Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan
Amos belum terserap ke dalam nirvana peniadaan diri seperti Buddha; sebaliknya, Yahweh telah mengambil tempat egonya dan menggiringnya ke dunia lain. Amos adalah yang pertama di antara para nabi yang menekankan pentingnya keadilan sosial dan kasih sayang. Sebagaimana Buddha, dia sangat sadar akan pedihnya penderitaan manusia. Dalam ramalan Amos, Yahweh berbicara atas nama kaum tertindas, menyuarakan mereka yang tak mampu bersuara, dan mengurangi penderitaan orang-orang miskin. Pada baris pertama ramalannya, seperti yang sampai kepada kita, Yahweh berseru dengan keras dari Kuilnya di Yerusalem saat merenungkan kesengsaraan seluruh negeri di Timur Dekat, termasuk Yehuda dan Israel. Orang Israel sebenarnya sama jeleknya dengan goyim, orang non-Yahudi: mereka mungkin saja bisa bersikap acuh tak acuh terhadap kesulitan dan penderitaan kaum miskin, namun Yahweh tidak demikian. Dia memperhatikan setiap kecurangan, eksploitasi, dan tarikan napas tanpa kasih sayang: “TUHAN telah bersumpah demi kebanggaan Yakub: 'Bahwasanya Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka.” Apakah mereka benar-benar telah kehilangan akal sehingga menanti hari Tuhan, ketika Yahweh akan mengagungkan Israel dan menghinakan goyim? Mereka terperanjat: “Apakah gunanya hari TUHAN itu bagimu? Hari itu kegelapan, bukan terang!”!8 Mereka mengira sebagai Umat Pilihan Tuhan? Mereka telah salah memahami makna perjanjian, yang berarti tanggung jawab, bukan hak istimewa: “Dengarlah firman ini, yang diucapkan TUHAN tentang kamu, hai orang Israel!” teriak Amos, "tentang segenap kaum yang telah Kutuntun keluar dari tanah Mesir:
Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu, Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu, “>?
Perjanjian itu mengandung arti bahwa semua orang Israel adalah pilihan Tuhan dan, karena itu, harus diperlakukan secara layak. Tuhan tidak sekadar campur tangan dalam sejarah untuk memenangkan Israel, melainkan untuk menegakkan keadilan sosial. Inilah jaminan Tuhan dalam sejarah dan, jika diperlukan, dia akan menggunakan tentara Asyur untuk menegakkan keadilan di buminya sendiri.
Tidak mengherankan, kebanyakan orang Israel menolak ajakan nabi untuk masuk ke dalam dialog dengan Yahweh. Mereka lebih suka agama kultus yang tak banyak syarat, entah di Kuil Yerusalem atau dalam kultus-kultus kesuburan Kanaan. Demikianlah keadaannya untuk seterusnya: agama kasih sayang hanya dianut oleh segelintir orang: kebanyakan penganut agama sudah puas dengan sekadar peribadatan yang bersifat lahiriah di sinagoga, gereja, kuil, dan masjid. Agama Kanaan kuno masih berkembang di Israel. Pada abad kesepuluh, Raja Yerobeam | mendirikan dua patung anak lembu di tempat kudus Dan dan Betel. Dua ratus tahun kemudian, orang Israel masih ikut dalam ritusritus kesuburan dan upacara seks suci di sana, sebagaimana kita lihat dalam ramalan Hosea, yang sezaman dengan Amos.2 Sebagian orang Israel tampak berpendapat bahwa Yahweh mempunyai seorang istri, seperti halnya dewa-dewa lain: para arkeolog belakangan ini telah menemukan prasasti yang ditujukan “Kepada Yahweh dan Asyeranya”. Hosea merasa amat terganggu oleh kenyataan bahwa orang Israel melanggar pasal-pasal perjanjian dengan menyembah tuhan-tuhan lain, seperti Baal. Sebagaimana semua nabi baru, Hosea menaruh perhatian terhadap makna batiniah agama. Dia membuat Yahweh berfirman: “Sebab aku menyukai kasih [hesed], dan bukan kurban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah [daath Elohim], lebih daripada kurban-kurban bakaran.”2! Yang dimaksudkannya bukanlah pengetahuan teologis: kata daath berasal dari kata kerja dalam bahasa Ibrani yada (mengenal) yang memiliki konotasi seksual. Sebagaimana J menyatakan bahwa Adam “mengenal” istrinya, Hawa.22 Dalam agama orang Kanaan kuno, Baal mengawini bumi dan manusia merayakan ini dengan ritual orgi, tetapi hosea bersikeras bahwa sejak adanya perjanjian itu, Yahweh telah menggantikan posisi Baal dan mengawini orang Israel. Mereka harus mengerti bahwa Yahwehlah, bukan Baal, yang membawa kesuburan tanah.2 Dia masih merayu Israel seperti seorang pencinta, bertekad untuk memikatnya dan memalingkannya dari Baal yang telah menggodanya:
Maka pada waktu itu, demikianlah firman TUHAN, engkau akan memanggil Aku: Suamiku, dan tak lagi memanggil Aku: Baalku! Lalu, Aku menjauhkan nama para Baal dari mulutmu, maka nama mereka tidak lagi disebut.
Jika Amos menyerang kejahatan sosial, Hosea justru memikirkan hilangnya dimensi batin dalam agama orang Israel: “pengenalan” Tuhan dikaitkan dengan "hesed”, yang menyiratkan penyesuaian batin dan kelekatan dengan Yahweh yang mesti melebihi ketaatan lahiriah.
Hosea memberi kita wawasan mengejutkan tentang cara para nabi mengembangkan gambaran mereka tentang Tuhan. Pada awal kariernya, Yahweh tampaknya telah mengeluarkan sebuah perintah yang mengejutkan. Dia menyuruh Hosea untuk pergi dan mengawini seorang pelacur (esheth zeuunim), karena seluruh negeri telah “bersundal hebat dengan membelakangi TUHAN”.2 Akan tetapi, tampaknya Tuhan tidak memerintahkan Hosea untuk menyusur jalan mencari seorang perempuan sundal: esheth zeuunim (secara harfiah, berarti “seorang istri pelacur”) bisa berarti seorang perempuan dengan temperamen yang siap bersetubuh dengan siapa saja atau seorang pelacur bakti dalam kultus kesuburan. Dengan keterlibatan Hosea dalam ritual-ritual kesuburan, maka istrinya, gomer, tampaknya telah menjadi salah seorang tokoh suci dalam kultus Baal. Dengan demikian, perkawinannya merupakan simbol hubungan Yahweh dengan Israel yang tak beriman. Hosea dan Gomer mempunyai tiga anak, yang diberi nama simbolik dan penting. Anak tertua bernama Yizreel, mengambil nama peristiwa perang yang terkenal. Anak perempuan mereka diberi nama Loruhama (Yang tak Disayangi), dan adik lelakinya diberi nama Loami (Bukan Umat-Ku). Pada saat kelahiran anak ketiga ini, Yahweh telah membatalkan perjanjian dengan Israel: “Kamu ini bukanlah umat-Ku dan Aku ini bukanlah Allahmu.” Kita akan menyaksikan bahwa nabi-nabi sering terilhami untuk memberikan contoh-contoh drama kehidupan guna menjelaskan keadaan sulit umat mereka, tetapi tampaknya perkawinan Hosea tidak secara lengkap direncanakan sejak awal. Naskah itu menjelaskan bahwa Gomer belum menjadi esheth zeuunim, kecuali setelah anak-anak mereka lahir. hanya setelah berlalu banyak peristiwa baru menjadi jelas bagi Hosea bahwa perkawinannya merupakan inspirasi dari Tuhan. Kematian istrinya merupakan pengalaman menyakitkan yang menyadarkan Hosea tentang apa yang dirasakan Yahweh pada saat umatnya meninggalkan dirinya dan mencintai tuhan-tuhan lain seperti Baal. Pada mulanya Hosea tergoda untuk mencela Homer dan tidak mau lagi ada hubungan apa-apa dengan dia: memang, hukum menetapkan bahwa seorang pria harus menceraikan istrinya yang tak beriman. Tetapi Hosea masih mencintai Gomer, dan pada akhirnya dia mencarinya lalu menebusnya dari majikannya yang baru. Hosea mempunyai hasrat sendiri untuk memenangkan Gomer kembali sebagai simbol bahwa Yahweh mau memberi kesempatan kedua bagi Israel.
Ketika para nabi menisbahkan pengalaman dan perasaan kemanusiaan mereka sendiri kepada Yahweh, dalam pengertian tertentu mereka berarti telah menciptakan sebuah ilah dalam citra mereka sendiri. Yesaya, anggota keluarga kerajaan, melihat Yahweh sebagai raja; Amos menisbahkan rasa empatinya terhadap kaum miskin kepada Yahweh; Hosea memandang Yahweh sebagai suami yang menceraikan, tetapi terus merindukan istrinya. Semua agama berawal dari antropomorfisme dalam kadar tertentu. Suatu ilah yang sangat jauh dari kemanusiaan, seperti dilukiskan oleh konsep Aristoteles tentang Penggerak yang Tidak Digerakkan, tidak dapat mengilhami pencarian spiritual. Selama proyeksi semacam ini tidak menjadi tujuan dalam dirinya sendiri, ia akan tetap berguna dan memberi manfaat. Harus dikatakan bahwa lukisan imajinatif tentang Tuhan dalam terma kemanusiaan seperti ini telah mengilhami keprihatinan sosial yang tidak terdapat di dalam Hinduisme. Ketiga agama teistik ini ikut memiliki ciri etika sosialis-egalitariannya Amos dan Yesaya. Orang Yahudi merupakan umat pertama dari dunia kuno yang menegakkan sebuah sistem kesejahteraan yang dikagumi oleh para tetangga pagan mereka.
Seperti semua nabi lain, Hosea dibayangi oleh horor penyembahan berhala. Dia merenungkan kemarahan ilahi yang mungkin akan ditimpakan kepada suku-suku di sebelah utara karena mereka menyembah tuhan-tuhan yang mereka ciptakan sendiri:
Sekarang pun mereka terus berdosa, dan membuat baginya patung tuangan dari perak dan berhala-berhala sesuai dengan kecakapan mereka; semuanya itu buatan tukang-tukang. Persembahkanlah kurban kepadanya! kata mereka, Baiklah manusia mencium anak-anak lembu!”“'
Ini deskripsi yang tidak adil dan reduktif tentang agama orang Kanaan. Orang Kanaan dan Babilonia tidak pernah meyakini bahwa patung-patung dewa mereka itu suci dengan sendirinya: mereka tidak pernah membungkuk untuk menyembah sebuah patung tout court. Patung itu adalah sebuah simbol ketuhanan. Seperti halnya mitos-mitos mereka tentang peristiwa-peristiwa primordial yang tak bisa dibayangkan, patung-patung itu sebenarnya dibuat untuk mengarahkan perhatian penyembah melampaui diri mereka sendiri. Patung Marduk di Kuil Esagila dan tugu batu Asyera di Kanaan tidak pernah dipandang identik dengan tuhan-tuhan, namun sekadar fokus yang membantu orang memusatkan perhatian kepada unsur transenden dalam kehidupan manusia. Sungguhpun demikian, para nabi sering mencela tuhan-tuhan tetangga pagan mereka dengan penghinaan yang sangat buruk. Tuhan-tuhan buatan ini, dalam pandangan mereka, tidak lebih dari sekadar emas dan perak, mereka ditempa oleh seorang pandai besi dalam waktu beberapa jam, mereka punya mata tetapi tidak bisa melihat, telinga yang tidak bisa mendengar, mereka tidak dapat melangkah dan malah harus diangkat oleh penyembah mereka: mereka kasar dan bodoh, lebih rendah daripada manusia, tidak lebih baik dari orang-orangan untuk menakut-nakuti burung di kebun mentimun. Dibandingkan dengan Yahweh, elohim Israel, mereka adalah elilim, Tiada. Kaum goyim yang menyembah mereka adalah orang-orang bodoh dan Yahweh membenci mereka.28
Pada masa sekarang, kita begitu akrab dengan intoleransi yang sayangnya telah menjadi karakteristik monoteisme sehingga kita tidak memandang permusuhan terhadap tuhan-tuhan lain seperti ini sebagai sikap keagamaan yang baru. Paganisme pada dasarnya merupakan sebuah keyakinan yang toleran: kultus-kultus lama tidak merasa terancam oleh kedatangan tuhan baru, selalu ada ruang bagi tuhan-tuhan lain di dalam kuil untuk berjejer bersama sesembahan tradisional. Bahkan, ketika ideologi baru Zaman Kapak menggantikan penyembahan tuhan-tuhan lama, tidak terdapat penolakan yang kasar terhadap dewa-dewa kuno. Kita telah melihat bahwa di dalam Hinduisme dan Buddhisme, orang dianjurkan untuk melampaui dewa-dewa daripada mencaci mereka. Namun, nabi-nabi Israel tidak mampu mengambil sikap lunak terhadap dewa-dewa yang mereka pandang sebagai saingan Yahweh. Dalam kitab suci Yahudi, dosa “pemberhalaan”, penyembahan tuhan-tuhan “palsu”, dianggap menjijikkan. Ini adalah reaksi yang, mungkin, mirip dengan kebencian yang dirasakan sebagian Bapa gereja terhadap seksualitas. Dengan demikian, itu bukan reaksi yang rasional dan penuh pertimbangan, melainkan ungkapan kecemasan mendalam dan ketakutan. Apakah nabi-nabi ini mempunyai kekhawatiran terpendam tentang perilaku keagamaan mereka sendiri? Apakah mereka, barangkali, secara tak nyaman menyadari bahwa konsepsi mereka sendiri tentang Yahweh serupa dengan berhala kaum pagan, karena mereka menciptakan tuhan dalam citra mereka sendiri?
Perbandingan dengan sikap orang Kristen terhadap seksualitas dapat menerangkan hal yang lain. Dalam soal ini, kebanyakan orang Israel secara implisit percaya kepada eksistensi tuhan-tuhan pagan. Adalah benar bahwa lambat laun Yahweh mengambil alih fungsi Elohim orang Kanaan dalam beberapa hal: Hosea, misalnya, mencoba berargumentasi bahwa Yahweh merupakan dewa kesuburan yang lebih baik daripada Baal. Namun, jelas sulit bagi Yahweh yang telah terlanjur dikonsepsikan dalam citra maskulin untuk mengambil alih fungsi dewi semacam Asyera, Isytar, dan Anat, yang masih memiliki banyak penganut di kalangan orang Israel, terutama yang perempuan. Walaupun kaum monoteis akan bersikeras bahwa Tuhan mereka melampaui batasan gender, dia tetap pada dasarnya lelaki, meski kita akan saksikan ada beberapa kalangan yang mencoba memperbaiki ketidakseimbangan ini. Hal ini sebagian karena akarnya sebagai dewa perang kesukuan. Namun demikian, perselisihan soal ini merefleksikan karakter yang kurang positif dari Zaman Kapak, yang secara Umum memandang rendah status perempuan. Tampaknya di dalam masyarakat yang lebih primitif, perempuan terkadang memiliki status lebih tinggi daripada laki-laki. Prestise dewi-dewi besar dalam agama tradisional merefleksikan penghormatan terhadap kaum perempuan. Akan tetapi, tumbuhnya perkotaan membuat kualitas-kualitas maskulin, seperti kekuatan fisik dan pertahanan diri lebih dihargai daripada karakteristik feminin. Sejak saat itu, kaum perempuan mulai terpinggirkan dan menjadi warga kelas dua dalam peradaban baru Oikumene. Posisi mereka sangat jelek di Yunani, misalnya— sebuah fakta yang harus diingat oleh Barat bila mereka mencela perilaku paternalistik orang Timur. Cita-cita demokratis tidak menjangkau kaum perempuan di Athena, yang hidup dalam keterkucilan dan dihinakan sebagai makhluk inferior. Masyarakat Israel juga menjadi lebih bernada maskulin. Pada masa-masa awal, kaum perempuan memiliki kekuatan dan dapat menempatkan diri mereka sejajar dengan suami mereka. Beberapa di antaranya, seperti Deborah, telah memimpin pasukan di medan perang. Orang Israel selalu mengagungkan pahlawanpahlawan perempuan mereka, seperti Judith dan Ester, tetapi setelah Yahweh berhasil mengalahkan dewa-dewi Kanaan dan Timur Tengah kemudian menjadi satu-satunya Tuhan, agamanya dikelola hampir secara keseluruhan oleh kaum pria. Kultus dewidewi menyurut, dan ini merupakan gejala perubahan kultural yang mencirikan dunia peradaban baru.
Kita akan melihat bahwa kemenangan Yahweh diraih dengan susah payah. Kemenangan itu melibatkan penderitaan, kekerasan, dan konfrontasi, serta memperlihatkan bahwa agama baru dengan Tuhan Yang Esa tidak datang dengan mudah kepada orang Israel seperti Buddhisme atau Hinduisme datang kepada masyarakat Anak Benua India. Yahweh tampaknya tidak mampu mentransendensikan tuhan-tuhan yang lebih tua dalam cara yang damai dan alamiah. Dia harus melawan habis semuanya. Karena itu, dalam Mazmur 82 kita menyaksikan dia membuat ketentuan tentang kepemimpinan Majelis Suci yang telah memainkan peran penting di dalam mitos orang Babilonia maupun Kanaan:
Yahweh mengambil posisi dalam Majelis El untuk membuat keputusan di kalangan para allan: “Berapa lama lagi kamu menghakimi dengan zalim dan memihak kepada orang fasik? Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang yang sengsara dan orang yang kekurangan! Luputkanlah orang yang lemah dan yang miskin, lepaskanlah mereka dari tangan orang fasik!” Mereka tidak tahu dan tidak mengerti apa-apa, dalam kegelapan mereka berjalan; goyanglah segala dasar bumi. Aku sendiri telah berfirman, “Kamu adalah allah, dan anak-anak Yang Mahatinggi [El Elyon] kamu sekalian. Namun, seperti manusia kalian akan mati dan seperti salah seorang pembesar kamu akan tewas.”
Ketika dia berdiri untuk menghadang Majelis yang telah dipimpin oleh El sejak zaman yang tak lagi bisa diingat, Yahweh menuduh tuhan-tuhan lain gagal memenuhi tantangan sosial pada masanya. Dia menampilkan etos kasih sayang modern para nabi, tetapi kolega-kolega sucinya tidak berbuat apa-apa untuk menegakkan keadilan dan persamaan selama bertahun-tahun. Pada masamasa kuno, Yahweh telah dipersiapkan untuk menerima mereka sebagai Elohim, anak-anak El Elyon (“Yang Mahatinggi”),°° namun kini dewa-dewa itu telah membuktikan bahwa mereka telah usang. Mereka akan layu seperti manusia yang tidak abadi. Penulis Mazmur tidak saja menggambarkan Yahweh mengutuk sesamanya, tetapi dalam melakukan itu dia juga telah mengambil alih hak prerogratif tradisional El, yang, tampaknya, masih memiliki karisma di Israel.
Meskipun ada penekanan yang begitu keras yang terdapat dalam Alkitab, sebenarnya tak ada yang keliru dalam penyembahan berhala, per se: ia baru menjadi sesuatu yang bisa ditolak atau dianggap naif ketika citra tentang Tuhan yang dikonstruksikan secara amat hati-hati, dibaurkan dengan realitas tak terucap yang kepadanya ia merujuk. Kita akan menyaksikan bahwa dalam sejarah Tuhan yang kemudian, sebagian orang Yahudi, Kristen, dan Muslim menggunakan gambaran lama tentang realitas mutlak ini dan tiba pada sebuah konsepsi yang lebih dekat dengan visi Hindu atau Buddha. Namun, yang lainnya tidak pernah berhasil untuk menempuh langkah ini, tetapi berasumsi bahwa konsepsi mereka tentang Tuhan identik dengan misteri yang sangat luar biasa.
Bahaya religiusitas “keberhalaan” menjadi jelas sekitar tahun 622 SM selama masa pemerintahan Raja Yosia dari Yehuda. Dia ingin mengubah kebijakan sinkretik pendahulunya, Raja Manasye (687- 42) dan Raja Amon (642-40) yang telah menganjurkan rakyatnya untuk menyembah dewa-dewa Kanaan selain Yahweh. Manasye telah menempatkan sebuah berhala untuk Asyera di Kuil, yang di dalamnya telah banyak dijalankan kultus kesuburan. Karena banyak orang Israel setia kepada Asyera dan sebagian ada yang menganggapnya sebagai istri Yahweh, hanya penganut Yahwis yang sangat ketat yang memandang ini sebagai penyimpangan. Namun, karena bertekad untuk meningkatkan pemujaan terhadap Yahweh, Yosia memutuskan untuk mengadakan perbaikan besarbesaran di Kuil. Sementara para pekerja sedang sibuk membongkar bagian-bagian bangunan Kuil, Imam Besar Hilkia dikabarkan telah menemukan sebuah naskah kuno yang diduga merupakan tulisan tentang pidato perpisahan Musa kepada anakanak Israel. Dia memberikan naskah itu kepada sekretaris Yosia, Safan, yang membacanya dengan suara keras di hadapan raja. Ketika mendengar hal itu, raja muda tersebut menyobek bajunya karena ketakutan: tak heran jika Yahweh telah begitu murka kepada para pendahulunya! Mereka semua telah gagal total untuk mematuhi perintah-perintah yang disampaikannya melalui Musa.3! Hampir bisa dipastikan bahwa “Kitab hukum” yang ditemukan oleh Hilkia itu adalah inti dari naskah yang kini kita kenal sebagai Kitab Ulangan. Ada berbagai teori tentang “penemuan”nya yang tepat waktu oleh kelompok pembaru. Beberapa di antaranya bahkan menduga bahwa naskah itu ditulis secara rahasia oleh Hilkia dan Safan sendiri dengan bantuan nabi perempuan Hulda, yang segera dimintakan pendapatnya oleh Yosia. Kita tak pernah mengetahui persisnya, tetapi naskah itu sungguh merefleksikan kekerasan pendirian yang sama sekali baru di Israel, yang juga merefleksikan perspektif abad ketujuh. Dalam pidato perpisahannya, Musa diperlihatkan meletakkan sentralitas baru terhadap perjanjian dan gagasan tentang keterpilihan Israel. Yahweh telah memilih umatnya di antara semua bangsa lain, bukan karena kelebihan yang mereka miliki tetapi semata-mata atas dasar cintanya yang besar. Sebagai balasannya, dia menuntut kesetiaan penuh dan penolakan tegas terhadap semua tuhan lain. Inti Kitab Ulangan mencakup deklarasi yang kemudian menjadi kesaksian iman orang-orang Yahudi:
Dengarkan [shema], hai orang Israel! TUHAN adalah Allah kita, TUHAN itu esa [ehad]! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan.”
Pilihan Tuhan telah menempatkan Israel berbeda dari goyim, sehingga, sang pengarang membuat Musa bersabda, agar ketika tiba di Tanah yang Dijanjikan mereka tidak berurusan dengan para penduduk asli. “Jangan mengadakan perjanjian dengan mereka dan janganlah mengasihani mereka.” Tidak boleh ada perkawinan antarmereka dan interaksi sosial. Di atas segalanya, mereka harus menyapu bersih agama Kanaan: “mezbahmezbah mereka haruslah kamu robohkan, tugu berhala mereka kamu remukkan, tiang-tiang berhala mereka kamu hancurkan dan patung-patung mereka kamu bakar habis,” perintah Musa kepada orang-orang Israel, “Sebab engkaulah umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu: engkaulah yang dipilih oleh TUHAN, Allahmu, dari segala bangsa di atas muka bumi untuk menjadi umat kesayangan-Nya.”“4
Ketika menyebut kembali Shema pada masa sekarang, orang Yahudi memberinya interpretasi monoteistik: Yahweh Allah kami yang Satu dan unik. Tradisi Deuteronomis belum lagi mencapai perspektif ini. “Yahweh ehad” tidak berarti Allah itu esa, tetapi bahwa Yahweh adalah satu-satunya allah yang diizinkan untuk disembah. Tuhan-tuhan lain masih merupakan sebuah ancaman: pemujaan mereka sangat atraktif dan bisa memalingkan orang Israel dari Yahweh, Tuhan yang pencemburu. Jika mereka mematuhi hukum-hukum Yahweh, dia akan memberkati mereka dan menganugerahkan kesejahteraan, tetapi jika mereka berkhianat, akibatnya akan sangat merusak:
TUHAN akan menyerakkan engkau ke antara segala bangsa dari ujung bumi ke ujung bumi; di sanalah engkau akan beribadah kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, yakni kepada kayu dan batu .... Hidupmu akan terkatung-katung ... Pada waktu pagi engkau akan berkata: Ah, kalau malam sekarang! Dan pada waktu malam engkau akan berkata: Ah kalau pagi sekarang! Karena kejut memenuhi hatimu, dan karena apa yang dilihat matamu.
Ketika Raja Yosia dan rakyatnya mendengar ini di akhir abad ketujuh, mereka sedang menghadapi sebuah ancaman politik baru. Mereka telah berhasil menahan serangan tentara Asyur dan dengan demikian telah terhindar dari nasib seperti sepuluh suku utara, yang harus memikul hukuman yang digambarkan oleh Musa. Akan tetapi, pada 606 SM, Raja Nabupolasar dari Babilonia akan menghancurkan Asyur dan mulai membangun kerajaannya sendiri.
Dalam iklim yang sangat tidak aman ini, kebijakan Kitab Ulangan memberi pengaruh besar. Bukannya mematuhi perintah-perintah Yahweh, dua raja terakhir Israel secara sengaja justru mencumbui bencana. Yosia segera memulai sebuah pembaruan, bertindak dengan semangat yang patut diteladani. Semua gambaran, berhala, dan simbol-simbol kesuburan dicampakkan ke luar Kuil dan dibakar. Yosia juga meruntuhkan patung besar Asyera dan menghancurkan kamar-kamar pelacur Kuil, yang menenun pakaian untuk Asyera di sana. Semua tempat suci kuno di negeri itu, yang telah menjadi pusat paganisme, dihancurkan. Sejak saat itu, para rahib hanya diizinkan melakukan upacara kurban untuk Yahweh di Kuil Yerusalem yang telah disucikan. Para penulis tawarikh, yang merekam pembaruan Yosia sekitar 300 tahun kemudian, memberikan deskripsi yang lugas:
Mezbah-mezbah para Baal dirobohkan di hadapannya [Yosia]; ia menghancurkan pedupaan-pedupaan yang ada di atasnya, ia meremukkan dan menghancurluluhkan tiang-tiang suci berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan, dan menghamburkannya ke atas kuburan orang-orang yang mempersembahkan kurban kepada berhala-berhala itu. Tulang-tulang para imam dibakarnya di atas mezbah-mezbah mereka. Demikianlah ia mentahrirkan Yehuda dan Yerusalem. Juga di kota-kota Manasye, Efraim, dan Simeon, sampai di kota-kota Naftali, yang di mana-mana telah menjadi reruntuhan, ia merobohkan segala mezbah dan tiang berhala, meremukkan segala patung pahatan serta menghancurkan semua pedupaan di seluruh tanah Israel.“
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
Ini jauh dari kekhidmatan penerimaan Buddha atas dewa-dewa yang dia rasa tidak diinginkannya lagi. Penghancuran habishabisan ini tumbuh dari kebencian yang berakar dari rasa cemas dan takut yang terpendam.
Para pembaru telah menulis ulang sejarah Israel. Kitab-kitab sejarah Yosua, hakim-hakim, Samuel, dan Raja-Raja direvisi sesuai dengan ideologi baru dan, kemudian, para editor Pentateukh menambahkan bagian-bagian yang memberi tafsiran Deuteronomis atas mitos Pembebasan kepada narasi J dan E yang lebih tua. Yahweh kini adalah perancang perang suci pemusnahan di Kanaan. Orang Israel diberi tahu bahwa pribumi Kanaan tidak akan berdiam di negeri mereka,” sebuah kebijakan yang oleh Yosua diimplementasikan melalui cara yang betul-betul tidak suci:
Pada waktu itu, Yosua datang dan melenyapkan orang Enak dari pegunungan, dari Hebron, Debir, dan Anab, dari seluruh pengunungan Yehuda dan dari seluruh pegunungan Israel. Mereka dan kota-kota mereka ditumpas oleh Yosua. Tidak ada lagi orang Enak ditinggalkan hidup di negeri orang Israel: hanya di Gaza, di Gat, dan di Asdod masih ada yang tertinggal.
Sebenarnya kita tidak tahu apa-apa tentang penaklukan Kanaan oleh Yosua dan hakim-hakim, meski tak diragukan bahwa banyak darah yang telah ditumpahkan. Akan tetapi, sekarang pertumpahan darah itu telah diberi alasan religius. Bahaya dari teologi keterpilihan semacam itu, yang tidak dibenarkan dalam perspektif transenden seorang Yesaya, diperlihatkan dengan jelas dalam peperangan suci yang telah mencoreng sejarah monoteisme. Alih-alih menjadikan Tuhan sebagai simbol untuk menantang prasangka kita dan memaksa kita untuk berkontemplasi tentang kekurangan diri sendiri, teologi itu bisa digunakan untuk menguatkan kebencian egoistik kita dan membuatnya menjadi absolut. Teologi ini menggambarkan Tuhan berperilaku persis seperti kita, seakan-akan dia hanyalah seorang manusia lain. Tuhan semacam itu tampaknya akan lebih menarik dan populer daripada Tuhannya Amos dan Yesaya, yang menuntut kritik diri yang keras.
Orang Yahudi acap dikritik atas kepercayaan bahwa mereka adalah Umat Pilihan, namun para pengkritik melakukan kesalahan yang sama melalui penyangkalan yang menghasut kebencian terhadap penyembahan berhala di masa biblikal. Ketiga agama monoteistik telah mengembangkan teologi keterpilihan yang mirip pada periode-periode berbeda dalam sejarah mereka, kadang dengan akibat yang lebih parah daripada yang dibayangkan dalam kitab Yosua. Orang Kristen Barat khususnya agak terlalu yakin bahwa mereka adalah umat pilihan Tuhan. Selama abad kesebelas dan kedua belas, Pasukan Salib mencari alasan untuk membenarkan perang suci mereka melawan Yahudi dan Muslim dengan menyebut diri sebagai Umat Pilihan baru, yang mengambil alih tugas yang telah gagal dijalankan oleh Yahudi. Teologi keterpilihan kaum Calvinis telah banyak berperan dalam mendorong orang Amerika untuk mempercayai bahwa mereka sebangsa dengan Tuhan. Seperti dalam Kerajaan Yehudanya Yosia, kepercayaan semacam itu cenderung tumbuh pada masa kerawanan politik ketika orang-orang dihantui ketakutan akan kehancuran mereka sendiri. Mungkin karena alasan ini, kepercayaan itu tampak mendapatkan nyawa baru dalam berbagai bentuk fundamentalisme yang lazim di kalangan Yahudi, Kristen, dan Muslim pada saat tulisan ini dibuat. Tuhan yang personal seperti Yahweh dapat dimanipulasi untuk menegaskan dirinya yang terkepung dengan cara ini, sedangkan tuhan yang impersonal seperti Brahman tidak dapat melakukan hal itu.
Kita mesti mencatat bahwa tidak semua orang Israel memegang Deuteronomisme pada masa-masa yang menggiring ke penghancuran Yerusalem oleh Nebukadnezar pada 587 SM dan pengusiran orang Yahudi ke Babilonia. Pada tahun 604, ketika Nebukadnezar naik takhta, Nabi Yeremia membangkitkan perspektif ikonoklastik Yesaya yang membalik sama sekali doktrin Umat Pilihan yang angkuh: Tuhan menggunakan orang Babilonia sebagai alatnya untuk menghukum Israel, dan kini giliran Israellah untuk “menjadi kengerian, menjadi sasaran suitan dan menjadi ketandusan untuk selama-lamanya”.9 Mereka akan berada di pengasingan selama tujuh puluh tahun. Ketika Raja Yoyakim mendengar ramalan ini, dia merampas gulungan naskah itu dari tangan penulisnya, merobeknya, dan melemparkannya ke dalam api. Takut nyawanya terancam, Yeremia terpaksa lari bersembunyi.
Karier Yeremia memperlihatkan berat penderitaan dan usaha yang diperlukan untuk membentuk citra Tuhan yang lebih menantang ini. Dia tidak suka menjadi nabi dan merasa sangat berat hati jika diharuskan menghukum orang-orang yang dia cintai.*° Dia bukanlah seorang yang bertemperamen bengis, melainkan berhati lunak. Ketika panggilan datang kepadanya, dia berteriak memprotes: “Ah, Tuhan Yahweh! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda!” lalu, Yahweh “mengulurkan tangan” dan menyentuh bibir Yeremia, dan meletakkan firmannya di mulut Yeremia. Pesan yang mesti diartikulasikan Yeremia masih kabur dan kontradiktif: “untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam.” Ini menuntut ketegangan antara ekstrem-ekstrem yang tak terdamaikan. Yeremia mengalami Tuhan sebagai derita yang mengguncang persendiannya, mematahkan hatinya, dan membuatnya sempoyongan bagaikan orang mabuk.22 Para nabi mengalami mysterium terribile et fascinans sebagai pemaksaan dan rayuan sekaligus:
Engkau membujuk aku, ya TUHAN, dan aku telah membiarkan diriku dibujuk ... Tetapi, apabila aku berpikir: “Aku tidak mau mengingat Dia dan tidak mau mengucapkan firman lagi demi nama-Nya”, Maka dalam hatiku ada sesuatu yang seperti api yang menyala-nyala, terkurung dalam tulang-tulangku; aku berlelah-lelah untuk menahannya, tetapi aku tidak sanggup."
Tuhan mendorong Yeremia ke dua arah yang berlawanan: di satu pihak, dia merasakan daya tarik yang sangat besar ke arah Yahweh yang memiliki seluruh kemanisan sebuah rayuan, tetapi di saat lain dia dibuat geram oleh kekuatan yang membawanya ke arah bertentangan dengan kehendaknya sendiri.
Sejak era Amos, nabi merupakan seorang yang berdiri sendiri. Tidak seperti wilayah-wilayah lain dalam dunia berperadaban pada masa itu, Timur Tengah tidak mengadopsi ideologi kesatuan agama secara umum.“ Tuhan para nabi memaksa orang-orang Israel untuk memisahkan diri dari kesadaran mitis Timur Tengah dan mengambil arah berbeda dari arus utama. Dalam penderitaan Yeremia, kita dapat melihat seperti apa kepiluan dan keterasingan yang diakibatkannya. Israel adalah kawasan kecil penganut Yahwisme di tengah-tengah dunia pagan, dan Yahweh pun ditolak oleh kebanyakan orang Israel sendiri. Bahkan, penulis tradisi Deuteronomis yang citranya tentang Tuhan lebih bersahabat, memandang pertemuan dengan Yahweh sebagai konfrontasi yang kasar: dia membuat Musa menjelaskan kepada orang-orang Israel, yang dikagetkan oleh kemungkinan pertemuan tanpa perantara dengan Yahweh, bahwa Tuhan akan mengutus kepada mereka seorang nabi pada setiap generasi untuk memikul bagian terberat dari tugas ilahiah.
Belum ada satu pun yang bisa diperbandingkan dengan Atman, kedekatan ilahi yang prinsipil, dalam kultus Yahweh. Yahweh dialami sebagai sebuah realitas luar yang jauh. Dia perlu memanusiawi melalui suatu cara agar keterasingannya berkurang. Situasi politik pada masa itu sedang memburuk. Orang-orang Babilonia menginvasi Yehuda lalu mengusir raja dan kelompok pertama orang Israel ke pengasingan: akhirnya Yerusalem pun terkepung. Ketika keadaan semakin parah, Yeremia melanjutkan tradisi penisbahan emosi manusia kepada Yahweh: dia membuat Tuhan meratapi ketunawismaan, penderitaan, dan kesedihannya sendiri: Yahweh merasa sama nestapa, susah, dan terbuangnya dengan umatnya, sebagaimana mereka, dia juga tampak bingung, teralienasi, dan lumpuh. Kemarahan yang dirasa Yeremia membakar hatinya bukanlah perasaannya sendiri, melainkan berasal dari kegusaran Yahweh.4? Ketika para nabi berpikir tentang “manusia”, mereka dengan sendirinya juga berpikir tentang “Tuhan”, yang kehadirannya di dunia tampak terkait erat dengan umatnya. Bahkan, Tuhan bergantung kepada manusia ketika dia ingin bertindak di dunia—sebuah gagasan yang kemudian menjadi sangat penting dalam konsepsi Yahudi tentang Tuhan. Banyak isyarat yang menunjukkan bahwa manusia bisa merasakan aktivitas Tuhan dalam emosi dan pengalaman mereka sendiri, bahwa Tuhan merupakan bagian dari kondisi kemanusiaan.
Selama musuh menanti di gerbang, Yeremia membentak umatnya atas nama Tuhan (meski, di hadapan Tuhan, dia memohon atas nama mereka). Begitu Yerusalem telah dikuasai oleh Babilonia pada tahun 587 SM, ramalan Yahweh menjadi lebih menenangkan: dia berjanji untuk menyelamatkan umatnya dan memulangkan mereka, karena kini mereka telah menarik pelajaran dan menjadi insaf. Yeremia diizinkan oleh penguasa Babilonia untuk tetap tinggal di Yehuda, dan untuk mengungkapkan keyakinannya tentang masa depan, dia membeli beberapa rumah: “sebab beginilah firman TUHAN semesta alam [Yahweh Sabaoth], Allah Israel: Rumah, ladang, dan kebun anggur akan dibeli pula di negeri ini!”46 Tidak mengherankan jika banyak orang menyalahkan Yahweh atas bencana itu. Dalam suatu kunjungan ke Mesir, Yeremia bertemu sekelompok Yahudi yang akan pergi ke wilayah Delta dan menyatakan bahwa mereka sama sekali tak punya waktu lagi buat Yahweh. Kaum perempuan mereka mengatakan bahwa keadaan selalu baik ketika mereka menyelenggarakan ritus tradisional untuk memuja Isytar, Dewi langit. Namun, segera setelah mereka berhenti melakukan itu karena kehadiran nabi semacam Yeremia, maka bencana, kekalahan, dan kepahitan cepat datang mengiringi. Tragedi itu tampak semakin dalam di mata Yeremia.4' Setelah kejatuhan Yerusalem dan kehancuran kuil, dia mulai menyadari bahwa jebakan eksternal agama semacam itu hanyalah simbol dari keadaan internal dan subjektif. Di masa depan, perjanjian dengan Israel akan sangat berbeda: "Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka.
Mereka yang telah pergi ke pengasingan tidak dipaksa untuk berasimilasi, seperti yang pernah dialami oleh sepuluh suku utara pada 722. Mereka hidup dalam dua komunitas: satu di Babilonia sendiri dan yang lainnya di tepi kanal bernama Kebar yang memanjang dari efrat, tidak jauh dari Nippur maupun Ur, dalam wilayah yang mereka namakan Tel Aviv (Bukit Musim Semi). Di antara kelompok pertama para pengungsi yang dideportasi pada tahun 597 terdapat seorang imam bernama Yehezkiel. Kira-kira selama lima tahun dia tinggal sendirian di rumahnya dan tak berbicara kepada satu jiwa pun. Kemudian, dia mengalami perjumpaan mengejutkan dengan Yahweh, yang benar-benar membuat dia pingsan. Adalah penting untuk menjelaskan pertemuan pertamanya dengan Yahweh itu secara terperinci karena—beberapa abad kemudian— ini menjadi sangat signifikan bagi mistisisme Yahudi, seperti yang akan kita tinjau pada Bab 7.
Yehezkiel melihat segumpal awan besar dengan api yang berkilatkilat. Angin kencang bertiup dari arah utara. Di tengah-tengah kabut badai ini, dia seakan-akan melihat—dia dengan sangat hatihati menekankan ketidakpastian gambaran itu—kencana raksasa yang ditarik empat ekor makhluk yang kuat. Makhluk-makhluk itu mirip dengan pahatan karibu yang ada di gerbang istana Babilon, tetapi Yehezkiel menjelaskannya dengan gambaran yang hampir mustahil divisualisasikan: masing-masing makhluk itu mempunyai empat kepala dengan wajah manusia, singa, lembu, dan rajawali. Masing-masing roda berputar ke arah yang bertentangan dengan roda-roda lainnya. Penggambaran ini sepertinya dimaksudkan untuk menekankan asingnya penampakan yang sedang berusaha diartikulasikannya. Kepakan sayap makhluk itu memekakkan telinga: suaranya “seperti suara air terjun yang menderu, seperti suara yang Mahakuasa (Shaddail, seperti keributan laskar yang besar”. Di atas kencana itu ada sesuatu yang “mirip” sebuah takhta, dan, di atasnya “ada yang kelihatan seperti rupa manusia”: ia bersinar seperti tembaga, api memancar dari anggota tubuhnya. la juga menyerupai “kemuliaan (kavod| TUHAN”.49 Segera saat itu juga Yehezkiel bersujud dan mendengar suara yang ditujukan kepada dirinya.
Suara itu memanggil Yehezkiel dengan sebutan “anak manusia”, seolah-olah untuk menekankan jarak yang kini ada antara manusia dan alam ilahi. Di samping itu, pertemuan dengan Yahweh diiringi dengan rencana tindakan yang bersifat praktis. Yehezkiel harus menyampaikan firman Tuhan kepada putra-putra Israel yang membangkang. Kualitas non-manusia dari pesan suci disampaikan dalam gambaran yang keras: sebuah tangan terulur ke arah nabi, memegang sebuah gulungan kitab yang ditulisi timbal balik dan berisikan nyanyian ratapan, keluh kesah, dan rintihan. Yehezkiel diperintahkan untuk memakan gulungan kitab itu, mencerna firman Tuhan dan menjadikannya bagian dari dirinya sendiri. Seperti biasanya, mysterium itu fascinans sekaligus terribile: gulungan kitab itu ternyata berasa semanis madu. Akhirnya, Yehezkiel berkata, “Roh itu mengangkat dan membawa aku, dan aku pergi dengan hati panas dan dengan perasaan pahit, karena kekuasaan TUHAN memaksa aku dengan sangat.” Dia tiba di Tel Aviv dan duduk “tertegun” seminggu penuh.
Pengalaman aneh Yehezkiel menekankan betapa telah menjadi asing dan tak dikenalnya alam suci itu bagi manusia. Dia sendiri dipaksa untuk menjadi tanda bagi keasingan ini. Yahweh sering memerintahkannya untuk menyelenggarakan peran aneh, yang membuatnya berlainan dari manusia normal. Peran-peran itu juga dirancang untuk menunjukkan keadaan buruk Israel selama krisis ini dan, pada tataran yang lebih dalam, memperlihatkan bahwa Israel sendiri menjadi asing bagi dunia pagan. Kemudian, ketika istrinya wafat, Yehezkiel dilarang meratap; dia harus berbaring menghadap ke satu sisi selama 390 hari dan ke sisi lainnya selama 40 hari; kemudian dia diharuskan mengemasi barangnya dan berjalan di seputar Tel Aviv bagaikan seorang pengungsi, tanpa kota tujuan yang pasti. Yahweh menimpakan kepada dirinya derita kecemasan yang berat sehingga dia terbelenggu rasa gelisah dan keinginan berpindah-pindah tanpa henti. Pada kesempatan lain, dia terpaksa makan kotoran manusia sebagai simbol kelaparan yang harus diderita penduduk negerinya selama pengepungan Yerusalem. Yehezkiel telah menjadi ikon keterputusan radikal yang terdapat dalam kultus Yahweh: tak ada sesuatu yang bisa diterima begitu saja, dan respons-respons yang normal pun disangkal.
Visi pagan, di sisi lain, justru merayakan ketersambungan yang dirasakan hadir antara dewa-dewa dan alam semesta. Yehezkiel tak menemukan sesuatu yang menenangkan di dalam agama kuno, yang biasa disebutnya “keji”. Dalam salah satu pengalaman penampakan ilahinya, dia dibimbing mengelilingi Kuil Yerusalem. Dia terkejut menyaksikan bahwa, meskipun tengah berada di ambang kehancuran, ternyata orang-orang Yehuda masih tetap menyembah dewa-dewa pagan di kuil Yahweh. Kuil itu sendiri telah berubah menjadi tempat menyeramkan, dinding-dinding ruangannya penuh gambar-gambar binatang melata dan binatangbinatang lain yang menjijikkan: tetua kaum Israel melakukan ritus “keji” dalam cahaya remang-remang, hampir seperti tengah melakukan hubungan seks gelap: “Kaulihatkah, hai anak manusia, apa yang dilakukan oleh tuatua kaum Israel di dalam kegelapan, masing-masing di dalam kamar tempat ukiran-ukiran mereka?”1 Di ruangan lain, ada perempuan-perempuan yang menangisi penderitaan Dewa Tamus. Yang lainnya menyembah matahari, dengan memunggungi kuil Yahweh. Akhirnya, nabi menyaksikan kereta perang aneh yang pernah dilihatnya dalam penampakan pertama, terbang membawa “kemuliaan” Yahweh bersamanya.
Namun, Yahweh bukan merupakan Tuhan yang jauh sama sekali. Pada hari-hari terakhir menjelang kehancuran Yerusalem, Yehezkiel menggambarkan Yahweh menyampaikan peringatan keras kepada orang-orang Israel, tetapi tak berhasil menarik perhatian atau memaksa mereka mengakui ketuhanan Yahweh. Israel hanya dapat menyalahkan dirinya sendiri atas bencana yang sontak melanda mereka. Meski sering tampak asing, Yahweh mendorong orang Israel seperti Yehezkiel untuk melihat bahwa gelombang sejarah tidaklah acak dan arbitrer, tetapi memiliki logika dan keadilan yang lebih mendalam. Dia mencoba menemukan makna di dunia politik internasional yang kejam. Tatkala mereka duduk di tepi sungai-sungai Babilonia, beberapa di antara orang yang berada di pengasingan dengan pasti merasa bahwa mereka tidak mampu mengamalkan agama mereka di luar kawasan Tanah yang Dijanjikan. Dewa-dewa pagan bersifat teritorial, dan bagi sebagiannya tampak tak mungkin menyenandungkan lagu-lagu Yahweh di negeri asing: mereka membayangkan kemungkinan menangkap dan memecahkan anak-anak Babilonia pada bukit batu.”2 Akan tetapi, ada seorang nabi baru mendakwahkan perdamaian. Kita tidak mengetahui apaapa tentang dirinya, dan ini menjadi penting karena nubuat dan mazmurnya tidak memiliki simbol sebagai perjuangan personal, sebagaimana yang dipikul oleh para pendahulunya. Karena risalahnya kemudian disatukan dengan nubuat Yesaya, maka dia selalu disebut sebagai Yesaya Kedua. Di pengasingan, sebagian orang Yahudi akan menyembah dewa-dewa Babilonia kuno, tetapi yang lainnya didorong masuk ke dalam kesadaran keagamaan baru. Kuil Yahweh telah menjadi puing: tempat pemujaan kuno di Betel dan Hebron telah dihancurkan. Di Babilonia mereka tidak bisa ikut dalam liturgi yang telah menjadi inti kehidupan keagamaan mereka di negeri asal. Hanya Yahwehlah yang mereka miliki. Yesaya Kedua mengembangkan ini selangkah lebih jauh lagi dan mendeklarasikan bahwa Yahweh adalah satusatunya Tuhan. Dalam penulisan ulangnya atas sejarah Israel, mitos Pembebasan diberi kemasan imajiner yang kembali mengingatkan kita pada kemenangan Marduk atas Tiamat, si dewa laut:
TUHAN akan mengeringkan teluk Mesir dengan napas-Nya yang menghanguskan, serta mengacungkan tangan-Nya terhadap Sungai Efrat dan memukulnya pecah menjadi tujuh batang alr, sehingga orang dapat melaluinya dengan berkasut. Maka, akan ada jalan raya bagi sisa-sisa umat-Nya .. seperti yang telah ada untuk Israel dahulu, pada waktu mereka keluar dari tanah Mesir.”
Yesaya Pertama menjadikan sejarah sebagai peringatan Ilahi: setelah bencana itu, dalam kata-kata penghiburnya, Yesaya Kedua membuat sejarah menjadi tumpuan harapan baru bagi masa depan. Jika Yahweh telah pernah menyelamatkan Israel di masa lalu, pasti dia akan mampu melakukannya lagi. Dialah penentu jalan sejarah: dalam pandangannya, semua goyim tak lebih dari setetes air di dalam bejana. Dia adalah satu-satunya Tuhan yang dapat dipercaya. Yesaya Kedua membayangkan dewa-dewa Babilonia kuno diangkut di atas binatang dan digelindingkan ke arah matahari terbenam.”4 Zaman mereka telah berakhir: "Bukankah Aku TUHAN?” dia bertanya berulang-ulang, “tidak ada Allah lain selain daripada-Ku!”S?
Baca Juga: Lighten PDF Converter OCR 6.1.1 Full Version
Sebelum Aku tidak ada Allah dibentuk, dan sesudah Aku tidak akan ada lagi. Aku, Akulah TUHAN, dan tidak ada juru selamat selain daripadaKu 5°
Yesaya Kedua tidak membuang-buang waktu untuk mencela dewa-dewa goyim, yang, setelah peristiwa bencana, bisa saja dipandang sebagai pemenang. Dia dengan tenang mengasumsikan adalah Yahweh—bukan Marduk atau Baal—yang telah melakukan tindakan mitis hebat yang mengakibatkan terciptanya dunia. Untuk pertama kalinya, orang Israel menjadi sangat tertarik pada peran Yahweh dalam penciptaan, mungkin karena pembaruan hubungan dengan mitos-mitos kosmologis Babilonia. Tentu saja mereka tidak sedang mengupayakan sebuah penjelasan ilmiah tentang asal usul fisikal alam semesta, tetapi untuk menemukan kenyamanan di tengah dunia yang kini penuh kesusahan. Jika Yahweh telah menaklukkan monster kekacauan di masa primordial, tentu merupakan hal yang mudah baginya untuk menyelamatkan orang-orang Israel yang terusir. Melihat kemiripan antara mitos Pembebasan dengan kisah pagan tentang kemenangan atas kekacaubalauan di masa awal waktu, Yesaya Kedua mengajak umatnya untuk dengan yakin menanti pertunjukan baru kekuatan ilahi di masa depan. Di sini, misalnya, dia merujuk pada kemenangan Baal atas Lotan, monster laut dalam mitologi penciptaan Kanaan, yang juga disebut Rahab, Buaya (tannin), dan Samudra Raya (tehom)j:
Terjagalah, terjagalah! Kenakanlah kekuatan, hai tangan TUHAN! Terjagalah seperti pada zaman purbakala, pada zaman keturunan yang dahulu kala, Bukankah Engkau yang meremukkan Rahab, yang menikam naga (tannin) sampai mati? Bukankah Engkau yang mengeringkan laut, alr samudra raya (teh6bm) yang hebat? yang membuat laut yang dalam menjadi jalan, supaya orang-orang yang diselamatkan dapat menyeberang?”
Yahweh pada akhirnya telah menumbangkan musuh-musuhnya dalam imajinasi religius orang-orang Israel, di pengasingan, pesona paganisme menyurut dan agama Yudaisme telah lahir. Pada suatu masa tatkala kultus Yahweh diperkirakan secara rasional akan sirna, dia menjadi alat yang memampukan manusia menemukan harapan di tengah keadaan yang serbamusykil.
Oleh karena itu, Yahweh telah menjadi satu-satunya Tuhan. Tak ada upaya untuk meneguhkan klaimnya secara filosofis. Sebagaimana biasa, teologi baru menjadi sukses bukan karena ia dapat dibuktikan secara rasional, melainkan karena keefektifannya mencegah keputusasaan dan mengilhami harapan. Dalam keadaan tercerabut dan terbuang, kaum Yahudi tidak lagi merasakan keterputusan dalam kultus Yahweh sebagai sesuatu yang asing dan mengganggu. Dia bicara begitu hebat tentang keadaan mereka.
Namun demikian, tak ada yang hebat dalam gambaran Yesaya Kedua tentang Tuhan. Dia tetap berada di luar jangkauan pikiran manusia:
Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dan rancanganmu.”'
Realitas Tuhan berada di luar jangkauan kata-kata atau konsep. Yahweh juga tidak selalu melakukan apa yang diharapkan umatnya. Dalam suatu ayat yang sangat berani, yang memiliki arti khusus pada masa sekarang, nabi meramalkan suatu masa ketika Mesir dan Asyur juga akan menjadi negeri Yahweh, selain Israel. Yahweh akan berkata, “Diberkatilah Mesir, umat-Ku, dan Asyur, buatan tangan-Ku, dan Israel milik pusaka-Ku.””? Dia telah menjadi simbol realitas transenden yang menjadikan tafsiran sempit tentang konsep bangsa pilihan tampak picik dan tak pantas.
Ketika Cyrus, Raja Persia, menaklukkan Imperium Babilonia pada 539 SM, para nabi tampak seolah-olah telah dibebaskan. Cyrus tidak memaksakan dewa-dewa Persia kepada rakyatnya yang baru, dia bahkan menyembah di Kuil Marduk ketika memasuki Babilonia dengan kemenangan. Dia juga mengembalikan patungpatung dewa milik bangsa yang dikalahkan Babilonia ke tanah air mereka. Kini, ketika dunia telah terbiasa dengan kerajaan besar internasional, Cyrus mungkin tidak perlu lagi menggunakan metode deportasi yang lama. Akan lebih mudah jika dia membiarkan rakyatnya menyembah dewa-dewa mereka sendiri di wilayah mereka masing-masing. Di seluruh imperiumnya, dia mendorong pemulihan kuil-kuil kuno, berulang-ulang mengklaim bahwa dewa-dewa mereka yang telah menugaskan itu kepadanya. Dia merupakan teladan sikap toleran dan keluasan visi dalam sebagian dari agama pagan. Pada tahun 538, Cyrus mengeluarkan ketetapan yang mengizinkan orang Yahudi untuk pulang ke Yehuda dan membangun kembali kuil mereka sendiri. Akan tetapi, kebanyakan mereka memilih untuk menetap: sejak saat itu hanya sekelompok kecil yang tinggal di Tanah yang Dijanjikan. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa 42.360 orang Yahudi meninggalkan Babilonia dan Tel Aviv untuk pulang ke tanah air, tempat mereka memaksakan Yudaisme Baru kepada saudara-saudara mereka yang masih tertinggal dalam keterasingan.
Kita dapat menyaksikan apa akibat yang ditimbulkan oleh hal ini dalam tulisan-tulisan tradisi Para Imam (P) yang dibuat setelah pengasingan dan dimasukkan ke dalam Pentateukh. Ini memberikan tafsiran tersendiri tentang kejadian-kejadian yang diuraikan oleh J dan E, dan menambahkan dua kitab baru, Imamat dan Bilangan. Seperti yang dapat kita duga, P memiliki pandangan yang canggih dan tinggi tentang Yahweh. Dia tidak percaya, misalnya, bahwa seseorang bisa secara aktual melihat Tuhan dalam cara yang dikemukakan oleh J. P memiliki banyak kesamaan dengan perspektif Yehezkiel, dia percaya bahwa ada perbedaan antara persepsi manusia tentang Tuhan dan realitasnya sendiri. Dalam kisah P tentang Musa di Sinai, Musa memohon diberi kesempatan melihat Yahweh, yang menjawab, “engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup.” Sebaliknya, Musa justru harus melindungi dirinya dari dampak ilahi di balik batu, tempat dia bisa menangkap kilasan Yahweh ketika dia turun, dalam semacam jejak-jejak. P memperkenalkan sebuah gagasan yang kemudian akan menjadi sangat penting dalam sejarah konsepsi manusia tentang Tuhan. Manusia hanya dapat melihat cahaya yang tersisa ketika kehadiran ilahi telah berlangsung, yang disebutnya sebagai “kemuliaan (kavod) Yahweh”, manifestasi kehadirannya, yang tidak boleh disamakan dengan realitas Tuhan itu sendiri.S! Ketika Musa turun dari gunung, wajahnya merefleksikan “kemuliaan” ini dan bersinar dengan terang yang sangat menyilaukan sehingga orang-orang Israel tidak bisa melihat mukanya







Comments (0)