Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan

Bukannya memandang para atlet sebagaimana adanya, yang masing-masing berpacu mencapai prestasi pribadi terbaiknya, Pindar menempatkan mereka berhadap-hadapan dengan dewa-dewa, yang menjadi pola bagi semua cita-cita manusia.

Manusia meniru dewa-dewa bukan sebagai wujud yang tak berdaya, melainkan untuk memenuhi potensi mereka yang secara esensial berwatak ilahiah.

Mitos Marduk dan Tiamat tampaknya telah mempengaruhi orang Kanaan, yang memiliki kisah yang amat mirip tentang Baalhabad, dewa badai dan kesuburan, yang sering disebut dalam Alkitab dengan cara yang jauh dari memuji.

Kisah pertarungan Baal dengan Yam-Nahar, dewa laut dan sungai, diceritakan dalam lembaran yang ditulis sekitar abad keempat belas SM. Baal dan Yam keduanya tinggal bersama El, Dewa Tertinggi Kanaan.

Pada Majelis El, Yam menuntut agar Baal diserahkan kepadanya. Dengan menggunakan dua senjata magis, Baal malah mengalahkan Yam dan nyaris membunuhnya andaikata Asyera (istri El dan ibu para dewa) tidak memohon dengan mengatakan bahwa membunuh lawan yang sudah tidak berdaya adalah tidak terhormat.

Baal merasa malu dan melepaskan Yam, yang mewakili keganasan laut dan sungai yang tak henti-hentinya mengancam akan membanjiri bumi. Sedangkan Baal, dewa badai, membuat bumi menjadi subur.

Versi lain dari mitos itu menyebutkan bahwa Baal membunuh Lotan, naga berkepala-tujuh, yang dalam bahasa Ibrani disebut Leviathan.

Dalam hampir semua kebudayaan, naga menyimbolkan sesuatu yang laten, tak berbentuk, dan tak kentara. Dengan demikian, Baal telah menghentikan kemungkinan untuk kembali ke dalam ketiadaan bentuk primal lewat tindakan yang betul-betul kreatif dan dianugerahi sebuah istana indah yang didirikan oleh para dewa untuk menghormatinya.

Oleh karena itu, dalam setiap agama kuno, kreativitas dipandang suci: kita masih menggunakan bahasa agama untuk berbicara tentang “inspirasi” kreatif yang memperbarui realitas dan menyegarkan pemaknaan tentang dunia.

Akan tetapi, Baal kemudian mengalami kemunduran: dia mati dan harus turun ke alam Mot, dewa kematian dan sterilitas.

Tatkala mendengar tentang nasib anaknya, Dewa Tertinggi El turun dari singgasananya, membalut Baal dan merajah pipinya, namun tetap tidak bisa menebus putranya.

Adalah Anat, kekasih dan saudara perempuan Baal, yang meninggalkan alam suci dan pergi mencari belahan jiwanya, “merindukannya bagaikan induk sapi atau induk domba mencari anaknya”.

Ketika dia menemukan mayat Baal, dia menyelenggarakan upacara pemakaman untuk mengagungkannya, menangkap Mot, menebasnya dengan pedang, membelah, membakar, dan menginjak-injaknya seperti jagung sebelum kemudian menyemaikannya ke tanah.

Kisah yang mirip juga diceritakan tentang dewi agung lainnya—Inana, Isytar, dan Isis—yang mencari mayat dewa dan membawa kehidupan baru ke atas bumi.

Akan tetapi, kemenangan Anat harus diperbarui dari tahun ke tahun melalui upacara ritual.

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Belakangan—-kita tak tahu entah dengan cara bagaimana, sebab pengetahuan kita tidak lengkap— Baal hidup lagi dan kembali ke pangkuan Anat.

Pemujaan akan keutuhan dan harmoni, yang disimbolisasikan oleh kesatuan seks, dirayakan melalui seks ritual di kalangan masyarakat Kanaan kuno.

Dengan meniru para dewa melalui cara ini, umat manusia ikut berjuang melawan sterilitas dan memastikan kreativitas serta kesuburan dunia.

Kematian seorang dewa, pencarian sang dewi, dan keberhasilan untuk kembali ke alam suci merupakan tema-tema keagamaan yang konstan dalam banyak budaya dan akan muncul kembali dalam agama-agama dengan Satu Tuhan yang disembah oleh umat Yahudi, Kristen, dan Islam.

Agama ini di dalam Alkitab dinisbahkan kepada Abraham (Nabi Ibrahim), yang meninggalkan Ur dan akhirnya menetap di Kanaan pada suatu masa antara abad kedua puluh dan kesembilan belas SM.

Kita tak memiliki riwayat kontemporer tentang Abraham, tetapi para peneliti menduga bahwa Abraham mungkin sekali merupakan salah seorang pemimpin kafilah pengembara yang membawa rakyatnya dari Mesopotamia menuju laut Tengah pada akhir milenium ketiga SM.

Para pengembara ini—sebagian dari mereka disebut Abiru, Apiru, dan Habiru dalam sumber-sumber Mesopotamia dan Mesir—berbicara dalam bahasa Semitik Barat, yang mana bahasa Ibrani adalah salah satunya.

Mereka bukanlah kaum nomad padang pasir yang reguler sebagaimana orang Badui yang berimigrasi bersama ternak-ternak mereka sesuai dengan pergantian musim.

Mereka lebih sulit diklasifikasikan dan sering terlibat konflik dengan autoritas-autoritas konservatif.

Status kultural mereka biasanya lebih tinggi dibanding penduduk padang pasir itu.

Sebagian bekerja sebagai tentara bayaran, pegawai pemerintah, ada yang menjadi pedagang, pelayan, atau tukang besi.

Sebagian di antara mereka menjadi kaya raya dan kemudian berupaya mempunyai tanah dan bermukim menetap.

Kisah-kisah tentang Abraham di dalam Kitab Kejadian menceritakan bahwa dia bekerja pada Raja Sodom sebagai prajurit bayaran dan bahwa dia sering berkonflik dengan autoritas Kanaan dan daerah sekitarnya.

Pada akhirnya, ketika istrinya, Sarah, meninggal, Abraham membeli tanah di Hebron, yang sekarang terletak di Tepi Barat.

Kisah dalam Kitab Kejadian tentang Abraham dan anak keturunannya mengindikasikan adanya tiga gelombang kedatangan orang Ibrani di Kanaan, kawasan Israel pada era modern.

Salah satunya terkait dengan Abraham dan Hebron, terjadi sekitar 1850 SM.

Gelombang kedua berkaitan dengan cucu Abraham, Yakub, yang diganti namanya menjadi Israel (“Semoga Tuhan menunjukkan kekuasaannya”), dia menetap di Sikhem, yang sekarang menjadi Kota Arab Nablus di Tepi Barat.

Alkitab menceritakan kepada kita bahwa putra Yakub, yang menjadi leluhur dua belas suku keturunan Israel, beremigrasi ke Mesir selama musim paceklik yang hebat di Kanaan.

Gelombang ketiga pemukiman Ibrani terjadi sekitar 1200 SM ketika suku-suku yang mengaku keturunan Abraham tiba di Kanaan dari Mesir.

Mereka mengatakan bahwa mereka telah dijadikan budak oleh orang Mesir, tetapi dimerdekakan oleh suatu ilah bernama Yahweh, yang juga merupakan tuhan pemimpin mereka, Musa.

Ketika orang Yunani melihat kembali ke zaman keemasan pahlawan-pahlawan mereka, mereka merasa begitu dekat dengan para dewa yang, pada dasarnya, berwatak sama dengan manusia. Kisah-kisah penampakan tuhan ini mengungkapkan visi holistik pagan: ketika yang suci tidak berbeda secara esensial dengan semesta maupun manusia, ia dapat dialami tanpa susah payah. Dunia penuh dengan dewa, yang dapat dirasakan secara tak terduga kapan saja, di semua penjuru atau dalam diri orang tak dikenal yang sedang berpapasan.

Tampaknya orang awam percaya bahwa pertemuan ilahi seperti itu mungkin terjadi dalam kehidupan mereka: ini bisa menjelaskan cerita aneh dalam Kisah para Nabi ketika, di akhir abad pertama M, rasul Paulus dan muridnya, Barnabas, keliru dikira Zeus dan hermes oleh orangorang listra, kawasan yang kini adalah Turki."

Dalam cara yang hampir sama, ketika orang Israel menengok ke masa lalu kejayaan mereka, mereka melihat Abraham, Ishak, dan Yakub hidup secara akrab dengan tuhan mereka. El memberi mereka saran yang bersahabat, seperti halnya seorang syaikh atau kepala kafilah: dia mengarahkan pengembaraan mereka, memberi tahu siapa yang baik untuk dinikahi, dan berbicara kepada mereka di dalam mimpi.

Terkadang mereka seakan-akan melihat dia dalam rupa manusia—sebuah gagasan yang nantinya menjadi pangkal masalah bagi orang Israel. Dalam Kejadian 18, J mengatakan kepada kita bahwa Tuhan menampakkan diri kepada Abraham di dekat pohon tarbantin di Mamre, dekat Hebron. Abraham menengadahkan pandangan dan melihat tiga orang tak dikenal mendekati tendanya di siang hari yang terik.

Dengan sopan santun lazim Timur Tengah, dia mempersilakan ketiga orang itu duduk dan beristirahat, sementara dia bersegera menyiapkan makanan buat mereka. Di tengah-tengah percakapan, terungkaplah, dengan sangat alami, bahwa satu di antara tiga orang tersebut tak lain adalah tuhannya, yang oleh J disebut “Yahweh”. Sedangkan dua lelaki lain ternyata adalah malaikat. Tak seorang pun yang tampak terkejut oleh pengungkapan ini.

Ketika J menulis pada abad kedelapan SM, tak ada orang Israel yang berharap untuk “melihat? Tuhan dengan cara seperti ini: kebanyakan akan menanggapinya sebagai sesuatu yang sangat mengejutkan. E, yang sezaman dengan J, merasa kisah-kisah lama tentang keintiman para patriark dengan Tuhan agak tidak biasa: ketika E menceritakan kisah pertemuan Abraham atau Yakub dengan Tuhan, dia lebih suka merentangkan jarak dalam kejadian itu dan mengurangi unsur antropomorfis dalam legenda tua itu. Dengan demikian, dia berkata bahwa Tuhan berbicara kepada Abraham melalui malaikat.

Namun, J tidak menyukai cara yang bertele-tele ini dan mempertahankan cita rasa kuno tentang epifani primitif ini dalam kisah-kisahnya.

Yakub juga mengalami sejumlah epifani. Pada suatu kesempatan, dia memutuskan kembali ke haran untuk mencari istri dari kalangan kerabatnya di sana. Belum lama berjalan, dia tertidur di Luz dekat Bukit Yordan, dengan berbantalkan sebuah batu.

Malam itu dia bermimpi melihat sebuah tangga yang menghubungkan langit dan bumi: malaikat naik turun antara alam tuhan dan alam manusia. Ini mengingatkan kita kembali tentang zigguratnya Marduk: di puncaknya, karena mengawang di antara langit dan bumi, manusia dapat bertemu dengan dewa-dewa.

Pada puncak tangga dalam mimpinya, Yakub bertemu El, yang memberkatinya dan memberinya janji sebagaimana yang diberikannya kepada Abraham: keturunan Yakub akan berkembang menjadi sebuah bangsa yang besar dan akan menguasai tanah Kanaan. Dia juga membuat janji yang memberi kesan mendalam pada Yakub, seperti akan kita saksikan nanti.

Agama pagan sering bersifat teritorial: suatu tuhan hanya memiliki yurisdiksi atas suatu kawasan tertentu, dan adalah bijaksana untuk menyembah tuhan-tuhan setempat ketika bepergian ke wilayah lain. Namun, El menjanjikan Yakub bahwa dia akan melindunginya ketika dia meninggalkan Kanaan dan mengembara di negeri asing: “Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau ke mana pun engkau pergi.”12

Cerita epifani awal ini memperlihatkan bahwa Tuhan Tertinggi Kanaan mulai mendapatkan implikasi yang lebih universal.

Ketika terbangun, Yakub menyadari bahwa tanpa sadar dia telah bermalam di sebuah tempat suci di mana manusia bisa bercakap-cakap dengan tuhan mereka: “Sungguh, Yahweh berada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya!” begitu dia berkata menurut J.

Dia diliputi rasa kagum yang sering mengilhami orang pagan ketika mereka bertemu dengan kekuatan sakral: “Betapa menakjubkan tempat ini! Ini tak lain adalah rumah Tuhan (beth El), inilah pintu gerbang surga.”

Secara instingtif, dia telah mengekspresikan dirinya dalam bahasa agama pada zaman dan kebudayaannya: Babilonia sendiri, sebagai tempat kediaman para dewa, disebut “gerbang dewa-dewa” (Bab-ili). Yakub memutuskan untuk menahbiskan tanah suci ini dalam suatu cara pagan tradisional negeri itu.

Dia mengambil batu yang tadi dipakainya sebagai alas kepala, mendirikannya menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. Sejak saat itu, tempat tersebut tidak lagi disebut lus, tetapi Betel, rumah El. Tugu batu merupakan kelaziman dalam kultus kesuburan orang Kanaan, yang, seperti akan kita saksikan, banyak ditemukan di Betel hingga abad kedelapan SM.

Meskipun orang Israel generasi berikutnya dengan keras mengutuk jenis agama seperti ini, tempat suci pagan di Betel dalam legenda kuno terus dikaitkan dengan Yakub dan Tuhannya.

Sebelum meninggalkan Betel, Yakub telah memutuskan untuk menjadikan tuhan yang pernah dijumpainya di sana sebagai elohim: ini adalah istilah teknis yang merujuk kepada segala sesuatu yang dapat diartikan sebagai tuhan bagi manusia.

Yakub telah memutuskan bahwa jika El (atau Yahweh, sebagaimana J menyebutnya) benar-benar dapat melindunginya di Haran, maka dia berarti benar-benar perkasa. Yakub mengadakan semacam tawar-menawar: Sebagai balas jasa atas perlindungan khusus dari El, Yakub akan menjadikannya elohim bagi dirinya, satu-satunya tuhan yang dipercayainya.

Kepercayaan Israel kepada Tuhan benar-benar bersifat pragmatis. Baik Abraham maupun Yakub menaruh iman mereka kepada El karena dia berguna bagi keduanya: mereka tidak perlu membuktikan bahwa dia ada: El bukanlah sebuah abstraksi filosofis.

Di dunia kuno, mana adalah fakta kehidupan yang terbukti dengan sendirinya, dan suatu dewa menampakkan kelayakannya apabila mampu menyampaikan bukti ini secara efektif. Pragmatisme ini selalu menjadi satu faktor dalam sejarah Tuhan. Orang-orang akan terus mengadopsi sebuah konsepsi tertentu tentang tuhan karena konsep itu berguna bagi mereka, bukan karena ilmiah atau filosofis.

Beberapa tahun kemudian, Yakub kembali dari Haran bersama istri dan keluarganya. Ketika memasuki kembali wilayah Kanaan, dia mengalami lagi sebuah epifani yang aneh.

Di Sungai Yabok di Tepi Barat, dia bertemu orang asing yang bergulat dengannya sepanjang malam. Saat fajar menyingsing, seperti kebanyakan wujud spiritual, lawannya berkata bahwa dia harus pergi. Namun, Yakub terus memeganginya: dia tak akan melepaskan orang itu sampai dia bersedia menyebutkan namanya.

Di dunia kuno, mengetahui nama seseorang akan memberikan kekuatan untuk mengalahkan orang itu, dan tampaknya orang asing itu enggan memberikan sepenggal informasi ini. Lama-kelamaan, Yakub menjadi sadar bahwa lawannya tak lain adalah El sendiri:

Bertanyalah Yakub, “Katakanlah juga namamu."
Tetapi sahutnya, “Mengapa engkau menanyakan
namaku?” Lalu diberkatinyalah Yakub di situ.

Yakub menamai tempat itu dengan Pniel (Wajah
El], sebab katanya, “Aku telah melihat Allah
berhadapan muka, tetapi nyawaku tertolong! 

Semangat epifani ini lebih dekat kepada Iliad dibanding kepada monoteisme Yahudi yang baru, ketika kedekatan hubungan dengan tuhan dianggap gagasan yang menghujat.

Walaupun kisah-kisah kuno ini menceritakan pertemuan para patriark dengan tuhan dalam cara yang mirip sekali dengan kaum pagan yang sezaman dengan mereka, kisah-kisah itu sebenarnya memperkenalkan sebuah kategori baru pengalaman keagamaan.

Di sepanjang Alkitab, Abraham disebut sebagai seorang yang “beriman”. Pada masa sekarang, kita cenderung mendefinisikan iman sebagai penegasan akal terhadap suatu kredo, tetapi, seperti yang telah kita saksikan, para penulis Alkitab tidak memandang iman kepada Tuhan sebagai keyakinan yang abstrak atau metafisikal. Ketika mereka memuji “iman” Abraham, mereka tidak bermaksud memuji ortodoksinya (penerimaan sebuah pandangan teologis yang benar tentang Tuhan) tetapi kepercayaannya, dalam cara yang agak mirip dengan cara kita menyatakan bahwa kita menaruh kepercayaan kepada seseorang atau sebuah cita-cita.

Di dalam Alkitab, Abraham adalah seorang yang beriman karena dia percaya bahwa Tuhan akan menepati janji-janjinya, sekalipun janji-janji itu tampak tak masuk akal. Bagaimana mungkin Abraham dapat menjadi bapa sebuah bangsa yang besar jika istrinya, Sarah, mandul? Bahkan, membayangkan bahwa dia dapat mengandung seorang anak sungguh janggal—Sarah telah melewati masa menopause—sehingga ketika mereka mendengar janji ini, Sarah maupun Abraham tertawa.

Ketika, di luar dugaan, anak laki-laki mereka akhirnya lahir, mereka menamainya Ishak, sebuah nama yang bisa diartikan “tertawa”. Akan tetapi, dagelan itu berubah serius ketika Tuhan menetapkan tugas yang berat: Abraham harus mengurbankan anak lelaki tunggalnya kepada Tuhan.

Pengurbanan manusia merupakan hal lazim di dunia pagan. Kejam namun logis dan rasional. Anak pertama sering diyakini sebagai keturunan dewa, yang telah menghamili si ibu melalui tindakan droit de seigneur. Dalam memperanakkan, energi dewa menjadi menipis, maka untuk mengisinya kembali dan mempertahankan sirkulasi seluruh mana yang ada, anak pertama itu harus dikembalikan kepada orangtua dewatanya.

Kasus Ishak sebenarnya berbeda. Ishak adalah hadiah dari Tuhan, bukan anak alamiahnya. Tak ada alasan untuk berkurban, tak ada kebutuhan untuk memulihkan kembali energi Tuhan. Bahkan, pengurbanan tu akan melenyapkan arti seluruh kehidupan Abraham, berdasarkan janji bahwa dia akan menjadi bapa bagi sebuah bangsa yang besar.

Tuhan ini telah mulai dikonsepsikan secara berbeda dengan sebagian besar ilah di dunia kuno. Dia tidak terlibat dalam nestapa manusia; dia tidak membutuhkan masukan energi dari manusia. Dia berada dalam lingkup yang berbeda dan dapat menetapkan tuntutan apa saja yang diinginkan. Abraham memutuskan untuk mempercayai Tuhannya.

Dia dan putranya, Ishak, melakukan perjalanan selama tiga hari ke gunung Moria, yang kemudian menjadi tempat berdirinya Kuil di Yerusalem. Ishak, yang belum tahu apa-apa tentang titah ilahi, bahkan harus memikul kayu bakaran untuk pengurbanan dirinya sendiri.

Baru pada saat-saat terakhir, ketika Abraham benar-benar telah siap dengan sebilah pisau di tangannya, Tuhan menjadi iba dan mengatakan kepada Abraham bahwa hal itu hanya sebuah ujian. Abraham telah membuktikan dirinya layak menjadi bapa sebuah bangsa besar, yang jumlahnya akan sebanyak taburan bintang di langit atau hamparan pasir di pantai.

Namun, bagi telinga orang-orang modern, ini merupakan kisah yang mengerikan: kisah ini melukiskan Tuhan sebagai sadis yang kejam dan tidak berpendirian. Tidak mengherankan jika banyak orang zaman sekarang yang mendengar cerita ini di masa kecilnya menolak ilah yang demikian.

Mitos Pembebasan dari Mesir, ketika Tuhan membimbing Musa dan anak-anak Israel menuju kebebasan, sama ofensifnya terhadap sensibilitas modern. Kisah ini masyhur. Firaun berkeberatan untuk membiarkan orang Israel pergi, sehingga, untuk memaksanya, Tuhan mengirimkan sepuluh macam wabah mengerikan kepada bangsa Mesir. Sungai Nil berubah menjadi darah, daratan dipenuhi belalang dan katak, seluruh negeri diselimuti gelap gulita.

Akhirnya, Tuhan menimpakan wabah yang paling mengerikan dari semuanya: dia mengutus Malaikat Maut untuk mencabut nyawa setiap bayi laki-laki pertama seluruh orang Mesir, sembari membebaskan anak-anak budak Ibrani. Tidak mengherankan jika kemudian Firaun memutuskan untuk membiarkan orang Israel pergi, tetapi kemudian berubah pikiran dan mengejar mereka dengan balatentaranya.

Firaun menyusul mereka di laut Merah, tetapi Tuhan menyelamatkan orang Israel dengan cara membelah laut dan membiarkan mereka berjalan menyeberang di tempat yang kering. Ketika orang Mesir mengikuti jejak mereka, Tuhan menutup kembali belahan itu dan menenggelamkan Firaun berikut balatentaranya.

Ini adalah gambaran tuhan yang brutal dan parsial: tuhan perang yang dikenal dengan sebutan Yahweh Sabaoth, Dewa para Tentara. Dia adalah pemihak yang pilih kasih, tak menyayangi yang lain kecuali yang disenanginya dan sederhananya merupakan ilah bagi suatu suku saja. Jika Yahweh tetap menjadi tuhan yang seperti itu, maka semakin cepat dia tiada, semakin baik bagi setiap orang.

Akhir mitos Pembebasan, sebagaimana dituturkan dalam Alkitab, memang tidak dimaksudkan sebagai versi harfiah dari peristiwa itu. Akan tetapi, kisah itu mengandung pesan yang jelas bagi orang Timur Tengah kuno, yang terbiasa dengan dewa-dewa yang membelah laut menjadi dua. Namun, tidak seperti Marduk dan Baal, Yahweh dikisahkan membelah sebuah laut fisik di dunia profan dalam waktu historis.

Ketika orang Israel mengisahkan kembali peristiwa Pembebasan, mereka tidak tertarik kepada keakuratan sejarah sebagaimana kita sekarang. Alih-alih, mereka ingin mengangkat arti penting peristiwa aslinya, apa pun bentuknya.

Beberapa sarjana modern menyatakan bahwa kisah Pembebasan merupakan penafsiran mitikal atas keberhasilan pemberontakan kaum tani terhadap pemerintahan Mesir dan sekutu-sekutunya di Kanaan.'? Ini peristiwa yang sangat jarang terjadi pada masa itu dan akan menciptakan kesan mendalam yang tak terhapuskan pada setiap orang yang terlibat di dalamnya. Ia juga merupakan pengalaman luar biasa pemberdayaan kaum tertindas menentang penguasa.

Kita akan menyaksikan bahwa Yahweh tidak terus menjadi tuhan Pembebasan yang kejam dan keras, meskipun mitos itu penting dalam ketiga agama monoteistik. Tampaknya cukup mengherankan bahwa orang Israel kemudian mentransformasinya hingga berbeda sama sekali, menjadi simbol transendensi dan kasih sayang.

Namun, kisah Pembebasan yang berlumur darah itu terus mengilhami konsepsi yang berbahaya tentang tuhan dan teologi yang sarat dendam. Kita akan menyaksikan bahwa pada abad ketujuh SM, penulis tradisi Deuteronomis (D) akan menggunakan mitos tua itu untuk mengilustrasikan teologi keterpilihan yang menakutkan.

Teologi inilah yang, pada berbagai masa, telah memainkan peran menentukan dalam sejarah ketiga agama itu. Seperti halnya semua gagasan manusia, ide tentang Tuhan bisa dieksploitasi dan disalahgunakan. Mitos tentang Umat Pilihan atau pilihan tuhan sering mengilhami teologi kesukuan yang picik sejak era Deuteronomis hingga era fundamentalisme Yahudi, Kristen, dan Muslim yang sedihnya masih menyebar pada masa kita sekarang ini.

Namun, Deuteronomis juga melestarikan interpretasi mitos Pembebasan yang sama kuat tetapi berpengaruh lebih positif dalam sejarah monoteisme, yakni yang berbicara tentang Tuhan sebagai pembela pihak yang lemah dan tertindas.

Dalam Ulangan 26, kita menemukan apa yang mungkin merupakan interpretasi awal terhadap kisah Pembebasan sebelum dituliskan dalam narasi J dan E. Orang Israel diperintahkan untuk mempersembahkan panen pertama mereka kepada para rahib Yahweh dan memberi penegasan berikut:

Bapaku dahulu seorang Aram. Ia pergi ke Mesir
dengan sedikit orang saja dan tinggal di sana
sebagai orang asing, tetapi di sana ia akan
menjadi suatu bangsa yang besar, kuat, dan
banyak jumlahnya. Ketika orang Mesir
menganiaya dan menindas kami dan menyuruh
kami melakukan pekerjaan yang berat, maka
kami berseru kepada TUHAN, Allah nenek moyang
kami, lalu TUHAN mendengar suara kami dan
melihat kesengsaraan dan kesukaran kami dan
penindasan terhadap kami. Lalu TUHAN membawa
kami keluar dari Mesir dengan tangannya yang
kuat dan lengan yang teracung, dengan
kedahsyatan yang besar, dan dengan tanda-
tanda serta mukjizat-mukjizat. Ia membawa
kami ke tempat ini | ke Kanaan |, dan
memberikan kepada kami tempat ini, suatu
negeri yang berlimpah-limpah susu dan
madunya. Oleh sebab itu, di sini aku membawa
hasil pertama dari bumi yang telah Kauberikan
kepadaku, ya TUHAN. 16

Tuhan yang telah mengilhami pemberontakan kelompok petani pertama dalam sejarah adalah Tuhan revolusi. Dalam ketiga agama, dia telah mengilhami cita-cita keadilan sosial, meskipun harus dikatakan bahwa orang Yahudi, Kristen, dan Muslim acap gagal meraih cita-cita ini dan bahkan telah mentransformasinya menjadi Tuhan status guo.

Orang Israel menyebut Yahweh "Tuhan nenek moyang kami”, meskipun tampak bahwa dia merupakan ilah yang berbeda dari El, Tuhan Tertinggi Kanaan yang disembah oleh para patriark. Dia mungkin telah menjadi tuhan orang lain sebelum menjadi Tuhan Israel.

Dalam penampakan pertamanya kepada Musa, Yahweh berulang-ulang menegaskan dan dengan panjang lebar bahwa dia benar-benar merupakan Tuhan Abraham, meskipun pada awalnya dia disebut El Shaddai. Penegasan ini mengabadikan gema debat pertama tentang identitas Tuhan Musa.

Telah disinggung bahwa Yahweh pada awalnya merupakan dewa para prajurit, dewa gunung berapi, dewa yang disembah di Midian, sebuah kawasan yang kini disebut Yordania.” Kita takkan pernah tahu di mana orang Israel menemukan Yahweh, jika dia benar-benar merupakan ilah yang sama sekali baru.

Lagi-lagi, ini akan menjadi persoalan yang sangat penting bagi kita pada masa sekarang, tetapi tidak demikian halnya bagi para penulis biblikal. Di zaman antik pagan, dewa-dewa sering digabungkan dan disatukan, atau dewa-dewa di satu kawasan dipandang identik dengan dewa kawasan lain.

Yang dapat kita yakini adalah bahwa, apa pun sumbernya, peristiwa Pembebasan telah membuat Yahweh menjadi Tuhan Israel yang definitif dan bahwa Musa mampu meyakinkan orang Israel bahwa dia sungguh-sungguh satu dan sama dengan El, Tuhan yang dicintai oleh Abraham, Ishak, dan Yakub.

Apa yang disebut sebagai “Teori Midianite”—yakni bahwa Yahweh pada dasarnya adalah Tuhan bagi orang-orang Midian—biasanya didiskreditkan pada masa sekarang, tetapi di Midianlah Musa pertama kali melihat Yahweh.

Dapat diingat lagi bahwa Musa terpaksa meninggalkan Mesir karena telah membunuh seorang penduduk Mesir yang didapatinya tengah menyiksa seorang budak berkebangsaan Israel. Musa mencari perlindungan di Midian, lalu menikah di sana.

Ketika sedang menggembalakan domba milik mertuanya, dia melihat seberkas cahaya aneh: serumpun semak tampak menyala tapi tidak terbakar. Saat dia mendekat untuk menyelidiki, Yahweh memanggil namanya dan Musa menyahut: “Aku di sini” (hineni!), jawaban setiap nabi Israel ketika bertemu muka dengan Tuhan yang menghendaki perhatian dan kesetiaan total:

“Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkan
kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana
engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”

Lagi Ia berfirman, “Akulah Allah ayahmu,
Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub.”

Lalu, Musa menutup mukanya, karena ia takut memandang Allah.

Meskipun penegasan yang pertama adalah bahwa Yahweh sesungguhnya merupakan Allah Abraham, ini jelas-jelas merupakan ilah yang sangat berbeda dari yang pernah duduk dan makan bersama Abraham layaknya seorang sahabat. Dia menginspirasikan rasa takut dan mempertegas jarak.

Ketika Musa menanyakan nama dan jati dirinya, Yahweh menjawab dengan sebuah permainan kata yang, sebagaimana akan kita saksikan, membingungkan para monoteis selama berabad-abad. Alih-alih secara langsung mengungkapkan namanya, dia menjawab, “Aku adalah Aku” (Ehyeh asher ehyeh).19

Apa yang dia maksud?

Dia tentunya tidak bermaksud, sebagaimana ditegaskan para filosof kemudian, bahwa dia adalah Wujud yang ada dengan sendirinya. Bangsa Ibrani tidak memiliki dimensi metafisikal semacam itu pada tahap ini, dan baru sekitar 2.000 tahun kemudian hal itu diperoleh. Tuhan tampaknya memaksudkan sesuatu yang lebih langsung.

Ehyeh asher ehyeh adalah sebuah idiom Ibrani untuk mengungkapkan kesamaran yang disengaja. Ketika Alkitab menggunakan frase seperti, “mereka pergi ke mana mereka pergi,” itu artinya: “saya sama sekali tidak tahu ke mana mereka pergi.”

Jadi, ketika Musa bertanya siapa gerangan dia, Tuhan menjawabnya, “Jangan pikirkan siapa Aku!” atau “Pikirkan dirimu sendiri!”

Tak perlu berdiskusi tentang hakikat Tuhan dan tentunya tak ada upaya untuk memanipulasinya sebagaimana terkadang dilakukan oleh kaum pagan saat mereka menyebut nama-nama Tuhan mereka.

Yahweh adalah Zat Yang Mutlak: “Aku adalah Aku.” Dia akan menjadi apa yang dia pilih dan tidak memberi jaminan apa pun. Dia hanya berjanji bahwa dia akan melibatkan diri dalam sejarah umatnya.

Mitos Pembebasan memberi bukti meyakinkan: ia mampu membersitkan harapan baru bagi masa depan, bahkan dalam keadaan yang mustahil.

Ada harga yang mesti dibayar demi rasa berdaya yang baru ini. Dewa langit yang lama dirasakan telah terlalu jauh dari perhatian manusia, dan dewa-dewa yang lebih muda, seperti Baal, Marduk, dan Dewi Ibu telah datang mendekati manusia, tetapi Yahweh kembali membuka jurang pemisah antara alam manusia dan tuhan.

Ini diperlihatkan dengan jelas dalam kisah di gunung Sinai.

Ketika tiba di gunung itu, orang-orang diperintahkan untuk menguduskan diri dan mencuci pakaian mereka. Musa bahkan harus memperingatkan orang-orang Israel:

“Jagalah baik-baik, jangan kamu mendaki gunung itu atau kena kepada kakinya, sebab siapa pun yang kena kepada gunung itu, pastilah ia dihukum mati.”

Orang-orang berdiri agak jauh dari kaki gunung, lalu Yahweh turun ke atasnya dalam api dan kabut:

Pada hari ketiga, pada waktu terbit fajar,
ada guruh dan kilat dan awan padat di atas
gunung dan bunyi sangkakala yang sangat
keras, sehingga gemetarlah seluruh bangsa
yang ada di perkemahan. Lalu, Musa membawa
bangsa itu keluar dari perkemahan untuk
menjumpai Allah dan berdirilah mereka pada
kaki gunung. Gunung Sinai ditutupi seluruhnya
dengan asap, karena TUHAN turun ke atasnya
dalam api; asapnya membubung seperti asap
dari dapur, dan seluruh gunung itu gemetar
sangat. |

Musa pergi ke puncak gunung itu sendirian dan menerima Taurat.

Bukannya mengalami keadaan yang tertib, harmoni, dan seimbang, seperti visi kaum pagan tentang pertemuan dengan Tuhan, Taurat kini diturunkan ke bumi dari sebuah ketinggian.

Tuhan dalam sejarah dapat mengilhami perhatian yang lebih besar tentang dunia kasat, yang merupakan panggung bagi perbuatannya, tetapi ada pula potensi untuk terasing sepenuhnya dari dunia.

Dalam naskah akhir Kitab Keluaran, yang ditulis pada abad kelima SM, Tuhan dikatakan telah membuat perjanjian dengan Musa di gunung Sinai (kejadian yang diperkirakan berlangsung sekitar 1200 SM).

Ada perdebatan ilmiah menyangkut hal ini: beberapa kritikus percaya bahwa perjanjian itu tidak dipandang penting di Israel hingga abad ketujuh SM. Akan tetapi, terlepas dari waktu kejadiannya, gagasan tentang adanya perjanjian itu mengatakan kepada kita bahwa pada saat itu orang Israel belum menjadi monoteis, karena perjanjian semacam itu hanya bermakna dalam latar politeistik.

Orang Israel tidak percaya bahwa Yahweh, Tuhan Sinai, adalah satu-satunya tuhan, tetapi bersumpah, dalam perjanjian mereka, bahwa mereka akan mengabaikan semua tuhan lain dan hanya akan menyembah kepadanya.

Sangat sulit menemukan sebuah pernyataan monoteistik dalam keseluruhan Pentateukh. Bahkan, Sepuluh Perintah yang diwahyukan di gunung menyiratkan penerimaan keberadaan tuhan-tuhan lain:

“Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.”2'

Menyembah satu tuhan merupakan langkah yang belum pernah ada sebelumnya: Firaun Mesir, Akhenaton, telah berupaya untuk menyembah Dewa Matahari saja dan mengabaikan ilahilah tradisional Mesir lainnya, tetapi kebijakannya segera dibalik oleh penerusnya.

Mengabaikan sumber potensial mana dianggap sebagai tindakan yang jelas-jelas bodoh, dan sejarah Israel selanjutnya memperlihatkan bahwa mereka sangat enggan untuk meninggalkan kultus terhadap ilahilah lain.

Yahweh telah membuktikan keunggulannya dalam perang, tetapi dia bukanlah dewa kesuburan.

Ketika bermukim di Kanaan, orang Israel secara instingtif beralih memuja Baal, Penguasa Kanaan, yang telah membuat tumbuhnya tanam-tanaman sejak zaman yang tak mungkin lagi dapat diingat.

Para nabi mengingatkan agar orang Israel tetap menepati janji, namun sebagian besar dari mereka terus menyembah Baal, Asyera, dan Anat dalam cara tradisional.

Alkitab memang menyatakan kepada kita bahwa ketika Musa berada di gunung Sinai, sebagian orang kembali kepada agama pagan kuno Kanaan.

Mereka membuat patung sapi emas, gambaran tradisional Tuhan El, dan menyelenggarakan ritual kuno di hadapannya.

Penempatan insiden ini dalam kesejajaran yang menyolok dengan pewahyuan di gunung Sinai bisa merupakan upaya para editor Pentateukh untuk menunjukkan adanya perpecahan tajam di Israel.

Nabi-nabi seperti Musa menyebarkan agama Yahweh yang mulia, tetapi kebanyakan orang Israel menginginkan ritusritus lama, dengan visi kesatuan holistik antara dewa-dewa, alam, dan manusia.

Sungguhpun demikian, orang Israel telah berjanji untuk menjadikan Yahweh satu-satunya tuhan mereka setelah pembebasan mereka dari Mesir, dan para nabi tentu akan kembali mengingatkan mereka akan perjanjian ini dalam beberapa tahun kemudian.

Mereka telah berjanji untuk menyembah Yahweh saja sebagai elohim mereka, dan, sebagai imbalannya, Yahweh berjanji mereka akan dijadikan umat pilihannya yang akan menikmati perlindungan istimewa.

Yahweh telah memperingatkan bahwa jika mereka melanggar perjanjian ini, dia akan menghancurkan mereka tanpa ampun.

Bagaimanapun, orang Israel telah menerima perjanjian itu.

Dalam Kitab Yosua kita temukan apa yang mungkin merupakan naskah awal mengenai penerimaan perjanjian antara Israel dan Tuhannya.

Perjanjian itu merupakan pakta formal yang sering digunakan dalam politik Timur Tengah untuk mempersatukan dua pihak. Susunannya sudah ditetapkan.

Naskah perjanjian itu dimulai dengan memperkenalkan raja sebagai mitra yang lebih kuat dan kemudian akan melacak sejarah hubungan antara kedua belah pihak hingga masa sekarang.

Pada bagian akhir, naskah itu menyebutkan ketetapan, syarat-syarat, dan hukuman yang akan diberlakukan jika sumpah setia diabaikan.

Hal terpenting dalam seluruh perjanjian itu adalah tuntutan atas loyalitas mutlak.

Dalam perjanjian abad keempat belas antara Raja Mursilis II dari het dan pengikutnya, Duppi Tashed, raja mengeluarkan tuntutan:

“Jangan berpaling kepada orang lain. Ayah-ayah kalian telah membayar upeti di Mesir. Kalian tidak usah melakukan itu .... Dengan sahabat-sahabatku, kalian harus bersahabat dan dengan musuhmusuhku kalian harus bermusuhan.”

Alkitab mengatakan kepada kita bahwa ketika orang Israel telah tiba di Kanaan dan bergabung dengan puak mereka di sana, semua anak keturunan Abraham membuat sumpah setia kepada Yahweh.

Upacara tersebut dipimpin oleh pengganti Musa, Yosua, untuk mewakili Yahweh.

Perjanjian itu mengikuti pola tradisional. Yahweh diperkenalkan, pertemuannya dengan Abraham, Ishak, dan Yakub diceritakan kembali, dikisahkan pula tentang peristiwa Pembebasan.

Akhirnya, Yosua menetapkan syarat-syarat perjanjian dan menuntut penegasan formal orang Israel yang tengah berkumpul di tempat itu:

Oleh sebab itu, takutlah kepada TUHAN dan
beribadahlah kepadanya dengan tulus ikhlas
dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya
nenek moyangmu telah beribadah di seberang
Sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah
kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak
baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah
pada hari Ini kepada siapa kamu akan
beribadah; allah yang kepadanya nenek
moyangmu beribadah di seberang Sungai Efrat,
atau allah orang Amori yang negerinya kamu
diami ini.

Mereka mesti memilih antara Yahweh dan dewa-dewa tradisional Kanaan.

Mereka tidak ragu-ragu. Tak ada allah lain seperti Yahweh; tidak ada tuhan lain yang lebih lekat di hati para penyembahnya.

Campur tangannya yang kuat dalam persoalanpersoalan yang mereka hadapi telah membuktikan secara amat meyakinkan bahwa Yahweh memenuhi kewajiban sebagai elohim mereka: mereka akan menyembah dia semata dan meninggalkan tuhan-tuhan lain.

Yosua memperingatkan mereka bahwa Yahweh sangat pencemburu. Jika mereka melanggar ketentuan dalam perjanjian itu, dia akan membinasakan mereka.

Mereka mengambil sikap teguh: akan memilih Yahweh saja sebagai elohim mereka.

“Maka sekarang, jauhkanlah allah asing yang ada di tengah-tengah kamu!” seru Yosua, “dan condongkanlah hatimu kepada TUHAN, Allah Israel!”

Alkitab memperlihatkan bahwa orang-orang itu tidak menepati janji. Mereka hanya mengingatnya pada masa-masa perang, ketika mereka membutuhkan kepiawaian perlindungan militer Yahweh, tetapi di masa damai, mereka kembali menyembah Baal, Anat, dan Asyera dalam cara lama. Walaupun secara fundamental berbeda dalam bias historisnya, pemujaan kepada Yahweh sering terungkap dalam bentuk paganisme kuno.

Ketika Raja Salomo (Nabi Sulaiman) mendirikan Kuil untuk Yahweh di Yerusalem—kota yang direbut ayahnya, Daud, dari Yebus—kuil itu ternyata mirip dengan kuil dewa-dewa Kanaan. Bangunan itu terdiri dari tiga ruang persegi empat, yang berpuncak pada ruang kecil berbentuk kubus yang disebut Bait Suci.

Di dalam Bait Suci tersimpan Tabut Perjanjian, sebuah altar yang bisa dibawa-bawa yang selalu menyertai orang Israel pada saat mereka berada di pengungsian. Di dalam Kuil terdapat bejana perunggu besar, merepresentasikan Yam, penguasa laut dalam mitos Kanaan, dan dua tiang tegak setinggi empat puluh kaki yang menandakan pemujaan kepada dewi kesuburan, Asyera.

Orang Israel terus menyembah Yahweh di tempat-tempat suci kuno yang mereka warisi dari orang Kanaan di Betel, Silo, Hebron, Betlehem, dan Dan, yang sering menjadi tempat berlangsungnya upacara-upacara pagan. Kuil itu segera menjadi istimewa meskipun, seperti akan kita saksikan, di sana juga terdapat beberapa aktivitas yang jelas-jelas tidak ortodoks.

Orang Israel mulai menganggap kuil itu sebagai replika istana Yahweh di langit. Mereka juga menyelenggarakan Festival Tahun Baru di musim gugur, dimulai dengan upacara pengurbanan di hari Paskah, disusul oleh syukuran panen hari Raya Pondok Daun, yang merayakan awal tahun tanam. Pernah diperkirakan bahwa sebagian dari mazmur merayakan penahbisan Yahweh di Kuilnya pada hari Raya Pondok Daun, yang, seperti halnya penahbisan Marduk, mengingatkan tentang penaklukannya atas kekacauan.

Raja Salomo sendiri adalah seorang sinkretis besar: dia punya banyak istri pagan, yang menyembah dewa-dewa mereka sendiri, dan tetap menjalin hubungan baik dengan tetangga-tetangga pagannya.

Selalu ada ancaman bahwa kultus Yahweh akhirnya akan tenggelam oleh paganisme populer. Hal ini menjadi semakin parah selama penggal terakhir abad kesembilan.

Pada 869 SM, Raja Ahab naik ke tampuk pemerintahan Kerajaan Israel di utara. Istrinya, Izebel, anak perempuan Raja Tirus dan Sidon, wilayah yang sekarang disebut Lebanon, adalah seorang pagan yang kukuh dan berusaha agar masyarakat negeri itu menganut agama Baal dan Asyera.

Izebel mengutus para rahib Baal, yang segera saja beroleh pengikut dari kalangan warga utara—orang-orang yang, selain pernah dikalahkan oleh Raja Daud, merupakan penganut Yahwis yang setengah hati. Ahab tetap setia kepada Yahweh, tetapi tidak mencoba membatasi dakwah Izebel.

Namun, tatkala kekeringan melanda kawasan itu menjelang akhir pemerintahannya, seorang nabi bernama Elia (yang artinya: “Yahweh Allahku!”) mulai mengembara ke seluruh pelosok negeri, berpakaian mantel bulu dan kain pinggang yang terbuat dari kulit. Dia mengecam ketidaksetiaan kepada Yahweh dan menantang Raja Ahab serta rakyat negeri itu untuk mempersaingkan Yahweh dengan Baal di gunung Karmel.

Di hadapan 450 nabi agama Baal, Elia berkata:

“Berapa lama lagi kalian berlaku timpang dan bercabang hati?”

Lalu, dia minta diambilkan dua ekor lembu jantan, seekor untuk dirinya dan seekor lagi untuk para penyeru agama Baal. Kedua sapi itu akan diletakkan di atas dua buah altar. Mereka akan berdoa kepada tuhan masing-masing dan menyaksikan mana di antara keduanya yang mengirim api dari langit untuk menghanguskan apa yang dikurbankan.

“Setuju!” teriak hadirin.

Para nabi Baal memanggil namanya dari pagi sampai tengah hari, melakukan tarian memutari altar, bersorak, dan melukai diri sendiri dengan pedang dan lembing. Namun, “tidak ada suara, tidak ada yang menjawab.”

Elia mencemooh:

“Panggillah lebih keras!” teriaknya, “bukankah dia allah? Mungkin ia merenung, mungkin ada urusannya, mungkin ia bepergian; barangkali ia tidur, dan belum terjaga.”

Tak ada yang terjadi:

“Tidak ada suara, tidak ada yang menjawab, tidak ada tanda perhatian.”

Kini, tiba giliran Elia. Orang-orang berkerumun mengelilingi altar Yahweh ketika Elia menggali sebuah parit mengitari altar dan mengisinya dengan air untuk membuat api lebih sulit menyala.

Kemudian, Elia memanggil Yahweh. Sekonyong-konyong, tentu saja, api menyambar dari langit, menghanguskan altar dan lembu jantan, bahkan mengeringkan air di dalam parit.

Orang-orang bersujud:

“Yahweh adalah Tuhan,” teriak mereka, “Yahweh adalah Tuhan.”

Namun, Elia bukanlah pemenang yang ramah.

“Tangkap nabi-nabi Baal,” titahnya.

Tak seorang pun dikecualikan: dia giring mereka ke lembah terdekat dan menyembelih mereka di sana.

Paganisme biasanya tidak memaksakan dirinya kepada orang lain—Izebel adalah pengecualian yang menarik—sebab senantiasa tersedia ruang bagi tuhan lain di kuil bersama yang sudah ada.

Peristiwa-peristiwa mitis kuno ini memperlihatkan bahwa sejak awal Yahwisme menghendaki tekanan keras dan penyangkalan terhadap kepercayaan lain, sebuah fenomena yang akan kita analisis secara lebih terperinci dalam bab berikutnya.

Setelah pembunuhan itu, Elia mendaki ke puncak gunung Karmel dan duduk berdoa dengan kepala tertunduk di antara kedua lututnya, memerintahkan pelayannya untuk mengamati ke arah laut.

Akhirnya, dia menyampaikan berita tentang segumpal awan—kira-kira seukuran telapak tangan seorang laki-laki—yang timbul dari laut. Elia memerintahkannya pergi untuk memperingatkan Raja Ahab agar segera kembali pulang sebelum hujan mencegahnya.

Nyaris berbarengan dengan saat dia mengucapkan itu, langit menggelap karena awan mendung menyelimutinya dan hujan turun sangat deras. Elia bersegera mengikat pinggangnya dan berlari mendahului kencana Ahab.

Dengan mengirim hujan, Yahweh telah menyerap fungsi Baal, dewa badai, untuk membuktikan bahwa dia sama efektifnya dalam soal kesuburan maupun perang.

Khawatir akan akibat dari tindakannya melakukan pembunuhan terhadap nabi-nabi Baal, Elia mengundurkan diri ke Semenanjung Sinai dan berlindung di pegunungan tempat Tuhan menampakkan dirinya kepada Musa.

Di sana dia mengalami teofani yang memanifestasikan spiritualitas baru bagi para pengikut Yahweh. Dia diperintahkan berdiri di celah sebuah batu besar untuk melindungi dirinya dari pengaruh yang suci:

Maka TUHAN lalu! Angin besar dan kuat, yang membelah gunung-gunung dan memecah bukit-bukit batu, mendahului TUHAN. Tetapi, tak ada TUHAN dalam angin itu.

Dan sesudah angin itu datanglah gempa. Tetapi, tidak ada TUHAN dalam gempa itu.

Dan sesudah gempa itu datanglah api. Tetapi, tidak ada TUHAN dalam api itu.

Dan sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi biasa.

Segera sesudah Elia mendengarnya, ia menyelubungi mukanya dengan jubahnya.

Tidak seperti dewa-dewa pagan, Yahweh tidak berada dalam kekuatan alam apa pun, tetapi dia ada di dalam alam yang lain. Dia dialami dalam semilir angin yang nyaris tak terasa, dalam paradoks keheningan yang riuh.

Kisah Elia mengandung cerita mitos terakhir dari masa silam dalam kitab suci Yahudi. Perubahan sedang bergaung di angkasa sepanjang masa Oikumene itu.

Periode 800–200 SM disebut sebagai Zaman Kapak. Di semua kawasan utama dunia berperadaban, orang-orang menciptakan ideologi baru yang menjadi semakin penting dan menentukan. Sistem-sistem keagamaan baru mencerminkan kondisi sosial ekonomi yang telah berubah.

Untuk beberapa alasan yang tak bisa sepenuhnya kita pahami, semua induk peradaban berkembang menurut garis yang paralel, bahkan ketika tidak terdapat hubungan dagang di antaranya (misalnya antara kawasan Cina dan Eropa).

Ada kemakmuran baru yang membawa pada lahirnya kelas pedagang. Kekuasaan bergeser dari raja dan rahib, kuil dan istana, ke bursa perdagangan.

Kemakmuran baru membawa kemajuan intelektual dan kultural selain juga menimbulkan perkembangan kesadaran individual. Ketidakadilan dan eksploitasi menjadi lebih jelas selaras dengan perubahan pesat yang terjadi di kota-kota. Orang-orang mulai menyadari bahwa perilaku mereka sendiri dapat berpengaruh terhadap nasib generasi berikutnya.

Setiap kawasan mengembangkan ideologi yang berbeda untuk menghadapi persoalan dan keprihatinan ini: Taoisme dan Konfusianisme di Cina, Hinduisme dan Buddhisme di India, dan rasionalisme filosofis di Eropa.

Timur Tengah tidak menghasilkan solusi yang seragam, tetapi di Iran dan Israel, nabi-nabi Zoroaster dan Ibrani secara sendiri-sendiri mengembangkan versi monotesime yang berbeda. Anehnya, gagasan tentang “Tuhan”, seperti halnya wawasan besar keagamaan lain pada masa itu, berkembang dalam ekonomi pasar dengan semangat kapitalisme agresif.

Like

1

Love

2

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment