Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan
Bukannya memandang para atlet sebagaimana adanya, yang masing-masing berpacu mencapai prestasi pribadi terbaiknya, Pindar menempatkan mereka berhadap-hadapan dengan dewa-dewa, yang menjadi pola bagi semua cita-cita manusia.
Manusia meniru dewa-dewa bukan sebagai wujud yang tak berdaya, melainkan untuk memenuhi potensi mereka yang secara esensial berwatak ilahiah.
Mitos Marduk dan Tiamat tampaknya telah mempengaruhi orang Kanaan, yang memiliki kisah yang amat mirip tentang Baalhabad, dewa badai dan kesuburan, yang sering disebut dalam Alkitab dengan cara yang jauh dari memuji.
Kisah pertarungan Baal dengan Yam-Nahar, dewa laut dan sungai, diceritakan dalam lembaran yang ditulis sekitar abad keempat belas SM. Baal dan Yam keduanya tinggal bersama El, Dewa Tertinggi Kanaan.
Pada Majelis El, Yam menuntut agar Baal diserahkan kepadanya. Dengan menggunakan dua senjata magis, Baal malah mengalahkan Yam dan nyaris membunuhnya andaikata Asyera (istri El dan ibu para dewa) tidak memohon dengan mengatakan bahwa membunuh lawan yang sudah tidak berdaya adalah tidak terhormat.
Baal merasa malu dan melepaskan Yam, yang mewakili keganasan laut dan sungai yang tak henti-hentinya mengancam akan membanjiri bumi. Sedangkan Baal, dewa badai, membuat bumi menjadi subur.
Versi lain dari mitos itu menyebutkan bahwa Baal membunuh Lotan, naga berkepala-tujuh, yang dalam bahasa Ibrani disebut Leviathan.
Dalam hampir semua kebudayaan, naga menyimbolkan sesuatu yang laten, tak berbentuk, dan tak kentara. Dengan demikian, Baal telah menghentikan kemungkinan untuk kembali ke dalam ketiadaan bentuk primal lewat tindakan yang betul-betul kreatif dan dianugerahi sebuah istana indah yang didirikan oleh para dewa untuk menghormatinya.
Oleh karena itu, dalam setiap agama kuno, kreativitas dipandang suci: kita masih menggunakan bahasa agama untuk berbicara tentang “inspirasi” kreatif yang memperbarui realitas dan menyegarkan pemaknaan tentang dunia.
Akan tetapi, Baal kemudian mengalami kemunduran: dia mati dan harus turun ke alam Mot, dewa kematian dan sterilitas.
Tatkala mendengar tentang nasib anaknya, Dewa Tertinggi El turun dari singgasananya, membalut Baal dan merajah pipinya, namun tetap tidak bisa menebus putranya.
Adalah Anat, kekasih dan saudara perempuan Baal, yang meninggalkan alam suci dan pergi mencari belahan jiwanya, “merindukannya bagaikan induk sapi atau induk domba mencari anaknya”.
Ketika dia menemukan mayat Baal, dia menyelenggarakan upacara pemakaman untuk mengagungkannya, menangkap Mot, menebasnya dengan pedang, membelah, membakar, dan menginjak-injaknya seperti jagung sebelum kemudian menyemaikannya ke tanah.
Kisah yang mirip juga diceritakan tentang dewi agung lainnya—Inana, Isytar, dan Isis—yang mencari mayat dewa dan membawa kehidupan baru ke atas bumi.
Akan tetapi, kemenangan Anat harus diperbarui dari tahun ke tahun melalui upacara ritual.
Belakangan—-kita tak tahu entah dengan cara bagaimana, sebab pengetahuan kita tidak lengkap— Baal hidup lagi dan kembali ke pangkuan Anat.
Pemujaan akan keutuhan dan harmoni, yang disimbolisasikan oleh kesatuan seks, dirayakan melalui seks ritual di kalangan masyarakat Kanaan kuno.
Dengan meniru para dewa melalui cara ini, umat manusia ikut berjuang melawan sterilitas dan memastikan kreativitas serta kesuburan dunia.
Kematian seorang dewa, pencarian sang dewi, dan keberhasilan untuk kembali ke alam suci merupakan tema-tema keagamaan yang konstan dalam banyak budaya dan akan muncul kembali dalam agama-agama dengan Satu Tuhan yang disembah oleh umat Yahudi, Kristen, dan Islam.
Agama ini di dalam Alkitab dinisbahkan kepada Abraham (Nabi Ibrahim), yang meninggalkan Ur dan akhirnya menetap di Kanaan pada suatu masa antara abad kedua puluh dan kesembilan belas SM.
Kita tak memiliki riwayat kontemporer tentang Abraham, tetapi para peneliti menduga bahwa Abraham mungkin sekali merupakan salah seorang pemimpin kafilah pengembara yang membawa rakyatnya dari Mesopotamia menuju laut Tengah pada akhir milenium ketiga SM.
Para pengembara ini—sebagian dari mereka disebut Abiru, Apiru, dan Habiru dalam sumber-sumber Mesopotamia dan Mesir—berbicara dalam bahasa Semitik Barat, yang mana bahasa Ibrani adalah salah satunya.
Mereka bukanlah kaum nomad padang pasir yang reguler sebagaimana orang Badui yang berimigrasi bersama ternak-ternak mereka sesuai dengan pergantian musim.
Mereka lebih sulit diklasifikasikan dan sering terlibat konflik dengan autoritas-autoritas konservatif.
Status kultural mereka biasanya lebih tinggi dibanding penduduk padang pasir itu.
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
Sebagian bekerja sebagai tentara bayaran, pegawai pemerintah, ada yang menjadi pedagang, pelayan, atau tukang besi.
Sebagian di antara mereka menjadi kaya raya dan kemudian berupaya mempunyai tanah dan bermukim menetap.
Kisah-kisah tentang Abraham di dalam Kitab Kejadian menceritakan bahwa dia bekerja pada Raja Sodom sebagai prajurit bayaran dan bahwa dia sering berkonflik dengan autoritas Kanaan dan daerah sekitarnya.
Pada akhirnya, ketika istrinya, Sarah, meninggal, Abraham membeli tanah di Hebron, yang sekarang terletak di Tepi Barat.
Kisah dalam Kitab Kejadian tentang Abraham dan anak keturunannya mengindikasikan adanya tiga gelombang kedatangan orang Ibrani di Kanaan, kawasan Israel pada era modern.
Salah satunya terkait dengan Abraham dan Hebron, terjadi sekitar 1850 SM.
Gelombang kedua berkaitan dengan cucu Abraham, Yakub, yang diganti namanya menjadi Israel (“Semoga Tuhan menunjukkan kekuasaannya”), dia menetap di Sikhem, yang sekarang menjadi Kota Arab Nablus di Tepi Barat.
Alkitab menceritakan kepada kita bahwa putra Yakub, yang menjadi leluhur dua belas suku keturunan Israel, beremigrasi ke Mesir selama musim paceklik yang hebat di Kanaan.
Gelombang ketiga pemukiman Ibrani terjadi sekitar 1200 SM ketika suku-suku yang mengaku keturunan Abraham tiba di Kanaan dari Mesir.
Mereka mengatakan bahwa mereka telah dijadikan budak oleh orang Mesir, tetapi dimerdekakan oleh suatu ilah bernama Yahweh, yang juga merupakan tuhan pemimpin mereka, Musa.
Ketika orang Yunani melihat kembali ke zaman keemasan pahlawan-pahlawan mereka, mereka merasa begitu dekat dengan para dewa yang, pada dasarnya, berwatak sama dengan manusia. Kisah-kisah penampakan tuhan ini mengungkapkan visi holistik pagan: ketika yang suci tidak berbeda secara esensial dengan semesta maupun manusia, ia dapat dialami tanpa susah payah. Dunia penuh dengan dewa, yang dapat dirasakan secara tak terduga kapan saja, di semua penjuru atau dalam diri orang tak dikenal yang sedang berpapasan.
Tampaknya orang awam percaya bahwa pertemuan ilahi seperti itu mungkin terjadi dalam kehidupan mereka: ini bisa menjelaskan cerita aneh dalam Kisah para Nabi ketika, di akhir abad pertama M, rasul Paulus dan muridnya, Barnabas, keliru dikira Zeus dan hermes oleh orangorang listra, kawasan yang kini adalah Turki."
Dalam cara yang hampir sama, ketika orang Israel menengok ke masa lalu kejayaan mereka, mereka melihat Abraham, Ishak, dan Yakub hidup secara akrab dengan tuhan mereka. El memberi mereka saran yang bersahabat, seperti halnya seorang syaikh atau kepala kafilah: dia mengarahkan pengembaraan mereka, memberi tahu siapa yang baik untuk dinikahi, dan berbicara kepada mereka di dalam mimpi.
Terkadang mereka seakan-akan melihat dia dalam rupa manusia—sebuah gagasan yang nantinya menjadi pangkal masalah bagi orang Israel. Dalam Kejadian 18, J mengatakan kepada kita bahwa Tuhan menampakkan diri kepada Abraham di dekat pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron. Abraham menengadahkan pandangan dan melihat tiga orang tak dikenal mendekati tendanya di siang hari yang terik.
Dengan sopan santun lazim Timur Tengah, dia mempersilakan ketiga orang itu duduk dan beristirahat, sementara dia bersegera menyiapkan makanan buat mereka. Di tengah-tengah percakapan, terungkaplah, dengan sangat alami, bahwa satu di antara tiga orang tersebut tak lain adalah tuhannya, yang oleh J disebut “Yahweh”. Sedangkan dua lelaki lain ternyata adalah malaikat. Tak seorang pun yang tampak terkejut oleh pengungkapan ini.
Ketika J menulis pada abad kedelapan SM, tak ada orang Israel yang berharap untuk “melihat? Tuhan dengan cara seperti ini: kebanyakan akan menanggapinya sebagai sesuatu yang sangat mengejutkan. E, yang sezaman dengan J, merasa kisah-kisah lama tentang keintiman para patriark dengan Tuhan agak tidak biasa: ketika E menceritakan kisah pertemuan Abraham atau Yakub dengan Tuhan, dia lebih suka merentangkan jarak dalam kejadian itu dan mengurangi unsur antropomorfis dalam legenda tua itu. Dengan demikian, dia berkata bahwa Tuhan berbicara kepada Abraham melalui malaikat.
Namun, J tidak menyukai cara yang bertele-tele ini dan mempertahankan cita rasa kuno tentang epifani primitif ini dalam kisah-kisahnya.
Yakub juga mengalami sejumlah epifani. Pada suatu kesempatan, dia memutuskan kembali ke haran untuk mencari istri dari kalangan kerabatnya di sana. Belum lama berjalan, dia tertidur di Luz dekat Bukit Yordan, dengan berbantalkan sebuah batu.
Malam itu dia bermimpi melihat sebuah tangga yang menghubungkan langit dan bumi: malaikat naik turun antara alam tuhan dan alam manusia. Ini mengingatkan kita kembali tentang zigguratnya Marduk: di puncaknya, karena mengawang di antara langit dan bumi, manusia dapat bertemu dengan dewa-dewa.
Pada puncak tangga dalam mimpinya, Yakub bertemu El, yang memberkatinya dan memberinya janji sebagaimana yang diberikannya kepada Abraham: keturunan Yakub akan berkembang menjadi sebuah bangsa yang besar dan akan menguasai tanah Kanaan. Dia juga membuat janji yang memberi kesan mendalam pada Yakub, seperti akan kita saksikan nanti.
Baca Juga: Lighten PDF Converter OCR 6.1.1 Full Version
Agama pagan sering bersifat teritorial: suatu tuhan hanya memiliki yurisdiksi atas suatu kawasan tertentu, dan adalah bijaksana untuk menyembah tuhan-tuhan setempat ketika bepergian ke wilayah lain. Namun, El menjanjikan Yakub bahwa dia akan melindunginya ketika dia meninggalkan Kanaan dan mengembara di negeri asing: “Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau ke mana pun engkau pergi.”12
Cerita epifani awal ini memperlihatkan bahwa Tuhan Tertinggi Kanaan mulai mendapatkan implikasi yang lebih universal.
Ketika terbangun, Yakub menyadari bahwa tanpa sadar dia telah bermalam di sebuah tempat suci di mana manusia bisa bercakap-cakap dengan tuhan mereka: “Sungguh, Yahweh berada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya!” begitu dia berkata menurut J.
Dia diliputi rasa kagum yang sering mengilhami orang pagan ketika mereka bertemu dengan kekuatan sakral: “Betapa menakjubkan tempat ini! Ini tak lain adalah rumah Tuhan (beth El), inilah pintu gerbang surga.”
Secara instingtif, dia telah mengekspresikan dirinya dalam bahasa agama pada zaman dan kebudayaannya: Babilonia sendiri, sebagai tempat kediaman para dewa, disebut “gerbang dewa-dewa” (Bab-ili). Yakub memutuskan untuk menahbiskan tanah suci ini dalam suatu cara pagan tradisional negeri itu.
Dia mengambil batu yang tadi dipakainya sebagai alas kepala, mendirikannya menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. Sejak saat itu, tempat tersebut tidak lagi disebut lus, tetapi Betel, rumah El. Tugu batu merupakan kelaziman dalam kultus kesuburan orang Kanaan, yang, seperti akan kita saksikan, banyak ditemukan di Betel hingga abad kedelapan SM.
Meskipun orang Israel generasi berikutnya dengan keras mengutuk jenis agama seperti ini, tempat suci pagan di Betel dalam legenda kuno terus dikaitkan dengan Yakub dan Tuhannya.
Sebelum meninggalkan Betel, Yakub telah memutuskan untuk menjadikan tuhan yang pernah dijumpainya di sana sebagai elohim: ini adalah istilah teknis yang merujuk kepada segala sesuatu yang dapat diartikan sebagai tuhan bagi manusia.
Yakub telah memutuskan bahwa jika El (atau Yahweh, sebagaimana J menyebutnya) benar-benar dapat melindunginya di Haran, maka dia berarti benar-benar perkasa. Yakub mengadakan semacam tawar-menawar: Sebagai balas jasa atas perlindungan khusus dari El, Yakub akan menjadikannya elohim bagi dirinya, satu-satunya tuhan yang dipercayainya.
Kepercayaan Israel kepada Tuhan benar-benar bersifat pragmatis. Baik Abraham maupun Yakub menaruh iman mereka kepada El karena dia berguna bagi keduanya: mereka tidak perlu membuktikan bahwa dia ada: El bukanlah sebuah abstraksi filosofis.
Di dunia kuno, mana adalah fakta kehidupan yang terbukti dengan sendirinya, dan suatu dewa menampakkan kelayakannya apabila mampu menyampaikan bukti ini secara efektif. Pragmatisme ini selalu menjadi satu faktor dalam sejarah Tuhan. Orang-orang akan terus mengadopsi sebuah konsepsi tertentu tentang tuhan karena konsep itu berguna bagi mereka, bukan karena ilmiah atau filosofis.
Beberapa tahun kemudian, Yakub kembali dari Haran bersama istri dan keluarganya. Ketika memasuki kembali wilayah Kanaan, dia mengalami lagi sebuah epifani yang aneh.
Di Sungai Yabok di Tepi Barat, dia bertemu orang asing yang bergulat dengannya sepanjang malam. Saat fajar menyingsing, seperti kebanyakan wujud spiritual, lawannya berkata bahwa dia harus pergi. Namun, Yakub terus memeganginya: dia tak akan melepaskan orang itu sampai dia bersedia menyebutkan namanya.
Di dunia kuno, mengetahui nama seseorang akan memberikan kekuatan untuk mengalahkan orang itu, dan tampaknya orang asing itu enggan memberikan sepenggal informasi ini. Lama-kelamaan, Yakub menjadi sadar bahwa lawannya tak lain adalah El sendiri:
Bertanyalah Yakub, “Katakanlah juga namamu."
Tetapi sahutnya, “Mengapa engkau menanyakan
namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub di situ.
Yakub menamai tempat itu dengan Pniel (Wajah
El], sebab katanya, “Aku telah melihat Allah
berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong!
Semangat epifani ini lebih dekat kepada Iliad dibanding kepada monoteisme Yahudi yang baru, ketika kedekatan hubungan dengan tuhan dianggap gagasan yang menghujat.







Comments (0)