Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan

Selama abad kedelapan belas, kaum deis menolak Kristen Barat tradisional terutama karena telah menjadi begitu kejam dan tidak toleran. Hal yang sama masih berlaku saat ini. Sering orang-orang beriman konvensional, yang tidak tergolong fundamentalis, memiliki keagresifan yang sama dengan kaum fundamentalis.

Mereka menggunakan “Tuhan” untuk menopang cinta dan kebencian mereka sendiri, yang mereka nisbahkan sebagai cinta dan kebencian Tuhan. Orang Yahudi, Kristen, dan Muslim yang secara fanatik menunaikan ibadah kepada Tuhan, tetapi merendahkan martabat orang-orang dari etnik dan ideologi berbeda, berarti telah mengabaikan salah satu kebenaran mendasar agama mereka sendiri.

Demikian pula, adalah tidak layak bagi orang yang menyebut diri sebagai Yahudi, Kristen, dan Muslim untuk menoleransi sebuah sistem sosial yang tidak adil. Tuhan monoteisme historis menuntut permaafan bukannya pengurbanan, kasih sayang bukannya peribadatan yang berpura-pura.

Terdapat perbedaan besar antara orang yang melaksanakan bentuk agama kultus dengan mereka yang menumbuhkan rasa tentang Tuhan yang penyayang. Para nabi mengecam keras orang-orang sezamannya yang mengira bahwa peribadatan di kuil sudah cukup.

Yesus maupun Paulus telah menjelaskan bahwa ibadat lahiriah tidak ada gunanya jika tidak disertai kedermawanan. Muhammad berseteru dengan orang Arab yang ingin menyembah dewa-dewa pagan selain Allah dalam ritus kuno tanpa mewujudkan etos kasih sayang yang dituntut Tuhan sebagai syarat semua agama yang benar.

Perpecahan yang serupa terdapat di dunia pagan Romawi: agama kultus kuno ingin mempertahankan status guo sedangkan para filosof menyiarkan misi yang mereka yakini akan mengubah dunia.

Mungkin agama kasih sayang dari Tuhan Yang Esa hanya diamalkan oleh sekelompok minoritas: kebanyakan orang merasa kesulitan menghadapi ekstremitas pengalaman-ketuhanan dengan tuntutan etikanya yang tanpa kompromi.

Sejak Musa menerima daftar perintah Tuhan dari gunung Sinai, kebanyakan orang lebih suka menyembah Sapi emas, gambaran Tuhan tradisional dan tak menakutkan yang mereka ciptakan sendiri beserta ritual-ritual kunonya yang menenteramkan.

Para pemimpin agama kuno itu sendiri sering menutup telinga terhadap inspirasi para nabi dan mistikus yang membawa berita tentang Tuhan yang lebih banyak menuntut.

Tuhan bisa juga digunakan sebagai obat mujarab, sebagai alternatif bagi kehidupan duniawi, dan objek fantasi yang mengikuti hawa nafsu. Ide tentang Tuhan sering dipakai sebagai candu masyarakat.

Ini sangat berbahaya terutama tatkala dia dikonsepsikan sebagai suatu-Wujud lain —yang sama dengan kita, tetapi lebih besar dan lebih baik—di langitnya sendiri, yang dikonsepsikan sebagai surga bagi kesenangan-kesenangan duniawi.

Namun pada awalnya, “Tuhan” dipakai untuk membantu manusia memusatkan perhatian pada dunia ini dan untuk menghadapi realitas yang tidak menyenangkan.

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Bahkan, kultus pagan Yahweh, dengan segala kekeliruannya yang nyata, menekankan keterlibatan langsungnya dalam berbagai peristiwa yang terjadi dalam waktu duniawi, sebagai lawan dari waktu sakral dari ritus dan mitos.

Para nabi Israel mendorong umat mereka untuk menghadapi nestapa sosial mereka sendiri dan mengelakkan bencana politik atas nama Tuhan yang mengungkapkan dirinya melalui peristiwa-peristiwa historis.

Doktrin Kristen tentang Inkarnasi menekankan imanensi Tuhan di dunia.

Perhatian pada apa yang ada di sini dan di saat ini menjadi ciri khusus Islam: tak ada seorang realis yang melebihi Nabi Muhammad Saw., yang merupakan seorang jenius politik sekaligus spiritual.

Sebagaimana telah kita saksikan, beberapa generasi Muslim belakangan ikut mengupayakan cita-citanya untuk mewujudkan kehendak Ilahi di dalam sejarah manusia dengan menegakkan masyarakat yang adil dan bermoral.

Sejak awal sekali Tuhan dialami sebagai dorongan untuk bertindak.

Sejak masa ketika Tuhan—sebagai El atau Yahweh—memanggil Ibrahim untuk meninggalkan istrinya di Haran, kultus itu telah melibatkan tindakan nyata di dunia ini dan sering menuntut keterputusan yang pedih dari nilai-nilai lama.

Keterputusan ini juga menimbulkan ketegangan. Tuhan Suci, yang sepenuhnya berbeda dari segala wujud, dirasakan sebagai kejutan besar oleh para nabi.

Dia menuntut kesucian dan keterpisahan yang sama dari umatnya.

Tatkala dia berbicara dengan Musa di Gunung Sinai, orang Israel tidak diizinkan mendekati kaki gunung itu.

Jurang pemisah yang sama sekali baru tiba-tiba membentang antara manusia dan yang ilahi, meruntuhkan visi holistik paganisme.

Oleh karena itu, ada potensi keterasingan dari dunia, yang mencerminkan terbitnya kesadaran tentang autonomi individu yang tak terasingkan.

Bukan kebetulan jika monoteisme akhirnya mengakar selama pengusiran ke Babilonia, ketika orang Israel juga mengembangkan nilai tanggung jawab pribadi yang merupakan nilai penting dalam Yudaisme maupun Islam.!4

Telah kita saksikan bahwa para rabi menggunakan ide tentang Tuhan yang imanen untuk membantu orang Yahudi menumbuhkan pengertian tentang hak-hak suci manusia.

Namun, keterasingan terus menjadi ancaman di dalam ketiga agama besar dunia: di Barat pengalaman tentang Tuhan selalu diiringi rasa bersalah dan antropologi yang pesimistik.

Dalam Yudaisme dan Islam tak disangsikan bahwa penunaian Taurat dan Syariat kadang dianggap sebagai kepatuhan heteronom terhadap suatu hukum lahiriah, sekalipun telah kita saksikan bahwa tak ada tujuan lebih jauh yang dimaksudkan oleh penyusun hukum-hukum ini.

Orang ateis yang menyerukan pembebasan dari Tuhan yang menuntut ketaatan seperti budak itu, menentang penggambaran yang tak layak, namun telanjur populer tentang Tuhan.

Lagi-lagi, ini didasarkan pada konsepsi ketuhanan yang terlalu personalistik.

Konsepsi itu menafsirkan gambaran kitab suci tentang Tuhan secara sangat harfiah dan mengasumsikan bahwa Tuhan adalah sejenis Big Brother di langit.

Gambaran tentang ilah tiran yang memaksakan hukum asing kepada hamba-hamba manusia yang tak berdaya harus dihapuskan.

Meneror orang banyak dengan berbagai ancaman agar menjadi patuh sudah tak bisa lagi diterima atau bahkan dapat digunakan, sebagaimana telah secara dramatis dibuktikan oleh kejatuhan rezim komunis pada musim gugur 1989.

Ide antropomorfik tentang Tuhan sebagai Pembuat hukum dan Penguasa tidak sesuai lagi dengan karakter mental pascamodern.

Sungguhpun demikian, kaum ateis yang mengatakan bahwa ide tentang Tuhan itu tidak alamiah tidak seluruhnya benar.

Telah kita saksikan bahwa orang Yahudi, Kristen, dan Muslim telah mengembangkan ide-ide tentang Tuhan yang saling serupa, yang juga mirip dengan konsepsi lain tentang Yang Mutlak.

Ketika orang mencoba menemukan makna dan nilai tertinggi dalam kehidupan kemanusiaan, pikiran mereka tampaknya menuju ke satu arah.

Mereka tidak dipaksa untuk melakukan ini: tampaknya ini merupakan sesuatu yang alamiah bagi umat manusia.

Agar perasaan tidak merosot menjadi pelampiasan hawa nafsu, agresif atau emosionalisme yang tak sehat, ia perlu diarahkan oleh nalar kritis.

Pengalaman tentang Tuhan harus diiringi oleh antusiasme lain, termasuk antusiasme akal.

Eksperimen falsafah merupakan sebuah usaha untuk mengaitkan iman kepada Tuhan dengan kultus rasionalisme baru di kalangan Yahudi, Muslim dan, kemudian, Kristen Barat.

Kaum Muslim dan Yahudi akhirnya mundur dari filsafat.

Rasionalisme, menurut mereka, hanya bermanfaat bagi kajian empirik semacam sains, kedokteran, dan matematika, tetapi tidak sesuai untuk pembahasan tentang Tuhan yang berada di atas konsep-konsep.

Orang Yunani telah merasakan ini dan sejak awal menolak metafisika asli mereka.

Salah satu kelemahan metode filosofis dalam membahas tentang Tuhan adalah kesan yang ditimbulkannya seakanakan Tuhan Mahatinggi itu sekadar sebuah Wujud lain, yang tertinggi dari segala yang ada, bukannya suatu realitas dari tatanan yang benarbenar berbeda.

Sungguhpun demikian, upaya falsafah itu penting, sebab ia menunjukkan apresiasi terhadap perlunya mengaitkan Tuhan dengan pengalaman lain—sekalipun hanya untuk mendefinisikan batas terjauh pengalaman itu.

Memaksakan Tuhan ke dalam isolasi intelektual, ke dalam ruang suci miliknya sendiri, merupakan tindakan yang tidak sehat dan tidak alamiah.

Ini akan mendorong orang untuk berpikir bahwa perilaku yang diilhami oleh “Tuhan” tidak perlu dikenakan standar normal dalam soal kepantasan dan rasionalitas.

Sejak awal falsafah telah senantiasa dikaitkan dengan sains.

Antusiasme awal mereka terhadap kedokteran, astronomi dan matematika merupakan pendorong kajian tentang Allah dalam terma metafisika.

Sains telah mendatangkan perubahan besar terhadap cara pandang mereka, dan mereka menyadari bahwa cara pikir mereka tentang Tuhan berbeda dengan pendekatan kaum Muslim lainnya.

Konsepsi filosofis tentang Tuhan jelas berbeda dari visi Al-Quran, namun para faylasuf itu juga menghidupkan kembali beberapa pandangan yang terancam hilang dari ummah pada masa itu.

Al-Quran, misalnya, bersikap yang sangat positif terhadap tradisi agama lain: Muhammad tidak memandang dirinya tengah menegakkan sebuah agama baru yang eksklusif dan berpendapat bahwa semua keyakinan yang mengarah pada kebaikan berasal dari Tuhan Yang Esa.

Namun sejak abad kesembilan, kaum ulama mulai melupakan pandangan ini dan mengetengahkan kultus Islam sebagai satu-satunya agama yang benar.

Para faylasuf kembali kepada pendekatan universalis lama, sekalipun mereka mencapainya melalui jalur berbeda.

Kita memiliki kesempatan yang sama pada saat ini.

Di era ilmiah kita ini, kita tidak dapat berpikir tentang Tuhan dengan cara seperti para pendahulu kita, namun demikian tantangan sains bisa membantu kita mengapresiasi beberapa kebenaran lama.

Telah kita saksikan bahwa Albert Einstein mengapresiasi agama mistikal. Meski pernah mengatakan bahwa Tuhan bukan sekadar bermain dadu, dia tidak percaya bahwa teori relativitasnya akan berpengaruh terhadap konsepsi ketuhanan. Dalam salah satu kunjungannya ke Inggris pada 1921, Einstein ditanya oleh Uskup Agung Canterbury apa implikasi teori itu terhadap teologi. Dia menjawab: “Tak ada. Relativitas adalah persoalan ilmiah murni dan tidak ada kaitannya dengan agama.”1?

Ketika orang Kristen dikecewakan oleh ilmuwan semacam Stephen Hawking, yang tidak memberi ruang untuk Tuhan di dalam kosmologinya, mereka mungkin masih berpikir tentang Tuhan dalam terma antropomortfik sebagai Wujud yang telah menciptakan alam sebagaimana layaknya kita, manusia, membuat sesuatu. Namun, kisah penciptaan sejak awal tidak untuk dipahami secara harfiah seperti itu.

Pengertian tentang Yahweh sebagai Pencipta belum masuk ke dalam Yudaisme hingga pengusiran ke Babilonia. Ini adalah sebuah konsepsi yang asing bagi alam pikiran Yunani: penciptaan dari ketiadaan (ex nihilo) bukanlah doktrin resmi Kristen sebelum Konsili Nicaea pada tahun 341. Penciptaan merupakan ajaran inti Al-Quran, namun, sebagaimana semua ungkapan Al-Quran tentang Tuhan, ini juga merupakan “kiasan” atau “tanda” (ayat) dari suatu kebenaran yang tak terucapkan.

Kaum rasionalis Muslim dan Yahudi merasakannya sebagai sebuah doktrin yang sulit dan problematik, dan banyak di antara mereka yang menolaknya. Kaum sufi dan Kabbalis lebih menyukai kiasan Yunani tentang emanasi. Pendek kata, kosmologi bukanlah penjelasan ilmiah tentang asal usul alam, namun pada dasarnya merupakan ungkapan simbolik tentang kebenaran spiritual dan psikologis.

Oleh karena itu, tidak timbul banyak penolakan terhadap sains baru di dunia Muslim: sebagaimana telah kita saksikan, peristiwa-peristiwa historis terbaru lebih dirasakan sebagai ancaman terhadap konsepsi ketuhanan tradisional dibanding berbagai penemuan sains. Akan tetapi di Barat, pemahaman harfiah tentang kitab suci telah tertanam sejak lama.

Ketika beberapa orang Kristen Barat merasa keimanan mereka kepada Tuhan digoyahkan oleh sains baru, mereka mungkin membayangkan Tuhan sebagai Mekanik agung yang dikonsepsikan Newton, sebuah pandangan ketuhanan personalistik yang harus ditolak atas dasar alasan-alasan keagamaan maupun ilmiah. Tantangan sains mungkin akan membawa gereja kepada apresiasi baru terhadap watak simbolik narasi kitab suci.

Ide tentang Tuhan personal tampaknya semakin tidak dapat diterima pada masa kini dengan segala jenis alasan: moral, intelektual, ilmiah, dan spiritual. Kaum feminis juga berkeberatan terhadap Tuhan personal yang, karena gender"nya” ditetapkan sebagai laki-laki sejak era tribal pagan. Namun, menyebutnya sebagai perempuan—kecuali dalam cara yang dialektis—juga sama bermasalahnya sebab itu berarti membatasi Tuhan yang tak dapat dimuat ke dalam kategori kemanusiaan murni.

Pandangan metafisik kuno tentang Tuhan sebagai Wujud Tertinggi, yang telah sejak lama populer di Barat, juga dirasa tidak memuaskan. Tuhan para filosof merupakan produk rasionalisme yang kini telah usang sehingga “bukti-bukti” tradisional tentang eksistensinya sudah tidak berlaku lagi. Luasnya penerimaan terhadap konsepsi Tuhan para filosof oleh kaum deis era Pencerahan dapat dilihat sebagai langkah pertama ateisme. Sebagaimana Tuhan langit yang lama, ilah yang ini juga begitu jauh dari manusia dan dunia material sehingga dengan mudah dia menjadi Deus Otiosus dan memudar dari ingatan kita.

Tuhan kaum mistik tampaknya menampilkan sebuah alternatif yang mungkin lebih dapat diterima. Kaum mistik telah sejak lama menegaskan bahwa Tuhan bukanlah suatu Wujud lain; mereka mengklaim bahwa dia tidak sungguh-sungguh bereksistensi dan bahwa lebih baik menyebutnya Tiada. Tuhan ini cocok dengan selera ateistik masyarakat sekular yang menolak gambaran yang tak layak tentang Yang Mutlak.

Alih-alih memandang Tuhan sebagai Fakta objektif, yang dapat didemonstrasikan melalui dalil-dalil ilmiah, kaum mistik justru mengklaim bahwa Tuhan merupakan pengalaman subjektif yang secara misterius dirasakan di kedalaman wujud. Tuhan ini harus didekati melalui imajinasi dan dapat dilihat sebagai sebentuk seni, serumpun dengan simbol-simbol artistik lainnya yang mengungkapkan misteri tak terlukiskan, keindahan, dan nilai kehidupan.

Kaum mistik telah menggunakan musik, tarian, syair, fiksi, kisah-kisah, lukisan, pahatan, dan arsitektur untuk mengungkapkan Realitas yang melampaui konsep-konsep ini. Akan tetapi, sebagaimana semua seni, mistisisme membutuhkan kecerdasan, disiplin, dan swakritik sebagai benteng terhadap emosionalisme dan proyeksi yang berlebihan.

Tuhan kaum mistik bahkan bisa memuaskan kaum feminis, karena baik sufi maupun Kabbalis telah sejak lama berusaha memasukkan unsur kewanitaan ke dalam yang ilahi.

Namun demikian, terdapat beberapa kelemahan. Mistisisme telah dipandang mencurigakan oleh banyak umat Yahudi dan Muslim terutama sejak kemurtadan Shabbetai Zevi dan kemunduran sufisme masa belakangan. Di Barat, mistisisme tak pernah menjadi arus utama gairah keagamaan. Para pembaru Katolik dan Protestan mengabaikan atau meminggirkannya, dan Zaman Akal ilmiah tidak mendukung persepsi semacam ini.

Sejak 1960-an telah tumbuh ketertarikan baru terhadap mistisisme, yang terungkap melalui antusiasme terhadap Yoga, meditasi, dan Buddhisme. Akan tetapi, ini bukanlah pendekatan yang mudah disesuaikan dengan mentalitas objektif dan empirik kita. Tuhan kaum mistik tidak mudah dipahami.

Dibutuhkan latihan lama bersama seorang ahli dan investasi waktu yang cukup panjang. Seorang mistikus harus bekerja keras untuk meraih pengalaman tentang realitas yang dikenal sebagai Tuhan (yang banyak di antara mereka menolak untuk menamainya). Kaum mistik sering mengatakan bahwa manusia harus secara sengaja menciptakan pengalaman tentang Tuhan ini untuk diri mereka sendiri, dengan derajat kepedulian dan perhatian yang sama seperti yang dicurahkan orang lain terhadap kreasi artistik.

Ini mungkin bukan sesuatu yang memikat bagi orang yang hidup dalam masyarakat yang telah terbiasa dengan pemuasan-segera, makanan cepat-saji, dan komunikasi instan. Tuhan kaum mistik tidak hadir dalam bentuk siap-pakai dan terpaketkan. Dia tidak dapat dirasakan secepat ekstasi instan yang diciptakan pendakwah revivalis, yang dapat dengan segera membuat seluruh jamaah bertepuk tangan dan mengulang perkataannya.

Namun demikian, beberapa sikap mistikus mungkin dapat diraih. Sekalipun kita tak mampu mencapai derajat kesadaran lebih tinggi yang telah dicapai oleh seorang mistikus, kita bisa belajar bahwa Tuhan tidak mengada dalam pengertian yang sederhana, misalnya, atau bahwa kata “Tuhan” itu sendiri hanya merupakan simbol suatu realitas tak terucap yang melampauinya.

Agnostisisme mistikal dapat membantu kita mencapai pengekangan diri yang menahan kita untuk tidak mendesakkan persoalan rumit ini ke dalam dogma yang kaku. Namun, jika pemahaman ini tidak dapat dirasakan denyutnya di nadi dan diartikan secara personal, semuanya akan tampak sebagai abstraksi tak bermakna.

Mistisisme tangan kedua bisa jadi tak memuaskan seperti halnya membaca penjelasan atas sebuah puisi oleh seorang kritikus sastra bukan membaca sendiri puisi aslinya. Telah kita saksikan bahwa mistisisme sering dianggap sebagai sebuah disiplin esoterik, bukan karena kaum mistik ingin membuang yang vulgar, melainkan karena kebenaran-kebenaran ini hanya bisa dipersepsi oleh akal intuitif setelah melakukan latihan khusus.

Artinya menjadi berbeda setelah didekati melalui jalan ini, jalan yang tak dapat terjangkau oleh daya nalar logis.

Semenjak nabi-nabi Israel mulai menisbahkan perasaan dan pengalaman mereka sendiri kepada Tuhan, kaum monoteis dalam pengertian tertentu telah menciptakan Tuhan mereka sendiri. Tuhan jarang dipandang sebagai sebuah fakta nyata yang bisa dijumpai seperti halnya eksistensi objektif lainnya.

Pada masa sekarang, banyak orang tampak seperti kehilangan keinginan untuk menempuh upaya imajinatif ini. Hal ini tidak perlu menjadi sebuah bencana. Ketika ide-ide keagamaan kehilangan validitasnya, ide-ide itu biasanya akan memudar tanpa terasa: jika pemikiran manusia tentang Tuhan tak lagi sesuai bagi kita di zaman empirik ini, maka ide itu akan dicampakkan.

Namun, di masa silam manusia selalu menciptakan simbol-simbol baru untuk menjadi fokus spiritualitas. Manusia selalu menciptakan suatu keyakinan untuk dirinya sendiri, untuk menumbuhkan rasa kagum dan meraih makna kehidupan yang tak terkatakan.

Ketiadaan tujuan, keterasingan, anomi, dan kekerasan yang telah menjadi karakter kehidupan modern memberi petunjuk betapa karena kini manusia tidak lagi menciptakan keimanan kepada “Tuhan” atau sesuatu yang lain—tak terlalu penting apa sesuatu itu—maka banyak orang lantas terjerumus ke dalam keputusasaan.

Sembilan puluh persen penduduk Amerika Serikat mengaku beriman kepada Tuhan, namun menggejalanya fundamentalisme, apokaliptisisme, dan berbagai bentuk religiusitas karismatik di Amerika tidak menjamin data itu. Meningkatnya angka kejahatan, penyalahgunaan obat-obat terlarang, dan diberlakukannya kembali hukuman mati bukanlah tanda-tanda bagi suatu masyarakat yang sehat secara spiritual.

Di dalam kesadaran manusiawi orang Eropa terdapat ruang kosong yang dahulu pernah diisi oleh Tuhan. Orang pertama yang mengungkapkan nestapa ini—yang agak berbeda dari ateisme heroik Nietzsche—adalah Thomas Hardy. Dalam “The Darkling Thrush’, yang ditulis pada 30 Desember 1900, di titik awal abad kedua puluh, dia mengungkapkan kematian ruh yang tak lagi mampu menciptakan iman pada makna kehidupan:

Aku bersandar di gerbang kayu,
Ketika salju kelabu seperti hantu
Dan sisa musim dingin membuat sendu
hari yang makin suram.

Tangkai gandum menggapai langit
Bagaikan tali-tali harpa sumbang,
Dan semua manusia di sekitarnya
Ingin berdiang di perapian rumah mereka.

Sosok tanah patah-patah tampak seperti
Jenazah Century terbujur,
Liang lahatnya tudung langit,
Angin adalah ratapan kematiannya.

Relik purba benih dan tunas
Mengerut keras dan kering,
Dan setiap ruh di atas bumi
Tampak layu seperti diriku.

Seketika melengking suara di antara
Ranting-ranting kering di atas kepala
Menyenandungkan sepenuh hati tembang
kegembiraan tak berbatas:

Seekor burung tua, lemah, kurus, dan kecil
Dalam bulunya yang mekar indah,
Telah memilih untuk membuang jiwanya
Ke atas kesuraman yang makin bertambah.

Sedikit alasan untuk bergembira
Mendengar lengkingan suara itu
Tersurat di atas bumi
Yang dekat atau yang jauh,

Sehingga aku bisa berpikir melintasi
Udara malamnya yang bahagia
Beberapa Harapan yang diberkati, yang diketahuinya
Sementara aku tak tahu.

Manusia tidak bisa menanggung beban kehampaan dan kenestapaan: mereka akan mengisi kekosongan itu dengan menciptakan fokus baru untuk meraih hidup yang bermakna.

Berhala kaum fundamentalis bukanlah pengganti yang baik untuk Tuhan, jika kita mau menciptakan gairah keimanan yang baru untuk abad kedua puluh satu, mungkin kita harus merenungkan dengan saksama sejarah Tuhan ini demi menarik beberapa pelajaran dan peringatan.II

Like

1

Love

2

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment