Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan
BAB 9 : PENCERAHAN
Pada akhir abad keenam belas, Barat telah memulai proses teknikalisasi yang akan menghasilkan masyarakat sangat berbeda dengan cita-cita kemanusiaan baru. Tak pelak, hal ini mempengaruhi persepsi Barat tentang peranan dan hakikat Tuhan. Prestasi peradaban industrial Barat yang efektif ini juga mengubah arah sejarah dunia. Negara-negara Oikumene lain semakin sulit mengabaikan dunia Barat, tidak seperti sebelumnya ketika Barat masih tertinggal dibanding peradaban besar lainnya.
Hingga abad kedelapan belas, misalnya, Islam merupakan kekuatan dunia yang mendominasi Afrika, Timur Tengah, dan Laut Tengah. Sekalipun Renaisans abad kelima belas menempatkan Kristen Barat relatif lebih unggul dibanding Islam dalam beberapa aspek, kaum Muslim masih mampu mengatasi tantangan itu. Turki Usmani terus merangsek ke Eropa, dan kaum Muslim mampu mempertahankan pencapaian mereka dari serbuan Portugis dan pedagang lain. Namun pada akhir abad kedelapan belas, Eropa mulai mendominasi dunia, dan kemajuan yang dicapainya sulit dikejar bagian dunia lain. Inggris telah menguasai India, dan Eropa bersiap menjajah sebanyak mungkin negara. Proses pembaratan pun dimulai, termasuk kultus sekularisme yang mengklaim keterlepasan dari Tuhan.
Apa yang tersirat dalam masyarakat teknik modern ini? Semua peradaban terdahulu bergantung pada pertanian. Seperti tercermin dari istilah civilization, peradaban adalah kemajuan kehidupan perkotaan, di mana elit menikmati surplus agrikultural dari kaum tani, memiliki waktu senggang, dan sumber daya untuk mencipta berbagai kebudayaan. Kepercayaan pada Tuhan Yang Esa berkembang di kota-kota Timur Tengah dan Eropa bersamaan dengan ideologi agama besar lainnya. Namun semua peradaban agraris bersifat rentan. Mereka bergantung pada tanaman, hasil panen, iklim, dan erosi tanah. Sumber daya menjadi tak mencukupi seiring pertumbuhan imperium dan peningkatan tanggung jawab. Segera setelah imperium mencapai puncak, kemunduran dan kejatuhannya tak terelakkan.
Barat yang baru tidak bergantung pada kondisi lokal dan kekuatan temporal. Akumulasi modal menjadi bagian dari sumber ekonomi yang—hingga kini—kelihatan bisa diperbarui tanpa batas. Proses modernisasi menimbulkan perubahan besar: industrialisasi, transformasi pertanian, pencerahan intelektual, serta revolusi politik dan sosial. Secara alamiah, perubahan ini mempengaruhi cara manusia memandang diri dan meninjau kembali hubungan dengan Realitas Tertinggi yang biasa disebut “Tuhan.”
Spesialisasi menjadi krusial bagi masyarakat teknikal Barat: inovasi ekonomi, intelektual, dan sosial menuntut keahlian khusus di berbagai bidang. Ilmuwan, misalnya, bergantung pada efisiensi para pembuat instrumen; industri membutuhkan mesin, energi baru, dan input teoretis dari sains. Berbagai spesialisasi saling berkaitan dan lambat laun saling tergantung: satu bidang mengilhami bidang lain, yang mungkin belum ada kaitannya sebelumnya. Ini adalah proses akumulatif. Kemajuan di satu spesialisasi ditingkatkan oleh penggunaannya di bidang lain, yang kembali mempengaruhi efisiensi awalnya. Modal ditanamkan kembali dan dilipatgandakan dengan basis perkembangan berkelanjutan. Perubahan yang saling terkait memperoleh momentum progresif dan nyaris tak terhentikan.
Semakin banyak orang dari segala lapisan terlibat dalam modernisasi dengan bidang yang terus meluas. Kemajuan peradaban dan kebudayaan tak lagi milik elit saja, tetapi juga pekerja pabrik, buruh tambang, pegawai percetakan, dan juru tulis, bukan hanya sebagai pekerja tetapi juga sebagai konsumen di pasar yang meluas. Akhirnya, orang dari kalangan lebih rendah perlu membaca dan menikmati sebagian kemakmuran masyarakat untuk mempertahankan efisiensi.
Lompatan produktivitas, akumulasi modal, perluasan pasar, serta kemajuan intelektual dalam sains menimbulkan revolusi sosial: kekuasaan tuan tanah menyusut dan digantikan kekuatan finansial kaum borjuis. Efisiensi baru juga dirasakan dalam organisasi sosial, mendorong Barat mencapai standar yang pernah dicapai Cina dan kerajaan Usmani, bahkan melampaui mereka. Pada 1789, Revolusi Prancis menilai pelayanan publik berdasarkan keefektifan. Pemerintahan Eropa menyadari keharusan menata diri dan memperbarui undang-undang agar sesuai kondisi modernitas yang terus berubah.
Hal ini tak pernah terpikirkan dalam masyarakat agraris kuno yang menganggap hukum sakral dan tak boleh diubah. Teknikalisasi Barat membawa sinyal autonomi baru: manusia merasa penanggung jawab atas urusan mereka sendiri, berbeda dari masa lalu. Ketakutan berlebihan akibat inovasi di masyarakat tradisional, yang melihat peradaban sebagai pencapaian rentan, berganti harapan akan perkembangan dan kemajuan berkelanjutan. Perubahan dilembagakan dan dianggap keharusan. Bahkan lembaga seperti Royal Society di London bertujuan menghimpun pengetahuan baru untuk menggantikan yang lama. Para spesialis dianjurkan mengumpulkan penemuan demi kemajuan bidang mereka maupun bidang lain. Alih-alih merahasiakan penemuan, lembaga ilmiah menyebarkannya demi pertumbuhan pengetahuan. Semangat konservatif lama digantikan hasrat perubahan dan keyakinan pada kemajuan berkesinambungan. Generasi tua berharap anak-anak hidup lebih baik; kajian sejarah didominasi mitos baru: mitos kemajuan. Banyak hal besar dicapai, tetapi kerusakan lingkungan menyadarkan kita bahwa pandangan hidup ini sama rentannya dengan yang lama. Mitos kemajuan tampak sama fiktifnya dengan sebagian besar mitologi lain yang mengilhami umat manusia selama berabad-abad.
Penggabungan sumber dan penemuan mempersatukan umat manusia, tetapi spesialisasi menarik mereka ke arah berbeda. Sebelumnya, seorang intelektual bisa mengikuti perkembangan semua bidang. Para filsuf Muslim, misalnya, menguasai kedokteran, filsafat, dan estetika, serta menawarkan pandangan koheren dan inklusif tentang realitas. Pada abad ketujuh belas, proses spesialisasi yang menjadi ciri masyarakat Barat terasa kuat. Disiplin seperti astronomi, kimia, dan geometri menjadi independen dan autonom. Kini, mustahil bagi seorang ahli bidang tertentu merasa kompeten di bidang lain. Akibatnya, setiap intelektual memandang diri sebagai pemelihara tradisi, bukan pelopor; dia penjelajah wilayah baru demi kepentingan masyarakatnya.
Seorang penemu imajinatif membuka bidang baru dan menumbangkan pandangan lama yang disakralkan dipandang sebagai pahlawan budaya. Optimisme baru muncul seiring kendali atas alam, yang dahulu memperbudak manusia, tampak semakin maju. Orang percaya pendidikan lebih baik dan hukum diperbarui membawa cahaya baru bagi semangat kemanusiaan. Kepercayaan diri terhadap kekuatan alamiah manusia berarti orang yakin mampu mencapai pencerahan melalui usaha sendiri, tanpa bergantung pada tradisi, institusi, elit, atau wahyu Tuhan.
Namun, spesialisasi berimplikasi bahwa orang terlibat tak mampu melihat gambaran utuh. Ilmuwan dan intelektual inovatif merasa harus mengembangkan teori sendiri tentang kehidupan dan agama, dari awal. Peningkatan pengetahuan dan keefektifan mendorong mereka menelaah ulang penjelasan Kristen tradisional agar sesuai perkembangan zaman. Spirit ilmiah baru bersifat empiris, hanya berdasarkan observasi dan eksperimen. Sains Barat tidak menerima sesuatu begitu saja, berbeda dari rasionalisme kuno yang memulai dari keyakinan pada semesta rasional. Para pelopor siap menghadapi risiko salah atau meruntuhkan autoritas mapan, seperti Alkitab, gereja, dan tradisi Kristen. Bukti lama tentang eksistensi Tuhan tak lagi memuaskan; ilmuwan dan filsuf terdorong memverifikasi realitas objektif Tuhan sama seperti fenomena lain yang bisa didemonstrasikan.
Ateisme masih dianggap menjijikkan. Seperti akan kita lihat, kebanyakan philosophes Pencerahan secara implisit percaya pada eksistensi Tuhan. Namun, sekelompok kecil mulai berpandangan bahwa keberadaan Tuhan pun tidak bisa diterima begitu saja. Salah satu orang pertama yang menganut pandangan ini dan menyikapi ateisme secara serius adalah fisikawan, matematikawan, dan teolog Prancis, Blaise Pascal (1623–1662).
Ketika kecil, Pascal adalah anak yang sakitsakitan, terlalu cepat matang, dan pernah dikucilkan dari sebayanya. Dia mendapat pendidikan pertama dari ayahnya, seorang ilmuwan, yang terkejut mengetahui bahwa Blaise yang baru berusia sebelas tahun diam-diam telah menemukan sendiri dua puluh tiga proposisi pertama Euclid. Pada usia enam belas tahun, Pascal menerbitkan makalah geometri yang oleh Descartes diragukan ditulis oleh seorang belia. Kemudian, dia menciptakan mesin hitung, barometer, dan mesin hidrolik.
Keluarga Pascal bukan keluarga yang sangat taat beragama, tetapi pada 1646 mereka menganut Jansenisme. Saudara perempuan Pascal, Jacqueline, bergabung dengan biara Jansenis di Port Royal, barat daya Paris, dan menjadi pendukung sekte Katolik yang bersemangat. Pada malam 23 November 1654, Blaise sendiri mengalami pengalaman religius yang berlangsung “dari sekitar pukul setengah sebelas malam hingga setengah satu dini hari.” Pengalaman itu memperlihatkan kepadanya bahwa keimanannya sebelumnya terlalu tipis dan akademis.
Setelah kematiannya, “kenangannya” tentang pengalaman itu ditemukan dijahit di bagian dalam jaketnya:
Api
“Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub,” bukan Tuhan para filosof dan ilmuwan.
Kepastian, kepastian, ketulusan, kegembiraan, kedamaian.
Tuhan Yesus Kristus.
Tuhan Yesus Kristus.
Tuhanku dan Tuhanmu.
“Tuhanmu akan menjadi Tuhanku."
Alam dan segala sesuatu kecuali Tuhan terlupakan.
Dia hanya bisa dijumpai lewat cara yang diajarkan dalam Injil.
Pengalaman mistikal ini menunjukkan bahwa Tuhan Pascal berbeda dari Tuhan para ilmuwan dan filosof lainnya. Tuhannya bukan Tuhan para filosof, melainkan Tuhan yang ditemukan lewat wahyu. Kekuatan dahsyat pengalaman konversinya mendorong Pascal berpihak pada kaum Jansenis menentang Jesuit. Jika Ignatius memandang alam dipenuhi Tuhan, Pascal dan kaum Jansenis memandang alam hampa dan sunyi dari yang ilahi.
Dalam Pensées, tulisan Pascal tentang agama yang diterbitkan pada 1669, ia menekankan sikap pesimis terhadap kondisi manusia. “Keburukan” manusia menjadi tema konstan; kondisi ini bahkan tidak bisa diringankan oleh Kristus, “yang akan terus berada dalam penderitaan hingga akhir dunia.” Rasa keterkucilan dan ketiadaan Tuhan menjadi ciri banyak spiritualitas Eropa Baru. Popularitas Pensées membuktikan bahwa sisi gelap spiritualitas Pascal dan konsepsi Tuhan yang tersembunyi menyuarakan sesuatu yang vital dalam kesadaran keagamaan Barat.
Prestasi ilmiah Pascal tidak memberinya keyakinan besar tentang kondisi manusia. Ketika menelaah keluasan semesta, ia merasa takut:
Ketika aku melihat kebutaan dan keadaan manusia yang parah, ketika aku menelaah seluruh alam dalam kebisuannya dan manusia dibiarkan dalam kesendiriannya tanpa cahaya... aku menjadi ketakutan, bagaikan seorang yang dibawa dalam keadaan tertidur ke suatu pulau terpencil, terbangun dalam keadaan bingung tanpa kemungkinan untuk melarikan diri. Kemudian, aku terpana betapa keadaan yang sedemikian buruk tak membuat orang berputus asa.
Ini menjadi peringatan bagi optimisme berlebihan di era ilmiah. Pascal membayangkan kengerian dunia yang hampa makna. Ia jujur terhadap dirinya sendiri: tak ada jalan membuktikan eksistensi Tuhan. Ketika membayangkan debat dengan seseorang yang tidak percaya Tuhan, Pascal tak menemukan argumen untuk meyakinkan orang itu. Ia adalah orang pertama yang mengakui bahwa, di dunia baru ini, keyakinan pada Tuhan hanya mungkin menjadi pilihan pribadi—menjadikannya tokoh modern pertama.
Pendekatan Pascal terhadap eksistensi Tuhan revolusioner, namun tidak resmi diterima gereja mana pun. Para apologis Kristen lebih menyukai pendekatan rasionalistik Leonard Lessius, yang akan dibahas di bagian akhir buku ini. Pendekatan semacam itu mengantarkan pada konsep ketuhanan para filosof, bukan Tuhan menurut wahyu yang dialami Pascal. Menurut Pascal, iman bukan penegasan rasional, tetapi pertaruhan. Tak mungkin membuktikan Tuhan ada, tetapi mustahil pula bagi akal untuk membantah eksistensinya:
“Kita tak mampu mengetahui apakah [Tuhan] itu atau apakah dia ada ... Akal tidak bisa memutuskan persoalan ini. Kekacauan tanpa batas memisahkan kita. Pada ujung terjauh dari jarak yang tak berhingga ini, sekeping uang logam diputar untuk mendapatkan sisi atas atau bawah. Apa taruhan Anda?”
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
Taruhan ini tidak sepenuhnya irasional. Memihak Tuhan adalah keputusan yang menguntungkan: risikonya terbatas, keuntungannya tak terbatas. Iman Kristen memungkinkan pencerahan berkelanjutan dan kesadaran kehadiran Tuhan. Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri.
Pesimisme Pascal diimbangi kesadaran bahwa setelah taruhan ditetapkan, Tuhan tersembunyi akan mewahyukan diri kepada pencari-Nya. Pascal seakan membuat Tuhan berfirman:
“Engkau tidak akan mencariku, jika engkau belum menemukan aku.”
Manusia bisa menempuh jalan menuju Tuhan dengan argumen, logika, atau menerima ajaran gereja. Namun keputusan pribadi untuk berserah menjadikan orang beriman berubah: “beriman, jujur, rendah hati, bersyukur, penuh amal baik, seorang sahabat sejati.” Kehidupan menjadi berarti setelah iman hadir dan Tuhan dihadirkan di tengah kehampaan. Tuhan adalah realitas karena berkarya; iman adalah lompatan ke dalam kegelapan yang membawa pencerahan moral.
Rene Descartes (1596–1650), tokoh baru lainnya, memiliki keyakinan lebih besar pada akal untuk menemukan Tuhan. Ia percaya akal semata mampu memberikan kepastian. Descartes menolak cara taruhan Pascal yang subjektif, meski pembuktian eksistensi Tuhan yang diajukan juga bergantung pada bentuk subjektivitas lain. Ia menolak skeptisisme Michel de Montaigne (1533–1592), yang menolak kemungkinan kepastian apa pun.
Sebagai matematikawan dan Katolik taat, Descartes merasa misi-nya menghadirkan rasionalisme empiris untuk melawan skeptisisme. Seperti Lessius, ia menduga akal mampu membujuk manusia menerima kebenaran agama dan moralitas, penyangga peradaban. Iman dapat dibuktikan secara rasional; Paulus menegaskan hal ini dalam suratnya kepada Roma:
“Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka... kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya dapat tampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan sehingga mereka tidak dapat berdalih.”
Descartes menyatakan bahwa Tuhan bisa diketahui dengan cara lebih mudah dan pasti (facilius et certius) daripada hal lain yang bereksistensi. Bukti Descartes menolak saksi eksternal Paulus, menekankan introspeksi reflektif akal sendiri.
Dengan mempergunakan metode empiris matematika universalnya, yang secara logis berkembang ke arah prinsip-prinsip pertama atau sederhana, Descartes berupaya menegakkan bukti analitik setara tentang eksistensi Tuhan. Namun, berbeda dengan Aristoteles, St. Paulus, dan semua filosof monoteistik terdahulu, ia menemukan bahwa alam secara keseluruhan tidak bertuhan. Tak ada rancangan di dalam alam. Kenyataannya, alam sarat dengan kekacauan dan sama sekali tidak mengungkapkan tanda-tanda perancangan cerdas. Oleh karena itu, mustahil mendeduksikan kepastian tentang prinsip-prinsip pertama hanya dengan mencermati semesta.
Descartes menolak hal-hal yang hanya mungkin; yang ia cari adalah kepastian seperti dalam matematika. Kepastian itu juga bisa ditemukan dalam proposisi sederhana dan terbukti sendiri, misalnya: “Apa yang sudah terjadi tidak bisa dibatalkan,” kebenaran yang tak terbantah. Selanjutnya, ketika merenung di depan perapian, ia menemukan pepatah terkenal:
Cogito, ergo sum — Aku berpikir, maka aku ada.
Seperti Agustinus dua belas abad sebelumnya, Descartes mendapatkan bukti eksistensi Tuhan dalam kesadaran manusia: bahkan keraguan membuktikan eksistensi orang yang meragukan. Kita tidak bisa memastikan sesuatu di luar diri, tetapi pasti tentang pengalaman batin kita sendiri.
Argumen Descartes merupakan penyusunan ulang Dalil Ontologis Anselm. Tatkala kita ragu, keterbatasan dan hakikat diri yang berhingga terungkap. Namun, kita tak mungkin tiba pada gagasan “ketidaksempurnaan” tanpa memiliki konsepsi tentang “kesempurnaan.” Seperti Anselm, Descartes menyimpulkan bahwa ketiadaan kesempurnaan mustahil: pernyataan itu contradictio in terminis. Pengalaman kita tentang keraguan menunjukkan bahwa wujud tertinggi dan sempurna—Tuhan—pastilah ada.
Descartes kemudian mendeduksi fakta-fakta tentang hakikat Tuhan dari bukti eksistensinya, seperti pembuktian matematika. Dalam Discourse on Method, ia menulis:
“Setidaknya sudah merupakan kepastian bahwa Tuhan, wujud sempurna ini, ada atau bereksistensi, sebagaimana setiap dalil geometri.”
Seperti segitiga Euclidean pasti memiliki sudut yang jumlahnya 180°, wujud sempurna yang diyakini Descartes pasti memiliki sifat tertentu. Pengalaman menyatakan bahwa alam memiliki realitas objektif dan Tuhan sempurna, yang pasti tidak menipu kita. Oleh karena itu, Descartes tidak menggunakan alam untuk membuktikan Tuhan, tetapi ide tentang Tuhan memberi keyakinan terhadap realitas alam.
Dengan caranya sendiri, Descartes merasa terasing dari dunia seperti Pascal. Ia berpaling ke diri sendiri; gagasan tentang Tuhan memberi manusia kepastian eksistensi dan menjadi esensial bagi epistemologi Cartesian. Keterasingan dan kemandirian ini kemudian penting bagi pandangan Barat tentang manusia. Namun, sikap ini juga membawa risiko menolak gagasan Tuhan sehingga manusia tergantung pada diri sendiri.
Sejak awal, agama membantu manusia berhubungan dengan alam dan memberi fokus di semesta yang mencengangkan. Pendewaan kekuatan alam mengekspresikan kekaguman yang menjadi respons manusia terhadap alam. Agustinus, misalnya, memandang alam sebagai indah luar biasa. Descartes, yang filosofi-nya didasarkan pada introspeksi Agustinian, tidak memberi perhatian pada kekaguman itu. Ia menekankan bahwa misteri harus dihindari karena menampilkan pikiran primitif.
Dalam pengantar risalah Les Météores, ia menulis:
“…lebih wajar mengagumi sesuatu yang berada di atas kita daripada yang setaraf atau lebih rendah dari kita. Jika di sini saya bisa menjelaskan awan sehingga kita tak lagi kagum, maka kita akan percaya bahwa mungkin pula untuk menemukan penyebab segala sesuatu yang menakjubkan di bumi.”
Baca Juga: Lighten PDF Converter OCR 6.1.1 Full Version
Descartes menjelaskan awan, embun, dan petir sebagai kejadian fisikal untuk menghilangkan “setiap sebab ketakjuban.” Tuhan Descartes adalah Tuhan para filosof, yang tidak memedulikan peristiwa duniawi, tidak ditampilkan melalui mukjizat Kitab Suci, tetapi melalui hukum-hukum abadi yang dirancang-Nya. Misalnya, manna yang menopang orang Israel kuno di gurun dijelaskan sebagai embun. Hal ini menciptakan apologetika rasional yang mencoba “membuktikan” kebenaran Alkitab secara ilmiah—tetapi tidak menangkap simbolisme esensial narasi biblikal.
Descartes menaati aturan Gereja Katolik Roma dan memandang dirinya Kristen ortodoks. Ia tidak melihat konflik antara iman dan akal. Dalam Discourse on Method, ia menyatakan bahwa ada sistem yang memungkinkan manusia mencapai semua kebenaran. Yang diperlukan hanyalah penerapan metode ini, sehingga semua pengetahuan dapat dirangkum, keraguan terhapus, dan Tuhan tercakup dalam sistem pemikiran manusia. Mistisisme, yang menekankan pengalaman keagamaan dan misteri, belum berakar kuat di Barat sebelum Reformasi. Bagi Descartes, kontemplasi adalah aktivitas otak, bukan pengalaman mistikal.
Isaac Newton (1642–1724), fisikawan Inggris, juga mereduksi Tuhan dalam sistem mekaniknya sendiri. Berbeda dengan Descartes, Newton memulai dari alam fisik. Dalam fisika Newton, alam pasif; Tuhan adalah satu-satunya sumber aktivitas. Sebagaimana Aristoteles, Tuhan adalah kelanjutan tatanan alam.
Dalam karyanya Philosophiae Naturalis Principia (1687), Newton menggambarkan hubungan benda langit secara matematis untuk membangun sistem koheren. Gravitasi menyatukan sistemnya. Ia menolak tuduhan bahwa gravitasi kembali ke Aristoteles; bagi Newton, Tuhan berdaulat dan sentral, tanpa-Nya sistem tidak akan ada.
Newton yakin eksistensi Tuhan terlihat dari alam: mengapa planet tidak saling bertabrakan? Ia menulis kepada Richard Bentley:
“Saya terdorong menisbahkannya kepada penjagaan dan rancangan suatu agen sukarela… Tanpa kekuatan ilahiah, gravitasi takkan bisa membuat planet bergerak sirkular terhadap Matahari sebagaimana adanya.”
Agen ilahi ini cerdas dan kuat, menata benda bermassa besar. Newton menyimpulkan bahwa Tuhan adalah penguasa alam semesta (dominatio). Edward Pococke menekankan bahwa deus berasal dari Arab du, artinya penguasa—lebih esensial daripada kesempurnaan dalam Descartes.
Dalam “General Scholium” di Principia, Newton mendeduksi sifat Tuhan dari kemahakuasaan dan kebijaksanaan:
“Sistem mahaindah ini hanya mungkin berasal dari rancangan dan kekuasaan Wujud yang cerdas dan perkasa. Dia abadi, mahakuasa, maha mengetahui… kita mengenalnya melalui rancangannya yang mahabijaksana; kita memuliakan dan memujanya karena kekuasaannya, sebab kita adalah hambanya.”
Newton tidak menyinggung Alkitab; Tuhan dikenali melalui kontemplasi alam. Doktrin penciptaan kini dipahami secara mekanis: ruang dan waktu emanasi Tuhan, materi diciptakan dari kehampaan (creatio ex nihilo). Tuhan mengisi ruang dan waktu; materi diberikan bentuk, kepadatan, dan gerak pada hari penciptaan.
Seperti Descartes, Newton tidak tertarik mengkaji misteri, yang dipersamakannya dengan kebodohan dan takhayul. Ia berkeinginan membersihkan Kristen dari hal-hal yang berbau mukjizat, meski ini membuatnya bertentangan dengan doktrin krusial seperti ketuhanan Yesus.
Selama 1670-an, ia memulai studi teologis serius tentang doktrin Trinitas dan sampai pada kesimpulan bahwa doktrin itu diselundupkan ke dalam gereja oleh Athanasius untuk menyenangkan orang-orang pagan yang baru memeluk Kristen. Menurut Newton, Ariuslah yang benar: Yesus bukan Tuhan, dan bagian-bagian Perjanjian Baru yang dipakai untuk “membuktikan” Trinitas dan Inkarnasi adalah palsu. Athanasius dan pengikutnya menambahkan bagian-bagian ini untuk mendukung fantasi primitif yang menarik massa:
“Hanya manusia yang percaya takhayul dan berkarakter dangkal yang dapat memperoleh kepuasan dari penjelasan agama berdasarkan misteri; karena itu, apa yang paling mereka sukai adalah yang paling sedikit mereka pahami.”
Menghilangkan hal-hal semacam itu dari iman Kristen menjadi obsesi Newton. Pada awal 1680-an, menjelang penerbitan Principia, ia mulai menulis risalah The Philosophical Origins of Gentile Theology. Risalah ini berpendapat bahwa Nabi Nuh menegakkan agama primordial, teologi non-Yahudi yang bebas dari takhayul dan mengajarkan penyembahan rasional terhadap satu Tuhan. Satu-satunya perintah adalah mencintai Tuhan dan mencintai tetangga. Manusia diperintahkan untuk merenungi Alam, satu-satunya kuil bagi Tuhan yang agung.
Generasi berikutnya merusak agama murni ini dengan cerita mukjizat dan dongeng. Sebagian kembali pada penyembahan berhala dan takhayul. Namun, Tuhan mengirim nabi-nabi untuk meluruskan jalan mereka. Pythagoras mempelajari agama ini dan membawanya ke Barat. Yesus adalah salah satu nabi yang diutus untuk menyerukan manusia kembali pada kebenaran, tetapi agama murninya telah dirusak oleh Athanasius dan pengikutnya. Kitab Wahyu meramalkan bangkitnya Trinitarianisme—“agama asing dari Barat” dan “kultus terhadap tiga Tuhan yang setara”—sebagai pembinasa keji.
Kristen Barat selalu memandang Trinitas sebagai doktrin pelik. Rasionalisme era Pencerahan membuat para filosof dan ilmuwan berkeinginan membuangnya. Newton tidak memahami peran misteri dalam kehidupan keagamaan. Orang Yunani menggunakan Trinitas untuk menjaga rasa takjub dan mengingatkan bahwa akal manusia tak mampu memahami hakikat Tuhan. Namun bagi Newton, seorang ilmuwan, sikap ini sulit diterapkan: sains menuntut kembali ke prinsip-prinsip pertama untuk menemukan kebenaran.
Agama, seperti seni, sering berdialog dengan masa lalu untuk membangun perspektif dalam melihat masa kini. Tradisi menjadi batu loncatan bagi manusia memahami persoalan perenial tentang makna hidup. Oleh karena itu, agama dan seni tidak bekerja seperti sains.
Selama abad ke-18, Kristen mulai menerapkan metode ilmiah pada iman mereka, menemukan solusi serupa Newton. Di Inggris, teolog radikal seperti Matthew Tindal dan John Toland bertekad kembali ke prinsip dasar, membersihkan Kristen dari misteri, dan membangun agama rasional. Dalam Christianity Not Mysterious (1696), Toland menekankan bahwa misteri hanya membawa “tirani dan takhayul”: agama harus masuk akal. Dalam Christianity as Old as Creation (1730), Tindal, seperti Newton, berupaya memulihkan agama primordial. Rasionalitas menjadi batu ujian:
“Ada agama alam dan akal yang terpahat di hati setiap orang sejak semula, yang dengannya manusia harus memutuskan kebenaran setiap agama institusional.”
Akibatnya, wahyu menjadi tidak diperlukan karena kebenaran bisa ditemukan melalui pencarian rasional. Misteri Trinitas dan Inkarnasi harus memiliki penjelasan rasional sempurna dan tidak membiarkan orang tunduk pada takhayul atau lembaga gereja.
Ketika gagasan radikal ini menyebar ke Eropa, sejarawan baru mulai meneliti sejarah gereja secara objektif. Pada 1699, Gottfried Arnold menerbitkan History of the Churches from the Beginning of the New Testament to 1688, menunjukkan bahwa ortodoksi saat ini tidak berakar pada gereja perdana. Johann Lorenz von Mosheim (1694–1755) memisahkan sejarah dari teologi dalam Institutions of Ecclesiastical History (1726), merekam perkembangan doktrin tanpa menilai kebenarannya. Sejarawan lain seperti Georg Walch, Giovanni But, dan Henry Noris meneliti kontroversi doktrinal seperti Arianisme, pertikaian filioque, dan perdebatan Kristologis abad keempat dan kelima.
Banyak Kristen risau mengetahui bahwa dogma fundamental tentang kodrat Tuhan dan Kristus berkembang belakangan, tidak tercantum di Perjanjian Baru. Beberapa bahkan menerapkan objektivitas ilmiah ini pada Injil. Hermann Samuel Reimarus (1694–1768) menyusun biografi kritis Yesus: kemanusiaan Kristus menjadi objek penelaahan ilmiah, bukan mistikal. Reimarus berpendapat Yesus hanya ingin mencapai kondisi ilahiah; ketika misi gagal, ia mati dalam keputusasaan. Injil menunjukkan Yesus tidak pernah mengklaim datang untuk menebus dosa manusia—gagasan penebusan bersumber dari St. Paulus. Oleh karena itu, Yesus dipandang sebagai guru agama yang “penting, sederhana, mulia, dan praktis.”
Kajian objektif ini menekankan pemahaman harfiah kitab suci, mengabaikan simbolisme. Meski ada yang menolak kritisisme ini, semangat ilmiah membuat banyak orang sulit menghindari interpretasi harfiah Injil. Kristen Barat kini fokus pada fakta: kisah hanya benar atau tidak; pertanyaan asal-usul agama lebih penting karena monoteisme Kristen menekankan wahyu melalui peristiwa sejarah.
Beberapa Kristen yang lebih konvensional mulai mempertanyakan pemahaman tradisional Barat tentang Tuhan. Dalam Wittenburg's Innocence of a Double Murder (1681), John Friedmann Mayer, seorang Lutheran, menulis bahwa doktrin penebusan dosa menurut Anselm—yang menyatakan Tuhan menghendaki kematian Putranya—menunjukkan ketuhanan yang tidak layak:
“Tuhan yang pemurah, Tuhan yang pemarah” dengan tuntutan pembalasan yang keras.
Hal ini menimbulkan rasa takut dan mengajarkan umat untuk melepaskan diri dari “keberdosaan” mereka sendiri. Banyak Kristen merasa malu atas kekejaman sejarah Kristen—Perang Salib, inkuisisi, penyiksaan—yang dilakukan atas nama Tuhan yang adil. Pemaksaan untuk beriman pada doktrin ortodoks mengejutkan, terutama di era yang menghargai kebebasan nurani. Akal menjadi jawaban.
Namun, dapatkah Tuhan yang dilepaskan dari misteri—yang memberi nilai religius di tradisi lain—menarik orang Kristen yang imajinatif dan intuitif? John Milton (1608–1674) terganggu oleh intoleransi gereja. Dalam risalah tak diterbitkan On Christian Doctrine, ia mencoba reformasi keagamaannya sendiri, meragukan doktrin seperti Trinitas.
Dalam karya utamanya, Paradise Lost, pahlawan sejati adalah setan, bukan Tuhan; tindakannya bertujuan meluruskan manusia. Setan menolak otoritas, menentang kebodohan, dan menjadi penjelajah pertama dari neraka ke bumi baru. Tuhan Milton menampilkan absurditas literalisme Barat: tanpa pemahaman mistikal Trinitas, posisi Putra Tuhan membingungkan—apakah wujud kedua di samping Bapa atau makhluk seperti malaikat dengan derajat lebih tinggi? Secara keseluruhan, Bapa dan Putra tampak sebagai dua wujud terpisah yang harus berdialog panjang lebar untuk mengetahui niat satu sama lain, meski Putra diakui sebagai Firman dan hikmat Bapa.
Cara Milton menampilkan prapengetahuan Tuhan tentang peristiwa-peristiwa di bumi membuat konsep ketuhanannya dapat dipercaya. Karena Tuhan sudah mengetahui bahwa Adam dan Hawa akan jatuh—bahkan sebelum setan tiba di bumi—Tuhan mesti mengadakan justifikasi khusus bagi tindakannya sebelumnya. Ia menolak kepatuhan yang terpaksa dan menganugerahkan kepada Adam dan Hawa kemampuan untuk melawan setan. Oleh karena itu, mereka tidak bisa menuduh:
Pencipta mereka, atau penciptaan mereka, atau nasib mereka,
seakan-akan predestinasi berdaulat atas kehendak mereka,
diatur oleh ketetapan mutlak atau pengetahuan yang telah ada sejak semula.
Mereka sendirilah yang memutuskan perbuatan mereka sendiri: bukan Aku.
Jika Aku mengetahui sejak semula, prapengetahuan itu tak berpengaruh apa-apa terhadap kesalahan mereka.
Yang tentunya membuktikan sejenis ketidaktahuan azali.
Kucipta mereka bebas, dan mereka harus tetap bebas
hingga mereka membelenggu diri sendiri; Aku pun mesti mengubah watak mereka, dan mengeluarkan keputusan agung, tak dapat berubah, abadi, yang menobatkan kebebasan mereka; mereka sendiri yang menyebabkan kejatuhan mereka.
Namun, pemikiran ini tidak mudah dihormati. Tuhan yang digambarkan Milton tampak kejam, kaku, dan kurang memiliki kasih sayang yang seharusnya diilhamkan oleh agamanya. Memaksa Tuhan untuk berpikir seperti manusia menunjukkan ketidaklayakan konsepsi ketuhanan antropomorfik. Konsep semacam itu terlalu penuh kontradiksi untuk koheren atau layak dihormati. Doktrin kemahatahuan Tuhan dan sejenisnya tidak bisa dipahami secara harfiah.
Tuhan Milton bukan hanya dingin dan legalistik, tetapi juga tampak tidak kompeten. Dalam dua jilid terakhir Paradise Lost, Tuhan mengutus Malaikat Mikail untuk menghibur Adam dengan menunjukkan bagaimana keturunannya akan diampuni. Mikail menampilkan sejarah penyelamatan dalam serangkaian tableau: pembunuhan Habil oleh Kabil, Banjir Besar dan Bahtera Nuh, Menara Babel, panggilan kepada Ibrahim, pengusiran dari Mesir, dan Taurat di Sinai. Mikail menjelaskan bahwa ketidaklayakan Taurat—yang menindas umat pilihan Tuhan selama berabad-abad—dimaksudkan agar mereka merindukan hukum yang lebih spiritual.
Seiring perkembangan kisah penyelamatan hingga Hari Akhir—melalui Raja Daud, pengusiran ke Babilonia, kelahiran Kristus—pembaca menyadari bahwa ada jalan lebih mudah untuk penebusan dosa manusia. Rencana yang berliku, dengan kegagalan dan titik awal salah, yang telah ditetapkan sejak awal, menimbulkan keraguan besar tentang kecerdasan Penggagasnya. Tuhan Milton tak banyak mengilhami rasa percaya diri.
Menariknya, setelah Paradise Lost, tak ada penulis Inggris lain yang berbicara tentang dunia adialami. Bidang adialami dan spiritual kemudian dikuasai penulis pinggiran seperti George MacDonald dan C.S. Lewis. Tuhan yang tidak mampu memikat imajinasi adalah Tuhan yang berada dalam kesulitan.
Di bagian akhir Paradise Lost, Adam dan Hawa meninggalkan surga menuju dunia. Di Barat, kaum Kristen berada di ambang era lebih sekuler, setia pada Tuhan, tetapi mengadopsi agama rasional baru: Deisme. Agama ini tidak memberi ruang bagi mistisisme dan mitologi imajinatif, menolak wahyu dan “misteri-misteri” tradisional seperti Trinitas. Deisme menekankan kesetiaan kepada Deus impersonal, yang bisa ditemukan melalui usaha manusia sendiri.
François-Marie de Voltaire, tokoh Pencerahan, mendefinisikan agama ideal ini dalam Philosophical Dictionary (1764):
Bukankah agama itu mengajarkan moralitas, sedikit dogma, menjadikan manusia adil tanpa membuat bodoh, tidak memerintahkan sesuatu yang mustahil, tidak merusak nilai ketuhanan, dan tidak mengancam dengan hukuman neraka bagi akal sehat? Bukankah agama itu mengajarkan pengabdian kepada satu ilah, keadilan, toleransi, dan kemanusiaan?
Gereja harus menyalahkan diri sendiri karena selama berabad-abad membanjiri umat dengan doktrin. Reaksi rasional ini tak terhindarkan dan bahkan bisa positif. Filosof Pencerahan tidak menolak Tuhan, melainkan konsepsi kejam ortodoks yang mengancam manusia dengan neraka dan doktrin misterius yang tak masuk akal. Keyakinan mereka terhadap Wujud Tertinggi tetap terjaga. Voltaire membangun kapel di Ferney dengan prasasti: “Deo Erexit Voltaire”. Ia berpendapat: jika Tuhan tidak ada, wajib menciptakannya. Kepercayaan pada satu Tuhan lebih rasional dan alami daripada politeisme, yang muncul kemudian ketika manusia hidup dalam komunitas kecil.
Baruch Spinoza (1632–1677), Yahudi Belanda keturunan Spanyol, juga dipengaruhi gagasan ini. Ia menolak studi Taurat konvensional, bergabung dengan kelompok pemikir bebas non-Yahudi, dan mengembangkan pandangan berbeda dari Yudaisme ortodoks, banyak dipengaruhi Descartes dan skolastik Kristen. Pada 1656, usia 24 tahun, ia diusir dari sinagoga Amsterdam, simbolisasi keterasingannya:
“Biarkan dia dikutuk siang dan malam… Mudah-mudahan murka dan kebencian Tuhan berkobar kepada orang ini, menimpakan semua kutukan kitab suci, dan menghapus namanya dari bumi.”
Sejak itu, Spinoza menjadi prototipe pandangan autonom dan sekular Barat. Pada abad ke-20, ia dianggap pahlawan modernitas. Ia masih beriman kepada Tuhan, walau bukan Tuhan Alkitab, dan menilai agama wahyu inferior dibanding pengetahuan ilmiah filosof. Dalam A Theologico-Political Treatise, ia menulis agama hanyalah “kumpulan keyakinan sesaat dan sarat praduga”, “jaringan misteri tak bermakna”.
Spinoza menelaah sejarah Alkitab secara kritis: orang Israel menyebut fenomena tak dipahami sebagai “Tuhan”. Nabi “diilhamkan” bukan karena eksklusivitas, tetapi karena kecerdasan dan kesucian luar biasa. Bentuk ilham ini tersedia bagi semua melalui akal alamiah; ritus dan simbol hanya membantu orang awam.
Seperti Descartes, Spinoza kembali pada bukti ontologis eksistensi Tuhan: wujud sempurna yang tidak ada menimbulkan kontradiksi. Eksistensi Tuhan bersifat wajib, memberikan kepastian untuk deduksi tentang realitas. Alam diatur hukum kekal; Tuhan adalah prinsip hukum itu, gabungan seluruh hukum abadi. Seperti Newton, Spinoza mengadopsi gagasan emanasi kuno: Tuhan imanen dalam segala sesuatu, material maupun spiritual. Aktivitas Tuhan di dunia dilihat sebagai hukum matematis dan kausal eksistensi, menolak absolut transendensi.
Meski tampak gamblang, doktrin ini mengilhami Spinoza dengan kekaguman mistis yang luar biasa. Karena merupakan agregat semua hukum, Tuhan adalah kesempurnaan tertinggi, menggabungkan segala sesuatu ke dalam kesatuan dan keselarasan. Tatkala manusia merenungkan cara kerja pikiran mereka—sebagaimana yang dilakukan Descartes—mereka menjadi peka terhadap wujud Tuhan yang abadi dan tak terbatas yang mengatur mereka.
Seperti Plato, Spinoza percaya bahwa pengetahuan intuitif dan spontan menyingkap kehadiran Tuhan lebih kuat daripada pencerapan fakta oleh otak manusia. Kesenangan dan kebahagiaan dari pengetahuan setara dengan cinta kepada Tuhan, ilah yang bukan objek pikiran abadi, melainkan sebab dan prinsip pikiran itu sendiri, menyatu dengan setiap pribadi manusia. Wahyu atau hukum Tuhan tidak diperlukan; Tuhan ini dapat dijangkau semua manusia, dan satu-satunya hukum adalah hukum alam yang abadi.
Spinoza membawa metafisika kuno sejajar dengan sains baru: Tuhannya bukan Tuhan Neoplatonik yang mustahil diketahui, melainkan Wujud Mutlak sebagaimana digambarkan filosof seperti Aquinas, dan sekaligus mirip Tuhan mistik yang kehadirannya dialami kaum monoteis ortodoks. Namun, orang Yahudi, Kristen, dan banyak filosof menganggap Spinoza ateis: Tuhan ini tidak personal, tak terpisahkan dari seluruh realitas lain. Spinoza memakai kata “Tuhan” hanya karena alasan sejarah; ia sepakat dengan kaum ateis bahwa realitas tidak bisa dibagi menjadi bagian yang “Tuhan” dan bagian yang “bukan Tuhan”. Jika Tuhan tak bisa dipisahkan dari segala sesuatu, mustahil bagi “dia” untuk ada dalam pengertian biasa. Artinya, tidak ada Tuhan sesuai pengertian tradisional.
Sebenarnya, kaum mistik dan filosof telah menyampaikan hal serupa selama berabad-abad. Sebagian menyatakan: “Tiada sesuatu selain dunia yang kita ketahui.” Jika ditambahkan dengan En Sof yang transenden, panteisme Spinoza sangat menyerupai Kabbalah, menunjukkan kedekatan antara mistisisme radikal dengan ateisme baru.
Filosof Jerman Moses Mendelssohn (1729–1786) membuka jalan bagi kaum Yahudi memasuki Eropa modern. Pada awalnya, ia tidak fokus pada filsafat Yahudi spesifik, melainkan tertarik pada psikologi, estetika, dan agama. Karya awalnya, Phaedon dan Morning Hours, ditulis dalam konteks Pencerahan Jerman, berusaha meneguhkan eksistensi Tuhan secara rasional tanpa perspektif khusus Yahudi.
Di Prancis dan Jerman, ide liberal Pencerahan membawa semangat emansipasi, memungkinkan kaum Yahudi—maskilim—untuk menerima filsafat agama Pencerahan. Yudaisme sendiri tidak memiliki obsesi doktrinal sekuat Kristen Barat; ajarannya lebih sejalan dengan agama rasional Pencerahan, meski tetap menerima mukjizat dan campur tangan Tuhan. Dalam Morning Hours, Tuhan filosofis Mendelssohn mirip Tuhan Alkitab: personal, bukan abstraksi metafisik. Semua watak manusia tertinggi—kebijaksanaan, kebaikan, keadilan, cinta, akal—dapat diterapkan pada Wujud Tertinggi.
Namun, Tuhan Mendelssohn menjadi sangat mirip manusia era Pencerahan: dingin, kurang menunjukkan kasih, mengabaikan paradoks dan ambiguitas pengalaman keagamaan. Ia memandang kehidupan tanpa Tuhan tidak bermakna, tetapi puas dengan pengetahuan rasional tentang Tuhan. Kebaikan Tuhan menjadi tiang teologinya; wahyu saja tidak cukup karena banyak orang tidak termasuk dalam rencana Tuhan. Filsafatnya lebih bersandar pada akal sehat daripada kemampuan intelektual terbatas elit filosofis, tetapi berisiko membuat Tuhan tampak berkompromi dengan prasangka manusia.
Ketika Phaedon diterbitkan (1767), pembelaan filosofisnya atas keabadian jiwa diterima positif oleh kaum non-Yahudi dan Kristen. Pastor muda Swiss Johann Caspar Lavater menulis bahwa pengarang siap berpindah ke Kristen, menantang Mendelssohn mempertahankan Yudaisme. Meski tak mendukung konsep bangsa pilihan atau tanah dijanjikan, ia harus menyeimbangkan antara mempertahankan Yudaisme dan menghindari amarah Kristen. Seperti deis lain, ia menilai wahyu hanya valid jika kebenarannya dapat dibuktikan akal; doktrin Trinitas tidak memenuhi kriteria ini. Yudaisme bersifat natural, dapat dipahami oleh akal semata, dan hukum diturunkan untuk menumbuhkan pengertian benar tentang Tuhan dan menghindari keberhalaan, diakhiri dengan permohonan toleransi.
Pengaruh Mendelssohn terhadap Yahudi kalah dibanding Immanuel Kant (Critique of Pure Reason, 1781). Kant mendefinisikan Pencerahan sebagai “pembebasan manusia dari keterkungkungan diri sendiri” atau bergantung pada autoritas eksternal. Jalan menuju Tuhan terletak pada kesadaran moral mandiri atau “akal praktis”. Ia menghilangkan banyak perangkap agama—autoritas dogmatik, doa, ritual—yang menghalangi manusia mengandalkan kekuatan sendiri. Kant tidak menentang Tuhan per se; ia berpendapat argumen tradisional tentang eksistensi Tuhan tidak bermanfaat karena pikiran terbatas pada ruang dan waktu. Namun, manusia memiliki kecenderungan mencari prinsip kesatuan yang memberi visi realitas koheren: Tuhan.
Bukti eksistensi Tuhan tidak logis, tetapi mustahil ditafsirkan nihil; gagasan Tuhan penting sebagai batas ideal yang memampukan manusia memahami dunia. Bagi Kant, Tuhan adalah kemudahan yang bisa disalahgunakan: wujud Mahabijaksana bisa menggagalkan upaya ilmiah atau mendorong ketergantungan deus ex machina. Tuhan juga bisa menjadi sumber mistifikasi yang menimbulkan konflik sejarah gereja. Kant bukan ateis; ia digambarkan saleh dan sadar kapasitas manusia untuk berbuat jahat. Dalam Critique of Practical Reason, Tuhan berperan sebagai pengatur yang memberi balasan moral, sehingga inti agama bukan misteri Tuhan, melainkan manusia itu sendiri. Tuhan menjadi strategi moral, bukan sebab semua wujud.
Kant termasuk yang pertama di Barat meragukan bukti tradisional eksistensi Tuhan, menunjukkan bukti-bukti itu tidak meyakinkan dan tak lagi cukup bagi akal.
Namun, hal ini tampaknya memberi kebebasan bagi sebagian orang Kristen yang percaya bahwa Tuhan menutup satu jalan keimanan untuk membuka jalan lain. Dalam A Plain Account of Genuine Christianity, John Wesley (1703–1791) menulis:
“Kadang-kadang saya nyaris percaya bahwa kebijaksanaan Tuhan, dalam beberapa era terakhir, telah mengizinkan bukti eksternal Kristen sedikit tersumbat dan terhambat demi tujuan ini, bahwa manusia (khususnya yang berpikir) tidak boleh berhenti di sana, tetapi mesti berupaya melihat ke dalam diri sendiri dan mengikuti cahaya yang memancar dari hati mereka.”
Bentuk keberagamaan baru ini, yang disebut “agama hati”, berkembang seiring rasionalisme Pencerahan. Meski berpusat pada hati daripada kepala, agama ini memiliki kesamaan dengan Deisme, mengajak manusia meninggalkan bukti dan autoritas eksternal untuk menemukan Tuhan dalam hati, yang dapat dijangkau semua orang.
Seperti kaum deis, para pengikut Wesley atau Count Nikolaus Ludwig von Zinzendorf (1700–1760) merasa bahwa mereka meninggalkan hasil perkembangan berabad-abad dan kembali kepada Kristus yang “sederhana” dan “asli”, seperti Kristus generasi pertama.
John Wesley adalah seorang Kristen taat. Saat masih murid di Lincoln College, Oxford, ia dan saudaranya, Charles, mendirikan persekutuan mahasiswa bernama Holy Club. Klub ini menekankan metode dan disiplin, sehingga anggotanya dikenal sebagai kaum Metodis. Pada 1735, John dan Charles berlayar ke koloni Georgia di Amerika sebagai misionaris, namun John kembali dua tahun kemudian karena merasa tidak puas. Ia menulis:
“Aku pergi ke Amerika untuk mengonversi orang-orang Indian, tapi, oh, siapakah yang akan mengonversi diriku?”
Selama perjalanan itu, kedua Wesley bersaudara terkesan pada misionaris sekte Moravia, yang meninggalkan semua doktrin dan mengajarkan bahwa agama adalah urusan hati semata. Pada 1738, John mengalami konversi selama pertemuan Moravia di gereja kecil di Jalan Aldersgate, London, yang meyakinkannya telah menerima misi dari Tuhan untuk menyiarkan bentuk Kristen baru ini di seluruh Inggris. Ia dan pengikutnya kemudian berdakwah ke kelas pekerja dan petani di pasar dan ladang.
Pengalaman “terlahir kembali” sangat penting. Seorang Kristen harus merasakan:
“Tuhan terus-menerus menapasi, sebagaimana adanya, jiwa manusia, mengisi seorang Kristen dengan cinta abadi dan penuh kasih kepada Tuhan, yang membuat cinta kepada setiap anak Tuhan dengan kebaikan, kelembutan, dan penderitaan panjang menjadi sesuatu yang alamiah dan diperlukan.”
Dalam agama hati, doktrin tentang Tuhan menjadi keadaan emosional batin. Pengalaman emosional dianggap bukti kebenaran keyakinan dan keselamatan, sebagaimana dalam Puritanisme. Namun, mistisisme universal ini bisa berbahaya. Kaum mistik menekankan kesulitan jalan spiritual dan memperingatkan agar tidak jatuh dalam histeria. Kristen yang Terlahir-Kembali bisa memicu keriuhan, seperti ekstasi kasar para penganut Quaker dan Shaker, atau membawa keputusasaan, seperti yang dialami penyair William Cowper (1731–1800), yang menjadi gila karena merasa tidak terselamatkan.
Count von Zinzendorf, penyantun komunitas keagamaan di Saxony, berpendapat serupa dengan Wesley:
“Iman bukan berada dalam pikiran ataupun kepala, melainkan di dalam hati, seberkas cahaya yang menerangi hati.”
Para akademisi bisa terus “berceloteh tentang misteri Trinitas”, tetapi makna doktrin bukan hubungan antar-oknum, melainkan maknanya bagi kita. Inkarnasi mengungkap misteri kelahiran baru seorang penganut Kristen, ketika Kristus menjadi “Raja di dalam hati.”
Bentuk spiritualitas emotif ini juga muncul dalam gereja Katolik Roma melalui devosi kepada Hati Kudus Yesus, yang tetap bertahan meski ditentang Jesuit karena dianggap sentimental. Banyak gereja Katolik Roma memasang patung Kristus bertelanjang dada untuk memamerkan hati-Nya yang bersinar dikelilingi kobaran api, sebagaimana dialami Marguerite-Marie Alacogue (1647–1690) di Biara Parayle-Monial, Prancis. Patung ini berbeda jauh dari figur abrasif dalam Injil.
Dalam ratapan ibadinya, Marguerite-Marie menunjukkan bahaya berkonsentrasi pada hati sambil mengesampingkan akal. Pada 1682, ia mengenang kehadiran Yesus empat puluh hari sebelum Paskah: seluruh tubuh-Nya penuh luka dan memar, darah-Nya mengucur di semua bagian tubuh. Yesus berseru dengan sedih:
“Tak adakah seseorang yang mengasihani dan berbela rasa dengan-Ku, dan turut menanggung derita-Ku, dalam keadaan menyedihkan yang diakibatkan oleh para pendosa kepada-Ku, khususnya pada saat seperti ini?”







Comments (0)