Buku Bahasa Indonesia Karen Amstrong: Sejarah Tuhan
Sejak saat itu, tak ada lagi yang berada pada tempatnya semula. Bahkan, ketiga sefiroth tertinggi jatuh ke tataran yang lebih rendah sebagai akibat dari bencana tersebut. Harmoni asal telah runtuh dan percikan api Tuhan melesap ke bumi tak berbentuk, tohu u-bohu, terasing dari Tuhan Tertinggi. Mitos aneh ini mengingatkan kembali pada mitos-mitos Gnostis terdahulu tentang dislokasi primordial. Mitos ini juga mengungkapkan ketegangan yang terdapat dalam seluruh proses penciptaan, yang lebih dekat dengan konsep ledakan Besar para ilmuwan modern daripada dengan urutan tertib yang digambarkan Kitab Kejadian.
Tidak mudah bagi En Sof untuk muncul dari keadaan tersembunyinya: itu hanya bisa dilakukannya secara coba-coba. Dalam Talmud, para rabi menemukan gagasan yang sama. Mereka mengatakan bahwa Tuhan telah menciptakan dunia-dunia lain dan menghancurkannya sebelum menciptakan dunia yang ini. Namun, tidak semuanya hilang. Sebagian Kabbalis membandingkan “pemecahan” (Shevirath) ini dengan retaknya telur yang akan menetas atau merekahnya benih yang akan tumbuh. Kehancuran ini merupakan pendahuluan bagi sebuah ciptaan baru. Meskipun segalanya tampak tidak teratur, En Sof akan menghadirkan kehidupan baru dari kekacauan yang nyata ini melalui proses Tikkun atau reintegrasi.
Setelah bencana, arus cahaya baru memancar dari En Sof dan menembus “kening” Adam Kadmon. Kali ini, sefiroth disusun kembali ke dalam konfigurasi baru, tidak lagi sebagai aspek-aspek umum tentang Tuhan. Masing-masingnya menjadi “Wajah” (parzuf) yang mengungkapkan seluruh personalitas Tuhan, dengan ciri-ciri yang khas, hampir seperti tiga personae Trinitas.
Luria berupaya menemukan cara baru untuk mengungkapkan ide Kabbalistik lama tentang Tuhan yang tak terjangkau melahirkan dirinya sendiri sebagai sesosok manusia. Dalam proses Tikkun, Luria memakai simbolisme kehamilan, kelahiran, dan pertumbuhan seorang manusia untuk menggambarkan evolusi serupa yang terjadi di dalam Tuhan. Evolusi ini sangat rumit dan barangkali jalan terbaik untuk menjelaskannya adalah secara diagramatik.
Dalam reintegrasi Tikkun, Tuhan memulihkan ketertiban dengan mengelompokkan kembali kesepuluh sefiroth menjadi lima “Wajah” (parzufim) dalam urutan berikut:
-
Kether (Mahkota), sefirah tertinggi, yang disebut Zohar sebagai “Tiada”, menjadi parzuf pertama, dinamakan “Arik” Anpin: Yang Melahirkan.
-
Hokhmah (Kebijaksanaan) menjadi parzuf kedua, disebut Abba: Bapak.
-
Binah (Kecerdasan) menjadi parzuf ketiga, disebut Ima: Ibu.
-
Din (Keputusan); Hesed (Ampunan); Rakhamim (Kasih Sayang); Netsakh (Kesabaran); Hod (Keperkasaan); Yesod (Pendirian), semua menjadi parzuf keempat, disebut Zeir Anpin: Yang Tak Sabar. Pasangannya adalah:
-
Sefiroth terakhir, disebut Malkuth (Kerajaan) atau Shekinah: menjadi parzuf kelima, yang disebut Nugrah de Zeir: Wanita Zeir.
Simbolisme seksual merupakan upaya berani untuk menggambarkan penyatuan kembali sefiroth, yang akan memulihkan keterputusan yang terjadi ketika tabung-tabung bobol dan mengembalikan harmoni asal. Kedua “pasangan”—Abba dan Ima, Zeir dan Nugrah—berpadu dalam ziwwug (pembuahan), dan perkawinan antara unsur lelaki dan perempuan di dalam Tuhan menyimbolkan ketertiban yang telah dipulihkan.
Kaum Kabbalis tak henti-hentinya memperingatkan para pembacanya untuk tidak memahami hal ini secara harfiah. Ini merupakan fiksi yang dirancang untuk merujuk pada proses integrasi yang tidak bisa digambarkan dalam terma yang jelas dan rasional dan untuk menetralkan tamsil yang terlalu maskulin tentang Tuhan.
Penyelamatan yang dibayangkan kaum mistik tidak bergantung pada peristiwa-peristiwa historis seperti kedatangan Mesiah, tetapi merupakan proses yang harus dijalani Tuhan sendiri. Rencana awal Tuhan adalah menjadikan manusia sebagai penolongnya dalam proses penebusan percikan ilahi yang terserak dan terperangkap di dalam kekacauan pada saat Pemecahan Tabung.
Namun, Adam telah melakukan dosa ketika berada di Taman Firdaus. Seandainya itu tidak terjadi, harmoni asal akan kembali pulih dan keterasingan ilahi akan berakhir pada hari Sabtu pertama. Akan tetapi, kejatuhan Adam mengulangi bencana primal Pemecahan Tabung. Tatanan makhluk tercampak, cahaya Ilahi di dalam jiwanya terserak keluar dan terpenjara di dalam materi.
Sebagai akibatnya, Tuhan mengembangkan rencana yang lain. Dia memilih Israel untuk menjadi penolongnya dalam perjuangan demi meraih kedaulatan dan kendali. Meskipun Israel, sebagaimana percikan api ilahi itu sendiri, terserak di berbagai diaspora yang kejam dan tak bertuhan, orang Yahudi memiliki misi istimewa. Selama percikan ilahi terpisah dan tersesat di dalam materi, Tuhan menjadi tidak sempurna. Dengan menaati Taurat secara saksama dan tekun dalam berdoa, setiap orang Yahudi dapat membantu mengembalikan percikan itu ke sumber ilahinya dan dengan demikian menyelamatkan dunia.
Dalam visi penyelamatan ini, Tuhan tidak turun kepada manusia namun, sebagaimana selalu diyakini oleh orang Yahudi, Tuhan sebenarnya bergantung pada umat manusia. Orang Yahudi memiliki hak istimewa untuk membantu membentuk kembali Tuhan dan memperbaruinya.
Luria memberi makna baru pada gambaran awal tentang keterasingan Shekinah. Dapat diingat kembali bahwa di dalam Talmud, para rabi melihat Shekinah secara sukarela pergi ke pengasingan bersama kaum Yahudi setelah peristiwa penghancuran Kuil. Zohar telah mengidentifikasi Shekinah sebagai sefirah terakhir dan menjadikannya sebagai aspek feminin Tuhan.
Di dalam mitos Luria, Shekinah jatuh bersama sefiroth lain ketika Tabung-tabung terpecah. Dalam tahap pertama Tikkun, Shekinah menjadi Nugrah dan melalui perkawinan dengan Zeir (enam sefiroth “Tengah”), dia nyaris berhasil dipadukan kembali ke alam ilahi. Namun ketika Adam melakukan dosa, Shekinah jatuh sekali lagi dan terasing dari Tuhan Tertinggi.
Luria hampir pasti tidak pernah bersentuhan dengan tulisan-tulisan kaum Kristen Gnostik yang telah mengembangkan mitologi yang sangat mirip. Dia secara spontan menggunakan mitos kuno tentang keterasingan dan kejatuhan untuk menjawab kebutuhan kondisi tragis abad keenam belas. Kisah tentang kopulasi ilahi dan dewi-dewi yang terusir telah ditolak oleh kaum Yahudi periode biblikal, ketika mereka mengembangkan doktrin tentang Tuhan Yang Esa.
Keterkaitannya dengan paganisme dan keberhalaan tentu secara logis tak disenangi orang-orang Sephardim. Akan tetapi, mitologi Luria disambut hangat oleh kaum Yahudi di Persia hingga Inggris, Jerman hingga Polandia, Italia hingga Afrika Utara, Belanda hingga Yaman: jika diungkapkan dalam terma Yahudi, mitologi itu mampu menyentuh sebuah perasaan yang terpendam dan memberi harapan baru di tengah keputusasaan.
Mitologi itu membuat orang-orang Yahudi bisa mempercayai bahwa di tengah keadaan mengenaskan yang menimpa sebagian besar mereka, masih dapat ditemukan sebuah arti dan tujuan akhir. Orang Yahudi dapat mengakhiri keterasingan Shekinah. Dengan cara menunaikan mitzvot, mereka dapat membangun kembali Tuhan mereka.
Adalah menarik untuk membandingkan mitos ini dengan teologi Protestan yang diciptakan Luther dan Calvin di Eropa pada masa yang sama. Kedua pembaru Protestan ini mengajarkan tentang kedaulatan mutlak Tuhan: dalam teologi mereka, seperti yang akan kita saksikan, manusia sama sekali tak bisa berkontribusi terhadap penyelamatan diri mereka sendiri.
Akan tetapi, Luria menyebarkan doktrin tentang kerja: Tuhan membutuhkan manusia dan akan menjadi kurang sempurna tanpa doa dan amal baik mereka. Di tengah tragedi yang menimpa kaum Yahudi di Eropa, mereka mampu untuk bersikap lebih optimis tentang kemanusiaan dibanding orang Protestan.
Luria memandang misi Tikkun dalam cara yang kontemplatif. Ketika Kristen Eropa—Katolik maupun Protestan—merumuskan semakin banyak dogma, Luria justru membangkitkan teknik-teknik mistikal Abraham Abulafia untuk membantu kaum Yahudi melampaui bentuk aktivitas intelektual ini dan menanamkan kesadaran yang lebih intuitif.
Penyusunan ulang huruf-huruf dari Nama Tuhan, dalam spiritualitas Abulafia, telah mengingatkan kaum Kabbalis bahwa arti kata “Tuhan” tidak bisa secara memadai disampaikan oleh bahasa manusia. Dalam mitologi Luria, ini juga melambangkan restrukturisasi dan perumusan ulang konsep ketuhanan.
Baca Juga: [Buku Bahasa Indonesia] Cosmos - Carl Sagan
Hayyim Vital menggambarkan pengaruh emosional yang sangat besar dalam disiplin-disiplin yang dianjurkan Luria: melalui pemisahan diri dari pengalaman normal keseharian—dengan tetap terjaga ketika orang lain tidur lelap, berpuasa di saat orang lain makan, mengasingkan diri untuk sementara—seorang Kabbalis dapat memusatkan pikirannya pada “kata-kata” aneh yang tidak ada kaitannya dengan bahasa biasa. Dia akan merasa berada di sebuah dunia yang lain, gemetar dan berguncang seakan-akan ditaklukkan oleh kekuatan yang berasal dari luar dirinya.
Namun, di sini tidak terdapat ancaman yang mencemaskan. Luria mengajarkan bahwa seorang Kabbalis harus menenangkan pikiran sebelum memulai latihan-latihan spiritualnya. Kebahagiaan dan kegembiraan itu penting: tak boleh ada rasa tercekam atau penyesalan, rasa bersalah atau cemas dalam pelaksanaannya.
Vital mengajarkan bahwa Shekinah tidak dapat tinggal di sebuah tempat yang berisi kesedihan dan penderitaan—suatu gagasan yang telah kita lihat berakar di dalam Talmud. Kesedihan terbit dari kekuatan jahat di dalam dunia, sedangkan kegembiraan mampu membuat seorang Kabbalis mencintai Tuhan dan melingkupinya. Di dalam hati seorang Kabbalis tak boleh ada kemarahan terhadap siapa pun—bahkan terhadap goyim. Luria menyamakan kemarahan dengan keberhalaan, sebab seorang yang marah berarti ditaklukkan oleh suatu “dewa asing”.
Memang mudah untuk melontarkan kritik terhadap mistisisme Lurianis. Seperti yang dikemukakan oleh Gershom Scholem, misteri Tuhan En Sof, yang digambarkan sangat kuat di dalam Zohar, bisa terhapus di dalam drama tsimtsum, Pemecahan Tabung, dan Tikkun.© Pada bab berikut, akan kita saksikan bahwa mistisisme ini berkontribusi terhadap episode yang membawa bencana dan memalukan dalam sejarah Yahudi. Sekalipun demikian, konsepsi ketuhanan Luria telah mampu menolong orang-orang Yahudi menanamkan semangat kegembiraan dan kebaikan, serta pandangan positif tentang kemanusiaan pada saat rasa bersalah dan kemarahan kaum Yahudi telah membuat banyak di antara mereka berputus asa dan kehilangan kepercayaan untuk tetap hidup.
Orang Kristen Eropa tidak mampu menghasilkan spiritualitas positif semacam itu. Mereka juga telah mengalami bencana historis yang tidak bisa dilipur oleh agama filosofis kaum skolastik. Wabah hitam tahun 1348, kejatuhan Konstantinopel pada 1453, skandal eklesiastikal Avignon Captivity (1334-42), dan Perpecahan Besar (1378-1417) telah menampakkan dengan jelas ketakberdayaan kondisi manusia dan menjatuhkan reputasi gereja. Manusia tampaknya tidak mampu melepaskan dirinya sendiri dari nasib yang menakutkan tanpa pertolongan Tuhan.
Oleh karena itu, selama abad keempat belas dan kelima belas, para teolog semacam Duns Scotus dari Oxford (1265-1308—jangan disamakan dengan Duns Scotus Erigena) dan teolog Prancis Jean de Gerson (1363-1429) menekankan kedaulatan Tuhan, yang mengendalikan urusan manusia sekeras seorang penguasa absolut. Manusia tak bisa berkontribusi apa pun bagi penyelamatan diri mereka sendiri: perbuatan baik tidak memiliki nilai kebaikan dalam dirinya sendiri, tetapi hanya karena Tuhan secara murah hati telah menetapkannya sebagai kebaikan.
Namun demikian, selama beberapa abad ini juga terjadi pergeseran penekanan. Gerson sendiri adalah seorang mistikus yang percaya bahwa lebih baik “berpegang teguh kepada cinta Tuhan tanpa banyak bertanya” daripada “berusaha memahami hakikat Tuhan melalui nalar yang didasarkan pada iman sejati”. Mistisisme sedang naik daun di Eropa selama abad keempat belas, seperti yang telah kita saksikan, dan orang-orang mulai mengapresiasi bahwa akal tidak mampu menjelaskan misteri yang mereka sebut “Tuhan”.
Seperti yang dikatakan oleh Thomas à Kempis di dalam The Imitation of Christ:
Apa manfaatnya memperdalam pembahasan tentang Trinitas, jika engkau tak punya kerendahan hati dan karena itu menyusahkan Trinitas? Aku lebih baik bertobat daripada mampu mendefinisikannya. Seandainya hatimu telah menguasai seluruh isi Alkitab, dan semua ajaran para filosof, bisakah semua itu menolongmu tanpa rahmat dan cinta Tuhan?
The Imitation of Christ, dengan religiositasnya yang agak muram, menjadi salah satu buku klasik spiritual terpopuler di Barat. Selama abad-abad ini, peribadatan semakin berpusat pada Yesus sebagai manusia. Praktik perenungan tahap-tahap penyaliban terkonsentrasi pada perincian partikular derita dan sengsara fisik Yesus. Beberapa meditasi abad keempat belas yang ditulis oleh pengarang anonim mengajarkan kepada pembaca bahwa ketika bangun di pagi hari, setelah semalam suntuk merenungi Jamuan Terakhir, matanya harus masih merah karena menangis. Segera setelah itu, dia harus mulai merenungkan pengadilan Yesus dan mengikuti langkahnya hingga ke Kalvari, jam demi jam. Pembaca diajak untuk membayangkan dirinya memohon kepada pihak berwenang untuk menyelamatkan nyawa Yesus, duduk bersamanya di dalam penjara, dan mencium tangan dan kakinya yang dirantai.
Dalam kegiatan yang suram ini, tak banyak penekanan pada soal Kebangkitan, tetapi lebih pada kemanusiaan Yesus yang rentan. Emosi yang kuat dan apa yang mengejutkan pembaca modern sebagai keingintahuan yang tidak wajar menjadi ciri sebagian besar deskripsi ini. Bahkan, mistikus besar Bridget dari Swedia atau Julian dari Norwich berspekulasi dengan perincian dramatis tentang keadaan fisik Yesus:
Kulihat wajahnya yang halus, kering, tanpa darah, dan pucat karena kematian. Dia menjadi semakin pucat, mati, dan tak bernyawa. Lalu, jasad itu berubah membiru, dan lambat laun berubah menjadi biru pucat seperti daging yang berada di ambang kebusukan. Bagiku, kebahagiaannya terpancar terutama melalui wajahnya yang diberkati, dan lebih khusus lagi melalui bibirnya. Di sana juga aku melihat empat warna yang sama, walaupun sebelumnya, seperti kusaksikan sendiri, dia tampak segar, merekah, dan indah. Sungguh menyedihkan melihatnya berubah seiring kematiannya. Cuping hidungnya juga layu dan mengering di depan mataku, dan tubuhnya yang terkasih menjadi hitam dan cokelat karena mengering di dalam kematian.
Perincian ini mengingatkan kita pada patung-patung salib Jerman abad keempat belas dengan bentuk badan meliuk lemah dan berlumur darah, yang mencapai puncaknya, tentu saja, pada karya Matthias Grünewald (1480-1528). Julian mampu menatap jauh ke dalam hakikat Tuhan: dia menggambarkan Trinitas hidup di dalam jiwa dan bukan sebagai realitas yang berada “di luar sana,” bagaikan seorang mistikus sejati.
Akan tetapi, daya konsentrasi Barat terhadap manusia Yesus tampaknya terlalu kuat untuk dibendung. Selama abad keempat belas dan kelima belas, orang Eropa malah menjadikan manusia lain, bukannya Tuhan, sebagai pusat kehidupan spiritual mereka. Kultus Abad Pertengahan terhadap Maria dan orang-orang suci meningkat seiring dengan tumbuhnya kesetiaan terhadap manusia Yesus. Antusiasme terhadap benda-benda keramat dan tempat-tempat suci juga telah mengalihkan perhatian orang Kristen Barat dari sesuatu yang lebih penting. Mereka justru semakin menjauhkan perhatian mereka dari Tuhan.
Sisi gelap spirit Barat semakin jelas selama era Renaisans. Para filosof dan humanis era Renaisans sangat kritis terhadap banyak aspek keberagamaan Abad Pertengahan. Mereka sangat tidak menyukai spekulasi musykil kaum skolastik yang, menurut mereka, telah membuat Tuhan menjadi asing dan membosankan. Sebagai gantinya, mereka ingin kembali kepada sumber-sumber keimanan, khususnya kepada St. Agustinus.
Orang Abad Pertengahan menghormati Agustinus sebagai teolog. Akan tetapi, ketika kaum humanis membaca Confessions, mereka mendapati Agustinus sebagai seorang manusia biasa yang tengah berada dalam pencarian pribadi. Menurut mereka, Kristen bukanlah sekumpulan doktrin tetapi sebuah pengalaman. Lorenzo Valla (1407-1457) menekankan kesia-siaan pencampuran dogma suci dengan “liku-liku dialektika” dan “perdebatan metafisik”: “kesia-siaan” ini telah dicela oleh St. Paulus sendiri. Francesco Petrarch (1304-1374) mengemukakan bahwa "teologi adalah puisi aktual, puisi tentang Tuhan,” yang menjadi efektif bukan karena “telah membuktikan” sesuatu melainkan karena langsung menembus hati.
Kaum humanis telah menemukan kembali martabat manusia, tetapi ini tidak membuat mereka mengingkari Tuhan: alih-alih, sebagai manusia sejati di masanya, mereka menekankan kemanusiaan Tuhan yang telah menjadi manusia. Namun demikian, bahaya klasik itu ternyata masih tetap ada. Orang-orang di zaman Renaisans amat menyadari kerapuhan pengetahuan kita dan juga menaruh simpati terhadap rasa berdosa Agustinus yang akut. Seperti yang dikatakan oleh Petrarch:
Telah berkali-kali aku merenungkan kesengsaraan dan kematianku sendiri, dengan linangan air mata, aku berusaha mencuci semua dosaku agar aku bisa membicarakannya tanpa menangis, namun hingga kini semuanya sia-sia. Sesungguhnya Tuhan adalah yang terbaik: aku adalah terburuk.
Dengan demikian, terdapat jurang yang jauh antara manusia dengan Tuhan: Coluccio Salutati (1331-1406) dan Leonardo Bruni (1369-1444) pun memandang Tuhan sebagai sangat transenden dan tak terjangkau oleh pikiran manusia.
Sungguhpun demikian, filosof dan pastor Jerman, Nicholas dari Cusa (1401-1464), lebih yakin akan kemampuan kita untuk memahami Tuhan. Dia sangat tertarik pada sains baru, yang menurutnya, akan membantu kita memahami misteri Trinitas. Matematika, misalnya, yang hanya berurusan dengan abstraksi-abstraksi murni, bisa memberikan kepastian yang mustahil dalam disiplin ilmu yang lain. Gagasan matematis tentang “yang maksimum" dan “yang minimum" jelas saling bertentangan, namun pada kenyataannya dapat secara logis dipandang identik.
Baca Juga: Lighten PDF Converter OCR 6.1.1 Full Version
“Perpaduan dua kutub yang berlawanan” ini mengandung gagasan tentang Tuhan: gagasan tentang “yang maksimum” mencakup segala sesuatu; ia mengimplikasikan pandangan tentang kesatuan dan kepastian yang secara langsung mengarah kepada Tuhan. Kemudian, garis maksimum bukanlah segitiga, lingkaran, atau bidang, tetapi gabungan ketiganya: kesatuan dari hal-hal yang berlawanan juga merupakan sebuah Trinitas.
Akan tetapi, pembuktian cerdas dari Nicholas ini tidak memiliki banyak nilai religius. Pembuktian ini mereduksi ide tentang Tuhan menjadi sebuah teka-teki logika. Akan tetapi, keyakinannya bahwa “Tuhan mencakup segala sesuatu, bahkan yang kontradiksi” mirip dengan persepsi Ortodoks Yunani bahwa semua teologi yang benar mestilah bersifat paradoks.
Ketika menulis sebagai seorang guru spiritual, bukan sebagai filosof dan matematikawan, Nicholas menyadari bahwa seorang Kristen harus “mencampakkan segala sesuatu” jika dia bermaksud mendekati Tuhan, dan bahkan “meninggalkan akal” untuk melampaui semua indra dan nalar. Wajah Tuhan tetap tersembunyi dalam "rahasia dan keheningan mistik.”
Pandangan-pandangan baru era Renaisans tidak bisa menjawab ketakutan yang lebih mendalam yang, sebagaimana Tuhan, berada di luar jangkauan akal. Tak lama berselang setelah kematian Nicholas, tersebar ketakutan yang mencekam di negeri asalnya, Jerman, dan di seluruh Eropa.
Pada 1484, Paus Innocent VIII menerbitkan Summa Desiderantes, yang menandai awal dari kegilaan terhadap sihir yang merebak secara sporadis di seluruh Eropa selama abad keenam belas dan ketujuh belas di kalangan komunitas Protestan maupun Katolik. Peristiwa ini kembali menyingkapkan sisi gelap spirit Barat.
Selama penyiksaan terselubung ini, ribuan pria dan wanita disiksa dengan kejam hingga mereka mengaku telah melakukan kejahatan yang mencengangkan. Mereka dikatakan telah berhubungan kelamin dengan setan-setan, terbang ribuan mil di angkasa untuk ikut serta dalam pesta-pesta orgi yang menyembah setan, bukannya Tuhan, di dalam Misa yang cabul. Kini, kita mengetahui bahwa sihir itu tidak ada, tetapi kegilaan itu mewakili fantasi kolektif yang sama-sama diyakini oleh para Inkuisitor yang terpelajar maupun para korbannya yang malang. Mereka mengimpikan hal-hal semacam itu dan dengan mudah terbujuk untuk meyakini bahwa hal itu memang betul-betul ada.
Fantasi itu terkait dengan anti-Semitisme dan kecemasan seksual yang mendalam. Setan muncul sebagai bayangan Tuhan yang baik dan berkuasa, namun mustahil untuk didekati. Ini tidak terjadi di dalam agama-agama ketuhanan lainnya. Al-Quran, misalnya, menyatakan dengan jelas bahwa setan akan diampuni di hari Kiamat. Beberapa kaum sufi mengklaim bahwa setan terusir dari surga karena mencintai Tuhan melebihi malaikat-malaikat yang lain. Tuhan telah memerintahkan setan untuk bersujud kepada Adam pada hari penciptaan, tetapi setan menolak karena berkeyakinan bahwa ketundukan seperti itu hanya wajib dilakukan kepada Tuhan semata.
Namun di Barat, setan menjadi figur kejahatan yang tak terkendali. Dia sering digambarkan sebagai binatang raksasa dengan nafsu seksual tak terbendung dan alat kelamin yang besar. Seperti dikemukakan oleh Norman Cohn dalam bukunya Europe's Inner Demons, potret setan seperti ini bukan hanya merupakan proyeksi ketakutan dan kecemasan terpendam. Kegilaan terhadap sihir ini juga menandai desakan pemberontakan bawah sadar terhadap agama yang represif dan Tuhan yang keras. Dalam ruang penyiksaan mereka, para Inkuisitor dan “tukang sihir” sama-sama menciptakan suatu fantasi yang merupakan pembalikan dari agama Kristen. Misa hitam menjadi sebuah upacara menakutkan, tetapi sangat memuaskan, untuk menyembah setan sebagai pengganti Tuhan yang kini tampak kejam dan terlalu menakutkan untuk didekati.
Martin Luther (1483-1546) adalah seorang yang sangat percaya pada sihir dan memandang kehidupan Kristen sebagai peperangan melawan setan. Reformasi dapat dipandang sebagai usaha untuk menjawab kecemasan ini meskipun kebanyakan Reformis tidak mengajukan satu konsepsi yang baru tentang Tuhan. Tentu saja terlalu menyederhanakan jika siklus besar perubahan keagamaan yang terjadi di Eropa selama abad keenam belas itu disebut sebagai “Reformasi”. Istilah itu mengesankan gerakan yang lebih serius dan terpadu dibandingkan dengan yang sebenarnya terjadi.
Banyak Reformis—Katolik maupun Protestan—berusaha mengartikulasikan kesadaran keagamaan baru yang mereka rasakan dengan kuat, tetapi belum dikonseptualisasi atau dipikirkan secara sadar. Kita tidak mengetahui secara persis mengapa “Reformasi” itu terjadi: para pakar zaman sekarang memperingatkan kita untuk tidak menerima begitu saja penjelasan dalam buku teks lama. Perubahan-perubahan itu tidak sepenuhnya disebabkan oleh kebobrokan gereja atau kemerosotan semangat keagamaan. Sebaliknya, justru terdapat antusiasme keagamaan di Eropa yang mendorong orang untuk mengkritik berbagai pelanggaran yang sebelumnya dibiarkan terjadi.
Semua ide aktual kaum Reformis berpangkal dari teologi Katolik Abad Pertengahan. Kebangkitan nasionalisme dan kota-kota di Jerman dan Swiss juga ikut berperan, demikian pula kesalehan dan kesadaran teologis baru di kalangan awam selama abad keenam belas. Di Eropa juga terjadi kebangkitan individualisme yang terkait dengan perubahan radikal perilaku keagamaan saat itu. Mereka tak lagi mengungkapkan keimanan mereka secara kolektif dan lahiriah, tetapi mulai menjelajahi konsekuensi batiniah agama. Semua faktor ini berpengaruh terhadap perubahan berat dan besar yang mendorong Barat ke arah modernitas.
Sebelum konversinya, Luther nyaris berputus asa akan kemungkinan untuk menyenangkan Tuhan yang lambat laun mulai dibencinya:
Meski aku menjalani kehidupan tanpa dosa sebagai seorang biarawan, aku tetap merasa sebagai pendosa dengan kesadaran yang gelisah di hadapan Tuhan. Aku pun tak bisa percaya bahwa aku telah menyenangkannya dengan amal-amalku. Bukannya mencintai Tuhan yang akan menghukum pelaku dosa, aku justru menentangnya. Aku seorang biarawan yang baik, dan berpegang pada ordo begitu teguh sehingga jika seorang biarawan bisa naik ke surga melalui disiplin monastik, akulah sang biarawan itu. Semua rekanku di biara menjadi saksi atas hal ini. Namun demikian, nuraniku tak mau memberi kata pasti, aku selalu ragu-ragu dan berkata, “Engkau tidak mengerjakannya dengan benar. Pertobatanmu belum cukup. Engkau sendiri mengakuinya.”
Banyak orang Kristen—Katolik maupun Protestan—pada masa sekarang masih merasakan gejala seperti ini, yang tidak bisa dihilangkan sepenuhnya oleh Reformasi. Tuhan dalam konsepsi Luther dicirikan oleh kemurkaan. Tak ada pendeta, nabi, atau pemazmur yang mampu menanggung kemurkaan Tuhan. Tak ada gunanya mencoba “mengusahakan yang terbaik”. Karena Tuhan itu abadi dan mahakuasa, maka “kemurkaan dan kemarahannya terhadap pendosa yang memperturutkan hawa nafsunya juga tak terukur dan tak terbatas.” Kehendaknya sudah menjadi takdir. Kepatuhan pada hukum Tuhan atau aturan-aturan ordo keagamaan tidak bisa menyelamatkan kita. Bahkan, hukum itu hanya dapat menimbulkan rasa bersalah dan teror, karena memperlihatkan ketidaklayakan kita. Alih-alih membawa pesan tentang harapan, hukum itu mengungkapkan “kemurkaan Tuhan, dosa, kematian, kutukan dalam tatapan Tuhan.”
Terobosan pribadi Luther muncul ketika dia merumuskan doktrinnya tentang justifikasi. Manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Tuhanlah yang menyediakan segala yang dibutuhkan untuk "justifikasi"—pemulihan hubungan antara si pendosa dan Tuhan. Tuhan aktif sedangkan manusia pasif. “Amal baik” dan ketaatan kita pada hukum bukanlah penyebab dari justifikasi kita, tetapi hanya merupakan hasilnya. Kita mampu menunaikan ajaran agama hanya karena Tuhan telah menolong kita. Inilah apa yang dimaksud Paulus dengan frase “justifikasi oleh keimanan”.
Tidak ada yang baru dalam teori Luther: ini telah menjadi pandangan umum di Eropa sejak permulaan abad keempat belas. Namun, begitu Luther memahaminya dan menjadikannya sebagai pandangannya sendiri, dia merasa kecemasannya berhasil dihilangkan. Penyingkapan yang terjadi “membuatku merasa seperti terlahir kembali, dan seakan-akan aku telah memasuki gerbang terbuka menuju surga.”
Sungguhpun demikian, dia tetap sangat pesimistik terhadap watak manusia. Pada tahun 1520, dia mengembangkan apa yang disebutnya sebagai Teologi Salib. Dia mengambil frase itu dari Paulus, yang berkata kepada jemaat di Korintus bahwa salib Kristus telah membuktikan “yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia.” Tuhan menjustifikasi “pendosa” yang, menurut standar kemanusiaan murni, hanya layak untuk dihukum. Kekuatan Tuhan terungkap dalam apa yang dianggap sebagai kelemahan dalam pandangan manusia.
Jika Luria mengajarkan para Kabbalisnya bahwa Tuhan hanya bisa ditemukan di dalam kebahagiaan dan ketenteraman, Luther mengatakan bahwa “Tuhan hanya bisa ditemukan di dalam penderitaan dan Salib.” Dari pendapat ini, dia mengembangkan polemik menentang skolastisisme. Dia membedakan antara teolog palsu, yang memamerkan kecerdasan manusia dan “memandang apa-apa yang gaib dari Tuhan seakan-akan bisa dipersepsikan dengan jelas”, dari teolog sejati yang “memahami apa-apa yang terlihat dan berwujud dari Tuhan melalui penderitaan dan Salib”.
Doktrin Trinitas dan Inkarnasi tampaknya meragukan jika dilihat dari cara perumusannya oleh para Bapa gereja: kompleksitasnya menyiratkan “teologi kemuliaan” yang palsu. Namun, Luther tetap setia pada ortodoksi Nicaea, Efesus, dan Chalcedon. Bahkan, teorinya tentang justifikasi bersandar pada keilahian Kristus dan status Trinitariannya. Doktrin-doktrin tradisional tentang Tuhan ini sudah mengakar terlalu kuat di dalam pengalaman Kristen sehingga sulit bagi Luther maupun Calvin untuk mengutakatiknya.
Akan tetapi, Luther menolak formulasi rumit para teolog palsu. “Apa masalahnya buat saya?” tanyanya, ketika dia berhadapan dengan doktrin-doktrin Kristologis yang kompleks; yang perlu diketahuinya hanyalah apakah Kristus betul-betul merupakan Penyelamat bagi dirinya.
Luther bahkan meragukan kemungkinan untuk membuktikan keberadaan Tuhan. Satu-satunya “Tuhan” yang mungkin dideduksikan melalui argumen-argumen logis, seperti yang digunakan Thomas Aquinas, adalah Tuhan para filosof pagan. Ketika Luther mengklaim bahwa kita dijustifikasi oleh “iman”, dia sama sekali tidak memaksudkan pengadopsian gagasan yang benar tentang Tuhan. “Iman tidak membutuhkan informasi, pengetahuan, dan kepastian,” demikian dikemukakannya dalam salah satu khotbahnya, “tetapi ketundukan dan pertaruhan sukarela atas kebaikannya yang belum pernah dirasakan, diuji, dan diketahui.”
Luther telah mendahului solusi Pascal dan Kierkegaard atas persoalan keimanan. Iman bukan berarti penegasan atas proposisi sebuah kredo dan juga bukan merupakan “kepercayaan” dalam pandangan ortodoks. Sebaliknya, iman adalah lompatan di dalam kegelapan menuju realitas yang harus diyakini. Iman adalah “sejenis pengetahuan dan kegelapan yang tak bisa melihat apa-apa.” Tuhan, menurut Luther, secara tegas melarang diskusi spekulatif tentang hakikatnya. Upaya untuk mencapai Tuhan dengan menggunakan akal saja bisa berbahaya dan menimbulkan keputusasaan, sebab yang akan kita temukan adalah kekuasaan, kebijaksanaan, dan keadilan Tuhan yang hanya akan mengintimidasi si pendosa.
Daripada melibatkan diri dalam diskusi rasionalistik tentang Tuhan, seorang Kristen lebih baik meraup kebenaran-kebenaran yang diwahyukan dalam kitab suci dan menjadikan kebenaran itu bicara bagi dirinya sendiri. Luther memperlihatkan bagaimana cara melakukan hal ini di dalam kredo yang disusunnya dalam bukunya Small Catechism:
Aku beriman kepada Yesus Kristus, anak Tuhan Bapa sejak semula dan juga manusia yang dilahirkan dari Perawan Maria, adalah Tuhanku: yang telah menebus aku, makhluk yang sesat dan terkutuk, dan membebaskan aku dari semua dosa, dari kematian, dan dari kekuatan setan, bukan dengan emas dan perak tetapi dengan darahnya yang suci dan berharga dan dengan penderitaan maupun kematiannya yang tulus, agar aku menjadi miliknya, hidup di bawah bimbingannya dan di dalam Kerajaannya serta mengabdi kepadanya dalam kebenaran dan berkat abadi, bahkan ketika dia dibangkitkan dari kematian dan berkuasa hingga segenap keabadian.
Luther dididik dalam teologi skolastik, namun kembali ke bentuk keimanan yang sederhana dan memberontak terhadap teologi abad keempat belas yang kering dan tidak bisa menenangkan ketakutannya. Namun, Luther sendiri agak tak jelas ketika, misalnya, berusaha menjelaskan secara tepat bagaimana kita bisa dijustifikasi.
Agustinus, pahlawan bagi Luther, mengajarkan bahwa kebajikan yang dilimpahkan kepada seorang pendosa bukan berasal dari dirinya sendiri tetapi dari Tuhan. Luther sedikit membelokkan ini. Agustinus menyatakan bahwa kebajikan ilahi ini menjadi bagian dari diri kita, sedangkan Luther berkeyakinan bahwa kebajikan itu tetap berada di luar diri si pendosa, tetapi Tuhan menganggapnya seolah-olah merupakan bagian dari diri kita. Secara ironis, Reformasi justru membawa pada kekacauan doktrinal yang lebih besar dan penyebaran doktrin baru sebagai panji-panji berbagai sekte yang sama membingungkan dan lemahnya dengan doktrin yang ingin digantikannya.
Luther mengklaim bahwa dia telah dilahirkan kembali ketika merumuskan doktrinnya tentang justifikasi, namun pada kenyataannya kecemasannya belum sepenuhnya terhapus. Dia masih merupakan seorang yang terusik, pemarah, dan kasar. Semua tradisi agama besar memandang bahwa batu ujian setiap spiritualitas adalah sejauh mana ajarannya bisa dipadukan dengan kehidupan sehari-hari. Seperti yang dikatakan Buddha, setelah mengalami pencerahan, orang harus “kembali ke tempat perdagangan” dan mengamalkan kasih sayang bagi semua makhluk hidup. Rasa damai, tenteram, dan cinta kebaikan merupakan ciri semua pandangan keagamaan yang sejati.
Namun, Luther adalah seorang anti-Semit yang picik, misoginis, penuh kebencian dan ketakutan terhadap seksualitas, dan berkeyakinan bahwa seluruh petani pemberontak harus ditumpas. Visinya tentang Tuhan yang pemarah telah memenuhi dirinya dengan kemarahan pribadi, dan ada pendapat yang menyatakan bahwa karakternya yang agresif itu sangat berbahaya bagi Reformasi. Di awal kariernya sebagai pembaru, banyak gagasannya diterima di kalangan kaum Katolik ortodoks, yang mengakui bahwa gagasan itu akan memberikan vitalitas baru kepada gereja, tetapi perilaku agresif Luther telah menyebabkan gagasannya dijangkiti prasangka yang tidak perlu.
Dalam rentang waktu yang panjang, Luther menjadi kurang penting dibandingkan John Calvin (1509–1564). Reformasi Swiss dari Calvin, yang didasarkan pada ideal-ideal Renaisans dalam kadar lebih tinggi daripada Reformasi Luther, berpengaruh besar terhadap etos Barat yang sedang bangkit. Pada akhir abad keenam belas, “Calvinisme” telah ditetapkan sebagai sebuah agama internasional yang, dengan baik buruknya, mampu mengubah masyarakat dan mengilhami masyarakat untuk percaya bahwa mereka bisa meraih apa pun yang mereka inginkan.
Ide-ide Calvinis mengilhami revolusi Puritan di Inggris di bawah Oliver Cromwell pada 1645 dan kolonialisasi Inggris Baru pada 1620-an. Pengaruh ide-ide Luther terbatas di Jerman setelah kematiannya, tetapi pandangan Calvin tampak lebih progresif. Murid-muridnya mengembangkan ajarannya dan mempengaruhi gelombang kedua Reformasi. Seperti dicatat oleh ahli sejarah Hugh Trevor-Roper, Calvinisme lebih mudah ditinggalkan oleh para pengikutnya dibandingkan Katolik Romawi—dari sinilah asal adagium “sekali Katolik tetap Katolik”. Namun, Calvinisme membuat kesan khasnya sendiri: begitu dibuang, ia dapat diungkapkan dalam cara-cara sekuler. Ini khususnya berlaku di Amerika Serikat, di mana banyak orang yang tak lagi beriman kepada Tuhan beralih menganut etos kerja Puritan dan ajaran Calvinistik tentang keterpilihan, memandang diri mereka sebagai “bangsa terpilih” yang bendera dan ideal-idealnya memiliki tujuan semi-ilahiah.
Telah kita saksikan bahwa semua agama besar dalam pengertian tertentu merupakan produk peradaban dan, lebih khusus lagi, produk kehidupan perkotaan. Agama-agama itu berkembang pada masa ketika kelas pedagang kaya meraih kedudukan lebih tinggi daripada para penguasa pagan kuno dan ingin memegang kendali atas nasib mereka sendiri. Kristen versi Calvin menjadi menarik terutama bagi kalangan borjuis di kota-kota Eropa yang baru berkembang, yang para penghuninya ingin menepiskan belenggu hierarki yang represif.
Seperti halnya teolog Swiss terdahulu, Huldrych Zwingli (1484–1531), Calvin tidak begitu tertarik pada dogma; perhatian utamanya adalah pada aspek sosial, politik, dan ekonomi dari agama. Dia ingin kembali kepada keberagamaan yang sederhana dan skriptural, tetapi tetap menganut doktrin Trinitas meski dengan asal-usul terminologisnya yang tidak biblikal. Seperti yang ditulisnya dalam The Institutes of the Christian Religion, Tuhan telah menyatakan bahwa Dia itu Satu, tetapi “dengan jelas menempatkan ini di hadapan kita dalam wujud tiga pribadi.”
Pada tahun 1553, Calvin menyebabkan teolog Spanyol Michael Servetus dihukum mati karena penolakannya terhadap Trinitas. Servetus lari dari Spanyol yang Katolik dan mencari perlindungan di Jenewa, kota Calvin. Dia mengklaim telah kembali kepada keimanan para rasul dan Bapa gereja perdana, yang tak pernah mendengar doktrin Trinitas yang asing ini. Servetus berpendapat bahwa tak ada sesuatu pun dalam Perjanjian Baru yang bertentangan dengan monoteisme murni dari kitab-kitab suci Yahudi. Doktrin Trinitas adalah buatan manusia yang telah “mengasingkan pikiran manusia dari pengetahuan tentang Kristus yang sejati dan menghadirkan kepada kita konsep ketritunggalan Tuhan.”
Keyakinan ini juga dianut oleh dua Reformis Italia—Giorgio Blandrata (1515–1588) dan Faustus Socinus (1539–1604)—yang pindah ke Jenewa, tetapi menemukan bahwa teologi mereka terlalu radikal bagi Reformasi Swiss. Mereka bahkan tidak menganut pandangan Barat tradisional tentang penebusan dosa. Mereka tidak percaya bahwa manusia diselamatkan oleh kematian Kristus, tetapi hanya oleh “keimanan” atau kepercayaan mereka kepada Tuhan. Dalam bukunya Christ the Savior, Socinus menolak ortodoksi Nicaea: istilah “Anak Tuhan” bukan pernyataan tentang keilahian Yesus, melainkan sekadar menunjukkan bahwa dia dicintai secara khusus oleh Tuhan. Dia tidak mati demi menebus dosa-dosa kita, tetapi hanyalah seorang guru yang “menunjukkan dan mengajarkan jalan keselamatan.” Doktrin Trinitas, menurut Socinus, adalah “penyimpangan,” sebuah fiksi imajiner yang “tak dapat diterima akal” dan justru mendorong orang beriman untuk percaya pada tiga tuhan yang terpisah. Setelah eksekusi Servetus, Blandrata dan Socinus melarikan diri ke Polandia dan Transylvania sambil membawa agama “Unitarian” mereka.
Zwingli dan Calvin lebih bersandar pada gagasan konvensional tentang Tuhan dan, seperti Luther, menekankan kedaulatan mutlak Tuhan. Ini bukan sekadar pengakuan intelektual, melainkan hasil pengalaman pribadi yang mendalam. Pada Agustus 1519, tak lama setelah memulai kependetaannya di Zurich, Zwingli terkena wabah yang membinasakan 25% penduduk kota itu. Dia merasa sangat tak berdaya, menyadari bahwa tak ada lagi yang bisa dia kerjakan untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Dia tidak berdoa memohon pertolongan kepada orang-orang suci atau gereja, melainkan memasrahkan harapannya kepada ampunan Tuhan. Dia menulis doa singkat:
Lakukanlah apa yang Engkau inginkan, karena aku tidak kehilangan apa-apa. Aku adalah wahanamu untuk dipulihkan atau dibinasakan.
Kepasrahannya mirip dengan cita-cita Islam: seperti halnya orang Yahudi dan Muslim pada tahap perkembangan sebanding, orang Kristen Barat tidak lagi bersedia menerima perantara. Mereka kini mengembangkan rasa tanggung jawab langsung di hadapan Tuhan. Calvin juga mendasari agamanya pada kekuasaan mutlak Tuhan. Sayangnya, dia tidak mewariskan uraian lengkap tentang pengalaman yang telah mengubah keyakinannya. Dalam Commentary on the Psalms, ia hanya menyatakan bahwa pengalaman itu sepenuhnya merupakan pekerjaan Tuhan. Ia terpesona oleh lembaga gereja dan “takhayul kepausan,” tak mampu dan tak ingin membebaskan diri; dibutuhkan tindakan Tuhan untuk menggerakkannya:
Akhirnya, Tuhan membelokkan jalanku ke arah lain melalui kendalinya yang tersembunyi ... Pikiranku tiba-tiba berubah menjadi tunduk, Dia menjinakkan pikiranku yang terlalu keras untuk usiaku.
Hanya Tuhan yang memegang kendali sementara Calvin sama sekali tidak berdaya, namun ia merasa dipilih untuk menjalankan misi khusus melalui rasa gagal dan ketidakberdayaannya yang akut.
Konversi radikal telah menjadi karakteristik Kristen Barat sejak era Agustinus. Protestan melanjutkan tradisi pemutusan tiba-tiba dan keras dengan masa lalu, yang disebut oleh filsuf Amerika William James sebagai agama “dilahirkan-dua kali” untuk “jiwa-jiwa yang sakit.” Orang Kristen merasa “dilahirkan kembali” dalam keimanan baru pada Tuhan dan menolak kelompok perantara yang menghalangi hubungan mereka dengan Tuhan di gereja Abad Pertengahan.
Calvin menyatakan bahwa pengagungan terhadap orang-orang suci tumbuh dari rasa cemas; mereka ingin menenangkan Tuhan yang pemarah dengan mendekati orang-orang paling dekat dengannya. Akan tetapi, dalam penolakan mereka terhadap kultus orang suci, kaum Protestan sering menyembunyikan kecemasan yang sama. Ketika mengetahui bahwa orang-orang suci itu tidak efektif, tumpukan rasa takut terhadap Tuhan yang keras meledak dalam reaksi berlebihan. Thomas More, humanis Inggris, mendeteksi adanya kebencian pribadi dalam kritik terhadap “keberhalaan” penyembahan orang suci. Ini terlihat dalam kerasnya serangan terhadap penggambaran orang suci: banyak orang Protestan dan Puritan menghancurkan patung-patung orang suci dan Perawan Maria, serta menyiramkan kapur ke atas lukisan-lukisan di gereja dan katedral. Semangat mereka yang luar biasa menunjukkan bahwa mereka takut mengecewakan Tuhan yang pemarah, sama seperti ketakutan mereka untuk berdoa memohon perantaraan orang suci. Semangat untuk menyembah Tuhan semata muncul bukan dari keyakinan tenteram, tetapi dari penyangkalan penuh ketakutan, mirip dengan orang Israel kuno yang meruntuhkan tugu Asyera dan menghancurkan dewa tetangga mereka.
Calvin biasanya dikenang karena keyakinannya pada predestinasi, tetapi ini tidak terlalu penting dalam pemikirannya; konsep ini baru krusial bagi “Calvinisme” setelah kematiannya. Persoalan mendamaikan kekuasaan mutlak Tuhan dengan kehendak bebas manusia muncul dari konsepsi ketuhanan antropomorfis. Muslim abad kesembilan juga menghadapi persoalan ini tanpa pemecahan logis, menekankan misteri dan kemustahilan memahami Tuhan. Persoalan ini tidak mengusik Kristen Ortodoks Yunani, yang menikmati paradoks dan menganggapnya sumber cahaya dan inspirasi.
Namun, ini menjadi perdebatan utama di Barat, yang memegang konsep ketuhanan lebih personalistik. Orang mencoba berbicara tentang “kehendak Tuhan” seakan-akan Tuhan adalah manusia biasa yang menghadapi kendala dan mengatur dunia seperti penguasa duniawi. Gereja Katolik mengutuk gagasan bahwa Tuhan telah menetapkan orang-orang tertentu masuk neraka sejak semula. Agustinus menerapkan istilah “predestinasi” pada keputusan Tuhan untuk menyelamatkan orang pilihan, tetapi menolak bahwa ada orang yang ditakdirkan masuk neraka. Calvin memberi sedikit ruang bagi topik predestinasi di Institutes. Menurutnya, Tuhan memang melebihkan pertolongannya kepada beberapa orang dibanding yang lain. Mengapa sebagian orang menerima Injil sementara yang lain tidak? Apakah Tuhan bertindak arbitrer atau tidak adil? Calvin membantah ini: penerimaan dan penolakan adalah pertanda misteri Tuhan. Tak ada pemecahan rasional; kasih sayang Tuhan dan keadilannya tampak tak bisa didamaikan. Hal ini tidak terlalu merisaukan Calvin karena ia memang tidak terlalu tertarik pada dogma.
Akan tetapi, setelah kematiannya, “kaum Calvinis” merasa perlu membedakan diri dari pengikut Luther di satu pihak dan Katolik Romawi di pihak lain. Untuk itu, Theodorus Boza (1519–1605), yang pernah menjadi tangan kanan Calvin di Jenewa dan mengambil alih kepemimpinan setelah kematiannya, menjadikan predestinasi sebagai tanda pembeda Calvinisme dari aliran-aliran lain. Dia melicinkan paradoks itu dengan logika yang tak kenal ampun: karena Tuhan Mahakuasa, manusia tidak punya andil apa pun terhadap keselamatan dirinya sendiri. Tuhan tidak bisa berubah, dan ketetapannya adalah adil dan abadi: sejak semula Tuhan telah memutuskan untuk menyelamatkan sebagian manusia dan menakdirkan sisanya masuk neraka.
Sebagian pengikut Calvin merasa ngeri terhadap doktrin yang menyeramkan ini. Jacob Arminius dari negara-negara selatan berpendapat bahwa ini merupakan contoh teologi yang buruk, karena membicarakan Tuhan seakan-akan Dia seorang manusia biasa. Namun, kaum Calvinis percaya bahwa Tuhan bisa didiskusikan secara objektif, sama seperti kita membicarakan fenomena lain. Sebagaimana orang Protestan maupun Katolik, mereka juga mengembangkan Aristotelianisme baru yang menekankan pentingnya logika dan metafisika. Ini berbeda dengan corak Aristotelianisme Thomas Aquinas, karena para teolog baru itu tidak begitu tertarik pada kandungan pemikiran Aristoteles, melainkan pada metode rasionalnya. Mereka ingin menghadirkan Kristen sebagai sistem koheren dan rasional yang bisa diturunkan melalui deduksi silogistik berdasarkan aksioma-aksioma yang diketahui.
Ironisnya, semua Reformis telah menolak bentuk diskusi rasionalistik apa pun tentang Tuhan. Teologi predestinasi Calvinis mutakhir memperlihatkan apa yang bisa terjadi jika paradoks dan misteri Tuhan tidak lagi dipandang sebagai puisi, tetapi ditafsirkan dengan logika koheren. Begitu Alkitab mulai ditafsirkan secara harfiah, bukannya simbolik, konsepsi ketuhanannya menjadi mustahil. Membayangkan Tuhan yang secara harfiah bertanggung jawab atas segala sesuatu di bumi menimbulkan kontradiksi yang musykil. “Tuhan” Alkitab tidak lagi simbol realitas transenden, tetapi menjadi tiran yang kejam dan zalim. Doktrin predestinasi memperlihatkan keterbatasan Tuhan yang telah sangat dipersonalisasikan itu.
Kaum Puritan mendasarkan pengalaman keagamaan mereka pada ajaran Calvin dan merasakan Tuhan sebagai sebuah pertarungan. Tuhan tampaknya tidak mengisi mereka dengan kebahagiaan atau kasih sayang. Jurnal dan autobiografi Puritan menunjukkan obsesi mereka terhadap predestinasi dan ketakutan tak terselamatkan. Peristiwa konversi menjadi beban pikiran, drama berat di mana si “pendosa” dan pengarah spiritual bergulat demi jiwa. Tak jarang seorang yang bertobat harus menghadapi penghinaan atau keputusasaan nyata terhadap rahmat Tuhan sampai mengakui kebergantungan mutlaknya pada Tuhan. Konversi ini sering merupakan reaksi psikologis tak disadari, lompatan tak sehat dari kecewa ke bahagia. Penekanan keras terhadap neraka dan murka Tuhan, dipadukan dengan pengekangan diri berlebihan, menjerumuskan banyak orang ke dalam depresi klinis; bunuh diri pun tampaknya lumrah. Kaum Puritan menisbahkan hal ini kepada setan, yang kehadirannya dirasakan sama kuatnya dengan Tuhan.
Puritanisme tetap memiliki dimensi positif: membuat orang bangga terhadap pekerjaan mereka, yang tak lagi dipandang sebagai perbudakan, melainkan sebagai sebuah “panggilan.” Spiritualitas apokaliptiknya yang menyesakkan mengilhami sebagian penganut untuk melakukan kolonialisasi Dunia Baru. Namun, sisi buruknya, Tuhan kaum Puritan menimbulkan kecemasan dan sikap kaku tidak toleran terhadap yang tidak termasuk kalangan terpilih.
Katolik dan Protestan kini memandang diri saling bermusuhan, meski konsepsi dan pengalaman ketuhanan mereka sangat mirip. Setelah Konsili Trent (1545–1563), para teolog Katolik juga berpegang pada teologi neo-Aristotelian yang mereduksi kajian tentang Tuhan menjadi ilmu tentang alam. Reformis seperti Ignatius Loyola (1491–1556), pendiri Society of Jesus, menyetujui penekanan Protestan terhadap pengalaman langsung tentang Tuhan dan kebutuhan menyerap makna wahyu secara pribadi. Karya yang disusunnya untuk angkatan pertama Jesuit, Spiritual Exercises, bertujuan memicu konversi yang bisa menyakitkan sekaligus sangat membahagiakan. Retret tiga puluh hari ini menekankan pengkajian diri dan peneguhan tekad pribadi, dilakukan di bawah arahan pembimbing secara individual—tidak berbeda dengan spiritualitas Puritan. Exercises menampilkan latihan singkat, sistematik, dan efisien bagi mistisisme; banyak kaum mistik mengembangkan disiplin serupa yang kini dipakai oleh psikoanalis.
Ignatius juga sadar akan bahaya mistisisme palsu. Seperti Luria, dia menekankan pentingnya ketenteraman dan kegembiraan. Dalam Rules for the Discernment of Spirits, Ignatius memperingatkan murid terhadap ekstrem emosi yang menjebak Puritan. Dia memilah emosi penempuh mistik menjadi dua: yang mungkin berasal dari Tuhan, dan yang dari setan. Tuhan harus dialami sebagai kedamaian, harapan, kegembiraan, dan “penggugah pikiran.” Sedangkan kegelisahan, kesedihan, kejemuan, dan gangguan bersumber dari “ruh jahat.” Kepekaan Ignatius terhadap Tuhan sangat tajam: perasaan itu membuatnya menangis karena bahagia; konon, tanpa perasaan itu, dia tak mampu bertahan hidup. Namun, ia tidak mempercayai pergantian emosi cepat dan menekankan perlunya disiplin menuju diri yang baru. Seperti Calvin, ia memandang Kristen sebagai perjumpaan dengan Kristus. Dalam Exercises, titik puncak Kristen adalah “Kontemplasi untuk Mendapatkan Cinta,” yang memandang “segala sesuatu sebagai ciptaan kebaikan Tuhan dan memantulkannya.” Bagi Ignatius, alam sarat akan Tuhan.
Selama proses kanonisasi, muridnya mengenang:
Kami sering menyaksikan bahwa bahkan sesuatu yang sangat kecil dapat melejitkan jiwanya menuju Tuhan, yang dalam hal-hal terkecil sekalipun merupakan Yang Teragung. Memandang tanaman kecil, sehelai daun, buah-buahan atau bunga, seekor cacing yang tak berarti atau hewan kecil, mampu membuat jiwa Ignatius melayang ke langit dan menyelami segala hal di luar jangkauan indra.
Seperti Puritan, para Jesuit merasakan Tuhan sebagai kekuatan dinamis yang memenuhkan mereka dengan keyakinan dan energi. Jika Puritan menaklukkan Atlantik untuk menetap di New England, para misionaris Jesuit berkeliling dunia: Francis Xavier (1506–1552) menyebarkan Injil ke India dan Jepang; Matteo Ricci (1552–1610) ke Cina; Robert de Nobili (1577–1656) ke India. Banyak Jesuit adalah ilmuwan antusias, sehingga beberapa menduga perkumpulan ilmiah pertama bukanlah Royal Society atau Accademia del Cimento, melainkan Society of Jesus.
Namun, orang Katolik tampaknya menghadapi masalah sama dengan Puritan. Ignatius memandang dirinya sangat berdosa, memohon agar setelah kematiannya jasadnya diletakkan di timbunan sampah untuk dimakan burung dan anjing. Dokternya menasihati bahwa jika dia terus menangis hebat selama Misa, penglihatannya bisa hilang. Teresa Avila, yang mereformasi kehidupan biarawati Ordo Karmel, pernah mengalami penampakan menakutkan tentang tempat yang dicadangkan baginya di neraka. Orang-orang suci pada periode itu tampaknya memandang dunia dan Tuhan sebagai dua hal yang bertentangan: agar diselamatkan, seseorang harus menjauhi dunia dan kesenangan duniawi. Vincent de Paul, hidup sebagai dermawan dan saleh, berdoa agar Tuhan menghapus cintanya kepada orangtuanya; Jane Francis de Chantal, pendiri ordo Visitasi, melangkahi mayat anak lelakinya yang gantung diri di depan pintu untuk mencegah keberangkatannya ke biara.
Jika Renaisans berupaya mendamaikan langit dan bumi, Reformasi Katolik malah memisahkannya. Tuhan mungkin menjadikan Kristen yang direformasi efisien dan kuat, tetapi tidak membuat mereka bahagia. Periode Reformasi adalah masa menakutkan: penolakan keras terhadap masa lalu, cacian dan kutukan keji, teror bid’ah dan penyimpangan doktrinal, kesadaran hiperaktif akan dosa, dan obsesi tentang neraka.
Pada 1640, terbit buku kontroversial oleh Katolik Belanda, Cornelis Jansen, yang mengemukakan gambaran menakutkan tentang Tuhan: sejak semula telah menakdirkan semua manusia, kecuali beberapa orang pilihan, untuk masuk neraka selamanya. Para Calvinis memuji buku itu karena “mengajarkan doktrin tentang kekuasaan Tuhan yang tak tertahankan; doktrin yang benar dan sejalan dengan Reformasi.”
Bagaimana menjelaskan ketakutan dan kekecewaan luas di Eropa? Periode itu merupakan masa mencemaskan: bentuk masyarakat baru, berdasarkan sains dan teknologi, muncul dan berhasil menaklukkan dunia dalam waktu singkat. Namun, Tuhan seakan tak mampu meredakan ketakutan ini, berbeda dengan pelipur lara yang pernah ditemukan kaum Yahudi Sephardik dalam mitos-mitos Isaac Luria. Orang Kristen Barat selalu menemukan Tuhan menakutkan, dan Reformis, yang berusaha menghilangkan kecemasan religius, justru memperburuk keadaan. Tuhan menurut konsepsi Barat, yang menakdirkan keterkutukan abadi jutaan manusia, menjadi lebih menakutkan daripada ilah kejam yang dibayangkan Tertullian atau Agustinus pada masa sulit. Mungkinkah konsepsi imajinatif tentang Tuhan, berbasis mitologi dan mistisisme, lebih efektif membangkitkan semangat manusia menghadapi tragedi daripada Tuhan yang mitos-mitosnya ditafsirkan secara harfiah?
Sejak akhir abad keenam belas, banyak orang di Eropa merasa bahwa agama telah sedemikian didiskreditkan. Mereka muak oleh tindakan orang-orang Protestan yang membunuhi Katolik dan sebaliknya. Ratusan orang mati sebagai martir karena memegang pandangan yang mustahil dibuktikan. Sekte-sekte yang menyebarkan berbagai doktrin membingungkan, namun dianggap esensial untuk pensucian diri, berkembang pesat. Kini tersedia begitu banyak pilihan teologis sehingga banyak orang merasa dilumpuhkan dan tertekan oleh interpretasi religius yang ditawarkan. Sebagian mungkin merasa bahwa iman semakin sulit diraih dibanding sebelumnya.
Oleh karena itu, menjadi signifikan bahwa pada masa ini, di dalam sejarah ketuhanan Barat, mulai muncul “orang ateis,” yang jumlahnya sepertinya setara dengan "tukang sihir,” musuh lama Tuhan dan sekutu setan. Dinyatakan bahwa “orang ateis” yang mengingkari eksistensi Tuhan ini memperoleh banyak pengikut dan menggoyahkan struktur masyarakat. Namun, kenyataannya, ateisme sepenuhnya seperti yang kita pahami saat ini adalah mustahil. Seperti ditunjukkan oleh Lucien Febvre dalam The Problem of Unbelief in the Sixteenth Century, penolakan sepenuhnya terhadap eksistensi Tuhan pada masa itu melibatkan kesulitan konseptual luar biasa sehingga tak mungkin diwujudkan.
Agama mendominasi seluruh kehidupan: sejak kelahiran hingga kematian. Setiap aktivitas keseharian diselingi panggilan berdoa, diwarnai keyakinan dan institusi keagamaan, baik dalam kehidupan publik maupun profesional—bahkan serikat kerja dan universitas merupakan organisasi keagamaan. Febvre menekankan: Tuhan dan agama ada di mana-mana sehingga tak seorang pun pada abad itu akan berkata, “Jadi hidup kita, seluruh hidup kita, didominasi oleh Kristen! Betapa sedikitnya wilayah kehidupan yang disekularisasikan dibanding yang masih diatur agama!”
Bahkan jika ada manusia luar biasa yang mampu mempertanyakan hakikat agama dan eksistensi Tuhan secara objektif, dia takkan mendapatkan dukungan dari filsafat maupun sains pada masanya. Tanpa dukungan koheren berbasis bukti ilmiah, penyangkalan terhadap Tuhan hanya menjadi sikap pribadi atau dorongan sesaat yang tak layak dipertimbangkan serius. Febvre memperlihatkan bahwa bahasa sehari-hari, misalnya bahasa Prancis, belum memiliki kosakata maupun sintaksis bagi skeptisisme. Kata-kata seperti “mutlak,” “relatif,” “kausalitas,” “konsep,” dan “institusi” masih jarang dipakai. Perlu diingat pula bahwa belum ada masyarakat di dunia yang berhasil menghapuskan agama; agama dianggap fakta kehidupan. Baru pada akhir abad kedelapan belas sekelompok orang Eropa menemukan kemungkinan mengingkari eksistensi Tuhan.
Lantas, apa yang dimaksud ketika orang saling menuduh “ateis”? Ilmuwan Prancis Marin Mersenne (1588–1648), pengikut fanatik Ordo Fransiskan, menyatakan bahwa di Paris saja terdapat sekitar 50.000 orang ateis. Namun, kebanyakan dari mereka masih beriman kepada Tuhan. Pierre Carvin, sahabat Michel Montaigne, membela Katolik dalam Les Trois Verites (1589), tetapi dalam karya utamanya, De La Sagesse, dia menekankan kelemahan akal dan mengakui manusia hanya bisa mencapai Tuhan melalui iman. Mersenne menolak gagasan ini dan memandangnya sebagai “ateisme.”
Tuduhan kafir juga dialamatkan pada rasionalis Italia Giordano Bruno (1548–1600), meskipun Bruno percaya kepada Tuhan dalam konsepsi Stoa—Tuhan sebagai jiwa, asal-usul, dan akhir alam semesta. Mersenne menyebut mereka “ateis” karena tidak sependapat dengan konsepsi ketuhanan mereka, bukan karena mengingkari eksistensi Wujud Tertinggi. Secara serupa, kaum pagan Romawi menyebut Yahudi dan Kristen “ateis” karena pandangan ketuhanan mereka berbeda. Selama abad keenam belas dan ketujuh belas, kata “ateis” masih terbatas pada polemik, mirip penggunaan istilah “anarkis” atau “komunis” pada akhir abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh.
Setelah Reformasi, orang penasaran terhadap Kristen baru. Seperti halnya “sihir,” “anarkis,” atau “komunis,” “ateis” merupakan proyeksi kecemasan terpendam, sebuah kekhawatiran tersembunyi tentang iman dan taktik untuk menakut-nakuti orang beragama serta meningkatkan kesalehan. Dalam Laws of Ecclesiastical Polity, teolog Anglikan Richard Hooker (1554–1600) menyebut dua jenis kelompok ateis: satu kecil yang tidak beriman kepada Tuhan, dan satu lebih besar yang berpura-pura seakan Tuhan tidak ada. Orang cenderung memusatkan perhatian pada ateisme praktis.
Dalam The Theatre of God's Judgement (1597), tokoh “ateis” rekaan Thomas Beard mengingkari ketentuan Tuhan, keabadian jiwa, dan kehidupan sesudah mati, tetapi tidak mengingkari eksistensi Tuhan. Dalam Atheism Closed and Open Anatomized (1634), John Wingfield menyatakan: “Orang munafik itu Ateis; manusia licik dan jahat adalah Ateis terbuka; pelaku pelanggaran yang berani dan bangga adalah Ateis: siapa pun yang tidak bisa dididik dan direformasi adalah Ateis.” Penyair Welsh Wiliam Vaughan (1577–1641) menganggap orang yang menaikkan sewa atau menutup desa-desa sebagai ateis nyata; dramawan Thomas Nashe (1567–1601) menyebut ambisius, tamak, rakus, sombong, dan pezina sebagai ateis.
Istilah “ateis” merupakan penghinaan. Tak seorang pun ingin menyebut dirinya ateis. Namun, pada abad ketujuh belas dan kedelapan belas, orang Barat mengembangkan sikap yang membuat pengingkaran eksistensi Tuhan menjadi mungkin dan disenangi, didukung oleh sains baru.
Tuhan para Reformis pun bisa dipandang selaras sains. Karena percaya pada kekuasaan mutlak Tuhan, Luther dan Calvin menolak pandangan Aristoteles bahwa alam memiliki kekuatan intrinsik. Mereka berkeyakinan alam pasif, seperti seorang Kristen, hanya menerima berkah penyelamatan dari Tuhan. Calvin memuji kajian ilmiah tentang alam yang melalui itu Tuhan gaib dapat dikenal. Tidak ada pertentangan antara sains dan kitab suci: Tuhan menyesuaikan diri dengan keterbatasan manusia dalam Alkitab, layaknya orator menyesuaikan pidato dengan daya cerna pendengar. Kisah penciptaan, menurut Calvin, merupakan balbutive—cara berbicara kepada bayi—yang mengakomodasi proses misterius dan kompleks agar orang awam dapat beriman. Kisah itu bukan untuk dipahami secara harfiah.
Namun, gereja Katolik Romawi tidak selalu berpikiran terbuka. Pada 1530, ahli astronomi Polandia Nicolaus Copernicus menyelesaikan De Revolutionibus, menyatakan matahari sebagai pusat tata surya. Risalah itu diterbitkan menjelang kematiannya pada 1543 dan dimasukkan ke Daftar Buku Terlarang. Pada 1613, Galileo Galilei mengklaim teleskopnya membuktikan kebenaran sistem Copernicus. Penemuannya menjadi cause célèbre: Galileo dipanggil Inkuisisi, diperintahkan menarik kembali keyakinan ilmiahnya, dan dijatuhi hukuman penjara tanpa batas waktu.
Tidak semua Katolik menyetujui keputusan ini, tetapi gereja Roma menentang setiap perubahan konservatif, dengan kekuatan efisien untuk menegakkan keseragaman intelektual. Hukuman atas Galileo mematikan kajian ilmiah di negara Katolik, meski banyak ilmuwan ternama seperti Marin Mersenne, René Descartes, dan Blaise Pascal tetap setia pada keyakinan Katolik. Kasus Galileo penting bagi pembahasan kita: gereja mengutuk heliosentrisme bukan karena berbahaya bagi iman kepada Tuhan, tetapi karena bertentangan dengan firman Tuhan di kitab suci.
Hal ini juga mengusik penganut Protestan. Luther dan Calvin tidak mengutuk Copernicus, tetapi rekan Luther, Philipp Melanchthon (1497–1560), menolak gagasan bumi mengelilingi matahari karena bertentangan dengan sejumlah ayat Alkitab. Setelah Konsili Trent, orang Katolik mengembangkan antusiasme baru terhadap Alkitab Vulgata Latin dari St. Jerome. Inkuisitor Spanyol Leon Castro (1576) menegaskan: “Tak ada perubahan sedikit pun di Vulgate edisi Latin, entah titik, kesimpulan kecil, anak kalimat, ungkapan, suku kata, atau sekecil apa pun.”
Di masa lalu, beberapa rasionalis dan mistik meninggalkan pembacaan harfiah Alkitab dan Al-Quran dan beralih ke tafsiran simbolik. Kini, Protestan dan Katolik menekankan literalisme sepenuhnya. Kaum Ismaili, Sufi, Kabbalis, atau hesychasts mungkin tak terganggu oleh sains Galileo dan Copernicus, tetapi hal itu menjadi persoalan bagi Katolik dan Protestan literalis. Bagaimana mendamaikan teori bumi mengelilingi matahari dengan ayat-ayat seperti: “Sungguh telah tegak dunia, tidak bergoyang,” atau “Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali,” atau “Engkau yang telah membuat bulan menjadi penentu waktu, matahari yang tahu saat terbenamnya”? Gereja terganggu oleh pernyataan Galileo. Jika ada kehidupan di bulan, bagaimana mereka keturunan Adam? Bagaimana meninggalkan Bahtera Nuh? Bagaimana teori bumi mengitari matahari sesuai kenaikan Kristus ke langit? Kitab suci menyatakan langit dan bumi diciptakan demi manusia; bagaimana mungkin demikian jika bumi hanya salah satu planet mengelilingi matahari? Surga dan neraka dipandang nyata, tetapi sulit menentukan lokasi dalam sistem Kopernikan. Neraka diyakini di perut bumi, seperti Dante.
Kardinal Robert Bellarmine, Jesuit, dimintai pendapat oleh Jemaat untuk Penyebaran Iman, berpihak pada tradisi: “Neraka adalah tempat di bawah tanah, bukan makam-makam. Tempat itu pasti terletak di pusat bumi, berdasarkan nalar alamiah: sangat masuk akal jika tempat setan-setan dan orang jahat berada paling jauh dari tempat malaikat dan orang baik tinggal selamanya.” Argumen Bellarmine terdengar tak masuk akal bagi kita kini. Bahkan orang Kristen paling literalis tak lagi membayangkan neraka di pusat bumi.
Namun, banyak orang terkejut oleh teori ilmiah lain yang menyatakan “tak ada ruang bagi Tuhan” dalam kosmologi modern. Pada saat Mulla Shadra mengajarkan umat Muslim bahwa surga dan neraka berada di alam imajiner individu, tokoh gereja seperti Bellarmine teguh pada pandangan geografis. Ketika Kabbalis menafsir ulang kisah penciptaan simbolik, Katolik dan Protestan menekankan kebenaran faktual Alkitab. Hal ini membuat mitologi religius tradisional rentan terhadap sains dan menutup kemungkinan banyak orang beriman.
Sejak era Reformasi dan antusiasme Aristotelianisme di kalangan Protestan dan Katolik, Tuhan mulai dibahas seakan fakta objektif. Hal ini membuka jalan bagi kaum “ateis” baru akhir abad kedelapan belas dan awal abad kesembilan belas untuk mengenyahkan Tuhan sepenuhnya.
Leonard Lessius (1554–1623), teolog Jesuit Louvain, membela konsepsi ketuhanan para filosof dalam The Divine Providence. Eksistensi Tuhan bisa dibuktikan ilmiah seperti fakta kehidupan lainnya. Rancangan alam yang mustahil terjadi kebetulan menunjuk eksistensi Penggerak Pertama. Tuhan bagi Lessius adalah fakta ilmiah yang bisa ditemukan setiap manusia berakal. Ia jarang menyebut Yesus, memberi kesan eksistensi Tuhan dapat dideduksi dari pengamatan biasa, filsafat, studi perbandingan agama, dan akal sehat. Tuhan menjadi wujud biasa, seperti fakta lain yang diteliti ilmuwan dan filsuf Barat.
Filsuf tak meragukan bukti eksistensi Tuhan, tetapi ahli agama memutuskan bahwa Tuhan para filosof tidak banyak nilai religius. Thomas Aquinas mungkin menyiratkan Tuhan sebagai simpul tertinggi dalam rantai wujud, namun percaya argumen filosofis tak ada hubungannya dengan Tuhan mistikal yang dirasakannya dalam doa. Pada awal abad ketujuh belas, teolog dan pendeta berargumentasi rasional tentang eksistensi Tuhan. Ketika argumen mereka ditolak sains baru, eksistensi Tuhan terancam. Alih-alih simbol realitas transenden, Tuhan semakin dipandang fakta sebagaimana fakta lain.
Dalam diri Lessius, terlihat bahwa saat Eropa menghampiri modernitas, para teolog justru membekali kaum ateis masa depan dengan amunisi pengingkaran terhadap Tuhan, yang tak banyak nilai religius dan mengisi hati manusia dengan ketakutan, bukan harapan dan keyakinan. Seperti filosof dan ilmuwan, kaum Kristen pasca-Reformasi mengabaikan Tuhan imajinatif kaum mistik dan berusaha mencari pencerahan dari Tuhan yang ditemukan akal.







Comments (0)