Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan
BAB 8 : Tuhan Para Kaum Reformis
Abad kelima belas dan keenam belas merupakan periode paling menentukan bagi semua umat beragama. Masa ini sangat krusial, khususnya bagi Kristen Barat, yang tidak hanya berhasil mengejar ketertinggalannya dari kebudayaan lain dalam Oikumene, tetapi bahkan nyaris menaklukkannya. Dua abad ini menyaksikan Renaisans Italia yang cepat menyebar ke Eropa Utara, penemuan Dunia Baru, dan awal revolusi ilmiah yang memengaruhi nasib seluruh dunia. Pada akhir abad keenam belas, Barat mulai membentuk bentuk peradaban yang sangat berbeda. Periode ini adalah masa transisi, ditandai oleh kecemasan sekaligus prestasi.
Hal ini tercermin dalam konsepsi Barat tentang Tuhan pada masa tersebut. Di tengah keberhasilan sekular mereka, perhatian pada iman semakin meningkat dibanding masa-masa sebelumnya. Kaum awam merasa tidak puas dengan bentuk agama Abad Pertengahan, yang dianggap tak lagi memenuhi kebutuhan mereka di dunia baru. Para Reformis menanggapi kegelisahan ini dengan cara baru dalam memandang Tuhan dan penyelamatan. Akibatnya, Eropa terpecah menjadi dua kubu yang bertikai—Katolik dan Protestan—yang hingga kini masih sarat kebencian dan kecurigaan. Selama masa Reformasi, kaum pembaru Katolik maupun Protestan mendorong penganutnya untuk meninggalkan kesetiaan lahiriah kepada orang-orang suci dan malaikat, serta memusatkan perhatian sepenuhnya pada Tuhan. Eropa tampak terobsesi pada Tuhan. Namun, pada awal abad ketujuh belas, sebagian orang bahkan mulai berfantasi tentang “ateisme”. Apakah ini berarti mereka siap menyingkirkan Tuhan?
Periode ini juga merupakan masa krisis bagi orang Yunani, Yahudi, dan Muslim. Pada tahun 1453, Turki Usmani menaklukkan Konstantinopel dan menghancurkan kekaisaran Byzantium. Orang Kristen Rusia kemudian melanjutkan tradisi spiritualitas Yunani. Pada Januari 1492, ketika Christopher Columbus menemukan Dunia Baru, Ferdinand dan Isabella menaklukkan Granada, wilayah terakhir kekuasaan Muslim di Spanyol. Kaum Muslim diusir dari Semenanjung Iberia, tanah air mereka selama delapan abad. Pengusiran ini berdampak fatal bagi orang Yahudi. Pada Maret 1492, beberapa minggu setelah jatuhnya Granada, monarki Kristen memberikan pilihan kepada Yahudi Spanyol: dibaptis atau diusir. Banyak yang memilih menganut Kristen, meski sebagian tetap menjalankan praktik agama secara diam-diam. Sekitar 150.000 orang menolak dibaptis dan terpaksa meninggalkan Spanyol, mencari perlindungan ke Turki, Balkan, dan Afrika Utara. Pengalaman tragis ini menancap dalam kesadaran keagamaan Yahudi dan memicu pertumbuhan bentuk baru Kabbalah serta konsepsi baru tentang Tuhan.
Masa ini juga sulit bagi umat Muslim di wilayah lain. Keberhasilan invasi Mongol menimbulkan konservatisme baru, karena masyarakat berusaha memulihkan apa yang hilang. Pada abad kelima belas, kaum ulama dari madrasah Sunni menyatakan bahwa “pintu ijtihad telah tertutup,” sehingga kaum Muslim harus tunduk (taqlid) pada pemikiran mujtahid masa lalu, terutama terkait syariat. Dalam iklim konservatif ini, tampaknya tak ada ruang bagi gagasan inovatif tentang Tuhan atau hal lain. Namun, keliru jika periode ini dianggap sebagai kemunduran Islam, sebagaimana dikemukakan beberapa orang Eropa Barat. Marshall G.S. Hodgson menegaskan bahwa pengetahuan kita tentang periode ini belum memadai untuk membuat generalisasi semacam itu.
Kecenderungan konservatif muncul pada abad keempat belas melalui tokoh seperti Ahmad ibn Taymiyah dari Damaskus (w. 1328) dan muridnya Ibn Al-Gayim Al-Jawziyah. Ibn Taymiyah ingin memperluas syariat agar relevan dalam semua kondisi umat Muslim, membuang hukum usang, dan memberi jawaban jelas bagi persoalan keagamaan praktis. Semangat ini dihadang oleh kalam, falsafah, dan Asy’ariah. Muridnya, Al-Jawziyah, menambahkan kritik terhadap sufisme, menafsirkan kitab suci secara harfiah, dan mencela kultus guru sufi—mirip semangat Reformasi Protestan. Bagi sezaman mereka, langkah ini dianggap progresif, bukan mundur.
Hodgson mengingatkan agar kita tidak memandang konservatisme periode ini sebagai kemandekan. Sebelum era modern, tak ada masyarakat yang dapat membayangkan kemajuan skala besar seperti sekarang. Kaum Muslim abad kelima belas dan keenam belas mungkin tidak terkesan oleh Renaisans Italia, tetapi itu tidak berarti ada kesenjangan kultural yang parah. Mereka tetap fokus pada prestasi sendiri yang tidak kalah besar.
Islam tetap menjadi kekuatan dunia terbesar pada periode ini. Barat pun menyadari kehadiran Islam di pintu gerbang Eropa. Pada abad kelima belas dan keenam belas berdiri tiga kekaisaran Islam baru: Turki Usmani di Asia Kecil dan Eropa Timur, Shafawi di Iran, dan Moghul di India. Setiap kekaisaran mencapai kemajuan budaya luar biasa. Kebangkitan Shafawi di Iran dan Asia Tengah mirip dengan Renaisans Italia, mengekspresikan diri melalui seni dan kreativitas kebudayaan mereka.
Di tengah kekuatan ketiga kekaisaran ini, semangat konservatif tetap hidup. Jika tokoh seperti Al-Farabi dan Ibn Al-Arabi membuka ruang pemikiran baru, periode ini justru menegaskan kembali tema lama. Barat sulit mengapresiasi fenomena ini, karena peneliti sering mengabaikan perkembangan Islam modern.
Dalam hal tertentu, terdapat kesejajaran dengan Barat. Bentuk baru Syiah Dua Belas menjadi sekte resmi di Iran di bawah Dinasti Shafawi, menandai permusuhan antara Syiah dan Sunni. Syah Ismail, pendiri dinasti, menegakkan Syiah secara keras, mirip Reformasi Protestan yang menghapus tarekat sufi. Namun, bukan seluruh pemerintahan Iran fanatik; ulama Syiah menolak menutup pintu ijtihad, menegaskan hak menafsir Islam secara mandiri, serta melindungi rakyat dari penguasa korup.
Syiah Iran juga mengembangkan falsafah sendiri, meneruskan tradisi mistik Suhrawardi. Mir Damad (w. 1631), pendiri falsafah ini, mengidentifikasi Cahaya ilahi dengan pencerahan figur simbolik seperti Nabi Muhammad dan para imam. Murid terkemuka Mir Damad, Shadr Al-Din Syirazi atau Mulla Shadra (kl. 1571-1640), dianggap Muslim masa kini sebagai pemikir terbesar. Karyanya menggabungkan metafisika dan spiritualitas, meski baru sedikit diterjemahkan ke bahasa Inggris di Barat.
Hodgson memperingatkan kita untuk tidak memandang apa yang disebut konservatisme pada periode ini sebagai “kemandekan”. Dia mengemukakan bahwa tak ada masyarakat sebelum era kita ini yang dapat mengupayakan atau membayangkan kemajuan dalam skala yang sekarang kita rasakan.?
Para pakar Barat sering menyebut kaum Muslim abad kelima belas dan keenam belas telah gagal mengambil manfaat dari Renaisans Italia. Benar bahwa peristiwa itu merupakan perkembangan budaya yang besar di dalam sejarah, tetapi tidak melebihi atau tidak banyak berbeda dari kebangkitan Dinasti Sung di Cina, misalnya, yang telah mengilhami kaum Muslim selama abad kedua belas. Renaisans itu penting bagi Barat, tapi tak seorang pun di saat itu bisa meramalkan kelahiran era teknologi modern yang, baru belakangan disadari, ternyata telah diindikasikannya. Jika kaum Muslim tidak terkesan pada Renaisans Barat ini, tidak secara mutlak berarti adanya kesenjangan kultural yang parah. Kaum Muslim, tidak mengherankan, lebih memusatkan perhatian pada prestasi mereka sendiri yang tak kalah besarnya selama abad kelima belas.
Kenyataannya, Islam tetap merupakan kekuatan dunia terbesar pada periode ini, dan Barat dengan takut-takut menyadari bahwa Islam kini berada di pintu gerbang Eropa. Selama abad kelima belas dan keenam belas berdiri tiga kekaisaran baru Islam: kekaisaran Turki Usmani di Asia Kecil dan Eropa Timur, kekaisaran Shafawi di Iran, dan kekaisaran Moghul di India. Perkembangan baru ini memperlihatkan bahwa ruh Islam tidak mati, tetapi masih memberikan inspirasi bagi kaum Muslim untuk kembali bangkit meraih keberhasilan baru setelah terjadinya bencana dan perpecahan.
Masing-masing kekaisaran ini mencapai kemajuan budaya yang luar biasa: kebangkitan Syafawi di Iran dan Asia Tengah secara menarik mirip dengan Renaisans Italia, keduanya mengekspresikan diri secara luas melalui seni lukis dan secara kreatif kembali ke akar-akar pagan kebudayaan mereka. Namun, di tengah kekuatan dan kebesaran ketiga kekaisaran ini, apa yang disebut sebagai semangat konservatif masih tetap menyala. Jika kaum mistik dan filosof terdahulu, semacam Al-Farabi dan Ibn Al-Arabi, secara sadar membukakan bidang pemikian baru, periode ini justru menghidupkan dan menegaskan kembali tema-tema lama. Ini sulit untuk diapresiasi oleh Barat, karena para peneliti telah lama mengabaikan fenomena Islam yang lebih modern ini, dan juga karena para filosof dan penyair berharap pikiran para pembacanya dipenuhi oleh citra dan ide-ide masa lalu.
Namun dalam hal ini terdapat beberapa kesejajaran dengan perkembangan di Barat pada masa itu. Bentuk baru Syiah Dua Belas telah menjadi sekte resmi di Iran di bawah pemerintahan Dinasti Syafawi, dan menandai awal permusuhan antara Syiah dan Sunni yang belum pernah terjadi sebelumnya. Hingga saat itu Syiah memiliki banyak kesamaan dengan Sunni yang lebih intelektual atau mistikal. Akan tetapi, selama abad keenam belas, keduanya membentuk kubu berlawanan yang secara amat menyedihkan mirip dengan peperangan sektarian yang terjadi di Eropa pada masa yang sama.
Syah Ismail, pendiri Dinasti Syafawi, naik ke tampuk pemerintahan di Azerbaijan pada tahun 1503 dan berhasil meluaskan wilayah kekuasaannya hingga ke Iran dan Irak di sebelah barat. Dia bertekad untuk menghapuskan Sunni dan memaksakan Syiah dengan kekerasan yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Dia memandang dirinya sebagai imam bagi generasinya. Gerakan ini memiliki beberapa kemiripan dengan Reformasi Protestan di Eropa: keduanya sama-sama berakar pada tradisi protes, menentang aristokrasi, dan terkait dengan penegakan pemerintahan kerajaan. Syiah hasil reformasi menghapuskan tarekat-tarekat sufi yang ada di wilayah kekuasaan mereka dengan cara yang mengingatkan kita pada pembubaran biara-biara oleh Protestan. Tidak mengherankan jika mereka mengilhami kekerasan yang sama di kalangan kaum Sunni kerajaan Usmani, yang menindas Syiah di wilayah kekuasaan mereka. Karena merasa berada di garis depan perlawanan terhadap pasukan Salib Barat, orang-orang Usmani juga mengembangkan sikap keras terhadap warga Kristen.
Namun demikian, adalah keliru untuk melihat seluruh pemerintahan Iran sebagai fanatik. Ulama Syiah Iran meragukan Syiah reformis ini: berbeda dengan kaum Sunni, mereka menolak untuk “menutup pintu ijtihad” dan menekankan hak mereka untuk menafsirkan Islam secara mandiri, lepas dari pengaruh para Syah. Mereka menolak Dinasti Syafawi—dan setelah itu Qajar—sebagai pengganti para imam. Sebaliknya, mereka menggabungkan diri dengan rakyat guna menentang penguasa dan menjadi pembela ummah melawan tekanan kerajaan di Isfahan dan, kemudian, di Teheran. Mereka mengembangkan tradisi yang melindungi hak para pedagang dan fakir miskin dari gangguan para Syah. Mereka pula yang berhasil memobilisasi rakyat menentang rezim korup Syah Muhammad Reza Pahlavi pada tahun 1979.
Salah seorang penentang utama Akbar selama masa hidupnya adalah ulama dan sufi besar Syaikh Ahmad Sirhindi (1564-1624). Sebagaimana Akbar, dia dianggap sebagai Manusia Sempurna oleh murid-muridnya. Sirhindi menentang tradisi mistik Ibn Al-Arabi yang mengajarkan murid-muridnya untuk memandang Tuhan sebagai satu-satunya realitas.
Seperti yang telah kita saksikan, Mulla Shadra telah memperkuat persepsi tentang Kesatuan Wujud (wahdatul wujud) ini. Ajaran ini merupakan pernyataan mistikal syahadat: tidak ada realitas kecuali Allah. Seperti halnya kaum mistik dalam agama-agama lain, kaum sufi telah mengalami kesatuan dan merasa satu dengan seluruh eksistensi. Namun, Sirhindi menolak persepsi ini sebagai terlalu subjektif. Ketika seorang sufi sedang berkonsentrasi kepada Tuhan saja, segala sesuatu yang lain cenderung memudar dari kesadarannya, tetapi ini tidak bersesuaian dengan realitas objektif.
Sesungguhnya, berbicara tentang kesatuan atau kesamaan antara Tuhan dan dunia merupakan kesalahpahaman yang parah. Kenyataannya, kita tak mungkin mendapatkan pengalaman langsung tentang Tuhan, yang secara mutlak berada di luar jangkauan manusia: “Dia adalah Yang Mahasuci, Yang Mahatinggi, lagi Yang Mahatinggi, lagi Yang Mahatinggi.” Hubungan antara Tuhan dan dunia hanya mungkin bersifat tak langsung, yakni melalui kontemplasi tentang “tanda-tanda” alam. Sirhindi mengklaim dirinya telah melampaui keadaan ekstatik kaum mistik, seperti Ibn Al-Arabi dan masuk ke keadaan kesadaran yang lebih tinggi dan lebih jernih.
Dia menggunakan mistisisme dan pengalaman keagamaan untuk meneguhkan kembali keyakinannya kepada Tuhan transenden yang dikonsepsikan oleh para filosof, yang merupakan realitas objektif, namun tak dapat dijangkau. Pandangan-pandangannya dianut kuat oleh para pengikutnya, tetapi ditolak oleh mayoritas Muslim yang masih tetap berpegang pada konsepsi ketuhanan kaum mistik yang bersifat imanen dan subjektif.
Jika orang-orang Muslim semacam Findiriski dan Akbar berusaha memahami kepercayaan orang lain, pada tahun 1492 Kristen Barat justru terbukti tidak bisa bertoleransi terhadap kedua agama Ibrahim yang lain. Selama abad kelima belas, anti-Semitisme telah meningkat di seluruh kawasan Eropa dan orang-orang Yahudi terusir dari satu kota ke kota lain: dari Linz dan Wina pada 1421, Cologne pada 1424, Augsburg pada 1439, Bavaria pada 1442 (dan juga pada 1450), dan Moravia pada 1454. Mereka diusir dari Perugia pada 1485, Vicenza pada 1486, Parma pada 1488, Lucca dan Milan pada 1489, dan Tuscany pada 1494.
Pengusiran Yahudi Sephardik Spanyol harus dilihat dalam konteks tren Eropa yang lebih luas ini. Orang-orang Yahudi Spanyol yang pernah bermukim di wilayah kekaisaran Usmani terus mengalami rasa tercerabut yang diperberat oleh rasa bersalah yang tak rasional karena masih bisa bertahan hidup. Ini barangkali tidak berbeda dengan rasa bersalah yang dipikul oleh orang-orang yang berhasil lolos dari Holocaust Nazi dan karena itu, adalah signifikan bahwa pada masa sekarang sebagian Yahudi merasa tertarik pada spiritualitas yang dikembangkan oleh kaum Yahudi Sephardik abad keenam belas untuk membantu mereka menghadapi situasi keterusiran mereka.
Bentuk Kabbalisme baru ini kemungkinan berasal dari Provinsi Balkan di kekaisaran Usmani, tempat kaum Sephardim mendirikan berbagai kelompok sosial. Tragedi 1492 tampaknya telah menimbulkan kerinduan meluas akan pembebasan Israel yang pernah diramalkan nabi-nabi. Sebagian Yahudi di bawah pimpinan Joseph Karo dan Solomon Alkabaz bermigrasi dari Yunani ke Palestina. Spiritualitas mereka berupaya menyembuhkan rasa terhina yang telah mewabah di kalangan Yahudi dan Tuhan mereka akibat pengusiran itu. Mereka mengatakan ingin “membangkitkan Shekinah keluar dari debu”.
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
Namun, mereka tidak mencari sebuah solusi politik atau membayangkan kepulangan besar-besaran orang Yahudi ke Tanah yang Dijanjikan. Mereka bermukim di Safed, Galilea, dan memprakarsai kebangkitan mistikal yang menyediakan makna bagi pengalaman keterusiran mereka. Hingga saat itu, Kabbalah hanya memikat bagi sekelompok elit, namun setelah malapetaka itu orang Yahudi di seluruh penjuru dunia beralih dengan penuh semangat kepada spiritualitas yang lebih mistikal. Ketenteraman dari filsafat kini tampak hampa: Aristoteles terasa gersang, Tuhannya jauh dan tak bisa dijangkau. Bahkan banyak yang menyalahkan filsafat atas bencana yang datang menimpa mereka dan menuduh filsafat telah melemahkan Yudaisme serta melunturkan rasa keistimewaan Israel. Ajarannya yang universal dan sikap terbuka terhadap filsafat non-Yahudi telah menarik banyak orang Yahudi untuk menerima baptisme. Filsafat tidak pernah lagi menjadi spiritualitas yang penting di dalam Yudaisme.
Orang-orang ternyata merindukan sebuah pengalaman ketuhanan yang lebih langsung. Di Safed, kerinduan ini memperoleh intensitas yang nyaris bersifat erotik. Kaum Kabbalis biasa mengembara di bukit-bukit Palestina dan berbaring di makam-makam para Talmudis terkemuka agar bisa, seolah-olah, menyerap visi para tokoh itu ke dalam kehidupan mereka yang galau. Mereka sering bangun sepanjang malam, tidak tidur seperti seorang pencinta yang frustrasi, menyenandungkan lagu-lagu cinta kepada Tuhan, dan memanggil-manggil nama kesenangannya.
Mereka merasa bahwa mitologi dan latihan-latihan Kabbalah telah menyingkap rahasia mereka dan menyentuh duka di dalam jiwa-jiwa mereka melalui cara yang tak mampu dilakukan oleh metafisika dan kajian atas Talmud. Namun, karena keadaan mereka sangat berbeda dengan yang dihadapi Musa dari Leon, penulis Zohar, para pengungsi Spanyol itu perlu menyesuaikan visinya agar bisa menyuarakan kondisi khas mereka. Mereka menemukan solusi imajinatif luar biasa yang menyamakan keterusiran mutlak dengan Ketuhanan mutlak.
Keterusiran orang Yahudi menyimbolkan dislokasi radikal di jantung semua eksistensi. Bukan hanya seluruh tatanan ciptaan tidak lagi berada di tempatnya yang semestinya, bahkan Tuhan pun telah terusir dari dirinya sendiri. Kabbalah baru dari Safed segera meraih popularitas dan menjadi gerakan massa yang tidak saja mengilhami kaum Sephardim, tetapi juga memberikan harapan baru bagi kaum Askhenazim Eropa yang tak lagi mendapatkan tempat tinggal yang aman di wilayah Kristen.
Keberhasilan luar biasa ini menunjukkan bahwa mitos-mitos Safed yang asing dan—bagi orang luar—membingungkan itu ternyata memiliki kekuatan untuk menyuarakan kondisi orang Yahudi. Ini merupakan gerakan Yahudi terakhir yang mendapat penerimaan dari hampir semua kalangan dan menorehkan perubahan besar dalam kesadaran religius dunia Yahudi. Latihan-latihan khusus dalam Kabbalah hanya diperuntukkan bagi sedikit orang yang telah dipersiapkan untuk itu, tetapi ide-idenya—dan konsepsi ketuhanannya—menjadi ungkapan standar ajaran Yahudi.
Untuk memberi apresiasi yang layak bagi visi baru tentang Tuhan ini, kita harus memahami bahwa mitos-mitos tersebut tidak untuk dipahami secara harfiah. Kaum Kabbalis Safed menyadari bahwa tamsil yang mereka pakai memang sangat berani dan mereka selalu memagarinya dengan wungkapan-ungkapan semacam “seolah-olah” atau “anggaplah demikian”. Akan tetapi, setiap pembicaraan tentang Tuhan senantiasa bersifat problematik, tak terkecuali doktrin biblikal tentang penciptaan alam.
Kaum Kabbalis menemukan kesulitan yang sama seperti yang juga pernah dirasakan oleh para faylasuf. Keduanya menerima metafora emanasi Platonis, yang melibatkan Tuhan dengan alam yang secara abadi mengalir darinya. Para nabi telah menekankan kesucian dan keterpisahan Tuhan dari alam, tetapi Zohar menyatakan bahwa alam sefiroth Tuhan mencakup seluruh realitas. Bagaimana mungkin dia terpisah dari alam jika dia adalah semua di dalam semua? Moses ben Jacob Cordovero dari Safed (1522-1570) melihat paradoks ini dengan jelas dan berupaya membahasnya.
Di dalam teologinya, Tuhan En Sof tidak lagi merupakan Tuhan Tertinggi yang tidak bisa dipahami, melainkan merupakan pemikiran tentang dunia: dia menyatu dengan semua makhluk dalam keadaan Platonis ideal mereka, tetapi terpisah dari wujud material mereka di dunia yang cacat: “Karena semua yang ada terkandung di dalam eksistensinya, [Tuhan] meliputi semua eksistensi,” demikian dia menjelaskan, “substansinya hadir di dalam sefirothnya dan Dia Sendiri adalah segala sesuatu, tak ada sesuatu pun yang ada di luar dirinya.” Pandangan ini sangat dekat dengan monisme Ibn Al-Arabi dan Mulla Shadra.
Akan tetapi, Isaac Luria (1534-1572), pahlawan dan orang suci Kabbalisme Safed, mencoba menjelaskan paradoks transendensi dan imanensi ilahi secara lebih lengkap dengan salah satu ide paling mencengangkan yang pernah diformulasikan tentang Tuhan. Kebanyakan mistikus Yahudi enggan untuk membicarakan pengalaman mereka tentang Tuhan. Salah satu kontradiksi dari spiritualitas jenis ini adalah bahwa para mistikus menyatakan pengalaman mereka tak terucapkan, tetapi banyak yang bersedia untuk menuliskannya. Namun, para Kabbalis sangat waspada tentang ini.
Luria merupakan Zaddikim, atau orang suci, pertama yang berhasil memikat pengikut ke aliran mistisisme yang dikembangkannya dengan menggunakan karisma pribadinya. Dia bukanlah seorang penulis, dan pengetahuan kita mengenai sistem Kabbalistiknya didasarkan pada percakapan yang direkam oleh muridnya Hayyim Vital (1542-1620), dalam risalah Etz Hayim (Pohon Kehidupan), dan Joseph ibn Tabul, yang karya manuskripnya baru diterbitkan pada tahun 1921.
Luria menghadapi pertanyaan yang telah mengusik kaum monoteis selama berabad-abad: bagaimana mungkin Tuhan yang sempurna dan tak terbatas telah menciptakan sebuah dunia yang terbatas dan sarat dengan kejahatan? Dari mana kejahatan itu berasal? Luria menemukan jawabannya dengan cara membayangkan apa yang terjadi sebelum emanasi sefiroth, ketika En Sof telah mengalihkan dirinya sendiri ke dalam introspeksi yang sublim.
Demi menyediakan ruang bagi dunia, demikian Luria menduga, En Sof, seolah-olah, mengosongkan sebuah kawasan di dalam dirinya sendiri. Dalam tindakan “pengerutan” atau “penarikan diri” (tsimtsum) ini, Tuhan telah menciptakan sebuah tempat yang dia tidak berada di dalamnya, sebuah ruang kosong yang dapat diisinya melalui proses pewahyuan diri dan penciptaan yang terjadi secara serempak. Ini merupakan upaya yang sangat berani dalam mengilustrasikan doktrin penciptaan ex nihilo yang sulit: tindakan paling awal dari En Sof adalah “pengucilan sebagian dirinya atas kehendaknya sendiri”.
Dia telah, seolah-olah, turun lebih jauh ke dalam wujudnya sendiri dan menetapkan suatu batasan pada dirinya sendiri. Ini adalah sebuah ide yang tidak berbeda dengan kenosis primordial yang pernah dibayangkan oleh orang Kristen di dalam Trinitas, yakni ketika Tuhan mengosongkan diri ke dalam Putranya melalui tindakan ekspresi diri. Bagi kaum Kabbalis abad keenam belas, tsimtsum pada dasarnya merupakan simbol keterusiran, yang mendasari struktur seluruh eksistensi tercipta dan telah dialami oleh En Sof sendiri.
“Ruang kosong” yang diciptakan oleh penarikan diri Tuhan dikonsepsikan sebagai sebuah lingkaran yang dikelilingi oleh En Sof di semua sisinya. Ini adalah tohu u-bohu, yakni bumi tak berbentuk yang disebutkan di dalam Kitab Kejadian. Sebelum pengerutan tsimtsum, berbagai “kuasa” Tuhan (yang kemudian menjadi sefiroth) berpadu secara harmonis, tak terbedakan satu sama lain. Ampunan (Hesed) Tuhan dan Pengadilannya yang tegas (Din) hadir di dalam Tuhan dengan keselarasan sempurna.
Namun selama proses tsimtsum, En Sof memisahkan Din dari sifat-sifatnya yang lain dan memasukkannya ke ruang yang telah dikosongkannya. Dengan demikian, tsimtsum bukan sekadar tindakan pengosongan diri karena cinta, tetapi bisa dipandang sebagai semacam pembasuhan ilahi: Tuhan telah menghilangkan Kemurkaan (yang dipandang Zohar sebagai akar kejahatan) dari wujud terdalamnya. Tindakan pertamanya, dengan demikian, memperlihatkan kekerasan dan ketegasan kepada dirinya sendiri.
Kini, setelah terpisah dari Hesed dan sifat-sifat Tuhan yang lain, Din berpotensi untuk menjadi destruktif. Namun, En Sof tidak sepenuhnya meninggalkan ruang kosong itu. Suatu “garis tipis” cahaya ilahi menembus lingkaran ini, dengan mengambil bentuk berupa apa yang disebut Zohar sebagai Adam Kadmon, Manusia Pertama. Kemudian muncul emanasi dari sefiroth, walaupun ini tidak persis seperti yang dituturkan di dalam Zohar.
Luria mengajarkan bahwa sefiroth telah terbentuk di dalam Adam Kadmon: ketiga sefiroth tertinggi—Kether (Mahkota), Hokhmah (Kebijaksanaan), dan Binah (Kecerdasan)—memancar dari “hidung”, “telinga”, dan “mulut”-nya. Namun kemudian, terjadi bencana, yang oleh Luria disebut “pemecahan tabung” (Shevirath Ha-Kelim). Sefiroth perlu disimpan dalam bungkus atau “tabung” khusus untuk membedakan dan memisahkan mereka satu sama lain dan mencegah mereka untuk bergabung kembali ke dalam kesatuan asalnya.
“Tabung” atau “pipa-pipa” ini bukanlah sesuatu yang bersifat material, tentu saja, tetapi terbuat dari sejenis cahaya tebal yang berfungsi sebagai “pelindung” (kelipoth) bagi cahaya sefiroth yang lebih murni. Tatkala ketiga sefiroth tertinggi memancar dari Adam Kadmon, tabung-tabung itu telah berfungsi secara sempurna. Akan tetapi, tatkala enam sefiroth berikutnya memancar dari “mata”nya, tabung-tabung tersebut tak cukup kuat untuk menampung cahaya ilahi dan akhirnya bobol. Akibatnya, cahaya menghambur keluar. Beberapa di antaranya naik ke atas dan kembali kepada Tuhan Tertinggi, namun sebagian “percikan api” ilahi jatuh ke bumi yang kosong dan terperangkap di dalam kekacauan.







Comments (0)