neoplatonis dari Plotinus dan pengikut-pengikut pagannya di kemudian hari.
Gagasan tentang pencerahan yang impersonal, di luar kategori-kategori manusia, dan alamiah bagi kemanusiaan juga dekat dengan cita-cita Hindu dan kaum Buddha di India, tempat yang begitu ingin dipelajari Plotinus. Dengan demikian, meski ada beberapa perbedaan yang lebih superfisial, terdapat kemiripan nyata antara monoteisme dan visi-visi lain tentang realitas.
Tampaknya ketika manusia berkontemplasi tentang yang mutlak, mereka tiba pada gagasan dan pengalaman yang sangat mirip. Rasa kehadiran, mabuk, dan gentar dalam kehadiran sebuah realitas—yang disebut nirvana, Yang Esa, Brahman, atau Tuhan—sepertinya merupakan keadaan pikiran dan persepsi yang alamiah dan tak henti-hentinya dicari manusia.
Sebagian orang Kristen memutuskan untuk menjalin hubungan persahabatan dengan dunia Yunani. Yang lainnya tidak menginginkan hubungan apa pun dengan mereka.
Selama masa merebaknya penyiksaan terhadap Kristen di kekaisaran Romawi pada tahun 170-an, seorang nabi baru bernama Montanus muncul di Phyrgia di wilayah Turki modern, yang mengaku sebagai avatar ilahi: “Akulah Tuhan Yang Mahakuasa, yang turun kepada seorang manusia,” begitu pernah diucapkannya. “Aku adalah Bapa, putra, dan Perantara.” Sahabat-sahabatnya Priscilla dan Maximilla juga membuat klaim serupa.
Montanisme merupakan kredo apokaliptik keras yang melukiskan gambaran menakutkan tentang Tuhan. Para pengikutnya bukan hanya diwajibkan berpaling dari dunia dan harus menjalani kehidupan membujang, mereka juga diajarkan bahwa mati sebagai martir merupakan satu-satunya jalan menuju Tuhan.
Kematian mereka yang mengenaskan demi iman akan mempercepat kedatangan Kristus: para martir adalah prajurit-prajurit Tuhan yang terlibat dalam pertempuran melawan kejahatan.
Kredo yang mengerikan ini menarik hati ekstremisme laten dalam semangat Kristen. Montanisme menjalar seperti kobaran api di Phyrgia, Thrace, Siria, dan Gaul. Aliran ini menjadi kuat secara khusus di Afrika Utara, yang penduduknya pernah menyembah dewa-dewa yang menuntut pengurbanan manusia.
Pemujaan mereka terhadap Baal, yang mencakup pengurbanan anak sulung, baru ditumpas oleh Kaisar pada abad kedua. Segera bid'ah itu pun menarik bagi pribadi sekaliber Tertullian, teolog terkemuka gereja Latin.
Di Timur, Clement dan Origen mengajarkan cara yang damai dan bahagia untuk kembali kepada Tuhan, tetapi di gereja Barat ada Tuhan yang lebih menakutkan yang menuntut kematian tragis sebagai syarat kesetiaan.
Pada tahapan ini, Kristen merupakan agama yang berjuang untuk tumbuh di Eropa Barat dan Afrika Utara, dan sejak awal telah terdapat kecenderungan ke arah ekstremisme dan kekerasan. Akan tetapi, Kristen di Timur sedang membuat langkah besar, dan menjadi salah satu agama terpenting di kekaisaran Romawi pada tahun 235.
Orang-orang Kristen kini berbicara tentang sebuah gereja Agung dengan satu aturan keimanan yang jauh dari sikap ekstrem dan eksentrik. Para teolog ortodoks ini telah meninggalkan visi-visi pesimistik kaum Gnostik, Marcionis, dan Montanisme, dan mengambil jalan tengah.
Kristen menjadi kredo perkotaan yang menghindari kompleksitas kultus-kultus misteri dan asketisme yang tidak fleksibel. Ia mulai memikat orang-orang berkecerdasan tinggi yang mampu mengembangkan keimanan dalam garis yang bisa dipahami oleh dunia Yunani-Romawi.
Agama baru itu juga memikat kaum wanita. Kitab sucinya mengajarkan bahwa di dalam Kristus tak ada istilah lelaki atau perempuan dan mengajarkan agar kaum pria menghargai istri-istri mereka sebagaimana Kristus menghargai gerejanya.
Kristen memiliki semua keuntungan yang dahulu pernah membuat Yudaisme menjadi sebuah keimanan yang menarik, dikurangi keharusan bersunat dan hukum yang terasa asing. Orang-orang pagan terkesan oleh sistem kesejahteraan yang dikembangkan gereja-gereja dan sikap kasih sayang yang diamalkan orang Kristen satu sama lain.
Dalam perjuangan panjangnya untuk selamat dari penyiksaan dari luar dan perselisihan dari dalam, gereja juga telah mengembangkan organisasi yang efisien, yang membuatnya nyaris seperti mikrokosmos kekaisaran itu sendiri: multirasial, meluas, internasional, ekumenikal, dan dijalankan oleh birokrasi yang efisien.
Begitu ia menjadi sebuah kekuatan bagi stabilitas dan memikat Kaisar Konstantin, yang menjadi penganut Kristen setelah pertempuran di Jembatan Milvian pada tahun 312, Kristen dilegalisasi pada tahun berikutnya.
Orang Kristen kini bisa memiliki rumah, bebas beribadah, dan memberi sumbangsih yang nyata bagi kehidupan masyarakat.
Meskipun paganisme masih berkembang selama dua abad berikutnya, Kristen menjadi agama resmi kerajaan dan mulai menarik minat pengikut-pengikut baru yang datang bergabung ke gereja demi memperoleh kesejahteraan material.
Tak lama kemudian, gereja—yang mengawali kehidupan sebagai sebuah sekte terlarang yang memohon toleransi—juga menuntut kesesuaian dengan hukum dan kredonya sendiri.
Alasan kemenangan Kristen tidak jelas, tetapi pasti ia tidak akan berhasil tanpa dukungan kekaisaran Romawi, meskipun ini juga tak pelak menimbulkan persoalan sendiri.
Pada puncaknya sebagai agama yang selalu dirundung malang, Kristen tak pernah benar-benar tiba pada suatu masa keemasan. Salah satu persoalan utama yang mesti dipecahkannya adalah doktrin tentang Tuhan.
Tak lama setelah Konstantin membawa kedamaian kepada gereja, bahaya baru pun muncul dari dalam yang memecah Kristen menjadi kubu-kubu yang saling bermusuhan.







Comments (0)