[Buku Bahasa Indonesia] The Psychology of Money - Morgan Housel

4.

 

Keajaiban Compounding

$81,5 miliar dari kekayaan bersih $84,5 miliar Warren Buffett diperoleh setelah ulang tahunnya yang ke-65. Pikiran kita tidak dibangun untuk memahami kejanggalan semacam itu.

Pelajaran dari satu bidang kerap mengajarkan sesuatu yang penting tentang bidang lain yang sama sekali tidak berkaitan. Ambillah sejarah zaman es selama miliaran tahun, dan apa yang dapat diajarkannya tentang menumbuhkan uang Anda.

Pengetahuan ilmiah kita tentang Bumi sebenarnya lebih muda daripada yang mungkin Anda bayangkan. Memahami cara kerja dunia sering kali menuntut kita menembus jauh ke bawah permukaannya—sesuatu yang baru dapat kita lakukan relatif belakangan. Isaac Newton telah menghitung pergerakan bintang-bintang ratusan tahun sebelum kita memahami beberapa dasar planet kita sendiri.

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Baru pada abad ke-19 para ilmuwan sepakat bahwa Bumi, pada beberapa kesempatan, pernah tertutup es.¹? Bukti yang ada terlalu banyak untuk disangkal. Di seluruh dunia terdapat jejak-jejak dari dunia yang dahulu membeku: bongkahan batu raksasa yang tersebar acak; lapisan batuan yang tergerus hingga tipis. Menjadi jelas bahwa bukan hanya satu zaman es, melainkan lima periode berbeda yang dapat kita ukur.

Jumlah energi yang dibutuhkan untuk membekukan planet ini, mencairkannya kembali, lalu membekukannya lagi sungguh mencengangkan. Apa gerangan di Bumi (secara harfiah) yang dapat menyebabkan siklus semacam ini? Pastilah kekuatan paling dahsyat di planet kita.

Dan memang demikian—hanya saja bukan seperti yang dibayangkan siapa pun.

Ada banyak teori tentang mengapa zaman es terjadi. Untuk menjelaskan pengaruh geologisnya yang luar biasa besar, teori-teori itu pun sama megahnya. Kenaikan pegunungan, misalnya, diduga menggeser pola angin Bumi hingga mengubah iklim. Yang lain beranggapan bahwa es adalah keadaan alami, yang sesekali terganggu oleh letusan gunung berapi besar yang menghangatkan Bumi.

Namun tak satu pun teori tersebut mampu menjelaskan siklus zaman es. Pertumbuhan pegunungan atau letusan besar mungkin dapat menjelaskan satu zaman es, tetapi tidak dapat menjelaskan pengulangan siklik sebanyak lima kali.

Pada awal 1900-an, seorang ilmuwan Serbia bernama Milutin Milankovi? mempelajari posisi Bumi relatif terhadap planet-planet lain dan mengemukakan teori zaman es yang kini kita ketahui akurat: tarikan gravitasi Matahari dan Bulan secara halus memengaruhi gerak serta kemiringan Bumi terhadap Matahari. Pada fase tertentu dalam siklus ini—yang dapat berlangsung puluhan ribu tahun—masing-masing belahan Bumi menerima sedikit lebih banyak, atau sedikit lebih sedikit, radiasi matahari daripada biasanya.

Dan di sinilah semuanya mulai menjadi menarik.

Teori Milankovi? awalnya mengasumsikan bahwa kemiringan belahan Bumi menyebabkan musim dingin yang ganas, cukup dingin untuk mengubah planet ini menjadi es. Namun seorang meteorolog Rusia bernama Wladimir Köppen menelaah lebih dalam karya Milankovi? dan menemukan nuansa yang memikat.

Bukan musim dingin yang ekstrem, melainkan musim panas yang cukup sejuk—itulah penyebab pembekuan.

Semuanya bermula ketika suatu musim panas tidak pernah cukup hangat untuk mencairkan salju dari musim dingin sebelumnya. Lapisan es yang tersisa memudahkan akumulasi salju pada musim dingin berikutnya, yang meningkatkan peluang salju bertahan hingga musim panas selanjutnya, yang pada gilirannya menarik lebih banyak penumpukan pada musim dingin berikutnya. Salju yang menetap memantulkan lebih banyak sinar matahari, memperparah pendinginan, yang membawa lebih banyak salju, dan seterusnya tanpa henti. Dalam beberapa ratus tahun, lapisan salju musiman berkembang menjadi lapisan es benua—dan proses pun melaju tak terbendung.

Hal yang sama terjadi secara terbalik. Kemiringan orbit yang memungkinkan lebih banyak sinar matahari masuk akan mencairkan lebih banyak salju musim dingin, yang kemudian memantulkan lebih sedikit cahaya pada tahun-tahun berikutnya, meningkatkan suhu, mencegah akumulasi salju pada tahun berikutnya, dan seterusnya. Itulah siklusnya.

Yang menakjubkan di sini adalah betapa sesuatu dapat tumbuh sangat besar dari perubahan kondisi yang relatif kecil. Segalanya bermula dari lapisan tipis salju yang tersisa dari musim panas yang sejuk—sesuatu yang tampak sepele—lalu, dalam sekejap mata secara geologis, seluruh Bumi tertutup es setebal berkilometer. Seperti dikatakan oleh ahli glasial Gwen Schultz: “Bukan jumlah salju yang menyebabkan terbentuknya lapisan es, melainkan fakta bahwa salju—betapapun sedikit—bertahan.”

Pelajaran besar dari zaman es adalah bahwa Anda tidak memerlukan kekuatan yang luar biasa untuk menghasilkan dampak yang luar biasa.

Jika sesuatu mengalami compounding—jika sedikit pertumbuhan menjadi bahan bakar bagi pertumbuhan berikutnya—maka basis awal yang kecil dapat menghasilkan hasil yang begitu luar biasa hingga tampak menentang logika. Begitu melampaui nalar sehingga Anda meremehkan apa yang mungkin terjadi, dari mana pertumbuhan berasal, dan ke mana ia dapat membawa Anda.

Demikian pula halnya dengan uang.

Lebih dari 2.000 buku didedikasikan untuk menjelaskan bagaimana Warren Buffett membangun kekayaannya. Banyak di antaranya sangat baik. Namun sedikit yang memberi perhatian memadai pada fakta paling sederhana: kekayaan Buffett bukan semata hasil dari menjadi investor yang baik, melainkan menjadi investor yang baik sejak ia masih benar-benar anak-anak.

Saat saya menulis ini, kekayaan bersih Warren Buffett mencapai $84,5 miliar. Dari jumlah itu, $84,2 miliar diperoleh setelah ulang tahunnya yang ke-50. Sebesar $81,5 miliar diperoleh setelah ia memenuhi syarat jaminan sosial, yakni pada pertengahan usia 60-an.

Warren Buffett adalah investor yang luar biasa. Namun Anda akan melewatkan inti penting jika seluruh keberhasilannya hanya dikaitkan dengan kecakapan berinvestasi. Kunci sejatinya adalah bahwa ia telah menjadi investor yang luar biasa selama tiga perempat abad. Seandainya ia baru mulai berinvestasi pada usia 30-an dan pensiun pada usia 60-an, barangkali hampir tak ada yang pernah mendengar namanya.

Bayangkan sebuah eksperimen pemikiran sederhana.

Buffett mulai berinvestasi secara serius pada usia 10 tahun. Pada usia 30, kekayaan bersihnya telah mencapai $1 juta, atau setara $9,3 juta setelah disesuaikan dengan inflasi.¹?

Bagaimana jika ia adalah orang yang lebih “normal”—menghabiskan masa remaja dan usia 20-an untuk menjelajahi dunia dan menemukan passion—sehingga pada usia 30 kekayaan bersihnya hanya, katakanlah, $25.000?

Dan misalkan ia tetap menghasilkan tingkat pengembalian investasi luar biasa seperti yang selama ini ia capai (22% per tahun), tetapi berhenti berinvestasi dan pensiun pada usia 60 untuk bermain golf dan menghabiskan waktu bersama cucu-cucunya.

Berapa kira-kira kekayaan bersihnya hari ini?

Bukan $84,5 miliar.

Melainkan $11,9 juta.

99,9% lebih kecil daripada kekayaan sebenarnya.

Hampir seluruh kesuksesan finansial Warren Buffett dapat ditelusuri pada basis keuangan yang ia bangun pada masa remajanya serta lamanya waktu yang ia pertahankan hingga usia senja.

Keahliannya adalah berinvestasi, tetapi rahasianya adalah waktu.

Begitulah cara kerja compounding.

Pikirkan dengan cara lain. Buffett adalah investor terkaya sepanjang masa. Namun ia bukan yang paling hebat—setidaknya jika diukur dari rata-rata tingkat pengembalian tahunan.

Jim Simons, kepala hedge fund Renaissance Technologies, telah mengembangkan uangnya dengan tingkat 66% per tahun sejak 1988. Tak seorang pun mendekati rekor ini. Seperti telah kita lihat, Buffett “hanya” sekitar 22% per tahun—sepertiganya.

Kekayaan bersih Simons, saat saya menulis ini, sekitar $21 miliar. Ia—dan saya tahu betapa ganjilnya ini terdengar mengingat angka-angka yang kita bicarakan—75% kurang kaya dibandingkan Buffett.

Mengapa perbedaannya demikian besar, jika Simons adalah investor yang jauh lebih unggul? Karena Simons baru menemukan ritme investasinya ketika ia berusia 50 tahun. Ia memiliki waktu untuk melakukan compounding kurang dari separuh durasi yang dimiliki Buffett. Seandainya James Simons meraih tingkat pengembalian 66% per tahun selama rentang 70 tahun seperti yang membangun kekayaan Buffett, maka kekayaannya akan mencapai—silakan tahan napas—enam puluh tiga kuintiliun sembilan ratus kuadriliun tujuh ratus delapan puluh satu triliun tujuh ratus delapan puluh miliar tujuh ratus empat puluh delapan juta seratus enam puluh ribu dolar.

Angka-angka ini sungguh absurd dan tidak praktis. Intinya, perubahan kecil dalam asumsi pertumbuhan dapat menghasilkan angka yang sama sekali tak masuk akal. Karena itu, ketika kita mencoba memahami mengapa sesuatu dapat menjadi sedemikian kuat—mengapa zaman es terbentuk, atau mengapa Warren Buffett begitu kaya—kita kerap mengabaikan pendorong utama keberhasilan.

Saya sering mendengar orang berkata bahwa pertama kali mereka melihat tabel bunga majemuk—atau kisah tentang betapa jauh lebih besar dana pensiun yang akan dimiliki jika mulai menabung di usia 20-an dibandingkan usia 30-an—telah mengubah hidup mereka. Namun kemungkinan besar tidak demikian. Yang terjadi barangkali hanyalah rasa terkejut, karena hasilnya secara intuitif terasa tidak masuk akal. Cara berpikir linear jauh lebih mudah dipahami daripada cara berpikir eksponensial. Jika saya meminta Anda menghitung 8+8+8+8+8+8+8+8+8 di kepala, Anda dapat melakukannya dalam beberapa detik (hasilnya 72). Namun jika saya meminta Anda menghitung 8×8×8×8×8×8×8×8×8, kepala Anda akan terasa meledak (hasilnya 134.217.728).

IBM membuat hard drive berkapasitas 3,5 megabita pada tahun 1950-an. Pada 1960-an kapasitas meningkat menjadi beberapa puluh megabita. Pada 1970-an, drive Winchester milik IBM mampu menampung 70 megabita. Setelah itu, ukuran perangkat menyusut secara eksponensial sementara kapasitas penyimpanan meningkat. Komputer pribadi pada awal 1990-an umumnya memiliki kapasitas 200–500 megabita.

Lalu … segalanya melonjak drastis.

1999—iMac dari Apple hadir dengan hard drive 6 gigabita.
2003—Power Mac memiliki 120 gigabita.
2006—iMac baru mencapai 250 gigabita.
2011—hard drive pertama berkapasitas 4 terabita.
2017—hard drive 60 terabita.
2019—hard drive 100 terabita.

Jika dirangkum: dari 1950 hingga 1990 kita hanya menambah 296 megabita. Dari 1990 hingga sekarang, kita menambah 100 juta megabita.

Seandainya Anda seorang optimis teknologi pada 1950-an, mungkin Anda akan memperkirakan kapasitas penyimpanan praktis akan meningkat 1.000 kali lipat. Mungkin 10.000 kali lipat jika Anda sangat optimistis. Namun hampir tak ada yang akan mengatakan “30 juta kali lipat dalam masa hidup saya.” Tetapi itulah yang terjadi.

Sifat compounding yang tidak intuitif membuat bahkan orang paling cerdas sekalipun meremehkan kekuatannya. Pada tahun 2004, Bill Gates mengkritik Gmail yang baru diluncurkan, mempertanyakan mengapa seseorang memerlukan ruang penyimpanan sebesar satu gigabita. Penulis Steven Levy mencatat, “Terlepas dari kedekatannya dengan teknologi mutakhir, pola pikirnya masih terikat pada paradigma lama bahwa penyimpanan adalah komoditas yang harus dihemat.” Kita tidak pernah benar-benar terbiasa dengan seberapa cepat sesuatu dapat bertumbuh.

Bahaya di sini adalah ketika compounding tidak terasa intuitif, kita cenderung mengabaikan potensinya dan memilih menyelesaikan masalah dengan cara lain. Bukan karena kita berpikir berlebihan, melainkan karena kita jarang berhenti untuk mempertimbangkan potensi compounding.

Tak satu pun dari 2.000 buku yang membedah kesuksesan Buffett berjudul Orang Ini Telah Berinvestasi Secara Konsisten Selama Tiga Perempat Abad. Padahal kita tahu itulah kunci utama dari sebagian besar keberhasilannya. Hanya saja, sulit bagi kita untuk benar-benar memahami matematika di baliknya karena tidak intuitif.

Ada buku tentang siklus ekonomi, strategi perdagangan, dan taruhan sektor. Namun buku paling kuat dan paling penting seharusnya berjudul Diam dan Tunggu. Isinya hanya satu halaman, berisi grafik pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Pelajaran praktisnya adalah bahwa sifat compounding yang tidak intuitif mungkin menjadi penyebab utama dari banyaknya transaksi yang mengecewakan, strategi yang buruk, dan kegagalan dalam upaya berinvestasi.

Anda tidak bisa menyalahkan orang yang mencurahkan seluruh upaya—baik dalam apa yang mereka pelajari maupun lakukan—untuk meraih tingkat pengembalian investasi setinggi mungkin. Secara intuitif, itu memang tampak sebagai cara terbaik untuk menjadi kaya.

Namun investasi yang baik tidak semata-mata tentang meraih pengembalian tertinggi, karena pengembalian tertinggi cenderung merupakan keberhasilan sekali jadi yang tidak dapat diulang. Yang terpenting adalah meraih pengembalian yang cukup baik, yang dapat dipertahankan dan diulang dalam jangka waktu sepanjang mungkin. Di situlah compounding bekerja tanpa kendali.

Sebaliknya, meraih keuntungan besar yang tidak dapat dipertahankan justru melahirkan kisah-kisah tragis. Untuk itu, kita memerlukan bab berikutnya untuk mengisahkannya.

Like

0

Love

0

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment