Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan
“Kemuliaan” Yahweh adalah simbol kehadirannya di bumi dan, dengan begitu, menekankan perbedaan antara gambaran terbatas tentang Tuhan yang diciptakan oleh manusia dan kesucian Tuhan sendiri. Dengan demikian, ini merupakan penyeimbang terhadap watak keberhalaan agama Israel. Tatkala P melihat kembali kisah klasik tentang Pembebasan, dia tidak membayangkan bahwa Yahweh sendiri betul-betul telah menemani orang Israel selama masa-masa sulit mereka: ini akan menjadi antropomorfisme yang janggal. Sebaliknya, dia memperlihatkan “kemuliaan” Yahweh memenuhi kemah tempat dia bertemu dengan Musa. Sama halnya, hanya “kemuliaan Yahweh” yang ada di dalam Kuil.?
Kontribusi P dalam Pentateukh yang paling terkenal, tentu saja, adalah kisah tentang penciptaan dalam bab pertama Kitab Kejadian, yang mengambil sumber dari Enuma Elish. P mulai dengan air dalam samudra raya (tehom, penyimpangan dari “Tiamat”), yang darinya Yahweh menciptakan langit dan bumi. Namun, tak ada perang antardewa, atau pertarungan dengan Yam, lotan, atau Rahab. Hanya Yahweh yang bertanggung jawab mewujudkan segala sesuatunya. Tak ada emanasi realitas yang terjadi secara bertingkat-tingkat, bahkan Yahweh mencapai ketertiban melalui tindakan berkehendak tanpa susah payah.
Secara alamiah, P tidak mengonsepsikan dunia sebagai sesuatu yang sakral, yang tersusun dari unsur-unsur yang sama dengan Yahweh. Memang, ajaran tentang “keterpisahan” cukup krusial dalam teologi P: Yahweh membuat kosmos tempat yang teratur dengan memisahkan malam dari siang, air dari tanah kering, dan cahaya dari kegelapan. Pada setiap tahap, Yahweh memberkati dan menyucikan penciptaan dan menyebutnya sebagai “kebaikan”. Tidak seperti dalam kisah Babilonia, penciptaan manusia merupakan puncak kreasi, bukan sekadar kebetulan. Manusia mungkin tidak ikut memiliki watak ilahiah, tetapi mereka diciptakan dalam citra Tuhan: mereka memikul tugas-tugas kreatifnya.
Seperti dalam Enuma Elish, enam hari penciptaan diiringi oleh jeda sabbatical pada hari ketujuh: dalam kisah Babilonia, ini merupakan hari pada saat Majelis Agung mengadakan pertemuan untuk “memperbaiki ketentuan” dan menganugerahkan gelar kepada Marduk. Dalam tradisi P, hari Sabtu merupakan kontras simbolik dengan kekacauan primordial yang terjadi pada hari Pertama. Nada dan pengulangan didaktiknya menyarankan bahwa kisah penciptaan P juga dirancang untuk resital liturgi, seperti Enuma Elish, untuk memuji kreasi Yahweh dan memahkotainya dengan gelar pencipta dan penguasa Israel.
Secara alamiah, Kuil baru merupakan pusat Yudaisme P. Di Timur Dekat, kuil dipandang sebagai replika kosmos. Pembangunan kuil menjadi tindakan imitatio dei, memampukan manusia untuk berpartisipasi dalam kreativitas para dewa itu sendiri. Selama masa pengasingan, banyak orang Yahudi menemukan ketenangan dalam kisah-kisah kuno tentang Tabut Perjanjian, tempat suci yang dapat dibawa-bawa di mana Tuhan telah “mendirikan kemahnya” (shakan) bersama umatnya dan ikut merasakan ketunawismaan mereka.
Ketika menggambarkan tempat suci itu, Kemah Pertemuan di pengasingan, P menggunakan mitologi kuno. Rancangan arsitekturnya tidak orisinal, tetapi salinan dari model suci: Musa diberi perintah yang sangat panjang dan terperinci oleh Yahweh di gunung Sinai: “Dan mereka harus membuat tempat kudus bagi-Ku, supaya Aku akan diam di tengah-tengah mereka. Menurut segala apa yang Kutunjukkan kepadamu sebagai contoh Kemah Suci dan sebagai contoh segala perabotannya, demikian kamu harus membuatnya.”
Penjelasan panjang tentang pembangunan tempat suci ini tentu tidak dimaksudkan untuk diartikan secara harfiah: tak seorang pun membayangkan bahwa orang Israel kuno telah benar-benar membangun sebuah kuil megah yang terbuat dari “emas, perak, tembaga, kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, linen halus, bulu kambing, kulit domba jantan yang diwarnai merah, kulit lumba-lumba, kayu penaga ... dan seterusnya.©
Interpolasi panjang lebar ini tak pelak mengingatkan pada kisah P tentang penciptaan. Pada setiap tahapan pembangunan, Musa “menyaksikan semua pekerjaan”, dan “memberkati” umat, seperti yang dilakukan Yahweh selama enam hari penciptaan. Tempat kudus itu dibangun pada hari pertama bulan pertama tahun itu: Bezazeel, arsitek kuil, mendapat inspirasi dari ruh Tuhan (ruach elohim) yang juga memikirkan penciptaan dunia, dan kedua kisah menekankan pentingnya istirahat di hari Sabtu.” Pembangunan kuil juga merupakan simbol keharmonian primordial yang telah ada sebelum manusia merusak dunia.
Dalam Kitab Ulangan, hari Sabtu dirancang untuk memberi setiap orang, termasuk para budak, satu hari libur dan untuk mengingatkan orang-orang Israel tentang peristiwa Pembebasan.8?8 P telah memberikan arti penting baru bagi hari Sabtu: menjadi tindakan meneladani Tuhan dan mengenang kembali penciptaan dunia. Ketika mereka menjalani istirahat hari Sabtu, orang Yahudi berpartisipasi dalam sebuah ritual yang pada awalnya dilakukan oleh Tuhan sendiri: ini merupakan upaya simbolik untuk menjalani kehidupan suci.
Dalam paganisme kuno, setiap perbuatan manusia meniru perbuatan para dewa, namun kultus Yahweh telah membukakan jurang pemisah yang dalam antara alam ilahi dan manusia. Kini, orang Yahudi diminta untuk lebih mendekati Yahweh dengan menaati Taurat Musa. Kitab Ulangan telah mendaftar sejumlah hukum wajib, yang mencakup Sepuluh Perintah Tuhan. Selama dan segera setelah pengasingan, hukum ini diuraikan menjadi undang-undang rumit yang terdiri atas 613 perintah (mitzvot) dalam Pentateukh.
Petunjuk-petunjuk terperinci ini tampak melemahkan semangat bagi orang luar dan telah ditampilkan secara yang sangat negatif dalam polemik Perjanjian Baru. Orang Yahudi tidak merasakan itu sebagai beban yang berat, seperti yang cenderung dibayangkan orang Kristen, tetapi sebagai cara simbolik untuk hidup dalam kehadiran Tuhan. Dalam Kitab Ulangan, hukum-hukum tentang makanan merupakan simbol status khusus orang Israel.°% P juga memandangnya sebagai upaya ritualisasi untuk ikut memiliki kesucian Tuhan, menyembuhkan derita keterpisahan antara manusia dengan yang ilahi. Watak manusia bisa disucikan ketika orang Israel meneladani tindakan-tindakan kreatif Tuhan dengan memisahkan susu dari daging, yang bersih dari yang kotor, dan hari Sabtu dari hari-hari lain dalam seminggu.
Karya tradisi P dimasukkan ke dalam Pentateukh bersama tulisantulisan dari J, E, dan D. Ini merupakan pengingat bahwa setiap agama besar terdiri dari sejumlah visi dan spiritualitas yang independen. Sebagian Yahudi selalu merasa lebih tertarik kepada Tuhan Deuteronomis, yang telah memilih Israel untuk dipisahkan secara agresif dari goyim, sebagian lainnya memperluas ini menjadi mitos-mitos Ratu Adil yang menanti datangnya hari Yahweh di akhir zaman, ketika dia akan mengangkat derajat orang Israel dan menghinakan bangsa-bangsa lain. Kisah-kisah mitologis ini cenderung melihat Tuhan sebagai wujud yang sangat jauh.
Telah disepakati bahwa setelah pengasingan, era kenabian sudah berakhir. Tak perlu lagi ada kontak langsung dengan Tuhan: hal itu hanya dicapai dalam visi-visi simbolik yang dinisbahkan kepada figur-figur besar di masa yang silam, seperti enok dan Daniel. Salah seorang pahlawan masa silam itu, dihormati di Babilonia sebagai teladan kesabaran dalam penderitaan, adalah Ayub. Setelah pengasingan, salah seorang yang berhasil melewatinya menggunakan legenda tua ini untuk mengajukan pertanyaan mendasar tentang hakikat Tuhan dan tanggung jawabnya terhadap penderitaan manusia.
Dalam kisah tua ini, Ayub diuji oleh Tuhan: karena dia telah memikul penderitaan yang berat itu dengan sabar, Tuhan memberkatinya dengan memulihkan kembali kekayaannya di masa lalu. Dalam versi baru kisah Ayub, penulisnya konon memecah legenda tua itu menjadi dua dan menggambarkan Ayub gusar kepada sikap Tuhan. Bersama tiga pendampingnya, Ayub dengan berani mempertanyakan ketetapan Tuhan dan terlibat dalam perdebatan intelektual yang keras.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah agama Yahudi, imajinasi keagamaan beralih kepada spekulasi yang bersifat lebih abstrak. Para nabi telah mengklaim bahwa Tuhan membiarkan orang Israel menderita lantaran dosa-dosa mereka sendiri, penulis kisah Ayub menunjukkan bahwa sebagian orang Israel tidak lagi puas dengan jawaban-jawaban tradisional. Ayub menyerang dan mengungkapkan kelemahan intelektual pandangan ini. Namun, tiba-tiba Tuhan wmenyela spekulasinya yang kasar.
Dia memperlihatkan diri kepada Ayub dalam suatu penampakan, mengutarakan keluarbiasaan dunia yang telah diciptakannya: bagaimana mungkin seorang makhluk kecil yang lemah, seperti Ayub berani menentang Tuhan yang transenden? Ayub menyerah, tetapi seorang pembaca modern, yang mencari jawaban lebih koheren dan filosofis tentang problem penderitaan, tidak akan puas dengan solusi semacam ini. Penyusun kisah Ayub memang tidak mengingkari hak untuk bertanya, tetapi menyarankan bahwa akal semata tidak memadai untuk membahas persoalan yang tak teruraikan ini. Spekulasi intelektual mesti memberi jalan bagi wahyu langsung dari Tuhan seperti yang telah diterima oleh para nabi.
Orang Yahudi memang belum berfilsafat, tetapi selama abad keempat mereka berada di bawah pengaruh rasionalisme Yunani. Pada tahun 332 SM, Alexander dari Makedonia menaklukkan Darius III dari Persia dan orang Yunani mulai menjajah Asia dan Afrika. Mereka mendirikan negara-kota di Tirus, Sidon, Gaza, Philadelphia (Amman), dan Tripoli, bahkan Sekhem. Orang Yahudi di Palestina dan yang menyebar (diaspora) dikepung oleh budaya helenis yang oleh sebagian dianggap mengganggu, tetapi sebagian lainnya menyenangi teater, filsafat, olahraga, dan puisi Yunani.
Mereka mempelajari bahasa Yunani, berolahraga di gymnasium, dan menggunakan nama Yunani. Sebagian bekerja sebagai tentara bayaran dalam tentara Yunani. Mereka bahkan menerjemahkan kitab suci mereka ke dalam bahasa Yunani dan menghasilkan versi yang dikenal sebagai Septuaginta. Dengan demikian, sebagian orang Yunani mulai mengenal Tuhan Israel dan memutuskan untuk menyembah Yahweh (atau lao, demikian mereka menyebutnya) di samping Zeus dan Dionisus.
Sebagian tertarik kepada sinagoga atau tempat-tempat pertemuan yang telah diubah oleh orang-orang Yahudi diaspora menjadi kuil tempat peribadatan. Di sana mereka membaca kitab suci, berdoa, dan mendengarkan khotbah-khotbah. Sinagoga tidak sama dengan apa pun yang ada di seluruh dunia keagamaan kuno. Karena tidak ada ritual atau pengurbanan, sinagoga menjadi lebih mirip dengan sekolah filsafat, dan mereka berbondong-bondong menuju sinagoga ketika seorang penceramah Yahudi terkenal tiba di kota, sebagaimana mereka akan antre untuk mendengarkan para filosof mereka sendiri. Sebagian orang Yunani bahkan menunaikan bagian-bagian tertentu dari Kitab Taurat dan bergabung dengan orang Yahudi dalam sekte-sekte sinkretis. Selama abad keempat SM, ditemukan satu-dua kejadian orang Yahudi dan Yunani menggabungkan Yahweh dengan salah satu dewa-dewa Yunani.
Akan tetapi, kebanyakan orang Yahudi tetap menyendiri dan ketegangan tumbuh antara orang Yahudi dan Yunani di kota-kota Timur Tengah yang telah terhelenisasi. Di dunia kuno, agama bukanlah persoalan pribadi. Dewa-dewa sangat penting bagi perkotaan, dan diyakini bahwa dewa-dewa akan mencabut perlindungannya jika pemujaan terhadap mereka diabaikan. Orang Yahudi, yang mengklaim bahwa dewa-dewa ini tidak ada, disebut “ateis” dan musuh masyarakat.
Pada abad kedua SM, permusuhan meningkat: Di Palestina bahkan timbul pemberontakan ketika Antiokhia Epiphanes, gubernur Seleukia, berupaya melakukan Helenisasi atas Yerusalem dan memperkenalkan kultus Zeus di kuil. Orang Yahudi mulai menerbitkan literatur mereka sendiri, yang menjelaskan bahwa hikmat bukanlah kecerdasan Yunani, melainkan ketakutan kepada Yahweh. Literatur hikmat menjadi genre yang mantap di Timur Tengah: berupaya untuk mendalami makna hidup, bukan dengan refleksi filosofis, melainkan dengan mencari cara terbaik untuk menjalani hidup. Literatur ini sering bersifat pragmatis.
Penyusun Kitab Amsal, yang menulis pada abad ketiga SM, melangkah lebih jauh dan menyarankan bahwa hikmat merupakan rencana yang telah dibuat Tuhan saat dia menciptakan dunia dan, dengan demikian, merupakan ciptaannya yang pertama. gagasan ini menjadi sangat penting bagi generasi awal Kristen, sebagaimana akan kita lihat pada Bab 4. Pengarang mempersonifikasikan hikmat sehingga ia seolah menjadi sosok tersendiri:
TUHAN telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada .... Aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan -Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya, aku bermain-main di atas muka bumi-Nya, dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku. ''
Namun, hikmat bukanlah suatu wujud suci, melainkan secara spesifik dikatakan telah diciptakan Tuhan. Dia mirip dengan “kemuliaan” Tuhan, yang dijelaskan oleh para penulis tradisi P, mewakili rencana Tuhan bahwa manusia dapat meraih pandangan sekilas tentang penciptaan dan persoalan-persoalan manusia: penulis menampilkan hikmat (Hokhmah) berseru nyaring di jalan-jalan, mengimbau umat agar takut kepada Yahweh.
Pada abad kedua SM, Yesus bin Sirakh, seorang Yahudi Yerusalem yang saleh, melukiskan potret yang serupa tentang hikmat. Dia membuatnya berdiri di hadapan Majelis Suci dan menyenandungkan puja-pujinya sendiri: dia keluar dari mulut Yang Mahatinggi sebagai Firman suci yang dengannya Tuhan menciptakan dunia: dia hadir dalam setiap ciptaan, tetapi mengambil tempat berdiam yang menetap di tengah-tengah orang Israel.”
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
Sebagaimana “kemuliaan” Yahweh, figur hikmat merupakan simbol aktivitas Tuhan di dunia. Orang Yahudi menumbuhkan gagasan yang begitu agung tentang Yahweh sehingga sulit membayangkan dia campur tangan langsung dalam persoalan manusia. Seperti P, mereka lebih suka membedakan Tuhan yang bisa kita ketahui dan alami dari realitas suci itu sendiri. Tatkala kita membaca tentang hikmat suci yang meninggalkan Tuhan untuk menyusuri dunia mencari manusia, sulit untuk tidak teringat pada dewi-dewi pagan semacam Isytar, Anat, dan Isis yang turun dari alam suci dengan membawa misi penyelamatan.
Dalam Hikmat Salomo, seorang Yahudi Aleksandria, tempat berdiamnya komunitas penting Yahudi, mengingatkan kaum Yahudi untuk menahan diri dari godaan budaya Helenis yang ada di sekeliling mereka dan tetap setia pada tradisi mereka sendiri: bahwa rasa takut akan Yahweh, bukan filsafat Yunani, yang merupakan hikmat sejati. Menulis dalam bahasa Yunani, dia juga mempersonifikasi hikmat (Sophia) dan berpandangan bahwa hal itu tidak dapat dipisahkan dari Tuhan Yahudi:
Hikmat [Sophia] adalah napas kekuasaan Allah, Pancaran murni kemuliaan Yang Mahakuasa; maka tak ada noda yang dapat mengotorinya, Dia adalah pantulan cahaya abadi cermin kekuasaan Tuhan yang tiada bercela, bayangan kebaikannya.
Kalimat ini juga menjadi sangat penting bagi kaum Kristiani ketika mereka mulai mendiskusikan status Yesus. Namun, penulis Yahudi secara sederhana memandang sophia sebagai sebuah aspek dari Tuhan yang tak dapat diketahui, yang menyesuaikan dirinya dengan pemahaman manusia. Dia adalah Tuhan sebagaimana dia telah mewahyukan diri kepada manusia: persepsi manusia tentang Tuhan, secara misterius berbeda dari realitas Tuhan yang sepenuhnya, yang selalu luput dari jangkauan pemahaman kita.
Penyusun Hikmat Salomo benar adanya saat merasakan ketegangan antara pemikiran Yunani dan agama Yahudi. Kita telah melihat bahwa ada suatu perbedaan krusial dan mungkin tak terdamaikan antara Tuhan Aristoteles, yang sama sekali tidak sadar akan dunia yang telah diciptakannya, dengan Tuhan Alkitab, yang secara hangat terlibat dalam urusan-urusan manusia. Tuhan Yunani bisa ditemukan oleh akal manusia, sedangkan Tuhan Alkitab hanya menampakkan diri melalui wahyu.
Suatu jurang memisahkan Tuhan Yahudi dari dunia, namun orang Yunani percaya bahwa karunia akal membuat manusia serumpun dengan Tuhan, mereka, oleh karena itu, bisa mencapainya dengan usaha mereka sendiri. Walaupun demikian, setiap kali kaum monoteis jatuh cinta kepada filsafat Yunani, maka tak pelak lagi mereka ingin mencoba mengadaptasikan konsepsi Tuhan Yunani dengan konsepsi mereka sendiri. Ini akan menjadi salah satu tema pokok cerita kita. Salah satu orang pertama yang berupaya melakukan ini adalah filosof kenamaan Yahudi, Philo dari Aleksandria (30-45 M).
Philo adalah seorang Platonis dan memiliki reputasi gemilang sebagai filosof rasional pada zamannya. Dia menulis dalam bahasa Yunani yang baik dan tampaknya tidak bisa berbahasa Ibrani meskipun dia juga seorang Yahudi yang beriman dan menaati mitzvot. Dia tak melihat adanya perbedaan antara Tuhannya dengan Tuhan Yunani. Akan tetapi, mesti dikatakan bahwa Tuhan Philo tampak sangat berbeda dari Yahweh. Karena suatu hal, Philo tampaknya kurang senang dengan kitab-kitab sejarah Alkitab, yang coba dia ubah menjadi kiasan-kiasan yang rumit: Aristoteles, dapat diingat kembali, memahami sejarah secara tidak filosofis.
Tuhannya tidak memiliki sifat-sifat manusia: dalam konsepsi Aristoteles, adalah tidak tepat, misalnya, menyatakan bahwa Tuhan “marah”. Yang dapat kita ketahui tentang Tuhan adalah fakta tentang eksistensinya saja. Meskipun demikian, sebagai praktisi Yahudi, Philo sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan telah menampakkan dirinya kepada para nabi. Bagaimana hal ini menjadi mungkin?
Philo memecahkan persoalan itu dengan membuat pembedaan penting antara esensi Tuhan (Ousia), yang sepenuhnya tidak dapat dipahami, dan aktivitas Tuhan di dunia yang disebutnya “kekuasaan” (dynamies) atau energi (energeiai). Pada dasarnya, itu mirip dengan solusi P dan para penulis Hikmat. Kita tidak pernah bisa mengetahui Tuhan sebagaimana dia dalam dirinya sendiri. Philo menulis bahwa Musa berkata: “Pemahaman tentang aku adalah sesuatu yang manusia, ya, bahkan seluruh langit dan bumi, tidak mampu menampungnya.”’?
Untuk mengadaptasikan dirinya kepada kemampuan akal kita yang terbatas, Tuhan berkomunikasi melalui “kekuasaannya”, yang tampaknya sama dengan bentuk-bentuk suci Plato (tetapi, Philo tidak selamanya konsisten tentang ini). Bentuk-bentuk suci ini merupakan realitas tertinggi yang dapat dijangkau oleh pikiran manusia. Philo menganggapnya memancar dari Tuhan, seperti Plato dan Aristoteles memandang bahwa kosmos memancar secara abadi dari Sebab Pertama. Dua di antara kekuasaan ini penting secara khusus. Philo menyebutnya kuasa Kerajaan, yang mengungkapkan Tuhan dalam keteraturan alam, dan kuasa Kreatif, yang dengannya Tuhan mengungkapkan diri dalam berkat yang dilimpahkannya kepada manusia.
Setiap kuasa ini tidak bisa dicampuradukkan dengan esensi ilahi (ousia), yang tetap terbungkus dalam misteri yang tak tertembus. Kuasa itu memampukan kita menangkap kilasan realitas yang berada di atas segala sesuatu yang bisa kita pahami. Terkadang Philo berbicara tentang wujud esensial Tuhan (ousia) didampingi oleh kuasa Kerajaan dan Kreatif dalam sebentuk trinitas. Ketika menginterpretasikan kisah kunjungan Yahweh dan dua malaikat kepada Abraham di Mamre, misalnya, dia mengatakan bahwa peristiwa itu merupakan penampilan kiasan ousia Tuhan—Dia Sebagaimana Adanya—bersama dua kekuasaan senior.'4
J akan dibuat tercengang oleh hal ini dan, memang, orang Yahudi selalu memandang konsepsi Philo tentang Tuhan sebagai tidak autentik. Akan tetapi, orang Kristen menganggap Philo sangat membantu, dan orang Yunani, seperti akan kita saksikan, menerima pembedaan antara “esensi” Tuhan yang tak dapat diketahui dengan “energi” yang membuatnya dapat kita kenali. Mereka juga akan dipengaruhi oleh teorinya tentang logos Ilahi. Seperti halnya para penulis hikmat, Philo membayangkan bahwa Tuhan telah membentuk sebuah rancangan dasar (logos) penciptaan, yang bersesuaian dengan alam bentuk-bentuk Plato.
Sekali lagi, Philo tidak selalu konsisten. Kadang kala dia menyatakan bahwa logos adalah salah satu dari kuasa itu: pada saat lain dia tampaknya berpendapat bahwa logos lebih tinggi, yakni sebagai ide tertinggi tentang Tuhan yang bisa dicapai oleh manusia. Namun demikian, ketika kita berkontemplasi tentang logos, kita tidak membentuk pengetahuan positif tentang Tuhan: kita tiba di luar jangkauan akal diskursif menuju pemahaman intuitif yang “lebih tinggi daripada suatu cara berpikir, lebih berharga daripada sesuatu yang sekadar merupakan pikiran”.'S
Itu adalah aktivitas yang mirip dengan kontemplasi Plato (theoria). Philo bersikeras bahwa kita tak akan pernah mencapai Tuhan sebagaimana dia dalam dirinya: kebenaran tertinggi yang dapat kita jangkau adalah pengakuan tak terelakkan bahwa Tuhan benar-benar mentransendensi pikiran manusia.
Ini tidak segamblang kedengarannya. Philo menggambarkan sebuah pengembaraan penuh kasih dan menyenangkan menuju yang tak diketahui, yang memberinya pembebasan dan energi kreatif. Seperti Plato, dia memandang jiwa seperti dalam pengasingan, terperangkap dalam dunia materi yang bersifat fisik. la harus kembali kepada Tuhan, rumahnya yang sejati, meninggalkan kesenangan, dunia indriawi, dan bahkan bahasa, karena semua itu mengikat kita dengan dunia yang tidak sempurna. Akhirnya, jiwa akan mencapai kebahagiaan yang membawanya mengatasi kesuraman keterbatasan ego menuju realitas yang lebih luas dan utuh.
Kita telah menyaksikan bahwa konsepsi tentang Tuhan sering merupakan pemikiran imajinatif. Para nabi telah merefleksikan pengalaman mereka dan merasa bahwa hal itu berasal dari suatu wujud yang mereka sebut Tuhan. Philo memperlihatkan bahwa kontemplasi religius memiliki banyak kesamaan dengan bentuk-bentuk kreativitas lain. Ada saat-saat, katanya, ketika dia sulit meneruskan penulisan bukunya dan tidak membuat kemajuan apa pun, tapi terkadang dia merasa terkuasai oleh tuhan:
Aku .. tiba-tiba menjadi penuh, ide-ide turun bagaikan salju, sedemikian sehingga di bawah pengaruh kuasa ilahi, aku dipenuhi kegaduhan Corybantic [ritus dan prosesi dalam pemujaan Dewi Cybele—dewi alam masyarakat kuno Asia Minor—yang sangat liar secara emosional,-—ed. | dan menjadi tak sadar akan apa pun, tempat, orang, waktu saat ini, diri sendiri, apa yang diucapkan, dan apa yang dituliskan. Karena aku memperoleh ekspresi, gagasan, kebahagiaan hidup, pandangan tajam, kejelasan yang luar biasa atas objek-objek seperti yang mungkin terjadi lewat penglihatan mata yang sangat jernihs 9
Segera setelah itu, tidak mungkin lagi bagi orang-orang Yahudi untuk mencapai sebuah sintesis dengan dunia Yunani. Pada tahun kematian Philo terjadi pembunuhan sistematik atas komunitas Yahudi di Aleksandria dan merebaknya ketakutan akan kebangkitan Yahudi. Ketika Romawi menegakkan imperium mereka di Afrika Utara dan Timur Tengah pada abad kesatu SM, mereka menenggelamkan diri dalam kebudayaan Yunani, menggabungkan dewa-dewa nenek moyang mereka dengan dewa-dewa Yunani dan mengadopsi filsafat Yunani dengan sangat antusias.
Namun, mereka tidak mewarisi sikap permusuhan Yunani terhadap orang Yahudi. Sebaliknya, mereka tak jarang lebih membela orang Yahudi daripada orang Yunani, memandang mereka sebagai sekutu penuh di kota-kota Yunani yang masih menyimpan sisa-sisa permusuhan terhadap Romawi. Orang Yahudi diberi kebebasan beragama sepenuhnya: agama mereka dikenal sebagai agama besar di zaman antik dan dihormati.
hubungan antara Yahudi dan Romawi biasanya selalu baik, sekalipun di Palestina, yang sering sulit menerima pemerintahan asing. Pada abad kesatu M, Yudaisme berada dalam posisi yang sangat kuat dalam kerajaan Romawi. Sepersepuluh dari seluruh wilayah kerajaan diisi komunitas Yahudi: di Aleksandria, empat puluh persen penduduk adalah orang Yahudi. Orang-orang di kerajaan Romawi tengah mencari alternatif agama baru. Gagasan monoteistik sedang merebak, dewa-dewa lokal tak lama kemudian hanya dianggap sebagai perwujudan dari keilahan yang lebih luas. Orang Romawi tertarik pada karakter moral Yudaisme yang tinggi.
Baca Juga: Lighten PDF Converter OCR 6.1.1 Full Version
Mereka yang keberatan untuk disunat dan mengikuti Taurat sering dijadikan anggota kehormatan sinagoga-sinagoga dan disebut sebagai “orang yang takut kepada Allah”. Jumlah mereka terus meningkat: bahkan diperkirakan bahwa salah seorang kaisar Flavian mungkin telah beralih ke Yudaisme, sementara Konstantin nantinya beralih ke Kristen. Namun di Palestina, sebuah kelompok politik ekstrem dengan keras menentang pemerintahan Romawi. Pada 66 M, mereka merancang sebuah pemberontakan melawan Romawi dan, di luar dugaan, berhasil menghambat gerak maju pasukan Romawi selama empat tahun.
Para penguasa cemas, pemberontakan itu akan meluas kepada kaum Yahudi diaspora lainnya dan terpaksa menumpasnya tanpa ampun. Pada 70 M, tentara kaisar baru Vespasian akhirnya menguasai Yerusalem, meratakan Kuil dengan tanah, dan menjadikannya Kota Romawi bernama Aelia Capitolana. Sekali lagi orang Yahudi terusir ke pengasingan.
Keruntuhan Kuil, yang telah menjadi sumber inspirasi Yudaisme baru, merupakan duka yang dalam. Akan tetapi, jika melihat ke belakang, tampaknya orang Yahudi Palestina, yang sering lebih konservatif daripada Yahudi diaspora yang sudah terhelenisasi, telah mempersiapkan diri mereka untuk menghadapi bencana ini. Berbagai sekte telah tumbuh di Tanah Suci ini yang dengan berbagai cara berbeda memisahkan diri mereka dari Kuil Yerusalem.
Sekte Essenia dan sekte Qumran percaya bahwa Kuil telah menjadi kotor dan korup; mereka menarik diri dan hidup dalam komunitas terpisah, seperti komunitas bergaya monastik di sisi laut Mati. Mereka percaya bahwa mereka sedang membangun sebuah kuil baru, yang bukan dibuat dengan tangan. Kuil mereka adalah Kuil Ruh; bukannya dengan memberikan hewan kurban seperti yang lama, mereka menyucikan diri dan mencari pengampunan dosa dengan upacara baptis dan perjamuan umum. Tuhan hadir di tengah persaudaraan yang saling mengasihi, bukan di dalam kuil batu.
Yang paling progresif di antara semua umat Yahudi Palestina adalah kaum Farisi yang merasa solusi aliran Essenia terlalu elitis. Dalam Perjanjian Baru, kaum Farisi digambarkan sebagai orangorang munafik. Ini disebabkan oleh distorsi polemik pada abad pertama. Kaum Farisi sebenarnya merupakan orang-orang Yahudi yang sangat spiritual. Mereka percaya bahwa seluruh Israel telah diimbau untuk menjadi bangsa suci para rahib. Tuhan dapat hadir di rumah yang paling sederhana sebagaimana kehadirannya di Kuil.
Akibatnya, mereka hidup bagaikan kasta rahib resmi, menjalankan hukum-hukum kesucian khusus yang mereka terapkan hanya pada kuil yang ada di rumah mereka. Mereka bersikeras untuk makan dalam keadaan suci secara ritual karena mereka yakin bahwa meja setiap orang Yahudi bagaikan mezbah Tuhan di Kuil. Mereka menanamkan rasa tentang kehadiran Tuhan dalam setiap perincian kecil kehidupan sehari-hari. Orang Yahudi kini dapat langsung mendekati Tuhan tanpa perantaraan kasta rahib dan tanpa ritual yang rumit.
Mereka dapat beroleh ampunan dosa dengan cara berbuat baik kepada tetangga mereka: sedekah merupakan mitzvah terpenting di dalam Taurat: ketika dua atau tiga orang Yahudi belajar Taurat bersama-sama, Tuhan hadir di tengah-tengah mereka. Selama beberapa tahun di awal abad itu, muncul dua aliran yang saling bertentangan: satunya dipimpin oleh Shammai yang Tua, yang lebih ketat, yang lain dipimpin oleh Rabi hillel yang Tua, yang merupakan kelompok Farisi paling populer saat itu.
Ada sebuah cerita bahwa suatu hari seorang pagan mendatangi Hillel dan berkata kepadanya bahwa dia pasti akan menganut Yudaisme jika rabi itu mampu membaca semua isi Taurat sambil berdiri di atas sebelah kaki. Hillel menjawab, “Jangan melakukan kepada orang lain suatu perbuatan yang engkau sendiri tidak ingin dilakukan kepada dirimu. Itulah keseluruhan Taurat: pergi dan pelajarilah.””'
Pada tahun 70 yang penuh musibah itu, Farisi berkembang menjadi Yudaisme Palestina yang paling penting dan disegani: mereka telah membuktikan kepada umat bahwa mereka tidak membutuhkan Kuil untuk menyembah Tuhan, sebagaimana diperlihatkan oleh kisah masyhur berikut ini:
Ketika Rabi Yohannan ben Zakkei tiba dari Yerusalem, Rabi Yoshua mendatanginya dan diceritakan bahwa Kuil telah dihancurkan. “Celakalah kita!” seru Rabi Yoshua, “tempat penebusan dosa-dosa orang Israel telah dirobohkan!” “Anakku, "jawab Rabi Yohannan, “Janganlah berduka. Kita memiliki tempat penebusan lain yang sama ampuhnya. Apakah itu? Itulah perbuatan baik, karena telah dikatakan: “Yang Aku kehendaki adalah kasih sayang, bukan pengurbanan.’”







Comments (0)