Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan

Mencapai nirvana tidak sama dengan "naik ke langit” seperti yang sering dipahami orang Kristen. Buddha selalu menolak untuk menjawab pertanyaan tentang nirvana atau tentang hal-hal luhur lainnya karena pertanyaan semacam itu “tidak layak” dan “tidak pantas”. Kita tidak bisa mendefinisikan nirvana karena kata-kata dan konsep kita terbelenggu oleh dunia indriawi dan perubahan. Pengalaman adalah satu-satunya “bukti” yang terandalkan. Muridmuridnya akan mengetahui bahwa nirvana ada hanya karena latihan mereka menjalani kehidupan yang baik akan memampukan mereka melihatnya.

Wahai para rahib, ada yang tak dilahirkan, tak menjadi, tak diciptakan, tak tersusun. Jika, wahai para rahib, tidak ada yang tak dilahirkan, tak menjadi, tak diciptakan, dan tak tersusun ini, maka tentu tak akan ada Jalan keluar bagi yang dilahirkan, yang menjadi, yang diciptakan, yang tersusun. Tetapi karena ada yang tak dilahirkan, yang tak menjadi, yang tak diciptakan, dan yang tak tersusun, maka ada jalan keluar bagi yang dilahirkan, yang menjadi, yang diciptakan, dan yang tersusun:

Para rahibnya tidak boleh berspekulasi tentang hakikat nirvana. Yang dapat dilakukan Buddha hanyalah menyediakan bagi mereka rakit yang akan membawa mereka menyeberang ke “pantai yang lebih jauh”. Ketika ditanya apakah seorang Buddha yang telah mencapai nirvana tetap hidup setelah mati, dia mengabaikan pertanyaan ini karena menganggapnya “tidak layak”. Sama tidak layaknya seperti menanyakan ke mana perginya api setelah ia “padam”. Sama kelirunya mengatakan bahwa seorang Buddha yang hidup dalam nirvana berarti tidak ada: kata “ada” tidak berhubungan dengan keadaan apa pun yang bisa kita pahami. Kita akan menemukan bahwa selama berabad-abad, orang Yahudi, Kristen, dan Muslim telah memberikan jawaban yang sama terhadap pertanyaan tentang “keberadaan” Tuhan.

Buddha berusaha memperlihatkan bahwa bahasa tidak mampu membahas realitas yang berada di luar jangkauan konsep dan akal. Lagi-lagi, dia tidak menolak akal tetapi menekankan arti penting pemikiran yang jernih serta akurat dan penggunaan bahasa. Namun akhirnya, dia berpendapat bahwa teologi atau kepercayaan seseorang, seperti ritual yang dijalaninya, tidaklah penting. Hal-hal seperti itu memang menarik, tetapi tidak punya arti final. Satusatunya yang berharga adalah hidup dengan cara yang baik: jika ini diupayakan, penganut Buddha akan menemukan bahwa Dharma itu benar, meskipun mereka tidak bisa menyampaikannya dalam ungkapan yang logis.

Di sisi lain, orang-orang Yunani amat tertarik kepada logika dan nalar. Plato (kl. 428-348 SM) selalu menyibukkan diri mengkaji persoalan-persoalan epistemologi dan hakikat kebijaksanaan. Banyak karya awalnya ditujukan sebagai upaya membela Sokrates, yang mendesak orang untuk memperjelas gagasan mereka lewat pertanyaan-pertanyaan kritis yang diajukannya. Akan tetapi, Sokrates dihukum mati pada 399 SM dengan tuduhan merusak para pemuda dan murtad. Dalam cara yang tidak berbeda dengan yang ditempuh orang India, Plato kecewa terhadap upacara-upacara kuno dan mitos-mitos agama yang menurutnya merendahkan dan tidak layak. Plato juga telah dipengaruhi filosof abad keenam SM, Pythagoras yang mungkin sekali telah terpengaruh gagasan-gagasan dari India, yang menyebar melalui Persia dan Mesir. Dia juga percaya bahwa jiwa adalah bagian zat ilahi yang terjatuh, tercemar, dan terperangkap dalam tubuh seperti dalam sebuah kuburan dan terhukum untuk menjalani siklus kelahiran kembali yang tiada habisnya. Dia telah menyuarakan pengalaman semua manusia tentang rasa keterasingan di dunia yang tampaknya bukan merupakan unsur sejati kita. Phytagoras mengajarkan bahwa jiwa bisa dibebaskan melalui penyucian ritual, yang akan memampukan manusia mencapai harmoni dengan semesta yang teratur.

Plato juga meyakini eksistensi realitas suci dan tak berubah yang melampaui dunia indriawi, bahwa jiwa adalah sepenggal keilahian, unsur yang terlepas darinya, terpenjara dalam tubuh tetapi mampu meraih kembali status keilahiannya dengan cara penyucian daya nalar pikiran. Dalam mitos gua yang populer, Plato melukiskan kegelapan dan keburaman kehidupan manusia di bumi: manusia hanya mampu melihat bayang-bayang realitas abadi yang terpantul di dinding gua. Namun, lambat laun manusia mampu keluar lalu mencapai pencerahan dan pembebasan dengan melatih pikirannya memperoleh cahaya Ilahi.

Pada akhir hayatnya, Plato mungkin telah meninggalkan doktrinnya tentang bentuk-bentuk atau ide-ide abadi, tetapi gagasan ini justru menjadi krusial bagi banyak monoteis ketika mereka berupaya mengungkapkan konsepsi ketuhanan mereka. Ide merupakan realitas stabil dan konstan yang bisa dipahami oleh kekuatan nalar, juga merupakan realitas yang lebih utuh, permanen, dan efektif dibandingkan dengan fenomena material yang lemah dan selalu berubah yang kita capai lewat indra. Segala yang ada di dunia ini hanyalah pantulan, “bagian” atau “tiruan” dari bentuk-bentuk abadi di wilayah ilahi. Ada ide yang selalu bersesuaian dengan setiap konsepsi umum yang kita miliki, seperti Cinta, Keadilan, dan Keindahan. Akan tetapi, yang paling tinggi di antara semua bentuk adalah ide tentang Kebaikan.

Dengan demikian, Plato telah memberi kerangka filosofis bagi mitos kuno tentang dunia arketipal. Gagasannya tentang keabadian dapat dilihat sebagai versi rasional dari alam suci mitis, yang di dalamnya hal-hal jasadiah menjadi bayang-bayang semata. Dia tidak membahas hakikat Tuhan, tetapi membatasi diri pada alam suci bentuk-bentuk, meski terkadang tampak bahwa Keindahan atau Kebaikan ideal tidak mewakili suatu realitas puncak. Plato yakin bahwa alam ilahiah itu statis dan tak berubah. Orang Yunani memandang gerak dan perubahan sebagai ciri realitas inferior: sesuatu yang memiliki identitas sejati selalu sama, dicirikan oleh ketetapan dan ketakberubahan. Dengan demikian, gerak yang paling sempurna adalah gerak melingkar karena ia terus-menerus berputar dan kembali ke posisi asalnya: gerak melingkar benda-benda langit meniru gerakan alam ilahiah dengan sebaik mungkin. Citra statis alam ilahiah ini akan berpengaruh sangat besar terhadap orang Yahudi, Kristen, dan Muslim, walaupun hal itu sangat berbeda dengan Tuhan pemberi wahyu, yang selalu aktif, inovatif dan, di dalam Alkitab, bahkan berubah pikiran ketika dia menyesal telah menciptakan manusia dan memutuskan untuk memunahkan ras manusia dalam peristiwa Air Bah.

Ada aspek mistik Plato yang sangat menyenangkan hati kaum monoteis. Bentuk-bentuk suci Plato bukanlah realitas yang ada “di luar sana”, melainkan bisa dijumpai di dalam diri. Dalam dialog dramatiknya, Symposium, Plato memperlihatkan betapa kecintaan pada tubuh yang cantik bisa disucikan dan ditransformasikan menjadi kontemplasi ekstatik (theoria) tentang Keindahan ideal. Dalam naskah itu dia membuat Diotima, mentor Sokrates, berbicara bahwa Keindahan adalah unik, abadi, dan mutlak, tidak sama dengan apa pun yang pernah kita alami di dunia ini:

Keindahan ini pertama-tama adalah abadi, ia tidak pernah diwujudkan maupun dimatikan: tak mengalami pasang surut: kemudian ia bukan indah sebagian dan jelek sebagian, bukan indah pada satu saat dan jelek pada saat lain, bukan indah dalam kaitannya dengan hal ini dan jelek dengan hal itu, tidak beraneka menurut keragaman pemerhatinya; tidak pula keindahan ini akan tampil di dalam imajinasi seperti kecantikan seraut wajah atau tangan atau sesuatu yang bersifat jasadiah, atau seperti keindahan sebuah pemikiran atau ilmu pengetahuan, atau seperti keindahan yang bersemayam di dalam sesuatu di luar dirinya sendiri, apakah itu makhluk hidup atau bumi atau langit atau apa pun lainnya: dia akan melihatnya sebagai yang absolut, ada sendirian di dalam dirinya, unik, abadi. 4

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Pendek kata, gagasannya tentang Keindahan memiliki banyak kesamaan dengan apa yang oleh kaum teistik disebut “Tuhan”. Meski sedemikian transenden, ide-ide seperti ini dapat dijumpai dalam pikiran manusia. Dalam era modern, kita memandang berpikir sebagai sebuah aktivitas, sebagai sesuatu yang kita kerjakan. Plato menganggapnya sebagai sesuatu yang terjadi pada akal: objek-objek pikiran merupakan realitas yang aktif di dalam akal manusia yang merenungkannya. Seperti Sokrates, dia memandang pemikiran sebagai proses mengingat kembali (recollection), pemahaman sesuatu yang pernah kita ketahui, namun telah terlupa. Karena manusia merupakan kesucian yang tercampak, bentuk-bentuk alam ilahiah ada dalam diri mereka dan bisa “disentuh” oleh nalar, yang bukan sekadar aktivitas rasional atau otak melainkan sebuah cerapan intuitif akan realitas abadi yang ada dalam diri kita. Gagasan ini akan sangat berpengaruh terhadap kaum mistik dalam ketiga agama monoteis.

Plato percaya bahwa alam semesta pada dasarnya rasional. Ini adalah mitos atau konsepsi imajiner lain tentang realitas. Aristoteles (384322 SM) mengambil langkah lebih jauh. Dia adalah orang pertama yang mengapresiasi arti penting penalaran logis, basis semua ilmu pengetahuan, dan yakin bahwa adalah mungkin bagi kita untuk mencapai pengertian tentang alam semesta dengan cara menerapkan metode ini. Selain mengupayakan pemahaman teoretis tentang kebenaran dalam empat belas risalah yang dikenal sebagai Metaphysics (istilah yang diciptakan oleh editornya, yang menempatkan urutan risalah ini “sesudah Physics”: meta ta physika), dia juga mempelajari fisika teoretis dan biologi empiris. Meskipun demikian, dia memiliki kesantunan intelektual yang besar, bersikeras bahwa tak seorang pun mampu mencapai konsepsi yang memadai tentang kebenaran, tetapi setiap orang bisa memberikan sumbangsih kecil terhadap pemahaman kolektif manusia. Banyak kontroversi mengenai penilaiannya terhadap karya Plato. Dia tampaknya secara temperamental menentang pandangan Plato mengenai transendensi bentuk-bentuk, menolak gagasan bahwa bentuk- bentuk itu mempunyai eksistensi pendahulu yang independen. Aristoteles berpendapat bahwa bentuk-bentuk itu hanya memiliki realitas sebagaimana keberadaannya di dunia material konkret kita ini.

Meski pendekatannya begitu membumi dan perhatiannya besar kepada fakta ilmiah, Aristoteles memiliki pemahaman yang tajam tentang hakikat dan arti penting agama dan mitologi. Dia mengemukakan bahwa orang-orang yang terlibat dalam berbagai misteri agama tidak perlu mempelajari fakta apa pun “kecuali mengalami emosi dan disposisi tertentu”. Inilah dasar dari teori sastranya yang terkenal bahwa tragedi mengakibatkan purifikasi (katharsis) rasa takut dan iba yang berujung pada pengalaman kelahiran kembali. Tragedi-tragedi Yunani, yang pada awalnya merupakan bagian dari festival keagamaan, tidak mesti menghadirkan kisah faktual peristiwa-peristiwa sejarah, tetapi berupaya mengilhami kebenaran yang lebih serius. Bahkan, sejarah lebih remeh daripada puisi dan mitos: “Yang satu menguraikan apa yang telah terjadi, yang lainnya apa yang mungkin terjadi. Karena itu, puisi adalah sesuatu yang lebih serius dan filosofis daripada sejarah: karena puisi berbicara tentang apa yang universal, sedangkan sejarah apa yang partikular.”6

Mungkin atau tidak mungkin ada seorang Achilles atau Oedipus historis, tetapi fakta-fakta kehidupan mereka tidak relevan dengan karakter yang kita saksikan dalam Homer dan Sophocles, yang mengekspresikan kebenaran yang berbeda, tetapi lebih mendalam tentang kondisi manusia. Uraian Aristoteles tentang katharsis tragedi merupakan presentasi filosofis atas kebenaran yang telah dipahami Homo religiosus secara intuitif: presentasi simbolis, mitikal, dan ritual atas peristiwa-peristiwa yang tak tertanggungkan dalam kehidupan sehari-hari dapat menebus dan mentransformasikannya menjadi sesuatu yang murni dan bahkan menyenangkan.

Gagasan Aristoteles tentang Tuhan berpengaruh besar terhadap monoteis selanjutnya, khususnya terhadap orang Kristen di dunia Barat. Dalam Physics, dia menganalisis hakikat realitas dan struktur serta substansi semesta. Dia mengembangkan apa yang kemudian berkembang menjadi versi filosofis teori emanasi kuno tentang kisah penciptaan: Ada hierarki eksistensi, masing-masing memberi bentuk dan mengubah yang di bawahnya. Akan tetapi, tidak seperti mitos kuno, dalam teori Aristoteles, emanasi semakin melemah ketika semakin jauh dari sumbernya. Pada puncak hierarki ini terdapat Penggerak yang Tidak Digerakkan, yang oleh Aristoteles diidentifikasi sebagai Tuhan. Tuhan ini merupakan wujud murni dan, dengan demikian, abadi, tidak berubah, dan spiritual. Tuhan ini adalah akal murni, pada saat yang sama merupakan yang berpikir dan yang dipikirkan sekaligus, terlibat dalam waktu abadi untuk berkontemplasi tentang dirinya sendiri, objek pengetahuan tertinggi. Karena materi tidak abadi dan lemah, tidak ada unsur materi di dalam Tuhan atau tingkat wujud yang lebih tinggi. Penggerak yang Tidak Digerakkan mengakibatkan semua gerak dan aktivitas di alam semesta, karena setiap pergerakan pastilah mempunyai sebab yang dapat dilacak kembali kepada sumber yang tunggal. Dia mengaktifkan dunia melalui sebuah proses penarikan, karena semua wujud tertarik ke arah Wujud itu sendiri.

Manusia berada dalam posisi istimewa: jiwa kemanusiaannya mempunyai akal karunia ilahi, yang membuatnya serumpun dengan Tuhan dan ikut ambil bagian dalam hakikat keilahian. Kapasitas akal yang ilahiah ini meletakkannya dalam posisi yang lebih tinggi daripada tumbuhan dan hewan. Akan tetapi, sebagai tubuh dan jiwa, manusia adalah mikrokosmos keseluruhan alam semesta. Dalam dirinya termuat bahan paling dasar dari alam semesta sekaligus akal yang ilahiah. Kewajibannyalah untuk menjadi abadi dan ilahiah dengan cara menyucikan akalnya. Kebijaksanaan (sophia) merupakan yang tertinggi dari semua kebajikan manusia; itu diekspresikan dalam kontemplasi (theoria) tentang kebenaran filosofis yang, seperti dalam konsepsi Plato, membuat kita suci dengan cara meniru aktivitas Tuhan sendiri. Theoria tidak diraih melalui logika semata, tetapi merupakan intuisi terlatih yang menghasilkan transendensi diri yang ekstatik. Akan tetapi, sedikit sekali orang yang mampu mencapai kebijaksanaan ini dan kebanyakan hanya dapat mencapai phronesis, melatih firasat dan kecerdasan dalam hidup seharihari.

Meski dalam sistemnya posisi Penggerak yang Tidak Digerakkan sangatlah penting, Tuhan Aristoteles tidak banyak terkait dengan agama. Tuhan ini tidak menciptakan dunia, karena tindakan itu akan mengakibatkan perubahan dan aktivitas temporal yang tidak sepantasnya. Meskipun segala sesuatu merindukannya, Tuhan ini tetap tidak peduli pada eksistensi alam semesta, karena dia tidak dapat berkontemplasi tentang sesuatu yang lebih rendah daripada dirinya. Dia jelas tidak mengarahkan atau membimbing dunia dan tidak dapat membawa perubahan dalam kehidupan kita, dengan cara apa pun. Adalah pertanyaan yang tak terjawab, apakah Tuhan mengetahui keberadaan kosmos ini, yang telah beremanasi darinya sebagai akibat niscaya dari keberadaannya. Pertanyaan tentang keberadaan Tuhan yang seperti itu secara keseluruhan bersifat periferal. Aristoteles sendiri mungkin telah meninggalkan teologinya di akhir masa hidupnya. Sebagai manusia Zaman Kapak, dia dan Plato sama-sama menaruh perhatian terhadap kesadaran individual, kehidupan yang baik, dan masalah keadilan di masyarakat. Namun, pemikiran mereka bersifat elitis. Dunia bentuk-bentuk murni Plato atau Tuhan Aristoteles yang jauh, hanya dapat menimbulkan sedikit pengaruh bagi kehidupan orang awam, sebuah fakta yang belakangan terpaksa diakui oleh pengagum keduanya dari kalangan Yahudi dan Muslim.

Oleh karena itu, dalam ideologi-ideologi baru Zaman Kapak, terdapat kesepakatan umum bahwa kehidupan manusia mengandung unsur transenden yang esensial. Para pemikir terkemuka yang telah kita bahas telah menerjemahkan transendensi ini secara berbeda-beda, tetapi mereka sepakat untuk melihatnya sebagai sesuatu yang krusial bagi perkembangan kaum pria dan wanita menjadi manusia yang utuh. Mereka tidak secara mutlak mencampakkan mitologi-mitologi kuno, tetapi melakukan penafsiran ulang atasnya dan membantu orang-orang untuk bangkit melampauinya. Pada saat yang sama dengan masa terbentuknya ideologi-ideologi ini, nabi-nabi Israel mengembangkan tradisi mereka sendiri untuk menghadapi kondisi yang berubah, hingga Yahweh akhirnya menjadi satu-satunya Tuhan mereka. Akan tetapi, bagaimana Yahweh yang pemarah bisa sesuai dengan visi-visi lain yang luhur ini?)

Like

1

Love

2

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment