Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan
Namun, hal ini tampaknya memberi kebebasan bagi sebagian orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan menutup satu jalan keimanan untuk membuka jalan lain. Dalam A Plain Account of Genuine Christianity, John Wesley (1703–1791) menulis:
“Kadang-kadang saya nyaris percaya bahwa kebijaksanaan Tuhan, dalam beberapa era terakhir, telah mengizinkan bukti eksternal Kristen sedikit tersumbat dan terhambat demi tujuan ini, bahwa manusia (khususnya yang berpikir) tidak boleh berhenti di sana, tetapi mesti berupaya melihat ke dalam diri sendiri dan mengikuti cahaya yang memancar dari hati mereka.”
Bentuk keberagamaan baru ini, yang disebut “agama hati”, berkembang seiring rasionalisme era Pencerahan. Meski lebih berpusat pada hati daripada kepala, agama ini memiliki kesamaan dengan Deisme, karena mendorong manusia meninggalkan bukti dan autoritas eksternal untuk menemukan Tuhan yang ada di dalam hati, yang dapat dijangkau semua orang.
Seperti kaum deis, para pengikut Wesley atau Count Nikolaus Ludwig von Zinzendorf (1700–1760) merasa bahwa mereka meninggalkan hasil perkembangan berabad-abad dan kembali kepada Kristus yang “sederhana” dan “asli”, sebagaimana Kristus generasi pertama.
John Wesley adalah seorang Kristen yang taat. Saat masih murid di Lincoln College, Oxford, ia dan saudaranya, Charles, mendirikan persekutuan mahasiswa bernama Holy Club. Klub ini menekankan metode dan disiplin, sehingga anggotanya dikenal sebagai kaum Metodis. Pada 1735, John dan Charles berlayar ke koloni Georgia di Amerika sebagai misionaris, namun John kembali dua tahun kemudian karena merasa tidak puas. Ia menulis:
“Aku pergi ke Amerika untuk mengonversi orang-orang Indian, tapi, oh, siapakah yang akan mengonversi diriku?”
Selama perjalanan itu, kedua Wesley bersaudara terkesan pada misionaris sekte Moravia, yang meninggalkan semua doktrin dan mengajarkan bahwa agama adalah urusan hati semata. Pada 1738, John mengalami konversi selama pertemuan Moravia di gereja kecil di Jalan Aldersgate, London, yang meyakinkannya bahwa ia telah menerima misi langsung dari Tuhan untuk menyiarkan bentuk Kristen baru ini di seluruh Inggris. Setelah itu, ia dan para pengikutnya berdakwah kepada kelas pekerja dan petani di pasar-pasar dan ladang-ladang.
Pengalaman “terlahir kembali” sangat penting. Seorang Kristen harus merasakan:
“Tuhan terus-menerus menapasi, sebagaimana adanya, jiwa manusia, mengisi seorang Kristen dengan cinta abadi dan penuh kasih kepada Tuhan, yang membuat cinta kepada setiap anak Tuhan dengan kebaikan, kelembutan, dan penderitaan panjang menjadi sesuatu yang alamiah dan diperlukan.”
Dalam agama hati, doktrin tentang Tuhan menjadi keadaan emosional batin. Pengalaman emosional dianggap bukti kebenaran keyakinan dan keselamatan, sebagaimana dalam Puritanisme. Namun, mistisisme universal ini bisa berbahaya. Kaum mistik menekankan kesulitan jalan spiritual dan memperingatkan agar tidak jatuh dalam histeria. Kristen yang Terlahir-Kembali bisa memicu keriuhan, seperti ekstasi kasar para penganut Quaker dan Shaker, atau membawa keputusasaan, seperti yang dialami penyair William Cowper (1731–1800), yang menjadi gila karena merasa tidak terselamatkan.
Count von Zinzendorf, penyantun beberapa komunitas keagamaan di Saxony, berpendapat serupa dengan Wesley:
“Iman bukan berada dalam pikiran ataupun di kepala, melainkan di dalam hati, seberkas cahaya yang menerangi hati.”
Para akademisi bisa terus “berceloteh tentang misteri Trinitas”, tetapi makna doktrin bukan hubungan antar-oknum, melainkan maknanya bagi kita. Inkarnasi mengungkap misteri kelahiran baru seorang penganut Kristen, ketika Kristus menjadi “Raja di dalam hati.”
Bentuk spiritualitas emotif ini juga muncul dalam Gereja Katolik Roma melalui devosi kepada Hati Kudus Yesus, yang tetap bertahan meski mendapat tentangan Jesuit karena dianggap sentimental. Banyak gereja Katolik Roma memasang patung Kristus bertelanjang dada untuk menampilkan hati-Nya yang bersinar dikelilingi kobaran api, sebagaimana dialami Marguerite-Marie Alacogue (1647–1690) di Biara Parayle-Monial, Prancis. Patung ini berbeda jauh dari figur abrasif dalam Injil.
Dalam ratapan ibadinya, Marguerite-Marie menunjukkan bahaya berkonsentrasi pada hati sambil mengesampingkan akal. Pada 1682, ia mengenang kehadiran Yesus empat puluh hari sebelum Paskah: seluruh tubuh-Nya penuh luka dan memar, darah-Nya mengucur di semua bagian tubuh. Yesus berseru dengan sedih:
“Tak adakah seseorang yang mengasihani dan berbela rasa dengan-Ku, dan turut menanggung derita-Ku, dalam keadaan menyedihkan yang diakibatkan oleh para pendosa kepada-Ku, khususnya pada saat seperti ini?”
Marguerite-Marie adalah seorang wanita yang sangat neurotik, mengaku jijik terhadap seks, menderita karena kebiasaan makan yang tidak teratur, dan menuruti perilaku masokistik untuk membuktikan “cinta”nya kepada Hati Kudus. Ia memperlihatkan bagaimana agama hati semata bisa menyesatkan. Kristus yang dialaminya sering tak lebih dari pemenuhan angan-angan. Hati Kudus memberinya kompensasi cinta yang belum pernah dirasakannya:
“Engkau selamanya akan menjadi pengikut kecintaan-Nya, sumber kesenangan-Nya, dan kurban dari kehendak-Nya,” kata Yesus kepadanya.
“Ia akan menjadi satu-satunya pemuas seluruh hasratmu; ia akan memperbaiki dan memoles kekuranganmu, dan melaksanakan kewajiban-kewajibanmu demi dirimu.”
Memusatkan diri semata-mata pada Yesus sebagai manusia hanyalah proyeksi yang membelenggu penganut Kristen dalam egotisme neurotik. Ini jauh dari rasionalisme Pencerahan, tetapi terdapat keterkaitan antara agama hati murni dan Deisme.
Kant, misalnya, dibesarkan di Königsberg sebagai pengikut Pietist, sekte Lutheran yang juga menjadi akar ajaran Zinzendorf. Usulannya tentang agama dalam batas akal murni sejalan dengan ajaran Pietist mengenai agama yang “bersandar pada jiwa,” bukan pada wahyu yang diabadikan dalam doktrin gereja autoritarian. Ketika terkenal karena pandangannya yang radikal terhadap agama, Kant konon meneguhkan kembali pengabdiannya kepada sekte Pietist dengan menyatakan bahwa ia hanya “menghancurkan dogma demi menyediakan ruang bagi iman.”
John Wesley tertarik pada Pencerahan dan pada cita-cita kebebasan, sains, dan teknologi. Ia terlibat dalam eksperimen kelistrikan dan memegang optimisme Pencerahan tentang manusia dan kemajuan. Sarjana Amerika Albert C. Outler mengemukakan bahwa agama hati yang baru dan rasionalisme Pencerahan sama-sama antikemapanan, menolak autoritas eksternal, menempatkan diri sebagai orang modern yang menentang kekolotan, sama-sama membenci sikap tidak manusiawi, dan menekankan cinta antarmanusia.
Keberagamaan radikal ini membuka jalan bagi cita-cita Pencerahan bagi orang Yahudi maupun Kristen. Banyak sekte ekstrem pada periode ini melanggar larangan-larangan agama, sebagian dianggap menghujat, ada yang disebut ateis, dan beberapa memiliki pemimpin yang mengklaim sebagai inkarnasi Tuhan. Banyak sekte bersifat Mesianik, menyatakan bahwa dunia baru akan segera muncul.
Di Inggris, pemerintahan Puritan Oliver Cromwell, terutama setelah eksekusi Raja Charles I, mengalami gelombang apokaliptik pada 1649. Pihak berwenang Puritan kesulitan mengendalikan gairah keagamaan prajurit dan orang awam yang percaya hari kiamat akan segera tiba. Mereka yakin Tuhan akan menegakkan kerajaannya di Inggris, janji yang juga dipegang Cromwell dan kaum Puritan di koloni Inggris Baru sejak 1620-an.
Pada 1649, Gerard Winstanley mendirikan komunitas “Diggers” di Cobham, Surrey. Ia bertekad memulihkan manusia ke kondisi asli Adam di Taman Firdaus: masyarakat baru tanpa hak milik pribadi, perbedaan kelas, atau otoritas manusia.
Para Quaker pertama—George Fox, James Naylor, dan murid-murid mereka—mengajarkan bahwa setiap manusia dapat mendekati Tuhan secara langsung. Ada cahaya batin di dalam diri setiap individu, yang jika ditemukan dan dipelihara, memungkinkan semua orang, dari kelas dan status apa pun, mencapai keselamatan dan penyelamatan. Fox menyebarkan ajaran damai, antikekerasan, dan egalitarianisme radikal bagi Society of Friends yang didirikannya. Harapan akan kebebasan, persamaan hak, dan persaudaraan muncul kira-kira 140 tahun sebelum warga Paris menyerbu Bastille.
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
Contoh paling ekstrem dari spirit keagamaan baru ini mirip para pembid’ah akhir Abad Pertengahan yang dikenal sebagai Brethren of the Free Spirit. Menurut ahli sejarah Inggris Norman Cohn dalam The Pursuit of the Millennium, Revolutionary Millennarians and Mystical Anarchists of the Middle Ages, kelompok ini dituduh sebagai panteis. Mereka berkata:
“Semuanya adalah Tuhan. Tuhan ada di setiap batu dan dalam setiap anggota tubuh manusia sebagaimana dalam roti ekaristi. Setiap yang tercipta adalah ilahiah.”
Ini reinterpretasi pandangan Plotinus. Esensi abadi segala sesuatu, yang beremanasi dari Yang Esa, adalah ilahiah. Segala sesuatu rindu kembali ke Sumber Ilahinya dan akhirnya terserap ke dalam Tuhan; bahkan ketiga oknum Trinitas akan kembali ke Kesatuan primal. Keselamatan dicapai melalui pengenalan watak ketuhanan dalam setiap diri di dunia.
Risalah anggota kelompok ini yang ditemukan di bilik pertapa dekat Rhine menyatakan:
“Esensi Tuhan adalah esensiku, dan esensiku adalah esensi Tuhan.”
Kelompok itu sering menegaskan:
“Setiap makhluk rasional pada hakikatnya dirahmati.”
Pandangan ini lebih merupakan kerinduan melampaui keterbatasan manusia daripada kredo filosofis. Seperti dicatat Uskup Strasbourg, kelompok Persaudaraan itu “mengatakan bahwa mereka pada dasarnya adalah Tuhan, tanpa sedikit pun perbedaan. Mereka percaya bahwa semua kesempurnaan ilahi berada di dalam diri mereka, bahwa mereka abadi dan berada dalam keabadian.”
Cohn berpendapat bahwa sekte-sekte Kristen ekstrem di Inggris pada masa Cromwell, seperti Quaker, Leveler, dan Ranter, merupakan kebangkitan kembali bid’ah Free Spirit abad ke-14. Ini bukan kebangkitan yang disadari, namun para pelaku abad ke-17 memiliki visi panteistik yang mudah dipandang sebagai versi populer dari panteisme filosofis Spinoza. Winstanley mungkin sama sekali tidak percaya kepada Tuhan yang transenden, meskipun ia—seperti radikal lainnya—merasa keberatan untuk merumuskan keyakinannya secara konseptual.
Tak satu pun sekte revolusioner ini benar-benar percaya bahwa keselamatan mereka bergantung pada penebusan dosa oleh Yesus historis. Kristus yang menjadi persoalan bagi mereka adalah kehadiran yang menyatu dengan anggota komunitas dan tidak bisa dibedakan dengan Roh Kudus. Semua sepakat bahwa kenabian merupakan sarana utama mendekatkan diri kepada Tuhan dan ilham langsung oleh Roh Kudus lebih tinggi daripada ajaran agama mapan.







Comments (0)