Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan
BAB 3 : Cahaya bagi Kaum Non-Yahudi
Pada saat yang sama ketika Philo menguraikan Yudaismenya yang bercorak Platonis di Aleksandria, sementara Hillel dan Shammai sedang beradu argumen di Yerusalem, seorang penyembuh iman karismatik memulai kariernya sendiri di utara Palestina. Sangat sedikit pengetahuan kita tentang Yesus. Uraian panjang lebar pertama tentang riwayat hidupnya adalah Injil Markus yang baru ditulis sekitar tahun /0 M, hampir empat puluh tahun setelah kematiannya. Pada saat itu, fakta-fakta historis telah terselubung oleh unsur-unsur mitos yang mengekspresikan makna yang telah diperoleh Yesus dari pengikutnya. Makna inilah yang sebenarnya disampaikan oleh Injil Markus ketimbang gambaran gamblang yang dapat diandalkan.
Orang Kristen generasi pertama memandang Yesus sebagai seorang Musa baru, seorang Yosua baru, dan sebagai pendiri Israel baru. Seperti Buddha, Yesus tampaknya menyatukan beberapa aspirasi terdalam orang sezamannya dan memberi substansi bagi mimpi-mimpi yang telah membayangi kaum Yahudi selama berabad-abad. Dalam masa hidupnya, banyak orang Yahudi Palestina yang percaya bahwa dia adalah sang Mesias: dia masuk ke Yerusalem dan dielu-elukan sebagai anak Daud, tetapi, hanya berselang beberapa hari kemudian, dia dihukum mati melalui hukum penyaliban Romawi yang mengerikan.
Akan tetapi, meski dalam skandal ini seorang Mesias mati seperti pelaku kriminal biasa, para muridnya tidak merasa bahwa keimanan mereka terhadapnya adalah sesuatu yang keliru. Ada kabar angin menyatakan bahwa dia telah bangkit dari kematian. Sebagian lagi mengatakan bahwa makamnya ditemukan kosong tiga hari setelah peristiwa penyalibannya, yang lain mengaku telah melihatnya, dan dalam suatu kesempatan lima ratus orang menyatakan telah melihatnya secara serempak.
Para muridnya percaya bahwa dia akan segera kembali untuk menahbiskan Kerajaan Tuhan, dan—karena kepercayaan semacam itu tidak dianggap menyimpang—sekte mereka diterima sebagai sekte Yahudi yang autentik, bahkan dalam pandangan tokoh sekaliber Rabi Gamaliel, cucu Hillel dan salah seorang tannaim yang paling disegani. Para pengikutnya beribadah di Kuil setiap hari dengan tata cara peribadatan Yahudi. Namun, akhirnya Israel Baru yang diilhami oleh kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus, akan menjadi sebuah kepercayaan non-Yahudi yang mengembangkan konsepsinya sendiri yang khas tentang Tuhan.
Pada saat kematian Yesus sekitar tahun 30 M, orang Yahudi merupakan monoteis yang bersemangat sehingga tak seorang pun berharap sang Mesias merupakan figur suci: dia hanyalah manusia biasa, meski istimewa. Sebagian rabi menduga bahwa nama dan identitasnya telah diketahui Tuhan sejak zaman azali. Karenanya, dalam pemahaman semacam itu, sang Mesias bisa dikatakan telah “bersama Tuhan” sejak sebelum awal waktu melalui cara simbolik yang serupa dengan figur hikmat suci dalam Kitab Amsal dan Pengkhotbah.
Orang Yahudi berharap sang Mesias, Yang Diurapi, adalah keturunan Raja Daud yang, sebagai raja dan pemimpin spiritual, telah mendirikan kerajaan Yahudi merdeka pertama di Yerusalem. Mazmur kadang kala menyebut Daud atau Mesias "anak Tuhan”, tetapi itu hanya merupakan cara untuk mengungkapkan kedekatannya dengan Yahweh. Tak seorang pun sejak kepulangan dari Babilonia dapat membayangkan bahwa Yahweh benar-benar memiliki seorang putra, seperti dewa-dewa kaum goyim yang menjijikkan.
Injil Markus, sebagai yang paling pertama yang biasanya dipandang paling dapat diandalkan, menampilkan Yesus sebagai manusia biasa, memiliki keluarga yang terdiri dari saudara lelaki maupun perempuan. Tak ada malaikat yang mengumumkan kelahirannya atau bersenandung di buaiannya. Masa kanak-kanak maupun remajanya tidak ditandai sebagai sesuatu yang luar biasa sama sekali. Ketika dia mulai mengajar, para penduduk di kotanya, Nazareth, terkagum bahwa anak seorang tukang kayu setempat ternyata bisa menjadi begitu berbakat.
Markus memulai narasinya sejak awal karier Yesus. Tampaknya Yesus pada awalnya merupakan murid Yohanes Pembaptis, seorang asketik pengembara yang kemungkinan bermazhab Essenia: Yohanes memandang pihak penguasa Yerusalem telah menjadi sangat korup dan menyampaikan sebuah khotbah yang tajam mencelanya. Khalayak ramai diimbaunya untuk bertobat dan menerima ritus pemurnian Essenia melalui pembaptisan di Sungai Yordan. Lukas menyatakan bahwa Yesus dan Yohanes sebenarnya saling berhubungan.
Yesus telah menempuh perjalanan jauh dari Nazareth ke Yudea untuk dibaptis oleh Yohanes. Sebagaimana yang diceritakan Markus kepada kita: “Pada saat la keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. lalu terdengarlah suara dari surga: "Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan'.”1 Yohanes Pembaptis langung mengenali Yesus sebagai Mesias (Al-Masih).
Apa yang kemudian kita dengar adalah bahwa Yesus mulai mengajar ke segala kota dan desa di Galilea seraya memaklumatkan: “Kerajaan Allah sudah dekat!”2 Telah banyak spekulasi tentang karakter sejati misi Yesus. Sangat sedikit dari kata-kata aktualnya yang sempat terekam dalam Injil, dan banyak di antara bahan-bahan itu telah dipengaruhi oleh perkembangan selanjutnya yang terjadi di gereja-gereja yang didirikan oleh Paulus setelah kematian Yesus.
Akan tetapi, terdapat petunjuk yang mengarah kepada karakter Yahudi yang esensial dalam kariernya. Telah dikemukakan bahwa penyembuh iman merupakan figur religius yang lazim di Galilea: seperti Yesus, mereka dari kaum papa, yang berkhotbah, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir ruh jahat. Seperti Yesus lagi, orang-orang suci Galilea ini sering memiliki sejumlah besar murid wanita.
Yang lain berpendapat bahwa Yesus barangkali adalah seorang Farisi dari aliran yang sama dengan Hillel—seperti halnya Paulus, yang telah memaklumatkan diri sebagai pengikut Farisi sebelum beralih ke Kristen dan konon pernah ikut dalam kelompok Rabi Gamaliel. Tentu saja ajaran Yesus sesuai dengan garis-garis besar ajaran Farisi, karena dia juga percaya bahwa derma dan kasih sayang merupakan mitzvot terpenting.
Seperti kaum Farisi, dia taat kepada Taurat dan dikabarkan telah mengajarkan ketaatan yang lebih keras dibandingkan dengan tokoh-tokoh lainnya yang sezaman.‘ Dia juga mengajarkan suatu versi hukum emas Hillel, ketika mengatakan bahwa keseluruhan hukum Taurat dapat diringkas menjadi satu ungkapan: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”
Dalam Injil Matius, Yesus ditampilkan mengeluarkan kecaman sangat keras terhadap “ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi”, menyebut mereka sebagai kaum munafik. Selain bahwa ini merupakan distorsi fakta yang penuh tuduhan dan pelanggaran mencolok terhadap kasih sayang yang semestinya menjadi karakter dari misinya, kecaman pahit terhadap kaum Farisi ini hampir pasti tidak autentik.
Lukas, misalnya, memberikan komentar yang cukup positif tentang kaum Farisi, baik di dalam Injil maupun Kisah para Nabinya, dan Paulus tidak mungkin akan menyingkapkan latar belakang Farisinya jika mereka betul-betul merupakan musuh besar Yesus yang telah menggiringnya ke tiang salib. Nada antiSemitik Injil Matius mencerminkan ketegangan antara orang-orang Yahudi dan Kristen selama tahun 80an.
Injil sering menunjukkan Yesus berdebat dengan kaum Farisi, tetapi perdebatan itu mungkin saja bersifat bersahabat atau mungkin juga memperlihatkan perselisihan pendapatnya dengan aliran Sammai yang lebih ketat.
Setelah kematiannya, para pengikutnya berkeyakinan bahwa Yesus adalah kudus. Ini tidak terjadi secara langsung; sebagaimana akan kita saksikan, doktrin bahwa Yesus adalah tuhan yang berwujud manusia baru terbentuk pada abad keempat. Perkembangan kepercayaan Kristen tentang Inkarnasi merupakan proses yang kompleks dan berkembang secara perlahan.
Yesus sendiri tak pernah mengaku sebagai tuhan. Pada hari pembaptisannya, oleh suara dari langit dia dipanggil dengan sebutan Anak Tuhan, namun ini mungkin hanya sebuah konfirmasi bahwa dia adalah Mesias yang dicintai. Tak ada yang luar biasa tentang maklumat dari atas semacam itu: para rabi juga sering mengalami apa yang mereka sebut bat qol (secara harfiah berarti “Anak Perempuan Sang Suara”), sebentuk inspirasi untuk menggantikan wahyu kenabian yang lebih langsung.”
Rabi Yohannan ben Zakkai telah mendengar bat gol semacam itu yang mengonfirmasi misi baginya pada suatu kesempatan ketika Roh Kudus menjelma di hadapannya dan di hadapan murid-muridnya dalam bentuk nyala api. Yesus sendiri biasa menyebut dirinya “Anak Manusia”.
Ada banyak kontroversi menyangkut masalah gelar ini, tetapi sepertinya frasa aslinya dalam bahasa Aram (bar nasha) sekadar menekankan kondisi manusia yang lemah dan tidak abadi. Jika demikian, kelihatan sekali bahwa Yesus dengan caranya sendiri telah menekankan bahwa dia adalah manusia lemah yang suatu waktu pasti akan menderita dan mati.
Injil mengatakan kepada kita bahwa Tuhan telah memberi Yesus beberapa “kekuatan” ilahiah (dunamis) yang, bagaimanapun, akan memampukan dia, meskipun hanya seorang manusia biasa, untuk menjalankan tugas-tugas yang seperti Tuhan: menyembuhkan penyakit dan mengampuni dosa. Oleh karena itu, ketika orangorang menyaksikan perbuatan Yesus, tindakan itu tampak memiliki citra yang hidup mengenai Tuhan.
Pada suatu kesempatan, tiga orang muridnya mengklaim telah melihat hal ini lebih jelas daripada biasanya. Kisah itu terabadikan dalam ketiga Injil sinoptik dan menjadi penting bagi generasi Kristen berikutnya. Diceritakan bahwa Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung tinggi, yang secara tradisional dikenal sebagai gunung Tabor di Galilea.
Kemudian di sana, Yesus “berubah rupa” di hadapan mereka: “Wajahnya bercahaya seperti matahari dan pakaiannya menjadi putih bersinar.”?3Musa dan Elia, masingmasing mewakili Taurat dan para nabi, tiba-tiba muncul di sisinya dan ketiga orang itu berbincang-bincang bersama.
Petrus sangat terkesima dan berteriak keras, entah apa yang diucapkannya, bahwa mereka harus mendirikan tiga kemah untuk mengabadikan penampakan ini. Segumpalan awan, seperti yang pernah turun di gunung Sinai, menyelimuti puncak gunung itu dan sebuah gema bat gol memaklumatkan: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
Berabad-abad kemudian, ketika orang Kristen Yunani merenungkan makna peristiwa ini, mereka memutuskan bahwa “kuasa” Allah telah bersinar melalui kemanusiaan Yesus yang telah berubah bentuk.
Pada saat yang sama ketika Philo menguraikan Yudaismenya yang bercorak Platonis di Aleksandria, sementara Hillel dan Shammai sedang beradu argumen di Yerusalem, seorang penyembuh iman karismatik memulai kariernya sendiri di utara Palestina. Sangat sedikit pengetahuan kita tentang Yesus. Uraian panjang lebar pertama tentang riwayat hidupnya adalah Injil Markus yang baru ditulis sekitar tahun 70 M, hampir empat puluh tahun setelah kematiannya. Pada saat itu, fakta-fakta historis telah terselubung oleh unsur-unsur mitos yang mengekspresikan makna yang telah diperoleh Yesus dari pengikutnya. Makna inilah yang sebenarnya disampaikan oleh Injil Markus ketimbang gambaran gamblang yang dapat diandalkan.
Orang Kristen generasi pertama memandang Yesus sebagai seorang Musa baru, seorang Yosua baru, dan sebagai pendiri Israel baru. Seperti Buddha, Yesus tampaknya menyatukan beberapa aspirasi terdalam orang sezamannya dan memberi substansi bagi mimpi-mimpi yang telah membayangi kaum Yahudi selama berabad-abad. Dalam masa hidupnya, banyak orang Yahudi Palestina yang percaya bahwa dia adalah sang Mesias: dia masuk ke Yerusalem dan dielu-elukan sebagai anak Daud, tetapi, hanya berselang beberapa hari kemudian, dia dihukum mati melalui hukum penyaliban Romawi yang mengerikan.
Akan tetapi, meski dalam skandal ini seorang Mesias mati seperti pelaku kriminal biasa, para muridnya tidak merasa bahwa keimanan mereka terhadapnya adalah sesuatu yang keliru. Ada kabar angin yang menyatakan bahwa dia telah bangkit dari kematian. Sebagian lagi mengatakan bahwa makamnya ditemukan kosong tiga hari setelah peristiwa penyalibannya; yang lain mengaku telah melihatnya, dan dalam suatu kesempatan lima ratus orang menyatakan telah melihatnya secara serempak.
Para muridnya percaya bahwa dia akan segera kembali untuk menahbiskan Kerajaan Tuhan, dan—karena kepercayaan semacam itu tidak dianggap menyimpang—sekte mereka diterima sebagai sekte Yahudi yang autentik, bahkan dalam pandangan tokoh sekaliber Rabi Gamaliel, cucu Hillel dan salah seorang tannaim yang paling disegani. Para pengikutnya beribadah di Kuil setiap hari dengan tata cara peribadatan Yahudi. Namun, akhirnya Israel Baru yang diilhami oleh kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus akan menjadi sebuah kepercayaan non-Yahudi yang mengembangkan konsepsinya sendiri yang khas tentang Tuhan.
Pada saat kematian Yesus sekitar tahun 30 M, orang Yahudi merupakan monoteis yang bersemangat sehingga tak seorang pun berharap sang Mesias merupakan figur suci: dia hanyalah manusia biasa, meski istimewa. Sebagian rabi menduga bahwa nama dan identitasnya telah diketahui Tuhan sejak zaman azali. Karenanya, dalam pemahaman semacam itu, sang Mesias bisa dikatakan telah “bersama Tuhan” sejak sebelum awal waktu melalui cara simbolik yang serupa dengan figur hikmat suci dalam Kitab Amsal dan Pengkhotbah.
Orang Yahudi berharap sang Mesias, Yang Diurapi, adalah keturunan Raja Daud yang, sebagai raja dan pemimpin spiritual, telah mendirikan kerajaan Yahudi merdeka pertama di Yerusalem. Mazmur kadang kala menyebut Daud atau Mesias sebagai “anak Tuhan”, tetapi itu hanya merupakan cara untuk mengungkapkan kedekatannya dengan Yahweh. Tak seorang pun sejak kepulangan dari Babilonia dapat membayangkan bahwa Yahweh benar-benar memiliki seorang putra, seperti dewa-dewa kaum goyim yang menjijikkan.
Injil Markus, sebagai yang paling awal dan biasanya dipandang paling dapat diandalkan, menampilkan Yesus sebagai manusia biasa yang memiliki keluarga, terdiri dari saudara lelaki maupun perempuan. Tak ada malaikat yang mengumumkan kelahirannya atau bersenandung di buaiannya. Masa kanak-kanak maupun remajanya tidak ditandai sebagai sesuatu yang luar biasa. Ketika dia mulai mengajar, para penduduk di kotanya, Nazaret, terkagum bahwa anak seorang tukang kayu setempat ternyata bisa menjadi begitu berbakat.
Markus memulai narasinya sejak awal karier Yesus. Tampaknya Yesus pada awalnya merupakan murid Yohanes Pembaptis, seorang asketik pengembara yang kemungkinan bermazhab Essenia. Yohanes memandang pihak penguasa Yerusalem telah menjadi sangat korup dan menyampaikan sebuah khotbah yang tajam mencela mereka. Khalayak ramai diimbaunya untuk bertobat dan menerima ritus pemurnian Essenia melalui pembaptisan di Sungai Yordan. Lukas menyatakan bahwa Yesus dan Yohanes sebenarnya saling berhubungan.
Yesus telah menempuh perjalanan jauh dari Nazaret ke Yudea untuk dibaptis oleh Yohanes. Sebagaimana yang diceritakan Markus:
“Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. Lalu terdengarlah suara dari surga: ‘Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.’”
Yohanes Pembaptis langsung mengenali Yesus sebagai Mesias (Al-Masih). Setelah itu Yesus mulai mengajar di berbagai kota dan desa di Galilea seraya memaklumatkan:
“Kerajaan Allah sudah dekat!”
Telah banyak spekulasi tentang karakter sejati misi Yesus. Sangat sedikit dari kata-kata aktualnya yang sempat terekam dalam Injil, dan banyak di antara bahan-bahan itu telah dipengaruhi oleh perkembangan selanjutnya yang terjadi di gereja-gereja yang didirikan oleh Paulus setelah kematian Yesus.
Namun terdapat petunjuk yang mengarah kepada karakter Yahudi yang esensial dalam kariernya. Telah dikemukakan bahwa penyembuh iman merupakan figur religius yang lazim di Galilea: seperti Yesus, mereka berasal dari kaum papa, berkhotbah, menyembuhkan orang sakit, dan mengusir roh jahat. Seperti Yesus pula, orang-orang suci Galilea ini sering memiliki sejumlah besar murid wanita.
Yang lain berpendapat bahwa Yesus barangkali adalah seorang Farisi dari aliran yang sama dengan Hillel—seperti halnya Paulus, yang pernah memaklumatkan diri sebagai pengikut Farisi sebelum beralih kepada kekristenan dan konon pernah belajar dalam kelompok Rabi Gamaliel. Ajaran Yesus memang sesuai dengan garis besar ajaran Farisi, karena dia percaya bahwa derma dan kasih sayang merupakan mitzvot yang terpenting.
Seperti kaum Farisi, dia taat kepada Taurat dan bahkan dikabarkan mengajarkan ketaatan yang lebih keras dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain sezamannya. Dia juga mengajarkan suatu versi hukum emas Hillel ketika mengatakan bahwa keseluruhan hukum Taurat dapat diringkas dalam satu ungkapan:
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”
Dalam Injil Matius, Yesus ditampilkan mengeluarkan kecaman sangat keras terhadap “ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi”, menyebut mereka sebagai kaum munafik. Selain bahwa ini merupakan distorsi fakta yang penuh tuduhan dan pelanggaran mencolok terhadap kasih sayang yang semestinya menjadi karakter misinya, kecaman pahit terhadap kaum Farisi ini hampir pasti tidak autentik.
Lukas, misalnya, memberikan komentar yang cukup positif tentang kaum Farisi, baik dalam Injil maupun Kisah Para Rasul, dan Paulus tidak mungkin akan menyingkapkan latar belakang Farisinya jika mereka benar-benar merupakan musuh besar Yesus yang telah menggiringnya ke tiang salib. Nada anti-Semit dalam Injil Matius mencerminkan ketegangan antara orang-orang Yahudi dan orang Kristen pada tahun-tahun 80-an.
Baca Juga: Lighten PDF Converter OCR 6.1.1 Full Version
Injil sering menunjukkan Yesus berdebat dengan kaum Farisi, tetapi perdebatan itu mungkin saja bersifat bersahabat atau sekadar mencerminkan perselisihan pendapatnya dengan aliran Shammai yang lebih ketat.
Setelah kematiannya, para pengikutnya berkeyakinan bahwa Yesus adalah kudus. Ini tidak terjadi secara langsung; doktrin bahwa Yesus adalah Tuhan yang berwujud manusia baru terbentuk pada abad keempat. Perkembangan kepercayaan Kristen tentang Inkarnasi merupakan proses yang kompleks dan berkembang secara perlahan.
Yesus sendiri tak pernah mengaku sebagai Tuhan. Pada hari pembaptisannya, oleh suara dari langit dia dipanggil dengan sebutan Anak Tuhan, namun ini mungkin hanya sebuah konfirmasi bahwa dia adalah Mesias yang dicintai. Maklumat dari langit semacam itu tidaklah luar biasa: para rabi juga sering mengalami apa yang mereka sebut bat qol (secara harfiah berarti “Anak Perempuan Sang Suara”), suatu bentuk inspirasi yang menggantikan wahyu kenabian yang lebih langsung.
Rabi Yohanan ben Zakkai pernah mendengar bat qol semacam itu yang mengonfirmasi misinya, ketika Roh Kudus menjelma di hadapannya dan murid-muridnya dalam bentuk nyala api. Yesus sendiri biasa menyebut dirinya “Anak Manusia”.
Ada banyak kontroversi mengenai gelar ini, tetapi tampaknya frasa aslinya dalam bahasa Aram (bar nasha) sekadar menekankan kondisi manusia yang lemah dan tidak abadi. Jika demikian, tampak jelas bahwa Yesus dengan caranya sendiri menekankan bahwa dia adalah manusia lemah yang suatu waktu pasti akan menderita dan mati.
Injil juga mengatakan bahwa Tuhan telah memberi Yesus beberapa “kekuatan” ilahiah (dynameis) yang memampukannya, meskipun hanya manusia biasa, menjalankan tugas-tugas yang menyerupai tindakan Tuhan: menyembuhkan penyakit dan mengampuni dosa. Karena itu, ketika orang-orang menyaksikan perbuatannya, tindakan Yesus tampak sebagai citra hidup tentang Tuhan.
Pada suatu kesempatan, tiga orang muridnya mengklaim telah melihat hal ini dengan lebih jelas. Kisah tersebut tercatat dalam ketiga Injil Sinoptik dan menjadi penting bagi generasi Kristen berikutnya. Diceritakan bahwa Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke sebuah gunung tinggi—yang secara tradisional dikenal sebagai Gunung Tabor di Galilea.
Di sana Yesus “berubah rupa” di hadapan mereka:
“Wajahnya bercahaya seperti matahari dan pakaiannya menjadi putih bersinar.”
Musa dan Elia—masing-masing mewakili Taurat dan para nabi—tiba-tiba muncul di sisinya, dan ketiga tokoh itu berbincang bersama. Petrus sangat terkesima dan berkata bahwa mereka harus mendirikan tiga kemah untuk mengabadikan penampakan tersebut.
Segumpal awan, seperti yang pernah turun di Gunung Sinai, menyelimuti puncak gunung itu dan sebuah gema bat qol memaklumatkan:
“Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
Berabad-abad kemudian, ketika orang Kristen Yunani merenungkan makna peristiwa ini, mereka memutuskan bahwa “kuasa” Allah telah bersinar melalui kemanusiaan Yesus yang telah berubah rupa.
Pada abad kesatu M, dalam Yudaisme terdapat rasa haus yang sama akan kedekatan dengan yang Ilahi. Yesus sang manusia tampaknya telah memenuhi kebutuhan itu. Paulus, penulis Kristen paling awal yang menciptakan agama yang kini kita kenal sebagai Kristen, percaya bahwa Yesus telah menggantikan Taurat sebagai wahyu pokok Tuhan tentang dirinya kepada dunia.'? Tidaklah mudah untuk mengetahui secara persis apa yang dia maksudkan dengan hal ini. Surat-surat Paulus lebih merupakan jawaban kontekstual terhadap persoalan-persoalan tertentu daripada uraian koheren atas sebuah teologi yang utuh. Dia tentunya percaya bahwa Yesus adalah seorang Mesias: kata “Kristus” adalah terjemahan dari bahasa Ibrani Massiach, Yang Diurapi.
Paulus juga berbicara tentang Yesus sang manusia seakan-akan dia lebih dari seorang manusia biasa, meskipun, sebagai orang Yahudi, Paulus tidak percaya bahwa Yesus adalah inkarnasi Tuhan. Dia selalu memakai kata “di dalam Kristus” untuk menjelaskan pengalamannya tentang Yesus: orang Kristen hidup “di dalam Kristus”, mereka dibaptis ke dalam kematiannya, gereja membentuk tubuhnya.!8 Ini bukanlah kebenaran yang ingin dijabarkan Paulus secara logis. Seperti banyak orang Yahudi lainnya, dia kurang menghargai rasionalisme Yunani, yang digambarkannya sebagai “kekonyolan” semata.!'
Adalah suatu pengalaman subjektif dan mistik yang membuatnya mengilustrasikan Yesus sebagai semacam atmosfer yang di dalamnya “kita hidup, bergerak, dan berwujud”.!8 Yesus telah menjadi sumber pengalaman keagamaan Paulus. Dengan demikian, dia berbicara tentang Yesus dalam cara yang mungkin dipakai oleh orang sezamannya untuk membicarakan Tuhan.
Tatkala Paulus menjelaskan tentang iman yang telah diilhamkan kepadanya, dia mengatakan bahwa Yesus telah menderita dan wafat “demi dosa-dosa kita”.1? Ini memperlihatkan bahwa sejak awal sekali, pengikut-pengikut Yesus yang dikejutkan oleh skandal kematiannya telah menjelaskan peristiwa itu dengan mengatakan bahwa bagaimanapun itu adalah demi kepentingan kita. Dalam Bab 9, akan kita saksikan bahwa pada abad ketujuh orang Yahudi lain akan menemukan penafsiran yang serupa tentang kematian yang tidak biasa dari seorang Mesias yang lain.
Orang Kristen awal merasakan bahwa Yesus, melalui cara yang misterius, masih hidup dan bahwa “kuasa-kuasa” yang dimilikinya kini masuk ke dalam diri mereka, seperti yang telah dijanjikannya. Kita mengetahui dari surat-surat Paulus bahwa generasi awal Kristen itu memiliki semua bentuk pengalaman tak lazim yang mungkin merupakan indikasi bangkitnya sejenis kemanusiaan baru: ada yang menjadi penyembuh iman, ada yang berbicara dalam bahasa-bahasa langit, yang lainnya menyampaikan apa yang mereka yakini sebagai nubuat yang diinspirasikan oleh Tuhan.
Pelayanan gereja merupakan kegiatan yang hiruk dan karismatik, sangat berbeda dari nyanyian sore yang merdu dalam gereja sekarang. Tampaknya kematian Yesus memang telah benar-benar berguna dalam beberapa hal: ia melahirkan suatu "jenis kehidupan baru” dan “kreasi baru”—tema yang sering diulang dalam surat-surat Paulus.2°
Akan tetapi, tak ada teori yang terperinci tentang peristiwa penyaliban sebagai pertobatan atas “dosa asal” Adam: akan kita saksikan bahwa teologi ini baru muncul pada abad keempat dan hanya memiliki kedudukan penting di Barat. Paulus dan para penulis Perjanjian Baru lainnya tidak pernah mengupayakan sebuah penjelasan yang akurat dan definitif tentang penyelamatan yang telah mereka alami.
Pernyataan tentang pengurbanan Kristus melalui kematiannya mirip dengan cita-cita bodhisattva yang berkembang pada masa yang sama di India. Sebagaimana halnya bodhisattva, Kristus telah dijadikan perantara antara manusia dan Yang Mutlak. Perbedaannya adalah bahwa Kristus merupakan satu-satunya perantara dan keselamatan yang didatangkannya bukanlah sebuah aspirasi yang tak dapat diwujudkan di masa depan seperti dalam bodhisattva, melainkan merupakan suatu fait accompli.
Paulus menyatakan bahwa pengurbanan Yesus adalah hal yang unik. Meskipun dia percaya bahwa penderitaan yang dipikulnya atas nama orang lain adalah bermanfaat, Paulus cukup jelas menyatakan bahwa penderitaan dan kematian Yesus berada dalam tataran yang berbeda.2!
Ada potensi bahaya di sini. Buddha yang tak terhitung banyaknya dan avatar-avatar paradoksikal yang sukar dipahami, semuanya tetap tunduk pada realitas tertinggi yang tidak dapat diekspresikan secara memadai dalam bentuk apa pun. Akan tetapi, Inkarnasi tunggal dalam Kristen—yang menyiratkan bahwa seluruh realitas Tuhan yang tidak ada habisnya itu telah bermanifestasi hanya dalam diri seorang manusia—bisa membawa pada bentuk pemberhalaan yang mentah.
Yesus telah mengajarkan bahwa “kuasa-kuasa” Tuhan tidak cuma untuk dirinya. Paulus mengembangkan wawasan ini dengan mengatakan bahwa Yesus merupakan contoh pertama dari bentuk kemanusiaan baru. Tidak saja dia telah berhasil mengerjakan segala hal yang telah gagal diraih oleh Israel lama, tetapi dia pun telah menjadi adâm baru, kemanusiaan baru yang di dalamnya seluruh manusia, termasuk goyim, ikut berpartisipasi.?? lagi-lagi, ini bukanlah sesuatu yang berbeda dari kepercayaan kaum Buddhis bahwa, seluruh Buddha telah menjadi satu dengan Yang Mutlak, cita-cita manusia adalah terlibat dalam ke-Buddha-an.
Dalam suratnya kepada Jemaat di Filipi, Paulus mengutip apa yang secara umum dianggap sebagai himne Kristen paling awal yang mengangkat beberapa persoalan penting. Dia berkata kepada para pengikutnya bahwa mereka harus memiliki sikap pengurbanan diri yang sama dengan Yesus:
Yang walaupun dalam rupa Allah
Tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu
sebagai milik yang harus dipertahankan,
melainkan telah mengosongkan diri-Nya
sendiri,
dan mengambil rupa seorang hamba
dan menjadi sama dengan manusia.
Dan dalam keadaan sebagai manusia,
Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat
sampai,
bahkan sampai mati di kayu salib.
Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia
dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas
segala nama,
supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala
yang ada di langit
dan yang ada di atas bumi dan yang ada di
bawah bumi,
dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus
adalah Tuhan [Kyrios],”
bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Himne ini tampaknya mencerminkan sebuah kepercayaan di kalangan generasi pertama Kristen bahwa Yesus telah mengalami sejenis eksistensi awal “bersama Allah” sebelum menjadi seorang manusia dalam tindakan “pengosongan diri” (kenosis) yang dengannya, seperti seorang bodhisattva, dia memutuskan untuk ikut memikul penderitaan manusia.
Paulus terlalu Yahudi untuk dapat menerima ide tentang eksistensi Kristus sebagai wujud suci kedua di samping YHWH sejak zaman azali. Himne itu memperlihatkan bahwa setelah pengagungannya, dia tetaplah berbeda dengan, dan lebih rendah daripada, Allah yang telah membangkitkannya dan menganugerahkan gelar kyrios kepadanya. Dia tidak dapat mengadakan hal itu untuk dirinya sendiri, tetapi gelar itu pun diberikan hanya demi “kemuliaan Allah Bapa”.
Sekitar empat puluh tahun kemudian, penulis Injil Yohanes (ditulis sekitar tahun 100) membuat pernyataan yang mirip. Dalam prolognya, dia menguraikan Firman (/ogos) yang telah ada “pada mulanya bersama-sama dengan Allah” dan menjadi agen penciptaan: “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan.”24
Si penulis tidak menggunakan kata Yunani logos dengan cara yang sama seperti Philo: dia tampaknya merasa lebih cocok dengan Yudaisme Palestina daripada Yudaisme yang telah terpengaruh budaya Helenis Yunani. Dalam terjemahan bahasa Aram atas kitab suci Yahudi yang dikenal sebagai targums, yang sedang disusun pada waktu itu, istilah Memra (Firman) dipergunakan untuk menyebut aktivitas Tuhan di dunia.
Istilah ini mempunyai fungsi yang sama dengan istilah-istilah teknis lainnya, seperti “kemuliaan”, “Roh Kudus”, dan “Shekinah” yang menekankan perbedaan antara kehadiran Tuhan di dunia dengan realitas Tuhan sendiri yang tak dapat dimengerti. Seperti halnya hikmat ilahi, “Firman” menyimbolkan rencana awal Tuhan dalam penciptaan.
Ketika Paulus dan Yohanes berbicara tentang Yesus seakan-akan dia memiliki sejenis kehidupan praeksistensi, mereka tidak sedang menyarankan bahwa dia adalah “oknum” suci kedua dalam pengertian Trinitarian yang berkembang belakangan. Mereka mengindikasikan bahwa Yesus telah melampaui mode eksistensi temporal dan individual. Karena “kuasa” dan “hikmat” yang dia hadirkan merupakan aktivitas-aktivitas yang berasal dari Tuhan, maka dalam cara tertentu dia telah mengungkapkan “apa yang telah ada sejak semula”.
Gagasan ini dapat dipahami dalam konteks Yahudi yang ketat, meskipun generasi Kristen berikutnya yang berlatar belakang Yunani akan menafsirkannya secara berbeda.
Dalam Kisah para Rasul, yang ditulis pada 100 M, kita dapat melihat bahwa generasi awal Kristen masih memiliki konsep tentang Tuhan yang sepenuhnya bersifat Yahudi. Dalam perayaan Pantekosta, ketika ratusan orang Yahudi berkumpul di Yerusalem dari berbagai penjuru diaspora untuk merayakan pewahyuan Taurat di gunung Sinai, Roh Kudus turun kepada sahabat-sahabat Yesus.
Mereka mendengar “dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras ... dan tampaklah oleh mereka lidah-lidah seperti nyala api”.28 Roh Kudus telah mewujudkan dirinya kepada generasi Kristen Yahudi pertama ini sebagaimana yang telah dilakukannya kepada orang-orang sezaman mereka, kelompok tannaim.
Segera para murid itu bergegas keluar dan mulai berbicara kepada kerumunan orang Yahudi, Orang-Orang yang Takut kepada Allah dari “Mesopotamia, Yudea, dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene” Mereka keheranan, setiap orang mendengar para pengikut itu berkata-kata dalam bahasa mereka masing-masing.
Ketika Petrus bangkit untuk berkhotbah di hadapan keramaian itu, dia menyebut fenomena ini sebagai titik terjauh bagi Yudaisme. Para rasul telah meramalkan suatu hari ketika Tuhan akan mencurahkan Ruhnya ke atas semua manusia sehingga kaum wanita dan para budak sekalipun akan memiliki penglihatan dan mendapat mimpi.2
Hari ini Kerajaan Mesias ditahbiskan, tatkala Allah akan tinggal di bumi bersama umatnya. Petrus tidak mengatakan bahwa Yesus dari Nazareth adalah Tuhan. Dia adalah “seorang yang telah ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan, mukjizat, dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan Dia di tengah-tengah kamu”.
Setelah kematiannya yang tragis, Allah membangkitkannya untuk hidup kembali dan mengangkatnya ke derajat yang tinggi “oleh tangan kanan Allah”. Para nabi dan penyusun Mazmur telah meramalkan kejadian-kejadian ini: sehingga “seluruh kaum Israel” harus tahu dengan pasti bahwa Yesus adalah Mesias yang telah lama dinanti itu.29 Khotbah ini tampaknya merupakan pesan (kerygma) Kristen yang paling awal.
Pada akhir abad keempat, Kristen menguat persis di wilayah-wilayah yang telah disebutkan di atas oleh para penulis Kisah: ia berakar di kalangan sinagoga Yahudi di diaspora dan telah menarik perhatian sejumlah besar Orang yang Takut kepada Allah atau para pengikut baru.
Yudaisme yang telah direformasi oleh Paulus tampak menjawab banyak dilema mereka. Mereka juga “berbicara dalam banyak bahasa”, tidak memiliki satu suara dan posisi yang koheren. Banyak orang Yahudi diaspora beralih memandang Kuil di Yerusalem—yang memang telah banyak digenangi darah hewan—sebagai institusi primitif dan barbarik.
Kisah para Rasul mengabadikan sudut pandang ini dalam cerita tentang Stefanus, seorang Yahudi Helenistik yang beralih menganut sekte Yesus dan dilempari batu sampai mati oleh Sanhedrin, Mahkamah Agama Yahudi, karena menghujat. Dalam pidato terakhirnya yang berapi-api, Stefanus mengatakan bahwa Kuil merupakan penghinaan terhadap hakikat Allah: “Yang Mahatinggi tidak diam di dalam apa yang dibuat oleh tangan manusia.”
Sebagian Yahudi diaspora mengadopsi Yudaisme Talmudik yang dikembangkan oleh para rabi setelah kehancuran Kuil; yang lain menemukan bahwa Kristen menjawab beberapa pertanyaan mereka tentang status Taurat dan universalitas Yudaisme. Ajaran ini, tentu saja, menarik secara khusus bagi Orang-Orang yang Takut kepada Allah, yang menjadi anggota penuh Israel Baru tanpa beban 613 mitzvot.
Selama abad pertama, orang Kristen terus berpikir tentang Tuhan dan berdoa kepadanya seperti orang-orang Yahudi: mereka berbicara seperti para rabi dan gereja-gereja mereka mirip dengan sinagoga.
Pada tahun 80-an terjadi perselisihan tajam dengan orang Yahudi ketika orang Kristen secara formal dikeluarkan dari sinagoga karena mereka menolak untuk menaati Taurat. Kita telah menyaksikan bahwa Yudaisme telah menarik banyak penganut pada dekade awal abad pertama, tetapi setelah tahun 70, ketika orang Yahudi bersengketa dengan kekaisaran Romawi, posisi mereka mengalami kemunduran.
Kepindahan Orang-Orang yang Takut kepada Allah ke Kristen membuat orang Yahudi menaruh curiga kepada para penganut agama baru, dan mereka tak lagi berminat untuk pindah agama. Kaum pagan yang dahulu pernah tertarik pada Yudaisme kini beralih ke Kristen, tetapi kebanyakan mereka adalah budak dan anggota kelas masyarakat yang lebih rendah.
Baru pada akhir abad kedua, kaum pagan yang berpendidikan tinggi menjadi penganut Kristen dan mampu menjelaskan agama baru itu kepada dunia pagan yang masih menaruh kecurigaan.







Comments (0)