Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan

Fox mengajarkan pengikut Quaker untuk menanti Tuhan dalam keheningan, mengingatkan pada hesychasm Yunani atau via negativa filosof abad pertengahan. Gagasan lama tentang Tuhan Trinitarian menimbulkan perpecahan: kehadiran Tuhan imanens tidak mungkin terbagi menjadi tiga oknum. Ciri utama sekte ini adalah Keesaan, tercermin dalam kesatuan dan egalitarianisme komunitas. Seperti Kelompok Persaudaraan, beberapa pengikut Ranter menganggap diri mereka ilahiah, sebagian lainnya mengaku sebagai Kristus atau bentuk baru inkarnasi Tuhan. Sebagai Mesias, mereka menyebarkan doktrin revolusioner dan tatanan dunia baru.

Dalam risalah polemisnya Gangraena or a Catalog and Discovery of Many of the Errours, Heresies, Blasphemies and Pernicious Practices of the Sectarians of this Time (1640), kritikus Presbyterian Thomas Edwards menyimpulkan kepercayaan sekte Ranter:

“Setiap makhluk dalam keadaan penciptaan pertama adalah Tuhan, dan setiap makhluk adalah Tuhan. Setiap makhluk yang hidup dan bernapas memiliki esensi asal dari Tuhan, dan akan kembali kepada Tuhan, akan tertelan ke dalam-Nya bagaikan setetes air di lautan lepas. Seorang manusia yang dibaptis dengan Roh Kudus mengetahui segala sesuatu seperti Tuhan mengetahui segala sesuatu, yang menunjukkan sebuah misteri yang dalam... Jika seorang manusia melalui ruhnya mengetahui dirinya diberkati, sekalipun dia pernah membunuh atau mabuk, Tuhan tidak melihat ada dosa di dalam dirinya... Seluruh bumi adalah Orang-Orang Suci, dan pasti di sana ada komunitas orang-orang baik, dan Orang-Orang Suci harus ikut memiliki tanah dan Bangunan Orang Terhormat.”

Distributor pusat penjualan segala alat listrik tenaga surya. Toko online jual listrik tenaga matahari. Produsen Produk solar sel murah.www.tokosolarcell.net . daftar Paket harga penjualan listrik tenaga matahari

Seperti Spinoza, sekte Ranter dituduh menganut ateisme. Mereka sengaja melanggar larangan agama Kristen karena kredo kebebasan mereka dan berkeyakinan bahwa tidak ada perbedaan antara Tuhan dengan manusia. Tidak semua orang mampu memahami abstraksi ilmiah Kant atau Spinoza, tetapi aspirasi sekte Ranter atau konsepsi Cahaya Batin Quaker mirip dengan kaum revolusioner Prancis yang menobatkan Akal sebagai penguasa.

Beberapa pengikut Ranter mengaku sebagai Mesias atau reinkarnasi Tuhan, yang akan mendirikan Kerajaan baru. Keterangan yang tersedia menunjukkan beberapa penyimpangan mental, namun mereka tetap menarik bagi banyak pengikut dan menjawab kebutuhan spiritual serta sosial di Inggris saat itu.

William Franklin, seorang kepala keluarga terhormat, menderita sakit jiwa pada 1646 setelah keluarganya ditimpa wabah. Ia mengejutkan masyarakat Kristen dengan menyatakan dirinya adalah Tuhan dan Kristus, lalu bertobat dan memohon ampun. Meskipun tampak waras, ia meninggalkan istrinya, tidur dengan wanita lain, dan menjatuhkan reputasinya. Seorang wanita, Mary Gadbury, mulai mendapat visi dan mendengar bisikan suara. Ia meramalkan tatanan sosial baru yang menghapus perbedaan kelas dan meyakini Franklin sebagai Tuhan dan Kristusnya. Mereka berhasil memikat beberapa murid, namun pada 1650 ditangkap, dihukum cambuk, dan dipenjara di Bridewell.

Pada waktu yang sama, John Robbins juga disebut sebagai Tuhan: ia mengklaim diri sebagai Tuhan Bapa dan percaya istrinya akan segera melahirkan Juru Selamat dunia. Beberapa sejarawan menolak menggolongkan Robbins dan Franklin sebagai pengikut Ranter karena informasi berasal dari musuh-musuh mereka yang mungkin sengaja menyimpangkan ajaran demi polemik. Namun, naskah dari tokoh Ranter terkemuka, seperti Jacob Bauthumely, Richard Coppin, dan Laurence Clarkson, menunjukkan ide kompleks yang serupa, termasuk kredo sosial revolusioner.

Dalam risalahnya The Light and Dark Sides of God (1650), Bauthumely berbicara tentang Tuhan dengan cara yang mengingatkan pada keyakinan sufi: Tuhan adalah Mata, Telinga, dan Tangan manusia yang mendekatinya:

“Wahai Tuhan, apa yang harus aku katakan kepadamu? Karena jika kukatakan aku melihat-Mu, itu bukanlah apa-apa kecuali penglihatan-Mu terhadap dirimu sendiri. Jika kukatakan aku mengenal-Mu, maka hal itu bukanlah sesuatu selain pengenalan-Mu tentang dirimu sendiri.”

Seperti kaum rasionalis, Bauthumely menolak doktrin Trinitas dan, seperti kaum sufi, menjelaskan ketuhanan Kristus: meskipun ilahi, Tuhan tidak mungkin mewujud hanya dalam satu manusia. “Dia sungguh-sungguh dan substansial bersemayam dalam daging manusia-manusia dan makhluk-makhluk lain, seperti dalam tubuh manusia Kristus.” Penyembahan terhadap Tuhan khusus dan terlokalisasi dianggap keberhalaan: surga adalah kehadiran spiritual Kristus, bukan tempat. Dosa bukanlah tindakan, melainkan kondisi: hilangnya watak ketuhanan. Secara misterius, Tuhan hadir di dalam dosa, yang hanya “sisi gelap Tuhan, sekadar ketiadaan cahaya.”

Bauthumely dituduh ateis, tetapi pandangannya tidak jauh berbeda dari Fox, Wesley, dan Zinzendorf, meskipun diungkapkan lebih kasar. Seperti Pietist dan Metodis, ia menginternalisasikan Tuhan yang jauh dan objektif, mengubah doktrin tradisional menjadi pengalaman keagamaan, menolak otoritas, dan bersikap optimistik terhadap manusia sebagaimana kaum Pencerahan dan pengikut agama hati.

Bauthumely bermain dengan doktrin kesucian dosa yang memikat dan subversif. Jika Tuhan segalanya, dosa bukanlah apa-apa—ajaran yang diikuti Ranter lain, seperti Laurence Clarkson dan Alastair Coppe, melalui pelanggaran hukum seksual, sumpah, dan penghujatan publik. Coppe terkenal karena kegemarannya mabuk-mabukan dan merokok. Ia menuruti hasratnya untuk mengumbar kutukan dan sumpah, pernah mengutuk selama satu jam di mimbar gereja London dan bersumpah di depan pelayan restoran hingga pelayan gemetaran berjam-jam. Ini kemungkinan reaksi terhadap etika Puritan yang represif dan fokus berlebihan pada dosa manusia.

Fox dan Quaker mengajarkan dosa tak dapat dihindari, tanpa menganjurkan pelanggaran Ranter, tetapi menyiarkan pandangan lebih optimistik tentang manusia dan memulihkan keseimbangan. Dalam risalah A Single Eye, Laurence Clarkson menegaskan bahwa karena Tuhan menciptakan segala yang baik, “dosa” hanya ada dalam imajinasi manusia. Tuhan telah menyatakan dalam Alkitab bahwa Dia akan menerangi kegelapan. Para monoteis sulit mengakomodasi dosa, meskipun para mistikus mencari pandangan lebih holistik. Julian dari Norwich percaya dosa “sesuatu yang pantas,” sementara Kabbalis menganggap dosa berakar pada Tuhan.

Libertarianisme ekstrem Ranter dapat dianggap upaya menggoyahkan Kristen opresif yang menghadirkan Tuhan sebagai figur pemarah dan pendendam. Kaum rasionalis dan orang Kristen “tercerahkan” berusaha menghilangkan belenggu agama, menemukan Tuhan lebih lembut.

Para sejarawan sosial mencatat bahwa Kristen Barat unik di antara semua agama dunia karena perubahan drastis antara periode represif dan permisif. Fase-fase represif biasanya bertepatan dengan kebangkitan religius. Iklim moral longgar pada era Pencerahan diikuti oleh penindasan pada periode Victorian, bersamaan dengan kebangkitan fundamentalisme Kristen di Barat. Pada zaman modern, masyarakat permisif era 1960-an diikuti oleh era 1980-an yang lebih puritan, juga bertepatan dengan kebangkitan fundamentalisme Kristen.

Fenomena ini kompleks dan tidak memiliki sebab tunggal, tetapi menarik dikaitkan dengan persepsi orang Barat tentang Tuhan yang problematik. Para teolog dan mistikus Abad Pertengahan mungkin mengajarkan tentang Tuhan Pengasih, namun lukisan di pintu katedral yang menggambarkan siksaan orang-orang terkutuk menunjukkan sisi berbeda. Pemahaman tentang Tuhan di Barat sering dicirikan oleh kegelapan dan pertarungan. Para penganut sekte Ranter, seperti Clarkson dan Coppe, mencemoohkan berbagai hal tabu Kristen dan memaklumatkan kesucian dosa, bersamaan dengan keranjingan terhadap sihir yang merajalela di Eropa. Orang Kristen radikal Inggris di masa Cromwell juga memberontak terhadap Tuhan dan agama yang terlalu menuntut dan menakutkan.

Agama Kristen baru-terlahir kembali yang muncul di Barat selama abad ke-17 dan ke-18 sering tidak sehat, dicirikan oleh kekerasan, emosi, dan penolakan yang berbahaya. Fenomena ini tampak dalam gelombang semangat keagamaan yang disebut Kebangkitan Agung (Great Awakening). Gelombang yang menyapu Inggris Baru pada 1730-an diilhami ceramah evangelis George Whitefield, murid dan kolega Wesley, serta pidato tentang neraka oleh alumnus Yale, Jonathan Edwards (1703-58).

Edwards menggambarkan gelombang ini dalam esainya A Faithful Narrative of the Surprising Work of God in Northampton, Connecticut. Ia menyebut jamaatnya sebagai kelompok biasa—bersahaja, tertib, dan santun—tetapi tanpa semangat keagamaan. Mereka tidak lebih baik atau buruk dibanding koloni lain. Namun, pada 1734 dua pemuda mati mendadak, dan kejadian ini (ditambah ucapan Edwards yang menakutkan) menenggelamkan kota dalam gairah keagamaan. Orang-orang hanya berbicara tentang agama; mereka berhenti bekerja dan menghabiskan waktu seharian membaca Alkitab. Selama enam bulan, sekitar tiga ribu orang dari berbagai lapisan masyarakat beralih menganut agama baru, terkadang hingga lima orang per minggu.

Edwards memandang gejala ini sebagai perbuatan langsung Tuhan: ia yakin hal ini secara harfiah, bukan sekadar figuratif. Seperti yang berkali-kali dikatakannya, “Tuhan tampaknya telah meninggalkan kelazimannya” di Inggris Baru, menggerakkan orang dalam cara menakjubkan dan mukjizat. Namun, Roh Kudus kadang memanifestasikan diri melalui gejala histeris. Edwards menceritakan mereka sangat “menderita” karena takut kepada Tuhan, “tenggelam ke dalam jurang tak berdasar akibat rasa bersalah sehingga menyangka telah berada di luar ampunan Tuhan.” Hal ini diikuti perasaan bahagia ekstrem ketika mereka merasa diselamatkan.

Mereka pernah “tiba-tiba tertawa terbahak-bahak, namun pada saat yang sama air mata mengalir deras bagaikan air bah, bercampur dengan pekik ratapan. Kadang tak kuasa menahan tangisan keras sambil mengungkapkan puja-puji.” Sikap ini sangat berbeda dari ketenangan yang diyakini kaum mistik di semua tradisi sebagai ciri pencerahan sejati.

Perubahan emosional bolak-balik ini terus menjadi ciri kebangkitan agama di Amerika, seperti kelahiran disertai guncangan dan penderitaan. Gelombang Kebangkitan menyebar bagaikan wabah, menyerang kota dan desa, mirip seabad kemudian ketika New York dijuluki Burned-Over District karena gairah beragama yang meluap. Dalam kondisi berapi-api, Edwards mencatat pengikutnya merasa dunia penuh kebahagiaan. Mereka tidak bisa melepaskan diri dari Alkitab dan bahkan lupa makan. Tak heran emosi mereka surut, dan dua tahun kemudian Edwards mencatat, “mulai sangat terasakan betapa Ruh Tuhan perlahan-lahan meninggalkan kita.”

Edwards bersikap literal: Kebangkitan Agung merupakan pengungkapan langsung Tuhan, aktivitas Roh Kudus yang terasakan seperti Pentakosta pertama. Ketika Tuhan menarik diri, secara tiba-tiba, tempat yang tadinya diisi Tuhan kini diambil alih Setan. Pengagungan digantikan keputusasaan yang mendorong bunuh diri. Orang pertama mengerat urat leher sendiri; “Orang banyak di kota ini dan kota lain tampaknya terdorong dan dipaksakan melakukan hal serupa. Banyak merasa seakan ada seseorang berkata, ‘Potong lehermu sendiri, sekarang adalah kesempatan terbaik. Sekarang!’” Dua orang menjadi gila akibat “khayalan aneh dan antusias.” Tidak ada pengikut baru setelah itu; yang tersisa menjadi lebih tenang dan gembira dibanding saat gelombang Kebangkitan.

Tuhan Edwards dan pengikutnya, yang hadir dalam cara tak normal dan mencekam, tetap mengilhami ketakutan. Sentakan emosi, kegembiraan berlebihan, dan keputusasaan mendalam menunjukkan banyak orang Amerika sulit menjaga keseimbangan dengan “Tuhan.” Hal ini juga terlihat dalam agama ilmiah Newton: Tuhan bertanggung jawab langsung atas segala yang terjadi di dunia.

Sulit mengaitkan religiusitas penuh semangat dan irasional ini dengan ketenangan para pendahulu. Edwards menghadapi banyak penentang yang kritis terhadap Kebangkitan Agung. Kaum liberal berpendapat Tuhan hanya mengekspresikan diri secara rasional, bukan melalui ledakan kekerasan yang dipaksakan atas persoalan manusia. Namun, dalam Religion and the American Mind: From the Great Awakening to the Revolution, Alan Heimart berpendapat Kebangkitan merupakan versi evangelis dari cita-cita Pencerahan tentang pencarian kebahagiaan: gelombang ini mewakili “pembebasan eksistensial dari dunia di mana segala sesuatu membangkitkan pemahaman yang hebat.”

Kebangkitan terjadi di koloni miskin, di mana orang sedikit memiliki harapan akan kebahagiaan, meskipun berada di tengah harapan Pencerahan. Pengalaman terlahir kembali, menurut Edwards, menimbulkan rasa gembira dan persepsi keindahan yang berbeda dari sensasi alamiah mana pun. Dalam Kebangkitan, pengalaman ketuhanan memungkinkan Pencerahan Dunia Baru dicicipi lebih dari sekadar orang sukses di koloni itu. Pencerahan filosofis juga dialami sebagai pembebasan semi-religius; istilah éclaircissement dan Aufklärung memiliki konotasi religius.

Tuhan Edwards juga berkontribusi terhadap antusiasme revolusioner 1775. Kaum revivalis melihat Inggris kehilangan cahaya baru yang bersinar selama revolusi Puritan. Edwards dan koleganya memimpin kelas bawah Amerika untuk mengambil langkah pertama menuju revolusi. Mesianisme esensial dalam agama Edwards: usaha manusia mempercepat kedatangan Kerajaan Tuhan, dapat dicapai di Dunia Baru. Gelombang Kebangkitan meyakinkan orang bahwa penebusan dosa Alkitab dimulai. Tuhan teguh terhadap proyek ini. Edwards memberikan interpretasi politik terhadap doktrin Trinitas: Sang Putra adalah “ilah yang muncul dari pemahaman tentang Tuhan” dan cetak biru bagi Persemakmuran Baru; Roh Kudus, “ilah yang hidup melalui tindakan,” akan menyempurnakan masterplan ini. Dalam Dunia Baru Amerika, Tuhan mewujudkan kesempurnaan di bumi; masyarakat mengungkapkan “keunggulan” Tuhan. Inggris Baru menjadi “kota di atas bukit,” cahaya bagi non-Yahudi, bersinar dengan pantulan kemuliaan Yehova. Tuhannya Edwards berinkarnasi dalam Persemakmuran: Kristus tertubuhkan dalam masyarakat yang baik.

Kaum Calvinis lainnya maju pesat: mereka memasukkan kimia ke kurikulum sekolah. Timothy Dwight, cucu Edwards, memandang sains sebagai pengantar kesempurnaan final manusia. Tuhan mereka bukan obskurantisme seperti dibayangkan kaum liberal. Calvinis tidak menyukai kosmologi Newton, yang menyisakan sedikit pekerjaan bagi Tuhan setelah menciptakan segalanya. Mereka lebih menyukai Tuhan aktif di dunia: doktrin predestinasi menunjukkan Tuhan bertanggung jawab atas segala yang terjadi, baik atau buruk. Sains hanya mengungkapkan Tuhan yang tampak dalam aktivitas makhluk—alamiah, sipil, fisikal, maupun spiritual—bahkan yang tampak kebetulan. Pemikiran Calvinis kadang lebih bebas daripada kaum liberal, lebih menyukai iman sederhana daripada “ajaran spekulatif dan membingungkan.” Kaum liberal sulit memahami imbauan revivalis seperti Whitefield dan Edwards. Alan Heimart mengemukakan akar anti-intelektualisme di Masyarakat Amerika mungkin bukan pada Calvinis atau Evangelis, melainkan pada Boston yang lebih rasional, seperti Charles Chauncey atau Samuel Quincey, yang menghendaki Tuhan “lebih sederhana dan jelas.”

Di dalam Yudaisme, terjadi perkembangan yang sangat mirip dengan Kristen Barat, yang mempersiapkan jalan bagi penyebaran cita-cita kaum rasionalis di kalangan Yahudi dan memungkinkan banyak di antara mereka berasimilasi dengan non-Yahudi di Eropa.

Pada tahun apokaliptik 1666, seorang Mesias Yahudi menyatakan bahwa penebusan dosa telah tiba. Secara ekstatik, dia diterima oleh komunitas Yahudi di seluruh dunia. Shabbetai Zevi lahir pada 1626, bertepatan dengan peringatan ulang tahun penghancuran Kuil, dari keluarga Sephardik kaya di Smirna, Asia Kecil. Dewasa, ia menunjukkan kecenderungan perilaku yang kini bisa didiagnosis sebagai depresif-berlebihan: periode keputusasaan berat diikuti kegirangan yang berujung ekstase.

Selama fase ini, Shabbetai kadang secara sengaja dan spektakuler melanggar hukum Musa: memakan makanan terlarang, menyebut Nama Tuhan yang sakral, dan mengaku diperintahkan melakukan semua itu berdasarkan wahyu khusus. Ia meyakini dirinya Mesias yang lama dinantikan. Pada 1656, para rabi kehabisan kesabaran dan mengusir Shabbetai dari kota. Ia menjadi pengelana di komunitas Yahudi Kerajaan Usmani.

Di Istanbul, saat mengalami gangguan mental, Shabbetai menyatakan Taurat telah dihapuskan dengan berteriak: “Semoga engkau dirahmati, wahai Tuhan kami, Yang mengizinkan apa-apa yang dilarang!” Di Kairo, ia menimbulkan skandal dengan menikahi seorang wanita yang melarikan diri dari pembantaian di Polandia 1648 dan hidup sebagai pelacur. Pada 1662, Shabbetai menuju Yerusalem, dalam fase depresif, yakin telah dikuasai setan. Di Palestina, ia mendengar tentang rabi muda terpelajar Nathan, ahli pengusir setan, dan berniat menemuinya di Gaza.

Nathan, yang mempelajari Kabbalah Isaac Luria, menenangkan Shabbetai. Ia menyatakan kesedihan mendalam Shabbetai sebagai bukti mesianisme: dengan turun ke kedalaman dan melawan kekuatan jahat dari Sisi Lain, ia melepaskan cahaya ilahi di alam kelipoth, yang hanya bisa ditebus oleh Mesias. Shabbetai awalnya menolak, namun kefasihan Nathan melunakkan hatinya. Pada 31 Mei 1665, ia tiba-tiba dikuasai kegirangan luar biasa dan, dengan dukungan Nathan, mengumumkan misi Mesianiknya.

Para rabi terkemuka menganggap hal ini berbahaya, namun banyak Yahudi Palestina mengakuinya. Shabbetai memilih dua belas murid untuk menjadi hakim suku-suku Israel yang akan dipersatukan kembali. Nathan menyebarkan berita melalui surat ke Italia, Belanda, Jerman, Polandia, dan kota-kota imperium Usmani. Demam Mesianik menyebar bagaikan api.

Abad-abad penganiayaan dan pengusiran telah membuat banyak Yahudi percaya masa depan dunia bergantung pada mereka. Kaum Sephardim, keturunan Yahudi yang diusir dari Spanyol, mempercayai Kabbalah Lurianik, dan banyak percaya Hari Akhir segera tiba. Semua ini mendorong kultus Shabbetai Zevi. Sepanjang sejarah Yahudi, banyak orang mengklaim sebagai Mesias, tetapi tidak ada yang memperoleh dukungan sebesar Shabbetai. Pendukungnya datang dari semua kelas masyarakat: kaya dan miskin, terpelajar maupun tidak. Pamflet dan selebaran menyebarkan kabar gembira dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, dan Italia. Di Polandia dan Lithuania diadakan prosesi umum untuk menghormatinya.

Di imperium Usmani, para nabi berkeliling menyebarkan visi Shabbetai di atas singgasana. Semua kegiatan usaha dihentikan; Yahudi di Turki mengganti nama sultan dalam doa Sabath dengan nama Shabbetai. Pada Januari 1666, Shabbetai tiba di Istanbul, ditangkap sebagai pemberontak, dan dipenjara di Gallipoli.

Setelah berabad-abad penganiayaan, muncullah harapan. Orang Yahudi merasakan kebebasan dan kemerdekaan batin mirip ekstasi Kabbalis saat merenungkan misteri sefiroth. Pembebasan kini bukan hak istimewa, tetapi dapat dicapai oleh orang awam. Penebusan dosa menjadi nyata dan bermakna di masa kini. Letupan perasaan ini meninggalkan kesan tak terhapuskan. Shabbetai berhasil menarik hati penangkapnya; Wazir Turki menempatkannya dalam kenyamanan, dan ia menandatangani surat-surat: “Aku adalah Penguasa Tuhanmu, Shabbetai Zevi.”

Namun, ketika kembali diadili di Istanbul, depresi kembali menimpa Shabbetai. Sultan memberinya pilihan: menganut Islam atau mati. Ia memilih Islam dan segera dibebaskan, diberi tunjangan kerajaan, dan wafat sebagai Muslim taat pada 1/7 September 1676. Berita ini mengecewakan para pendukungnya, banyak yang kehilangan iman. Para rabi berusaha menghapus kenangan Shabbetai, menghancurkan surat, pamflet, dan risalah tentangnya.

Meskipun demikian, banyak ilmuwan kini mengikuti pemahaman Gershom Scholem atas episode ini. Beberapa orang Yahudi tetap setia kepada Mesias mereka meski murtad, karena pengalaman penebusan dosa begitu besar sehingga mereka tidak percaya Tuhan membiarkan mereka tertipu. Salah satu aspek mencolok pengalaman keagamaan ini adalah kemampuannya menafikan fakta dan rasio. Saat dihadapkan pada pilihan melupakan harapan atau menerima Mesias yang murtad, banyak Yahudi menolak tunduk pada fakta sejarah pahit.

Nathan dari Gaza menghabiskan sisa hidupnya mendakwahkan misteri Shabbetai: dengan menganut Islam, Shabbetai melanjutkan pertempuran melawan kekuatan jahat, turun ke alam kegelapan demi membebaskan kelipoth. Sekitar dua ratus keluarga di Turki dan Yunani tetap setia: mereka menganut Islam secara lahiriah, tetapi diam-diam tetap Yahudi. Pada 1689, pemimpin mereka Jacob Querido melaksanakan haji ke Makkah, dan janda Mesias mengumumkan dirinya sebagai reinkarnasi Shabbetai.

Aliran Sabbatarian tetap setia pada Mesias dan sinagoga, jumlahnya lebih banyak dari perkiraan. Abad ke-19, banyak Yahudi yang berasimilasi atau menganut Yudaisme liberal merasa malu dengan leluhur Sabbatarian. Namun, rabi terkemuka abad ke-18 percaya Shabbetai adalah Mesias. Scholem berpendapat mesianisme ini tidak pernah menjadi gerakan massa, tetapi jumlah pengikutnya tidak bisa dianggap remeh. Aliran ini menarik bagi kaum Marranos yang pernah dipaksa Kristen tetapi kembali ke Yudaisme. Kemurtadan Shabbetai dijelaskan sebagai misteri yang meredakan rasa bersalah mereka. Sabbatarian berkembang di komunitas Sephardik di Maroko, Balkan, Italia, dan Lithuania. Beberapa, seperti Benjamin Kohn dari Reggio dan Abraham Rorigo dari Modena, tetap menjaga hubungan dengan gerakan rahasia.

Di Balkan, aliran Mesianik menyebar ke Yahudi Ashkenazik di Polandia, yang dilemahkan dan ditindas gerakan anti-Semitisme Eropa Timur. Pada 1759, para murid nabi asing Jacob Frank meneladani Mesias mereka dan beralih memeluk Kristen, sambil tetap diam-diam setia kepada Yudaisme.

Scholem menyoroti paralel dengan Kristen: sekitar enam ratus tahun sebelumnya, ada Yahudi yang tetap berharap pada Mesias yang mati sebagai kriminal biasa di Yerusalem. Apa yang disebut Paulus sebagai skandal salib hampir sama mengejutkannya dengan skandal Mesias yang murtad. Dalam kedua kasus, pengikutnya memproklamasikan bentuk baru keagamaan: sebuah kredo paradoksikal. Keyakinan Kristen akan kehidupan baru melalui Salib mirip dengan keyakinan Sabbatarian bahwa kemurtadan adalah misteri sakral. Kedua kelompok percaya sebutir gandum harus dibusukkan di tanah agar berbuah: Taurat lama mati dan digantikan hukum baru dari Roh Kudus. Keduanya mengembangkan konsepsi ketuhanan Trinitarian dan Inkarnasional.

Sebagaimana kebanyakan kaum Kristen abad ke-17 dan ke-18, Sabbatarian percaya bahwa mereka berdiri di ambang dunia baru. Para Kabbalis menegaskan berulang kali bahwa pada Hari Akhir, misteri sejati Tuhan, yang telah kabur selama pengasingan, akan diungkapkan.

Para Sabbatarian yang hidup di era Mesianik merasa bebas melepaskan diri dari kepercayaan lama tentang Tuhan, meskipun itu berarti menerima teologi yang jelas-jelas menghujat. Abraham Cardazo (w. 1/06), lahir sebagai Marrano dan mempelajari teologi Kristen, meyakini bahwa semua orang Yahudi ditakdirkan untuk murtad karena dosa-dosa mereka — suatu hukuman yang hanya dapat dielakkan oleh pengurbanan Mesias atas nama mereka. Ia sampai pada kesimpulan mengerikan bahwa selama pengasingan, kaum Yahudi telah kehilangan seluruh pengetahuan yang benar tentang Tuhan.

Seperti kaum Kristen dan Deis zaman Pencerahan, Cardazo berusaha membuang apa yang dianggapnya bid’ah tidak autentik dan kembali kepada keyakinan murni Alkitab. Dapat diingat bahwa pada abad kedua, beberapa Kristen Gnostik mengembangkan metafisika antisemitik dengan membedakan Tuhan Yesus Kristus yang gaib dari Tuhan kaum Yahudi yang kejam. Secara tidak sadar, Cardazo menghidupkan kembali gagasan kuno ini, tetapi memutarnya secara sempurna.

Ia mengajarkan bahwa ada dua Tuhan: satu yang mewahyukan diri kepada Israel, dan satu yang dikenal umum. Dalam sejarah peradaban, manusia mengenal Sebab Pertama: Tuhan Aristoteles yang disembah dunia pagan. Tuhan ini tidak memiliki makna religius, tidak menciptakan alam, tidak memperhatikan manusia, dan tidak mewahyukan diri. Tuhan kedua adalah yang pernah mewahyukan diri kepada Ibrahim, Musa, dan nabi lain. Tuhan ini menciptakan alam dari ketiadaan, menyelamatkan Israel, dan menjadi Tuhan Israel. Namun, pengaruh goyim menyebabkan filosof Yahudi seperti Saadia dan Maimonides menyamakan kedua Tuhan itu, sehingga banyak Yahudi menyembah Tuhan filosof seolah dia adalah Tuhan nenek moyang mereka.

Untuk menjelaskan hubungan kedua Tuhan ini tanpa meninggalkan monoteisme, Cardazo mengembangkan teologi Trinitarian. Ada Tuhan Tertinggi yang terdiri atas tiga hypostases atau parzufim (wajah):

  1. Atika Kadisha, Yang Suci dan Terdahulu — Sebab Pertama.

  2. Malka Kadisha, yang beremanasi dari yang pertama — Tuhan Israel.

  3. Shekinah, terasing dari Tuhan Tertinggi seperti dijelaskan oleh Isaac Luria.

Ketiga parzufim ini bukan tiga Tuhan terpisah, melainkan menyatu secara misterius, memanifestasikan satu Tuhan Tertinggi. Cardazo adalah Sabbatarian moderat; ia tidak merasa harus murtad karena Shabbetai Zevi telah melaksanakan kewajiban itu atas namanya. Namun, dengan mengenalkan Trinitas, ia melanggar pantangan, karena orang Yahudi sejak lama memandang Trinitarianisme sebagai penghujatan. Sekelompok besar Yahudi tertarik pada visi terlarang ini.

Tahun-tahun berlalu, dunia tidak berubah. Kaum Sabbatarian memodifikasi harapan Mesianik mereka. Tokoh seperti Nehemiah Hayim, Samuel Primo, dan Jonathan Eibeschutz menyimpulkan bahwa misteri ketuhanan (sod ha-elohut) tidak terungkap sepenuhnya pada 1666. Shekinah mulai “bangkit dari debu”, tetapi belum bersatu dengan Tuhan. Penebusan dosa adalah proses bertahap; selama transisi ini, umat masih mengamalkan hukum lama dan beribadah di sinagoga sambil diam-diam setia pada doktrin Mesianik. Sabbatarianisme yang direvisi ini memperlihatkan bahwa banyak rabi abad ke-18 tetap memandang Shabbetai Zevi sebagai Mesias.

Ekstremis murtad mengadopsi teologi Inkarnasi, melanggar pantangan Yahudi lainnya. Mereka percaya Shabbetai Zevi bukan hanya Mesias, tetapi juga inkarnasi Tuhan. Seperti dalam Kristen, kepercayaan ini berkembang perlahan. Cardazo mengajarkan doktrin mirip keyakinan Paulus tentang kemuliaan Yesus pasca-kebangkitan: penebusan dosa dimulai saat kemurtadan Shabbetai, ketika ia diangkat ke hadirat Trinitas parzufim. Malka Kadisha telah merahmatinya, mengangkat Shabbetai menjadi Tuhan Israel, parzuf kedua. Donmeh, yang menganut Islam, membawa gagasan ini lebih jauh, percaya setiap pemimpin mereka merupakan titisan Mesias.

Jacob Frank (1726–1791), memimpin murid Ashkenaziknya, menerima baptisme pada 1/59, dan secara implisit mengklaim dirinya inkarnasi Tuhan sejak awal. Frank, tokoh menakutkan dalam sejarah Yudaisme, tidak berpendidikan formal, tetapi mampu membangun mitologi gelap yang memikat orang Yahudi yang merasa agama mereka kosong. Dalam risalah Slowa Panskie (Firman-Firman Tuhan), ia membawa Sabbatarianisme ke puncak nihilisme: semua harus dihancurkan agar Tuhan memancarkan sinarnya. Ia menyatakan: “Ke mana pun aku melangkah, semuanya akan dihancurkan karena aku datang untuk menghancurkan dan membinasakan.” Mirip ucapan Kristus tentang pedang, namun berbeda karena Frank tidak bermaksud menggantikan keyakinan lama; nihilisme menjadi sarana menuju Tuhan.

Frank mengajarkan versi kasar teologi Cardazo. Ketiga parzuf Trinitas Sabbatarian diwujudkan di bumi oleh Mesias: Shabbetai Zevi sebagai “Yang Pertama” (Atika Kadisha), Frank sendiri sebagai parzuf kedua (Tuhan Israel), dan parzuf ketiga, Shekinah, diwakili oleh seorang perempuan, “Virgin” (Perawan). Dunia, yang dikuasai kekuatan jahat, hanya dapat disucikan jika manusia menerima ajaran nihilistik Frank. Tangga menuju Tuhan berbentuk huruf V: untuk naik, manusia harus turun ke kedalaman, melanggar hukum sakral, dan meraih kebebasan sendiri.

Visi gelap Frank memiliki hubungan dengan rasionalisme Pencerahan. Orang Yahudi Polandia yang mengikuti ajarannya menyadari agama lama tidak mampu melindungi mereka di dunia yang berbahaya. Setelah kematian Frank, Frankisme kehilangan sebagian pandangan anarkis, hanya menyisakan keyakinan bahwa Frank adalah inkarnasi Tuhan dan rasa keselamatan diri yang bersinar, seperti yang dicatat Scholem. Mereka memandang Revolusi Prancis sebagai tanda kekuasaan Tuhan dan mengubah antinomianisme menjadi politik. Donmeh yang beralih ke Islam sering menjadi aktivis Turki Muda atau berasimilasi ke Turki sekuler Kemal Ataturk.

Permusuhan Sabbatarian terhadap kesalehan lahiriah merupakan bentuk pemberontakan terhadap kondisi ghetto. Sabbatarianisme membuka jalan bagi ide-ide baru. Sabbatarian moderat, tetap lahiriah setia pada Yudaisme, menjadi pelopor Haskalah (Pencerahan Yahudi) dan Reformasi Yudaisme abad ke-19. Maskilim menggabungkan gagasan lama dan baru; Joseph Wehte dari Praha (c. 1800) menulis bahwa pahlawan mereka adalah Moses Mendelssohn, Immanuel Kant, Shabbetai Zevi, dan Isaac Luria.

Tidak semua menempuh modernitas lewat sains atau filsafat; kredo mistikal Yahudi dan Kristen radikal memampukan mereka menghadapi sekularisme yang sebelumnya dianggap menjijikkan. Beberapa mengadopsi gagasan baru tentang Tuhan, yang akhirnya memungkinkan keturunan mereka meninggalkan Tuhan sama sekali.

Sementara Frank mengajarkan nihilisme, Yahudi Polandia lainnya menemukan Mesias berbeda. Sejak pembunuhan massal 1648, mereka mengalami trauma, dislokasi, dan demoralisasi setara dengan pengusiran Sephardim dari Spanyol. Banyak keluarga terdidik dan spiritual dibunuh atau dipaksa migrasi ke Eropa Barat. Puluhan ribu menjadi gelandangan, dilarang membangun tempat tinggal permanen. Para rabi yang menetap biasanya dari golongan rendah, menggunakan rumah ibadah sebagai perlindungan dari dunia luar yang suram.

Kabbalis Pengembara berbicara tentang kekejaman dan kegelapan dunia achra sitra (Sisi Lain), terpisah dari Tuhan. Bencana Shabbetai Zevi menambah rasa kecewa dan anomi khalayak. Beberapa Yahudi Ukraina terpengaruh gerakan Kristen Pietis, menumbuhkan bentuk agama karismatik Yahudi. Laporan menyebut orang Yahudi jatuh ke ekstasi, bernyanyi, dan bertepuk tangan saat berdoa.

Pada 1730-an, muncul tokoh ekstatik yang mendirikan Hasidisme. Israel ben Eliezer, atau Baal Shem Tov (Besht), bukan ilmuwan, lebih suka berjalan di hutan, menyanyi, bercerita pada anak-anak, dan belajar Talmud. Hidup miskin di Pegunungan Carpathian, ia menggali kapur dan menjadi pelayan penginapan. Sekitar usia 36, ia menyatakan diri sebagai penyembuh iman dan ahli pengusir setan, mengobati penyakit dengan ramuan, jimat, dan mantra.

Besht menjadi Baal Shem Tov (Pemilik Nama Yang Mahabaik). Meski tidak ditahbiskan, pengikut memanggilnya Rabi Israel Baal Shem Tov atau Besht. Ia menekankan Kabbalisme untuk semua orang, bukan hanya elit. Percikan cahaya ilahi terdapat dalam setiap makhluk; dunia dipenuhi kehadiran Tuhan. Seorang Yahudi taat dapat merasakan Tuhan dalam perbuatan sehari-hari — makan, minum, atau bercinta — karena percikan cahaya Ilahi hadir di mana-mana. Tuhan hadir dalam setiap embusan angin atau helai rerumputan, dan orang Yahudi diminta mendekatinya dengan keyakinan dan kegembiraan.

Besht meninggalkan skema besar Luria tentang penyelamatan dunia. Seorang Hasid hanya bertanggung jawab untuk menyatukan kembali percikan yang terperangkap di dunia pribadinya—istri, pelayan, perabotan, dan makanannya sendiri. Sebagaimana dijelaskan oleh Hillel Zeitlin, salah seorang murid Besht, seorang Hasid memiliki tanggung jawab unik atas lingkungan partikularnya, yang hanya dia yang dapat menanganinya:

“Setiap manusia adalah pembebas dunia miliknya sendiri. Dia mengerjakan apa yang hanya dia dapat mengerjakan dan merasakan apa yang hanya ditetapkan untuk dirasakannya.”

Para Kabbalis merancang cara konsentrasi (devekuth) untuk membantu kaum mistikus menyadari keberadaan Tuhan ke mana pun mereka menoleh. Sebagaimana dijelaskan Kabbalis Safed abad ke-17, seorang mistikus harus duduk menyendiri, menyisihkan waktu untuk mempelajari Taurat, dan:

“membayangkan cahaya Shekinah di atas kepala mereka, seakan-akan mengalir ke sekeliling mereka, dan mereka duduk di tengah-tengah cahaya.”

Rasa kehadiran Tuhan ini mengantarkan mereka kepada kebahagiaan yang menggetarkan dan ekstatik. Besht mengajarkan bahwa ekstasi ini tidak hanya untuk elit mistikal, tetapi setiap orang Yahudi berkewajiban mengamalkan devekuth dan menyadari keserbahadiran Tuhan. Kegagalan dalam devekuth dianggap sebagai bentuk keberhalaan, pengingkaran terhadap prinsip bahwa tidak ada sesuatu yang sungguh-sungguh ada selain Tuhan. Pendekatan ini membawa Besht ke dalam konflik dengan kemapanan, yang khawatir orang Yahudi akan meninggalkan pengkajian Taurat demi devosi yang eksentrik dan berpotensi berbahaya.

Namun, Hasidisme berkembang pesat karena membawakan harapan bagi kaum Yahudi yang sedang putus asa; banyak pengikutnya dulunya adalah Sabbatarian. Besht tidak ingin muridnya mengabaikan Taurat. Sebaliknya, ia memberi interpretasi mistikal baru: kata mitzvah (perintah) berarti ikatan. Ketika seorang Hasid melaksanakan perintah Taurat sambil mengamalkan devekuth, ia mengikat dirinya kepada Tuhan, Dasar dari semua wujud, dan pada saat yang bersamaan menyatukan kembali percikan cahaya Ilahi dalam diri orang atau benda yang bersentuhan dengannya. Taurat sejak lama menganjurkan penyucian dunia melalui mitzvot, dan Besht memberikan interpretasi mistikal terhadap praktik ini.

Kadang-kadang Hasidim berlebihan dalam semangat mereka: ada yang sengaja merokok banyak tembakau untuk membebaskan percikan ilahi darinya. Baruch dari Medzibozh (1757–1810), cucu Besht, memiliki istana megah, perabotan, dan permadani indah. Ia menjustifikasi kemegahan itu dengan mengatakan bahwa ia hanya memperhatikan serpihan ketuhanan yang terperangkap di sana. Abraham Joshua Heschel dari Apt (w. 1825) makan berlimpah untuk membebaskan serpihan ketuhanan dalam makanannya.

Praktik Hasidik ini dapat dipahami sebagai upaya menemukan makna di dunia yang kejam dan penuh bahaya. Disiplin devekuth merupakan upaya imajinatif menyingkap tabir dunia demi menemukan keagungan di baliknya. Hal ini mirip dengan visi imajinatif tokoh Romantis Inggris William Wordsworth (1770–1850) dan Samuel Taylor Coleridge (1772–1834), yang merasakan adanya Satu Napas yang menyatukan seluruh realitas. Hasidim juga menyadari energi Tuhan yang mengisi dunia—mengubah dunia menjadi tempat suci meski di tengah nestapa akibat keterusiran dan penyiksaan. Lambat laun, alam material memudar menjadi epifani; Moses Teitelbaum dari Ujhaly (1759–1841) mengatakan bahwa ketika Musa melihat Semak Menyala, sebenarnya ia melihat kehadiran Tuhan yang menyala di setiap semak dan menjaga eksistensinya.

Seluruh dunia tampak diselimuti cahaya langit, dan Hasidim berteriak gembira dalam ekstase, bertepuk tangan, bernyanyi, bahkan berjungkir balik, menunjukkan betapa visi mereka mengubah seluruh dunia.

Berbeda dengan Spinoza dan sebagian Kristen radikal, Besht tidak menganggap segalanya adalah Tuhan; semua wujud eksis di dalam Tuhan, yang memberikan mereka kehidupan. Tuhan adalah kekuatan vital yang menjaga eksistensi. Hasidim tidak bisa menjadi Tuhan atau sepenuhnya bersatu dengan-Nya; tujuan mereka adalah mendekat dan menyadari kehadiran Tuhan.

Kebanyakan Hasidim adalah orang sederhana, mengekspresikan diri berlebihan, menyadari mitologi mereka tidak harus dipahami secara harfiah. Mereka lebih menyukai kisah daripada filsafat atau diskusi Talmudik; fiksi menjadi sarana menyampaikan pengalaman yang tidak terkait langsung dengan fakta. Visi mereka menekankan kesalingtergantungan antara Tuhan dan manusia. Tuhan bukan realitas objektif eksternal; Hasidim percaya bahwa mereka menciptakan Tuhan dengan mengutuhkannya kembali setelah keterserakannya. Dengan menyadari serpihan ketuhanan dalam diri, manusia menjadi lebih utuh.

Dov Baer, penerus Besht, berkata bahwa Tuhan dan manusia adalah satu kesatuan: manusia hanya menjadi adam seperti yang diinginkan Tuhan pada hari penciptaan jika ia kehilangan kesadaran keterpisahannya dari seluruh eksistensi dan berubah menjadi “figur kosmik manusia pertama, seperti yang dilihat Yehezkiel duduk di atas singgasana.” Inilah ekspresi khas Yahudi yang berbeda dari konsep pencerahan Yunani atau Buddhis.

Orang Yunani mengungkapkan hal serupa melalui doktrin Inkarnasi dan penuhanan Kristus. Hasidim mengembangkan bentuk Inkarnasionalisme sendiri. Zaddik, Rabi Hasidik, menjadi avatar bagi generasinya, penghubung antara langit dan bumi, serta wakil kehadiran ilahi. Seperti yang ditulis Rabi Menahem Nahum dari Chernobyl (1730–1797):

“Zaddik sungguh-sungguh merupakan bagian Tuhan, dan memiliki sebuah tempat bersamanya.”

Seperti orang Kristen meneladani Kristus, seorang Hasid meneladani Zaddik, yang naik kepada Tuhan dan mengamalkan devekuth secara sempurna. Karena Zaddik dekat dengan Tuhan, Hasidim dapat mendekat kepada Penguasa Semesta melalui dia, berkerumun di sekelilingnya, memegang setiap sabdanya, ketika ia menceritakan kisah Besht atau menafsirkan ayat Taurat.

Hasidisme bukan agama yang menyendiri; ia sangat komunal. Hasidim mengikuti Zaddik secara berkelompok dalam kenaikan menuju yang tertinggi. Tidak mengherankan jika rabi Polandia ortodoks merasa terancam oleh kultus personalitas ini, yang melampaui rabi terdidik sebagai inkarnasi Taurat. Penentangan dipimpin Rabi Elijah ben Solomon Zalman (1720–1797), Gaon Vilna, pionir agama rasional sekaligus Kabbalis dan ahli Talmud.

Muridnya, Rabi Hayyim dari Volozhin, memuji:

“Penguasaan sempurnanya atas seluruh Zohar ... dipelajari dengan api cinta, takut akan keagungan ilahi, kesucian, kemurnian, dan devekuth luar biasa. Setiap kali berbicara tentang Isaac Luria, seluruh tubuhnya bergetar. Ia mengalami mimpi dan penyingkapan luar biasa, namun selalu mengajarkan bahwa pengkajian Taurat adalah cara utama berkomunikasi dengan Tuhan.”

Rabi Hayyim juga memahami pentingnya mimpi untuk melepaskan intuisi terpendam:

“Tuhan menciptakan tidur demi tujuan ini, agar manusia meraih wawasan yang tidak dapat diperoleh, bahkan setelah usaha keras, ketika jiwa menyatu dengan badan, yang seperti tirai pemisah.”

Jurang yang memisahkan mistisisme dari rasionalisme tidak selebar yang sering kita bayangkan. Pernyataan Gaon Vilna tentang tidur menunjukkan pemahaman mendalam mengenai peran alam bawah sadar: kita semua pernah menyarankan seorang teman untuk “tidur sambil memikirkan” suatu masalah dengan harapan menemukan pemecahannya yang gagal dicapai saat terjaga. Ketika pikiran terbuka dan relaks, ide-ide muncul dari kedalaman batin.

Fenomena ini juga dialami para ilmuwan, seperti Archimedes, yang memperoleh penemuan terkenalnya saat sedang mandi. Filosof atau ilmuwan yang benar-benar kreatif, seperti seorang mistikus, harus menghadapi kegelapan realitas nonmakhluk dan kabut ketidaktahuan untuk menembusnya. Mengandalkan logika dan konsep-konsep semata akan membuat mereka terpenjara dalam bentuk pemikiran yang telah mapan. Tak jarang penemuan tampak “dianugerahkan” dari luar, sehingga mereka berbicara tentang visi dan inspirasi.

Edward Gibbon (1737–1794), yang membenci antusiasme religius, mengalami pengalaman visioner saat merenungkan keruntuhan Capitol di Roma, yang mendorongnya menulis The Decline and Fall of the Roman Empire. Sejarahwan abad ke-20 Arnold Toynbee menggambarkan pengalaman ini sebagai “penyatuan”:

“Dia secara langsung menjadi sadar akan lintasan Sejarah yang dengan lembut mengalir melalui dirinya, dan hidupnya sendiri bergemuruh bagaikan gelombang pasang yang besar.”

Toynbee menekankan bahwa saat-saat inspiratif seperti ini mirip pengalaman mistikus yang melihat Tuhan. Albert Einstein bahkan mengklaim bahwa mistisisme adalah “benih dari seluruh seni dan sains sejati”:

Mengakui bahwa sesungguhnya apa yang tidak bisa kita jangkau itu benar-benar ada, mewujudkan dirinya kepada kita sebagai kearifan tertinggi dan keindahan yang bersinar tiada tara, yang hanya dapat dipahami oleh akal gersang kita dalam bentuk paling primitif—pengetahuan ini, perasaan ini, berada pada inti semua sikap beragama sejati. Dalam pengertian ini, aku termasuk kelompok orang yang beragama dengan baat.

Dalam pengertian ini, pencerahan agama yang ditemukan para mistikus seperti Besht dapat dipahami serupa dengan pencapaian intelektual di Zaman Akal: ia memampukan orang awam menciptakan transisi imajinatif menuju Dunia Baru modernitas.

Selama abad ke-18, Rabi Shneur Zalman dari Lyaday (1745–1813) menunjukkan bahwa kegembiraan emosional Hasidisme juga dapat bersifat rasional. Ia mendirikan cabang Hasidisme baru, Habad, yang memadukan mistisisme dengan kontemplasi rasional. Nama Habad merupakan singkatan dari tiga sifat Tuhan: Hokhmah (Kebijaksanaan), Binah (Kecerdasan), dan Da'at (Pengetahuan).

Zalman, seperti mistikus terdahulu, memandang spekulasi metafisikal sebagai pendahuluan penting bagi doa, karena menyingkap keterbatasan akal. Teknik Habad dimulai dari visi Hasidik tentang kehadiran Tuhan di segala sesuatu dan membawa sang mistikus, melalui proses dialektikal, untuk menyadari bahwa Tuhan adalah satu-satunya realitas. Zalman menjelaskan:

“Dari sudut pandang yang Tak Terbatas, terpujilah Dia, seluruh dunia seakan tiada dan nihil secara harfiah.”

Alam yang tercipta tidak memiliki eksistensi terpisah dari Tuhan, sumber kekuatan vitalnya. Dunia tampak ada karena keterbatasan persepsi kita, namun itu hanyalah ilusi. Tuhan bukan wujud transenden di luar dunia; doktrin transendensi merupakan ilusi akal yang menganggap mustahil sesuatu di luar persepsi indra. Latihan-latihan mistik Habad membantu orang Yahudi melampaui persepsi indrawi untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang Tuhan. Bagi mata yang belum tercerahkan, dunia tampak kosong dari Tuhan; kontemplasi Kabbalah menembus batas rasional untuk menemukan Tuhan dalam dunia sekeliling.

Habad mendukung keyakinan Pencerahan tentang kemampuan akal manusia mencapai Tuhan, namun melalui metode konsentrasi mistikal dan paradoks yang sudah dikenal. Seperti Besht, Zalman yakin siapa pun dapat mencapai penglihatan akan Tuhan: Habad bukan untuk elit mistik saja. Orang tanpa bakat spiritual pun mampu mencapai pencerahan, asalkan bekerja keras. Rabi Dov Baer dari Lubavitch (1773–1827), putra Zalman, menulis dalam Tract on Ecstasy bahwa seseorang harus memulai dengan persepsi memilukan tentang ketidaklayakannya. Kontemplasi otak semata tidak cukup; perlu analisis diri, belajar Taurat, dan berdoa.

Meninggalkan praduga intelektual dan imajinatif menyakitkan, namun setelah melampaui egotisme, seorang Hasid menyadari bahwa tak ada realitas kecuali Tuhan. Seperti sufi yang mengalami fana, Hasid mencapai ekstasi. Dov Baer menjelaskan:

“Seluruh wujudnya menjadi terserap sehingga tak ada yang tersisa, dan dia tidak lagi memiliki kesadaran diri sama sekali.”

Latihan Habad menjadikan Kabbalah sarana analisis psikologis dan pengenalan diri. Hasid turun setahap demi setahap ke alam batin, hingga menemukan inti dirinya: Tuhan sebagai satu-satunya realitas sejati. Akal dapat menemukan Tuhan melalui latihan pemikiran dan imajinasi, namun ini bukan Tuhan objektif seperti yang diasumsikan filosof dan ilmuwan semacam Newton, melainkan realitas subjektif yang tak bisa dipisahkan dari diri.

Abad ke-17 dan ke-18 merupakan periode ekstremitas parah dan kebangkitan spirit yang mencerminkan pergolakan revolusioner politik dan sosial. Saat itu, Dunia Islam mencapai kejayaan yang sulit diakui Barat karena pemikiran Islam abad ke-18 jarang dipelajari. Pandangan Barat lama menilai Islam sedang mundur saat Barat mencapai Pencerahan, namun perspektif ini kini dianggap simplistik.

Meskipun Inggris menguasai India pada 1767, dunia Muslim belum sepenuhnya menyadari tantangan Barat. Syaikh Waliullah dari Delhi (1703–1762) memahami spirit baru ini. Ia curiga terhadap universalisme kultural, tetapi percaya Muslim harus bersatu untuk melestarikan warisan mereka. Meski tidak menyukai Syiah, ia mendorong Sunni dan Syiah mencari titik temu, serta mereformasi syariat agar relevan dengan kondisi baru di India. Ia memperkirakan efek buruk kolonialisme; putranya menjadi pemimpin jihad melawan Inggris. Pemikiran keagamaannya konservatif dan bergantung pada Ibn Arabi: manusia tidak dapat mengembangkan potensinya tanpa Tuhan.

Sufisme masih kuat, namun mulai menyurut di banyak bagian dunia Muslim. Sebuah gerakan reformasi di Arabia menandai tersingkirnya mistisisme. Muhammad ibn Al-Wahhab (w. 1784), seorang fuqaha di Najd, ingin mengembalikan Islam kepada kemurnian awal dan menyingkirkan mistisisme. Ia menolak teologi inkarnasional, kesetiaan kepada guru sufi dan imam Syiah, bahkan kultus makam Nabi. Bersama Muhammad ibn Saud, mereka memelopori reformasi untuk menegakkan kembali prinsip awal Nabi dan Sahabat, menentang penindasan, kerusakan moral, dan keberhalaan, serta memimpin jihad melawan Usmani. Wahhabisme berhasil menarik imajinasi Muslim di seluruh dunia, meminggirkan sufisme selama abad ke-19.

Di Eropa, sebagian kecil orang mulai berpaling dari Tuhan. Pada 1729, Jean Meslier, seorang pendeta, mati sebagai ateis. Memoarnya, disebarkan oleh Voltaire, mengungkap kemuakan terhadap manusia dan ketidakpercayaan pada Tuhan. Menurut Meslier, ruang Newtonian tak berhingga adalah satu-satunya realitas abadi: hanya materi yang bereksistensi. Agama dipakai orang kaya untuk menindas kaum papa; doktrin Kristen seperti Trinitas dan Inkarnasi dianggap tak masuk akal.

Denis Diderot (1713–1784) dipenjara karena mengajukan pertanyaan serupa dalam A Letter to the Blind for the Use of Those Who See, menegaskan ateisme murni kepada masyarakat. Ia menolak disebut ateis; ia hanya tidak peduli apakah Tuhan ada atau tidak. Diderot menekankan bahwa begitu Tuhan bukan pengalaman subjektif penuh gairah, “Dia” tak lagi ada. Tuhan gaib menjadi Deus Otiosus: tak peduli ada atau tidak, tetap kebenaran sublim tanpa makna. Ia menolak pendekatan Pascal, yang menganggap “taruhan” penting.

Diderot meletakkan dasar baru: begitu Tuhan tidak lagi pengalaman subjektif, sains menjadi satu-satunya cara membuktikan eksistensi-Nya. Alih-alih menelaah alam luas, ia menganjurkan pengamatan terhadap struktur dasar alam—organ renik, kupu-kupu, atau serangga—yang terlalu rumit untuk terjadi kebetulan. Dalam Pensées, Diderot masih percaya akal bisa membuktikan eksistensi Tuhan. Newton menyingkirkan takhayul, menggantikan konsep Tuhan mukjizat dengan prinsip alami yang masuk akal.

Namun, tiga tahun kemudian, Diderot mulai mempersoalkan Newton dan tidak lagi yakin bahwa alam eksternal dapat menjadi bukti keberadaan Tuhan. Ia melihat dengan jelas bahwa Tuhan tidak ada hubungannya dengan sains baru. Pemikiran revolusioner ini hanya dapat ia ungkapkan melalui fiksi. Dalam A Letter to the Blind, Diderot membayangkan perdebatan antara seorang pengikut Newton, yang ia sebut “Mr. Holmes”, dan Nicholas Saunderson (1682–1739), seorang matematikawan Cambridge yang buta sejak bayi.

Saunderson menantang Holmes: bagaimana argumen ketertiban alam dapat didamaikan dengan musibah-masibah yang dialaminya sendiri, yang justru menunjukkan ketiadaan rancangan cerdas dan penuh kasih:

“Apakah dunia ini, Mr. Holmes, kalau bukan sekadar sesuatu yang kompleks dan berubah tanpa henti, semuanya menampakkan kecenderungan untuk terus-menerus rusak: satu per satu datang silih berganti, hilang dan timbul—sekadar simetri sesaat dan tertib yang sekejap.”

Tuhan Newton, dan bahkan Tuhan Kristen konvensional, yang dianggap bertanggung jawab secara harfiah atas segala sesuatu, bagi Diderot bukan hanya absurditas, tetapi gagasan yang mengerikan. Mengajukan “Tuhan” sebagai penjelasan terhadap sesuatu yang tidak dapat dijelaskan merupakan kegagalan memalukan. Tokoh rekayasa Diderot, Saunderson, menyimpulkan:

“Teman baikku, Mr. Holmes, akuilah kebodohan Anda.”

Bagi Diderot, tidak dibutuhkan adanya Pencipta. Materi bukanlah pasif dan rendah seperti yang dibayangkan Newton dan orang Protestan, melainkan memiliki dinamika sendiri dan tunduk pada hukum-hukum internalnya. Hukum materi, bukan Mekanik Ilahi, bertanggung jawab atas ketertiban yang kita saksikan. Hanya materi yang bereksistensi.

Dengan demikian, Diderot membawa pemikiran Spinoza lebih jauh. Alih-alih mengatakan “tidak ada Tuhan kecuali alam”, ia menegaskan: hanya ada alam dan tidak ada Tuhan sama sekali. Pandangan ini didukung oleh penemuan ilmuwan seperti Abraham Trembley dan John Turbeville Needham, yang menemukan prinsip generatif materi melalui biologi, mikroskopi, zoologi, sejarah alam, dan geologi.

Meski demikian, hanya sedikit orang siap sepenuhnya putus hubungan dengan Tuhan. Filosof yang sering mengunjungi Paul Heinrich, Baron von Holbach (1723–1789) tidak secara terbuka mendukung ateisme, meski menikmati diskusi terbuka. Dari perdebatan tersebut lahir buku Holbach, The System of Nature: or Laws of the Moral and Physical World (1770), yang menjadi “Injil materialisme ateis”. Menurut Holbach, alam hanyalah mata rantai sebab-akibat panjang yang saling terhubung. Percaya kepada Tuhan adalah dusta, pengingkaran terhadap pengalaman sejati manusia, dan tindakan putus asa. Agama muncul karena manusia tidak mampu menemukan penjelasan lain untuk menghibur diri dari tragedi dunia, sehingga beralih pada pelipur imajiner dan mencoba menundukkan “pelaku” di balik layar untuk menghindari ketakutan.

Holbach menekankan bahwa filsafat lahir dari kerinduan mendalam untuk menghindari penderitaan, bukan sekadar keinginan memperoleh pengetahuan. Oleh karena itu, agama lahir dari kebodohan dan rasa takut; manusia dewasa dan cerdas harus terbebas darinya. Dalam sejarah ketuhanan, manusia awal menyembah kekuatan alam secara animistik. Masalah muncul saat manusia mempersonifikasikan alam untuk menciptakan dewa-dewa, yang akhirnya digabung menjadi satu Tuhan besar—proyeksi kontradiktif dari manusia. Selama berabad-abad, penyair dan teolog menciptakan Tuhan yang dibesar-besarkan, yang wujudnya tak lagi dapat dikonsepsikan secara rasional.

Sejarah menunjukkan bahwa mustahil mendamaikan kebaikan Tuhan dengan kemahakuasaannya. Karena tiada koherensi, gagasan tentang Tuhan beragam. Para filosof dan ilmuwan berupaya menyelamatkannya, namun tidak lebih berhasil dari para penyair dan teolog. “Hautes perfection” yang diklaim Descartes hanyalah produk imajinasi, bahkan Newton pun terperangkap praduga kekanak-kanakannya. Ia menciptakan ruang mutlak dan Tuhan dari ketiadaan, yang ternyata hanyalah “un homme puissant”, penguasa lalim yang menakut-nakuti manusia.

Untungnya, Pencerahan membawa manusia keluar dari sifat kanak-kanak ini. Sains menggantikan agama:

“Jika ketidaktahuan tentang alam melahirkan dewa-dewa, pengetahuan tentang alam akan membinasakan mereka.”

Tak ada kebenaran tertinggi, rancangan besar, atau pola yang mendasari—hanya alam itu sendiri. Alam bukanlah karya; ia ada dengan sendirinya, mengatur dirinya, menjadi laboratorium raksasa dengan energi dan bahan yang mencukupi bagi tindakannya sendiri. Semua fenomena terjadi akibat energi internalnya.

Tuhan bukan hanya tidak diperlukan, tetapi juga berbahaya. Pada akhir abad itu, Pierre-Simon de Laplace (1749–1827) telah “mengusir” Tuhan dari fisika. Sistem keplanetan menjadi pusat tata surya, yang perlahan mendingin. Ketika Napoleon bertanya, “Siapa yang menciptakan ini?”, Laplace menjawab sederhana:

“Je n'avais pas besoin de cette hypothèse-la.”

Selama berabad-abad, kaum monoteis menegaskan bahwa Tuhan bukan sekadar wujud lain. Namun di Barat, teolog Kristen berbicara tentang Tuhan seolah-olah Dia salah satu eksistensi sehari-hari, mencoba membuktikan realitas-Nya secara ilmiah. Diderot, Holbach, dan Laplace membalikkan usaha itu, dan sampai pada kesimpulan serupa para mistikus ekstrem: tak ada apa-apa di luar sana. Tak lama kemudian, para ilmuwan dan filosof lain pun mengumumkan kemenangan: Tuhan sudah mati.

Like

1

Love

2

Haha

0

Wow

0

Sad

0

Angry

0

Artikel Terkait

Comments (0)

Leave a comment