Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan
BAB 4 : TRINITAS : TUHAN KRISTEN
Sekitar tahun 320, gairah teologis yang membara merasuki gerejagereja di Mesir, Siria, dan Asia Kecil. Para pelaut dan pelancong melantunkan senandung masyhur yang menyatakan Tuhan yang sejati hanyalah sang Bapa, yang tidak dapat dijangkau dan unik, tetapi sang Putra tidaklah abadi dan bukannya tidak diciptakan, karena dia mendapat kehidupan dan wujud dari sang Bapa.
Kita mendengar tentang penjaga tempat pemandian yang menceramahi para pengunjung bahwa sang Putra berasal dari ketiadaan: tentang seorang penukar uang yang, ketika ditanya tentang nilai tukar, malah memberi pengantar jawabannya dengan uraian panjang tentang perbedaan antara tatanan yang diciptakan dengan Tuhan yang tidak diciptakan, juga seorang tukang roti yang memberitahukan pelanggannya bahwa Bapa lebih agung daripada sang Putra.
Mereka mendiskusikan persoalan pelik ini dengan semangat yang sama seperti orang-orang memperbincangkan sepak bola di masa sekarang. |
Kontroversi ini disulut oleh Arius, seorang pemuka gereja yang tampan dan karismatik dari Aleksandria, yang memiliki suara lembut, menawan, dan wajah yang sangat melankolis. Dia melemparkan sebuah tantangan yang oleh uskupnya, Aleksander, tidak mungkin diabaikan, tetapi akan lebih sulit lagi untuk dijawab: bagaimana mungkin Yesus Kristus menjadi Tuhan dalam cara yang sama dengan Tuhan Bapa?
Arius tidak menyangkal ketuhanan Kristus; bahkan, dia menyebut Yesus “Tuhan kuat” dan “Tuhan sepenuhnya”,? tetapi berpendapat bahwa meyakini dia itu ilahiah secara hakikinya merupakan suatu penghujatan: Yesus sendiri secara spesifik telah mengatakan bahwa Tuhan Bapa itu lebih agung daripada dirinya.
Aleksander dan asistennya yang brilian, Athanasius, segera menyadari bahwa ini tidak lebih dari pernik-pernik teologis semata. Arius telah mengajukan persoalan vital menyangkut hakikat Tuhan. Sementara itu, Arius, seorang propagandis yang mahir, telah meramu gagasannya ke dalam bentuk yang populer, dan tak lama kemudian kaum awam pun memperdebatkan isu tersebut dengan tak kalah hangatnya dibandingkan dengan uskup-uskup mereka.
Kontroversi itu menjadi begitu memanas sehingga Kaisar Konstantin sendiri turun tangan dan mengimbau penyelenggaraan sebuah sinode di Nicaea, di kawasan Turki modern, untuk membahas masalah ini.
Pada masa sekarang, nama Arius menjadi kata lain untuk bid'ah, tetapi pada saat konflik itu merebak belum ada posisi ortodoks yang resmi dan sama sekali tak bisa dipastikan mengapa, atau bahkan apakah, Arius salah. Sebetulnya tak ada yang baru dalam klaimnya: Origen, orang yang dihormati oleh kedua pihak yang berseberangan, pernah mengajarkan doktrin yang mirip.
Akan tetapi, iklim intelektual di Aleksandria telah berubah sejak masa Origen dan orang-orang tidak lagi yakin bahwa Tuhan Plato dapat berhasil disandingkan dengan Tuhan Alkitab. Arius, Aleksander, dan Athanasius, misalnya, mempercayai sebuah doktrin yang pasti mengejutkan setiap orang yang penganut Platonis: mereka beranggapan bahwa Tuhan telah menciptakan alam dari ketiadaan (ex nihilo) dengan mendasarkan pendapat mereka pada kitab suci.
Pada kenyataannya, Kitab Kejadian tidak memuat klaim semacam ini. Penulis tradisi Para Imam pernah menyiratkan bahwa Tuhan telah menciptakan alam dari kekacauan primordial, tetapi ajaran bahwa Tuhan menghadirkan seluruh alam dari sebuah kehampaan absolut sepenuhnya merupakan pendapat yang baru.
Gagasan ini asing bagi pemikiran Yunani dan tak pernah diajarkan oleh para teolog semacam Clement dan Origen, yang berpegang pada skema emanasi Platonis. Namun pada abad keempat, orang Kristen mulai sependapat dengan kaum gnostis bahwa dunia ini secara inheren rentan, tak sempurna, dan terpisah dari Tuhan oleh suatu jurang yang sangat lebar.
Doktrin baru penciptaan ex nihilo ini menekankan pandangan tentang kosmos yang pada dasarnya lemah dan sepenuhnya bergantung kepada Tuhan untuk mewujud dan hidup. Tuhan dan kemanusiaan tak lagi serumpun, sebagaimana dalam pemikiran Yunani.
Tuhan menciptakan setiap satu wujud dari ketiadaan tak bertepi, dan kapan pun dia bisa menarik kembali tangannya yang memberi sokongan. Tak ada lagi mata rantai wujud yang secara abadi beremanasi dari Tuhan. Tak ada lagi perantara alam wujud-wujud spiritual yang mengalirkan kekuatan mana ilahi kepada dunia.
Manusia tak dapat lagi mendaki mata rantai wujud menuju Tuhan dengan usaha mereka sendiri. Hanya Tuhan, yang telah menarik mereka dari ketiadaan pada awalnya dan menjaga mereka agar terus mewujud, yang bisa menjamin keselamatan abadi mereka.
Orang Kristen mengetahui bahwa Yesus Kristus telah menyelamatkan mereka melalui kematian dan kebangkitannya; mereka telah diselamatkan dari kebinasaan dan pada suatu masa akan ikut dalam eksistensi Tuhan, yang Ada dan hidup dengan sendirinya.
Lewat suatu cara Kristus telah membuat mereka mampu menyeberangi jurang lebar yang memisahkan Tuhan dari manusia. Pertanyaannya adalah, bagaimana cara dia melakukan hal itu?
Pada sisi mana dari Jurang lebar itu dia berada?
Kini tak ada lagi Pleroma, tempat yang berisikan para perantara dan aeonaeon. Apakah Kristus, sang Firman, tergolong ke dalam alam suci (yang kini merupakan wilayah Tuhan sendirian) atau tergolong ke dalam tatanan ciptaan yang rentan.
Arius dan Athanasius meletakkannya pada sisi yang berseberangan: Athanasius pada alam suci, sedangkan Arius memilih tatanan makhluk.
Arius bermaksud menekankan perbedaan esensial antara Tuhan yang unik dan semua makhluk ciptaannya. Seperti tertulis dalam suratnya kepada Uskup Aleksander, Tuhan adalah “satu-satunya yang tidak memperanakkan, satu-satunya yang abadi, satusatunya yang tak berawal, satu-satunya kebenaran, satu-satunya yang memiliki keabadian, satu-satunya yang bijak, satu-satunya yang baik, dan satu-satunya yang kuasa”.
Arius menguasai isi kitab suci dengan baik dan dia mempersenjatai argumennya dengan teks-teks kitab suci untuk mendukung klaimnya bahwa Kristus sang Firman tak lain adalah makhluk seperti kita semua.
Sebuah ayat kunci adalah deskripsi tentang hikmat suci dalam Kitab Amsal, yang menyatakan secara eksplisit bahwa Tuhan telah menciptakan hikmat sejak dahulu kala.“ Teks itu juga menyatakan bahwa hikmat merupakan sarana penciptaan, sebuah gagasan yang diulang lagi dalam prolog Injil Yohanes.
Firman itu telah ada bersama Allah sejak semula:
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia,
Dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah
jadi.
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
Logos merupakan instrumen yang digunakan Tuhan untuk membuat segala ciptaan menjadi ada. Oleh karena itu, ia sepenuhnya berbeda dari wujud-wujud lain dan memiliki status sangat tinggi. Namun karena diciptakan oleh Tuhan, logos secara esensial berbeda dari Tuhan itu sendiri.
Yohanes mempertegas bahwa Yesus adalah logos; dia juga mengatakan bahwa logos itu adalah Allah. Sungguhpun demikian, menurut Arius, Yesus bukanlah tuhan dalam hakikatnya, tetapi diangkat Tuhan ke status ilahiah.
Dia berbeda dengan kita semua karena Tuhan telah menciptakannya secara langsung, sedangkan makhluk-makhluk lain diciptakan melalui dia. Tuhan telah mengetahui bahwa jika logos menjadi manusia, dia akan mematuhi Tuhan secara sempurna.
Oleh karena itu, Tuhan telah, bisa dikatakan demikian, menganugerahkan kesucian kepada Yesus sejak semula. Akan tetapi, kesucian Yesus bukanlah alamiah baginya: itu hanyalah sebuah pemberian atau karunia.
Lagi-lagi, Arius dapat menampilkan banyak teks yang tampaknya menopang pandangan ini. Kenyataan bahwa Yesus telah menyebut Allah sebagai “Bapa”nya mengimplikasikan sebuah perbedaan: kebapakan pada dasarnya menyiratkan eksistensi yang lebih dahulu dan menunjukkan superioritas terhadap anak.
Arius juga mengetengahkan ayat-ayat biblikal yang menekankan kerendahan hati dan kerentanan Kristus.
Arius tak bermaksud merendahkan Yesus, sebagaimana dituduhkan oleh musuh-musuhnya. Dia mempunyai pandangan luhur tentang keutamaan dan kerelaan pengurbanan Yesus, yang diyakini menjadi jaminan keselamatan manusia.
Tuhan Arius menyerupai Tuhan para filosof Yunani, yang jauh dan sangat transenden terhadap dunia: karena itu pula dia menganut konsep Yunani tentang penyelamatan.
Kaum Stoa, misalnya, selalu mengajarkan bahwa adalah mungkin bagi manusia yang baik untuk menjadi kudus. Ini juga merupakan hal yang esensial dalam pandangan Platonis.
Arius secara antusias percaya bahwa orang Kristen telah diselamatkan dan dijadikan suci, ikut memiliki hakikat ilahi. Ini hanya mungkin karena Yesus telah merintiskan sebuah jalan bagi manusia.
Dia telah menjalani kehidupan seorang manusia sempurna, dia telah mematuhi Allah bahkan hingga kematian di kayu salib: seperti dikatakan oleh Paulus, adalah karena kepatuhannya hingga mati maka Allah sangat meninggikannya dan mengaruniakan kepadanya gelar Tuhan (kyrios).'
Andaikata Yesus bukan seorang manusia, takkan ada harapan buat kita. Tak ada yang bisa kita teladani dari hidupnya jika dia memang adalah Tuhan secara hakiki.
Justru dengan merenungkan kehidupan Kristus yang sarat dengan nilai-nilai kepatuhan seorang anak, maka orang Kristen dapat menjadikan diri mereka pun ilahiah. Dengan meneladani Kristus, makhluk yang sempurna, mereka juga bisa menjadi “makhluk ciptaan Allah dengan kesempurnaan yang tak dapat diubah dan tak dapat berubah’.®
Namun, Athanasius memiliki pandangan yang kurang optimis terhadap kapasitas manusia di hadapan Tuhan. Dia memandang kemanusiaan secara inheren merupakan sesuatu yang rapuh: kita berasal dari ketiadaan dan akan kembali ke dalam ketiadaan jika kita berdosa.
Oleh karena itu, ketika merenungkan makhluknya, Tuhan,
melihat bahwa seluruh alam ciptaan, jika
dibiarkan berjalan dengan sendirinya, akan
berubah dan bisa mengalami kehancuran. Untuk
mencegah ini dan menjaga agar alam semesta
tidak kembali menjadi tiada, dia ciptakan
segala sesuatu dengan logos-nya sendiri yang
abadi dan mengaruniakan wujud kepada
ciptaan
Hanya dengan cara turut serta dalam Tuhan, melalui /ogos-nya, manusia bisa terhindar dari ketiadaan karena Tuhan sajalah yang merupakan Wujud sempurna.
Jika logos pun merupakan makhluk biasa, dia tak akan mampu menyelamatkan manusia dari kebinasaan. Logos dibuat menjadi daging untuk memberi hidup kepada kita.
Dia telah turun ke alam manusia yang tidak abadi untuk memberi kita bagian dalam ketidakberubahan dan keabadian Tuhan.
Namun, pembebasan ini mustahil adanya jika logos sendiri adalah makhluk rentan, yang juga dapat jatuh ke dalam ketiadaan.
Baca Juga: Lighten PDF Converter OCR 6.1.1 Full Version
Hanya dia yang telah menciptakan dunialah yang mampu menyelamatkannya, dan itu berarti bahwa Kristus, logos yang mendaging, pastilah berhakikat sama dengan Tuhan Bapa.
Sebagaimana dikatakan Athanasius, Firman dibuat menjadi manusia dengan tujuan agar kita bisa menjadi kudus
Sekitar tahun 320, gairah teologis yang membara merasuki gerejagereja di Mesir, Siria, dan Asia Kecil. Para pelaut dan pelancong melantunkan senandung masyhur yang menyatakan Tuhan yang sejati hanyalah sang Bapa, yang tidak dapat dijangkau dan unik, tetapi sang Putra tidaklah abadi dan bukannya tidak diciptakan, karena dia mendapat kehidupan dan wujud dari sang Bapa.
Kita mendengar tentang penjaga tempat pemandian yang menceramahi para pengunjung bahwa sang Putra berasal dari ketiadaan: tentang seorang penukar uang yang, ketika ditanya tentang nilai tukar, malah memberi pengantar jawabannya dengan uraian panjang tentang perbedaan antara tatanan yang diciptakan dengan Tuhan yang tidak diciptakan, juga seorang tukang roti yang memberitahukan pelanggannya bahwa Bapa lebih agung daripada sang Putra. Mereka mendiskusikan persoalan pelik ini dengan semangat yang sama seperti orang-orang memperbincangkan sepak bola di masa sekarang.
Kontroversi ini disulut oleh Arius, seorang pemuka gereja yang tampan dan karismatik dari Aleksandria, yang memiliki suara lembut, menawan, dan wajah yang sangat melankolis. Dia melemparkan sebuah tantangan yang oleh uskupnya, Aleksander, tidak mungkin diabaikan, tetapi akan lebih sulit lagi untuk dijawab: bagaimana mungkin Yesus Kristus menjadi Tuhan dalam cara yang sama dengan Tuhan Bapa?
Arius tidak menyangkal ketuhanan Kristus; bahkan, dia menyebut Yesus “Tuhan kuat” dan “Tuhan sepenuhnya”,? tetapi berpendapat bahwa meyakini dia itu ilahiah secara hakikinya merupakan suatu penghujatan: Yesus sendiri secara spesifik telah mengatakan bahwa Tuhan Bapa itu lebih agung daripada dirinya. Aleksander dan asistennya yang brilian, Athanasius, segera menyadari bahwa ini tidak lebih dari pernik-pernik teologis semata. Arius telah mengajukan persoalan vital menyangkut hakikat Tuhan.
Sementara itu, Arius, seorang propagandis yang mahir, telah meramu gagasannya ke dalam bentuk yang populer, dan tak lama kemudian kaum awam pun memperdebatkan isu tersebut dengan tak kalah hangatnya dibandingkan dengan uskup-uskup mereka.
Kontroversi itu menjadi begitu memanas sehingga Kaisar Konstantin sendiri turun tangan dan mengimbau penyelenggaraan sebuah sinode di Nicaea, di kawasan Turki modern, untuk membahas masalah ini.
Pada masa sekarang, nama Arius menjadi kata lain untuk bid'ah, tetapi pada saat konflik itu merebak belum ada posisi ortodoks yang resmi dan sama sekali tak bisa dipastikan mengapa, atau bahkan apakah, Arius salah. Sebetulnya tak ada yang baru dalam klaimnya: Origen, orang yang dihormati oleh kedua pihak yang berseberangan, pernah mengajarkan doktrin yang mirip.
Akan tetapi, iklim intelektual di Aleksandria telah berubah sejak masa Origen dan orang-orang tidak lagi yakin bahwa Tuhan Plato dapat berhasil disandingkan dengan Tuhan Alkitab. Arius, Aleksander, dan Athanasius, misalnya, mempercayai sebuah doktrin yang pasti mengejutkan setiap orang yang penganut Platonis: mereka beranggapan bahwa Tuhan telah menciptakan alam dari ketiadaan (ex nihilo) dengan mendasarkan pendapat mereka pada kitab suci.
Pada kenyataannya, Kitab Kejadian tidak memuat klaim semacam ini. Penulis tradisi Para Imam pernah menyiratkan bahwa Tuhan telah menciptakan alam dari kekacauan primordial, tetapi ajaran bahwa Tuhan menghadirkan seluruh alam dari sebuah kehampaan absolut sepenuhnya merupakan pendapat yang baru.
Gagasan ini asing bagi pemikiran Yunani dan tak pernah diajarkan oleh para teolog semacam Clement dan Origen, yang berpegang pada skema emanasi Platonis. Namun pada abad keempat, orang Kristen mulai sependapat dengan kaum gnostis bahwa dunia ini secara inheren rentan, tak sempurna, dan terpisah dari Tuhan oleh suatu jurang yang sangat lebar.
Doktrin baru penciptaan ex nihilo ini menekankan pandangan tentang kosmos yang pada dasarnya lemah dan sepenuhnya bergantung kepada Tuhan untuk mewujud dan hidup. Tuhan dan kemanusiaan tak lagi serumpun, sebagaimana dalam pemikiran Yunani. Tuhan menciptakan setiap satu wujud dari ketiadaan tak bertepi, dan kapan pun dia bisa menarik kembali tangannya yang memberi sokongan.
Tak ada lagi mata rantai wujud yang secara abadi beremanasi dari Tuhan. Tak ada lagi perantara alam wujud-wujud spiritual yang mengalirkan kekuatan mana ilahi kepada dunia. Manusia tak dapat lagi mendaki mata rantai wujud menuju Tuhan dengan usaha mereka sendiri.
Hanya Tuhan, yang telah menarik mereka dari ketiadaan pada awalnya dan menjaga mereka agar terus mewujud, yang bisa menjamin keselamatan abadi mereka.
Orang Kristen mengetahui bahwa Yesus Kristus telah menyelamatkan mereka melalui kematian dan kebangkitannya; mereka telah diselamatkan dari kebinasaan dan pada suatu masa akan ikut dalam eksistensi Tuhan, yang Ada dan hidup dengan sendirinya. Lewat suatu cara Kristus telah membuat mereka mampu menyeberangi jurang lebar yang memisahkan Tuhan dari manusia.
Pertanyaannya adalah, bagaimana cara dia melakukan hal itu? Pada sisi mana dari Jurang lebar itu dia berada? Kini tak ada lagi Pleroma, tempat yang berisikan para perantara dan aeonaeon.
Apakah Kristus, sang Firman, tergolong ke dalam alam suci (yang kini merupakan wilayah Tuhan sendirian) atau tergolong ke dalam tatanan ciptaan yang rentan. Arius dan Athanasius meletakkannya pada sisi yang berseberangan: Athanasius pada alam suci, sedangkan Arius memilih tatanan makhluk.
Arius bermaksud menekankan perbedaan esensial antara Tuhan yang unik dan semua makhluk ciptaannya. Seperti tertulis dalam suratnya kepada Uskup Aleksander, Tuhan adalah “satu-satunya yang tidak memperanakkan, satu-satunya yang abadi, satusatunya yang tak berawal, satu-satunya kebenaran, satu-satunya yang memiliki keabadian, satu-satunya yang bijak, satu-satunya yang baik, dan satu-satunya yang kuasa”.
Arius menguasai isi kitab suci dengan baik dan dia mempersenjatai argumennya dengan teks-teks kitab suci untuk mendukung klaimnya bahwa Kristus sang Firman tak lain adalah makhluk seperti kita semua.
Sebuah ayat kunci adalah deskripsi tentang hikmat suci dalam Kitab Amsal, yang menyatakan secara eksplisit bahwa Tuhan telah menciptakan hikmat sejak dahulu kala.“ Teks itu juga menyatakan bahwa hikmat merupakan sarana penciptaan, sebuah gagasan yang diulang lagi dalam prolog Injil Yohanes.
Firman itu telah ada bersama Allah sejak semula:
Segala sesuatu dijadikan oleh Dia,
Dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi.
Logos merupakan instrumen yang digunakan Tuhan untuk membuat segala ciptaan menjadi ada. Oleh karena itu, ia sepenuhnya berbeda dari wujud-wujud lain dan memiliki status sangat tinggi. Namun karena diciptakan oleh Tuhan, logos secara esensial berbeda dari Tuhan itu sendiri.
Yohanes mempertegas bahwa Yesus adalah logos; dia juga mengatakan bahwa logos itu adalah Allah. Sungguhpun demikian, menurut Arius, Yesus bukanlah tuhan dalam hakikatnya, tetapi diangkat Tuhan ke status ilahiah.
Dia berbeda dengan kita semua karena Tuhan telah menciptakannya secara langsung, sedangkan makhluk-makhluk lain diciptakan melalui dia. Tuhan telah mengetahui bahwa jika logos menjadi manusia, dia akan mematuhi Tuhan secara sempurna. Oleh karena itu, Tuhan telah, bisa dikatakan demikian, menganugerahkan kesucian kepada Yesus sejak semula.
Akan tetapi, kesucian Yesus bukanlah alamiah baginya: itu hanyalah sebuah pemberian atau karunia. Lagi-lagi, Arius dapat menampilkan banyak teks yang tampaknya menopang pandangan ini.
Kenyataan bahwa Yesus telah menyebut Allah sebagai “Bapa”nya mengimplikasikan sebuah perbedaan: kebapakan pada dasarnya menyiratkan eksistensi yang lebih dahulu dan menunjukkan superioritas terhadap anak. Arius juga mengetengahkan ayat-ayat biblikal yang menekankan kerendahan hati dan kerentanan Kristus.
Arius tak bermaksud merendahkan Yesus, sebagaimana dituduhkan oleh musuh-musuhnya. Dia mempunyai pandangan luhur tentang keutamaan dan kerelaan pengurbanan Yesus, yang diyakini menjadi jaminan keselamatan manusia.
Tuhan Arius menyerupai Tuhan para filosof Yunani, yang jauh dan sangat transenden terhadap dunia: karena itu pula dia menganut konsep Yunani tentang penyelamatan.
Kaum Stoa, misalnya, selalu mengajarkan bahwa adalah mungkin bagi manusia yang baik untuk menjadi kudus. Ini juga merupakan hal yang esensial dalam pandangan Platonis. Arius secara antusias percaya bahwa orang Kristen telah diselamatkan dan dijadikan suci, ikut memiliki hakikat ilahi.
Ini hanya mungkin karena Yesus telah merintiskan sebuah jalan bagi manusia. Dia telah menjalani kehidupan seorang manusia sempurna, dia telah mematuhi Allah bahkan hingga kematian di kayu salib: seperti dikatakan oleh Paulus, adalah karena kepatuhannya hingga mati maka Allah sangat meninggikannya dan mengaruniakan kepadanya gelar Tuhan (kyrios).'
Andaikata Yesus bukan seorang manusia, takkan ada harapan buat kita. Tak ada yang bisa kita teladani dari hidupnya jika dia memang adalah Tuhan secara hakiki.
Justru dengan merenungkan kehidupan Kristus yang sarat dengan nilai-nilai kepatuhan seorang anak, maka orang Kristen dapat menjadikan diri mereka pun ilahiah. Dengan meneladani Kristus, makhluk yang sempurna, mereka juga bisa menjadi “makhluk ciptaan Allah dengan kesempurnaan yang tak dapat diubah dan tak dapat berubah’.®
Namun, Athanasius memiliki pandangan yang kurang optimis terhadap kapasitas manusia di hadapan Tuhan. Dia memandang kemanusiaan secara inheren merupakan sesuatu yang rapuh: kita berasal dari ketiadaan dan akan kembali ke dalam ketiadaan jika kita berdosa.
Oleh karena itu, ketika merenungkan makhluknya, Tuhan,
melihat bahwa seluruh alam ciptaan, jika
dibiarkan berjalan dengan sendirinya, akan
berubah dan bisa mengalami kehancuran. Untuk
mencegah ini dan menjaga agar alam semesta
tidak kembali menjadi tiada, dia ciptakan
segala sesuatu dengan logos-nya sendiri yang
abadi dan mengaruniakan wujud kepada
ciptaan
Hanya dengan cara turut serta dalam Tuhan, melalui /ogos-nya, manusia bisa terhindar dari ketiadaan karena Tuhan sajalah yang merupakan Wujud sempurna. Jika logos pun merupakan makhluk biasa, dia tak akan mampu menyelamatkan manusia dari kebinasaan.
Logos dibuat menjadi daging untuk memberi hidup kepada kita. Dia telah turun ke alam manusia yang tidak abadi untuk memberi kita bagian dalam ketidakberubahan dan keabadian Tuhan.
Namun, pembebasan ini mustahil adanya jika logos sendiri adalah makhluk rentan, yang juga dapat jatuh ke dalam ketiadaan. Hanya dia yang telah menciptakan dunialah yang mampu menyelamatkannya, dan itu berarti bahwa Kristus, logos yang mendaging, pastilah berhakikat sama dengan Tuhan Bapa.
Sebagaimana dikatakan Athanasius, Firman dibuat menjadi manusia dengan tujuan agar kita bisa menjadi kudus.
Ketika para uskup berkumpul di Nicaea pada 20 Mei 325, untuk mengatasi krisis ini, sedikit sekali yang mendukung pandangan Athanasius tentang Kristus. Kebanyakannya berpegang pada posisi menengah antara Athanasius dan Arius.
Meskipun demikian, Athanasius berhasil mendesakkan teologinya kepada para delegasi dan, di bawah ancaman kaisar, hanya Arius dan dua orang sahabatnya yang berani menolak untuk menyetujui Kredo Athanasius.
Dengan ini maka creatio ex nihilo pun menjadi doktrin resmi Kristen untuk pertama kalinya, menegaskan bahwa Kristus bukanlah sekadar makhluk atau aeon. Sang Pencipta dan Penebus itu adalah satu.
Kami beriman kepada Allah Yang Esa,
Tuhan Bapa yang Mahakuasa,
pencipta segala sesuatu, yang dapat dilihat
dan tak dapat dilihat,
dan kepada satu Tuhan, Yesus Kristus,
Anak Allah,
satu-satunya anak Tuhan Bapa,
yang berasal dari substansi (ousia) Tuhan
Bapa,
Tuhan dari Tuhan,
cahaya dari cahaya,
Tuhan sejati dari Tuhan sejati,
diperanakkan, tidak diciptakan
dari satu substansi (homoousion) dengan Tuhan
Bapa,
yang melaluinya segala sesuatu diciptakan,
segala yang ada di langit dan segala yang ada
di bumi,
yang demi kita dan keselamatan kita, turun
dan dijadikan manusia,
yang menderita, bangkit kembali pada hari
ketiga,
naik ke langit
dan akan datang untuk menjadi hakim bagi yang
hidup dan yang mati
dan kami beriman kepada Roh Kudus.
Tercapainya kesepakatan itu menyenangkan hati Konstantin yang tidak memiliki pemahaman tentang isu-isu teologis. Tetapi, sebenarnya tidak ada sebuah kesepakatan pun di Nicaea.
Setelah konsili itu, para uskup terus mengajar sebagaimana biasanya, dan krisis Arian pun terus berlanjut selama enam puluh tahun berikutnya. Arius dan pengikutnya terus melawan dan berhasil memperoleh dukungan kekaisaran. Athanasius diasingkan tak kurang dari lima kali.
Sangat sulit untuk memegang kredonya. Khususnya, istilah homoousion (secara harfiah berarti “dibuat dari bahan yang sama”) sangat kontroversial karena tidak berlandaskan kitab suci dan memiliki asosiasi materialistik. Dua uang logam, misalnya, bisa dikatakan homoousion karena keduanya dibuat dari substansi yang sama.
Lebih jauh lagi, kredo Athanasius menimbulkan banyak pertanyaan penting. Dinyatakannya bahwa Yesus itu ilahiah, tetapi tidak dijelaskan bagaimana logos bisa berasal “dari bahan yang sama” dengan Tuhan Bapa tanpa menjadi Tuhan kedua.
Pada tahun 339, Marcellus, Uskup Ankira— teman setia dan kolega Athanasius, yang bahkan pernah ikut ke pengasingan bersamanya suatu kali—berpendapat bahwa /ogos tidak mungkin merupakan sebuah wujud suci yang abadi. la hanyalah sebuah kualitas atau potensi yang inheren di dalam Tuhan: secara apa adanya, rumusan Nicene dapat dituduh sebagai triteisme, kepercayaan bahwa ada tiga tuhan: Tuhan Bapa, Putra, dan Roh Kudus.
Sebagai pengganti homoousion yang kontroversial, Marcellus mengusulkan istilah yang kompromistis, yaitu homoiousion, dari hakikat yang sama atau serupa.
Perdebatan yang berliku-liku ini sering menjadi bahan olok-olok, terutama oleh Gibbon, yang merasa adalah tak masuk akal jika kesatuan Kristen mesti terancam hanya oleh sebuah diftong. Akan tetapi, yang menarik adalah kegigihan yang terus dipertahankan oleh orang Kristen terhadap perasaan mereka bahwa keilahian Yesus merupakan hal yang esensial, meski sangat sulit untuk merumuskannya dalam terma-terma yang konseptual.
Seperti Marcellus, banyak orang Kristen merasa terusik oleh ancaman terhadap kesatuan ilahi. Marcellus kelihatannya percaya bahwa logos hanyalah sebuah fase sementara: ia muncul dari Tuhan pada saat penciptaan, berinkarnasi dalam diri Yesus dan, ketika penebusan telah sempurna, ia akan kembali larut ke dalam alam suci. Dengan demikian, Tuhan Yang Esa tetap mencakup segalanya.
Akhirnya, Athanasius mampu meyakinkan Marcellus dan para pengikutnya bahwa mereka mesti menggalang kekuatan, karena mereka memiliki lebih banyak kesamaan dibandingkan dengan sekte Arius. Dengan demikian, siapa yang mengatakan bahwa logos berhakikat sama dengan Tuhan Bapa dan yang mengatakan bahwa ia berhakikat mirip dengan Tuhan Bapa adalah “bersaudara, yang memaksudkan apa yang kita maksudkan dan hanya berselisih dalam soal terminologi”.1?
Yang jadi prioritas seharusnya adalah menentang Arius, yang menyatakan bahwa sang Putra secara keseluruhan berbeda dari Tuhan dan secara mendasar memiliki hakikat yang berbeda.
Bagi orang luar, tak pelak lagi bahwa argumen-argumen teologis semacam ini tampak hanya membuang-buang waktu saja: toh tak ada pihak yang mungkin memberi bukti secara definitif, dengan cara apa pun, dan perselisihan itu sendiri justru terbukti telah memecah belah.
Akan tetapi, bagi orang yang terlibat di dalamnya, ini bukanlah perdebatan yang kering, tetapi menyangkut esensi pengalaman Kristen. Arius, Athanasius, dan Marcellus yakin bahwa sesuatu yang baru telah menyusup ke dunia bersama Yesus, dan mereka berupaya untuk mengartikulasikan pengalaman ini ke dalam simbol-simbol konseptual untuk menjelaskannya kepada diri mereka sendiri dan kepada orang lain.
Kata-kata itu sendiri hanya mungkin bersifat simbolik, sebab realitas yang ingin mereka tunjukkan memang tak terucapkan. Namun sayangnya, sebuah intoleransi dogmatik telah merayap ke dalam agama Kristen, yang akhirnya menetapkan pengadopsian simbol-simbol yang “benar” atau ortodoks sebagai sesuatu yang penting dan wajib.
Obsesi doktrinal ini, yang khas bagi Kristen, dapat dengan mudah menggiring kepada pencampuradukan simbol manusia dengan realitas ilahi. Kristen telah senantiasa merupakan sebuah keimanan yang bersifat paradoks: pengalaman keagamaan generasi awal Kristen yang kuat telah mengalahkan keberatan ideologis mereka terhadap skandal seorang Mesias yang disalib.
Kini di Nicaea, gereja telah memilih paradoks Inkarnasi, meskipun dengan ketidaksesuaiannya yang terang-terangan dengan monoteisme.
Dalam karyanya yang berjudul Life of Anthony, tentang seorang asketik padang pasir yang masyhur, Athanasius berusaha memperlihatkan bagaimana doktrin barunya akan berpengaruh terhadap spiritualitas Kristen.
Antonius, yang dikenal sebagai bapak monastisisme, telah menjalani kehidupan yang penuh kesusahan di padang sahara Mesir. Dalam The Sayings of The Fathers, sebuah antologi anonim tentang ujar-ujar para pendeta padang pasir, dia ditampilkan sebagai manusia biasa yang rentan, terusik juga oleh rasa bosan, ikut menderita karena problemproblem kemanusiaan, dan memberikan nasihat langsung yang sederhana.
Akan tetapi, dalam biografinya, Athanasius menghadirkan Antonius dengan cara yang sepenuhnya berbeda. Misalnya, dia berubah menjadi tokoh yang sangat keras menentang Arianisme; dia telah mulai mencicipi pengangkatannya ke status ilahiah di masa depan, karena berhasil meraih apatheia ilahi hingga tingkat yang cukup tinggi.
Tatkala, misalnya, dia bangkit dari pusara tempat dia menghabiskan waktu selama dua puluh tahun untuk bertarung melawan setan-setan, Athanasius mengatakan bahwa tubuh Antonius tidak memperlihatkan tandatanda menua.
Dia adalah seorang Kristen yang sempurna, yang ketenangannya telah membedakannya dari manusia lain: "jiwanya tak terusik, dan dengan demikian penampilan luarnya tampak damai.”3
Dia telah dengan sempurna meneladani Kristus: seperti logos yang telah mendaging, turun ke dunia fana dan memerangi kekuatan jahat, Antonius pun turun ke tempat-tempat hunian setan.
Athanasius tak pernah menyebutkan kontemplasi, yang oleh kaum Platonis Kristen, seperti Clement atau Origen dianggap sebagai sarana menuju ketuhanan dan pensucian. Makhluk yang tak abadi tidak lagi dipandang mungkin untuk naik ke hadirat Tuhan melalui kontemplasi dengan menggunakan kekuatan alamiah mereka sendiri.
Alih-alih, orang Kristen harus meniru turunnya Firman yang mendaging ke dalam alam material yang fana.
Akan tetapi, orang-orang Kristen masih kebingungan: Jika hanya ada satu Tuhan, bagaimana bisa logos itu juga menjadi tuhan?
Akhirnya, tiga teolog terkemuka dari Kapadokia di Turki Timur muncul dengan sebuah solusi yang memuaskan bagi gereja Ortodoks Timur. Mereka adalah Basil, Uskup Caesarea (kl. 329-79), adiknya Gregory, Uskup Nyssa (335-95), dan sahabatnya Gregory dari Nazianzus (329-91).
Kapadokian, begitu mereka sering disebut, adalah orang-orang yang sangat spiritualis. Mereka sangat gandrung akan spekulasi dan filsafat, namun berkeyakinan bahwa hanya pengalaman keagamaanlah yang mampu memberikan kunci pemecahan atas persoalan-persoalan ketuhanan.
Dengan latar belakang filsafat Yunani yang kuat, mereka semua sadar akan perbedaan penting antara kandungan kebenaran faktual dengan aspek-aspeknya yang lebih sukar dipahami. Kaum rasionalis Yunani terdahulu telah memberi perhatian kepada persoalan ini: Plato telah mempertentangkan filsafat (yang diungkapkan lewat istilah-istilah logika dan dengan demikian dapat dibuktikan) dengan ajaran-ajaran yang tak kalah pentingnya yang diwarisi melalui mitologi, yang mengelak dari pembuktian ilmiah.
Kita telah menyaksikan bahwa Aristoteles telah membuat pembedaan serupa ketika mengatakan bahwa orang-orang mendatangi misteri agama-agama bukan untuk mempelajari (mathein) sesuatu, melainkan untuk mengalami (pathein) sesuatu.
Basil mengungkapkan pandangan yang sama dalam pengertian Kristiani ketika dia membedakan antara dogma dan kerygma. Kedua ajaran Kristiani ini esensial bagi agama.
Kerygma adalah pengajaran umum gereja yang didasarkan pada kitab suci, tetapi dogma mewakili makna kebenaran biblikal yang lebih dalam, yang hanya dapat dipahami melalui pengalaman keagamaan dan diungkapkan dalam bentuk simbolik.
Di samping pesan-pesan Injil yang jelas, terdapat tradisi rahasia dan esoterik yang diwarisi “dalam sebuah misteri” dari para rasul, ini merupakan “pengajaran yang pribadi dan rahasia”,
yang telah diabadikan bapa-bapa suci kita
dalam keheningan yang menjauhkan kecemasan
dan keingintahuan ... agar dengan keheningan
ini karakter suci misteri itu tetap terjaga.
Orang awam tidak diizinkan untuk berpegang pada hal-hal semacam ini: maknanya tidak boleh diungkap dengan cara menuliskannya.!4
Di balik simbol-simbol liturgikal dan ajaran-ajaran Yesus yang jelas, terdapat dogma rahasia yang ditujukan bagi tingkat pemahaman iman yang lebih lanjut.
Pembedaan antara kebenaran esoterik dan eksoterik merupakan hal yang sangat penting dalam sejarah Tuhan. Ini tidak terbatas kepada Kristen Yunani, orang Yahudi dan Muslim juga mengembangkan tradisi esoterik.
Gagasan tentang adanya doktrin “rahasia” tidak dimaksudkan untuk memilah-milah orang. Basil tidaklah berbicara tentang bentuk awal Freemasonry. Dia sekadar mengetengahkan imbauan untuk memusatkan perhatian kepada fakta bahwa tidak semua kebenaran agama bisa diungkapkan dan didefinisikan dengan jelas dan logis.
Beberapa ajaran agama memiliki resonansi batin yang hanya mungkin dipahami oleh setiap individu pada waktunya masing-masing ketika melakukan apa yang oleh Plato disebut theoria, kontemplasi.
Karena semua agama diarahkan kepada realitas tak terucapkan yang melampaui konsep dan kategori rasional, maka ucapan pun jadi membatasi dan membingungkan. Jika mereka tidak “melihat” kebenaran ini dengan mata batin, orang yang belum sangat berpengalaman bisa jadi akan memperoleh gagasan yang keliru.
Oleh karena itu, di samping makna harfiahnya, kitab suci juga memiliki signifikansi spiritual yang tidak selalu mungkin diartikulasikan.
Buddha juga telah menyatakan bahwa ada pertanyaan yang "tidak memadai" dan tidak layak buat dijawab, karena pertanyaan itu merujuk kepada realitas yang berada di luar jangkauan kata-kata.
Anda hanya dapat menemukannya dengan menjalani teknik kontemplasi introspektif: dalam pengertian tertentu Anda harus menciptakannya bagi diri Anda sendiri. Upaya menggambarkannya dalam kata-kata akan tak kurang sulitnya dengan uraian verbal atas salah satu kuartet terakhir Beethoven.
Sebagaimana dikatakan Basil, realitas keagamaan yang licin ini hanya mungkin didekati dengan isyarat liturgi yang simbolik atau, akan lebih baik, dengan diam.







Comments (0)