Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan

BAB 5 : KEESAAN : TUHAN ISLAM

Sekitar tahun 610, seorang pedagang Arab dari Kota Makkah yang ramai di Hijaz, yang tak pernah membaca Alkitab dan mungkin tak pernah mendengar tentang Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel, mengalami suatu kejadian ajaib yang sangat mirip dengan pengalaman mereka.

Setiap tahun Muhammad ibn Abdullah, anggota suku pedagang Quraisy di Makkah, biasa mengajak istrinya ke Gua Hira yang tidak jauh dari kota itu untuk melaksanakan penyendirian spiritual selama bulan Ramadhan. Ini adalah praktik yang lazim dilakukan di kalangan penduduk jazirah Arab. Muhammad menghabiskan waktu untuk berdoa kepada Tuhan serta membagikan makanan dan sedekah kepada fakir miskin yang mengunjunginya selama periode suci itu.

Dia mungkin juga banyak melewatkan waktu dengan beban pikiran yang menggelisahkan. Kita mengetahui dari kariernya di belakang hari bahwa Muhammad sangat prihatin akan keruntuhan moral yang mengkhawatirkan di Makkah, di tengah keberhasilan spektakuler yang belum lama diraih kota itu.

Dalam dua generasi terdahulu, kaum Quraisy masih menjalani kehidupan nomadik yang keras di tanah Arab, seperti suku-suku Badui yang lain: setiap hari dilalui dengan perjuangan untuk mempertahankan diri. Akan tetapi, selama tahun-tahun terakhir abad keenam, mereka telah meraih keberhasilan besar dalam perdagangan dan menjadikan Makkah kawasan pemukiman paling penting di Arab.

Kini jumlah kekayaan mereka telah melampaui impian-impian mereka yang paling liar. Namun, gaya hidup mereka yang berubah drastis ini mengimplikasikan bahwa nilai-nilai kesukuan lama telah tergeser oleh kapitalisme tak berperasaan yang merajalela. Orang-orang merasa kehilangan orientasi. Muhammad tahu bahwa kaum Quraisy berada dalam arah yang berbahaya dan perlu menemukan ideologi yang dapat membantu mereka menyesuaikan diri dengan kondisi yang baru.

Pada masa itu, setiap pemecahan politik cenderung bersifat keagamaan. Muhammad sadar bahwa kaum Quraisy sedang menjadikan uang sebagai agama baru. Hal ini tidak mengherankan, karena mereka tentu merasakan bahwa kemakmuran baru itu telah “menyelamatkan” mereka dari kehidupan nomadik yang penuh risiko, melindungi mereka dari kekurangan gizi dan wabah pertikaian antarsuku di kawasan semenanjung Arabia yang membuat orang-orang Badui setiap hari berhadapan dengan bahaya kepunahan.

Kini, mereka hampir selalu mempunyai persediaan pangan yang cukup. Makkah kini menjadi pusat perdagangan dan keuangan internasional. Mereka merasa telah menjadi penentu nasib mereka sendiri, dan sebagiannya bahkan meyakini bahwa kemakmuran itu akan memberi mereka kehidupan yang abadi. Namun, Muhammad merasa bahwa kultus baru keswasembadaan (istaga) ini akan mengakibatkan perpecahan suku.

Pada masa-masa nomadik yang lalu, kepentingan suku selalu harus didahulukan daripada kepentingan pribadi: setiap anggota suku mengetahui bahwa mereka saling bergantung satu sama lain untuk mempertahankan hidup. Akibatnya mereka mempunyai kewajiban untuk memperhatikan orang miskin dan lemah dalam kelompok etnik mereka.

Kini, individualisme telah menggantikan nilai-nilai komunal dan persaingan berkembang menjadi norma. Setiap individu mulai mengumpulkan kekayaan pribadi dan tidak peduli kepada orang-orang Quraisy yang lemah. Setiap klan, atau kelompok keluarga suku yang lebih kecil, saling bertikai untuk mendapat bagian dalam kemakmuran Makkah, dan sebagian dari klan yang kurang beruntung (seperti klan Muhammad sendiri, yakni klan Bani hasyim) merasa bahwa kelangsungan hidup mereka tengah terancam.

Muhammad yakin bahwa jika kaum Muraisy tidak meletakkan nilai transenden lain di pusat kehidupan mereka dan menaklukkan egoisme dan ketamakan mereka, maka suku itu akan terpecah belah secara moral dan politik akibat perselisihan yang keras.

Situasi di bagian lain Jazirah Arabia juga suram. Selama berabad-abad, suku-suku Badui di kawasan Hijaz dan Nejed telah hidup dalam persaingan tajam satu sama lain demi memperebutkan kebutuhan-kebutuhan pokok. Untuk membantu masyarakat menanamkan semangat komunal yang esensial bagi pertahanan hidup, orang Arab telah mengembangkan sebuah ideologi yang disebut muruwah, suatu konsep etik yang banyak mengandung fungsi agama.

Dalam pengertian konvensional, orang Arab hanya memiliki sedikit waktu bagi agama. Mereka mempunyai sekumpulan dewa-dewa pagan dan beribadat di tempat-tempat suci para dewa itu, namun tidak mengembangkan mitologi yang menjelaskan relevansi dewa-dewa dan tempat-tempat suci ini bagi kehidupan ruhani. Mereka tak memiliki pandangan tentang kehidupan setelah mati, tetapi percaya bahwa dahr, yang dapat diterjemahkan sebagai “waktu” dan “nasib”, sangatlah penting—sebuah sikap yang barangkali esensial dalam masyarakat yang angka kematiannya begitu tinggi.

Para sarjana Barat sering menerjemahkan muruwah sebagai “kejantanan”, namun kata itu memiliki cakupan pengertian yang jauh lebih luas: muruwah bisa berarti keberanian dalam peperangan, kesabaran dan ketabahan dalam penderitaan, dan kesetiaan mutlak kepada suku.

Nilai-nilai muruwah menuntut seorang Arab untuk mematuhi sayyid atau pemimpinnya setiap saat, tanpa peduli keselamatan dirinya sendiri: dia harus mendedikasikan diri kepada tugas-tugas mulia melawan semua kejahatan yang dilakukan terhadap suku dan melindungi anggota-anggotanya yang lemah.

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Untuk menjamin kelangsungan hidup suku, sayyid membagi kekayaan dan harta miliknya secara merata dan membalas kematian satu anggotanya dengan membunuh satu anggota suku si pelaku pembunuhan.

Di sini, kita dapat melihat etika komunal secara sangat jelas: tak ada kewajiban untuk menghukum pembunuh itu sendiri karena seorang individu bisa hilang tanpa jejak dalam komunitas, seperti masyarakat Arab sebelum datangnya Islam. Sebagai gantinya, satu anggota suku musuh dipandang setara saja dengan yang lainnya untuk menegakkan maksud semacam itu.

Balas dendam atau utang nyawa balas nyawa merupakan satu-satunya cara untuk menjamin sedikit keamanan sosial di wilayah yang tak mengenal kekuasaan sentral ini, di mana setiap kelompok suku merupakan hukum bagi dirinya sendiri dan tak terdapat sesuatu yang bisa dipersamakan dengan angkatan kepolisian zaman sekarang.

Jika seorang pemimpin suku gagal membalas dendam, sukunya akan kehilangan martabat sehingga suku-suku lain akan merasa bebas untuk membunuh anggota sukunya tanpa dihukum. Hukum balas, dengan demikian telah menjadi bentuk keadilan yang lazim. Ini berarti bahwa tak ada satu suku pun yang dengan gampang dapat memperoleh yang derajat lebih tinggi daripada yang lain.

Ini juga berarti bahwa berbagai suku dapat dengan mudah terlibat dalam lingkaran kekerasan tanpa akhir, di mana satu penuntutan balas akan menimbulkan pembalasan yang lain jika orang-orang merasa bahwa balas dendam itu dilakukan secara tidak proporsional terhadap kesalahan asalnya.

Meskipun tak diragukan lagi kebrutalannya, muruwah tetap memiliki banyak kelebihan. Muruwah sangat menekankan egalitarianisme dan ketidakpedulian pada materi, yang, lagi-lagi, barangkali esensial dalam wilayah yang tidak memiliki persediaan kebutuhan pokok dalam jumlah yang memadai: kedermawanan merupakan kebajikan yang penting dan mengajarkan orang-orang Arab untuk tidak mengkhawatirkan hari esok.

Sifat-sifat ini, sebagaimana akan kita saksikan, penting maknanya bagi Islam.

Muruwah telah berdampak baik bagi orang Arab selama berabad-abad, namun sejak abad keenam konsep itu tak lagi mampu menjawab kondisi modernitas. Selama fase terakhir periode pra-Islam, yang oleh kaum Muslim disebut periode jahiliyyah (masa kebodohan), ketidakpuasan dan kekosongan spiritual telah menyebar luas.

Orang Arab dikepung dari semua sisi oleh dua imperium besar, Persia Sassanian dan Byzantium. Ide-ide modern mulai menembus masuk ke Arab dari wilayah-wilayah yang berpenghuni: para saudagar yang bepergian ke Suriah atau Irak membawa pulang kisah-kisah mengagumkan tentang kehebatan peradaban.

Namun, tampaknya mereka ditakdirkan untuk terus hidup dalam barbarisme. Peperangan antarsuku yang tak henti-hentinya terjadi membuat mereka tak mampu mengumpulkan sumber daya mereka yang hanya sedikit itu dan menjadi orang Arab bersatu.

Mereka tak dapat menentukan nasib sendiri dan mendirikan sebuah peradaban sendiri. Sebaliknya mereka justru senantiasa terbuka untuk dieksploitasi oleh kekuatan-kekuatan besar: buktinya, wilayah yang lebih subur dan canggih di Arab Selatan yang kini dikenal sebagai Yaman (yang memiliki keuntungan dari hujan muson) telah menjadi sekadar satu provinsi dalam wilayah kekuasaan Persia.

Pada saat yang sama, ide-ide baru yang menembus kawasan itu memperkenalkan individualisme yang meruntuhkan etos komunal lama. Doktrin Kristen tentang kehidupan sesudah mati, misalnya, membuat nasib abadi setiap individu menjadi nilai yang suci: bagaimana ini bisa dicocokkan dengan idealisme kesukuan yang menempatkan individu di bawah kepentingan kelompok dan mengajarkan bahwa satu-satunya keabadian manusia terletak pada keberlangsungan hidup suku?

Muhammad adalah seorang jenius yang sangat luar biasa. Tatkala wafat pada tahun 632, dia telah berhasil menyatukan hampir semua suku Arab menjadi sebuah komunitas baru, atau ummah.

Dia telah mempersembahkan kepada orang-orang Arab sebuah spiritualitas yang secara unik sesuai dengan tradisi mereka dan yang membukakan kunci bagi sumber kekuatan yang besar sehingga dalam waktu seratus tahun mereka telah mendirikan imperium sendiri yang luas membentang dari Himalaya hingga Pirenia, dan membangun sebuah peradaban yang unik.

Namun, ketika Muhammad duduk berdoa di gua kecil Hira selama masa ibadahnya pada bulan Ramadhan tahun 610, dia tidak membayangkan kesuksesan fenomenal seperti itu.

Sebagaimana kebanyakan orang Arab, Muhammad percaya bahwa Allah, Tuhan Tertinggi dalam keyakinan Arab kuno, yang namanya secara sederhana berarti “Tuhan”, identik dengan Tuhan yang disembah oleh orang-orang Yahudi dan Kristen.

Dia juga percaya bahwa hanya seorang nabi dari Tuhan ini yang akan mampu memecahkan masalah masyarakatnya, tetapi tak sedikit pun terbetik dalam pikirannya bahwa dirinyalah yang akan menjadi nabi itu.

Orang Arab pun secara prihatin sadar bahwa Allah belum pernah mengutus kepada mereka seorang nabi atau menurunkan kitab suci bagi mereka, meski tempat suci baginya telah ada di tengah-tengah mereka sejak masa yang sudah tak dapat diingat lagi.

Pada abad ketujuh, kebanyakan orang Arab percaya bahwa Ka'bah, bangunan sangat tua berbentuk kubus besar yang terletak di jantung Makkah, pada awalnya didirikan demi pengabdian kepada Allah, walaupun pada saat itu tempat tersebut diisi oleh dewa Hubal orang Nabatea.

Semua penduduk Makkah sangat bangga akan Ka'bah yang merupakan tempat suci paling penting di Arabia. Setiap tahun orang-orang Arab dari segala penjuru semenanjung melaksanakan ziarah ke Makkah, untuk menyelenggarakan ritus-ritus tradisional selama beberapa hari.

Semua kekerasan dilarang di sekeliling tempat suci Ka'bah, sehingga mereka dapat berdagang dengan damai satu sama lain di sana, karena mengetahui bahwa permusuhan-permusuhan lama untuk sementara harus ditunda.

Kaum Quraisy menyadari bahwa tanpa tempat suci itu mereka tak akan meraih kesuksesan berniaga dan bahwa sebagian besar prestise mereka di kalangan suku-suku bergantung pada penjagaan terhadap Ka'bah dan pada pelestarian kesuciannya yang ada di bawah tanggung jawab mereka.

Namun, meski Allah jelas-jelas telah mengistimewakan kaum Quraisy untuk tugas ini, dia tidak pernah mengirim kepada mereka seorang utusan, seperti Ibrahim, Musa, atau Isa, dan orang Arab tak memiliki kitab suci dalam bahasa mereka sendiri.

Oleh karena itu, tersebar luas rasa inferioritas spiritual di antara mereka. Orang Yahudi dan Kristen, mitra dagang yang sering berhubungan dengan orang-orang Arab, acap mencela mereka sebagai orang barbar yang tidak memperoleh wahyu dari Tuhan.

Orang Arab merasakan campuran rasa benci dan hormat kepada orang-orang yang memiliki pengetahuan yang tak mereka punyai ini.

Yudaisme dan Kristen tidak mendapat banyak kemajuan di kawasan itu, meskipun orang Arab mengakui bahwa bentuk agama yang progresif ini sebenarnya lebih unggul daripada paganisme tradisional mereka.

Ada beberapa suku Yahudi yang tidak jelas asal usulnya di pemukiman Yatsrib (kemudian menjadi Madinah) dan Fadak, hingga ke utara Makkah, serta beberapa suku utara di perbatasan antara imperium Persia dan Byzantium yang telah beralih menganut aliran Monofisit atau Kristen Nestorian.

Akan tetapi, orang Badui sangat independen, mereka bertekad untuk tidak jatuh ke bawah salah satu kekuatan adidaya seperti saudara-saudara mereka di Yaman dan sangat menyadari bahwa baik orang Persia maupun Byzantium telah menggunakan agama Yahudi dan Kristen untuk mengembangkan pola-pola imperial mereka di kawasan itu.

Mereka barangkali juga menyadari secara instingtif bahwa mereka telah mengalami dislokasi kultural yang cukup parah, seiring erosi tradisi-tradisi mereka sendiri.

Mereka sama sekali tak merasa menginginkan sebuah ideologi baru, apalagi yang terungkap dalam bahasa dan tradisi asing.

Sebagian orang Arab tampaknya telah berupaya menemukan bentuk monoteisme yang lebih netral dan tidak ternoda kaitan imperialistik. Sejarahwan Kristen Palestina, Sozomenos, mengemukakan kepada kita bahwa pada awal abad kelima beberapa orang Arab di Suriah telah menemukan kembali apa yang mereka sebut agama asli Ibrahim, yang berkembang sebelum Tuhan menurunkan Taurat atau Injil dan, dengan demikian, bukan Yahudi atau Kristen.

Tidak lama sebelum Muhammad menerima panggilan kenabiannya sendiri, penulis biografinya yang pertama, Muhammad ibn Ishaq (w. 767), menjelaskan kepada kita bahwa empat orang tokoh Quraisy Makkah memutuskan untuk mencari hanifiyyah, agama asli Ibrahim. Sebagian sarjana Barat telah menyatakan bahwa sekte hanifiyyah yang kecil ini adalah sebuah fiksi agama yang menyimbolkan kegelisahan spiritual zaman jahiliah, tetapi pasti memiliki dasar pijakan yang faktual.

Tiga di antara keempat hanif itu cukup dikenal oleh generasi pertama Muslim: Ubaidillah ibn Jahsy, keponakan Muhammad: Waragah ibn Naufal, yang akhirnya beragama Kristen; dan Zaid ibn Amr, paman Umar ibn Khattab, salah seorang sahabat dekat Muhammad dan khalifah kedua dalam pemerintahan Islam.

Ada sebuah kisah bahwa pada suatu hari, sebelum meninggalkan Makkah menuju Suriah dan Irak untuk mencari agama Ibrahim, Zaid berdiri di sisi Ka'bah, bersandar ke bangunan suci itu dan berkata kepada orang Quraisy yang sedang melakukan ritus mengelilinginya dalam cara yang sudah dilakukan sejak lama: “Wahai Quraisy, demi yang jiwa Zaid berada di tangannya, tak ada seorang pun dari kalian yang mengikuti agama Ibrahim kecuali aku.” Kemudian dengan sedih dia menambahkan, “Ya Tuhan, andaikan aku tahu bagaimana engkau ingin disembah, niscaya aku akan menyembahmu dengan cara itu: namun aku tidak tahu.”

Kerinduan Zaid terhadap wahyu ilahi akhirnya terpenuhi di Gua Hira pada tahun 610 di malam ketujuh belas bulan Ramadhan, tatkala Muhammad dibangunkan dari tidur dan merasakan dirinya didekap oleh kehadiran ilahiah yang dahsyat. Belakangan dia menceritakan pengalaman luar biasa ini dalam istilah-istilah khas Arab. Dia berkata bahwa satu malaikat menampakkan diri kepadanya dan memberinya sebuah perintah singkat: “Bacalah!” (iqra'!).

Seperti halnya nabinabi Ibrani yang sering merasa berat mengucapkan Firman Tuhan, Muhammad menolak dan memprotes, “Aku bukan seorang pembaca!” Dia bukanlah seorang kahin, seorang peramal ekstatik Arab yang mengaku fasih membaca nubuat-nubuat yang diilhamkan.

Akan tetapi, Muhammad berkata, malaikat itu kemudian mendekapnya semakin kuat, sehingga dia merasa seolah-olah napasnya akan meninggalkan tubuhnya. Persis pada saat Muhammad merasa seakan tak mampu lagi bertahan, malaikat itu melepaskannya dan kembali memerintahkan, “Bacalah!” (igra!). Muhammad lagi-lagi menolak dan malaikat itu pun mendekapnya lagi hingga dia merasa telah mencapai batas daya tahannya.

Akhirnya, di akhir dekapan dahsyat yang ketiga, Muhammad merasakan kata-kata pertama dari sebuah kitab suci baru mengalir keluar dari mulutnya:

Bacalah dengan nama Tuhanmu, yang telah
menciptakan— menciptakan manusia dari
segumpal darah! Bacalah, dan Tuhanmulah Yang
Maha Pemurah. Yang mengajar [manusia] dengan
perantaraan kalam—Dia mengajarkan manusia apa
yang tidak diketahuinya.”

Firman Tuhan telah diucapkan untuk pertama kalinya dalam bahasa Arab, dan kitab suci ini akhirnya akan disebut guran: Bacaan.

Muhammad merasa dirinya berada dalam ketakutan dan perubahan, bergidik memikirkan bahwa dia mungkin telah menjadi sekadar seorang kahin tak terhormat yang dimintakan pendapatnya oleh orang-orang ketika mereka kehilangan unta.

Seorang kahin diduga dikuasai oleh jin, sejenis makhluk halus yang dipercayai menghuni daratan Arab, yang bisa berubah-ubah wujud dan menyesatkan manusia. Para penyair juga percaya bahwa diri mereka dikuasai oleh Jin-jin pribadi mereka.

Hasan ibn Isabit, seorang penyair Yatsrib yang kemudian masuk Islam, berkata bahwa ketika dia pertama kali mendapat dorongan untuk menjadi penyair, jinnya menampakkan diri kepadanya, mengempaskannya ke tanah, dan mendorong kata-kata ilham keluar dari mulutnya. hanya inilah bentuk pengilhaman yang dikenal oleh Muhammad.

Bayangan bahwa dia mungkin telah menjadi majnun, dikuasai jin, memenuhi dirinya dengan rasa putus asa seakan-akan keinginannya untuk hidup pupus sudah. Dia sangat tidak menyenangi para kahin itu, yang biasanya mengeluarkan nubuat berupa kata-kata kosong yang tak masuk akal, dan dia pun sangat berhati-hati untuk membedakan Al-Quran dari syair-syair Arab konvensional.

Kini, sembari bergegas keluar dari gua, Muhammad merasa seakan ingin mengempaskan dirinya dari puncak bukit. Namun, di sisi bukit dia kembali melihat sesosok makhluk yang, kemudian, diidentifikasinya sebagai Malaikat Jibril:

Ketika aku berada di tengah jalan perbukitan,
aku mendengar suara dari langit berkata: “Hai
Muhammad! Engkau adalah utusan Tuhan dan aku
adalah Jibril.” Aku menengadahkan kepala ke
arah langit untuk melihat siapa yang
berbicara, dan, kulihat Jibril dalam rupa
seorang manusia dengan kaki di kedua sisi
ufuk ... aku berdiri memandangnya, tak bergerak
surut atau maju: kemudian aku memalingkan
wajah darinya, namun ke bagian langit mana
pun kulayangkan pandangan, dia tetap
terlihat»

Di dalam Islam, Jibril sering diidentifikasikan sebaga Ruh Suci pembawa wahyu, perantara yang melaluinya Tuhan berkomunikasi dengan manusia. Dia bukanlah malaikat naturalistik, melainkan hadir di mana-mana sehingga mustahil bisa melarikan diri darinya.

Muhammad telah mendapatkan pemahaman luar biasa tentang realitas ilahi, yang oleh nabi-nabi Ibrani disebut kaddosh, kesucian, keberbedaan Tuhan dari segala sesuatu. Ketika mengalaminya, mereka juga telah merasa begitu dekat dengan kematian dan berada dalam ketegangan fisik dan mental.

Akan tetapi, tidak seperti Yesaya atau Yeremia, Muhammad tidak memiliki penghibur berupa tradisi yang telah mapan untuk menyokongnya. Pengalaman yang menakutkan itu seolah-olah jatuh menimpanya secara tiba-tiba dan meninggalkannya dalam keadaan tercekam. Dalam deritanya, secara instingtif dia berpaling kepada istrinya, Khadijah.

Berjalan tertatih sambil gemetaran hebat, Muhammad menjatuhkan diri ke pangkuan istrinya, “Selimuti aku, selimuti aku!” serunya, memohon istrinya untuk melindungi dirinya.

Tatkala rasa takut mulai menghilang, Muhammad bertanya kepada Khadijah apakah dirinya betul-betul telah menjadi majnun. Khadijah bersegera memberi ketegasan: “Engkau adalah orang yang baik dan penuh perhatian kepada sanak saudaramu. Engkau menolong fakir miskin dan orang yang kesulitan, dan ikut memikul beban mereka. Engkau berupaya mengembalikan akhlak mulia yang nyaris hilang dari kaummu. Engkau menghormati tamu dan membantu orang-orang yang susah. Tak mungkin engkau (majnun)”4 Tuhan tidak bertindak dengan sewenang-wenang.

Khadijah menganjurkan agar mereka berkonsultasi dengan sepupunya, Waraqah, yang saat itu penganut Kristen dan mempelajari kitab suci. Waraqah sama sekali tidak sangsi: Muhammad telah menerima wahyu dari Tuhan Musa dan nabinabi lain, dan telah menjadi utusan ilahi bagi bangsa Arab.

Akhirnya, setelah melalui periode beberapa tahun, Muhammad menjadi yakin bahwa memang demikianlah halnya dan mulai mendakwahi kaum Quraisy, menghadirkan bagi mereka sebuah kitab suci dalam bahasa mereka sendiri.

Namun, tidak seperti Taurat yang menurut kisah biblikal diwahyukan kepada Musa dalam satu waktu secara sekaligus di gunung Sinai, Al-Quran diwahyukan kepada Muhammad secara sepenggal-sepenggal, sebaris demi sebaris dan seayat demi seayat dalam kurun waktu dua puluh tiga tahun.

Pewahyuan itu terus terjadi dalam pengalaman yang memberatkan. “Tak pernah aku menerima wahyu tanpa perasaan bahwa jiwaku seolah-olah akan tercerabut dari diriku,” ujar Muhammad beberapa tahun kemudian.”

Dia harus menyimak firman-firman suci itu dengan penuh perhatian, berusaha mendapatkan visi dan arti penting yang tidak selalu sampai kepadanya dalam bentuk verbal yang jelas.

Kadang-kadang, katanya, kandungan pesan Ilahi itu sangat jelas: dia seolah-olah melihat Jibril dan mendengar apa yang diucapkannya. Akan tetapi, pada waktu lain, wahyu itu sangat sulit diartikulasikan: “Kadang kala ia datang kepadaku bagaikan gema sebuah genta, dan itulah yang paling sulit: gema itu menyurut ketika aku telah sadar akan pesan yang disampaikan.”

Para penulis biografi pertama pada periode klasik sering memperlihatkan Muhammad menyimak secara tekun apa yang mungkin mesti kita sebut ungkapan alam bawah sadar dengan autoritas dan integritas yang secara misterius bukan merupakan bagian dari dirinya—persis seperti seorang penyair menjelaskan proses “penyimakan” sebuah puisi yang secara perlahan muncul dari ruang pikiran yang tersembunyi.

Di dalam Al-Quran, Tuhan memerintahkan Muhammad untuk mendengarkan makna yang tidak koheren itu dengan saksama dan dengan apa yang disebut oleh Wordsworth sebagai “kepasifan yang bijaksana”.' Dia tidak boleh tergesa-gesa memaksakan kata atau makna konseptual tertentu pada wahyu itu sebelum maknanya yang sejati terungkap pada saat yang tepat:

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-@uran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.

Sebagaimana semua bentuk kreativitas, ini juga merupakan proses yang sulit. Muhammad sering masuk ke keadaan trans dan kadang-kadang seakan kehilangan kesadaran: dia sering jadi berkeringat, bahkan di hari yang dingin, dan merasakan beban batin yang berat seperti duka yang mendorongnya untuk merunduk meletakkan kepala di antara kedua lututnya, sebuah posisi yang diambil oleh sebagian mistikus Yahudi kontemporer tatkala mereka masuk ke keadaan kesadaran yang berubah—meskipun Muhammad tentunya tidak mengetahui hal ini.

Tidak mengherankan jika Muhammad merasakan wahyu sebagai ketegangan yang begitu besar: dia bukan hanya sedang mengupayakan sebuah solusi politik yang sama sekali baru bagi umatnya, melainkan juga sedang menyusun salah satu karya sastra dan spiritual klasik terbesar sepanjang zaman.

Dia yakin bahwa dia tengah menyusun Firman Tuhan yang tak terucapkan ke dalam bahasa Arab, karena Al-Quran bersifat sentral bagi spiritualitas Islam sebagaimana halnya Yesus, sang logos, bagi Kristen.

Kita mengetahui lebih banyak tentang Muhammad dibanding para pendiri agama besar lainnya, dan, di dalam AlQuran, yang waktu turun berbagai surah atau bagiannya dapat diketahui dengan tingkat akurasi yang masuk akal, kita dapat melihat bagaimana visi Muhammad berevolusi secara perlahan dan menjadi semakin universal dalam cakupannya.

Pada awalnya dia tidak melihat lingkup tugas yang harus dipikulnya, karena hal itu diperlihatkan kepadanya sedikit demi sedikit, seiring responsnya terhadap logika batin peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Di dalam Al-Quran, kita bisa menemukan komentar orang-orang sezaman tentang awal kedatangan Islam yang unik dalam sejarah agama. Di dalam kitab suci ini, Tuhan tampaknya menjelaskan tentang perkembangan situasi: dia menjawab para pengkritik Muhammad, menguraikan makna suatu peperangan atau konflik yang terjadi di dalam masyarakat Islam generasi pertama, dan menunjukkan dimensi ilahiah kehidupan manusia.

Al-Quran tidak turun kepada Muhammad dalam susunan seperti yang kita jumpai pada masa sekarang, tetapi dalam susunan yang lebih acak, sesuai peristiwa-peristiwa yang datang dan penyimakannya atas makna yang lebih dalam.

Setiap kali bagian baru diwahyukan, Muhammad, yang tidak bisa membaca atau menulis, akan mengucapkannya keras-keras. Kaum Muslim pun menghafalnya sedangkan beberapa sahabat yang bisa bacatulis menyalinnya.

Sekitar dua puluh tahun setelah wafatnya Muhammad, kompilasi resmi pertama atas wahyu ini diselesaikan. Para editor meletakkan surah-surah terpanjang pada bagian awal dan yang tersingkat di bagian akhir.

Susunan seperti ini tidaklah seacak kelihatannya, karena Al-Quran bukanlah sebuah narasi atau argumen yang membutuhkan tatanan berurutan. Susunan itu merefleksikan berbagai tema: kehadiran Tuhan di dunia, kehidupan para nabi, atau hari Akhir.

Bagi orang yang tidak bisa mengapresiasi keindahan bahasa Arab yang luar biasa, Al-Quran tampak membosankan dan bertele-tele karena sering mengulangulang tema yang sama. Namun, Al-Quran tidak dimaksudkan untuk menjadi bahan kajian secara pribadi, tetapi untuk pembacaan liturgis.

Ketika kaum Muslim mendengar sebuah surah dibacakan di dalam masjid, mereka diingatkan kembali kepada semua ajaran inti keimanan mereka.

Ketika mulai berdakwah di Makkah, Muhammad hanya memiliki konsep yang sangat sederhana tentang perannya. Dia tidak berpikir bahwa dirinya tengah membangun sebuah agama universal, melainkan keyakinan kuno yang mengajarkan keesaan Tuhan kepada orang-orang Quraisy. Pada mulanya dia bahkan tak pernah mengira harus berdakwah kepada suku-suku Arab selain penduduk Makkah dan sekitarnya.? Dia tak pernah bermimpi akan membangun sebuah teokrasi dan mungkin sama sekali tidak mengetahui apa teokrasi itu: dia sendiri tak mesti memiliki fungsi politik di dalam pemerintahan, kecuali sebagai seorang nadzir, pemberi peringatan.!9 Allah telah mengutusnya untuk memperingatkan kaum Quraisy tentang situasi berbahaya yang tengah mereka hadapi. Akan tetapi, pesan awal yang disampaikannya bukanlah tentang musibah dan bencana, melainkan tentang harapan yang membahagiakan.

Muhammad tidak harus membuktikan eksistensi Tuhan kepada kaum Quraisy. Mereka secara implisit telah beriman kepada Allah, yang menciptakan langit dan bumi, dan kebanyakan dari mereka meyakininya sebagai Tuhan yang disembah oleh orang Yahudi maupun Kristen. Keberadaannya telah diterima begitu saja. Sebagaimana firman Tuhan kepada Muhammad pada sebuah surah awal di dalam Al-Quran:

Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada
mereka: “Siapakah yang menjadikan langit dan
bumi dan menundukkan matahari dan bulan?”
Tentu mereka akan menjawab: “Allah,” maka
betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari
jalan yang benar).

Dan sesungguhnya Jika kamu menanyakan kepada
mereka: “Siapakah yang menurunkan air dari
langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi
sesudah matinya?” Tentu mereka akan menjawab:
“Allah,” tetapi kebanyakan mereka tidak
memahami (nya).''

Persoalannya adalah, kaum Quraisy tidak memikirkan implikasi kepercayaan mereka itu. Tuhan telah menciptakan mereka dari setetes air mani, seperti dijelaskan oleh wahyu yang pertama diturunkan: mereka bergantung kepada rezeki dan perlindungan dari Tuhan, namun mereka masih menganggap diri sebagai pusat jagat raya berdasarkan praduga yang tidak realistis (yatga) dan rasa sombong berlebihan (istaghna)2 tanpa memedulikan tanggung jawab mereka sebagai anggota masyarakat Arab yang terhormat.

Oleh karena itu, semua ayat pertama Al-Quran menganjurkan kaum Quraisy agar menyadari rahmat Tuhan yang dapat mereka lihat ke mana pun mata mereka memandang. Mereka akan sadar betapa banyak mereka masih berutang kepada Tuhan di tengah kesuksesan besar yang telah mereka capai, dan akan mengapresiasi kebergantungan mutlak mereka kepada Pencipta tatanan alam:

Binasalah manusia; alangkah amat sangat
kekafirannya! Dari apakah Allah
menciptakannya ?

Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu
menentukannya. Kemudian Dia memudahkan
jalannya, kemudian Dia mematikannya dan
memasukkannya ke dalam kubur, kemudian bila
Dia menghendaki, Dia membangkitkannya
kembali.

Sekali-kali jangan; manusia LEQ belum
melaksanakan apa yang diperintahkan Allah
kepadanya.

Maka hendaklah manusia itu memperhatikan
makanannya. Sesungguhnya Kami telah benarbenar mencurahkan air (dari langit), kemudian
Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu
Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu,
anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan pohon
kurma, kebun-kebun yang lebat, dan buahbuahan serta rumput-rumputan, untuk
kesenanganmu dan untuk binatang-binatang
ternakmu. 8

Oleh karena itu, yang jadi persoalan bukanlah pengakuan atas keberadaan Tuhan. Di dalam Al-Quran, “orang yang ingkar" (kafir bi ni'mah Allah) bukanlah orang ateis dalam pengertian yang lazim kita pahami atas kata tersebut, yakni orang yang tidak percaya kepada Tuhan, melainkan orang yang tidak bersyukur kepadanya, yang mampu melihat dengan jelas apa yang telah dilimpahkan Allah kepadanya, tetapi menolak untuk mengagungkannya dengan semangat pembangkangan yang tak berterima kasih.

Al-Quran tidak mengajarkan sesuatu yang baru kepada kaum Quraisy. Bahkan, kitab itu dengan teguh mengklaim sebagai “pengingat” akan hal-hal yang telah diketahui, yang diungkapkannya dengan lebih jelas. Kadang-kadang Al-Quran membuka suatu topik dengan anak kalimat: “Apakah kalian tidak melihat ...?” atau “Apakah kalian tidak berpikir ...?” Firman Tuhan tidak sekadar mengeluarkan perintah-perintah yang arbitrer dari atas, tetapi mengajak orang-orang Quraisy untuk berdialog.

Al-Quran, misalnya, memperingatkan mereka bahwa Ka'bah, rumah Allah, sangat berpengaruh terhadap keberhasilan mereka yang pada hakikatnya merupakan karunia Tuhan. Kaum Quraisy senang menyelenggarakan thawaf mengelilingi tempat suci itu, tetapi ketika mereka meletakkan diri dan keberhasilan material mereka sendiri di pusat kehidupan, mereka lupa akan makna ritusritus kuno ini. Mereka harus melihat “tanda-tanda” (ayat) rahmat dan kekuasaan Tuhan di alam semesta. Jika mereka gagal mewujudkan kembali rahmat Tuhan dalam masyarakat mereka sendiri, mereka takkan dapat menangkap hakikat dari segala sesuatu.

Oleh karena itu, para pengikut Muhammad diperintahkan untuk menunaikan ibadah shalat. Gerakan-gerakan eksternal ini akan membantu seorang Muslim menanamkan sikap batin dan menetapkan kembali arah kehidupan mereka.

Agama Muhammad dikenal dengan nama islam, kepasrahan eksistensial yang diharapkan untuk diberikan setiap Muslim kepada Allah: seorang muslim adalah seseorang yang menyerahkan segenap dirinya kepada Sang Pencipta. Kaum Quraisy terkejut ketika melihat umat Muslim generasi pertama melakukan shalat: mereka tidak bisa menerima bahwa anggota suku Quraisy yang selama berabad-abad telah membanggakan Independensi Badui harus tersungkur bersujud di atas tanah seperti seorang budak. Hal ini mengakibatkan kaum Muslim harus menarik diri ke lembah-lembah kecil tersembunyi di sekitar kota untuk melaksanakan shalat secara rahasia. Reaksi kaum Quraisy memperlihatkan bahwa Muhammad telah mendiagnosis spirit mereka dengan sangat tepat.

Dalam praktiknya, islam berarti bahwa kaum Muslim memiliki kewajiban untuk menciptakan masyarakat yang adil dan setara di mana orang-orang miskin dan lemah diperlakukan secara layak. Pesan moral Al-Quran yang pertama sederhana saja: janganlah menimbun kekayaan dan mencari keuntungan bagi diri sendiri, tetapi bagilah kemakmuran secara merata dengan menyedekahkan sebagian harta kepada fakir miskin.14 Zakat dan shalat merupakan dua dari lima rukun atau prinsip ajaran Islam.

Seperti halnya nabi-nabi Ibrani, Muhammad menyiarkan sebuah etika yang bisa kita sebut sosialis sebagai konsekuensi dari penyembahan kepada satu Tuhan. Tak ada doktrin-doktrin tentang Tuhan yang bersifat wajib: bahkan, Al-Quran sangat mewaspadai spekulasi teologis, mengesampingkannya sebagai zhanna, yaitu menduga-duga tentang sesuatu yang tak mungkin diketahui atau dibuktikan oleh siapa pun. Doktrin Kristen tentang Inkarnasi dan Trinitas tampaknya merupakan contoh pertama zhanna dan tidak mengherankan jika umat Muslim memandang ajaran-ajaran itu sebagai penghujatan.

Sebaliknya, sebagaimana di dalam Yudaisme, Tuhan dialami sebagai dorongan untuk menegakkan moral. Meskipun hampir tak pernah berhubungan dengan orang Yahudi atau Nasrani maupun kitab-kitab suci mereka, Muhammad telah langsung menerobos ke dalam inti monoteisme historis.

Akan tetapi, di dalam Al-Quran, Allah tampil lebih impersonal daripada YHWH. Dia tidak dicirikan oleh sedih dan senang seperti Tuhan biblikal. Kita hanya mungkin memahami sesuatu mengenai Tuhan melalui “tanda-tanda” alam, dan begitu transendennya Tuhan sehingga kita hanya bisa membicarakannya melalui “perumpamaan”.

Oleh karena itu, Al-Quran berulang-ulang mengimbau kaum Muslim untuk melihat alam sebagai penampakan Tuhan (epiphany); mereka harus menggunakan upaya imajinatif untuk melihat melalui dunia yang beraneka ini wujud asal yang utuh, realitas transenden yang menapasi segala sesuatu. Kaum Muslim diajak untuk menumbuhkan sikap sakramental atau simbolik:

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan
bumi, silih bergantinya malam dan siang,
bahtera yang berlayar di laut membawa apa
yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah
turunkan dari langit berupa air, lalu dengan
air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati
(kering)nya, dan Dia sebarkan di bumi itu
segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan
awan yang dikendalikan antara langit dan
bumi: sungguh (terdapat) tandatanda [ayat]
(keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang
memikirkan.!

Al-Quran selalu menekankan perlunya penggunaan akal dalam menguraikan “tanda” atau “pesan” dari Tuhan. Kaum Muslim tidak boleh merendahkan akal mereka, tetapi harus mengamati alam dengan penuh perhatian dan keingintahuan. Sikap inilah yang membuat umat Muslim generasi berikutnya mampu membangun tradisi ilmu pengetahuan alam yang baik, yang tak pernah dianggap sebagai ancaman terhadap agama sebagaimana yang terjadi di dunia Kristen.

Kajian tentang sistem kerja alam menunjukkan bahwa alam ini memiliki dimensi dan sumber transenden, yang hanya dapat kita bicarakan melalui tanda-tanda dan simbol-simbol: bahkan kisah para nabi, ajaran tentang hari Kiamat, dan kesenangan-kesenangan surgawi tidak boleh diinterpretasikan secara harfiah, tetapi sebagai perumpamaan tentang realitas yang lebih tinggi dan tak terlukiskan.

Namun, yang paling besar dari semua tanda adalah Al-Quran itu sendiri: bahkan bagian-bagian terkecilnya yang disebut ayat. Orang Barat memandang Al-Quran sebagai kitab yang sulit, dan ini terutama berkaitan dengan masalah penerjemahan. Bahasa Arab memang sulit dan terasa janggal ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, misalnya, dan lebih-lebih lagi karena Al-Quran yang memiliki gaya bahasa padat, penuh kiasan, dan ungkapan-ungkapan yang tidak langsung.

Surah-surah pertama khususnya memberikan kesan bahwa bahasa manusia tertatihtatih dan kepayahan untuk menyampaikan pesan ilahi. Kaum Muslim sering mengatakan bahwa ketika mereka membaca terjemahan Al-Quran, mereka merasa seperti membaca kitab yang berbeda karena tak ada lagi kandungan keindahan bahasa Arabnya yang tersampaikan.

Sebagaimana tersirat dari namanya, Al-Quran ditujukan untuk dibaca dengan suara keras, dan pengaruh yang timbul dari bunyi bahasa itu merupakan bagian penting dari kitab suci ini. Kaum Muslim mengatakan bahwa tatkala mereka mendengar Al-Quran dibacakan di dalam masjid, mereka merasa dilingkupi oleh suara yang berdimensi ilahiah, nyaris seperti Muhammad ketika didekap oleh Jibril di Gua Hira atau ketika dia melihat malaikat memenuhi seluruh penjuru ufuk.

Al-Quran bukanlah sebuah kitab yang dibaca sekadar untuk memperoleh informasi. Membaca Al-Quran dimaksudkan untuk memetik rasa tentang yang ilahi, dan karenanya tidak untuk dibaca dengan tergesa-gesa:

Dan demikianlah Kami menurunkan Al-Quran
dalam bahasa Arab, dan Kami telah menerangkan
dengan berulangulang di dalamnya sebagian
dari ancaman, agar mereka bertakwa atau
(agar) Al-Quran itu menimbulkan pengajaran
bagi mereka.

Maka, Mahatinggi Allah Raja yang
sebenarbenarnya, dan janganlah kamu
tergesagesa membaca Al-Quran sebelum
disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan
katakanlah: “Ya tuhanku, tambahkanlah
kepadaku ilmu pengetahuan.”

Dengan mendekati Al-Quran dalam cara yang benar, kaum Muslim mengakui bahwa mereka betul-betul mengalami rasa transendensi, tentang realitas dan kekuatan tertinggi di balik fenomena dunia fana yang rentan dan sementara.

Oleh karena itu, membaca Al-Quran merupakan latihan spiritual yang sukar dipahami oleh orang Kristen karena mereka tak memiliki bahasa sakral seperti halnya orang-orang Yahudi, Hindu, dan Muslim. Yesuslah yang menjadi Firman Tuhan, dan tak ada yang suci dalam Perjanjian Baru yang berbahasa Yunani itu.

Akan tetapi, orang Yahudi mempunyai sikap yang sama terhadap Taurat. Tatkala mereka mengkaji lima kitab pertama dari Alkitab, mereka tidak sekadar melayangkan pandangan ke halaman demi halaman. Mereka sering melantunkan firman-firman itu dengan suara keras, menikmati kata-kata yang diyakini telah diucapkan oleh Tuhan sendiri ketika dia memperlihatkan dirinya kepada Musa di Sinai.

Kadang kala mereka berayun ke belakang dan ke depan, seperti nyala api di depan embusan napas sang Ruh. Tak diragukan lagi bahwa orang Yahudi yang membaca Alkitab mereka dengan cara seperti ini memperoleh pengalaman yang berbeda tentang kitab suci dibandingkan dengan orang Kristen yang memandang lima Kitab Musa sebagai bagian yang membosankan dan tak jelas.

Like

1

Love

2

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment